Lompat ke isi

Konsep:Perampasan Kekhalifahan

Dari wikishia
Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
TauhidTauhid DzatiTauhid SifatTauhid Af'alTauhid Ibadah
Furu'TawasulSyafa'atTabarruk
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukanBada'Amrun bainal Amrain
Kenabian
KeterjagaanPenutup KenabianNabi Muhammad SawIlmu GaibMukjizatTiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinanKemestian Pelantikan ImamIsmah Para ImamWilayah TakwiniIlmu Gaib Para ImamKegaiban Imam Zaman asGhaibah SughraGhaibah KubraPenantian Imam MahdiKemunculan Imam Mahdi asRaj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam BarzahMa'ad JasmaniKebangkitanShirathTathayur al-KutubMizanAkhirat
Permasalahan Terkemuka
AhlulbaitEmpat Belas Manusia SuciTaqiyyahMarja' Taklid


Perampasan Kekhalifahan (Ghasab Khilafah) adalah salah satu keyakinan terpenting kaum Syiah yang berarti bahwa khilafah dan pemerintahan atas masyarakat adalah hak Imam Ali (as) dan para Imam maksum, namun orang lain telah merampas dan menguasainya secara tidak benar. Keyakinan ini dinyatakan dalam literatur Ahlulbait (as), termasuk dalam Khotbah Syiqshiqiyyah, Khotbah Fadakiyyah, Surat Imam Husain as kepada para bangsawan Bashrah, dan beberapa hadis lainnya. Kaum Syiah meyakini bahwa Nabi (saw) pada hari-hari terakhir hidupnya telah menyiapkan landasan bagi suksesi Ali (as) dengan mengumumkan wilayah Ali di Ghadir, mengulang kembali Hadis Thaqalayn, dan mengirim beberapa sahabat dalam Pasukan Usamah ke luar Madinah. Kaum Syiah menganggap perampasan kekhalifahan sebagai dasar bagi penyimpangan-penyimpangan selanjutnya dalam masyarakat Islam, syahidnya Fatimah putri Nabi, dan Tragedi Karbala.

Berdasarkan analisis para ulama Syiah, proses perampasan kekhalifahan oleh sejumlah sahabat dimulai sebelum wafatnya Nabi (saw). Kaum Syiah mencari tanda-tanda analisis ini dalam pembangkangan untuk bergabung dengan pasukan Usamah, penghalangan penulisan wasiat Nabi, pengingkaran awal atas wafatnya Nabi, dan masalah Sahifah Mal'unah. Peristiwa Saqifah Bani Saidah, penolakan beberapa sahabat untuk ber-baiat dengan Abu Bakar, serangan ke rumah Ali dan Fatimah oleh para petugas Abu Bakar, serta posisi Imam Ali dalam Dewan Enam Orang juga menjadi alasan lain bagi kaum Syiah dalam meyakini adanya perampasan kekhalifahan.

Perampasan kekhalifahan terjadi di sepanjang masa kehadiran para Imam, kecuali dalam periode singkat pada masa pemerintahan Imam Ali (as) dan Imam Hasan al-Mujtaba (as). Para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah masing-masing mengambil kekhalifahan dari Ahlulbait dengan berbagai cara.

Keyakinan akan perampasan kekhalifahan juga memengaruhi pemikiran politik para fukaha Syiah. Mereka menganggap setiap penguasa selain Ahlulbait atau orang yang ditunjuk oleh Ahlulbait sebagai tidak sah dan menyebutnya sebagai penguasa zalim (hakim jair). Mereka mengharamkan kerja sama dengan penguasa semacam itu atau hanya membolehkannya dalam kondisi-kondisi tertentu.

Kedudukan Masalah Perampasan Kekhalifahan

Perampasan kekhalifahan adalah salah satu rukun keyakinan Syiah,[1] khususnya Syiah Dua Belas Imam.[2] Kaum Syiah meyakini bahwa Nabi atas perintah Allah telah menetapkan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya,[3] dan mereka tidak mengakui hak kekhalifahan ilahi bagi siapa pun selain Ali dan beberapa putra keturunannya.[4] Definisi Syiah secara istilah pun didasarkan pada karakteristik ini.[5] Namun Ahlusunah mengatakan bahwa Nabi tidak menetapkan siapa pun, dan para sahabat atas inisiatif sendiri bermusyawarah serta mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.[6] Meskipun demikian, Murtadha Askari, peneliti masalah imamah, meyakini bahwa kekhalifahan sebagaimana Kenabian adalah jabatan ilahi dan tidak ada yang bisa merampasnya; sebagai ganti dari istilah perampasan kekhalifahan, seharusnya digunakan istilah perampasan pemerintahan (ghasab hukumat).[7]

Dalam keyakinan Imamiyah, kecuali pada periode terbatas terkait Imam Ali dan Imam Hasan, kekhalifahan telah dirampas dan tidak pernah ada pengakuan atas legitimasi pemerintahan para khalifah pada masa itu.[8] Dalam percakapan Muslim bin Aqil dengan Ibnu Ziyad, Muslim secara tegas menyatakan bahwa Muawiyah telah merampas kekhalifahan dari washi Nabi dengan tipu daya.[9] Dari Imam Jakfar bin Muhammad ash-Shadiq, Imam keenam Syiah, juga diriwayatkan bahwa beliau menganggap kekhalifahan sebagai hak beliau yang telah dirampas oleh orang lain.[10] Dalam pandangan Syiah, perampasan kekhalifahan merupakan penyimpangan dari jalur Nabi dan menjadi landasan bagi peristiwa-peristiwa selanjutnya, termasuk syahidnya Sayyidah Fatimah[11] dan juga Tragedi Karbala.[12]

Dalam berbagai sumber, disebutkan sejumlah sahabat Nabi Islam yang pada tahap awal tidak berbaiat kepada khalifah Abu Bakar dan meyakini bahwa Ali lah yang seharusnya menjadi khalifah.[13] Jafri, peneliti Syiah asal Pakistan, telah mengumpulkan nama 13 sahabat terkenal yang tercatat di sebagian besar sumber sejarah.[14] Sebagaimana berdasarkan nukilan dari Zuhri, ahli hadis Ahlusunah, dilaporkan bahwa Fatimah putri Nabi juga tidak menerima kekhalifahan Abu Bakar.[15] Keyakinan akan perampasan kekhalifahan juga dilaporkan sebagai salah satu keyakinan Zaid bin Ali, pemimpin gerakan Zaidiyah pada abad kedua Hijriah.[16]

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (Wafat: 1354 H), mufasir Ahlusunah, juga dalam Tafsir al-Manar menyatakan secara tegas bahwa Ahlulbait menganggap diri mereka lebih layak untuk kekhalifahan dan hanya demi menjaga kemaslahatan kaum Muslimin mereka bersedia bekerja sama dengan para penguasa yang memerintah.[17] Meskipun sebagian besar ulama Ahlusunah tidak memiliki analisis seperti ini.[18] Mahmoud Ismail, peneliti sejarah asal Mesir, dalam buku Al-Harakat al-Sirriyyah fi al-Islam memperkenalkan Muktazilah sebagai musuh Bani Umayyah karena mereka menganggap kaum Umayyah sebagai para penindas yang merampas kekhalifahan dan memaksakan pemerintahan mereka kepada rakyat dengan kekuatan pedang, serta mencitrakan pemerintahan mereka sebagai hasil dari kehendak dan qadha ilahi.[19]

Perampasan Kekhalifahan dalam Literatur Syiah

Banyak sejarawan Syiah dalam buku-buku mereka memberikan perhatian pada perampasan kekhalifahan serta melaporkan, meneliti, dan menganalisisnya.[20] Salah satu teks Syiah tertua yang mengacu pada peristiwa perampasan kekhalifahan dianggap adalah Khotbah Syiqshiqiyyah[21] di mana Ali bin Abi Thalib (as) mencela ketiga khalifah pertama dan memperkenalkan dirinya sebagai yang lebih layak, serta menyatakan secara tegas bahwa mereka telah merampok warisannya. Sebelum itu, Sayyidah Fatimah (sa) dalam pidatonya di Masjid Madinah yang dikenal sebagai Khotbah Fadakiyyah telah menyinggung peristiwa perampasan kekhalifahan.[22] Dalam Surat Imam Husain as kepada para bangsawan Bashrah juga disebutkan masalah perampasan kekhalifahan.[23]

Sekelompok kaum Syiah juga bersandar pada Kitab Sulaim bin Qais yang mereka anggap sebagai teks kuno yang berasal dari abad pertama Hijriah.[24] Dalam buku ini terdapat banyak nukilan mengenai peristiwa Saqifah dan nasib kekhalifahan[25] yang dianggap sebagai salah satu peristiwa tertua terkait perampasan kekhalifahan.[26] Allamah Majlisi, ahli hadis abad kesebelas Hijriah, menyusun bagian dari buku Bihar al-Anwar dengan nama Kitab al-Fitan dan memasukkan perampasan kekhalifahan serta peristiwa-peristiwa terkait di dalamnya.[27]

Beberapa orang Syiah juga merujuk rancangan perampasan kekhalifahan ke masa sebelum wafatnya Nabi (saw)[28] dan bersandar pada nukilan-nukilan yang menyebutkan adanya aliansi sekelompok sahabat untuk merampas kekhalifahan. Sebagaimana Allamah Majlisi dalam jilid 28 Bihar al-Anwar membuka bab dengan judul "Bab Tamhid Ghasab al-Khilafah wa al-Sahifah al-Mal'unah" dan mengumpulkan 7 hadis panjang di dalamnya mengenai persiapan perampasan kekhalifahan dan Sahifah Mal'unah.[29] Dalam hal ini, bahkan ucapan dari Makmun al-Abbasi pun diriwayatkan.[30] Peneliti non-Muslim seperti Henri Lammens dan setelahnya Wilferd Madelung juga menyinggung poin ini.[31] Caetani, orientalis Italia, mendukung teori Lammens dan meyakini bahwa Umar bin Khattab dapat memprediksi wafatnya Nabi (saw) dan merencanakan suksesi tersebut.[32] Menurut Madelung, perencana utama perampasan kekhalifahan adalah Umar, namun mengingat kedudukan Abu Bakar, ia memajukannya untuk kekhalifahan.[33]

Nabi dan Persiapan untuk Kekhalifahan Ali (as)

Menurut keyakinan Syiah, Nabi pada hari-hari terakhir hidupnya melakukan upaya besar untuk menyiapkan landasan bagi kekhalifahan dan pemerintahan Ali bin Abi Thalib.[34] Karena urgensi masalah suksesi Nabi,[35] peristiwa-peristiwa pada masa kewafatan Nabi Islam digambarkan sebagai peristiwa yang paling sensitif dan penuh dengan kebijakan rahasia serta kerumitan,[36] yang terlihat pada perilaku Nabi Islam (saw) di satu sisi dan perilaku beberapa sahabat di sisi lain.[37]

Berdasarkan laporan sumber-sumber sejarah, Nabi mengetahui bahwa waktu kematiannya sudah dekat dan dalam perjalanan haji terakhirnya serta setelah kembali ke Madinah, beliau telah mengabarkan beberapa kali tentang mendekatnya waktu kematiannya.[38] Di sisi lain, menurut beberapa sumber Syiah, beliau telah mengetahui tentang aliansi sekelompok sahabat untuk menghalangi kekhalifahan Ali[39] dan bahkan telah menyinggungnya dalam Khotbah Ghadir Khum.[40]

Persiapan Pasukan Usamah

Templat:Utama Persiapan pasukan Usamah dianggap sebagai peristiwa penting pada hari-hari terakhir umur Nabi. Menurut sumber-sumber, Nabi (saw) setelah kembali dari Haji Wada ke Madinah, memerintahkan penyiapan pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi[41] dan memerintahkan tokoh-tokoh Anshar dan Muhajirin untuk hadir dalam pasukan ini.[42] Menurut Syekh Mufid, pengiriman pasukan ini pada hari-hari terakhir hidup Nabi (saw) dapat memiliki tujuan lain seperti pengosongan Madinah dari para sahabat yang tamak terhadap kekhalifahan.[43] Namun beberapa orang bangkit memprotes dan menentang dengan alasan usia Usamah yang masih muda.[44][45] Syekh Mufid meriwayatkan pembangkangan beberapa orang seperti Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Umar bin Khattab serta teguran Nabi (saw) kepada mereka.[46] Terlepas dari penekanan Nabi, pasukan ini tidak bergerak menuju Syam hingga setelah wafatnya beliau.[47]

Upaya Penulisan Wasiat

Templat:Utama Menurut nukilan Shahih al-Bukhari yang merupakan salah satu kitab terpenting Ahlusunah, pada hari-hari terakhir hayat Rasulullah (saw), ketika sekelompok sahabat datang menjenguk beliau, beliau bersabda: Bawakanlah pena dan kertas agar aku menuliskan sesuatu untuk kalian yang dengannya kalian tidak akan pernah tersesat. Salah seorang yang hadir berkata: Penyakit telah menguasai Nabi (saw) dan beliau mengigau, dan kita memiliki Al-Qur'an dan itu cukup bagi kita.[48] Terjadi kegaduhan dan perselisihan di antara mereka yang hadir; sebagian berkata: Bawakanlah agar beliau menulis, dan sebagian lain berkata sebaliknya. Rasulullah (saw) bersabda: Bangkitlah dan pergilah dari sisiku.[49]
Dalam Shahih Muslim yang merupakan sumber hadis Ahlusunah lainnya, individu yang menentang ucapan Nabi diperkenalkan sebagai Umar bin Khattab.[50] Dalam kedua kitab ini disebutkan bahwa Ibnu Abbas terus-menerus menyesali peristiwa ini dan menganggapnya sebagai musibah besar.[51]

Pengulangan Hadis Thaqalayn

Templat:Utama Syekh Mufid dalam buku Al-Amali meriwayatkan bahwa Nabi pada hari-hari sakitnya dengan susah payah mendatangi Masjid Nabawi dan dalam khotbah terakhir sebelum wafatnya, beliau mengulang kembali Hadis Thaqalayn: "Inni tarikhun fikum al-thaqalayn..." Sesungguhnya aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara berharga... satu adalah Al-Qur'an dan yang lainnya adalah Ahlulbaitku.[52] Ibnu Hajar al-Haitami, salah seorang ulama Ahlusunah, juga meriwayatkan hadis ini dengan bentuk lain.[53]
Hadis Thaqalayn telah diriwayatkan dari Nabi (saw) dalam banyak kesempatan.[54] Sayyid Abdul Husain Syarafuddin menyebutkan lima tempat penyampaian Hadis ini: Hari Arafah, Ghadir Khum, saat kembali dari Tha'if, di Madinah di atas mimbar, dan di kamar Nabi saat beliau sakit.[55]

Penetapan Washi

Salah satu tindakan Nabi pada hari-hari sakit di akhir hayatnya adalah menetapkan seorang washi (penerima wasiat) bagi dirinya. Menurut nukilan buku Al-Irsyad, setelah Peristiwa Kertas dan Pena, ketika para sahabat keluar dari rumah Nabi, Nabi berkata kepada Ali: Wahai saudaraku! Apakah engkau menerima wasiatku, memenuhi janji-janjiku, dan melunasi utangku? Ali menerimanya. Nabi memeluknya dan memberikan cincin, pedang, dan baju zirahnya kepadanya.[56] Keesokan harinya Nabi berkata: Bawalah saudara dan sahabatku ke hadapanku. Aisyah dan Hafshah memanggil ayah mereka masing-masing, namun Nabi kembali mengulang permintaannya hingga atas saran Ummu Salamah, mereka memberi tahu Ali. Nabi berbisik dengan Ali untuk beberapa lama, dan ketika Ali ditanya apa yang dikatakan Nabi (saw)? Ia menjawab: Beliau mengajarkan kepadaku seribu pintu ilmu yang dari setiap pintunya terpancar seribu pintu lainnya, dan mewasiatkan kepadaku hal-hal yang akan aku laksanakan.[57] Dzahabi dan Ibnu Katsir dari sejarawan Ahlusunah juga meriwayatkan laporan ini dengan beberapa perbedaan.[58]

Penghentian Salat Berjamaah Abu Bakar

Pada salah satu hari sakitnya Nabi, karena beratnya penyakit, beliau tidak hadir dalam Salat Berjamaah dan Abu Bakar mulai mengimami jamaah. Nabi setelah mengetahui hal ini, keluar sendiri dari kamarnya dan melakukan salat tersebut. Rasul Jafarian mendeskripsikan salat ini dilakukan tanpa izin Nabi.[59] Beberapa sumber Ahlusunah berdasarkan riwayat-riwayat menganggap salat ini atas rekomendasi Rasulullah saw[60] dan sekelompok dari mereka menganggap salat ini sebagai tanda keridaan Nabi atas suksesi Abu Bakar.[61] Namun kaum Syiah menganggap campur tangan dan pencegahan Nabi dari salat ini sebagai tanda nyata atas ketidakridaan Nabi terhadap tindakan tersebut.

Pada hari-hari yang sama terdapat nukilan lain bahwa Umar bin Khattab juga mengimami salat jamaah menggantikan Nabi.[62] Menurut analisis Madelung, karena mengimami salat jamaah menurut Nabi bukan merupakan alasan untuk kekhalifahan,[63] maka tidak ada yang melarang pengimaman jamaah tersebut, namun Aisyah karena menduga bahwa mendirikan jamaah menggantikan Nabi dapat menjadi tanda kekhalifahan selanjutnya, ia membuat hadis yang mengatakan bahwa Nabi tidak rida terhadap salat yang diimami Umar.[64]

Proses Perampasan Kekhalifahan

Beberapa orang Syiah merujuk rancangan perampasan kekhalifahan ke masa sebelum wafatnya Nabi (saw).[65] Menurut analisis para penulis Syiah, rencana ini terlaksana dengan aliansi sekelompok sahabat sebelum dan sesudah Ghadir, pembangkangan dari keikutsertaan dalam Pasukan Usamah, penghalangan penulisan wasiat Nabi, pengingkaran awal atas kewafatan Nabi, pembentukan Saqifah dan baiat kepada Abu Bakar,[66] penindasan terhadap para penentang dan serangan ke rumah Ali dan Fatimah serta pengambilalihan Fadak.[67]

Peneliti non-Muslim seperti Henri Lammens dan setelahnya Wilferd Madelung juga menyinggung rancangan ini.[68] Caetani, orientalis Italia, mendukung teori Lammens mengenai segitiga kekuasaan (Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah) dan meyakini bahwa Umar dapat memprediksi wafatnya Nabi (saw) dan merencanakan suksesi tersebut.[69] Menurut Madelung, perencana utama perampasan kekhalifahan adalah Umar, namun mengingat kedudukan Abu Bakar, ia memajukannya untuk kekhalifahan.[70] Abdul Maqshud, peneliti sejarah asal Mesir, juga meyakini bahwa dengan mempelajari sejarah secara teliti, tanda-tanda perencanaan ini akan ditemukan.[71]

Sahifah Mal'unah

Sahifah Mal'unah atau aliansi sejumlah sahabat pada masa hidup Rasulullah (saw) dengan tujuan menentukan nasib suksesi Nabi adalah salah satu peristiwa yang dilaporkan dalam beberapa sumber Syiah seperti Kitab Sulaim bin Qais,[72] Safinah al-Bihar,[73] dan Irsyad al-Qulub.[74] Sebagaimana Allamah Majlisi dalam jilid 28 Bihar al-Anwar membuka bab dengan judul "Bab Tamhid Ghasab al-Khilafah wa al-Sahifah al-Mal'unah" dan mengumpulkan 7 hadis panjang di dalamnya mengenai persiapan perampasan kekhalifahan dan Sahifah Mal'unah.[75] Dalam hal ini, bahkan ucapan dari Makmun al-Abbasi pun diriwayatkan.[76]

Menurut beberapa peneliti, aliansi ini terjadi sekali sebelum Ghadir di Mekah[77] dan sekali lagi setelah itu di Madinah.[78] Anggota Sahifah ini berjanji di sisi Kabah untuk tidak membiarkan kekhalifahan setelah Nabi sampai ke tangan keluarganya dan mereka sendiri yang akan memegang kekhalifahan.[79] Abu Bakar, Umar, Muadz bin Jabal, dan Salim Maula Abi Hudzaifah,[80] serta Mughirah bin Syu'bah dan Abdurrahman bin Auf[81] dihitung sebagai sahabat Sahifah Mal'unah. Di Madinah juga kelompok yang terdiri dari 34 orang[82] berkumpul di rumah Abu Bakar[83] dan sebagaimana disebutkan dalam beberapa sumber, mereka berjanji atas kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan Salim Maula Abi Hudzaifah setelah Rasulullah.[84]

Pengingkaran Wafatnya Nabi (saw)

Pengingkaran kewafatan Nabi oleh Umar bin Khattab adalah peristiwa pertama yang diperhatikan setelah wafatnya Nabi Islam. Berdasarkan laporan sumber-sumber sejarah, pada saat-saat pertama pengumuman berita wafatnya Nabi (saw), Umar bin Khattab bersumpah bahwa Nabi tidak mati dan pergi menemui Tuhannya dan sebagaimana Musa kembali dari gunung Thursina, Nabi (saw) juga akan kembali.[85] Umar bahkan mengancam akan membunuh orang yang menentang ucapannya.[86] Menurut Ibnu Katsir, Ibn Ummi Maktum menjawab Umar dengan membacakan Ayat 144 Surah Ali Imran yang di dalamnya menegaskan tentang kematian Nabi. Abbas paman Nabi juga bertanya kepada Umar, apakah engkau mendengar sesuatu tentang hal ini dari Nabi? Ia menjawab: Tidak. Abbas berkata, demi Allah Nabi telah meninggal dunia.[87] Meskipun demikian Umar tetap bersikukuh pada pendapatnya, hingga Abu Bakar -yang berada di luar Madinah- tiba, mengajak Umar untuk diam dan membacakan ayat yang sama dari Surah Ali Imran. Umar pun diam dan berkata: Seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini hingga sekarang![88]

Dari penulis Ahlusunah, Abdulfattah Abdul Maqshud (Wafat: 1993 M) dalam analisis panjangnya berusaha menganggap inti peristiwa ini sebagai buatan.[89] Ibnu Abil Hadid, teolog Muktazilah Ahlusunah, menganggap ucapan Umar sebagai kebohongan demi kemaslahatan dan untuk mencegah pertikaian atas suksesi serta terjadinya fitnah.[90] Sejalan dengan itu, Muhammad Baqir ash-Shadr, pemikir Syiah, menganalisis tindakan Umar ini sebagai rencana yang telah dirancang sebelumnya untuk menaikkan Abu Bakar ke kekuasaan;[91] karena meskipun orang lain telah membacakan ayat Surah Ali Imran kepada Umar ia tidak diam dan hanya menjadi tenang dengan kedatangan dan pembacaan ayat tersebut oleh Abu Bakar serta menyatakan ketidaktahuannya terhadap ayat tersebut.[92] Sebagaimana Amini penulis Al-Ghadir,[93] Muzaffar dalam buku Saqifah,[94] Jafarian dalam Tarikh-e Kholafa,[95] Al-Tha'i dalam Al-Saqifah Inqilab Abyadh,[96] dan beberapa penulis Syiah lainnya menganalisis hal yang sama.[97] Madelung, pakar studi Islam asal Jerman, juga meyakini jika segitiga kekuasaan (Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah), telah merencanakan kekhalifahan sebelumnya maka gerakan Umar ini dapat dianalisis sejalan dengan rencana tersebut.[98]

Pertemuan Saqifah dan Baiat kepada Abu Bakar

Pertemuan sejumlah sahabat di Saqifah Bani Saidah segera setelah pengumuman wafatnya Nabi, dinilai sebagai gerakan terpenting dalam peristiwa perampasan kekhalifahan.[99] Di saat Ali bin Abi Thalib (as) dan Bani Hasyim sedang sibuk dengan upacara pemandian dan penguburan Nabi (saw),[100] beberapa orang Anshar dan tiga orang dari Muhajirin (Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah) berkumpul di suatu tempat bernama Saqifah Bani Saidah dan berdebat mengenai penentuan khalifah dan akhirnya berbaiat kepada Abu Bakar sebagai pengganti Nabi.[101] Setelah itu, mereka mulai mengambil baiat paksa dari masyarakat Madinah.[102]

Pertikaian di Madinah dan Serangan ke Rumah Ali

Menurut nukilan Ya'qubi, sejarawan abad ketiga Hijriah, setelah Peristiwa Saqifah Bani Saidah, beberapa sahabat seperti Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, dan Bara' bin Azib menolak ber-baiat dengan Abu Bakar.[103] Menurut Sayyid Murtadha Askari, peneliti sejarah abad kelima belas Hijriah, orang-orang yang tidak berbaiat kepada Abu Bakar tersebut melakukan aksi protes dengan berdiam diri (tahashshun) bersama Imam Ali (as) di rumah Fatimah (sa).[104] Thabari juga menyebutkan Thalhah dan Zubair termasuk di antara mereka yang berdiam diri di sana.[105]

Menurut nukilan buku Al-Imamah wa al-Siyasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah, Abu Bakar dalam empat kesempatan mengirim Umar bin Khattab dan Qunfudz ke rumah Fatimah agar memanggil Ali (as) dan orang-orang yang berada di rumahnya untuk berbaiat.[106] Pada kesempatan keempat Umar bersama sejumlah orang mendatangi rumah Fatimah, membawa Ali (as) keluar dan membawanya ke hadapan Abu Bakar.[107] Menurut Muhammad Hadi Yusufi Gharavi, peneliti sejarah Islam, pada kali ketiga khalifah dan para pendukungnya melakukan tindakan keras.[108] Zubair yang termasuk orang yang hadir di rumah Fatimah (sa) menghunus pedang dan menyerang ke arah Umar, namun Khalid bin Walid melemparkan batu ke arahnya sehingga pedang tersebut jatuh dari tangannya. Umar mengambil pedang tersebut dan menghantamkannya ke batu hingga pedang itu patah.[109]

Berdasarkan apa yang disebutkan dalam beberapa sumber Ahlusunah, termasuk Al-Iqdu al-Farid,[110] Tarikh al-Thabari,[111] Ansab al-Asyraf,[112] Al-Mushannaf,[113] dan Al-Imamah wa al-Siyasah,[114] Umar bin Khattab mengancam akan membakar rumah tersebut beserta penghuninya. Menurut Ibnu Abdu Rabbih, tindakan ini dilakukan berdasarkan perintah Abu Bakar kepada Umar.[115]

Berdasarkan beberapa sumber lama Syiah seperti Kitab Sulaim bin Qais, Umar bin Khattab melaksanakan ancamannya dan membakar pintu rumah Fatimah (sa) serta masuk ke dalam rumah dan memukul pinggang Fatimah dengan sarung pedang.[116] Dan menurut buku Itsbat al-Wasiyah, Ali (as) dibawa keluar secara paksa dan Pemimpin wanita semesta alam ditekan di balik pintu, sedemikian rupa sehingga putranya Muhsin gugur.[117] Muhammad bin Mas'ud al-Ayyasyi, ahli hadis Syiah juga mengatakan bahwa Umar mendobrak pintu rumah dengan tendangan dan masuk ke dalam rumah lalu membawa Ali (as) keluar dengan tangan terikat.[118]

Keadaan Kekhalifahan pada Masa Kehadiran Imam Syiah

Tahun 11 hingga tahun 260 Hijriah adalah masa kehadiran para Imam Syiah. Sebelas Imam hidup pada masa ini dan sejak tahun 260 Imam kedua belas mencapai derajat imamah namun mengalami kegaiban. Dari tahun 11 hingga tahun 35 Hijriah tiga khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) memegang kekuasaan. Masa ini bersamaan dengan masa hidup Imam Ali (as) Imam pertama Syiah yang menurut kaum Syiah kekhalifahan adalah hak beliau. Dari tahun 35 hingga awal tahun 41 Hijriah Imam Ali (as) dan Imam Hasan (as) menjabat kekhalifahan. Pada tahun 41 Muawiyah mengambil kekhalifahan dari Hasan bin Ali dan sejak tahun itu hingga akhir masa 250 tahun ini tidak ada satu pun dari dua belas Imam Syiah yang menjabat pemerintahan.

Penolakan Awal Ali dan Sahabatnya terhadap Pemerintahan Abu Bakar

Setelah Peristiwa Saqifah Bani Saidah dan menjabatnya Abu Bakar sebagai khalifah, beberapa sahabat menolak ber-baiat dengannya dan melakukan aksi protes bersama Imam Ali (as) di rumah Fatimah (sa).[119] Khalifah dan para sahabatnya berusaha mengambil baiat dari kelompok ini dan beberapa kali mengirim orang ke rumah Ali.[120] Berdasarkan nukilan ini, pada kali pertama Imam Ali (as) berkata bahwa beliau telah bersumpah tidak akan keluar dari rumah hingga selesai mengumpulkan Al-Qur'an.[121] Juga dilaporkan bahwa Ali pada malam hari bersama Fatimah mendatangi rumah-rumah Anshar dan meminta pertolongan mereka.[122] Setelah peristiwa serangan ke rumah Fatimah dan gugurnya janinnya, Fatimah terbaring sakit di rumah dan selama masa ini beliau tidak menerima kunjungan Abu Bakar dan Umar serta menyatakan bahwa beliau merasa sedih dan tidak rida terhadap kedua orang tersebut.[123] Beliau juga berwasiat agar dishalati dan dimakamkan di malam hari agar orang lain tidak hadir dalam upacara pemakamannya.[124]

Masalah Baiat dengan Abu Bakar

Templat:Imam Syiah dan Khalifah Setelah empat[125] atau tiga kali serangan ke rumah Ali dan Fatimah, khalifah dan para pendukungnya melakukan tindakan keras untuk mengambil baiat dari Imam Ali (as).[126] Ali (as) dibawa ke hadapan Abu Bakar dan mereka mengancamnya jika tidak berbaiat maka lehernya akan ditebas.[127] Berdasarkan riwayat kitab Sulaim, Ali (as) dalam kumpulan tersebut melakukan argumentasi (ihtijaj) dan mengingatkan ucapan Nabi (saw) pada hari Ghadir dan kesempatan lainnya mengenai suksesi dirinya kepada mereka yang hadir, namun Abu Bakar berkata ia telah mendengar dari Nabi bahwa Kenabian dan kekhalifahan tidak akan berkumpul dalam Ahlulbaitnya.[128]

Berdasarkan satu riwayat ketika Ali (as) diancam akan ditebas lehernya jika tidak ber-baiat, Abbas paman Nabi untuk menyelamatkan Ali (as) mengambil tangannya dan menariknya di atas tangan Abu Bakar dan mereka pun melepaskan Ali (as),[129] namun berdasarkan nukilan buku Al-Imamah wa al-Siyasah Abu Bakar berkata ia tidak akan memaksa Ali untuk berbaiat selama Fatimah berada di sampingnya.[130] Menurut Syekh Mufid, terdapat berbagai nukilan mengenai berbaiat atau tidaknya Ali dengan Abu Bakar; termasuk bahwa beliau berbaiat setelah empat puluh hari atau enam bulan atau setelah syahidnya Fatimah (sa). Syekh Mufid meyakini bahwa Ali (as) tidak pernah ber-baiat.[131]

Ali dan Dewan Enam Orang Kekhalifahan

Templat:Utama Berdasarkan laporan-laporan sejarah, Umar bin Khattab pada tahun 23 H dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah.[132] Umar di tempat pembaringan sakitnya berkata bahwa jika Muadz bin Jabal, Abu Ubaidah al-Jarrah, dan Salim Maula Hudzaifah masih hidup, niscaya aku akan menyerahkan kekhalifahan kepada mereka.[133] Namun karena orang-orang tersebut telah wafat,[134] ia menetapkan sebuah dewan enam orang untuk menentukan khalifah setelah dirinya yang terdiri dari Ali bin Abi Thalib (as), Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.[135] Hal ini agar dengan persetujuan mayoritas anggota dewan, seorang khalifah dipilih dari antara mereka sendiri dan jika terjadi dua kelompok beranggotakan masing-masing 3 orang dengan pendapat berbeda, maka suara kelompok yang di dalamnya terdapat Abdurrahman yang diterima.[136]

Beberapa orang berkeyakinan bahwa komposisi dewan tersebut sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan berujung pada terpilihnya Utsman, karena Sa'ad bin Abi Waqqash tidak akan menentang sepupunya Abdurrahman, dan Abdurrahman yang merupakan ipar Utsman, akan memberikan suaranya kepadanya.[137] Dengan mundurnya Sa'ad, Zubair, Abdurrahman, dan Thalhah dari pencalonan khalifah, maka hanya Ali (as) dan Utsman yang menjadi calon khalifah[138] dan suara serta pendapat Abdurrahman bin Auf menjadi penentu. Ia awalnya meminta Ali untuk berkomitmen bahwa jika mencapai kedudukan kekhalifahan, ia juga harus setia pada sirah (metode) dua khalifah sebelumnya. Ali (as) dalam jawabannya hanya menerima untuk beramal sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah (saw). Kemudian Abdurrahman menyampaikan syaratnya kepada Utsman dan ia segera menerimanya sehingga terpilih sebagai khalifah.[139]

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ali (as) menganggap syarat Ibnu Auf tersebut sebagai sejenis tipuan agar kekhalifahan setelah Utsman kembali kepadanya sendiri dan menganggap tindakan ini sebagai perampasan haknya yang telah berubah menjadi sunnah yang melawan Ahlulbait.[140] Dan saat baiat masyarakat kepada Utsman beliau juga berkata: Kalian tahu betul bahwa aku adalah orang yang paling layak untuk kekhalifahan dibanding siapa pun, demi Allah selama urusan kaum Muslimin berjalan baik dan tidak berantakan serta tidak ada kezaliman kepada selainku, aku akan tetap diam.[141] Sebagaimana bertahun-tahun kemudian beliau juga mengeluhkan peristiwa dewan tersebut dalam Khotbah Syiqshiqiyyah dan menyatakan secara tegas bahwa mereka menyejajarkan diriku dengan diri mereka namun aku tetap mengalah dan berkoordinasi dengan mereka.[142]

Perampasan Kekhalifahan oleh Bani Umayyah

Templat:Bukan Setelah syahadah Imam Ali (as) pada tahun 40 Hijriah di Kufah, masyarakat berbaiat kepada Imam Hasan al-Mujtaba (as),[143] namun karena kurangnya dukungan masyarakat Kufah dalam perang melawan pasukan Muawiyah,[144] Muawiyah melalui sebuah perjanjian damai mengambil kekhalifahan darinya[145] dan menjadi pendiri kekhalifahan Umayyah.[146] Muawiyah sendiri menyatakan secara tegas bahwa ia mengambil kekhalifahan bukan dengan keridaan rakyat melainkan dengan kekuatan pedang.[147]

Menurut beberapa laporan sejarah, Muawiyah telah menerima bahwa setelah kematiannya kekhalifahan kembali kepada Hasan dan jika Hasan telah wafat, saudaranya Husain bin Ali yang menjabat kekhalifahan.[148] Muawiyah menjabat penguasa selama dua puluh tahun hingga 60 Hijriah.[149] Pada tahun 51 Hijriah dan di tengah periode dua puluh tahun ini Hasan bin Ali (as) wafat[150] dan saudaranya Husain tetap menjadi penuntut kekhalifahan.[151] Namun Muawiyah beberapa tahun sebelum kematiannya pada tahun 56 Hijriah mengambil baiat bagi pemerintahan putranya Yazid dari beberapa orang Muslim terkemuka.[152]

Muawiyah wafat pada tahun 60 Hijriah dan Yazid menyebut dirinya sebagai khalifah.[153] Husain bin Ali dan orang-orang lainnya seperti Abdullah bin Zubair tidak menaati keputusan ini.[154] Husain terpaksa pergi dari Madinah ke Mekah[155] dan dari sana menuju ke arah Irak.[156] Setelah beberapa bulan dari pemerintahan Yazid, pasukan yang dipersiapkan oleh Ubaidillah bin Ziyad penguasa Kufah, membunuh Husain dan para pengikutnya di Karbala.[157] Setelah syahadah Imam Husain, kaum Syiah berada dalam kesulitan dan tekanan di bawah pemerintahan Bani Umayyah dari beberapa sisi.[158] Karena keadaan ini dan penindasan keras terhadap para penentang dari pihak Bani Umayyah,[159] Imam Sajjad[160] dan Imam Baqir[161] yang hidup pada masa ini tidak memasuki aktivitas politik secara terbuka.[162] Imam keenam, Imam Shadiq (as) yang sebagian dari masa imamahnya berada pada masa pemerintahan Umayyah, juga tidak memiliki pergerakan politik dan bahkan menolak untuk bekerja sama secara nyata dengan kebangkitan keponakannya, Zaid.[163] Sebagaimana selanjutnya beliau juga tidak menerima ajakan kaum Abbasiyah untuk memimpin kebangkitan melawan Bani Umayyah.[164]

Bani Abbasiyah dan Perampasan Kekhalifahan

Menurut pandangan kaum Syiah, Bani Abbasiyah yang menjadi penguasa wilayah-wilayah Islam sejak tahun 132 Hijriah,[165] juga terhitung sebagai perampas kekhalifahan para Imam.[166] Kaum Abbasiyah meskipun telah memulai gerakan mereka melawan Bani Umayyah dengan semboyan-semboyan Syiah, namun setelah beberapa lama mereka meninggalkan pemikiran Syiah dan menunjukkan kecenderungan pada keunggulan Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) atas Ali.[167] Dan mereka menindas setiap pergerakan dari pihak kaum Alawi, baik dari pihak Zaidiyah maupun dari pihak Imamiyah, sebagaimana Harun al-Rasyid menangkap empat orang pemimpin Alawi dan membunuh mereka.[168]

Para Imam Syiah sejak Imam Shadiq dan seterusnya semua hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah. Imam Shadiq yang pada masa Umayyah menolak usulan pemberontakan melawan Bani Umayyah di bawah kepemimpinannya sendiri, pada masa Bani Abbasiyah juga tidak menunjukkan aktivitas politik secara terbuka.[169] Imam ketujuh, Musa al-Kadzim yang menurut kaum Syiah adalah orang yang bangkit dari Ahlulbait menghabiskan waktu yang lama di penjara, dan juga syahid di dalam penjara.[170] Tiga Imam Syiah lainnya Imam kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas juga berada di bawah pengawasan di Samarra yang merupakan pusat kekhalifahan Abbasiyah pada periode ini.[171]

Imam kedelapan, Ali bin Musa ar-Ridha atas perintah Makmun, khalifah Abbasiyah dibawa dari Madinah ke Khorasan.[172] Makmun awalnya menawarkan penyerahan kekhalifahan kepada Imam kedelapan, namun Imam Ridha tidak menerima tawaran ini.[173] Kemudian Makmun memaksa beliau untuk menerima jabatan putra mahkota (wilayah ahdi).[174] Kurang dari dua tahun kemudian Imam Ridha wafat.[175] Wafatnya Imam Ridha di Khorasan dinisbatkan kepada Makmun, karena terdapat banyak tanda atas klaim ini.[176] Sekelompok sejarawan Syiah menyatakan secara tegas bahwa Imam Ridha syahid karena racun dan atas perintah Makmun.[177] Imam kedua belas Mahdi juga sejak awal kelahirannya disembunyikan dari orang lain dan sejak awal imamahnya pada tahun 260 Hijriah beliau berada dalam kegaiban dan hanya berhubungan dengan masyarakat melalui individu-individu khusus, dan setelah tahun 329 Hijriah beliau memutus semua hubungan lahiriahnya dengan masyarakat dan periode kegaiban besar pun dimulai.[178]

Perampasan Kekhalifahan dan Teori Politik Syiah

Teori-teori politik kaum Syiah juga dipengaruhi oleh teori hak kekhalifahan para Imam Syiah dan menganggap orang lain sebagai perampas jabatan ini.

Legitimasi Pemerintahan para Imam Tanpa Dukungan Rakyat

Dalam menjawab pertanyaan apakah para Imam maksum dapat memegang pemerintahan tanpa dukungan rakyat dan dalam kondisi seperti itu, apakah pemerintahan mereka akan memiliki legitimasi atau tidak, terdapat dua pendekatan. Menurut Mohammad Taqi Mesbah Yazdi, meskipun Imam Ali pada periode diam selama 25 tahun dapat memerintah atas rakyat dan pemerintahannya memiliki legitimasi, namun karena masyarakat tidak berbaiat kepadanya dan pemerintahannya tidak memiliki akseptabilitas di mata masyarakat, beliau menahan diri dari memerintah atas mereka dan tidak memaksakan pemerintahannya kepada rakyat dengan kekuatan.[179] Dalam penjelasan pandangan ini dikatakan, agar Imam maksum dapat memegang manajemen masyarakat, masyarakat wajib mendukungnya, jika tidak maka ia tidak akan memiliki tugas untuk membentuk pemerintahan.[180]

Kebalikan dari pandangan ini, Mehdi Bazargan dan Mehdi Haeri Yazdi meyakini bahwa hak pemerintahan dan kekhalifahan hanya dengan pemilihan rakyat, dan Tuhan, para nabi, serta para imam tidak memiliki hak pemerintahan dengan sendirinya.[181] Menurut mereka, diamnya Imam Ali (as) diinterpretasikan sejalan dengan hal ini.[182] Menurut Mohammad Hassan Gharamaleki, salah seorang pengajar di hauzah ilmiah Qom, para pendukung sekularisme dengan berpegang pada diamnya Imam Ali (as) selama 25 tahun, berargumen atas kebenaran sekularisme.[183]

Hak Kedaulatan pada Masa Kegaiban

Syekh Anshari (1214–1281 H) meyakini bahwa semua penguasa masa kegaiban adalah penguasa zalim (hakim jair) meskipun mereka Syiah, karena mereka telah merampas kedudukan Imam maksum,[184] sebagaimana Akhund Khorasani (1255-1329 H), Abdullah Mazandarani (1256-1330 H) dan Mirza Husain Tehrani juga menerima dasar yang sama dan menganggap semua penguasa non-maksum sebagai hakim jair.[185] Na'ini juga menggunakan ungkapan kesultanan zalim (salthanat-e ja'irah).[186] Menurut Davoud Firahi, teori ini yang dibuktikan dengan bersandar pada kaidah "keharaman membantu orang-orang zalim", telah menjadi landasan bagi fatwa beberapa fukaha melawan para penguasa Iran dalam Gerakan Konstitusi.[187]

Fukaha Syiah berdasarkan teori hak kekhalifahan para Imam Syiah, menganggap segala bentuk pemerintahan dari pihak lain sebagai tidak sah dan perampas.[188] Teori ini pada masa kehadiran para Imam maksum memberikan hak pengambilan keputusan mengenai struktur sistem politik kepada mereka.[189] Namun untuk pemerintahan pada masa kegaiban Imam maksum, para ulama Syiah tidak memiliki pandangan tunggal dan telah menyampaikan beberapa teori.[190] Teori yang paling terkenal adalah keyakinan akan hak pemerintahan fukaha dengan izin dan pengangkatan dari pihak para Imam maksum yang dikenal dengan nama teori Wilayatul Faqih.[191]

Interaksi dengan Pemerintahan-Pemerintahan Tidak Sah

Bagaimana cara berinteraksi dan berhubungan dengan pemerintahan non-maksum telah dibahas dalam fikih politik Syiah sejak masa para Imam. Hingga sebelum masa Syekh Mufid (Wafat: 413 H) kaum Syiah umumnya menganggap kerja sama dengan para penguasa zalim sebagai haram.[192] Namun sejak masa ini dan seterusnya muncul teori-teori lain yang dalam beberapa kondisi menganggap kerja sama dengan penguasa zalim sebagai boleh dan terkadang wajib.[193]

Mengenai kerja sama atau tidak adanya kerja sama dengan pemerintahan perampas, harta yang sampai ke tangan individu dari pemerintahan tersebut, serta ketaatan atau tidak adanya ketaatan terhadap perintah para penguasa ini telah sampai hadis-hadis dari para Imam Syiah.[194] Sebagian dari riwayat-riwayat ini bersifat umum dan melarang partisipasi dalam kezaliman terhadap orang lain[195] dan sebagian lainnya adalah riwayat-riwayat yang melarang beberapa tindakan parsial dan khusus juga.[196]

Catatan Kaki

  1. Rostamiyan, Hakimiyat-e Siyasi-ye Ma'shuman, 1381 HS, hlm. 31.
  2. Hajitagi, Jihad-e Syiah dar Doureh-ye Avval-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 135.
  3. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 13.
  4. Muzaffar, Tarikh asy-Syiah, 1408 H, hlm. 22.
  5. Kumpulan Penulis, Tarikh Tasyayyu', 1388 HS, jld. 1, hlm. 5-6.
  6. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 13.
  7. Askari, Naqsy-e Aimmah dar Ihya-ye Din, 1382 HS, jld. 2, hlm. 459.
  8. Pakatchi, "Andisheh-ye Siyasi dar Ta'alim-e Imam Ridha (as)", hlm. 143.
  9. Ibnu A'tsam, Al-Futuh, 1411 H, jld. 5, hlm. 56.
  10. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 367.
  11. Amili, Tragedi Sayyidah Zahra (sa), 1382 HS, hlm. 115.
  12. Mariji, "Asyura Payamad-e Taghyir-e Arzhes-ha", hlm. 17; Abdulmohammadi, "Risheh-ha-ye Farhangi, Siyasi va Ijtemai-ye Qiyam-e Imam Husain (as)", hlm. 45.
  13. Jafri, The Origins and Early Development of Shi'a Islam, hlm. 68.
  14. Jafri, The Origins and Early Development of Shi'a Islam, hlm. 68-70.
  15. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 23.
  16. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah fi al-Ashr al-Abbasi al-Awwal, 1428 H, hlm. 120.
  17. Ridha, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 H, jld. 8, hlm. 224.
  18. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 60.
  19. Ismail, Al-Harakat al-Sirriyyah fi al-Islam, 1997 M, hlm. 103.
  20. Emamifar, Tarikh-negaran-e Syiah, 1383 HS, hlm. 56.
  21. Jafri, The Origins and Early Development of Shi'a Islam, hlm. 80.
  22. Tonekaboni, Ziya' al-Qulub, 1382 HS, jld. 1, hlm. 338.
  23. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, jld. 5, hlm. 357.
  24. Jalali, "Pajuhisyi darbareh-ye Sulaim bin Qais Hilali", hlm. 90.
  25. Soltani dan Fallahzadeh, "Barresi-ye Gozaresy-ha-ye Chalesy-barangiz-e Ketab-e Sulaim...", hlm. 370.
  26. Jafri, The Origins and Early Development of Shi'a Islam, hlm. 41.
  27. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 1, hlm. 79.
  28. Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 139.
  29. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 28, hlm. 85-174.
  30. Meshkat, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1358 HS, hlm. 806.
  31. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 15.
  32. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 18.
  33. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 18.
  34. Sebagai contoh lihat: Pourseyed Aghaei, Chesmeh dar Bestar, 1375 HS, hlm. 59-61; Muzaffar, Al-Saqifah, 1415 H, hlm. 75-93.
  35. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 13.
  36. Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 21.
  37. Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 21-22.
  38. Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 58; Al-Tha'i, Al-Saqifah Inqilab Abyadh, 1420 H, hlm. 183-186.
  39. Ansari, Ghadir dar Qur'an, 1387 HS, jld. 1, hlm. 239.
  40. Thabrasi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 1, hlm. 62.
  41. Sebagai contoh rujuk: Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 3, hlm. 1117; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 113; Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 180.
  42. Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 3, hlm. 1117.
  43. Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 180.
  44. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 650.
  45. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 474; Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 3, hlm. 1118; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 186.
  46. Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 183.
  47. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 474.
  48. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 6, hlm. 9, hadis 4432.
  49. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 6, hlm. 9, hadis 4432.
  50. An-Naisaburi, Al-Shahih Muslim, 1412 H, jld. 3, hlm. 1259, hadis 1637.
  51. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 6, hlm. 9, hadis 4432; An-Naisaburi, Al-Shahih Muslim, 1412 H, jld. 3, hlm. 1259, hadis 1637.
  52. Mufid, Al-Amali, 1413 H, hlm. 135.
  53. Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Shawa'iq al-Muhriqah, 1417 H, jld. 2, hlm. 438 dan 440.
  54. Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 9, hlm. 62, 77; Syarafuddin, Al-Muraja'at, 1426 H, hlm. 70.
  55. Syarafuddin, Al-Muraja'at, 1426 H, hlm. 70.
  56. Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 185.
  57. Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 185.
  58. Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 11, hlm. 224; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 7, hlm. 359.
  59. Jafrian, Sirat-e Rasul Khoda, 1383 HS, hlm. 679.
  60. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 214-216; Al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 3, hlm. 196-197.
  61. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 38.
  62. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, 1421 H, jld. 31, hlm. 203.
  63. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 44.
  64. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 45.
  65. Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 139.
  66. Al-Tha'i, Al-Saqifah Inqilab Abyadh, 1420 H, hlm. 180.
  67. Al-Tha'i, Al-Saqifah Inqilab Abyadh, 1420 H, hlm. 180 dan 187.
  68. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 15.
  69. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 18.
  70. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 18.
  71. Abdul Maqshud, Al-Saqifah wa al-Khilafah, 1427 H, hlm. 246.
  72. Sulaim bin Qais, Asrar Alu Muhammad (saw), 1416 H, hlm. 232.
  73. Qomi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 5, hlm. 56.
  74. Sayyid bin Tawus, Tharfun min al-Anba' wa al-Manaqib, Penerbit Tasu'a, hlm. 564.
  75. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 28, hlm. 85-174.
  76. Meshkat, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1358 HS, hlm. 806.
  77. Sayyid bin Tawus, Tharfun min al-Anba' wa al-Manaqib, Penerbit Tasu'a, hlm. 564.
  78. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91.
  79. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 28, hlm. 86.
  80. Sulaim bin Qais, Asrar Alu Muhammad (saw), 1416 H, hlm. 232.
  81. Amini Golestani, Aya va Chara, 1392 HS, hlm. 91.
  82. Sulaim bin Qais, Asrar Alu Muhammad (saw), 1416 H, hlm. 232.
  83. Sulaim bin Qais, Asrar Alu Muhammad (saw), 1416 H, hlm. 232.
  84. Dailami, Irsyad al-Qulub, 1412 H, jld. 2, hlm. 333.
  85. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 655; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 205.
  86. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 201; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 5, hlm. 242.
  87. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 5, hlm. 243.
  88. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 656; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 200.
  89. Abdul Maqshud, Al-Saqifah wa al-Khilafah, 1427 H, hlm. 81.
  90. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 2, hlm. 42-43.
  91. Shadr, Fadak fi al-Tarikh, 1427 H, hlm. 62-63.
  92. Bushehri, "Raz-e Enkar-e Rehlat-e Nabi", hlm. 50.
  93. Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 7, hlm. 250.
  94. Al-Muzaffar, Al-Saqifah, 1415 H, hlm. 117.
  95. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 22.
  96. Al-Tha'i, Al-Saqifah Inqilab Abyadh, 1420 H, hlm. 185-192.
  97. Sebagai contoh lihat: Gholami, Pas az Ghorub, 1388 HS, hlm. 63-66; Pourseyed Aghaei, Chesmeh dar Bestar, 1375 HS, hlm. 57-58.
  98. Madelung, Succession to Muhammad, hlm. 61.
  99. Muzaffar, Al-Saqifah, 1415 H, hlm. 24; Abdul Maqshud, Al-Saqifah wa al-Khilafah, 1427 H, hlm. 27.
  100. Lihat Syahidi, Tarikh-e Tahlili-ye Islam, hlm. 106-107.
  101. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1410 H, jld. 1, hlm. 22; Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 327.
  102. Syahidi, Tarikh-e Tahlili-ye Islam, 1390 HS, hlm. 106-107.
  103. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 124.
  104. Askari, Saqifah, 1387 HS, hlm. 99.
  105. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 3, hlm. 202.
  106. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  107. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  108. Yusufi Gharavi, "Tarikh-e Hojum be Khane-ye Hazret-e Zahra", hlm. 14.
  109. Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 186.
  110. Ibnu Abdu Rabbih, Al-Iqdu al-Farid, 1404 H, jld. 5, hlm. 13.
  111. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 3, hlm. 202.
  112. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 586.
  113. Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 1425 H, jld. 13, hlm. 469.
  114. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30.
  115. Ibnu Abdu Rabbih, Al-Iqdu al-Farid, 1404 H, jld. 5, hlm. 13.
  116. Sulaim bin Qais, Ketab-e Sulaim bin Qais, 1420 H, jld. 1, hlm. 150.
  117. Mas'udi, Itsbat al-Wasiyah, 1384 HS, hlm. 146.
  118. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 67.
  119. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 124; Askari, Saqifah: Barresi-ye Nahveh-ye Syekl-giri-ye Hukumat pas az Nabi, 1387 HS, hlm. 99; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 3, hlm. 202.
  120. Yusufi Gharavi, "Tarikh-e Hojum be Khane-ye Hazret-e Zahra", hlm. 14.
  121. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  122. Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 7, hlm. 108.
  123. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 43, hlm. 204.
  124. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 29, hlm. 193.
  125. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  126. Yusufi Gharavi, "Tarikh-e Hojum be Khane-ye Hazret-e Zahra", hlm. 14.
  127. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  128. Sulaim bin Qais, Ketab-e Sulaim bin Qais, 1420 H, jld. 1, hlm. 153-155.
  129. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 68.
  130. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1413 H, jld. 1, hlm. 30-31.
  131. Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, 1413 H, hlm. 56-57.
  132. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 159-160; Ibnu Abdul Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1155-1156; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 2, hlm. 320-321.
  133. Ibnu Qutaibah ad-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1410 H, jld. 1, hlm. 42.
  134. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 3, hlm. 344.
  135. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1413 H, hlm. 129.
  136. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 160.
  137. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Mesir, jld. 1, hlm. 188.
  138. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 296; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Mesir, jld. 1, hlm. 188.
  139. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 3, hlm. 66; Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 4, hlm. 230-233; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 162.
  140. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 296-302; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 162; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Mesir, jld. 1, hlm. 194.
  141. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 6, hlm. 168.
  142. Makarem Syirazi, Nahj al-Balaghah dengan Terjemahan Persis Mengalir, 1384 HS, jld. 1, hlm. 39.
  143. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 158.
  144. Alu Yasin, Shulh al-Hasan, 1373 HS, hlm. 244-246; Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 369.
  145. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 162.
  146. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 393.
  147. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 396.
  148. Alu Yasin, Shulh al-Hasan, 1373 HS, hlm. 259-260.
  149. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 338.
  150. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 11, hlm. 514.
  151. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 378 dan 436.
  152. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 301.
  153. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 338.
  154. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 338-343.
  155. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 343.
  156. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 382.
  157. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 389.
  158. Jafrian, Tarikh-e Kholafa, 1380 HS, hlm. 544-545.
  159. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 316.
  160. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 266.
  161. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 316.
  162. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah, 1428 H, hlm. 244.
  163. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 362-364.
  164. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 367.
  165. Taqqusy, Tarikh al-Daulah al-Abbasiyyah, 2009 M, hlm. 22.
  166. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah, 1428 H, hlm. 408 dan 495.
  167. Al-Khudhari, Al-Daulah al-Abbasiyyah, 1422 H, hlm. 470.
  168. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah, 1428 H, hlm. 397.
  169. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah, 1428 H, hlm. 247.
  170. Al-Laitsi, Jihad asy-Syiah, 1428 H, hlm. 400-405.
  171. Al-Khudhari, Al-Daulah al-Abbasiyyah, 1422 H, hlm. 472; Moharrami, Tarikh-e Tasyayyu', 1382 HS, hlm. 132.
  172. Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 436.
  173. Saduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 68-69; Al-Amili, Al-Hayat al-Siyasiyyah li al-Imam al-Ridha, 1403 H, hlm. 277.
  174. Al-Amili, Al-Hayat al-Siyasiyyah li al-Imam al-Ridha, 1403 H, hlm. 280.
  175. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 453.
  176. Al-Khudhari, Al-Daulah al-Abbasiyyah, 1422 H, hlm. 470.
  177. Al-Amili, Al-Hayat al-Siyasiyyah li al-Imam al-Ridha, 1403 H, hlm. 422; Jafrian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah, 1387 HS, hlm. 446.
  178. Al-Muzaffar, Tarikh asy-Syiah, 1408 H, hlm. 71-74.
  179. Mesbah Yazdi, Pasokh be Porsesy-ha, 1391 HS, jld. 1, hlm. 29.
  180. Alamolhoda, Siyasat dar Qur'an, 1397 HS, jld. 2, hlm. 45-46; Mortazavi, "Zhohur-e Hazret-e Mahdi (af) dar Entekhab-e Mast", jld. 2, hlm. 289.
  181. Bazargan, Be'sat (2), 1387 HS, hlm. 298; Haeri, Hekmat va Hukumat, 1388 HS, hlm. 209-212.
  182. Bazargan, Be'sat (2), 1387 HS, hlm. 299.
  183. Gharamelki, "Jame'eh-ye Madani, Sekular ya Dini", hlm. 210-211.
  184. Firahi, "Mabani-ye Feqhi-ye Masyruteh-khvahi az Didgah-e Akhond Khorasani", hlm. 17.
  185. Firahi, "Mabani-ye Feqhi-ye Masyruteh-khvahi az Didgah-e Akhond Khorasani", hlm. 25.
  186. Firahi, "Mabani-ye Feqhi-ye Masyruteh-khvahi az Didgah-e Akhond Khorasani", hlm. 26.
  187. Firahi, "Mabani-ye Feqhi-ye Masyruteh-khvahi az Didgah-e Akhond Khorasani", hlm. 18.
  188. Mostafavi, Daramadi bar Teory-ha-ye Hakimiyat va Daulat az Manzar-e Islam, 1386 HS, hlm. 173.
  189. Firahi, Feqh va Siyasat dar Iran-e Mo'asher, 1396 HS, hlm. 93.
  190. Firahi, Feqh va Siyasat dar Iran-e Mo'asher, 1396 HS, hlm. 94.
  191. Mostafavi, Daramadi bar Teory-ha-ye Hakimiyat va Daulat az Manzar-e Islam, 1386 HS, hlm. 174-177.
  192. Hassaninasab dan lainnya, "Ta'amol ba Sulthan-e Jaur dar Andisheh-ye Syekh Mufid", hlm. 104.
  193. Hassaninasab dan lainnya, "Ta'amol ba Sulthan-e Jaur dar Andisheh-ye Syekh Mufid", hlm. 112-114.
  194. Mirali, Mohammad Ali, "Masyrutiyat-e Ham-kari ba Hakim-e Setam-gar dar Feqh-e Siyasi-ye Syiah", hlm. 126-134.
  195. Mirali, Mohammad Ali, "Masyrutiyat-e Ham-kari ba Hakim-e Setam-gar dar Feqh-e Siyasi-ye Syiah", hlm. 126.
  196. Mirali, Mohammad Ali, "Masyrutiyat-e Ham-kari ba Hakim-e Setam-gar dar Feqh-e Siyasi-ye Syiah", hlm. 129.

Daftar Pustaka

  • Abdul Maqshud, Abdulfattah. Al-Saqifah wa al-Khilafah. Beirut, Penerbit Dar al-Mahajjah al-Baidha, 1427 H.
  • Al-Amili, Sayyid Jafar Murtadha. Al-Hayat al-Siyasiyyah li al-Imam al-Ridha. Qom, Penerbit Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1403 H.
  • Al-Amili, Sayyid Jafar Murtadha. Tragedi Sayyidah Zahra (sa). Penerjemah: Mohammad Sepehri. Qom, Penerbit Tahdzib, 1382 HS.
  • Alamolhoda, Ahmad. Siyasat dar Qur'an. Masyhad, Penerbit Be-nasyr, 1397 HS.
  • Al-Hassani, Hashem Ma'rouf. Junbysy-ha-ye Syii dar Tarikh-e Islam (Gerakan-gerakan Syiah dalam Sejarah Islam). Penerjemah: Mohammad Sadeq Arif. Masyhad, Bonyad-e Pajuhisy-ha-ye Islami Astan-e Quds-e Razavi, 1379 HS.
  • Al-Khudhari, Muhammad Bek. Al-Daulah al-Abbasiyyah. Beirut, Penerbit Alam al-Kutub, 1422 H.
  • Al-Laitsi, Samirah Mukhtar. Riset: Sami al-Ghurairi. Qom, Penerbit Dar al-Kitab al-Islami, 1428 H.
  • Al-Muzaffar, Muhammad Husain. Tarikh asy-Syiah. Beirut, Penerbit Dar al-Zahra, 1408 H.
  • Al-Naisaburi, Muslim bin Hajjaj. Al-Shahih. Atas usaha Mohammad Fouad Abdul Baqi. Mesir, Penerbit Dar al-Hadits, 1412 H.
  • Al-Tha'i, Najah. Al-Saqifah Inqilab Abyadh. Beirut, Penerbit Dar al-Huda li-Ihya al-Turats, 1420 H.
  • Al-Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut, Penerbit Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Amini Golestani. Aya va Chara. 1392 HS.
  • Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, 1416 H.
  • Ansari, Mohammad Baqer. Ghadir dar Qur'an, Qur'an dar Ghadir: Nuzul-e Ayat-e Qur'an dar Ghadir. Qom, Penerbit Dalil-e Ma, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Askari, Sayyid Murtadha. Naqsy-e Aimmah dar Ihya-ye Din (Peran para Imam dalam Menghidupkan Agama). Teheran, Penerbit Munir, 1382 HS.
  • Askari, Sayyid Murtadha. Saqifah. 1387 HS.
  • Bazargan, Mehdi. Be'sat (2). Teheran, Syerkat-e Sahami-ye Entesyar, 1387 HS.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut, Penerbit Dar Touq al-Najah, 1422 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zirikli. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam. Riset: Umar Abdu al-Salam. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
  • Emamifar, Ali. Tarikh-negaran-e Syiah (Para Sejarawan Syiah - hingga Abad Ketujuh Hijriah). Qom, Penerbit Parsayan, 1383 HS.
  • Firahi, Davoud. "Mabani-ye Feqhi-ye Masyruteh-khvahi az Didgah-e Akhond Khorasani". Dalam Syenakht-nameh-ye Akhond Khorasani, jilid dua. Atas usaha Mehdi Mehrizi. Qom, Penerbit Daftar-e Tablighat-e Islami, 1390 HS.
  • Firahi, Davoud. Feqh va Siyasat dar Iran-e Mo'asher: Feqh-e Siyasi va Feqh-e Masyruteh. Teheran, Penerbit Ney, 1396 HS.
  • Gholami, Yousef. Pas az Ghorub. Qom, Penerbit Najm al-Huda, 1388 HS.
  • Haeri Yazdi, Mehdi. Hekmat va Hukumat. London, Penerbit Mouj-e Azadi, 1388 HS.
  • Hajitagi, Mohammad. Jihad asy-Syiah fi al-Ashr al-Abbasi al-Awwal. Penulis: Samirah Mukhtar al-Laitsi. Penerjemah: Mohammad Hajitagi. Qom, Syiah-syenasi, 1384 HS.
  • Hassaninasab, Murtadha, dan lainnya. "Ta'amol ba Sulthan-e Jaur dar Andisheh-ye Syekh Mufid". Faslnamah Feqh, nomor 80, musim panas 1393 HS.
  • Ibnu Abdu Rabbih. Al-Iqdu al-Farid. 1404 H.
  • Ibnu Abil Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah. 1404 H.
  • Ibnu Atsir. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Penerbit Dar Sadir.
  • Ibnu A'tsam al-Kufi, Muhammad bin Ali. Al-Futuh. Beirut, Penerbit Dar al-Adhwa, 1411 H.
  • Ibnu Hajar al-Haitami, Ahmad bin Muhammad. Al-Shawa'iq al-Muhriqah ala Ahl al-Rafdh wa al-Dhalal wa al-Zandaqah. Beirut, Penerbit Muassasah al-Risalah, cetakan pertama, 1417 H.
  • Ibnu Hanbal, Abdullah bin Ahmad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Riset: Syu'aib al-Arnauth dan Ibrahim al-Zibaq. Beirut, Penerbit Muassasah al-Risalah, 1420 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Riset: Mustafa al-Saqqa, Ibrahim al-Abyari dan Abdul Hafizh Syalabi. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Atha, Muhammad Abdul Qadir. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1410 H.
  • Ismail, Mahmoud. Al-Harakat al-Sirriyyah fi al-Islam. Kairo, Penerbit Sina, 1997 M.
  • Jafri, Sayyid Husain Muhammad. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Penerjemah: Sayyid Mohammad Taqi Ayatollahi. Teheran, Penerbit Daftare Nasre Farhange Islami, 1380 HS.
  • Jafrian, Rasul. Tarikh-e Kholafa: az Rehlat-e Nabi ta Zaval-e Umaviyan. Qom, Penerbit Dalil, 1380 HS.
  • Jafrian, Rasul. Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Imamiyah-ye Syiah. Qom, Penerbit Ansariyan, 1387 HS.
  • Jafrian, Rasul. Sirat-e Rasul Khoda (saw). Qom, Penerbit Dalil-e Ma, 1383 HS.
  • Jalali, Abdul Mehdi. "Pajuhisyi darbareh-ye Sulaim bin Qais Hilali". Faslnamah Mutala'at-e Islami, nomor 60, musim panas 1382 HS.
  • Kumpulan Penulis. Tarikh Tasyayyu'. Di bawah pengawasan Sayyid Ahmad Reza Khezri. Teheran, Penerbit Samt, 1388 HS.
  • Madelung, Wilferd. The Succession to Muhammad. Penerjemah: Ahmad Namayi dan lainnya. Masyhad, Bonyad-e Pajuhisy-ha-ye Islami Astan-e Quds-e Razavi, 1377 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Moharrami, Gholam Hasan. Tarikh-e Tasyayyu' az Aghaz ta Payan-e Ghaibat-e Shughra. Qom, Penerbit Muassasah Amuzesyi va Pajuhisyi Imam Khomeini, 1382 HS.
  • Mostafavi. Daramadi bar Teory-ha-ye Hakimiyat va Daulat az Manzar-e Islam. 1386 HS.
  • Mesbah Yazdi, Mohammad Taqi. Pasokh be Porsesy-ha. Qom, Penerbit Muassasah Amuzesyi va Pajuhisyi Imam Khomeini (ra), 1391 HS.
  • Ridha, Sayyid Muhammad Rasyid. Tafsir al-Manar. Mesir, 1366 H.
  • Rostamiyan, Mohammad Ali. Hakimiyat-e Siyasi-ye Ma'shuman. Qom, Dabirkhaneh-ye Majles-e Khobregan-e Rahbari, 1381 HS.
  • Soltani, Sayyid Muhammad dan Fallahzadeh, Sayyid Muhammad Husain. "Barresi-ye Gozaresy-ha-ye Chalesy-barangiz-e Ketab-e Sulaim bin Qais piramun-e Hazret-e Mahdi". Nasyriye Masyreq-e Mou'ud, nomor 49, musim semi 1398 HS.
  • Sulaim bin Qais al-Hilali. Ketab-e Sulaim bin Qais al-Hilali. Qom, Penerbit Al-Hadi, 1420 H.
  • Syarafuddin, Sayyid Abdul Husain. Al-Muraja'at. Qom, Penerbit Majma' Jahani Ahlulbait (as), cetakan kedua, 1426 H.
  • Syekh Thabrasi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj ala Ahl al-Lijaj. Masyhad, Penerbit Murtadha, cetakan pertama, 1403 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Al-Irsyad fi Hujaj Allah ala al-Ibad. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Al-Amali. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut.
  • Taqqusy, Muhammad Suhail. Tarikh al-Daulah al-Abbasiyyah. Beirut, Penerbit Dar al-Nafais, 2009 M.
  • Tonekaboni, Mohammad bin Abdulfattah. Ziya' al-Qulub. Qom, Majma' Dakhaer-e Islami, 1382 HS.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghazi. Atas usaha Marsden Jones. Lebanon, Penerbit Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, 1409 H.