Tanah Haram Mekah

Prioritas: aa, Kualitas: b
Dari wikishia
Garis hijau menunjuk tapal batas tanah haram Mekah

Tanah Haram Mekah (bahasa Arab:الحرم المکی ), paling terpenting dan terkemukanya Tanah Haram kaum muslimin di Mekah yang memiliki hukum-hukum syariat yang khusus. Dalam Alquran nama kawasan ini disebut dengan Haramu Amnin (Haram yang aman). Masjidil Haram dan Kakbah berada di Tanah Haram ini.

Batas Tanah Haram Mekah

Batas kawasan Tanah Haram sudah disepakati sejak lama; dengan demikian, sangat sedikit sekali hadis terkait penentuan batasannya. Menurut salah satu hadis ini, panjang dan lebarnya Tanah Haram adalah satu barid yaitu empat farsakh dan Masjidil Haram berada di pusatnya. [1] Menurut keterangan sejarah, pertama-tama Nabi Ibrahim as berdasarkan wahyu dan dengan perantara malaikat Jibril as memberi tapal batasan Tanah Haram. [2] Dalam teks-teks hadis dan sejarah, yang menspesifikasikan batasan Tanah Haram Mekah disebut dengan A'lām, Anshāb, Manār, Ma'ālim, Azlām dan Amyāl. [3]

Setelah Nabi Ibrahim, Ismail as merenovasi tanda-tanda Tanah Haram. Pada masa Jahiliyah, Adnan bin Udad dan Qushai bin Kilab bergegas dalam masalah ini. Quraisy juga merenovasi tapal-tapal batasan Tanah Haram pada permulaan pengutusan Rasulullah saw. Setelah penaklukan Mekah pada tahun ke-8 H, Tamim bin Asad Khaza'i dan Aswad bin Khalaf Qurasyi Zuhri, dengan perintah Rasulullah saw membetulkan dan merenovasi kembali tapal-tapal batasan Tanah Haram. Dan pada periode-periode berikutnya juga sejumlah orang melakukan renovasi tapal-tapal tersebut dan menyempurnakannya, seperti Umar bin Khattab (tahun 17 H/638), Utsman bin Affan (tahun 26 H/647), Muawiyah bin Abi Sufyan (pemerintahan: 41 H/662-60 H/680), Abdul Malik bin Marwan (pemerintahan: 65 H/685-86 H/705), Mahdi al-Abbasi (pemerintahan 158 H/775-169 H/786). [4] Setelah periode Mahdi Abbasi, tapal-tapal yang ada di gunung-gunung tidak terenovasi dan hanya yang berada di jalan-jalan masuk Mekah saja yang diperbaiki (yakni rute Madinah, Yaman, Irak, Thaif, Ja'ronah, Jeddah). [5]

Pada periode berikutnya juga orang-orang melakukan perenovasian atau membangun tapal-tapal batasan Tanah Haram, semisalnya Radhi Abbasi pada tahun 325; Mudzaffar bin Abu Bakar, Raja Ayyubi pada tahun 616; Malik Mudzaffar Yusuf bin Umar, penguasa Yaman pada tahun 683; Qaitbay Mahmoudi, salah seorang raja Cherkessia Mesir pada tahun 874; Sulthan Ahmad Khan pertama Utsmani, sekitar tahun 1023; Syarif Zaid bin Muhsin, Raja Mekah pada tahun 1073; dan Sulthan Abdul Majid pertama Utsmani pada tahun 1262. [6]

Perenovasian tapal-tapal pada periode keluarga Saud juga masih terus berlanjut. Abdul Aziz, pendiri kerajaan Saudi, pada tahun 1343 telah merenovasi atau membangun dua tapal yang ada di rute Jeddah dan setelahnya, anaknya Saud pada tahun 1376 H membangun dua tapal di kawasan Syamisi, pada tahun 1377 H telah membangun dua tapal di rute Thaif dan pada tahun 1383 H telah merenovasi tapal-tapal di arah Arafah. Demikian juga, Khalid bin Abdul Aziz telah membangun dua tapal di rute Thaif dan dua tapal di rute lama Jeddah dan Fahd bin Abdul Aziz pada tahun 1404 H telah membangun dua tapal baru di Wadi Tan'im. [7] Pada tahun 1380 H, 1384 H dan 1400 H, sekelompok para ahli telah mengkaji sebagian tapal-tapal batasan Tanah Haram. [8]

Sejarah Tanah Haram Mekah

Sebagian mufasir – dengan bersandar pada hadis Rasulullah saw yang menisbahkan kemuliaan Mekah kepada Nabi Ibrahim as – meyakini bahwa sebelum Nabi Ibrahim as, Mekah tak ubahnya seperti tempat-tempat lain dan mendapatkan kemuliaan dan kesucian setelah risalah dan doanya untuk kesejahteraan tanah Mekah [9]. Sebagian mufasir lain mengatakan bahwa doa Nabi Ibrahim hanya untuk keamanan tanah ini dari peristiwa-peristiwa seperti kekeringan, paceklik dan gempa, akan tetapi sebelum itu juga, Mekah merupakan tempat mulia dan suci. [10] Banyak juga yang memprediksikan bahwa doa Nabi Ibrahim menghidupkan kembali kemuliaan Haram yang setelah selang beberapa waktu ditinggalkan atau setelah risalahnya, kewajiban menjaga kemuliaan Haram mulai ditegaskan. [11]

Sebelum Islam, masyarakat Arab sudah mengenal ruang lingkup Haram dan mereka menjaga kemuliaannya dengan tidak melakukan peperangan, pertumpahan darah, qishas pembunuh di kawasan Haram, dengan mengikuti sunah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Karena inilah Mekah juga disebut dengan "Bakkah" (tempat yang mematahkan leher para lalim), "Bassasah" (tempat yang mengusir orang-orang fasik dan kafir) dan "Shilah" (tempat aman). [12] Sebagian orang Arab ketika masuk ke Haram Mekah, mereka menanggalkan pakaiannya dengan alasan telah melakukan dosa dengan pakaiannya dan sebagian orang-orang Yahudi melepas alas kaki mereka guna memuliakan Haram. Hawariyun al-Masih juga ketika sampai di Haram, mereka berjalan kaki guna memuliakan dan menghormatinya. [13] Kesucian kawasan Haram setelah Islam juga terus berlanjut. Semisalnya para sahabat Rasulullah saw menjauhkan diri dari melakukan dosa di Haram dan mencegah selainnya dari perbuatan lalim dan mengganggu selainnya dan bahkan menjauhi untuk bermukim di situ karena khawatir bisa mengurangi atau menghilangkan kemuliaan Haram. [14]

Tanah Haram Mekah dalam Ayat-ayat Alquran

Kata Haram dituturkan dalam beberapa ayat Alquran, yang mana para mufasir mengartikan maksudnya adalah Haram Mekah. [15]

Banyak sekali para mufasir mengartikan Masjidil Haram, Maqam Ibrahim, Kakbah dan Mekah dalam sebagian ayat Alquran sebagai kawasan Haram. [16]

Tanah Haram Mekah, Tanah Haram Keamanan Ilahi

Kawasan atau Haram Mekah dalam beberapa ayat Alquran [17] dinamakan sebagai keamanan (haraman āminan). Dalam banyak ayat, dituturkan bahwa doa Nabi Ibrahim as supaya menjadikan kawasan Mekah sebagai tempat yang aman. [18] Dalam surah Al-Baqarah ayat 125 dituturkan sifat aman untuk "al-Bait", yang mana sebagian para mufasir mengartikannya sebagai Haram Mekah. Banyak dipaparkan pelbagai pendapat dalam hadis dan tafsir tentang apa yang dimaksudkan dari keamanan Haram dalam Alquran. Sebagian para mufassir menganggap bahwa ungkapan ini adalah dalam rangka pemberitahuan yang menceritakan sebuah realita yang ada di kawasan Haram. Dengan kata lain, mereka menuturkan maksudnya adalah keamanan secara takwini, yakni keamanan kawasan Haram dari peristiwa-perisitwa pahit, azab duniawi dan ukhrawi. [19] Dalam sebagian hadis juga dituturkan maksud dari keamanan Haram adalah amannya hewan-hewan dari kerusakan dan pemburuan yang dilakukan oleh hewan-hewan lainnya dan juga orang-orang yang masuk ke situ, begitu juga keamanan ahli Haram dari pembunuhan, penjarahan dan keterjagaan mereka dari azab Ilahi di dunia dan akhirat dan semisalnya. [20]

Sebagian para mufasir mengartikan keamanan Haram adalah keamanan secara tasyri'i dan hal itu menceritakan perintah Ilahi dengan menjaga kesucian Haram dan hukum-hukum yang terkait dengannya, sebab terjadinya peristiwa-peristiwa yang menghilangkan keamanan seperti peperangan, banjir dan gempa di kawasan ini adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Namun, menurut perspektif mereka, banyak dari ayat-ayat tersebut berkenaan dengan pensyariatan hukum-hukum terkait kawasan-kawasan Haram dalam syariat-syariat terdahulu, seperti syariat Nabi Ibrahim as. [21] Dalam sebagian hadis, maksud dari keamanan Haram adalah manifestasi keamanan syariat dan hukum-hukum yang terkait dengannya, seperti keharaman berburu hewan dan menghilangkan keamanan darinya dan keharaman untuk menjalankan had (hukuman) dan kisas (pembalasan) kepada para kriminal yang telah melakukan kejahatan-kejahatan di luar kawasan Haram. [22] Sebagian mufasir mengartikan maksud dari surah Ali Imran ayat 97 yang terkait dengan keamanan orang-orang yang berlindung di Haram pada masa sebelum Islam, yang sudah dihapus dalam Islam. [23] Dengan demikian, sesuai dengan surah Al-Qashash ayat 57, Allah swt mewujudkan hasil-hasil seluruh kawasan di Mekah. [24]

Tanah Haram Mekah dalam Hadis

Dalam hadis, selain hukum-hukum yang terkait dengan Haram, juga diisyaratkan kriteria dan adab-adab yang berada di situ. Menurut hadis, kawasan Haram batasannya adalah dari ketinggian langit ketujuh sampai kedalaman bumi ketujuh dan Haram akan terus langgeng sampai hari kiamat. [25] Melanggar kemuliaan Haram menyebabkan laknat Allah dan seluruh para Nabi. [26] Menurut sebuah hadis, Rasulullah saw menjamin syafa'atnya untuk para pelaksana haji yang meninggal dunia di Haram. [27]

Hukum-hukum Fikih dan Tanah Haram Mekah

Telah ditetapkan hukum-hukum khusus untuk Haram Mekah di fikih, yang mana terkadang dinamakan dengan Khashāis al-Haram dan sebagian referensi-referensi hukum yang berupa pelarangan dinamakan dengan Mahdzurāt al-Haram. [28] Namun, kebanyakan para fakih memaparkan hukum-hukum ini secara terpisah-pisah dalam pembahasan-pembahasan seperti, salat, haji, hukum had dan kaffarah (tebusan). Sebagian hukum-hukum khusus Haram Mekah yang paling penting adalah sebagai berikut:

  1. Non muslim tidak diperbolehkan menetap di Haram, menurut pendapat semua fakih, dan juga mereka diharamkan memasuki kawasan Haram menurut semua fakih, kecuali Abu Hanifah. [29]
  2. Diwajibkan melakukan ihram bagi kaum muslimin pada setiap saat sepanjang tahun ketika hendak masuk ke Mekah di salah satu miqat, kecuali bagi orang-orang yang sering kali lalu lalang di kawasan ini, seperti para sopir. Menurut penganut Syafi'i, ihram hukumnya mustahab. [30]
  3. Diharamkam membunuh hewan, kecuali hewan-hewan jinak (onta, sapi dan kambing) dan hewan-hewan berbahaya (seperti kalajengking dan ular berbisa) di kawasan Haram. [31]
  4. Dilarang berburu hewan darat atau membimbing para pemburu dan menyakiti tumbuh-tumbuhan di kawasan Haram, dengan bersandar pada ayat[32] dan hadis[33], namun para fakih dari berbagai mazhab mengecualikan beberapa hal, seperti buah pohon kurma, jenis-jenis sayuran, rumput jeruk dan segala sesuatu yang ditanam dan dirawat oleh manusia. [34]
  5. Haram memakan daging hewan yang diburu dengan cara illegal di kawasan Haram. [35]
  6. Diharamkan berperang dan menumpahkan darah di kawasan Haram[36] dan juga dilarang membawa senjata, menurut sebagian para fakih. [37] saat pembukaan kota Mekah.
  7. Dilarang mengeluarkan kerikil dan batu dari kawasan Haram, menurut sebagian para fakih Syiah dan Ahlusunah. [38]Mayoritas penganut Syafi'i, memasukkan batu dan tanah dari kawasan Hill (diluar tanah Haram) ke Haram juga hukumnya makruh. [39]
  8. Haram atau makruh mengambil barang temuan (barang yang hilang) di kawasan Haram. [40]
  9. Dilarangan melaksanakan hukum had dan qishash atas orang yang melakukan kejahatan di luar Haram dan kemudian berlindung di kawasan Haram. [41] Dan menjalankan sebagian pembatasan-pembatasan yang berkaitan dengannya, menurut pandangan para fakih sebagian mazhab-mazhab Islam, seperti tidak memberikan makanan kepadanya dan tidak berinteraksi dengannya, guna memaksanya keluar dari Haram dan melangsungkan hukuman Ilahi di luar Haram. Menurut pendapat penganut Hanafi dan para fakih Syiah, para Kriminal di Haram, karena melanggar kemuliaannya, maka dia tidak mendapat perlindungan ini. [42]
  10. Penambahan diyat dalam pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja yang terjadi di Haram, seukuran sepertiga dari keseluruhan diyat. [43]
  11. Haram hukumnya menguburkan orang-orang musyrik di kawasan Haram. Menurut penganut Syafi'i, mengeluarkan jasad seorang yang musyrik dari Haram juga suatu keharusan. [44]
  12. Haram hukumnya membeli dan menjual atau menyewakan rumah-rumah Haram Mekah secara keseluruhan atau di musim haji, menurut sebagian para fakih, dengan bersandar pada surah Al-Hajj ayat 25 dan beberapa hadis. [45]

Kaffarah atau Tebusan Bagi yang Melakukan Sebagian yang Diharamkan

Mayoritas para fakih, dengan bersandar pada hadis, melakukan sebagian hal-hal yang diharamkan dalam kawasan Haram dapat menyebabkan kaffarah atau tebusan, meskipun mereka berselisih dalam ukurannya. [46] Banyak sekali para fakih Ahlusunah hanya mengklaim keharaman taklifi semata dan tidak menerima penetapan kaffarah. [47] Selain terdapat larangan-larangan syariat (yang harus dihindari oleh) orang yang hadir di Haram, juga ditetapkan larangan-larangan dan kelaziman-kelaziman bagi orang-orang yang melakukan ihram haji atau umrah.

Berlipat Ganda Balasan dan Ganjaran

Berdasarkan hadis, dikarenakan kesucian khusus Haram Mekah balasan para pendosa dan ganjaran perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan di situ akan berlipat ganda. Bahkan niat melakukan dosa di Haram akan dimintai pertanggung jawaban Ilahi. Sebaliknya, sangat ditegaskan untuk melakukan sebagian perbuatan-perbuatan baik dan ibadah (seperti tilawah Alquran, melakukan salat dan berpuasa) di kawasan Haram dan menurut hadis, pahalanya seratus kali lipat dari tempat-tempat lainnya. [48]Para fakih, dengan bersandar pada hadis, masuk ke Haram dengan bertelanjang kaki dan tanpa alas kaki, mandi dan berwudhu sebelum masuk ke Haram dan setelah keluar darinya, mewangikan mulut dan membaca doa-doa khusus adalah hal yang disunnahkan. [49] Mengubur orang-orang yang meninggal di Haram juga dianggap sebagai hal yang mustahab. [50]

Berdekatan dengan Tanah Haram Mekah

Menurut mayoritas para fakih Imamiyah, Maliki dan Hanafi, bertempat tinggal dan berdekatan dengan Mekah karena lemahnya iman masyarakat atau karena keteledoran dalam melaksanakan hukum-hukum Haram, hukumnya adalah makruh. Para penganut Syafi'I dan Hanbali menganggap sunah hukumnya berdekatan bagi orang yang tidak ada kemungkinan melakukan hal-hal yang dilarang. [51]

Amalan-amalan yang Dimakruhkan di Tanah Haram Mekah

Di antara amalan-amalan yang dihukumi makruh untuk dilakukan di Haram Mekah adalah sebagai berikut:

  1. Meminta piutang dari sang peminjam, kecuali piutang tersebut dilangsungkan di dalam Haram.
  2. Meminta sesuatu dari warga di Haram.
  3. Membaca syair.
  4. Memukul dan menyakiti para pelayan. [52]

Catatan Kaki

  1. Al-Hurr al-Amili, jld. 12, hlm. 555.
  2. Azraqi, jld. 2, hlm. 128; Fakihi, jld. 2, hlm. 273, 275; Kulaini, jld. 4, hlm. 195-197; Ahmad bin Abdullah Thabari, hlm. 652-653.
  3. Thusi, al-Tibyān, jld. 2, hlm. 173-174; Ibn Atsir, di bawah kata ilm, nur; Ibn Mandzur di bawah kata "ilm", "nur"; Zubaidi, di bawah kata "Nasaba", "Harama".
  4. Azraqi, jld. 2, hlm. 128-130; Fakihi, jld. 2, hlm. 273-276; Fasi, jld. 1, hlm. 106-107; Ibn Hajar Askalani, jld. 1, hlm. 72, 367, jld. 6, hlm. 50; Mathar, hlm. 19.
  5. Abdul Malik bin Abdullah Dihisy, hlm. 51-52.
  6. Fasi, jld. 1, hlm. 107; Ibn Fahd, jld. 2, hlm. 386, jld. 3, hlm. 117; Abdul Malik bin Abdullah bin Dahisy, hlm. 52-55.
  7. Kurdi, jld. 1, juz. 1, hlm. 100-101; Abdul Malik bin Abdullah bin Dahisy, hlm. 56-62.
  8. Abdul Malik bin Abdullah bin Dahisy, hlm. 63.
  9. QS. Al-Baqarah: 126; QS. Ibrahim: 35.
  10. Jarir Thabari, Jāmi' al-Bayān, jld. 1, hlm. 542, Thusi, al-Tibyān, jld. 1, hlm. 456; Thabarsi, jld. 1, hlm. 387.
  11. Jarir Thabari, Jāmi' al-Bayān,jld. 1; Fasi, Syifā' Al-Gharām, jld. 1, hlm. 139; Asadi Makki, Akhbār al-Kirām, hlm 183542.
  12. Ibn Hisyam, bagian 1, hlm. 114; Mawardi, hlm. 246-247; Thusi, al-Tibyān, jld. 4, hlm. 32; Ibn Jauzi, Al-Muntazham jld. 2, hlm. 321.
  13. Fakihi,Akhbār Makkah, jld. 2, hlm. 267; Yaqut Hamawi, di bawah kata "al-Anwāth", Ahmad Abdullah Thabari, Al-Qurā hlm. 169; Fasi,Syifā' Al-Gharām, jld. 1, hlm. 140.
  14. Fakihi, Akhbār Makkah, jld. 2, hlm. 259, 305140.
  15. Thusi, al-Tibyān, jld. 8, hlm. 165; Qurthubi, jld. 13, hlm. 364; Thabathabai, jld. 6, hlm. 271.
  16. Jashshash, jld. 1, hlm. 88, jld. 3, hlm. 253, 317; Syarif Radhi, hlm. 180; Thusi, al-Tibyān, jld. 6, hlm. 446, jld. 8, hlm. 165; Zarkasyi, 1408, jld. 2, hlm. 266; Thabathabai, jld. 3, hlm. 31.
  17. QS. Al-Qashash: 57; QS. Al-Ankabut: 67.
  18. QS. Al-Baqarah: 126; QS. Ibrahim: 35.
  19. Syarif Radhi, hlm. 182, 190; Thabrisi, jld. 2, hlm. 799; Qurthubi, jld. 4, hlm. 141-142.
  20. Fakihi, jld. 2, hlm. 252; Kulaini, jld. 4, hlm. 226, 528-530; Hur Amili, jld. 13, hlm. 35.
  21. Jashshahs, jld. 1, hlm. 88-89, jld. 2, hlm. 27; Syarif Radhi, hlm. 65, 192; Qurthubi, jld. 4, hlm. 140; Thabathabai, jld. 6, hlm. 271, jld. 12, hlm. 69.
  22. Azraqi, jld. 2, hlm. 138-139; Kulaini, jld. 4, hlm. 226-227; Ibn Babawaih, 1404, jld. 2, hlm. 262; Hur Amili, jld. 13, hlm. 75, 226.
  23. Jarir Thabari, jld. 4, hlm. 11-12; Syarif Radhi, hlm. 187; Qurthubi, jld. 2, hlm. 111, jld. 4, hlm. 140-141.
  24. Thusi, al-Tibyān, jld. 8, hlm. 165; Qurthubi, jld. 13, hlm. 300.
  25. Azraqi, jld. 2, hlm. 124; Jashshash, jld. 1, hlm. 89; Ibn Babawaih, 1404, jld. 2, hlm. 245-246.
  26. Azraqi, jld. 2, hlm. 125.
  27. Kulaini, jld. 4, hlm. 256; Suyuthi, jld. 2, hlm. 258.
  28. Mawardi, hlm. 259; Kasani, jld. 2, hlm. 446; Ibn Dzahirah, hlm. 169; Naraqi, jld. 13, hlm. 297.
  29. Thusi, al-Tibyān, jld. 5, hlm. 200; Zuhaili, jld. 3, hlm. 329.
  30. Thusi, al-Mabsuth fi Fiqh al-Imāmiah, jld. 1, hlm. 355; Ahmad bin Abdullah Thabari, hlm. 641; Khatib Syarbini, jld. 1, hlm. 476; Zuhaili, jld. 3, hlm. 327.
  31. Syarif Radhi, hlm. 182; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 7, hlm. 272-273, 277-278; Zuhaili, jld. 3, hlm. 328-329.
  32. QS. Al-Maidah: 96.
  33. Hur Amili, jld. 12, hlm. 552-557.
  34. Kasani, jld. 2, hlm. 450-452; Nawawi, jld. 7, hlm. 494-495; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqohā, jld. 7, hlm. 271, 282, 364-369, jld. 8, hlm. 25; Zuhaili, jld. 3, jlm. 328.
  35. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 7, hlm. 290; Dasuqi, jld. 2, hlm. 78.
  36. Mawardi, hlm. 260; Thusi, al-Mabsuth, jld. 2, hlm. 3.
  37. Nawawi, jld. 7, hlm. 471; Kasyif al-Ghitha', jld. 2, hlm. 456.
  38. Kasani, jld. 2, hlm. 453; Syahid Awwal, jld. 1, hlm. 473.
  39. Fasi, jld. 1, hlm. 138.
  40. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqoha, jld. 8, hlm. 442; Hur Amili, jld. 13, hlm. 259-262; Zuhaili, jld. 3, hlm. 329.
  41. QS. Ali Imran: 97.
  42. Azraqi, jld. 2, hlm. 139; Allamah Hilli, 1414, jld. 8, hlm. 441-442; Ibn Abidin, jld. 2, hlm. 256; Khu'i, hlm, 184-185.
  43. Kulaini, jld. 4, hlm. 139; Jashshash, jld. 2, hlm. 296; Thusi, al-Khilaf, jld. 5, hlm. 223; Zuhaili, jld. 3, hlm. 329.
  44. Syafi'i, jld. 4, hlm. 188; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 9, hlm. 337; Zuhaili, jld. 3, hlm. 330.
  45. Ibn Qudamah, jld. 4, hlm. 19-20; Khaththab, jld. 7, hlm. 546; Ibn Abidin, jld. 6, hlm. 711; Nawawi, jld. 9, hlm. 250; Muqaddas Ardabili, Zubdah al-Bayān, hlm. 221.
  46. Nawawi, jld. 7, hlm. 490-491, 496; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 7, hlm. 266-267, 367, 377-378, jld. 8, hlm. 25, 62; Hur Amili, jld. 13, hlm. 13-17.
  47. Ibn Rusyd, jld. 1, hlm. 612, 616, 622.
  48. Azraqi, jld. 2, hlm. 132; Fakihi, jld. 2, hlm. 266; Fasi, jld. 1, hlm. 131-132.
  49. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 8, hlm. 79; Khatib Syarbini, jld. 1, hlm. 479; Hur Amili, jld. 13, hlm. 195-198; Khalkhali, jld. 5, hlm. 477-478.
  50. Hur Amili, jld. 13, hlm. 278.
  51. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqahā, jld. 8, hlm. 442, 447; Ibn Abidin, jld. 2, hlm. 187; Zuhaili, jld. 3, hlm. 322-323.
  52. Azraqi, jld. 2, hlm. 137; Ibn Babawaih, Al-Muqni', hlm. 369-370; Hur Amili, jld. 12, hlm. 564-565, jld. 13, hlm. 265, 555.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran Al-Karim.
  • Alamul Huda, Ali bin Husein. Rasāil al-Syarif al-Murtadha. Qom: Cet. Mahdi Rajai, risalah 30, jumal al-Ilm wa al-Amal, 1405-1410.
  • Amili, Muhammad bin Ali Musawi. Madārik al-Ahkām fi Syarh Syarā'i al-Islam. Qom: 1410 H.
  • Asadi Makki, Ahmad bin Muhammad. Akhbār al-Kirām bi Akhbār al-Masjid al-Haram. Banaras: Cet. Hafidz Ghulam Mushtafa, 1396 H/ 1976.
  • Bahjat, Muhammad Taqi. Jāmi' al-Masāil. Qom: 1378 HS.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad. Al-Hadāiq al-Nādhirah fi Ahkām al-‘Itrah al-Thāhirah. Qom: 1363-1367 HS.
  • Bahuti Hanbali, Manshur bin Yunus. Kasysyaf al-Qana' ‘an Matni al-Iqna'. Beirut: Cet. Muhammad Hasan Syafi'i, 1418 H/ 1997.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari. Istanbul: Cet. Mehmed Zihni Efendi, 1401 H/ 1981.
  • Burujerdi, Murtadha. Mustanad al-Urwah al-Wustsqa, Presentasi Pelajaran Ayatullah Khu'i, jld. 8. Qom: 1367 HS.
  • Dahisy, Abdul Malik bin Abdullah. Al-Haram al-Makki al-Syarif wa al-A'lām al-Muhithah bihi. Mekah: 1415 H/1995.
  • Dasuqi, Muhammad Ahmad. Hāsyiyah al-Dasuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, tanpa tahun.
  • Fakihi, Muhammad Ishak. Akhbār Makkah fi Qadim al-Dahr wa Haditsihi. Beirut: Cet. Abdul Malik bin Abdullah bin Dahisy, 1419 H/1998.
  • Fasi, Muhammad bin Ahmad. Syifa al-Gharam fi Akhbār al-Balad al-Haram. Mekah: Cet. Aiman Fuad Sayid dan Musthafa Dzahabi, 1999.
  • Gulpaigani, Muhammad Ridha. Manāsik al-Haj. Qom: 1413 H.
  • Haitsami, Ali bin Abu Bakar. Kasyf al-Astar ‘an Zawāid al-Bazar ‘ala al-Kutub asy-Syiah. Beirut: Habiburrahman A'dzami, 1404 H/ 1984.
  • Haitsami, Ali bin Abu Bakar. Majma' al-Zawāid wa Manba' al-Fawāid. Beirut: 1408 H/ 1988.
  • Hakim, Muhsin. Mustamsak al-Urwah al-Wutsqa. Qom: Cet. Offset Qom, 1404 H.
  • Haththab, Muhammad bin Muhammad. Mawāhib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil. Beirut: Cet. Zakaria Amirat, 1416 H/ 1995.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf Allamah. Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkām al-Syariah. Qom: 1412-1420 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf Allamah. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom: 1414 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf Allamah. Tahrir al-Ahkām al-Syariah ‘ala Mazhab al-Imamiyyah. Qom: Cet. Ibrahim Bahaduri, 1420-1422 H.
  • Ibnu Abidin. Rad al-Muhtār ‘ala al-Dur al-Mukhtār. Mesir: Cet. Sanggi, 1271-1272 H. Beirut: Cet. Offset 1407 H/1987.
  • Ibnu Atsir. An-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsar. Beirut: Cet. Mahmud Muhammad Thanahi dan Thahir Ahmad Zawi, 1383 H/1963. Qom: cet. Offset, 1364 HS.
  • Ibnu Babawaih. Al-Muqni'. Qom: 1415 H.
  • Ibnu Babawaih. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom: Cet. Ali Akbar Ghaffari, 1404 H.
  • Ibnu Dzahirah. Al-Jāmi' al-Lathif fi Fadhli Makkah wa Ahliha wa Binai al-Bait al-syarif. Mekah: 1392 H/1972.
  • Ibnu Fahd. Ithāf al-Wara fi Akhbār Umm al-Qura. Mekah: Cet. Fahim Muhammad Syaltut, 1983-1984.
  • Ibnu Hajar Askalani. Al-Ishābah fi Tamyiz al-Shahābah. Beirut: Cet. Ali Muhammad Bajawi, 1412 H/1992.
  • Ibnu Hanbal. Musnad Ahmad bin Hanbal. Istanbul: 1402 H/1982.
  • Ibnu Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah. Cet. Musthafa Saqa, Ibrahim Abiyari, Abdul Hafidz Syalbi. Beirut: Dar Ibn Katsir, tanpa tahun.
  • Ibnu Idris Hilli. As-Sarāir al-Hāwi li Tahrir al-Fatāwā. Qom: 1410-1411 H.
  • Ibnu Jauzi. Al-Muntazham fi Tārikh al-Muluk wa al-Umam. Beirut: Cet. Muhammad Abdul Qadir ‘Atha dan Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, 1412 H/1992.
  • Ibnu Junaid Iskafi. Majmu'ah Fatāwa Ibn al-Junaid. Karya Ali Panah Isytaharudi. Qom: 1416 H.
  • Ibnu Qudamah. Al-Mughni. Beirut: Darul Kitab al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Rusyd. Bidāyah al-Mujtahid wa Nihāyah al-Muqtashid. Beirut: Cet. Thaha Abdur Rauf Sa'ad, 1409 H/1989.
  • Ibnu Sa'id. Al-Jāmi' li Syarā'i. Qom: 1405 H.
  • Ismail Baghdadi. Hidāyah al-Ārifin. Dar Haji Khalifah.
  • Jabrati, Abdur Rahman. Tārikh Ajāib al-Atsar fi al-Tarājum wa al-Akhbār. Beirut: Dar al-Jail, tanpa tahun.
  • Jashshash, Ahmad bin Ali. Ahkām al-Quran. Beirut: Cet. Abdus Salam Muhammad Ali Syahin, 1415 H/ 1994.
  • Jauhari, Ismail bin Hammad. Ash-Shihah, Tāj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyyah. Beirut: Cet. Ahmad Abdul Ghafur Aththar, tanpa tahun. Teheran: Cet. Offset Tehran 1368 HS.
  • Kasyif al-Ghitha', Ja'far bin Khidhr. Kasyf al-Ghitha' 'an Mubhimāt asy-Syariah al-Gharra'. Isfahan: Intisyarat Mahdawi, tanpa tahun.
  • Kasani, Abu Bakar bin Mas'ud. Badā'i al-Shanā'i fi Tartib asy-Syarā'i. Beirut: Cet. Muhammad Adnan bin Yasin Darwis, 1419 H/ 1998.
  • Kelidar, Abdul Husain. Bughyah an-Nubala fi Tarikh Karbala. Bagdad: Cet. Adil Kelidar, 1966.
  • Khalil bin Ahmad. Kitab al-‘Ain. Qom: Cet. Mahdi Makhzumi dan Ibrahim Samerai, 1405 H.
  • Khalkhali, Ridha. Mu'tamad al-Urwah al-Wutsqa. Presentasi pelajaran Ayatullah Khu'i. Qom: 1405-1410.
  • Khu'i, Abul Qasim. Mabāni Takmilah al-Minhāj. Qom: 1396 HS.
  • Kurdi, Muhammad Thahir. At-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitullah al-Karim. Beirut: 1420 H/ 2000.
  • Mar'asyi, Ismail Huseini. Ijmāiyyāt Fiqh al-Syiah wa Ahwath al-Aqwāl min Ahkām al-Syariah. Qom: 1419 H.
  • Mathar, Fauziah Husain. Tarikh Imarah al-Haram al-Makki al-Syarif ila Nihaya al-‘Ashar al-Abbasi al-Awwal. Jeddah: 1402 H/ 1982.
  • Mawardi, Ali bin Muhammad. Al-Ahkām as-Sulthaniyyah wa al-Wilāyah ad-Diniyyah. Baghdad, 1409 H/ 1989.
  • Mirza Qummi, Abul Qasim bin Muhammad Hasan. Jami' al-Syitat. Teheran: Cet. Murtadha Razavi, 1371 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom: 1410 H.
  • Muhammad bin Abdullah Azraqi. Akhbār Makkah wa Ma Ja'a fiha min al-Ātsār. Beirut: Cet. Rusydi Shalih Mulhis, 1403 H/1983. Qom: cet. Offset, 1369 HS.
  • Muhammad bin Ahmad Minhaji Asyuthi. Jawāhir al-‘Uqud wa Mu'in al-Qudhah wa al-Muwaqi'in wa al-Syuhud. Beirut: Cet, Mus'id Abdul Hamid Muhammad Sya'dani, 1417 H/ 1996.
  • Muhammad bin Jarir Thabari, Jami'.
  • Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Majma' al-Fāidah wa al-Burhān fi Syarh Irsyad al-Adzhān. Qom: Cet. Mujtaba Araqi, Ali Panah Isytiharudi dan Husein Yazdi Isfahani, 1362 HS.
  • Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Zubdah al-Bayān fi Ahkām al-Quran. Teheran: Cet. Muhammad Baqir Behbudi, tanpa tahun.
  • Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Istanbul: Cet. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1401 H/ 1981.
  • Najafi, Muhammad bin Hasan bin Baqir. Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarā'i al-Islam. Beirut: 1981.
  • Naraqi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mustanad asy-Syi'ah fi Ahkām al-Syari'ah. Qom: 1416 dan 1417 H.
  • Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu'; Syar al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Qurtubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi' li Ahkām al-Quran. Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa tahun.
  • Raf'at Basya, Ibrahim. Mir'āt al-Haramain, atau Ar-Rihlāt al-Hijaziyyah wa al-Haj wa Masyairihu al-Diniyyah. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ruhani, Muhammad Shadiq. Fiqh al-Shadiq. Qom: 1412-1414 H.
  • Syafi'i, Muhammad bin Idris. Al-Umm. Beirut: Cet. Muhammad Zuhri Najjar, tanpa tahun.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Ad-Durus asy-Syariah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom: 1412-1414 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah. Beirut: Cet. Muhammad Klantar, 1403 H/1983.
  • Syarbini, Muhammad Ahmad Khatib. Mughni al-Muhtāj ila Ma'rifah Ma'āni Alfādz al-Minhāj. Dikomentari oleh Jubli bin Ibrahim Syafi'i. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Haqāiq at-Ta'wil fi Mutasyābih at-Tanzil. Beirut: Cet. Muhammad ridha Al Kasyif al-Ghitha', tanpa tahun. Qom: cet. Offset Qom, tanpa tahun.
  • Thabari, Ahmad bin Abdullah. Al-Qura li Qāshid Umm al-Qura. Beirut: Cet. Musthafa Saqa,tanpa tahun.
  • Thabathabai Yazdi, Muhammad Kadzim bin Abdul Adzim. Al-Urwah al-Wustqa. Beirut: 1409.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Teheran: Ccet. Muhammad Taqi Kasyfi, 1387 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. An-Nihāyah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatāwa. Beirut: 1400 H/ 1980.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyān fi Tafsir al-Quran. Beirut: Cet. Ahmad Habib Qashir Amili, tanpa tahun.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Kitab al-Khilaf. Qom: 1407-1417 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkām. Teheran: Cet. Ali Akbar Ghaffari, 1376 HS.
  • Ya'qubi. Tarikh.
  • Zarkasyi, Muhammad bin Bahadur. A'lām al-Sājid fi Ahkām al-Masājid. Kairo: cet Abul Wafa Musthafa Maraghi, 1410/ 1989.
  • Zarkasyi, Muhammad bin Bahadur. Al-Burhān fi Ulum al-Quran. Beirut: Cet. Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, 1408 H/ 1988.
  • Zubaidi, Muhammad bin Muhammad. Tāj al-Arus min Jawāhir al-Qamus. Beirut: Cet. Ali Syiri, 1414 H/1994.
  • Zuhaili, Wahbah Musthafa. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatihu. Damaskus: 1404 H/ 1984.