Prioritas: c, Kualitas: b
tanpa navbox

Abu Lahab

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Abu Lahab
Paman Nabi Muhammad saw
Julukan Abu 'Utbah • Abu Lahab
Garis keturunan Bani Hasyim, Quraisy
Kerabat termasyhur Abu Thalib (saudara) • Hamzah (saudara) • Imam Ali as (keponakan)
Tempat tinggal Mekkah
Meninggal 2 H/624
Era Permulaan Islam
Peran penting Musuh dan penentang dakwah Rasulullah saw

Abdul 'Uzza bin Abdul Muththalib (bahasa Arab: عبدالعُزّی بن عبدالمُطَّلب ) (w. 2 H/624) yang terkenal dengan Abu Lahab (أبولَهَب) adalah paman Rasulullah saw dan termasuk musuh keras setelah Bi'tsah. Ia dan istrinya, Ummu Jamil tidak pernah melewatkan cara apapun dalam menyakiti dan menentang Islam. Surah Al-Masad turun berkenaan dengan pencelaan Abu Lahab dan istrinya.

Abdul Muththalib memanggilnya dengan sebutan Abu Lahab karena ketampanan dan wajahnya yang mereka seperti bunga. Abu Lahab bersama beberapa orang mencuri tali emas dari Kakbah, namun atas intervensi paman-pamannya dari kabilah Khuza'ah ia selamat dari hukuman.

Tsaubiyah, budak perempuan Abu Lahab beberapa waktu menyusui Nabi Muhammad saw. Atabah dan Utaibah, putra-putra Abu Lahab, menikah dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Nabi saw. Namun setelah kemunculan Islam dan turunnya surah Al-Masad, Abu Lahab dan istrinya memaksa putra-putranya untuk mentalak putri-putri Nabi saw. Abu Lahab senantiasa menganggap mukjizat Nabi sebagai sihir, dan dengan mencemooh Nabi menghalangi tablig Islam. Ketika kaum Quraisy berkeputusan mengembargo kaum muslimin dan Bani Hasyim, Abu Lahab satu-satunya orang dari Bani Hasyim yang bersama Quraisy. Abu Lahab termasuk dari para pembesar Quraisy yang berniat membunuh Nabi saw di malam hari.

Setelah Nabi Muhammad saw melakukan hijrah ke Madinah, Abu Lahab karena sakit tidak mampu bergabung dengan pasukan Quraisy di Perang Badar, namun ia mengirim seseorang untuk menggantikannya. Abu Lahab kemudian meninggal karena sakit keras 7 hari setelah terjadinya Perang Badar.

Gelar dan Nasab

Abu Lahab aslinya memiliki kunyah Abu 'Utbah namun oleh ayahnya Abdul Muththalib dipanggil Abu Lahab disebabkan ia memiliki wajah yang tampan dengan kulit kemerah-merahan. [1] Ibunya bernama Lubna binti Hajir bin Abdul Manaf dari kabilah Khuza'i.[2] Lubna tidak mempunyai anak selain Abu Lahab.[3] Ia termasuk dari para lelaki Quraisy yang tampan tapi memiliki mata yang juling.[4]

Sebelum Bi'tsah

Terdapat catatan sedikit mengenai kehidupan Abu Lahab sebelum periode Islam namun sebagaimana pada umumnya suku Quraisy, diperkirakan pekerjaannya adalah pedagang. Demikian pula yang digambarkan dalam surah al-Lahab ayat 2, مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan) menunjukkan pekerjaannya sebagai pengusaha atau pedagang.

Abu Lahab bersama dengan beberapa orang pernah mencuri tali emas yang dihadiahkan oleh Abdul Muththalib ke Kakbah. Setelah mereka ditangkap, tangan sebagian mereka dipotong, namun paman-paman Abu Lahab dari pihak ibunya yang berasal dari kabilah Khuza'ah mencegah penerapan hukuman potong tangan atasnya.[5]

Tsaubiyah, budak perempuan Abu Lahab beberapa waktu sebelum Halimah Sa'diyah menyusui Nabi saw di masa bayi. Nabi saw berniat membeli Tsaubiyah dari Abu Lahab untuk dibebaskan, tapi Abu Lahab tidak sudi menjualnya. Setelah Nabi saw hijrah ke Madinah, Abu Lahab membebaskan sendiri Tsaubiyah.[6]

Ketika Abdul Muththalib hendak meninggal dunia, ia mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka untuk mengasuh Nabi saw. Ketika Abu Lahab mengusulkan diri untuk menjadi pengasuhnya, Abdul Muththalib menjawab: "Jauhkan kejahatanmu darinya" dan menyerahkan pengasuhan Nabi saw kepada Abu Thalib.[7]

Dari Bi'tsah Hingga Hijrah

Setelah Bi'tsah dengan diangkatnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi untuk mendakwahkan Islam, Abu Lahab kemudian menjadi diantara musuhnya yang paling keras. Ketenaran dia dalam sejarah awal Islam muncul karena sebab ini. Ia mengabdi kepada berhala Uzza. Dilaporkan bahwa ia pernah berkata, "Jika Uzza menang maka saya akan menjadi pelayannya, dan jika Muhammad menang -dan ini tidak akan terjadi-maka putra saudarakulah yang menjadi (tuan)".[8]

Menggangu Nabi saw dan Menghalangi Tablig Islam

Dengan turunnya ayat Indzar, Nabi saw diperintahkan untuk memulai dakwahnya secara terang-terangan dari keluarganya. Kemudian ia mengundang anak-anak Abdul Muththalib ke rumahnya sebagai tamu dengan jamuan sedikit tapi membuat mereka kenyang semua. Abu Lahab meyakini keberkahan ini sebagai pengaruh dari sihir Nabi saw. Nabi saw memilih diam dan menunda dakwah kepada Islam pada hari berikutnya.[9]

Nabi saw berkata bahwa rumahnya terletak diantara tetangga-tetangga yang terburuk; Aqabah bin Ubai, Mu'aith dan Abu Lahab, dimana mereka melemparkan kotoran-kotoran ke rumah beliau.[10]

Terkadang ketikan Nabi saw mengajak sekelompok orang kepada Islam, Abu Lahab dan Abbas bin Abdul Muththalib maju ke depan dan berkata: "Keponakan kami ini bohong, jangan sampai ia menyesatkan kalian dari agama kalian".[11] Pada musim haji, Nabi saw menemui para rombongan yang datang ke Mekah dan menyeru mereka kepada Islam. Namun, kaum Quraisy datang ke tengah-tengah mereka dan mengata-ngatai Nabi saw. Dalam hal ini, Abu Lahab lah yang peling gigih.[12] Ia mengikuti Nabi saw dari belakang dan melemparinya dengan bantu sehingga kaki beliau bercucuran darah. Ia juga mengatakan Nabi saw sebagai pembohong.[13] Pada suatu waktu ketika Nabi saw sedang dalam sujud, Abu Lahab mengangkat batu hendak melemparkannya ke kepala beliau, namun tangannya tidak dapat bergerak. Setelah ia memohon kepada Nabi supaya keadaan itu dihilangkan dan beliau pun melakukannya, ia mengatakan bahwa ini termasuk sihir Nabi.[14]

Membela Nabi saw

Sekali ketika Quraisy memprotes Abu Thalib karena membela salah seorang dari kaum muslimin, Abu Lahab membelanya dan mengancam bahwa ia akan bersama Abu Thalib. Sikap dan ucapan ini membuat Abu Thalib senang dan dengan mendendangkan syair-syairnya ia berusaha mengajak Abu Lahab untuk membela Islam.[15]Para pembesar kaum musyrikin berniat membunuh Nabi saw dan karena mereka takut akan penentangan Abu Lahab, mereka tidak memberi tahu kepadanya. Pada suatu hari dimana niat jahat itu hendak dilakukan, Abu Thalib mengutus Ali as kepada Abu Lahab untuk memberi tahu kepadanya aksi pembunuhan Nabi saw yang akan mereka lakukan. Abu Lahab dengan marah mendatangi para pembesar musyrikin dan melarang mereka dari perbuatan ini serta bersumpah kepada Lata dan Uzza bahwa ia akan masuk Islam. Akhirnya, para pembesar kaum musyrikin meminta maaf dan meninggalakn pekerjaan ini.[16]

Di dalam sumber-sumber Ahlusunah dimuat, pasca kewafatan Abu Thalib dan Khadijah sa, Quraisy secara mendadak mengganggu dan menyakiti Nabi saw. Ketika kabar ini sampai ke telinga Abu Lahab, ia mengumumkan bahwa dirinya tidak keluar dari agama Abdul Muththalib akan tetapi tetap membela anak saudaranya. Namun, ketika ia tahu bahwa menurut Muhammad saw, Abdul Muththalib dan orang-orang yang seagama dengannya berada dalam api neraka, ia pun bersikap lebih keras lagi kepada Nabi.[17] Namun, dengan memperhatikan keyakinan Syiah bahwa nenek moyang Nabi tidak musyrik, maka ulama Syiah tidak menerima riwayat ini.[18]

Konspirasi Pembunuhan Nabi saw

Pasca kewafatan Abu Thalib, Abu Lahab termasuk diantara mereka yang hendak membunuh Nabi saw di malam hari.[19] Ketika mereka hendak memilih orang-orang diantara kabilah-kabilah Quraisy yang akan turut serta dalam pembunuhan Nabi saw, dari Bani Hasyim Abu Lahab yang mengusulkan diri.[20] Kala mereka hendak menyerang rumah Nabi saw, Abu Lahab mencegah mereka menyerang di waktu malam dan berkata: "Jika pada kegelapan malam para wanita dan anak-anak kecil terkena bahaya, maka kemalangan/kehinaan ini tidak akan lenyap selamanya di tengah-tengah Arab", akhirnya penyerangan itu ditunda ke pagi hari.[21]


Setelah Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah

Setelah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, Abu Lahab jatuh sakit. Karena didera rasa sakit itulah, ia tidak dapat ikut serta dalam Perang Badar.[22]Dalam sumber lain disebutkan bahwa ketidak ikutsertaannya dalam perang karena mimpi Atikah binti Abdul Muththalib soal prediksi kekalahan penduduk Mekah.[23] Ia mengirim orang yang menggantikan posisinya, yaitu 'Ash bin Hisyam bin Mughirah dengan balasan bahwa ia memiliki hutang dan dengan cara ini Abu Lahab memaafkan hutangnya.[24] Ketika Abu Sufyan bin Harits memberi tahu kepada Abu Lahab dan orang-orang Mekah bahwa kaum muslimin disetai para malaikat, Abu Rafi' (budak Abbas bin Abdul Muththalib) yang sudah muslim mengekpresikan kesenangannya. Abu Lahab menjatuhkan dia ke tanah dan memukulinya. Saat itu Ummul Fadhl, istri [[Abbas bin Abdul Muththalib|Abbas], memukulkan kayu ke Abu Lahab sebagai pembelaan terhadap Abu Rafi'. Hal ini menyebabkan luka parah di kepada Abu Lahab.[25]

Dalam Alquran

Ketila Nabi saw melakukan dakwahnya secara terang-terangan, ia menyeru kabilah-kabilah Quraisy dan menakuti mereka dengan azab Ilahi serta mengajak mereka kepada tauhid. Abu Lahab mengejek nabi dengan lafal تَبُّا لَكَ (binasalah engkau) kemudian turun surah Al-Masad : تَبَّت يَدا أَبي لَهَبٍ وَتَبَّ; "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia".[26] Mengenai sebab turunnya surah ini ada beberapa pandangan yang disebutkan.[27] Setelah turunnya surah ini, Abu lahab hidup lebih dari 10 tahun, namun ia tetap tidak beriman dan mati dalam keadaan musyrik. Ini adalah salah satu ramalan dan mukjizat Alquran.[28]

Mengenai kenapa dalam surah ini Abu Lahab disebut dengan nama panggilannya (kunyah) padahal dalam nama panggilan tersirat sebuah penghormatan, disebutkan beberapa alasan, antara lain adalah:

  • Pada umumunya ia dikenal dengan nama panggilannya, oleh karenanya maka penyebutan kunyah tidak mewujudkan penghormatan.
  • Abu Lahab adalah namanya bukan kunyahnya.
  • Mengingat bahwa namanya adalah Abdul Uzza (hamba patung Uzza), mak Allah swt tidak menghendaki ia diyakini sebagai hamba Uzza meskipun itu namanya.[29]
  • Pada ayat berikutnya dimuat «سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ»; "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang berkobar" . Jadi 'Lahab' yang ada dalam kunyahnya relevan dengan Lahab (kobaran api) di dalam neraka. Dengan begitu, relevansi ini dimaksudkan untuk penghinaan.

Dalam tafsir ayat-ayat lain juga terlihat nama Abu lahab. Dia tergolong dari orang-orang yang mencemooh Nabi saw dan Allah swt dalam ayat 95 surah Al-Hijr berjanji kepada Nabi akan menepis kejahatan mereka.[30] Dikatakan bahwa ayat 19 surah Al-Zumar: «أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ»; "Maka apakah (engkau hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab?" turun berkenaan dengan Abu Lahab dan putranya serta sanak famili Nabi saw yang tidak berimam kepadanya. Dalam tafsir ayat 22 surah Al-Zumar juga dikatakan bahwa contoh kongkrit dari ibarat: «أَفَمَن شَرَحَ اللَّـهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ»; "Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?" adalah Hamzah dan Ali as sebagai lawan dari : «فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّـهِ»; "Celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah" yang maksudnya adalah Abu Lahab dan anak keturunannya.[31] Dinukilkan bahwa Abu Lahab di tengah-tengah para pemuka musyrikin yang akan melawan dakwah Nabi akan mengambil suatu keputusan berkata: "Saya akan menuduh Muhammad saw dengan seorang penyair", oleh karenanya turun ayat 41 surah Al-Haqqah: «وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ»; Dan ia (Alquran) bukan perkataan seorang penyair".[32]

Wafat

Hanya berselang 7 hari setelah peristiwa Perang Badar usai, Abu Lahab meninggal dunia. [33] Dikarenakan khawatir penyakit Abu Lahab menular, oleh kaum Quraisy jasad Abu Lahab dibawa keluar kota Mekah dan dikuburkan diantara tumpukan batu. [34]Ibnu Batutah menyebutkan kuburan Abu Lahab dan istrinya berada di luar Mekah dimana orang-orang yang lewat melemparinya dengan batu.[35]

Sebab-sebab Permusuhan dengan Islam

Mengenai sebab permusuhan Abu Lahab dengan Nabi saw dapat disebut beberapa alasan:

  • Persaingan dengan Abu Thalib: setelah Abdul Muththalib, Abu Thalib menjadi kepala Bani Hasyim dan melindungi Nabi saw. Penukilan-penukilan historis menunjukkan bahwa Abu Lahab dan Abu Thalib tidak meiliki hubungan yang baik.[36]
  • Fanatik dan kecenderungan-kecenderungan kabilah: istri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb, adalah saudari Abu Sufyan dan dari Bani Umayyah. Oleh karenanya, Abu Lahab melindungi Bani Umayyah.[37] Dari sisi lain ibunya berasal dari kabilah Khuza'ah yang memiliki kedengkian kepada Quraisy
  • Takut berperang dengan Arab: Abu Lahab meyakini bahwa penerimaan Islam berarti pengumuman perang dengan semua Arab.[38]

Istri dan Keturunan Abu Lahab

Ummu Jamil adalah istri Abu Lahab, putri Harb bin Umayyah dan saudari Abu Sufyan. Ia berperan banyak dalam mengganggu dan menyakiti Nabi Islam saw.

Abu Lahab mempunyai 3 putra dengan nama-nama: 'Utabah, Mu'attib dan 'Utaibah dan putri-putri dengan nama-nama: Durrah,[39] Izzah dan Khalidah.[40]

'Utabah dan 'Utaibah menikah dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum dua putri Nabi saw.[41]Setelah turun surah Al-Masad Abu Lahab dan Ummu Jamil[42]mamaksa putra-putra mereka untuk mentalak putri-putri Nabi.[43]

Terkait 'Utabah dilaporkan bahwa ia bersikap kurang ajar kepada Nabi saw dan Nabi pun mengutuknya. Dalam perjalanan berniaga, di tengah malam ia dibunuh oleh seekor singa kala ia dalam keadaan tidur diantara rombongan, tanpa singa itu melukai orang lain.[44]Dikatakan bahwa kejadian ini berkaitan dengan 'Utaibah atau Lahab bin Abi Lahab.[45]Atabah dan Mu'attib memeluk Islam pada Fathu Mekah dan ikut serta dalam Perang Hunain ref>Thabari, Tarikh, jld. 11, hlm. 530</ref> dan Thaif.[46] Dua orang ini tergolong dari mereka yang tidak melarikan diri di Perang Hunain dari sekitar Rasulullah saw.[47]

Durrah binti Abi Lahab meriwayatkan hadis dari Nabi saw.[48] Ketika Durrah mengeluh kepada Nabi saw dari ejekan wanita-wanita Madinah, beliau menangkap mereka.[49]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 93.
  2. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 1, hlm. 115 dan 118.
  3. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, Dar al-Makrifah, jld. 1, hlm. 110
  4. Ibnu Habib, al-Munammaq, hlm. 423
  5. Ibnu Duraid, al-Isytiqāq, hlm. 121; Ibnu Habaib, hlm. 60-64, Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, hlm. 125; Thabari, Tārikh, jld. 1, hlm. 1134-1135.
  6. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 1, hlm. 108; Baldzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 96; Ya'kubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 9
  7. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.1, hlm.35
  8. Waqidi, al-Maghazi, jld.3, hlm. 874; Baldzuri,Ansab al-Asyraf, jld.1, hlm. 478
  9. Khushaibi, al-Hidayah al-Kubra, hlm. 46
  10. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm.131>
  11. Al-Majlisi, Biharul Anwar, jld.18, hlm. 203
  12. Ibnu Khaldun, Tarikh, jld. 3, hlm. 11
  13. Al-Majlisi, Biharul Anwar, jld.18, hlm. 202
  14. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld. 1, hlm. 78
  15. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 1, hlm. 371
  16. Al-Kulaini, al-Kafi, jld.8, hlm. 277
  17. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, hlm.210; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld.1, hlm.121
  18. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.19, 22
  19. Ibnu Saad,al-Thabaqat al-Kubra, jld.1, hlm.228
  20. Thabarsi, I'lam al-Wara, jld.1, hlm.145
  21. Quthbuddin al-Rawandi, al-Kharaij wa al-Jaraih, jld.1, hlm. 143
  22. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 292
  23. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.43
  24. Waqidi, al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 33.
  25. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.647
  26. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.1, hlm.74; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld.1, hlm.119; Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld.7, hlm. 223
  27. Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, jld.22, hlm.349-350
  28. Karaji, Kanz al-Fawaid, jld.1, hlm.178; Qutbuddin Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld.3, hlm. 1053
  29. Thabarsi, Majma' alBayan, jld.1, hlm.582
  30. Ibnu Babawaih, al-Khishal, jld.1, hlm. 279
  31. Wahidi, Asbab Nuzul Alquran, hlm.383
  32. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, jld.1, hlm.80
  33. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 2, hlm. 302; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 4, hlm. 74; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 131; Qas Mas'udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, 206.
  34. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 478; Abu al-Faraj, al-Aghāni, jld. 4, hlm. 206.
  35. Ibnu Batutah, Rihlah, jld.1, hlm. 382.
  36. Lihat: Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 130
  37. Syusytari, Ihqaq al-Haq, jdl.29, hlm.613
  38. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.43
  39. Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, hlm.72
  40. Ibnu Saad, Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.50
  41. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm. 36-37; Baladzuri, Ansab al-Arab, jld.1, hlm.122-123
  42. Al-Baladzuri, Ansab al-Arab, jld.1, hlm.122-123, 1-4
  43. Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.36-37
  44. Quthbuddin Rawandi, al-Kharaij wa al-Jaraih, jld.1, hlm.56; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.1, hlm.80; kedua-duanya dinukil dari Ahlusunnah
  45. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, jld.2, hlm. 338-339
  46. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.3, hlm.465
  47. Al-Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.141
  48. Thusi, Majma' al-Bayan, jld.2, hlm.7-8
  49. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.6, hlm.103

Daftar Pustaka

  • Al-Qur'an al-Majid.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah. Dar al-Fikr. Beirut: 1409 H/1989.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Al-Khishāl, Ali Akbar Ghaffari. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1404 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbār al-Ridha as. Nasyre Jahan. Teheran: 1420 H.
  • Ibnu Bathuthah, Muhammad bin Abdullah. Rihlah ibnu Bathuthah. Abdul Hadi al-Tazi. Akademiyah al-Mamlakah al-Maghribiyyah, Ribath,1417 H/1997.
  • Ibnu Habaib, Muhammad. Al-Manamaq fi Akhbār Quraisy. Riset: Khurshid Ahmad Faruq. Beirut: Alam al-Kitab, 1405 H/1985.
  • Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharatu Ansāb al-'Arab. Beirut: 1403 H/1983.

Ibnu Khaldun.Tarikh. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.

  • Ibnu Duraid, Muhammad bin Hasan. Al-Isytiqāq. Riset: Abdu al-Salam Muhammad Harun. Kairo: 1378 H/1958.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqāt al-Kubra. Diedit oleh Mustafa al-Saqqa dkk. Beirut: Dar Shadr, tanpa tahun.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manāqib Āl Abi Thalib. Qom: Allamah, 1421 H.
  • Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Ma'ārif. Riset: Tsarwat Akkasyeh. Kairo: 1960.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Mulk. Al-Sirah al-Nabawiyah. Riset: Mustafa al-Saqqa dkk. Kairo: Dar al-Makrifah, 1355 H/1936.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansāb al-Asyrāf. Riset: Muhammad Hamidullah. Kairo: 1959.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain. Dalāil al-Nubuwwah. Riset: Abdul Mu'thi Qal'aji. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1405 H/1985.
  • Hasani, Hasyim Makruf. Sirah al-Musthafa Nazhrah Jadidah. Beirut: Dar al-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1416 H/1996.
  • Khushaibi, Husain bin Hamdan. Al-Hidāyah al-Kubrā. Beirut: al-Balagh, 1419 H.
  • Syusytari, Nurullah bin Syarifuddin. Ihqāq al-Haq wa Izhāq al-Bathil. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1409 H.
  • Syaukani, Muhammad bin Ali. Fath al-Qadir. Damaskus: Dar ibnu Katsir, 1414 H/1994.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. I'lām al-Wara bi A'lām al-Huda. Qom: Muassasah Al al-Bait, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, tanpa tahun.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari, Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, tanpa tahun.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H/1999.
  • Quthbuddin Rawandi, Said bin Hibatullah. Al-Kharāij wa al-Jarāih. Qom: muassasah al-Imam al-Mahdi, 1409 H.
  • Karajaki, Muhammad bin Ali. Kanz al-Fawaid. Qom: Dar al-Zakhair, 1410 H.
  • Kalbi, Hiyam bin Muhammad. Jamharah al-Nasab. Riset: Naji Hasan. Beirut: 1407 H/1986.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Diedit oleh Ali Akbar Ghaffari dkk. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Wahidi, ali Ahmad. Asbāb Nuzul Alquran. Diteliti oleh Kamal Basyuni Zughlul. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H/1998.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghāzi. Riset: Marseden Jones. London, 1966.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq. Tārikh, Beirut, 1379 H/1960.