Melihat Allah

tanpa foto
tanpa navbox
Dari wikishia

Melihat Allah (bahasa Arab: رؤیة الله) adalah termasuk pembahasan teologis, mengenai kemungkinan melihat Tuhan dengan mata, para teolong Imammiyah dan Mu'tazilah percaya bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia atau di akhirat, dengan mata lahiriah. Menurut pandangan mereka melihat Allah denga mata lahiriah melazimkan bersifat fisiknya Allah. Sebaliknya Sebagian besar mazhab teologi Ahlusunah sperti Asy'ariyah, Ahluhadis, Mujassimah, Karamiyah dan Salafiyah, mereka percaya bahwa Allah adalah mungkin untuk melihat Allah. Sejarah melihat Allah berasal dari abad ke 2 H. Dari sudut pandang beberapa orang, persoalan ini masuk ke dalam kajian keIslaman melalui orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura menjadi Muslim. Melihat Allah telah ditambahkan dan yang dikaji dalam teologi, Alquran, riwayat dan irfan. Dan terkait hal ini, telah ditulis beberapa buku, diantaranya “Ru’yatullah fi Dhau’ al-Kitab wa al-Sunnah wa al-‘Aql al-Sharih’’ karya Ja’far Subhani.

Pengertian dan duduk pembahasan

Melihat Allah termasuk pembahasan teologis yangmana pertanyaannya adalah apakah Allah dapat dilihat dengan mata telanjang ataukah tidak?[1] dalam sumber-sumber hadis Syiah dan Sunni, banyak sekali riwayat yang menukilkan bisa atau tidaknya melihat Allah.[2]

Alquran pun menyebutkan tentang melihat Allah; seperti ayat 22 dan 23 Surah Qiyamah, ayat 15 Surah Al-Muthafifin, ayat 16 Surah Yunus, ayat 11 sampai 13 Surah An-Najm. Dalam beberapa ayat menyebutkan peniadaan melihat Allah; seperti ayat 103 Surah Al-Anam, ayat 143 Surah Al-Araf, ayat 55 Surah Al-baqarah, ayat 153 Surah An-Nisa dan ayat 21 Surah Al-Furqan.[3] Para Mufasir yang tidak setuju dan yang setuju dengan kemungkinan melihat Allah telah membahas secara panjang lebar sekaitan dengan melihat Allah pada ayat-ayat yang telah disebutkan.[4] Dikatakan bahwa karena para Sufi selalu mencari kontak dengan Allah tanpa perantara, melihat Allah dalam irfan dan Sufi telah menjadi masalah yang fital, bisa dikatakan bahwa hampir semua orang yang berada di tingkat pertama Sufi, seperti Ibrahim adham, memiliki pendapat terkait hal ini. [5]

Sejarah pembahasan

Dalam Islam, sejarah pembahasan teologis seputar melihat Allah sudah ada sejak abad ke 2 H.[6] pada abad ini, 2 kelompok teologis Jahmiyah dan Mu’tazilah mengingkari kemungkinan dilihatnya Alllah dengan mata kepala. Pada awal abad ke 3, kemungkinan dilihatnya Allah termasuk dari keyakinan pokok Ahmad bin Hambal yang merupakan salah satu dari 4 Imam Ahlusunah dan pengikutnya. Kelompok teologis lainnya seperti Maturidiyah, Asya’irah, Mujassimah Karamiyah dan Slafiyah[7] menerima kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala.[8] Beberapa orang, termasuk Ja’far Subhani seorang teolog Syiah abad ke-14, percaya bahwa gagasan melihat Allah masuk ke hadis dan kajian Islami melalui beberapa orang Yahudi dan Masihi yang berpura-pura menjadi Muslim, seperti Ka’b al-Akhbar.[9] Dari sudut pandang Ja’far Subhani, semua hadis yang berkaitan dengan melihat Allah oleh ummat Islam adalah susupan Yahudi dan Masihi kepada sumber-sumber riwayat kaum Muslimin.[10]

Melihat Allah dalam Agama lain

Sebelum Islam, persoalan melihat Allah juga disebutkan dalam Taurat dan Injil.[11] Dalam Taurat, kitab suci orang-orang Yahudi, Allah berfirman kepada Musa as “Kamu sesekali tidak akan dapat melihat-Ku; sebab orang yang melihat-Ku dia akan meninggal”.[12] Dalam firman yang lain yang ditujukan kepada Musa as, dikatakan: “Aku Akan memegang tanganmu hingga kamu dapat melihat tengkuk-Ku, namun Aku tidak dapat dilihat”.[13] Dalam sebuah firman dari AlKitab, disebutkan bahwa betis Allah akan dapat dilihat;[14] sementara dalam firman lain dikatakan bahwa Allah tidak dapat diliaht oleh siapapun.[15]

Pandangan mazhab-mazhab Islam terkait melihat Allah

Ada 3 pandangan utama terkait persoalan melihat Allah:

• Mujassimah dan Karamiyah termasuk dari kelompok teologis Ahlusunah berpendapat ke mungkinan untuk melihat Allah baik di dunia atau di akhirat; sebab mereka mensifati Allah sebagai yang berjisim dan bertempat.[16] • Klompok teologi Sunni lainnya, seperti Asya’irah,[17] dan Ahluhadis[18] berpendapat Allah hanya dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala; meskipun mereka tidak percaya tidak bersifat fisiknya Allah.[19] • Imamiyah,[20] Zaidiyah[21] dan Mu’tazilah[22] berpendapat bahwa mustahil melihat Allah di dunia dan akhirat dan mereka bersepakat dalam hal ini.[23]

Argumentasi dimungkinkannya melihat Allah

Para pendukung dimugkinkannya melihat Allah untuk membuktikannya, mereka bersandar pada argumentasi rasional dan tekstual[24] penjelasannya sebagai berikut:

Argumentasi Rasional

Beberapa argumentasi rasional bagi para pendukung dilihatnya Allah adalah sebagi berikut: • Untuk seseorang yang melihat dirinya dan benda-benda disekitanya, ada kemungkinan orang lain dapat melihatnya juga. Dikarenakan Allah melihat diri-Nya dan benda-benda yang lain, mungkin saja Dia memberikan kita kemampuan melihat diri-Nya.[25] • Makhluk yang bermacam-macam dapat dilihat dan keterlihatannya berkaitan dengan sifat dan keberadaannya. Dalam hal ini, Allah yang juga keberdaan harus terlihat.[26]

Argumentasi Tekstual

Argumentasi tekstual meliputi ayat Alquran dan riwayat: Diantara Ayat-ayat Alquran itu adalah, ayat 143 Surah al-Araf, dimana nabi Musa as meminta kepada Allah untuk dapat melihat-Nya, tetapi Allah menjawab bahwa Musa as tidak dapat melihat-Nya. Argumennya adalah jika tidak mungkin melihat Allah, nabi Musa as tidak akan meminta hal seperti itu kepada Allah.[27] Kemungkinan melihat Allah juga mengunakan argumentasi ayat-ayat lain seperti; ayat 44 Surah al-Ahzab, ayat 22 dan 23 Surah al-Qiyamah, ayat 15 Surah al-Muthafifin[28] dan ayat 103 Surah al-Anam.[29] Untuk membuktikan melihat Allah di akhirat, mereka juga bersandar dengan menukilkan riwayat dari Nabi saw; [30] seperti Nabi saw berikut:[31] “Kalian akan melihat Allah kalian, seperti kalian melihat bulan malam ke-14”.[32]

Argumentasi kemustahilan melihat Allah

Para penentang dimungkinkannya melihat Allah juga bersandar pada argumentasi rasional dan tekstual:

Argumentasi rasional

Menurut Ja’far Subhani, dasar dari argumentasi rasional adalah bahwa melihat Allah melazimkan menetapkan fisik dan bersifat fisiknya Allah. [33] Beberapa bukti rasional adalah sebagai berikut: • Melihat allah dengan mata lahiriah melazimkan bahwa Allah memiliki dimensi, tempat dan waktu; sementara Allah Maha Suci dari sifat-sifat ini.[34] Menurut Alamah Hilli sudah sepatutnya wajib ada pada Allah, immaterialnya Allah dan peniadaan dimensi dan tempat dari-Nya. Dengan ternafikannya hal-hal ini, melihat Allah dengan mata lahiriahpun ternafikan pula.[35] • Alllah sebagai keseluruhan dzat-Nya dapat dilihat atau sebagian dari dzat-Nya dapat dilihat. Gambaran pertama melazimkan keterbatasan Allah dan gambaran ke dua melazimkan ketersusunan, kebertempatan dan keberdimensian Allah, keduanya adalah mustahil dan tertolak. Jadi Allah tidak terlihat dan tidak dapat dilihat.[36]

Argumentasi Tekstual

Salah satu argumentasi tekstual para penentang, adalah ayat 143 Surah al-Araf, yang juga dijadikan sebagai sandaran para pendukung, di mana berfirman kepada Musa as «لَنْ تَرانِی» ‘’Kamu tidak akan pernah bisa melihat-Ku’’ kata «لَنْ» bermakna penafian selamanya, «لَنْ تَرانِی» menyiratkan penafian terhadap melihat Allah dan tidak terealisasinya hal itu.[37] Ayat lainnya adalah لَّا تُدْرِ‌کهُ الْأَبْصَارُ‌ وَهُوَ یدْرِ‌ک الْأَبْصَارَ‌ “Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, sedangkan Dia dapat meilhat segala yang kelihatan.[38] Dari sudut pandang teolog Imamiyah dan Mu’tazilah, ayat tersebut menyiratkan bahwa Allah tidak dapat dilihat oleh mata. [39] Riwayat-riwayat yang dinukilkan dari para Imam Syiah juga menyiratka bahwa Allah tidak dapat dilihata dengan mata lahiriah.[40] Dalam sebuah riwayat, seseorang bertanya kepada Imam Ali as “Apakah dia telah melihat Allah? Ia menjawab Aku tkdak akan menyembah Allah yang tidak aku lihat; Dia hanya dapat dilihat dengan hakikat keimanan bukan dengan mata kepala.[41] dari sudut pandang para penentang, kemungkinan melihat Allah, riwayat nabi as merupakan sandaran para pendukung, apabila diasumsikan kebenarannaya, menyiratkan pengetahuan tentang Allah, tidak melihat dengan mata lahiriah; sebab jika yang dimaksudkan adalah melihat dengan mata lahiriah, riwayat melazimkan keberdimensian Allah dan itu mustahil.[42]

Bibliografi

Persoalan melihat Allah telah dibahas dalam banyak buku teologis, tafsir, beberapa kitab irfan dan riwayat. Selain itu, buku-buku khusus telah ditulis sekaitan melihat Allah, beberpa diantara adalah sebagai berikut:

  • Kalimah Haula al-Ruyah” karya Abd al-Husein Syaraf al-Din Amili. Buku ini membuktikan penolakan penampakan dalam pandangan Syiah.[43] buku ini diterbitkan dalam 4 jilid oleh “Mausuah al-Imam Abd al-Husein Syaraf al-Din” disusun oleh Markaz al-Ulum wa al-Tsaqafah al-Islamiyah, percetakan Dar al-Maurah al-Arabi dan juga dengan judul “Ru’yatullah va Falsafe al-Mitsaq va al-Wilayat” diriset oleh Mahdi Anshari Qommi dan diedarkan oleh percetakan Lauh Mahfudz.
  • Ru'yatullah fi dhau’ al-kitab wa al-Sunnah wa al-Aql al-Sharih’’ karya Ja’far Subhani. Dalam buku ini, Ayatullah Subhani menganggap pandangan melihat Allah sebagai teori yang diimpor dari Yahudisme dan berusaha membantahnya dan mepertahankan pandangan Syiah dengan argument rasional, Alquran dan riwayat.
  • Ru'yatullah Jalla wa Ala” karya Ali bin Umar DarQuthni. DarQuthni adalah ahli hadis dan muhadis abad ke-4. Dalam buku ini, ayat-ayat dan riwayat-riwayat mengenai melihat Allah dikumpulkan untuk membuktikan bisa melihat Allah.[44] Buku ini diterbitkan bersama 2 lampiran “Ruayatullah Tabaroka wa Taala” karya Ibnu Nuhas dan “Dhau’ al-Sari ila Ma’rifat Ru’yat al-Bari” karya Abi Syamah Muqadasi diterbitkan oleh percetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Juga lampiran “Al-Misbah al-Munir fi Ru’yah al-Rab al-Khabir” dan “Al-Muhlaq al-Dhafi ila Ma fi Kitab al-Ru’yah al-Wafi” karya Abu Uwais al-Kurdi dan dipublikasikan oleh percetakan Dar Ibnu Taimiyah.
  • Karya-karya lainnya tentang melihat Allah adalah: “Ru’yatullah Baina al-Tanzih wa al-Tasybih” karya Abd al-Karim Bahbahani, Majma’ Jahani Ahlulbait; “Ru’yat-e Moh dar Oseman: Barresi Tarikhi-e Masale-e Liqaullah dar Kalam va Tasawuf,” karya Nasrullah PurJawadi oleh Markaz Nasyr Danesygahi; “Ruyat-e Khuda? Dar in Jahan va Jahan-e Digar, karya Abd al-Mahdi Tawaqul dibawah pengawasan Naser Makarem Shirazi, percetakan Imam Ali bin Abi Thalib.

Catatan Kaki

Daftar Pustaka