Lompat ke isi

Konsep:Ayat 98 Surah Yusuf

Dari wikishia
Ayat 98 Surah Yusuf
Informasi Ayat
SurahSurah Yusuf
Ayat98
Juz13
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekah
TentangDoa Nabi Yakub as untuk anak-anaknya agar diampuni dosa mereka.
DeskripsiSyafaat, Tawasul
Ayat-ayat terkaitAyat 64 Surah An-Nisa', Ayat 35 Surah Al-Ma'idah, Ayat 114 Surah At-Taubah.


Ayat 98 Surah Yusuf menjelaskan jawaban Nabi Ya'qub as atas permintaan anak-anaknya dan janjinya untuk memohonkan ampunan (istigfar) bagi mereka. Anak-anak Ya'qub, setelah mengetahui bahwa saudara mereka, Nabi Yusuf as masih hidup dan kebohongan mereka tentang Yusuf terbongkar, merasa menyesal atas perbuatan mereka dan meminta ayah mereka untuk memberikan syafaat serta memohonkan ampunan atas dosa-dosa mereka kepada Allah. Nabi Ya'qub as menunda doa untuk mereka ke waktu yang akan datang. Para mufasir Al-Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Ya'qub as berniat untuk berdoa pada Malam Jumat atau saat salat malam (tahajud), karena pada waktu tersebut kemungkinan terkabulnya doa lebih besar.

Para peneliti dan mutakalim Syiah menggunakan ayat ini beserta ayat sebelumnya sebagai dalil kebolehan (jawaz) tawasul dan syafaat, dan berdasarkan hal tersebut, mereka memandang tawasul kepada Nabi Muhammad saw dan para Imam Syiah as sebagai suatu hal yang tidak bermasalah. Sementara itu, Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabi menganggap tawasul dan syafaat sebagai salah satu bentuk kesyirikan.

Pengenalan dan Teks Ayat

Ayat 98 Surah Yusuf memuat jawaban dari Nabi Ya'qub as atas permintaan anak-anaknya yang disebutkan pada ayat 97. Anak-anak Nabi Ya'qub as meminta kepadanya untuk memohonkan ampunan dan memberikan syafaat bagi mereka agar dosa-dosa mereka diampuni.[1]

Bapanya berkata: "Aku akan memohon ampun bagi kamu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia lah jua Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani".


Menurut ayat-ayat sebelumnya, anak-anak Nabi Ya'qub melakukan perbuatan buruk terhadap Nabi Ya'qub as dan Nabi Yusuf as[2] serta saudaranya, Bunyamin.[3] Setelah mengetahui keselamatan saudara mereka, Yusuf as,[4] mereka menyadari kebenaran ucapan dan posisi Nabi Ya'qub as[5] dan dengan melihat mukjizat sembuhnya mata ayah mereka melalui perantara baju Yusuf, mereka menyadari kesalahan-kesalahan mereka.[6]

Anak-anak Ya'qub as, dengan menunjukkan penyesalan,[7] serta setelah bertobat dan memohon ampun, berusaha untuk menebus kesalahan dan kekhilafan mereka.[8] Mereka meminta syafaat dari ayah mereka[9] dan menjadikannya sebagai perantara untuk memohon kepada Allah agar menerima tobat mereka[10] serta mengampuni dosa dan kesalahan mereka.[11]

Dalam ayat ini, Nabi Ya'qub as tanpa mencela mereka, dengan menyinggung sifat Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang,[12] berjanji bahwa ia akan segera memohonkan ampunan bagi mereka kepada Tuhan.[13] Dari jawaban Nabi Ya'qub as ini, dapat dipahami bahwa anak-anaknya menjadikannya perantara untuk memohon kebaikan karena kedekatannya (taqarrub) di hadapan Allah.[14] Terdapat berbagai riwayat tafsir yang dinukil terkait ayat ini.[15]

Cara Berdoa dan Terkabulnya Doa

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Ya'qub as memohonkan ampunan bagi mereka setiap Malam Jumat selama lebih dari dua puluh tahun, dan anak-anaknya pun berdiri berbaris di belakangnya lalu mengucapkan amin. Dikatakan bahwa setelah berdoa, beliau menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: "Allahummaghfir li huzni 'ala Yusuf wa qillata shabri 'anhu, waghfir liwaladi ma atau 'ala Yusuf" (Ya Allah, ampunilah kesedihanku atas Yusuf dan kurangnya kesabaranku kehilangannya, dan ampunilah anak-anakku atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Yusuf).[16]

Menurut beberapa nukilan, setelah beberapa waktu, Malaikat Jibril as turun dan berkata: Allah telah mengabulkan doamu mengenai anak-anakmu[17] dan setelahmu, Dia telah membuat perjanjian dengan mereka berdasarkan kenabian.[18]

Diriwayatkan bahwa Jibril as mengajarkan sebuah doa kepada Nabi Ya'qub as untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa:

"Ya Rajaa'al Mukminin la tukhayyib rajaa'i, wa ya Ghautsal Mukminin aghitsni wa ya 'Awnal Mukminin a'inni, ya Habibat Tawwabin tub 'alayya wastajib lahum" (Wahai Harapan orang-orang mukmin, janganlah Engkau putuskan harapanku, wahai Penolong orang-orang mukmin, tolonglah aku, wahai Pembantu orang-orang mukmin, bantulah aku, wahai Kekasih orang-orang yang bertobat, terimalah tobatku dan kabulkanlah bagi mereka).[19]

Legitimasi Tawasul dan Syafaat

Para mufasir Syiah, dengan bersandar pada ayat 98 Surah Yusuf dan ayat sebelumnya, menganggap tawasul dan permohonan syafaat sebagai salah satu konsep yang jelas dalam Al-Qur'an[20] dan bahkan disebutkan bahwa ayat-ayat ini mendorong masyarakat untuk menjadikan para wali Allah sebagai perantara.[21] Sebagaimana Nabi Ya'qub as, setelah diminta oleh anak-anaknya untuk memohonkan ampunan, tidak hanya tidak memprotes tawasul mereka; tetapi juga berjanji untuk berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka.[22] Oleh karena itu, disimpulkan bahwa meminta orang lain untuk memohonkan ampunan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid[23] dan tidak dapat dianggap sebagai syirik.[24] Jika tidak demikian, niscaya Al-Qur'an akan mengharamkannya.[25]

Templat:Lihat Juga

Alasan Penundaan dalam Mendoakan Anak-anaknya

Menurut ayat ini, Nabi Ya'qub as tidak langsung menerima permintaan anak-anaknya, melainkan menundanya ke waktu yang akan datang;[26] sebagaimana disebutkan bahwa Nabi Yusuf as setelah melihat penyesalan saudara-saudaranya, langsung memohonkan ampunan bagi mereka; namun Nabi Ya'qub as menundanya.[27] Para mufasir menyebutkan berbagai alasan tertundanya doa Nabi Ya'qub as dengan menggunakan riwayat-riwayat[28], di antaranya adalah:

  • Beliau ingin agar doa untuk memohonkan ampunan atas dosa-dosa tersebut dipanjatkan pada waktu di mana doa dikabulkan;[29] oleh karena itu, dikatakan bahwa niatnya adalah berdoa pada waktu sahur (menjelang fajar)[30] di Malam Jumat[31] dan dalam salat malam (tahajud);[32] karena waktu-waktu ini dianggap sebagai waktu terbaik untuk terkabulnya doa.[33] Diklaim bahwa sebagian besar mufasir menganggap pendapat ini benar.[34] Beberapa peneliti membenarkan penundaan doa Ya'qub as dengan merujuk pada riwayat-riwayat dari Nabi Muhammad saw mengenai keutamaan waktu sahur dan pengabulan doa.[35]
  • Nabi Ya'qub as berniat untuk berdoa setelah bertemu dengan Nabi Yusuf as[36] dan setelah kekecewaannya terhadap anak-anaknya benar-benar hilang.[37]
  • Saat itu, Nabi Ya'qub as belum memaafkan mereka; oleh karena itu, beliau menjanjikan untuk berdoa di waktu yang akan datang.[38]
  • Beliau ingin memastikan bahwa Yusuf as telah memaafkan mereka; karena pemaafan dari pihak yang terzalimi adalah syarat agar dosa-dosa diampuni.[39] Kejahatan mereka terhadap Ya'qub as disebabkan oleh kejahatan mereka terhadap Yusuf as. Nabi Yusuf as bisa saja bergegas melepaskan haknya; tetapi Nabi Ya'qub as tidak bisa melakukan hal itu.[40]
  • Alasan penundaan tersebut adalah karena adanya kesedihan di dalam hatinya akibat dosa-dosa anak-anaknya. Sebagian mufasir menolak pendapat ini karena dianggap menyamakan hati para nabi dengan hati manusia pada umumnya.[41]

Catatan Kaki

  1. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 13, hlm. 42; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 403.
  2. Husaini Hamedani, Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Qur'an, 1414 H, jld. 9, hlm. 133-134.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 11, hlm. 245.
  4. Makarem Syirazi, Ayat al-Wilayah fi al-Qur'an, 1383 HS, hlm. 201.
  5. Husaini Hamedani, Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Qur'an, 1414 H, jld. 9, hlm. 133-134.
  6. Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 195; Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, jld. 4, hlm. 318; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 71.
  7. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 356; Husaini Owasthi, Dawazdah Goftar Darbareh-ye Hazrat Mahdi(a), 1386 HS, hlm. 123.
  8. Makarem Syirazi, Asy-Syi'ah Syubuhat wa Rudud, 1428 H, hlm. 74.
  9. Makarem Syirazi, Asy-Syi'ah Syubuhat wa Rudud, 1428 H, hlm. 74.
  10. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 356.
  11. Makarem Syirazi, Ayat al-Wilayah fi al-Qur'an, 1383 HS, hlm. 201; Sekumpulan Penulis, Fi Rihab Ahl al-Bait (as), 1426 H, jld. 13, hlm. 20.
  12. Husaini Syirazi, Taqrib al-Qur'an ila al-Adzhan, 1424 H, jld. 3, hlm. 42.
  13. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 71.
  14. Sekumpulan Penulis, Fi Rihab Ahl al-Bait (as), 1426 H, jld. 18, hlm. 23.
  15. Sebagai contoh lihat: Qomi, Tafsir al-Qomi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 356.
  16. Tsa'labi Naisaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an, 1422 H, jld. 5, hlm. 257.
  17. Tsa'labi Naisaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an, 1422 H, jld. 5, hlm. 257.
  18. Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, 1418 H, jld. 3, hlm. 176.
  19. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 5, hlm. 403.
  20. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, Qom, jld. 4, hlm. 374; jld. 4, hlm. 444; Subhani, Al-Tauhid wa asy-Syirk fi al-Qur'an al-Karim, 1384 HS, hlm. 123.
  21. Husaini Owasthi, Dawazdah Goftar Darbareh-ye Hazrat Mahdi(a), 1386 HS, hlm. 123-124.
  22. Husaininasab, Syi'eh Pasokh Midahad, 1386 HS, hlm. 145; Husaini Owasthi, Dawazdah Goftar Darbareh-ye Hazrat Mahdi(a), 1386 HS, hlm. 123-124; Subhani, Al-Tauhid wa asy-Syirk fi al-Qur'an al-Karim, 1384 HS, hlm. 122; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 10, hlm. 76.
  23. Makarem Syirazi, Asy-Syi'ah Syubuhat wa Rudud, 1428 H, hlm. 73.
  24. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 10, hlm. 76.
  25. Markaz al-Musthafa, Al-'Aqa'id al-Islamiyyah, 1419 H, jld. 4, hlm. 351.
  26. Syaikh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 6, hlm. 195; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 11, hlm. 245; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 13, hlm. 42.
  27. Markaz al-Musthafa, Al-'Aqa'id al-Islamiyyah, 1419 H, jld. 4, hlm. 352.
  28. Syaikh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 6, hlm. 195; Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 3, hlm. 46.
  29. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 11, hlm. 245.
  30. Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 350; Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 356; Husaini Syirazi, Taqrib al-Qur'an ila al-Adzhan, 1424 H, jld. 3, hlm. 42; Markaz al-Musthafa, Al-'Aqa'id al-Islamiyyah, 1419 H, jld. 4, hlm. 352.
  31. Dan memilih waktu tersebut untuk mengabulkan doanya tentang mereka agar doanya lebih cepat dikabulkan
  32. Tsa'labi Naisaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an, 1422 H, jld. 5, hlm. 257.
  33. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 403.
  34. Tsa'labi Naisaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an, 1422 H, jld. 5, hlm. 257; Haeri Tehrani, Muqtaniyat al-Durar wa Multaqathat al-Tsamar, 1377 HS, jld. 6, hlm. 61.
  35. Ibnu Athiyyah al-Andalusi, Al-Muharrar al-Wajiz, jld. 3, hlm. 280.
  36. Husaini Hamedani, Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Qur'an, 1414 H, jld. 9, hlm. 133.
  37. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 11, hlm. 245.
  38. Syaikh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 6, hlm. 195; Haeri Tehrani, Muqtaniyat al-Durar wa Multaqathat al-Tsamar, 1377 HS, jld. 6, hlm. 61.
  39. Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, 1418 H, jld. 3, hlm. 176.
  40. Markaz al-Musthafa, Al-'Aqa'id al-Islamiyyah, 1419 H, jld. 4, hlm. 352.
  41. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 356.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Athiyyah al-Andalusi, Abdul Haq bin Ghalib. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz. Riset: Abdus Salam Abdul Syafi Muhammad. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1422 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Tsa'labi Naisaburi, Ahmad bin Ibrahim. Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1422 H.
  • Sekumpulan Penulis. Fi Rihab Ahl al-Bait (as). Qom: Al-Majma' al-'Alami li Ahl al-Bait (as), cetakan kedua, 1426 H.
  • Haeri Tehrani, Mir Sayid Ali. Muqtaniyat al-Durar wa Multaqathat al-Tsamar. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1377 HS.
  • Husaini Owasthi. Dawazdah Goftar Darbareh-ye Hazrat Mahdi(a). Teheran: Nasyr Masy'ar, 1386 HS.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Taqrib al-Qur'an ila al-Adzhan. Beirut: Dar al-'Ulum, 1424 H.
  • Husaininasab, Sayid Reza. Syi'eh Pasokh Midahad. Teheran: Nasyr Masy'ar, cetakan kesembilan belas, 1386 HS.
  • Husaini Hamedani, Mohammad. Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Qur'an. Teheran: Intisyarat Luthfi, 1404 H.
  • Haqqi Burusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Subhani, Ja'far. Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Subhani, Ja'far. Al-Tauhid wa asy-Syirk fi al-Qur'an al-Karim. Qom: Muassasah Imam Shadiq (as), cetakan kedua, 1384 HS.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Safi. Teheran: Intisyarat as-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Qazwini, Sayid Muhammad. Al-Barahin al-Jaliyyah fi Raf' Tasykikat al-Wahhabiyyah. Kairo: Cetakan ketiga, 1397 H.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
  • Markaz al-Musthafa. Al-'Aqa'id al-Islamiyyah. Qom: Markaz al-Musthafa lid Dirasat al-Islamiyyah, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats, 1423 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Asy-Syi'ah Syubuhat wa Rudud. Qom: Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1428 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Ayat al-Wilayah fi al-Qur'an. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1383 HS.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.