Prioritas: a, Kualitas: b

Ali al-Akbar as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Ali al-Akbar As)
Lompat ke: navigasi, cari
Keturunan Imam
Ali al-Akbar as

Makam Ali Akbar berada di sisi ayahnya (Imam Husain as) di Karbala
Nama Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib
Kunya Abu al-Hasan
Terkenal dengan Ali Akbar
Ayah Imam Husain as
Ibu Laila binti Abu Murra
Lahir 11 Sya'ban 33 H/653
Tempat Lahir Madinah
Tempat Tinggal Madinah
Anak-anak Hasan
Wafat 10 Muharram 61 H/681
Tempat Dimakamkan Di dalam makam Imam Husain di Karbala, Irak
Masa Hidup 28 tahun

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (bahasa Arab:علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب ) atau lebih dikenal dengan nama Ali al-Akbar (علي الأكبر) adalah putra Imam Husain as yang lahir pada tahun 33 H/653 di kota Madinah dan termasuk syuhada Bani Hasyim pada hari Asyura. Imam Husain as memperkenalkan Ali Akbar sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi Muhammad saw, seraya mengatakan, 'setiap kali kami rindu kepada Nabi saw, kami melihatnya'.

Ali Akbar adalah orang pertama dari kalangan Bani Hasyim yang syahid pada hari Asyura. Ayahnya hadir di sisi jenazahnya dan melaknat para pembunuhnya. Ali Akbar dimakamkan di bagian bawah kaki ayahnya dan pusaranya berada di dalam dharih Imam Husain as.

Biografi

Ali Akbar adalah putra Imam Husain as dan Laila binti Abi Murrah.[1] Ia lahir pada masa kekhilafahan Usman (masa khilafah: 23/24 - 35 H).[2] Tanggal lahir Ali Akbar tidak begitu jelas, namun dalam kelender Repulik Islam Iran, 11 Syaban dinamakan dengan 'Hari Pemuda' mengenang hari kelahirannya.[3] Sebagian sejarawan meyakini bahwa usia Ali Akbar saat mati syahid pada tahun 61 H adalah 28 tahun.[4] Atas dasar ini berarti ia lahir pada tahun 33 H.

Kuniyahnya adalah Abu al-Hasan.[5] Ia juga diberi nama Akbar sebab lebih besar dari saudaranya, Imam Sajjad as, imam keempat Syiah.[6] Tentu saja, Syaikh Mufid mengatakan bahwa lakabnya adalah Ashghar, sementara Akbar adalah lakab Imam Sajjad as.[7] Sebagian ahli nasab dan sejarah meyakini bahwa Ali Akbar adalah anak tertua Imam Husain as.[8]

Kulaini menukil sebuah hadis dari Imam Ridha as yang menceritakan pernikahan Ali Akbar dan anak laki-lakinya bernama Hasan. Sebaliknya, beberapa ahli nasab dan sejarah percaya bahwa Ali Akbar tidak memiliki keturunan[9] dan keturunan Imam Husain as hanya berlanjut dari Imam Sajjad as.[10]

Ali Akbar mati syhadi pada 10 Muharram tahun 61 H dalam peristiwa Asyura dan jasadnya dimakamkan di bagian bawah kaki ayahnya.[11] Pusaranya berada di dalam dharih Imam Husain as. Oleh karena inilah dharih tersebut memiliki enam sudut.[12] Adapun kepalanya dibawa ke Kufah dan Syam bersama kepala-kepala syuhada Karbala. Mengenai nasib kepala ini apakah disatukan dengan badannya atau dimakamkan di pekuburan Bab al-Shaghir, terdapat perbedaan pendapat.[13] Sayid Muhsin Amin mengatakan, pada tahun 1321 H di pekuburan Bab al-Shaghir terlihat sebuah cungkup yang tertulis di atas batu di bagian pintu masuknya 'ini adalah tempat dimakamkannya kepala-kepala Abbas bin Ali, Ali Akbar dan Habib bin Muzhahir.[14] Ia melanjutkan bahwa setelah terjadi perenovasian cungkup tersebut, ditambahkan nama sebagian syuhada yang lain kepadanya.[15] Kini, tempat ini terkenal dengan nama Ruus as-Syuhada (tempat kepala-kepala syuhada Karbala dimakamkan).[16]

Perawakan Ali Akbar

Wajahnya ibarat bulan purnama yang bercahaya. Ia tampan, bersih dan rapi. Kulitnya bersih agak kemerah-merahan, bola matanya hitam, alisnya tebal, tubuhnya seimbang, dada dan bahunya tegap. Kalau berjalan cekatan, ibarat seperti menuruni sebuah lembah. Jika ia dipanggil oleh seseorang, maka ia membalikkan seluruh tubuhnya menghadap kepada yang memanggilnya. Dari tubuhnya tercium bau wangi kesturi. [17] Dengan perawakannya yang indah tersebut, Imam Husain as menyebutnya sebagai orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw dari kalangan Bani Hasyim, termasuk sifat, akhlak, adab, ucapan dan kebiasaannya. [18]

Sifat, Karakter dan Keutamaannya

Kedudukan sebagai Perawi Hadis

Ia dikenal banyak meriwayatkan hadis dari jalur kakeknya Imam Ali as, sehingga ia pun dijuluki sebagai muhaddis. [19]

Pengakuan Musuh atas Keutamaan Ali Akbar

Muawiyah pernah memberi pengakuan bahwa Ali Akbar layak untuk menjadi seorang khalifah. Ia berkata, "Yang paling layak untuk menjadi pemimpin pemerintahan adalah Ali Akbar, putra dari al-Husain bin Ali dan kakeknya adalah Rasulullah saw. Terhimpun di didalamnya keberanian Bani Hasyim, kedermawanan Bani Umayyah dan ketampanan Qabilah Tsaqifa." [20]

Cerminan Nabi Muhammad saw

Dengan kesyahidan yang dicapainya, Ali Akbar telah menjadi cerminan Nabi Muhammad saw baik secara lahir maupun batin. [21]

Dukungan Ali Akbar kepada Imam Husain as

Pada hari Asyura, sewaktu Ali Akbar memasuki medan pertempuran, seorang laki-laki meneriakinya, "Wahai Ali, kamu disukai oleh Amirul Mukminin Yazid dan ia menghendaki keberadaanmu untuk bersamanya. Jika kamu pun menghendaki, kami memberi jaminan keamanan untukmu." Ali Akbar menjawab pernyataan itu dengan berkata, "Mencari keridhaan Rasulullah saw lebih aku kehendaki dan itu telah sedemikian dekat untuk aku capai." [22]

Syahid Pertama dari Bani Hasyim

Ali Akbar adalah orang yang pertama syahid dari Bani Hasyim pada hari Asyura [23]dan dari bacaan ziarah Syuhada terdapat salam khususnya untuknya, yang berbunyi, "Salam atasmu yang pertama terbunuh dari sebaik-baiknya keturunan." [24]

Tegar di Jalan Kebenaran

Di dekat istana Bani Muqatil, Imam Husain as tertidur sesaat dan ketika terbangun, ia lantas berujar, "Innalillahi wa inna ilahi raji'un wa Alhamdulillah Rabbil ‘alamin." dan ia mengucapkan itu berulang-ulang. Hal tersebut mengherankan Ali Akbar, iapun bertanya penyebabnya kepada ayahnya. Imam Husain as menjawab, "Anakku, sewaktu saya tertidur seketika saya bermimpi dan mendengarkan langkah kuda. Saya mendengarkan suara berkata, kaum ini sedang berlari, dan kematian mengejarnya. Dari ucapan tersebut, saya menyadari, bahwa kematian saya tidak akan lama lagi." Ali Akbar berkata, "Ayahku, Allah swt tidak menghendaki keburukan bagimu, apakah kita tidak sedang berada diatas kebenaran?". Imam Husain as berkata, "Dengan hak-Nya, semua hamba-hambanya-Nya akan kembali ke sisi-Nya." Ali Akbar berkata, "Wahai ayah, jika kita tegar berada diatas jalan kebenaran, maka saya tidak memiliki ketakutan pada kematian." Mendengar ketegasan putranya, Imam Husain as mendoakannya dengan berkata, "Semoga Allah Swt mengaruniakan atasmu sebaik-baiknya pahala, yang lebih baik dari pemberian seorang ayah kepada anaknya sendiri." [25]

Syiar Ali Akbar di Hari Asyura

Setelah Ali Akbar menolak perjanjian damai dengan pasukan Ibnu Sa'ad, iapun memulai peperangan dengan mereka dengan berkata. "Aku adalah Ali putra al-Husain bin Ali, demi Ka'bah, aku bersumpah, kami lebih layak mengatasnamakan Rasulullah saw, aku bersumpah atas nama Allah bahwa keturunan pezina tidak akan menjadi pemimpin atas kami, aku akan membunuhmu dengan pedang demi mendukung ayahku, itu pun dengan pukulan pedang seorang pemuda dari generasi Hasyim dan Quraisy." [26]

Ucapan Imam Husain as mengenai Ali Akbar

Imam Husain as berkata mengenai Ali Akbar [27] "Wahai Ibnu Sa'ad, Allah swt akan memutus generasimu, sebagaimana kalian telah memutus generasi kami. Kalian telah memutuskan hubungan kekerabatan dengan Nabi saw dan tidak memberikan perhatian kepada kami. Allah akan membuat seseorang akan berkuasa atas kalian, sampai kepala kalian terpisah dari tubuh kalian di tempat-tempat tidur kalian." [28]

Kemudian berkata lagi [29], "Ya Allah, Engkau menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan oleh kaum ini, dan seseorang dari kami telah menghadapi mereka yang dari sisi perawakan lahir, akhlak, ucapan sangat mirip dengan Rasul-Mu." [30] Ucapan lainnya, "Ya Allah, jika kami begitu merindukan Rasulullah, maka kami memandangi wajahnya." [31]

Imam Husain as juga berkata, "Ya Allah, halangilah keberkahan bumi untuk mereka dan timbulkan perpecahan dikalangan mereka dan pisahkanlah satu sama lain. Mereka telah memusuhi dan memerangi kami, sementara mereka sendiri yang mengundang kami. Sesaatpun jangan jadikan para penguasa ridha atas mereka, dan pecahkanlah mereka menjadi banyak golongan." Setelah itu, Imam Husain as membaca dua ayat dari surah Ali Imran. [32]

Kronologis Peperangan Ali Akbar

Perang Ali Akbar yang Pertama

Ali Akbar dalam serangan pertama kepada pihak musuh melakukannya secara bergantian dari sisi kanan, kiri bahkan maju ketengah-tengah pasukan Kufah. Tidak ada dari pihak musuh yang mampu melumpuhkan dan menahan serangannya. Disebutkan dari serangannya tersebut, Ali Akbar berhasil menjatuhkan 120 penunggang kuda, dan tewas ditangannya. Kehausan yang teramat sangat menyebabkan kemudian tenaganya terkuras habis dan membuatnya tidak lagi berdaya sehingga berhasil dilumpuhkan musuh.

Untuk mengembalikan tenaganya, ia kembali ke sisi ayahnya dan menyampaikan akan derita kehausan yang menimpanya. Mengetahui kondisi putranya, Imam Husain as sendiri tidak bisa berkata apa-apa, sebab ia sendiri juga menderita kehausan. Ia berkata, "Marilah dekatkan lidahmu." Ketika putranya menjulurkan lidahnya, Imam Husain as menyentuhkan lidahnya sendiri ke lidah putranya. Mungkin tindakan Imam Husain as itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada Ali Akbar, bahwa lidahnya sendiri justru jauh lebih kering, dari lidah putranya itu. Setelah itu ia serahkan cincinnya kepada Ali dan berkata, "Masukkanlah cincin ini kemulutmu, dan saya yakin engkau tidak akan lama lagi berjumpa dengan kakekmu, dan ia yang akan menghilangkan rasa dahagamu sehingga engkau tidak akan lagi pernah merasakan kehausan." [33]

Fragmen ini juga dituliskan oleh Sayid bin Thawus dengan teks yang sedikit berbeda. [34]

Perang Kedua Ali Akbar

Ali bin al-Husain setelah mengadukan keadaannya kepada ayahnya, ia kembali ke medan pertempuran. Sekitar 200 orang dari pasukan Kufah berhasil ia robohkan. [35]Dengan keberanian dan kelihaian Ali Akbar dalam berperang, membuat pasukan Kufah tidak berani mendekat. [36]

Kesyahidan

Karena diserang rasa dahaga yang tidak lagi mampu ditahannya, kemampuan Ali Akbar melemah. Kondisi tersebut menjadi perhatian Murrah bin Munqadz. Seketika itu juga ia mendekati Ali Akbar, dan menebaskan pedangnya ke leher Ali. Ali lengah dan tidak mampu menahan pedang tersebut. Sehingga tebasan pedang itu melukainya, dan memancing pasukan Kufah lainnya untuk ikut mengepung dan menyerangnya. [37]

Setiap dari penyerang melukai Ali Akbar di beberapa bagian tubuhnya. Ali Akbar dalam kondisi tidak berdaya berkata, "Wahai ayahku, salam atasmu. Kakekku Rasulullah telah tiba, ia membawakanku air yang akan menghilangkan dahagaku." Ia juga berujar yang ditujukan kepada para musuhnya, "Segeralah kalian kemari dan pertemukan aku dengan kakekku segera." [38]

Reaksi Imam Husain as

Imam Husain as mendekati jasad putranya yang penuh luka dan gugur dengan cara yang mengenaskan. [39]Melihat kondisi putranya yang tragis, Imam Husain as melaknat para pembunuhnya, "Allah akan membunuh kaum yang telah membunuhmu." [40] Setelah itu ia berkata, "Wahai anakku, mereka telah bertindak kurang ajar dan tidak tahu malu di hadapan Allah swt dan telah melecehkan kehormatan Rasulullah saw. Sepeninggalmu wahai anakku, celakalah atas dunia ini." [41] Menurut sebagian sumber, Imam Husain as mengambil segenggam darah Ali Akbar dan melemparkannya ke arah langit. Tak setetespun dari darah itu membasahi bumi.[42] Lalu Imam meminta sejumlah pemuda Ahlulbaitnya untuk memindahkan jenazah Ali Akbar ke pinggir kemah,[43]seraya berkata, "Bawalah jasad saudaramu." Kemudian mereka membawa jasad Ali Akbar dan diletakkannya di hadapan tenda. [44] Zainab al-Kubra sa beserta sejumlah perempuan Ahlulbait menyambut jasad kakaknya, dan berteriak, "Wahai saudarku… wahai saudaraku." [45] Iapun bersimpuh memeluk jasad saudaranya. Imam Husain as mendekati Zainab, menenangkan hatinya dan membawanya kembali memasuki tenda. [46]

Laknat atas Pembunuh Ali Akbar

Dalam Ziarah Nahiyah Muqaddasah, Imam Zaman Afs melaknat para pembunuh Ali Akbar. Bunyi teks dari ziarah tersebut adalah sebagai berikut:

... حَکمَ اللهُ علی قاتِلکَ مُرّةِ بن مُنقِذِ بنِ نُعمان العبدی، لَعنهُ الله و أخزاهُ و مَن شَرَکَ فی قَتلِکَ و کانَ عَلیکَ ظَهیراً

Allah sendiri yang akan menghukum pembunuhmu, Murrah bin Munqadz bin Nu'man. Laknat Allah atasnya, dia aka dihinakan, dan siapa saja yang turut serta dalam pembunuhanmu dan membantunya Allah akan menempatkan mereka kedalam neraka Jahannam. [47]

Catatan Kaki

  1. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 86; Abu Mikhnaf, Waq'ah al-Thaf, hlm. 276; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 246-247
  2. Zirikli, al-I'lam, jld. 4, hlm. 277; Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 87
  3. Syura Markaze Taqwim Muassasah Ziofisik Danesygah Tehran, Taqwim Rasmi Kisywar tahun 1398 HS, hlm. 4
  4. Yusufi, Gharawi, Ali Akbar berusia 18 tahun dan tidak bujang, tetapi saat hadir di Karbala berusia sekitar 28 tahun
  5. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyin, hlm. 86
  6. Zirikli, al-I'lam, jld. 4, hlm. 277
  7. Syaikh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 135
  8. Ibnu Saa, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 5, hlm. 211; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 446; Syusytari, Qamus al-Rijal, jld. 7, hlm. 419-420
  9. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 246
  10. Ibnu Saad. al-Thabaqat al-Kubra, jld. 5, hlm. 211
  11. Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 114
  12. Muhadditsi, Farhangge Asyura, hlm. 352
  13. Ranjbar, Pazuhisyi Darbare-e Farjam wa Mahalle Dafne Sare Muthahhare Imam Husain as wa Sarha-ye digare Syuhada, hlm. 89
  14. Amin, A'yan al-Syiah, jld. 1, hlm. 637 dinukil dari Ranjbar, Pazuhisyi Darbare-e Farjam wa Mahalle Dafne Sare Muthahhare Imam Husain as wa Sarha-ye digare Syuhada, hlm. 89
  15. Amin, A'yan al-Syiah, jld. 1, hlm. 637 dinukil dari Ranjbar, Pazuhisyi Darbare-e Farjam wa Mahalle Dafne Sare Muthahhare Imam Husain as wa Sarha-ye digare Syuhada, hlm. 89
  16. Husaini, Jalali, Mazaratu Ahlilbait wa Tarikhuha, hlm. 226
  17. Farsān al-Haijah, hlm. 393 dan 394.
  18. Sayid bin Thawus, Luhuf, hlm. 139; Khawarizmi, Maqtal al-Husain, jld. 2, hlm. 34.
  19. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyin, hlm. 86.
  20. Maqātil al-Thālibiyin, hlm. 86.
  21. Ibnu A'tsam, al-Futuh, jld. 5, hlm. 114.
  22. Ibnu Asakir, Tarjumah al-Husain, hlm. 227.
  23. Maqātil al-Thālibiyin, hlm. 86; Abu Makhnaf, Waq'ah al-Thaf, hlm. 276.
  24. Syaikh Abbas Qomi, Muntaha al-Amāl, jld. 2, hlm. 867.
  25. Ibnu Mikhnaf, Waq'ah al-Thaf, hlm. 276; Thabari, Tārikh al-Umum wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 309.
  26. Maqtal al-Husain Muqarram, hlm. 321; al-Irsyād, jld. 2, hlm. 106.
  27. Mutsir al-Ahzān, hlm. 68.
  28. Maqtal al-Husain Kharazmi, jld. 2, hlm. 35.
  29. Maqtal al-Husain Kharazmi, jld. 2, hlm. 35.
  30. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 139.
  31. Maqtal al-Husain Kharazmi, jld. 2, hlm. 35; Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 139.
  32. Maqtal al-Husain Kharazmi, jld. 2, hlm. 35.
  33. Maqtal al-Husain Kharazmi, jld. 2, hlm. 35.
  34. Luhuf, hlm. 49.
  35. Maqtal al-Husain Muqarram, jld. 2, hlm. 36.
  36. Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 459.
  37. Maqātil al-Thālibiyin, hlm. 115; Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 459.
  38. Maqātil al-Thālibiyin, hlm. 115; Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 49; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 45, hlm. 44.
  39. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 4.
  40. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 106; Hilli, Ibn Nama, Mutsir al-Ahzān, hlm. 247; Abu Mikhnaf, Waq'ah al-Thaf, hlm. 278.
  41. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 139; Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 459.
  42. Ibnu Jauzi, al-Muntazham, jld. 5, hlm. 340
  43. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 336
  44. Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 459; Thabari, Tārikh al-Umum wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 336.
  45. Hilli, Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzān, hlm. 247; Maqtal al-Husain Muqarram, jld. 2, hlm. 36.
  46. Thabari, Tārikh al-Umum wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 336.
  47. Iqbāl al-A'māl, jld. 3, hlm. 74.

Daftar Pustaka

  • Abu Mikhnaf. Waq'ah al-Thaf. Riset: Muhammad Hadi, al-Yusufi al-Gharawi. Al-Majma' al-‘Alimi li Ahl al-Bait. Cet.II, , 1427 H.
  • Al-Kufi, Ibnu A'tsam. Al-Futuh. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, al-Aula, 1411 H/1991 M.
  • Al-Samawi, Muhammad Thahir. Salahsyurān Thaf.Terj: Abbas Jalali. Qom: Intisyarat Zair, cet. I, 1381 HS.
  • Farsān al-Haijah.
  • Hairi, Muhammad Mahdi. Ma'āli al-Sibhtain. Beirut: Muassasah al-Nu'man, tanpa tahun.
  • Hilli, Ibnu Nama. Mutsir al-Ahzān. Terj: Ali Karami. Qom: Nasyr Hadziq, cet. I, 1380 HS.
  • Ibnu Asakir. Tarjumah al-Husain.
  • Ibnu Sa'ad. Tabaqāt al-Kubra. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Iqbāl al-A'māl.
  • Isfahani, Abu al-Faraj. Maqātil al-Thālibiyin. Riset: Ahmad Shaqr. Beirut: Muassasah al-Ilmi lil Matbu'āt. Cet. II,1408 H.
  • Kāmil al-Ziyārat.
  • Khawarizmi, Abu al-Muwayad. Maqtal al-Husain. Riset: Muhammad al-Samawi. Qom: Anwar al-Hadi, al-Aula, 1418 H.
  • Lu'lu wa Marjān.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār.
  • Muqarram. Hāditsah Karbala dar Maqtal Muqarram. Terj: Muhammad Jawad Maula Niya. Qom: Intisyarat Julu Kamal, cet. III, 1387 HS.
  • Mausu'ah Kalimāt al-Imam al-Husain As.
  • Qamus al-Rijāl.
  • Sayid Ibnu Thawus. Al-Luhuf. Terj: Aqiqi Bakhsyayasyi. Qom: Daftar Nasyr Nawid Islam. cet. V, 1378 HS.
  • Syaikh Abbas Qomi. Muntaha al-Amāl.Riset: Nashir Baqiri Baidahandi. Qom,: Intisyarat Dalil, 1379 HS.
  • Syaikh Mufid. Al-Irsyād.. Terj: Muhammad Baqir Sa'adi. Teheran: Intisyarat Islamiyah, 1380 HS.
  • Syaikh Thusi. Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijāl.
  • Thabari. Tarikh al-Umum wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Cet.II, 1408 H/1988 M.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Wadhih. Tarikh Ya'qubi. Terj: Muhammad Ibrahim Aiti. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhang. Cet.VIII, 1378 HS.