Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa infobox
tanpa navbox
tanpa referensi

Nabi Yusuf as

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Makam Nabi Yusuf as

Yusuf bin Ya'qub (bahasa Arab: یُوسُف بن یعقوب) adalah salah seorang nabi dari Bani Israil yang memiliki kedudukan sebagai nabi sekaligus raja. Bagian detail dari kehidupannya diceritakan dalam surah Yusuf. Oleh saudara-saudaranya, Yusuf dibuang ke dalam sumur, namun setelah beberapa lama, ia diselamatkan sekelompok orang yang kemudian menjadikannya budak dan di jual ke pembesar Mesir. Ia memiliki kemampuan menafsirkan mimpi sehingga ia mendapat perlakuan istimewa dari Raja Mesir dan akhirnya mendapatkan posisi di kerajaan. Kisah cinta Yusuf dan Zulaikha adalah kisah Qur'ani yang sangat masyhur. Zulaikha tergila-gila dengan ketampanan Yusuf dan ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Yusuf, namun karena gagal akhirnya ia memfitnah Yusuf telah berkhianat, yang membuat pembesar Mesir menjebloskan Yusuf ke Penjara.

Biografi

Yusuf adalah putra dari Nabi Ya'qub as, keturunan Ishak putra kedua Nabi Ibrahim as. Ia adalah nabi dari Bani Israil. [1] Ibunya bernama Rahil [2] dan memiliki 11 saudara. [3] Diantara ke sebelas saudaranya, Benyamin adalah saudara seibu Yusuf. [4] Dari kesemua saudaranya kecuali Benyamin, Yusuf adalah anak yang paling kecil. [5]

Dibuang ke Sumur

Kisah mengenai kecemburuan dan rasa hasad saudara-saudara Yusuf yang pada akhirnya membuang Yusuf ke dalam sumur, diceritakan di dalam Alquran. Kecemburuan itu dipicu oleh mimpi Yusuf. Dalam mimpinya, Yusuf melihat sebelas bintang bersujud padanya termasuk bulan dan matahari. Mimpi tersebut selanjutnya diceritakan kepada ayahnya Ya'qub, yang kemudian menasehatinya untuk tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya, sebab dapat menimbulkan niat buruk dari saudara-saudaranya. [6]

Berdasarkan ayat-ayat Alquran, diceritakan putra-putra Ya'qub berkata Yusuf dan saudaranya lebih disukai oleh ayahnya sehingga mereka berpendapat Ya'qub sedang berada dalam kesesatan. [7] Suatu hari, putra-putra Ya'qub membujuk ayahnya agar mereka diizinkan membawa Yusuf untuk bermain bersama ke tanah lapang [8]. Namun ketika telah tiba di tanah lapang, mereka membuang Yusuf ke dalam sumur yang kemudian diselamatkan oleh kafilah yang lewat. [9] Saudara-saudara Yusuf setelah kembali ia menceritakan kepada Ya'qub bahwa mereka lalai dalam menjaga Yusuf sehingga diterkam dan dan dimangsa oleh serigala. [10] Alquran mengisahkan, Ya'qub tidak percaya dengan cerita mereka. [11] Atas kehilangan Yusuf, Nabi Ya'qub larut dalam kesedihan dan karena disebabkan sering menangis, ia mengalami kebutaan. [12]

Yusuf di Mesir

Setelah Yusuf diselamatkan dari sumur, kafilah membawanya ke Mesir sebagai budak dan dijual ke pembesar Mesir dan menjadi bagian dari keluarga pembesar tersebut. [13] Setelah beberapa lama, Zulaikha istri pembesar Mesir tersebut tertarik pada ketampanan Yusuf yang beranjak dewasa namun Yusuf tidak menanggapi ketertarikan Zulaikha tersebut. Cerita mengenai ketertarikan Zulaikha pada Yusuf tersebar diseantero kota, yang membuat wanita-wanita kota membicarakan dan merendahkan Zulaikha. Zulaikha kemudian mengundang wanita-wanita Mesir dalam sebuah pertemuan. Disaat sedang membagikan buah dan pisau kecil kepada para tamunya, Zulaikha meminta Yusuf masuk ke ruang pertemuan dan melintas dihadapan para wanita tersebut. Melihat ketampanan Yusuf, para tamu perempuan tersebut tidak sadar sedang mengiris jari tangan mereka karena merasa takjub dengan keindahan wajah Yusuf. [14]

Karena Yusuf menolak keinginan Zulaikha, Zulaikha yang sakit hatipun membuat konspirasi yang menyebabkan Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. [15] Berkat bantuan seorang pelayan Raja Mesir, Yusuf kemudian dibebaskan dari penjara karena tidak terbukti bersalah. Setelah bebas, Yusuf yang memiliki kemampuan menafsirkan mimpi, dan berhasil menafsirkan mimpi Raja Mesir akhirnya mendapat kepercayaan Raja Mesir untuk menduduki jabatan penting dalam istana [16] yang akhirnya kemudian menjadi Raja. [17]

Disebutkan, dimasa kekuasaan Yusuf di Mesir, di Kan'an terjadi paceklik yang menyebabkan terjadinya bencana kelaparan. Saudara-saudara Yusuf pun kemudian menuju Mesir untuk mengambil pembagian gandum. Begitu tiba di Mesir, Yusuf sangat mengenali saudara-saudaranya namun sebaliknya, saudara-saudara Yusuf tidak mengenalinya. Yusuf memberikan bajunya kepada saudara-saudaranya untuk diserahkan kepada Ya'qub. Dengan baju tersebut, Ya'qub mengusap matanya, dan akhirnya sembuh dari kebutaan. [18] Mas'udi meriwayatkan, dari pernikahan Yusuf, lahir dua anak laki-laki yang bernama Afraim, ayah Yusa' bin Nun dan Maisya. [19]

Yusuf dalam Kitab Suci

Kisah kehidupan Nabi Yusuf as sebagaimana diceritakan sebelumnya, terdapat dalam kitab suci seperti Alquran, Taurat dan sumber-sumber lainnya.

Kisah Terbaik

Nama Yusuf disebutkan sebanyak 27 kali di tiga surah dalam Alquran dan surah ke-12 Alquran diberi nama dengan namanya. Alquran menyebut kisah Nabi Yusuf as dengan sebaik-baik kisah (احسن القصص) [20] Bagian-bagian penting dari kisah kehidupannya diceritakan dalam Alquran mulai dari masa kecilnya ketika dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak kepada pembesar Mesir, kisah pertemuannya dengan Zulaikha, dijebloskan ke dalam penjara dan pertemuannya kembali dengan ayah dan saudara-saudaranya serta awal dan akhir kekuasaannya di Mesir. [21] Allamah Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan menulis, Alquran menyebut Nabi Yusuf as sebagai hamba yang ikhlas dan mampu menjaga kesucian dirinya, yang bukan hanya tidak melakukan dosa namun juga menghindari yang bisa menghantarkannya melakukan dosa bahkan untuk sekedar berniat atau berkhayal mengenai hal yang harampun tidak dilakukannya. [22] Dengan itu Allah swt mengkatergorikan Nabi Yusuf as sebagai Muhsinin. [23]

Nubuwah

Nabi Yusuf as mencapai maqam kenabian ketika berada di Mesir. [24] Selain menjadi nabi ia juga menjabat posisi sebagai raja dan selama 72 tahun menjadi penguasa di Mesir. [25] Yusuf melanjutkan maqam kenabian dari ayah dan kakek-kakeknya. Ia berkata,"Aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah." [26] Dimasa Nabi Yusuf as hidup, tersebar luas penggunaan sihir, sulap dan tafsir mimpi. Salah satu medium yang digunakan Nabi Yusuf as dalam menyampaikan dakwahnya adalah melalui kemampuannya menafsirkan mimpi. [27]

Tarki Aula (Meninggalkan yang lebih utama)

Ketika Nabi Yusuf as berada dalam penjara, dari para tahanan terdapat orang dekat Raja Mesir yang telah diberitahu oleh Nabi Yusuf as sebelumnya mengenai kebebasannya. Ketika hendak keluar dari penjara, Yusuf berkata kepadanya, "Kondisiku yang sebenarnya tidak bersalah sampaikanlah kepada raja." Namun Syaitan telah membuat orang itu melupakan pesan Yusuf yang menyebabkan Yusuf tetap berada dalam penjara selama bertahun-tahun kemudian. Sebagian mufassir menyebut, yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as tersebut adalah meninggalkan yang lebih utama (تَرک اَولیٰ), karena Anbiyah as atau siapapun yang memiliki pemahaman tauhid yang tinggi tidak akan bertawassul pada yang bersifat materi. [28] Oleh karena itu Nabi Yusuf as dimasukkan dalam kelompok yang telah melalaikan Tuhan yang membuat Syaitan berhasil membuat Yusuf lupa dengan Tuhan dan bertawassul kepada selain Tuhan. Allamah Thabathabai membantah pandangan mufassir yang demikian dengan menyebutkan Syaitan tidak mungkin bisa mempengaruhi dan mengambil alih pikiran Anbiyah as. [29]

Derita Ya'qub karena Keterpisahan dari Yusuf

Taurat dan Alquran mengisahkan peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh Nabi Yusuf as dan jalan ceritanya satu sama lain memiliki kemiripan. Letak perbedaan kisah Nabi Yusuf as dalam Alquran dan Taurat diantaranya dalam Taurat disebutkan Yusuf menceritakan mimpinya yang melihat bulan dan matahari sujud dihadapannya kepada saudara-saudaranya, yang melahirkan rasa hasad dalam hati saudara-saudaranya yang khawatir jika kelak Yusuf yang akan berkuasa atas mereka. Mimpi itupun diceritakan kepada ayahnya Ya'qub yang menyebabkan Ya'qub bersedih dan berkata, "Apakah aku, ibumu dan kesebelas saudaramu bersujud di hadapanmu?". [30]

Begitupun dalam Taurat dikisahkan, suatu hari Ya'qub berkata kepada Yusuf, "Aku memintamu untuk mengikuti saudaramu ke sahara dan lihat apakah mereka dan kambing-kambing mereka aman-aman saja." Yusuf pun memenuhi permintaan tersebut dan menyusul saudara-saudaranya ke sahara tempat mereka mengembala kambing, namun begitu tiba saudara-saudara Yusuf menjatuhkan Yusuf ke dalam sumur. [31]

Penukilan Riwayat

Dalam literatur Syiah terdapat beberapa periwayatan terkait dengan Nabi Yusuf as seperti munajat Nabi Yusuf as ketika berada dalam sumur [32] dan bertawassul melalui Ashabul Kisa. [33][Note 1]} Begitupula riwayat dari Imam Baqir as yang menyebutkan kesucian dan keberkahan kota Palestina karena menjadi tempat kelahiran sejumlah nabi khususnya Nabi Yusuf as dan Nabi Ya'qub as dan menjalani kehidupan di wilayah tersebut. [34] Demikian pula beberapa hal lainnya seperti kemakruhan mengajarkan surah Yusuf kepada kaum perempuan terdapat dalam beberapa riwayat. [35]

Wafat dan Tempat di Makamkan

Nabi Yusuf as hidup selama 120 tahun. Ketika ajalnya telah mendekati, Allah swt menurunkan wahyu kepadanya yang memerintakahkan cahaya dan hikmah yang dimilikinya diserahkan ke Babarz bin Lewi bin Ya'qub.

Menjelang kematian, Yusuf memanggil Babarz bin Lewi bersama dengan 80 orang dari keluarga Ya'qub dan berkata kepada mereka bahwa tidak lama lagi sebuah kelompok akan mengalahkan dan membuat mereka tertimpa kondisi yang sulit sampai mereka diselamatkan oleh Allah swt melalui perantaraan seorang keturunan Lewi yang bernama Musa. [36] Setelah Nabi Yusuf as meninggal dunia, setiap kelompok menghendaki agar jenazah Yusuf dimakamkan ditempat mereka. Dikarenakan tidak ditemukan kesepakatan, jenazah Nabi Yusuf kemudian dimasukkan kedalam peti jenazah yang terbuat dari marmer dan ditenggelamkan ke dalam sungai Nil. Setelah beberapa tahun, jenazah Nabi Yusuf as muncul ke permukaan [37] dan kemudian dimakamkan di Palestina. [38]

Catatan Kaki

  1. Khuramsyahi, Danesynameh Qur'an, jld. 2, hlm. 2379
  2. Qummi, Tafsir Qummi, jld. 1, hlm. 339
  3. Kulaini, Ushul al-Kafi, jld. 2, hlm. 51
  4. Mafdhal bin 'Amr, Tauhid Mafdhal, hlm. 19
  5. Jazairi, Dastan-e Payambaran, hlm. 294
  6. QS. Yusuf: 4
  7. QS. Yusuf: 8
  8. QS. Yusuf:12
  9. QS. Yusuf: 12
  10. QS. Yusuf: 14
  11. QS. Yusuf: 18
  12. QS. Yusuf: 84
  13. QS. Yusuf: 21
  14. QS. Yusuf: 31
  15. Jazairi, Dastan-e Payambaran, hlm. 276
  16. Jazairi, Dastan-e Payambaran, hlm. 278
  17. Mas'udi, Itsbat al-Washiah, hlm. 49
  18. QS. Yusuf: 93; Khuramsyahi, Danesynameh Qur'an, jld. 2, hlm. 2379
  19. Mas'udi, Itsbat al-Washiah, hlm. 74
  20. Qs. Yusuf: 3
  21. Qs. Yusuf: 8-100
  22. Qs. Yusuf: 51; Thabathabai, terjemahan Al-Mizan, jld. 11, hlm. 172
  23. QS. Al-An'am: 84
  24. Shaduq, Kamal ad-Din, jld. 1, hlm. 417
  25. Mas'udi, Itsbat al-Washiah, hlm. 49
  26. Qs. Yusuf: 38
  27. Jazairi, Dastan-e Payambaran, hlm. 279; Qs. Yusuf: 21 dan 101
  28. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 9, hlm. 414
  29. Thabathabai, terjemqhan Al-Mizan, jld. 11, hlm. 246; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 9, hlm. 414
  30. Thabathabai, terjemahan Al-Mizan, jld. 11, hlm. 357
  31. Thabathabai, terjemahan Al-Mizan, jld. 11, hlm. 357
  32. Ibnu Thawus, al-Mujtana min al-Du'a, hlm. 30
  33. Dhaya Abadi, Tafsir Surah Yusuf, hlm. 72 dan 77
  34. Jazairi, Dastan-e Payambaran, hlm. 391
  35. Burujerdi, Manabi' Fiqh Syi'ah, jld. 25, hlm. 571
  36. Mas'udi, Itsbat al-Washiah, hlm. 74
  37. Mas'udi, Itsbat al-Washiah, hlm. 75
  38. Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jld. 1, hlm. 478
  1. Nabi Yusuf as ketika berada dalam sumur bertawassul melalui Ashabul Kisa dengan berkata: اللهم انی اسئلکَ أَنْ تُصَلِّی عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَنْ تَجْعَلَ لِی فَرَجاً وَ مَخْرَجا مما انا فیه Ya Allah, dari-Mu aku menginginkan rahmat-Mu tercurah atas Muhammad beserta keluarga Muhammad, dan turunkan pertolongan-Mu untukku atas kesulitan ini.

Daftar Pustaka

  • Balaghi, Muhammad Jawad. Al-Huda ila Din al-Musthafa. Beirut: Muassasah al-A'lami. Cet.3, 1405 H.
  • Balaghi, Sayid Abdul Hujjat. Hujjah at-Tafāsir. Qom: Intisyarat Hikmat, 1386 H.
  • Burujerdi, Husain. Manābi Fiqh Syiah (Tarjumah Jami' Ahādits asy-Syiah). Teheran: Intisyarat Farhangge Sabz, cet.1, 1386 H.
  • Dhiya Abadi, Muhammad. Tafsir Surah Yusuf. Teheran: Muassasah Bonyad Khairiyah al-Zahra as, 1388 HS.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Mujtaba min ad-Du'a al-Mujtaba. Qom: Dar al-Dzakhair, cet. 1, 1411 H.
  • Jakfari, Ya'qub. Tafsir Kautsar. Qom: Muassasah Intisyarat Hijrat, 1376 HS.
  • Jazairi, Ni'matullah bin Abdullah. Dastān Peyambaran. Terjemahan buku Qishash al-Anbiya. Teheran: Intisyarat Had, cet.1, 1380 HS.
  • Khurramsyahi, Qiwamuddin. Danisynameh Quran. Teheran: Intisyarat Dustan-Nahid, 1377 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Ushul al-Kafi. Penerjemah: Musthafawi. Teheran: Kitabfurusyi Ilmiah Islamiah, cet.1, 1369 HS.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiah, cet. 1, 1374 HS.
  • Masudi, Ali bin Husain. Tarjumah Istbāt al-Washiyah li Ali bin Abi Thalib as. Teheran: Islamiah, cet.2, 1362 HS.
  • Mufaddhal bin Umar. Tauhid Mufadhdhal.Terjemahan Allamah Majlisi. Teheran: Intisyarat Wizarat Farhang wa Irsyad Islami, cet. 1, 1379 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom: Dar al-Kitab, cet.3, 1404 H.
  • Qurasyi Banai, Ali Akbar. Qamus Quran. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiah, cet. 6, 1412 H.
  • Shaduq (Ibnu Babawaih), Mujammad bin Ali. Al-Khishal. Penerjemah: Fahri. Teheran: Ilmiah Islamiah, cet. 1, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Tarjumah Tafsir al-Mizān. Qom: Daftar Intisyarat Islami Qom, cet. 5, 1374 HS.