Berlepas Diri dari Orang-orang Musyrik

tanpa prioritas, kualitas: b
tanpa referensi
Dari wikishia

Ritual Berlepas Diri dari Orang-orang Musyrik (bahasa Arab: البراءة من المشركين) adalah salah satu ritual jamaah haji Iran dalam manasik haji, di mana jamaah haji menyerukan slogan-slogan anti Amerika, Israel dan menyerukan persatuan umat Muslim sambil berdemonstrasi.

Berlepas diri dari orang-orang musyrik memiliki latar belakang dari Al-Qur'an dan dasar fikih, pertama kali dilakukan setelah Fathu Makkah atas perintah Nabi Muhammad saw, Imam Ali as membacakan ayat-ayat baraah di Makkah. Ritual ini dalam ibadah haji, pertama kali dilaksanakan pada tahun 1358 S atas pesan Imam Khomeini. Pemerintah Saudi menentang ritual ini dan pada tahun 1366 S menyerang peserta, di mana menyebabkan banyak jamaah haji Iran terbunuh dan terluka.

Urgensi Pembahasan

Riatual berlepas diri dari orang-orang musyrik adalah sebuah tradisi agama-politik yang dilaksanakan setiap tahun pada saat haji.[1] Pemimpin Republik Islam Iran selalu menekankan pelaksanaan ritual ini agar dimensi politik haji tetap terjaga.[2]

Ritual ini bertujuan untuk menyatakan berlepas diri dari kebijakan-kebijakan penindas orang-orang kafir dan musyrik serta untuk mengajak persatuan umat Muslim dalam menghadapi mereka.[3] Topik "penolakan terhadap orang-orang musyrik" disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, termasuk ayat 4 dalam surah Al-Mumtahanah,[4] ayat 1 hingga 3 dalam surah At-Taubah dan ayat 19 dalam surah Al-An'am.[5]

Berlepas diri dari orang-orang musyrik pertama kali dilakukan setelah Fathu Makkah.[6] Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk menyatakan berlepas diri dari orang-orang musyrik melalui turunnya ayat-ayat Baraah (ayat 1 hingga 10 dalam surah At-Taubah). Imam Ali as menyampaikan ayat-ayat tersebut dalam ritual haji pada tahun kesembilan Hijriah.[7] Mengenai alasan turunnya ayat-ayat ini, dikatakan bahwa orang-orang musyrik telah melanggar perjanjian yang mereka buat dengan Nabi Muhammad saw dalam Perjanjian Hudaibiyah, di mana mereka harus mengosongkan Makkah selama tiga hari untuk ibadah haji umat Islam.[8][9] Dalam Tafsir al-Amtsal, juga disebutkan tentang pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh orang-orang musyrik.[10]

Tatacara Pelaksanaan

Antara tahun 1358 hingga 1366 S, jamaah haji Iran dan terkadang jemaah non Iran, berkumpul di tempat tertentu di Makkah sebelum memulai ritual haji dan setelah mendengarkan pidato yang membahas analisis dunia Islam dan peristiwa-peristiwa aktual di dunia mereka melakukan pawai.[11]

Sejak dekade 1380 S, ritual ini dilakukan pada pagi hari Arafah di tempat perwakilan Pemimpin Republik Islam Iran di Padang Arafah,[12] dengan yel-yel seperti "Mampus Israel", "Mampus Amerika", "Wahai umat Muslim, bersatulah, bersatulah", dan "Perpecahan dan perselisihan adalah jalan Setan" oleh jemaah haji Iran dan non Iran, setelah pembacaan beberapa ayat Al-Qur'an.[13] Selanjutnya, kepala rombongan jamaah haji Iran membacakan pesan dari Pemimpin Republik Islam Iran dalam bahasa Persia dan Arab. Di akhir, sebuah resolusi dibacakan dan para peziarah mengiyakannya dengan takbir setelah setiap bagian. [14]

Dasar-dasar Fikih

Disebutkan bahwa di berbagai ritual manasik haji, terdapat penolakan terhadap kemusyrikan dan berlepas diri dari orang-orang musyrik. Melempar jumrah dan talbiyah adalah ritual yang paling menonjol, di mana penolakan terhadap kemusyrikan dan berlepas diri dari kemusyrikan terdapat di dalamnya.[15] Imam Khomeini dalam menjelaskan keberlepasan diri dari orang-orang musyrik, menganggap ritual ini memiliki berbagai bentuk yang harus dilakukan sesuai dengan waktunya. Atas dasar ini, waktu dan tempat terbaik untuk melaksanakan ritual berlepas diri dari orang-orang musyrik adalah pada hari-hari haji dan di dalam tanah Haram Makkah, karena dalam hal ini akan memiliki efek sangat besar.[16] Imam Khomeini dalam pedoman ritual ini bersandar pada prinsip-prinsip tawalli dan tabarri.[17]

Sebagian dari Ahlusunah mengkritik ritual ini, karena adanya larangan berdebat pada pelaksanaan haji. Tetapi, para ulama Syiah berpendapat bahwa ritual ini dan bentuknya secara umum berbeda dengan perdebatan dan tidak akan menyebabkan permusuhan di kalangan umat Islam.[18]

Sejarah

Disebutkan bahwa tradisi ini tidak dilakukan sebelum Revolusi Islam Iran dalam ritual haji.[19] Imam Khomeini disebut sebagai orang yang menghidupkan kembali tradisi keberlepasan diri dari orang-orang musyrik dalam musim haji, di mana setelah Revolusi Islam Iran, beliau melaksanakan tradisi ini dalam ritual haji.[20] Oleh karena itu, Imam Khomeini dianggap sebagai pendiri Hari Berlepas Diri dari Orang-orang Musyrik.[21]

Haji Berdarah

Pemerintah Saudi pada berbagai kesempatan telah menentang penyelenggaraan ritual ini.[22] Pada tahun 1366 S/1987 M, setelah jamaah haji berniat meninggalkan ritual berlepas diri dari orang-orang musyrik dan pergi ke Masjidil Haram, mereka diserang oleh pasukan kepolisian dan keamanan Arab Saudi. Dalam insiden ini, lebih dari 500 jamaah terbunuh dan 700 lainnya terluka.[23] Setelah peristiwa tersebut pada tahun 1366 S/1987 M, hingga tahun 1369 S/1990 M penyelenggaraan ritual ini dilarang; Tetapi, sejak tahun 1370 S/1991 M, ritual ini diselenggarakan kembali di Mina dan Arafah.[24]

Monografi

  • Buku Mabani-e Dini va Siyasi-e Baraat az Musyrikan atau "Dasar-Dasar Agama dan Politik Berlepas Diri dari Orang-orang Musyrik" karya Javad Varai. Buku ini ditulis dalam bahasa Persia dan diterbitkan oleh Penerbit Masy'ar.[25]

Catatan Kaki

Daftar Pustaka