Lompat ke isi

Konsep:Sahifah Mal'unah

Dari wikishia
Sejarah Permulaan Islam
Peperangan: Ghazwah dan Sariyyah
Ghazwah BadarGhazwah UhudGhazwah Tabuk
Kota-kota dan Situs-situs Bersejarah
MekahMadinahThaifSaqifahKhaibarPemakaman Baqi
Peristiwa-peristiwa
Bi'tsahHijrah ke HabasyahHijrah ke MadinahPerjanjian HudaibiyahHaji PerpisahanPeristiwa GhadirPeristiwa Saqifah Bani Sa'idah
Entry Terkait
IslamSyiahHajiQuraisyBani HasyimBani Umayyah

Sahifah Mal'unah (Lembaran Terkutuk) atau Sahifah Masymumah (Lembaran yang Sial) adalah sebuah perjanjian tertulis dari sejumlah sahabat Nabi saw dengan tujuan untuk merampas kekhalifahan dari Imam Ali as sesaat sebelum wafatnya Nabi Islam saw. Berdasarkan sumber-sumber Syiah, sekelompok sahabat sebelum Peristiwa Ghadir membuat perjanjian bersama untuk tidak membiarkan kekhalifahan sampai ke tangan keluarga Nabi saw. Mereka berencana untuk membunuh Rasulullah di tanjakan Gunung Harsya. Setelah peristiwa Ghadir juga, mereka berkumpul di Madinah dan menegaskan kembali perjanjian mereka; pertemuan ini disebut sebagai Sahifah Mal'unah kedua. Nabi saw dalam Khotbah Ghadir menyebut para pemilik Sahifah tersebut sebagai ahli neraka dan berlepas diri dari mereka.

Penamaan

Beberapa orang pada masa hidup Rasulullah saw berkumpul dan menandatangani sebuah perjanjian untuk tidak membiarkan kekhalifahan sampai kepada Imam Ali as.[1] Perjanjian ini dalam sumber-sumber Syiah disebut sebagai Sahifah Mal'unah[2] dan Masymumah.[3] Menurut sebagian peneliti, peristiwa Sahifah Mal'unah terjadi dua kali;[4] sekali sebelum Peristiwa Ghadir dan sekali setelahnya.[5] Menurut keyakinan Sayid Hasyim al-Bahrani, ayat 79 dan 80 Surah Az-Zukhruf[6] serta Ayat 10 Surah Al-Mujadilah merujuk pada Sahifah Mal'unah.[7] Demikian pula Ibnu Syahrasyub merujuk pada Sahifah Mal'unah di bawah penjelasan ayat 167 Surah Al-Baqarah dan 118 Surah Ali 'Imran.[8]

Beberapa muhadis Syiah seperti Sulaim bin Qais,[9] Syekh Abbas al-Qummi[10] dan Sayid Ibnu Thawus (menukil dari Irsyad al-Qulub),[11] telah membahas masalah ini. Demikian pula menurut Al-Majlisi, peristiwa ini terdapat dalam kitab "Al-Nasyr wa al-Thay" dari kitab-kitab Ahlusunah.[12]

Beberapa peneliti berpendapat bahwa meskipun seseorang ragu akan keberadaan asli dari Sahifah semacam itu dengan beberapa detail dan bumbunya; namun pendekatan, ucapan, dan perilaku beberapa sahabat setelah wafatnya Nabi Islam saw serta sikap mereka terhadap Imam Ali as dan Ahlulbait as, sebagian besar serupa dengan apa yang ada dalam laporan terkait perjanjian ini.Templat:Mencari sumber

Sahifah Mal'unah Pertama

Menurut keyakinan Sayid Ibnu Thawus, peristiwa Sahifah Mal'unah terjadi setelah Hari-hari Haji dan sebelum pergerakan Nabi menuju Ghadir Khum di Makkah.[13] Para anggota Sahifah ini membuat perjanjian di samping Ka'bah untuk tidak membiarkan kekhalifahan setelah Nabi saw sampai kepada keluarganya dan mereka sendiri yang memegang kekhalifahan.[14] Perjanjian ini ditandatangani oleh semua anggota. Abu Ubaidah al-Jarrah adalah penulis kontrak ini dan ia menguburnya di samping Ka'bah.[15] Syekh Abbas al-Qummi meyakini bahwa penulis Sahifah ini adalah Sa'id bin al-Ash.[16] Menurut sebagian orang, Abu Bakar, Umar, Mu'adz bin Jabal, dan Salim Maula Abi Hudzaifah termasuk di antara para pemilik Sahifah.[17] Beberapa orang juga menambahkan nama Mughirah bin Syu'bah dan Abdurrahman bin Auf.[18]

Berdasarkan beberapa sumber, para pemilik Sahifah setelah bermusyawarah memutuskan untuk membunuh Nabi saw di jalan pulang dari Haji Wada di lereng tanjakan Gunung Harsya. Orang-orang ini berjumlah empat belas orang dan pada Perang Tabuk pun mereka memiliki rencana yang sama.[19] Nabi sebelum ditulisnya Sahifah Mal'unah sudah mengetahuinya melalui Allah swt.[20] Menurut sebagian orang, perjanjian ini adalah tindakan pertama melawan Peristiwa Ghadir dan awal untuk merebut kekhalifahan.[21]

Beberapa orang meyakini bahwa hadis: "Kami para nabi tidak meninggalkan warisan dan apa pun yang tersisa setelah kami adalah sedekah", pertama kali dipalsukan oleh para pemilik Sahifah.[22] Berdasarkan Kitab Asrar Al-e Muhammad, Imam Ali as dalam ucapannya kepada Thalhah, dalam menjawab hadis palsu tentang tidak berkumpulnya Kenabian dan Kekhalifahan pada Ahlulbait, merujuk pada Sahifah Mal'unah.[23]

Sahifah Mal'unah Kedua

Setelah upaya pembunuhan Nabi saw yang tidak membuahkan hasil dan pengumuman wilayah Imam Ali as di hari Ghadir, sejumlah orang setelah memasuki Madinah berkumpul di rumah Abu Bakar dan di sana mereka membuat perjanjian lain.[24] Sebagaimana disebutkan dalam beberapa sumber, dalam perjanjian ini ditekankan tentang kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan Salim Maula Abi Hudzaifah setelah Rasulullah dan ditentangnya kekhalifahan Imam Ali as.[25] Dalam pertemuan ini hadir 34 orang yang sebagian besar dari mereka adalah para kepala suku. Menurut laporan Sulaim bin Qais, empat belas orang dari mereka termasuk di antara Ashhabul Aqabah yang hadir dalam peristiwa Gunung Harsya.Templat:Yad [26] Sahifah ini setelah ditandatangani oleh semua yang hadir diserahkan kepada Abu Ubaidah al-Jarrah dan dikubur di samping Rumah Allah. Sahifah ini dikeluarkan dari tempatnya pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab.[27]

Menurut beberapa sumber, Nabi saw setelah perjanjian kedua Sahifah Mal'unah, menyerupakan mereka dengan para pemimpin Jahiliyah dan mengumumkan bahwa jika Allah tidak memerintahkan untuk bersabar dan menguji umat-Nya, beliau akan memenggal leher para pemilik Sahifah.[28] Berdasarkan apa yang ada dalam Kitab Sulaim bin Qais, para penandatangan perjanjian ini adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah, Amru bin Ash, Thalhah, Abu Ubaidah al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf, Salim Maula Abi Hudzaifah, Mu'adz bin Jabal, Abu Musa al-Asy'ari, Mughirah bin Syu'bah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Aus bin Hadatsan, dan dua puluh orang lainnya.[29]

Isi Perjanjian

Teks Sahifah Mal'unah kedua terdapat dalam Bihar al-Anwar.[30] Sebagian isinya yang disusun pada bulan Muharram tahun 10 H adalah sebagai berikut:

  1. Teks ini disetujui oleh seluruh Muhajirin dan Anshar.
  2. Motivasi penulisan Sahifah ini adalah agar umat Muslim tidak tersesat, dan umat Muslim di masa depan mengikutinya.
  3. Hazrat Muhammad saw adalah salah satu dari nabi-nabi Ilahi dan Tuhan telah memerintahkan penyampaian agama Islam kepadanya. Beliau setelah wafatnya tidak memilih pengganti untuk dirinya dan menyerahkan pemilihan penggantinya kepada masyarakat.
  4. Jika seseorang mengklaim bahwa Rasulullah saw memperkenalkan orang tertentu sebagai penggantinya dan menyebutkan nama serta nasabnya, maka ia telah berbohong.
  5. Nabi saw bersabda: Para sahabat saya laksana bintang-bintang. Kepada siapa pun dari mereka kalian mengikut, niscaya kalian akan mendapat petunjuk. Seseorang yang mengklaim memiliki keutamaan di atas yang lain dan menjadi imam, maka ia telah mengatakan perkataan yang batil.
  6. Menurut hadis: "Kami para nabi tidak meninggalkan warisan dan apa yang tersisa dari kami adalah sedekah", Ahlulbait Rasulullah bukan khalifah; karena kedekatan kekerabatan dengan Nabi tidak menjadi alasan bagi kekhalifahan.
  7. Siapa yang berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunah Nabi maka ia tidak akan tersesat. Jika seseorang tidak memiliki keyakinan ini, karena ia telah menentang kebenaran, Al-Qur'an, dan jamaah Muslimin, maka ia harus dibunuh.[31]

Reaksi

Nabi Muhammad saw, berdasarkan beberapa sumber Syiah, dalam Khotbah Ghadir merujuk pada Sahifah Mal'unah dan memperingatkan tentang para imam yang datang setelah beliau dan menyeru ke api neraka. Nabi menganggap kedudukan mereka dan para pengikut mereka berada di Jahanam dan menyatakan berlepas diri dari para pemilik Sahifah.[32] Demikian pula Imam Ali as dalam protesnya terhadap perampasan kekhalifahan oleh Abu Bakar mengingatkan peristiwa Sahifah Mal'unah kepadanya. Abu Bakar bertanya kepadanya bagaimana ia mengetahui peristiwa tersebut. Imam pun memerintahkan Zubair, Salman, Abu Dzar al-Ghifari, dan Miqdad untuk menceritakan peristiwa Sahifah Mal'unah yang mereka dengar dari lisan Nabi saw.[33]

Imam Sajjad as di Ka'bah, menunjukkan tempat pertemuan Sahifah Mal'unah kepada Imam al-Baqir as dan menyebutkan nama para pemilik Sahifah.[34] Imam al-Baqir as juga setelah menjelaskan Sahifah Mal'unah, menyebutkan sebab turunnya dua ayat yaitu Ayat 10 Surah Al-Mujadilah dan Ayat 79 Surah Az-Zukhruf adalah para pemilik Sahifah.[35]

Catatan Kaki

  1. Syekh Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, 1413 H, jil. 1, hlm. 232; Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad, 1416 H, hlm. 232.
  2. Al-Qummi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jil. 5, hlm. 56.
  3. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91; pdmag.ir/article-1-1938-fa.pdf
  4. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91.
  5. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91.
  6. Al-Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jil. 4, hlm. 884.
  7. Al-Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jil. 5, hlm. 316.
  8. Ibnu Syahrasyub, Al-Manaqib, 1379 H, jil. 3, hlm. 231.
  9. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  10. Al-Qummi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jil. 5, hlm. 56.
  11. Sayid Ibnu Thawus, Tharaf min al-Anba' wa al-Manaqib, Penerbit Tasu'a, hlm. 564.
  12. Al-Majlisi, Mir'at al-Uqul, 1404 H, jil. 5, hlm. 55.
  13. Sayid Ibnu Thawus, Tharaf min al-Anba' wa al-Manaqib, Penerbit Tasu'a, hlm. 564.
  14. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 28, hlm. 86.
  15. Al-Majlisi, Mir'at al-Uqul, 1404 H, jil. 5, hlm. 50.
  16. Al-Qummi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jil. 5, hlm. 56.
  17. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  18. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91.
  19. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  20. Anshari, Ghadir dar Qur'an, 1387 HS, jil. 1, hlm. 239.
  21. Anshari, Ghadir dar Qur'an, 1387 HS, jil. 1, hlm. 230.
  22. Al-Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, jil. 1, hlm. 191.
  23. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 301.
  24. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  25. Ad-Dailami, Irsyad al-Qulub, 1412 H, jil. 2, hlm. 333.
  26. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  27. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  28. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 28, hlm. 106.
  29. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad(saw), 1416 H, hlm. 232.
  30. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 28, hlm. 104.
  31. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 28, hlm. 104.
  32. Al-Thabrasi, Al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lujaj, 1403 H, jil. 1, hlm. 62.
  33. Sulaim bin Qais, Asrar Al-e Muhammad (saw), 1416 H, hlm. 232.
  34. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 92.
  35. Anshari, Ghadir dar Qur'an, 1387 HS, jil. 1, hlm. 259.

Catatan

Daftar Pustaka

  • Al-Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Tafsir al-Burhan. Qom, Lembaga Al-Bi'tsah, Cetakan Pertama, 1415 H.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Haqq al-Yaqin. Penerbit Islamiyah, jil. 1.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-Uqul. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kedua, 1404 H.
  • Al-Qummi, Syekh Abbas. Safinah al-Bihar. Qom, Penerbit Uswah, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Al-Thabrasi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lujaj. Masyhad, Penerbit Murtadha, Cetakan Pertama, 1403 H.
  • Ad-Dailami, Hasan bin Muhammad. Irsyad al-Qulub. Qom, Penerbit Syarif al-Radhi, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Amini Golestani, Muhammad. Aya va Chara (Apakah dan Mengapa). Qom, Sepehr Azin, 1392 HS.
  • Anshari, Muhammad Baqir. Ghadir dar Qur'an, Qur'an dar Ghadir (Ghadir dalam Al-Qur'an, Al-Qur'an dalam Ghadir). Qom, Penerbit Dalil-e Ma, Cetakan Pertama, 1387 HS.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Al-Manaqib. Qom, Penerbit Allamah, Cetakan Pertama, 1379 H.
  • Sayid Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Tharaf min al-Anba' wa al-Manaqib. Masyhad, Penerbit Tasu'a, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
  • Sulaim bin Qais. Asrar Al-e Muhammad(saw). Qom, Penerbit Al-Hadi, Cetakan Pertama, 1416 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Fushul al-Mukhtarah. Qom, Kongres Syekh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.