Lompat ke isi

Konsep:Roh Manusia

Dari wikishia

Templat:Artikel Terkait Roh Manusia adalah hakikat manusia dan sumber kemampuannya yang mana sebagian besar mutakalim (teolog) menganggapnya sebagai jasad halus sejenis udara yang mengalir di seluruh anggota tubuh. Beberapa mutakalim dan filsuf Muslim menyamakan antara roh dan nafsu (jiwa) nathiqah; namun, sebagian lain meyakini bahwa yang dimaksud dengan roh dalam sebagian besar pembahasan kalam dan filsafat adalah roh bukhari (perantara antara tubuh material dan jiwa mujarad/non-material). Dalam Al-Qur'an, roh disebutkan sebanyak 21 kali, di mana Ayat Ruh adalah yang paling penting di antaranya.

Para mutakalim dan filsuf Muslim menerima keberadaan roh manusia, dan sebagian besar filsuf serta beberapa mutakalim menganggapnya sebagai sesuatu yang non-material dan independen dari tubuh; namun sekelompok mutakalim dan ahli hadis serta semua kaum materialis, menolak adanya tajarrud (non-materialitas) roh. Menurut Allamah Majlisi, tidak ada dalil akal yang pasti tentang tajarrud atau materialitas roh, dan lahiriah ayat-ayat serta riwayat-riwayat menunjukkan bahwa ia bersifat material. Beberapa peneliti meyakini bahwa hakikat dan realitas manusia terletak pada dimensi spiritualnya (roh), dan tubuh hanya berperan sebagai alat atau sarana untuk aktivitas roh.

Keabadian roh setelah kematian dianggap sebagai bagian dari ajaran Al-Qur'an, prinsip-prinsip agama dan keberagamaan, serta salah satu persoalan yang pasti dalam filsafat Islam; namun, Syaikh al-Mufid menganggap bahwa kekekalan dan keabadian roh bertentangan dengan ayat 26 dan 27 Surah Ar-Rahman, dan menganggap hal itu sebagai pandangan para filsuf ateis dan penganut reinkarnasi (tanasukh).

Ada banyak buku yang ditulis dan diterbitkan tentang roh, di antaranya adalah Yas'alunaka 'an ar-Ruh karya Fakhruddin ar-Razi, Kitab ar-Ruh karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan Ishalah ar-Ruh az Nazhar-e Qur'an yang ditulis oleh Ja'far Subhani.

Kedudukan

Roh dianggap sebagai kata yang berkaitan dengan Al-Qur'an, hadis, dan ilmu kalam, di mana ia telah dibahas dalam Al-Qur'an dan tafsir, hadis-hadis, serta ilmu kalam.[1] Menurut beberapa mufasir, roh disebutkan sebanyak 21 kali dalam ayat-ayat Al-Qur'an.[2][3] Ayat 85 Surah Al-Isra' yang dikenal sebagai Ayat Ruh "وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي ...; Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhanku..." adalah ayat terpenting yang dijadikan dalil oleh sebagian besar mufasir dalam pembahasan mengenai roh yang bermakna roh manusia.[4] Menurut beberapa pakar filsafat, pentingnya dan nilai roh diuraikan dengan cara terbaik di dalam Al-Qur'an dan ayat-ayat yang turun mengenainya telah menyajikan informasi yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia semata.[5] Mengikuti ayat-ayat tersebut, kitab-kitab tafsir juga membahas roh di bawah ayat-ayat yang relevan.[6] Dalam sumber-sumber riwayat, terdapat bab-bab dan bagian yang dikhususkan untuk membahas roh dan isu-jisu yang berkaitan dengannya.[7]

Dikatakan bahwa para mutakalim Muslim awal, baik dari kalangan Syiah, Muktazilah, maupun Asy'ariyah, tidak mengkhususkan satu bagian tersendiri untuk membahas roh dalam karya-karya mereka; melainkan mereka membicarakannya di bawah pembahasan tentang kehidupan dan hakikat manusia. Namun, pembahasan tentang roh mendapat perhatian lebih besar dalam karya-karya mutakalim seperti Al-Ghazali, Fakhrurrazi, Khajah Nashiruddin al-Thusi, dan Allamah Hilli, di mana bab-bab bahkan risalah-risalah khusus ditulis tentang roh.[8] Menurut Sayid Muhammad Khamenei, seorang guru filsafat Islam dan Presiden Yayasan Hikmah Islam Sadra, di dalam filsafat lebih banyak dibahas mengenai jiwa (nafsu), dan roh tidak memiliki tempat yang signifikan dalam filsafat, serta tidak ada bab khusus yang diperuntukkan baginya.[9] Dalam fikih, roh juga dibahas dalam bab thaharah (bersuci), salat, tijarah (perdagangan), sayd wa dzabahah (berburu dan menyembelih), dan diyat.[10]

Hakikat manusia diartikan sebagai roh atau jiwanya[11] dan dikatakan bahwa roh adalah dasar keunggulan dan perbedaan manusia dari hewan lain serta menjadi sumber dari seluruh kemampuan dan aktivitasnya.[12] Dalam sebuah riwayat, roh manusia dianggap berasal dari alam malakut dan merupakan perwujudan dari kekuasaan Allah.[13] Dalam beberapa ayat Al-Qur'an,[14] roh manusia disandarkan (di-idhafah-kan) pada Allah, yang dianggap sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadapnya.[15] Templat:Kutipan Keyakinan akan adanya roh dianggap sebagai salah satu kepercayaan kuno umat manusia dan diyakini telah ada sejak lima ribu tahun sebelum Masehi. Orang-orang Mesir, India, dan Tiongkok (pengikut Konghucu) termasuk di antara mereka yang percaya pada roh sebelum kelahiran Kristus.[16]

Roh juga disebut dengan kata-kata seperti hati,[17] jiwa, dan nyawa.[18]

Terminologi

Dikatakan bahwa dalam ajaran Islam, tidak ada definisi khusus yang diberikan untuk roh, dan hanya keberadaannya yang ditegaskan.[19] Berdasarkan klaim al-Tahanawi dalam kitab Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum, banyak ilmuwan dan mutakalim mengatakan bahwa kita tidak mengetahui hakikat roh, dan roh adalah salah satu hal yang mana manusia tidak mengetahui hakikatnya, meskipun mereka yakin akan keberadaannya.[20] Menurut Mulla Ahmad Naraqi, karena roh bersifat mujarad (non-materi), maka hakikatnya tidak dapat dipahami. Oleh karena itu, ketika ditanya tentang roh kepada Nabi Muhammad saw, Allah berfirman: "...قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي; katakanlah bahwa roh itu dari urusan Tuhanku"; namun, jika seseorang menyempurnakan jiwanya dan keterkaitan serta hubungannya dengan tubuh telah berkurang, ia dapat memahaminya secara global.[21]

Menurut Allamah Majlisi, roh adalah lafaz yang memiliki banyak makna (musytarak lafzhi), dan untuk itu telah disebutkan sepuluh makna: Wahyu, Jibril, Isa (as), Ismul A'zam, malaikat yang berpostur sangat besar ('azhim al-juts-tsah), rahmat, kenyamanan, Injil, Al-Qur'an, kehidupan atau sumber kehidupan.[22] Untuk roh, telah disebutkan hingga 28[23] dan seratus makna dan definisi.[24]

Sayid Muhammad Khamenei berpendapat bahwa akibat masuknya filsafat Yunani ke negara-negara Islam, muncul semacam kekacauan di antara istilah-istilah Al-Qur'an dan Islam. Para mutakalim dan filsuf Muslim tidak mampu membuat batasan dan pembedaan yang jelas antara jiwa (nafsu) dan roh dalam Al-Qur'an serta filsafat, dan beberapa tokoh seperti Syekh Shaduq menganggap keduanya secara mutlak sebagai satu kesatuan.[25]

Pandangan Para Mutakalim

Menurut Fadhl bin Hasan Thabarsi[26] dan Allamah Majlisi,[27] sebagian besar mutakalim, termasuk Sayid Murtadha, meyakini bahwa roh adalah materi yang sangat halus dan ringan sejenis udara yang mengalir di saluran-saluran dan pori-pori tubuh. Hubungan materi halus ini dengan tubuh diibaratkan seperti mengalirnya air mawar dalam bunga mawar atau minyak wijen dalam biji wijen.[28] Beberapa pihak menganggap roh sebagai benda halus, bersifat malakuti, dan bercahaya, yang hakikat serta cara keterikatannya dengan tubuh tidak jelas bagi siapa pun kecuali bagi Allah dan para wali-Nya.[29]

Menurut penulis entri "Roh" dalam Ensiklopedia Dunia Islam,[30] sebagian besar mutakalim[31] menggunakan istilah roh dan jiwa (nafsu) manusia dengan makna yang sama; namun, menurut Sayid Muhammad Khamenei, yang dimaksud dengan roh dalam ilmu kalam pada sebagian besar kasus adalah roh bukhari, dan kadang-kadang juga digunakan dalam arti kehidupan.[32]

Syekh Shaduq menganggap roh sebagai asal dan penyebab kehidupan.[33] Syaikh al-Mufid dalam kitab Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah, dengan menolak kesamaan antara jiwa dan roh, menyebutkan empat makna independen untuk roh, yaitu: kehidupan, Al-Qur'an, Jibril, dan salah satu dari para malaikat.[34] Tentu saja, dikatakan bahwa berdasarkan ungkapan Syekh Mufid sendiri dan hal-hal yang diriwayatkan darinya,[35] ia menganggap roh dan jiwa sebagai sinonim.[36]

Allamah Majlisi meyakini bahwa roh kadang-kadang merujuk pada jiwa nathiqah dan kadang-kadang merujuk pada roh hewani yang berupa uap halus yang mengalir dari jantung ke seluruh bagian tubuh. Menurutnya, riwayat-riwayat yang ada selaras dengan kedua makna tersebut; namun, lebih sesuai dengan makna yang kedua.[37]

Muhammad Asif Mohseni, salah seorang marja taklid dari Afganistan sekaligus penulis buku-buku teologi dan hadis, menganggap adanya perbedaan antara roh dan jiwa (nafsu) nathiqah sebagai sebuah kesalahan dan bertentangan dengan fitrah/hati nurani (wijdan).[38]

Pandangan Para Filsuf

Beberapa filsuf Muslim juga menggunakan istilah roh dan jiwa (nafsu) manusia dengan makna yang sama.[39] Menurut penulis entri "Roh" dalam Ensiklopedia Dunia Islam, Khajah Nashiruddin al-Thusi menisbatkan pembedaan antara jiwa dan roh kepada para filsuf. Berdasarkan pandangan para filsuf, jiwa (nafsu) adalah substansi (jauhar) yang basith (sederhana/tidak tersusun) dan mujarad (non-materi) yang terikat pada tubuh, sedangkan roh adalah benda yang tersusun dari uap dan asap yang berasal dari darah di dalam pembuluh darah.[40] Namun, Khajah Nashiruddin al-Thusi mendefinisikan roh sebagai berikut: Sebuah substansi yang ketika manusia menunjuk dirinya sendiri, ia menyebutnya "Aku", substansi ini memiliki sifat mengetahui, dan tubuh beserta anggota-anggotanya dianggap sebagai alat kerjanya.[41]

Menurut Sayid Muhammad Khamenei, roh dalam filsafat digunakan dalam beberapa makna:

  1. Roh Bukhari: Panas dan uap yang menurut para dokter Yunani kuno mengalir dari jantung ke seluruh tubuh dan merupakan perantara antara tubuh material dan jiwa nathiqah yang mujarad.
  2. Roh dalam arti kehidupan yang menjadi penyebab gerakan dan tindakan hewani, dan ini disebut kekuatan hewani dan roh hewani.
  3. Roh dalam arti jiwa (nafsu) nathiqah yang merupakan substansi mujarad.[42]

Menurut Khamenei, dalam terminologi filsafat, makna pertama (roh bukhari) adalah yang umum dipakai, sedangkan penggunaan roh dengan arti jiwa nathiqah tidak umum dan tidak populer; tetapi karena adanya kerancuan antara keduanya, terkadang kedua istilah ini digunakan secara bergantian.[43] Dikatakan bahwa dalam sebagian besar buku Mulla Sadra[44] juga, roh digunakan dengan makna roh bukhari, dan mengikuti filsafat Yunani, ia menyebut hakikat manusia sebagai jiwa (nafsu). Meskipun demikian, Mulla Sadra dalam beberapa kasus, dan mengikuti Al-Qur'an serta riwayat,[45] juga menyebut jiwa nathiqah manusia dengan sebutan roh.[46]

Gholamreza Fayyadhi, salah satu pengajar filsafat Islam di Hauzoh Ilmiah Qom, berpendapat bahwa manusia dan hewan memiliki dua jiwa: jiwa mujarad (non-materi) dan jiwa materi (jiwa nabati). Jiwa mujarad adalah roh yang memiliki persepsi dan kesadaran, yang tetap ada setelah terpisah dari tubuh dan akan dibangkitkan pada hari kiamat (ma'ad). Ia meyakini bahwa pandangan ini sejalan dengan riwayat-riwayat[47] yang menunjukkan bahwa manusia memiliki dua jiwa: jiwa yang menyertai manusia saat tidur dan jiwa yang berpisah dari tubuh, yang merupakan roh mujarad tersebut.[48]

Menurut Sayid Ismail Nuri Thabarsi dalam kitab Kifayah al-Muwahhidin, hakikat manusia dalam filsafat disebut jiwa (nafsu), sedangkan dalam Al-Qur'an dan riwayat disebut roh.[49]

Templat:Kutipan

Pandangan Para Arif

Roh dalam Irfan disebut "Nafas Rahmani", yaitu nafas yang menjadi sumber keberadaan alam semesta, dan tiupan atau hembusan dari nafas ini menciptakan makhluk-makhluk di dunia. Oleh karena itu, para arif (ahli irfan) menggunakan kata roh untuk segala hal yang dapat memberikan kehidupan pada hati para arif.[50] Mu'ayyiduddin al-Jandi, seorang arif abad ketujuh Hijriah, mengatakan bahwa roh adalah Nafas Rahmani itu sendiri, yang membawa esensi segala sesuatu yang mungkin ke alam nyata dan merupakan hakikat dari semua manifestasi serta potensi makhluk yang mungkin.[51] Dalam Irfan, roh dibagi menjadi dua jenis: ciptaan khusus Tuhan yang menjadi penggerak utama makhluk-makhluk dan peristiwa utama di dunia, serta roh ciptaan yang ditiupkan ke dalam diri Adam as dan Isa as.[52] Dalam Irfan, sangat jarang dibahas tentang roh bukhari.[53] Menurut Sayid Muhammad Khamenei, sangat jarang ditemukan perbedaan antara pandangan para arif dan sufi dengan Al-Qur'an.[54]

Alasan Penamaan

Mengenai alasan penamaan roh, dikatakan bahwa roh dan rih (yang berarti angin) berasal dari akar kata dan makna yang sama. Alasan mengapa roh manusia diberi nama ini adalah karena dari segi mobilitas, kemampuan memberikan kehidupan, serta sifatnya yang tidak kasatmata, roh memiliki kesamaan dengan angin.[55] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, disebutkan mengenai pergerakan roh yang menyerupai angin, serta alasan penamaannya, bahwa kata tersebut merupakan turunan dari kata rih (angin).[56]

Hadis tentang Penciptaan Roh Sebelum Tubuh

Berdasarkan banyak hadis, roh manusia diciptakan dua ribu tahun sebelum tubuh mereka.[57] Dalam beberapa hadis, disebutkan secara khusus tentang roh orang-orang Syiah.[58] Allamah Majlisi[59] menganggap hadis-hadis ini mendekati derajat mutawatir dan Mulla Sadra[60] karena banyaknya jumlah hadis tersebut, menganggap penciptaan roh sebelum tubuh sebagai bagian dari prinsip-prinsip mendasar dalam mazhab Imamiyah. Sebagian filsuf dan mutakalim Muslim[61] seperti Syekh Shaduq[62] menerima hadis-hadis ini, sementara sebagian lain seperti Syaikh al-Mufid,[63] menolaknya dengan alasan bahwa riwayat-riwayat itu adalah khabar ahad (hadis ahad). Mengutip perkataan Gholamreza Fayyadhi, sebagian besar filsuf Muslim sebelum Mulla Sadra, seperti Ibnu Sina, menganggap penciptaan roh sebelum tubuh sebagai suatu hal yang mustahil. Mereka meyakini bahwa roh setiap manusia diciptakan pada saat tubuhnya telah terbentuk sempurna dan siap untuk menerima roh tersebut.[64] Menurut Mohseni Qandahari, riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan pandangan Mulla Sadra yang meyakini bahwa roh pada awalnya tercipta dalam bentuk materi dan secara bertahap menjadi spiritual dan mujarad (jusmaniyyatul huduts wa ruhaniyyatul baqa).[65] Orang-orang yang menolak gagasan penciptaan roh sebelum tubuh memberikan beberapa pembenaran (tawjih) berikut untuk hadis-hadis tersebut:

  1. Beberapa pihak seperti Syaikh al-Mufid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "arwah" (roh-roh) dalam riwayat tersebut adalah malaikat. Oleh karena itu, malaikatlah yang diciptakan dua ribu tahun sebelum manusia.[66]
  2. Mulla Sadra, meskipun menerima keabsahan riwayat-riwayat tersebut, ia mengkhususkannya hanya untuk roh-roh manusia paripurna (insan kamil), yaitu para nabi dan Imam Maksum as.[67]
  3. Dikatakan bahwa maksud dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa Tuhan merancang dan meletakkan dasar roh dalam ilmu-Nya, kemudian Dia menciptakan tubuh-tubuh, dan setelah itu menciptakan roh untuk tubuh-tubuh tersebut.[68]

Gholamreza Fayyadhi berpendapat bahwa ketiga pembenaran ini tidak sesuai dengan zhahir (makna harfiah) dan ungkapan-ungkapan dari riwayat-riwayat tersebut.[69] Dikatakan bahwa maksud dari "dua ribu tahun" tidak jelas apakah itu berarti tahun seperti yang dikenal di dunia ini atau memiliki arti lain.[70] Dari riwayat-riwayat ini, dapat disimpulkan beberapa poin berikut:

  • Roh-roh sebelum penciptaan tubuh, terbagi dalam kelompok-kelompok, dan ada kelompok yang saling mengenal dan memiliki keakraban, sementara kelompok lain saling membenci;
  • Roh-roh memiliki tingkatan, dan tingkatan tertinggi adalah milik roh Nabi Muhammad saw, para Imam as, dan para nabi as;
  • Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as diperkenalkan kepada semua roh, khususnya roh orang-orang Syiah;
  • Di alam roh, terdapat kewajiban/taklif untuk beriman dan kufur, sehingga ada sebagian roh yang beriman dan sebagian lagi kafir;
  • Roh-roh hidup tanpa adanya keterikatan dan hubungan dengan tubuh.[71]

Telah diklaim bahwa semua mutakalim Muslim sepakat bahwa roh bersifat hadis (baru ada/diciptakan), berbeda dengan pendapat Plato dan pengikutnya yang menganggap roh bersifat qadim (telah ada sejak awal).[72]

Argumen Pembuktian Roh Manusia

Dikatakan bahwa semua cendekiawan Muslim mengakui keberadaan roh dan menganggapnya sebagai sesuatu yang berbeda dari tubuh.[73] Untuk membuktikan adanya roh manusia dan perbedaannya dengan tubuh, berbagai dalil dan bukti telah diajukan,[74] beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Setiap manusia, secara tidak sadar, menisbatkan anggota tubuh dan bahkan tubuhnya sendiri pada suatu realitas lain di luar tubuh yang disebut "aku", dan berkata, "tanganku, otakku, dan tubuhku." Penisbatan ini menunjukkan bahwa setiap individu menganggap dirinya bergantung pada suatu realitas lain yang berbeda dari identitas material dan fisiknya. Realitas ini tetap konstan meskipun semua perubahan pada tubuh dan anggota-anggotanya terjadi, dan itulah roh.[75]
  2. Mimpi yang benar dan ru'ya shadiqah yang memberitahukan hal-hal tersembunyi atau peristiwa masa depan, yang kemudian terbukti kebenarannya, dianggap sebagai bukti keberadaan roh.[76]
  3. Laporan dari orang-orang yang secara medis telah dinyatakan meninggal, tetapi setelah mendapat perawatan medis kembali hidup dan menceritakan tentang alam roh serta perpisahan dari tubuh (pengalaman mendekati kematian). Menurut sebagian orang, laporan-laporan ini secara pasti membuktikan keberadaan roh.[77]

Kaum materialis menolak keberadaan roh yang independen dan mujarad, dan mereka menisbatkan pikiran, kemauan, serta sifat-sifat mental dan kejiwaan lainnya kepada saraf dan sel-sel otak.[78]

Tajarrud Roh (Non-Materialitas Roh)

Templat:Artikel Utama Diriwayatkan bahwa sebagian besar filsuf Muslim meyakini tajarrud dan sifat non-material roh,[79] dan mereka telah menyajikan berbagai argumen untuk membuktikannya.[80] Beberapa mutakalim[81] seperti Syekh Shaduq dan Syaikh al-Mufid,[82] Keluarga Nawbakhti,[83] sebagian kelompok Muktazilah,[84] dan juga ulama akhlak seperti Mulla Ahmad Naraqi[85] juga meyakini tajarrud roh. Ayat 10 dan 11 Surah As-Sajdah serta ayat 42 Surah Az-Zumar dianggap sebagai ayat-ayat yang menunjukkan tajarrud roh.[86] Menurut Naser Makarem Shirazi, penulis Tafsir Nemuneh, roh adalah hakikat yang berada di atas alam materi dan berbeda dari materi, di mana prinsip-prinsip yang mengatur padanya berbeda dengan prinsip-prinsip yang mengatur materi serta sifat fisika dan kimia. Oleh karena itu, dalam ayat 85 Surah Al-Isra', roh dianggap berasal dari Alam Amr dan merupakan suatu ciptaan yang penuh rahasia.[87] Sayid Ali Akbar Qarasyi dalam Qamus Qur'an menganggap independensi roh dari tubuh sebagai salah satu hal yang mutlak (dharuriyat) dalam Islam, dan ia percaya bahwa banyak masalah penting Islam bergantung pada roh yang independen ini.[88]

Sebagian mutakalim dan ahli hadis serta semua kaum materialis menolak tajarrud roh.[89] Allamah Majlisi mengatakan bahwa tidak ada bukti rasional yang pasti mengenai apakah roh itu tajarrud (non-materi) atau material, dan makna lahiriah dari ayat-ayat serta riwayat menunjukkan bahwa roh bersifat material.[90] Sebagian tokoh yang menolak tajarrud roh, menganggapnya sebagai jasad yang halus dan bercahaya. Mereka berpendapat bahwa tak satu pun dari argumen mengenai tajarrud roh benar-benar membuktikan hal tersebut; melainkan apa yang dapat dipahami dari argumen-argumen tersebut serta dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat adalah bahwa roh bukan berasal dari jasad-jasad material yang mengandung unsur fisik.[91] Muhammad Shadiqi Tehrani, seorang mufasir Syiah abad keempat belas Hijriah Syamsiah, dengan menolak tajarrud roh, mengatakan bahwa Al-Qur'an, Sunah, Akal, indra, dan ilmu pengetahuan dengan jelas menunjukkan pada materialitas roh. Menurutnya, berdasarkan ayat-ayat yang menyatakan manusia berasal dari tanah, roh manusia juga berasal dari tanah dan merupakan intisari dari otak, dada, dan jantung manusia; sebagaimana roh hewani manusia juga merupakan intisari dari organ-organ sensitif tubuhnya.[92]

Hubungan Roh dan Tubuh

Dikatakan bahwa hubungan roh dengan tubuh adalah hubungan tadbiri (pengaturan), di mana roh adalah pengatur tubuh.[93] Menurut Ja'far Subhani, seorang mutakalim Syiah abad keempat belas Hijriah Syamsiah, dari sudut pandang filsafat Islam, roh adalah wujud yang mandiri yang, hingga mencapai tajarrud secara sempurna, tidak akan pernah terlepas dari tubuh, baik itu tubuh fisik maupun tubuh mitsali (badan barzakh). Di dunia ini, roh beraktivitas melalui anggota tubuh seperti mata dan telinga, dan setelah matinya tubuh fisik, roh melanjutkan aktivitasnya dengan menggunakan tubuh yang lebih halus daripada tubuh fisik, yaitu tubuh mitsali.[94] Menurut beberapa peneliti, berdasarkan ajaran agama, sudah pasti bahwa manusia terdiri dari roh dan tubuh, di mana masing-masing dapat ada secara mandiri. Berdasarkan ijmak (kesepakatan) umat Islam, kemandirian dan terpisahnya roh dari tubuh ini terwujud di alam barzakh.[95]

Muhammad Asif Mohseni secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya belum memahami hakikat hubungan antara roh dan tubuh.[96]

Keabadian Roh Setelah Kematian

Templat:Artikel Utama Keabadian roh setelah kematian dan perpisahannya dari tubuh dianggap sebagai salah satu ajaran penting Al-Qur'an[97] dan termasuk dalam prinsip-prinsip akidah agama dan keberagamaan.[98] Menurut Ja'far Subhani, keabadian roh setelah kematian telah menjadi masalah yang pasti dalam filsafat Islam, dan semua filsuf besar Muslim seperti Ibnu Sina, Syaikh Isyraq, dan Mulla Sadra meyakininya.[99] Beberapa mutakalim Syiah seperti Syekh Shaduq[100] juga meyakini bahwa roh adalah abadi dan tidak musnah dengan kematian tubuh. Sebaliknya, Syaikh al-Mufid menganggap kelangsungan dan keabadian roh bertentangan dengan ayat-ayat seperti "كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ; Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan",[101] dan memandang hal ini sebagai pandangan para filsuf ateis dan penganut konsep reinkarnasi (tanasukh).[102] Menurut Hasan Moallemi, bertentangan dengan makna lahiriah dari ungkapan Syaikh al-Mufid, seluruh cendekiawan Muslim memandang roh dan jiwa sebagai sesuatu yang kekal dan abadi.[103]

Fakhrurrazi dalam "Tafsir Al-Kabir" miliknya, merujuk pada ayat "كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْت‏; Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati",[104] menganggap pandangan para filsuf tentang keabadian dan ketidakmatian roh manusia sebagai pandangan yang batil.[105]

Menurut Naser Makarem Shirazi, ayat 11 Surah As-Sajdah (قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ) yang dengan menggunakan frasa "tawaffa" menunjukkan terjadinya pencabutan roh, membuktikan bahwa roh memiliki kemandirian dan tetap ada setelah berpisah dari tubuh.[106] Ayatullah Subhani juga meyakini bahwa ayat 154 Surah Al-Baqarah, ayat 25-27 Surah Yasin, dan ayat 25 Surah Nuh secara eksplisit menunjukkan pada keabadian roh setelah kematian.[107]

Berkomunikasi dengan Roh

Templat:Artikel Utama Ja'far Subhani, seorang mutakalim Syiah, berpendapat bahwa komunikasi dengan roh orang-orang yang telah meninggal adalah sesuatu yang mungkin, dan beberapa ayat seperti ayat 169-171 Surah Ali 'Imran, ayat 79 dan 93 Surah Al-A'raf, serta ayat 45 Surah Az-Zukhruf, bersama dengan berbagai riwayat, menjadi bukti atas kemungkinan komunikasi ini.[108] Menurutnya, mengingkari adanya komunikasi ini bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, sunah Islam yang mutlak, serta hadis-hadis mutawatir.[109] Terdapat perbedaan pendapat mengenai keharaman atau kebolehan memanggil roh, asalkan tidak melibatkan hal-hal yang diharamkan seperti menyakiti atau merugikan orang mukmin.[110]

Apabila komunikasi dengan roh orang mati itu nyata, hal ini dianggap sebagai indikasi (tanda) dari sifat tajarrud (non-materialitas) roh dan adanya kehidupan setelah kematian.[111]

Bibliografi

Buku Ruh wa Nafs (Roh dan Jiwa), karya Sayid Muhammad Khamenei.

Banyak karya dengan berbagai pendekatan telah diterbitkan mengenai topik roh. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Yas'alunaka 'an ar-Ruh karya Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H), buku ini, yang diambil dari kitab tafsir Mafatih al-Ghaib karya Fakhrurrazi, telah diterbitkan oleh Maktabah al-Qur'an di Kairo.
  • Kitab ar-Ruh karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), Mekah, Dar 'Alam al-Fawa'id, cetakan pertama, 1432 H. Dengan bersandar pada ayat dan riwayat, penulis mengemukakan masalah-masalah terkait roh seperti konsep roh, apakah roh itu abadi atau fana, serta siksa kubur dan alam barzakh.[112]
  • Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an (Keaslian Roh dari Sudut Pandang Al-Qur'an), Ja'far Subhani, Qom, Muassasah Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1393 HS. Dalam buku ini, penulis membahas persoalan-persoalan terkait roh dalam dua belas bagian dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an. Hubungan roh dengan tubuh, tajarrud (kemurnian/sifat abstrak) roh, dan keabadian roh adalah beberapa topik yang dibahas dalam buku ini.[113]
  • Nafs wa Ruh dar Falsafeh Eslami wa Ayat wa Rawayat (Nafsu/Jiwa dan Roh dalam Filsafat Islam serta Ayat dan Riwayat), karya Hasan Moallemi, Teheran, Pajouhesygah Farhang wa Andisyeh Eslami, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Mausu'ah al-Ruh (Ensiklopedi Roh), karya Ali bin Sa'id al-'Ubaidi. Buku ini berbahasa Arab dan diterbitkan dalam empat jilid oleh Muassasah al-Durar al-Saniyyah. Jilid pertama membahas pandangan Ahlusunah, jilid kedua mengulas pandangan mutakalim dan filsuf, jilid ketiga membahas pandangan Ahli Kitab dan agama-agama lain, serta jilid keempat membahas pandangan aliran-aliran (sekte) kontemporer.[114]

Buku-buku lain yang telah diterbitkan mengenai roh di antaranya adalah: Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid (Roh dari Sudut Pandang Agama, Akal, dan Ilmu Spiritual Modern) karya Mohseni Qandahari, Haqiqat-e Ruh; Danesy-e Andak az 'Elm al-Arwah (Hakikat Roh; Pengetahuan yang Sedikit tentang Ilmu Roh) karya Ahmad Zomorrodian, Ruh wa Nafs (Roh dan Jiwa) karya Sayid Muhammad Khamenei, dan Al-Ruh fi Dirasat al-Mutakallimin wa al-Falasifah (Roh dalam Kajian Para Mutakalim dan Filsuf) karya Muhammad Sayyid Ahmad al-Musir. Selain itu, beberapa buku dengan judul Yas'alunaka 'an ar-Ruh juga telah diterbitkan dalam bahasa Arab oleh berbagai penulis dan penerbit.[115]

Catatan Kaki

  1. Lihat: Syafi'i, "Ruh", hlm. 414-420; Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 420-422.
  2. Sebagai contoh lihat: Surah Al-Isra', ayat 85; Surah An-Nisa', ayat 171; Surah Al-Hijr, ayat 29; Surah Shad, ayat 72; Surah As-Sajdah, ayat 9; Surah An-Naba', ayat 38.
  3. Shadeqi Tehrani, Tarjuman Furqan, 1388 HS, jld. 3, hlm. 161; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 112; Qarasyi, Qamus Qur'an, 1371 HS, jld. 3, hlm. 131.
  4. Syafi'i, "Ruh", hlm. 416.
  5. Moallemi, Nafs wa Ruh dar Falsafeh Eslami wa Ayat wa Rawayat, 1396 HS, hlm. 59.
  6. Sebagai contoh lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 674 dan 675; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 21, hlm. 391-405; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 195-200; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 250-269.
  7. Sebagai contoh lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 133 dan 134, 273 dan 274; Saffar, Bashair al-Darajat, 1404 H, hlm. 445-464; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 1-150.
  8. Lihat: Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 420.
  9. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 82-89.
  10. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1385 HS, jld. 4, hlm. 155 dan 156.
  11. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, Penerbit Hejrat, hlm. 19.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 252.
  13. Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, 1380 HS, jld. 2, hlm. 317.
  14. Lihat: Surah Shad, ayat 72; Surah As-Sajdah, ayat 9; Surah Al-Hijr, ayat 29.
  15. Lihat: Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 6, hlm. 332; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 516; Suhrawardi, Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh Isyraq, Teheran, jld. 3, hlm. 127.
  16. Kasyif al-Ghitha', Al-Barzakh wa al-Ruh bayna al-Ilahiyyin wa al-Madiyyin, 2002 M, hlm. 27.
  17. Mohseni Qandahari, Wazhayif-e A'zha-ye Badan, 1374 HS, hlm. 44.
  18. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 255; Zomorrodian, Haqiqat-e Ruh, 1383 HS, hlm. 37.
  19. Kasyif al-Ghitha', Al-Barzakh wa al-Ruh bayna al-Ilahiyyin wa al-Madiyyin, 2002 M, hlm. 27.
  20. Tahanawi, Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 875.
  21. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, Penerbit Hejrat, hlm. 19.
  22. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 101.
  23. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 19-23.
  24. Tahanawi, Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 876.
  25. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 10-13.
  26. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 675.
  27. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 2.
  28. Nuri Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 283.
  29. Nuri Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 282 dan 283.
  30. Hadian, "Ruh: dar Kalam", hlm. 420.
  31. Sebagai contoh lihat: Shaduq, Al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 47; Fayyadh Lahiji, Gauhar-e Murad, 1383 HS, hlm. 144, 596-599; Nuri Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 282-284; Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 9-11.
  32. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 90.
  33. Syekh Shaduq, Al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 47.
  34. Mufid, Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah, 1413 H, hlm. 79 dan 80.
  35. Sebagai contoh lihat: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 83 dan 86.
  36. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 156, 162, dan 163.
  37. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 29.
  38. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 16 dan 382.
  39. Sebagai contoh lihat: Suhrawardi, Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh Isyraq, Teheran, jld. 3, hlm. 127; Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 65-70.
  40. Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 420.
  41. Fadhil Miqdad, Al-Anwar al-Jalaliyyah fi Syarh al-Fushul al-Nashiriyyah, 1420 H, hlm. 174-177; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 87.
  42. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 82-89.
  43. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 89 dan 90.
  44. Sebagai contoh lihat: Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 9, hlm. 74.
  45. Sebagai contoh lihat: Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 8, hlm. 304.
  46. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 112.
  47. Sebagai contoh lihat: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 27, hlm. 41, hadis 12 dan hlm. 43, hadis 19.
  48. Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 244.
  49. Nuri Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 282 dan 283.
  50. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 102.
  51. Jandi, Syarh Fushul al-Hikam, 1361 HS, hlm. 83.
  52. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 103.
  53. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 102.
  54. Khamenei, Ruh wa Nafs, 1387 HS, hlm. 101 dan 102.
  55. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 250.
  56. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 133, hadis 3.
  57. Sebagai contoh lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 438; Saffar, Bashair al-Darajat, 1404 H, hlm. 87-89 dan 355-357; Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, 1380 HS, jld. 2, hlm. 249.
  58. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 438; Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 135, hadis 16; Saffar, Bashair al-Darajat, 1404 H, hlm. 89, hadis 1; Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 181.
  59. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 141.
  60. Mulla Sadra, Al-'Arsyiyyah, hlm. 239.
  61. Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 294 dan 422.
  62. Syekh Shaduq, Al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 47; McDermott, Andisyeh-haye Kalami-ye Syaikh Mufid, 1372 HS, hlm. 479.
  63. Mufid, Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah, 1413 H, hlm. 80 dan 81.
  64. Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 295.
  65. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 89.
  66. Mufid, Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah, 1413 H, hlm. 81; Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 416.
  67. Mulla Sadra, Majmu'eh Rasa'il-e Falsafi-ye Sadrul Muta'allihin, 1420 H, hlm. 121; Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 417.
  68. McDermott, Andisyeh-haye Kalami-ye Syaikh Mufid, 1372 HS, hlm. 482.
  69. Fayyadhi, Ilm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 417.
  70. Bayabani Oskoui, "Ensan dar 'Alam-e Azhillah wa Arwah: Ayat wa Ahadits", hlm. 16.
  71. Bayabani Oskoui, "Ensan dar 'Alam-e Azhillah wa Arwah: Ayat wa Ahadits", hlm. 16 dan 17.
  72. Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 421.
  73. Moallemi, Nafs wa Ruh dar Falsafeh Eslami wa Ayat wa Rawayat, 1396 HS, hlm. 126.
  74. Sebagai contoh lihat: Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 10-15; Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 16-20.
  75. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 17 dan 18.
  76. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 10.
  77. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 11, 12, dan 286.
  78. Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 9; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 257; Kasyif al-Ghitha', Al-Barzakh wa al-Ruh bayna al-Ilahiyyin wa al-Madiyyin, 2002 M, hlm. 38.
  79. Lihat: Tahanawi, Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 878; Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 283.
  80. Sebagai contoh lihat: Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 36-41; Mohseni Qandahari, Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid, 1376 HS, hlm. 44-53.
  81. Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 421.
  82. McDermott, Andisyeh-haye Kalami-ye Syaikh Mufid, 1372 HS, hlm. 483.
  83. Hadian, "Ruh; dar Kalam", hlm. 421.
  84. Tahanawi, Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 878.
  85. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, Penerbit Hejrat, hlm. 19-21.
  86. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 43-46.
  87. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 252.
  88. Qarasyi, Qamus Qur'an, 1371 HS, jld. 3, hlm. 139.
  89. Lihat: Thabathaba'i, Tarjumeh Tafsir al-Mizan, 1374 HS, jld. 1, hlm. 551.
  90. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 58, hlm. 104.
  91. Nuri Thabarsi, Kifayah al-Muwahhidin, Penerbit Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 282 dan 283.
  92. Shadeqi Tehrani, Tarjuman Furqan, 1388 HS, jld. 3, hlm. 163 dan 164.
  93. Mohseni Qandahari, Wazhayif-e A'zha-ye Badan, 1374 HS, hlm. 45.
  94. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 12.
  95. Bayabani Oskoui, "Ensan dar 'Alam-e Azhillah wa Arwah: Ayat wa Ahadits", hlm. 10.
  96. Mohseni Qandahari, Wazhayif-e A'zha-ye Badan, 1374 HS, hlm. 45.
  97. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 47.
  98. Zomorrodian, Haqiqat-e Ruh, 1383 HS, hlm. 88 dan 89.
  99. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 49.
  100. Syekh Shaduq, Al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 47.
  101. Surah Ar-Rahman, ayat 26 dan 27.
  102. Mufid, Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah, 1413 H, hlm. 87.
  103. Moallemi, Nafs wa Ruh dar Falsafeh Eslami wa Ayat wa Rawayat, 1396 HS, hlm. 126.
  104. Surah Al-Anbiya', ayat 35.
  105. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 22, hlm. 143.
  106. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 17, hlm. 139 dan 140.
  107. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 51-58.
  108. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 95-146.
  109. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 138 dan 139.
  110. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1385 HS, jld. 4, hlm. 155.
  111. Shaberi Najafabadi, Jawdanegi-ye Ensan dar Hekmat-e Muta'aliyah, 1394 HS, hlm. 44.
  112. "Al-Ruh Ibnu Qayyim Jauzi be Almani Montasyer Syod/Lozum-e Naqd-e Ibnu Qayyim dar Alman", Situs Farhang-e Emruz.
  113. Subhani, Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 7 dan 8.
  114. "Ketab Mausu'ah al-Ruh", Situs Maktabah Nur.
  115. Lihat: "Ketab wa Yas'alunaka 'an al-Ruh", Maktabah Nur.

Daftar Pustaka

  • Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid. Al-Mahasin. Koreksi: Jalaluddin Muhaddits. Qom: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, 1371 H.
  • Bayabani Oskoui, Mohammad. "Ensan dar 'Alam-e Azhillah wa Arwah: Ayat wa Ahadits" (Manusia di Alam Bayangan dan Roh: Ayat dan Hadis). Majalah Safineh, Nomor 15, 1386 HS.
  • Tahanawi, Muhammad Ali bin Ali. Mausu'ah Kasysyaf Isthilahat al-Funun wa al-'Ulum. Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 1996 M.
  • Jandi, Mu'ayyiduddin. Syarh Fushul al-Hikam. Koreksi: Sayid Jalaluddin Asytiyani. Masyhad: Universitas Masyhad, 1361 HS.
  • Khamenei, Sayid Muhammad. Ruh wa Nafs. Teheran: Bonyad Hekmat Eslami Sadra, cetakan kedua, 1387 HS.
  • "Al-Ruh Ibnu Qayyim Jauzi be Almani Montasyer Syod/Lozum-e Naqd-e Ibnu Qayyim dar Alman" (Ar-Ruh Ibnu Qayyim Jauzi Diterbitkan dalam Bahasa Jerman/Perlunya Mengkritik Ibnu Qayyim di Jerman). Situs Farhang-e Emruz, tanggal dimuat: 14 Bahman 1398 HS, tanggal akses: 16 Azar 1401 HS.
  • Zomorrodian, Ahmad. Haqiqat-e Ruh. Teheran: Daftar Nasyr Farhang Eslami, cetakan kesembilan, 1383 HS.
  • Subhani, Ja'far. Ishalah al-Ruh az Nazhar-e Qur'an. Qom: Muassasah Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1393 HS.
  • Suhrawardi, Syihabuddin Yahya. Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh Isyraq. Koreksi: Henri Corbin, Seyyed Hossein Nasr, dan Najafgholi Habibi. Teheran: Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi serta Institut Kajian dan Riset Budaya, tanpa tahun.
  • Sya'rani. Pajouhesy-haye Qur'ani Allamah Sya'rani dar Tafasir Majma' al-Bayan, Ruh al-Jinan wa Manhaj al-Shadiqin. Qom: Bustan-e Ketab, cetakan kedua, 1386 HS.
  • Syafi'i, Sa'id. "Ruh". Dalam Daneshnameh Jahan-e Eslam (jld. 20). Di bawah pengawasan Gholam Ali Haddad-Adel. Teheran: Bonyad Dairat al-Ma'arif Islami, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Syekh Shaduq. Al-I'tiqadat. Qom: Al-Mu'tamar al-'Alami li al-Syaikh al-Mufid, cetakan kedua, 1414 H.
  • Shaberi Najafabadi, Maliheh. Jawdanegi-ye Ensan dar Hekmat-e Muta'aliyah ba Negahi be Ara-ye Falasafeh-ye Pisyin. Teheran: SAMT, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Shadeqi Tehrani, Muhammad. Tarjuman Furqan; Tafsir Mokhtasar Qur'an Karim. Qom: Syokraneh, cetakan pertama, 1388 HS.
  • Saffar, Muhammad bin Hasan. Bashair al-Darajat fi Fadha'il Ali Muhammad (saw). Koreksi: Mohsen Kucheh-baghi. Qom: Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan kedua, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Tarjumeh Tafsir al-Mizan. Terjemahan: Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamedani. Qom: Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan kelima, 1374 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-'Ayyasyi. Riset dan koreksi: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Al-Mathba'ah al-'Ilmiyyah, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Fadhil Miqdad. Al-Anwar al-Jalaliyyah fi Syarh al-Fushul al-Nashiriyyah. Masyhad: Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1420 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Fayyadh Lahiji, Abdul Razzaq. Gauhar-e Murad. Teheran: Nasyr Sayeh, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Fayyadhi, Gholamreza. Ilm al-Nafs-e Falsafi. Qom: Muassasah Amuzesyi wa Pajouhesyi Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1393 HS.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, cetakan pertama, 1388 HS.
  • Qarasyi, Sayid Ali Akbar. Qamus Qur'an. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keenam, 1371 HS.
  • Kasyif al-Ghitha', Muhammad Ridha. Al-Barzakh wa al-Ruh bayna al-Ilahiyyin wa al-Madiyyin. Beirut: Dar al-'Ilm, cetakan pertama, 2002 M.
  • "Ketab Mausu'ah al-Ruh". Situs Maktabah Nur, tanggal akses: 16 Azar 1401 HS.
  • "Ketab wa Yas'alunaka 'an al-Ruh". Maktabah Nur, tanggal akses: 16 Azar 1401 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athhar (as). Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Al al-Rasul. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, 1404 H.
  • Mohseni Qandahari, Muhammad Asif. Ruh az Nazhar-e Din, 'Aql wa 'Elm Ruhi-ye Jadid. Tanpa tempat, tanpa penerbit, 1376 HS.
  • Mohseni Qandahari, Muhammad Asif. Wazhayif-e A'zha-ye Badan (Wazhayif-e Ruh wa Wazhayif-e Mutaqabil). Islamabad: Tanpa penerbit, 1374 HS.
  • Moallemi, Hasan. Nafs wa Ruh dar Falsafeh Eslami wa Ayat wa Rawayat. Teheran: Pajouhesygah Farhang wa Andisyeh Eslami, cetakan kedua, 1396 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Nu'man. Tashhih I'tiqadat al-Imamiyyah. Qom: Al-Mu'tamar al-'Alami li al-Syaikh al-Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • McDermott, Martin. Andisyeh-haye Kalami-ye Syaikh Mufid. Terjemahan: Ahmad Aram. Teheran: Universitas Teheran, 1372 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-'Arsyiyyah. Tanpa tempat, tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Majmu'eh Rasa'il-e Falsafi-ye Sadrul Muta'allihin. Teheran: Hikmat, cetakan kedua, 1420 H.
  • Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mutabiq Madzhab Ahlulbait as. Qom: Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, cetakan kedua, 1385 HS.
  • Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Qom: Intisyarat Hejrat, tanpa tahun.
  • Nuri Thabarsi, Ismail bin Ahmad. Kifayah al-Muwahhidin. Teheran: Intisyarat Ilmiyah Islamiyah, tanpa tahun.
  • Hadian, Sayid Ali. "Ruh; dar Kalam". Dalam Daneshnameh Jahan-e Eslam (jld. 20). Di bawah pengawasan Gholam Ali Haddad-Adel. Teheran: Bonyad Dairat al-Ma'arif Islami, cetakan pertama, 1394 HS.

Pranala Luar