Konsep:Ziarah Sayidah Fatimah sa
Lukisan Ziarah-namah Sayyidah Zahra (sa) dengan kaligrafi Naskh karya Nabil Husain Farhan al-Ma'muri, kaligrafer Irak, dan iluminasi (tazhib) oleh Raihaneh Rahmati pada tahun 1436 H berukuran 70*50. | |
| Informasi Doa dan Ziarah | |
|---|---|
| Nama Lain | Ziarah Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) |
| Ma’tsur atau Tidak | Ma'tsur |
| Dinukil dari | Imam Jawad (as) |
| Periwayat | Muhammad bin Ahmad bin Daud dari Muhammad bin Wahban al-Bashri dari Abu Muhammad Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Sirafi dari Abbas bin Walid bin Abbas al-Manshuri dari Ibrahim bin Muhammad bin Isa bin Muhammad al-'Uraidhi |
| Sumber-sumber Syiah | Tahdzib, Mishbah al-Mutahajjid dan Kitab al-Mazar |
Ziarah-namah Sayyidah Fatimah (sa) adalah ungkapan-ungkapan untuk menziarahi Sayyidah Fatimah (sa) di tempat-tempat yang kemungkinan menjadi tempat pemakamannya. Ziarah-namah ini diajarkan oleh Imam Jawad (as) kepada salah seorang Sayid dan Syaikh ath-Thusi menukilnya dalam kitab Tahdzib dan Mishbah al-Mutahajjid. Syaikh Mufid juga dengan sedikit perbedaan melaporkannya dalam Kitab al-Mazar. Syaikh ath-Thusi setelah ziarah-namah ini, juga menukil ungkapan-ungkapan lain tanpa sanad dan menganggap membacanya sebagai hal yang sunah. Ziarah-namah lainnya juga disebutkan dalam kitab-kitab doa dan ziarah.
Ziarah-namah ini, karena alasan-alasan seperti kekuatan konten, penukilannya di sumber-sumber yang mu'tabar dan tawatur kandungan ziarah-namah tersebut dalam riwayat-riwayat lain, dianggap tidak lagi memerlukan kajian sanad; meskipun demikian di dalam sanad riwayat juga terdapat para perawi yang tsiqah dan tidak ada celaan mengenai satu pun dari para perawinya oleh ulama rijal.
| Doa, Munajat dan Ziarah |
Ziarah
Ziarah Asyura • Ziarah Warits • Ziarah Arbain • Ziarah Aminullah • Ziarah Al Yasin • Ziarah Jami'ah Kabirah • |
Dimulainya ziarah-namah ini tanpa salam dianggap karena penghapusan salam dalam penyalinan atau karena taqiyyah pada saat itu dan dikatakan bahwa saat ini ziarah ini lebih baik dimulai dengan salam.
Ziarah-namah Sayyidah Zahra (sa) memiliki tiga bagian utama. Pada bagian pertama mengisyaratkan keagungannya dan ujian sebelum penciptaan di alam cahaya. Pada bagian kedua, peziarah mengemukakan keyakinannya terhadap wilayah Sayyidah Fatimah (sa) dan di bagian terakhir peziarah memohon agar Tuhan dengan alasan wilayah ini menggabungkannya kepada Nabi (saw) dan wilayah Imam Ali (as) serta menyucikannya.
Karya-karya yang menjelaskan (syarh) ziarah-namah ini telah ditulis oleh ulama Syiah.
Kedudukan dan Validitas Ziarah-namah
Berdasarkan apa yang dinukil dalam kitab al-Mazar karya Syaikh Mufid (wafat 413 H), Tahdzib al-Ahkam[1] dan Mishbah al-Mutahajjid[2] karya Syaikh ath-Thusi, ziarah-namah Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) diajarkan oleh Imam Jawad (as)[3] kepada salah seorang Sadah (Sayid) bernama Ibrahim bin Muhammad bin Isa[4] agar dibaca ketika hadir di makamnya dengan niat ziarah. Ziarah-namah ini setelah Syaikh ath-Thusi (385-460 H) masuk ke karya-karya riwayat[5] serta kitab-kitab doa dan ziarah Syiah lainnya.[6]
Sanad Ziarah
Menurut Husain Ganji Ishtehardi (lahir: 1331 HS), salah seorang penulis Syiah, karena penukilan riwayat ini dalam salah satu Kutub al-Arba'ah, kekuatan konten ziarah ini, tawatur lafzi dan maknawi dari ungkapan-ungkapan ziarah dalam riwayat-riwayat lain, serta tidak adanya motif di antara para pendukung dan penentang Ahlulbait (as) untuk memalsukannya, maka tidak perlu meneliti silsilah sanad para perawi.[7] Menurutnya, dari segi silsilah sanad pun tidak ada celaan mengenai para perawinya. Majlisi Pertama juga (1003-1070 H) memperkenalkan riwayat ini sebagai riwayat yang kuat.[8] Dalam kitab-kitab rijal, dua orang dari perawi hadis ini yaitu Muhammad bin Ahmad bin Daud[9] dan Muhammad bin Wahban al-Bashri diperkenalkan sebagai perawi yang tsiqah,[10] (sementara) tiga orang perawi yaitu Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Sirafi,[11] Abbas bin Walid bin Abbas al-Manshuri[12] dan Ibrahim bin Muhammad bin Isa bin Muhammad al-'Uraidhi diperkenalkan sebagai majhul (tidak diketahui).[13]
Waktu dan Tempat Ziarah
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Tempat Pemakaman Sayyidah Fatimah (sa).
Mengenai tempat membaca ziarah ini, dikatakan bahwa maksud dari anjuran Imam Jawad (as) untuk membacanya di dekat makam, berarti tempat-tempat yang seperti lokasi rumah Sayyidah Zahra (sa), Pemakaman Baqi' dan Raudhah an-Nabi (saw) yang mana terdapat kemungkinan pemakaman di sana.[14] Syaikh Mufid juga menganggap tempat membaca ziarah adalah di Pemakaman Baqi' di dekat makam Imam Hasan (as).[15]
Menurut Allamah Majlisi (1037 - 1110 H) membaca ziarah-namah Sayyidah Fatimah (sa) di beberapa waktu seperti hari kelahiran dan hari kesyahidannya, hari pernikahan serta malam pernikahannya dengan Imam Ali (as), hari Mubahalah (24 Zulhijah), hari turunnya Surah Al-Insan (25 Zulhijah) dan setiap hari di mana karamah dan keutamaan ditetapkan bagi Ahlulbait (as)[16] memiliki keutamaan yang lebih besar.
Teks dan Terjemahan
Berdasarkan apa yang dinukil dalam kitab Tahdzib, Ibrahim bin Muhammad bin Isa bin Muhammad al-'Uraidhi menukilkan bahwa Imam Jawad (as) pada suatu hari bersabda: "Ketika engkau berada di dekat makam nenekmu Fatimah (sa), katakanlah demikian:"[17]
- Templat:Arab
- "Wahai yang diuji, Allah yang menciptakanmu telah mengujimu sebelum Dia menciptakanmu, lalu Dia mendapati kesabaranmu atas apa yang Dia ujikan kepadamu. Kami meyakini bahwa kami adalah para pecintamu dan yang membenarkan serta bersabar terhadap segala hal yang dibawa oleh ayahmu (shalawat Allah atasnya dan keluarganya) kepada kami dan yang dibawa oleh washinya (as) kepada kami. Maka kami memohon kepadamu, jika kami benar-benar telah membenarkanmu, agar engkau menggabungkan kami dengan pembenaran kami kepada keduanya, sebagai kabar gembira agar kami dapat memberikan kabar gembira kepada diri kami sendiri bahwa kami telah suci dengan wilayahmu."
Terdapat laporan-laporan lain dari ziarah-namah ini yang diawali dengan ungkapan "Assalamu'alaiki Ya Mumtahanah...".[18] Dikatakan bahwa hal ini merupakan bukti bahwa aslinya ziarah dimulai dengan salam dan dalam salinan kitab Tahdzib yang ada di tangan kita, salam ini telah dihapus.[19]
Syaikh ath-Thusi setelah menukil ziarah-namah ini dalam Tahdzib, mengemukakan ungkapan-ungkapan lain tanpa menyebutkan sanad, yang mana telah lazim di kalangan ulama Syiah sebagai ziarah Sayyidah Zahra (sa).[20] Dalam Mishbah al-Mutahajjid juga ia menganggap membacanya setelah ziarah-namah di atas sebagai perbuatan sunah.[21] Teks ziarah-namah ini adalah sebagai berikut: Templat:Teks Ziarah-namah Sayyidah Fatimah Dalam kitab-kitab ziarah Syiah, dikemukakan ziarah-namah-ziarah-namah lain selain dari dua ziarah ini. Sebagai contoh, Ibnu Masyhadi (wafat: 610 H) dalam al-Mazar al-Kabir[22] menyebutkan dua ziarah lainnya dan Syaikh Mufid dalam Kitab al-Mazar,[23] Syahid al-Awwal (734-786 H) dalam al-Mazar[24] serta Syaikh Abbas Qomi (1294-1359 H) dalam Mafatih al-Jinan[25] menukil ziarah-namah lain untuk Sayyidah Fatimah (sa).
Kandungan Ziarah-namah
Ziarah-namah Sayyidah Zahra (sa) memiliki tiga bagian utama. Bagian pertama berkaitan dengan Sayyidah Zahra (sa) dan keagungan kepribadian beliau. Bagian kedua tentang peziarah dan keyakinannya. Sedangkan bagian ketiga mengemukakan permohonan dan hajat peziarah.[26]
Penciptaan atau Ujian Sebelum Penciptaan
Ali Sa'adatparwar (1305-1383 HS), salah seorang ulama Syiah meyakini, kalimat pertama dari ziarah ini dapat dimaknai dengan dua cara. Pertama, bahwa Tuhan sebelum menciptakan Sayyidah Zahra (sa) dalam bentuk materi, telah menciptakannya dalam bentuk cahaya. Makna kedua, bahwa Tuhan sebelum menciptakan Sayyidah Zahra (sa), telah mengujinya dan terhadap ujian ini, Tuhan mendapatinya sebagai ahli sabar.[27] Menurutnya, ujian ini secara prinsip berada di alam cahaya dan dapat berupa ujian yang sama yang disebutkan oleh Tuhan dalam ayat 60 Surah Yasin dengan sebutan perjanjian untuk tidak mematuhi Setan. Atau dapat berupa pengakuan terhadap rububiyyah (ketuhanan) Ilahi di Alam Dzar yang mana telah diisyaratkan dalam ayat 172 Al-A'raf. Selain itu juga dapat berupa mitsaq (perjanjian) yang teguh yang mana menurut ayat 7 dan 8 Surah Al-Ahzab diambil dari para nabi, dan Sayyidah Zahra (sa) juga termasuk dalam perjanjian ini karena bersanding dengan para nabi dan wali.[28]
Ganji Ishtehardi juga dengan memperhatikan salah satu makna "Mumtahanah" (yang dimurnikan), mengatakan bahwa kata ini merujuk pada ilmu Tuhan. Tuhan dengan ilmu yang dimiliki-Nya mengetahui betapa tingginya perbuatan, keikhlasan, dan kesabaran Sayyidah Zahra (sa) dalam menghadapi masalah, dan karena itu sebelum menciptakannya, Tuhan telah memurnikannya dan menganugerahkannya maqam kedekatan tersebut kepadanya.[29] Muhammad Sanad al-Bahrani (lahir: 1382 H) juga meyakini bahwa maksud dari ujian sebelum penciptaan, adalah ilmu Tuhan terhadap kedudukan dan perbuatan Sayyidah Zahra (sa) dalam masalah dan kesulitan.[30]
Dugaan Wilayah Sayyidah Zahra (sa)
Dalam bagian kedua ziarah-namah, peziarah menyatakan dugaan (mengira) bahwa ia termasuk ahli wilayah dan orang yang membenarkan Sayyidah Fatimah (sa). Masalah ini dianggap sebagai bentuk adab di mana peziarah tidak menganggap dirinya secara yakin dan pasti sebagai ahli wilayah Sayyidah Fatimah (sa); karena jika ia mengatakan dengan yakin bahwa ia adalah ahli wilayahnya, ini akan berarti bahwa aku telah mengetahui segala hak wilayah Anda, serta dalam tataran pembenaran dan pengamalan, aku berhasil mencapainya; sementara klaim semacam itu tidak dapat dibuat secara pasti.[31]
Fatimah az-Zahra (sa) Perantara Keterhubungan Manusia dengan Kenabian dan Wilayah
Di bagian ketiga, kita memohon karena kita adalah pembenar Sayyidah Zahra (sa), agar menggabungkan kita kepada Rasul dan washinya. Sehingga kita dapat memberikan kabar gembira tentang kesucian dan kebersihan melalui kecintaan kepada Sayyidah Fatimah (sa) kepada diri kita sendiri.[32] Menurut Sayyid Muhammad Mahdi Mirbaqeri (lahir: 1340 HS), salah seorang ulama Syiah, bagian ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah (sa) adalah perantara keterhubungan antara mukminin dan hakikat Kenabian serta Wilayah yang mana pencapaian ke arahnya, merupakan kesucian hakiki.[33]
Monografi
Meskipun terdapat materi-materi secara tersebar dalam karya-karya ulama Syiah terkait dengan ziarah-namah Sayyidah Fatimah (sa),[34] buku-buku juga telah ditulis secara independen tentangnya:
- Buku Ziarat-e Mahtab: Syarh-e Ziarat-e Hazrat-e Fatimah (sa) (Ziarah Rembulan: Penjelasan Ziarah Sayyidah Fatimah sa) yang ditulis oleh Mahdi Khodamian Arani pada tahun 1396 HS telah dicetak oleh penerbit Bahar-e Delha dalam 114 halaman.[35]
- Buku Ziarat-namah-e Madar: Syarhi bar Ziarat-e Makhsushah-e Hazrat-e Fatimah Zahra (sa) (Ziarah-namah Ibu: Penjelasan atas Ziarah Khusus Sayyidah Fatimah Zahra sa) yang ditulis oleh Husain Ganji Ishtehardi diterbitkan oleh penerbit Dar an-Nasyr Qom dalam 158 halaman pada tahun 1399 HS.[36]
Catatan Kaki
- ↑ Syaikh ath-Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 9-10.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, jld. 2, hlm. 711.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 20.
- ↑ Abbasi Zanjani, Al-Jami' fi ar-Rijal, 1436 H, jld. 1, hlm. 162.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Faiz Kasyani, Al-Wafi, 1406 H, jld. 14, hlm. 1369-1370; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 97, hlm. 194-195.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Masyhadi, Al-Mazar al-Kabir, 1419 H, hlm. 79-80; Syahid al-Awwal, Al-Mazar, 1410 H, hlm. 21; Qomi, Mafatih al-Jinan, Majma' Ihya' ats-Tsaqafah al-Islamiyyah, hlm. 407.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 17-18.
- ↑ Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 5, hlm. 343.
- ↑ Najasyi, Rijal, 1365 HS, hlm. 384; Al-Khoei, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1372 HS, jld. 15, hlm. 345.
- ↑ Najasyi, Rijal, 1365 HS, hlm. 396; Al-Khoei, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1372 HS, jld. 18, hlm. 333-334.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 3, hlm. 38; Murtadha, Zubdah al-Maqal min Mu'jam ar-Rijal, 1426 H, jld. 1, hlm. 322.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 361; Murtadha, Zubdah al-Maqal min Mu'jam ar-Rijal, 1426 H, jld. 1, hlm. 568.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 1, hlm. 200; Murtadha, Zubdah al-Maqal min Mu'jam ar-Rijal, 1426 H, jld. 1, hlm. 79.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 21.
- ↑ Syaikh Mufid, Kitab al-Mazar, 1413 H, hlm. 178.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 97, hlm. 203.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 9-10.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syaikh Mufid, Kitab al-Mazar, 1413 H, hlm. 178.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 25-26.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, jld. 2, hlm. 711.
- ↑ Ibnu Masyhadi, Al-Mazar al-Kabir, 1419 H, hlm. 78-79 & 82-83.
- ↑ Syaikh Mufid, Kitab al-Mazar, 1413 H, hlm. 179.
- ↑ Syahid al-Awwal, Al-Mazar, 1410 H, hlm. 20-21.
- ↑ Qomi, Mafatih al-Jinan, Majma' Ihya' ats-Tsaqafah al-Islamiyyah, hlm. 409-410.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 13-14.
- ↑ Sa'adatparwar, Jilweh Nur, 1388 HS, hlm. 200.
- ↑ Sa'adatparwar, Jilweh Nur, 1388 HS, hlm. 200-201.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 37.
- ↑ Sanad, Al-Imamah al-Ilahiyyah, 1427 H, jld. 2, hlm. 199.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 111.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, hlm. 137.
- ↑ "Dar Husainiyyeh Ayatollah Haqshenas dar Ayyam Fatimiyyeh / Syarh Ziarah Hazrat Fatimeh wa 'Ahd Isyan baraye Ilhaq wa Thaharat Syi'iyan", Pangkalan Informasi Ayatullah Sayyid Muhammad Mahdi Mirbaqeri.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 5, hlm. 343; Sa'adatparwar, Jilweh Nur, 1388 HS, hlm. 200; Sanad, Al-Imamah al-Ilahiyyah, 1427 H, jld. 2, hlm. 199.
- ↑ Khodamian Arani, Ziarah Mahtab, 1396 HS, halaman identitas buku.
- ↑ Ganji Ishtehardi, Ziarah-namah Madar, 1399 HS, halaman identitas buku.
Daftar Pustaka
- Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja'far. Al-Mazar al-Kabir. Riset: Jawad Qayumi Isfahani. Qom, Muassasah an-Nasyr al-Islami, Cetakan Pertama, 1419 H.
- Khodamian Arani, Mahdi. Ziarah Mahtab. Qom, Bahar-e Delha, Cetakan Pertama, 1396 HS.
- Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits. Tanpa Tempat, Tanpa Penerbit, Cetakan Kelima, 1372 HS.
- "Dar Husainiyyeh Ayatollah Haqshenas dar Ayyam Fatimiyyeh / Syarh Ziarah Hazrat Fatimeh wa 'Ahd Isyan baraye Ilhaq wa Thaharat Syi'iyan". Pangkalan Informasi Ayatullah Sayyid Muhammad Mahdi Mirbaqeri; Tanggal akses 7 Khordad 1403 HS.
- Sa'adatparwar, Ali. Jilweh Nur. Teheran, Ihyay-e Ketab, 1388 HS.
- Sanad, Muhammad. Al-Imamah al-Ilahiyyah. Qom, Mansyurat al-Ijtihad, Cetakan Pertama, 1427 H.
- Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Mazar. Qom, Madrasah Imam Mahdi (ajtf), Cetakan Pertama, 1410 H.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Riset: Hasan Kharsan. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. Mishbah al-Mutahajjid wa Silah al-Mutahabbid. Beirut, Muassasah Fiqh asy-Syi'ah, Cetakan Pertama, 1411 H.
- Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Kitab al-Mazar. Qom, Kongres Sedunia Milenium Syaikh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.
- Abbasi Zanjani, Musa. Al-Jami' fi ar-Rijal. Riset: Muhammad Husaini Qazwini. Qom, Muassasah Waliy asr (ajtf) lid-Dirasat al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1436 H.
- Faiz Kasyani, Muhammad Muhsin bin Syah Murtadha. Al-Wafi. Riset: Dhiya'uddin Husaini Isfahani. Isfahan, Perpustakaan Imam Amirul Mukminin (as), Cetakan Pertama, 1406 H.
- Qomi, Abbas. Mafatih al-Jinan. Qom, Majma' Ihya' ats-Tsaqafah al-Islamiyyah, T.t.
- Ganji Ishtehardi, Husain. Ziarah-namah Madar. Qom, Dar an-Nasyr, Cetakan Kedua, 1399 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari, dkk. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Cetakan Pertama, 1403 H.
- Majlisi, Muhammad Taqi. Raudhah al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahdhuruh al-Faqih. Riset: Husain Musawi Kermani dan Ali Panah Ishtehardi. Qom, Muassasah Farhangi Islami Kousyanpour, Cetakan Kedua, 1406 H.
- Murtadha, Sayyid Bassam. Zubdah al-Maqal min Mu'jam ar-Rijal. Beirut, Dar al-Mahajjah al-Baidha', Cetakan Pertama, 1426 H.
- Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal an-Najasyi. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-'Ilmiyyah bi Qom - Muassasah an-Nasyr al-Islami, Cetakan Keenam, 1365 HS.
- Namazi Syahrudi, Ali. Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits. Teheran, Farzand Moallef, Cetakan Pertama, 1414 H.