Prioritas: b, Kualitas: b

Nisfu Syakban

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Perayaan Malam Nisfu Syakban

Nisfu Syakban (bahasa Arab: النصف من شعبان) atau pertengahan bulan Syakban adalah diantara perayaan terbesar umat Islam Syiah yang jatuh pada hari ke-15 bulan Syakban. Hari tersebut diperingati umat Islam Syiah sebagai hari kelahiran Imam ke-12 Syiah. Pada sebagian riwayat, malam pertengahan Syakban adalah malam paling mulia setelah malam al-Qadr. Umat Islam Syiah menjadikan malam pertengahan Syakban sebagai malam untuk beribadah semalam suntuk dengan menghidupkan amalan-amalan sunah. Sebagian Ahlusunah dan kelompok-kelompok tarikat juga meyakini malam pertengahan Syakban memiliki fadhilah dan keutamaan yang sangat besar.

Perayaan malam Syakban adalah diantara perayaan besar bagi umat Islam Syiah yang berkaitan dengan malam kelahiran Imam Mahdi as. Pada malam tersebut umat Islam Syiah diseluruh dunia mengadakan perayaan. Di Iran, perayaan malam Nisfu Syakban dipusatkan di Masjid Jamkaran, demikian pula di tempat-tempat suci di Karbala, Najaf, Samara di Irak. 15 Syakban dijadikan sebagai hari libur resmi dan ditetapkan sebagai hari kaum Mustadh'afin se dunia.

Nisfu Syakban dalam Riwayat

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw dan para Imam Maksum Syiah mengenai keutamaan menghidupkan malam Nisfu Syakban dengan beribadah didalamnya. Diantaranya disebutkan dalam riwayat, "Malaikat Jibril as membangunkan Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Syakban dan memesankan kepadanya untuk mendirikan salat, membaca Al-Quran serta memperbanyak doa dan istighfar." [1] Pada riwayat lain disebutkan, salah seorang istri Nabi Muhammad saw menceritakan Nabi Muhammad saw melakukan ibadah khusus dengan memperpanjang sujudnya pada malam Nisfu Syakban. [2] Dari riwayat juga disebutkan Imam Ali as dan Imam Shadiq as memiliki amalan khusus dalam menghidupkan malam Nisfu Syakban. [3]

Pada bagian lain dari sejumlah riwayat yang ada mengenai keutamaan malam Nisfu Syakban disebutkan sebagai malam kelahiran Imam Mahdi as, hujjah terakhir Allah swt di muka bumi untuk semua manusia. [4]

Nama lain Malam Nisfu Syakban

  • Barat (برات ). Barat secara etimologi bermakna nota atau surat yang dibuat sebagai bukti atas pengambilan uang atau barang berharga lainnya dari seseorang. Arti terminologinya yang dikaitkan malam Nisfu Sya;ban, adalah malam dimana Allah swt memberikan nota atau surat pembebasan dari ancaman neraka Jahannam kepada hamba-hambaNya yang mengidupkan malam dengan ibadah pada malam itu. [5]
  • Lailatul Shikk (الصک ). Dalam bahasa Arab al-Shikk merupakan kata sinonim dari Barat (برات ).[6]
  • Barat Kandili. oleh orang-orang Turki, malam Nisfu Syaban lebih populer dengan sebutan Barat Kandili.
  • Malam pembebasan. Penyebutan ini lebih dikenal di negara-negara Islam di bagian selatan asia. [7]

Peristiwa Penting yang Terjadi pada Malam Nisfu Syakban

  • Berdasarkan sejumlah riwayat sesuai dngan keyakinan mayoritas ulama Syiah, 15 Syakban [8] tahun 255 [9] atau 256 H [10] adalah hari kelahiran Imam Mahdi as.
  • Wafatnya Ali bin Muhammad al-Samuri, wakil khusus Imam Mahdi as dan akhir masa ghaibah Shughra (329 H). [11]

Keutamaan Malam Nisfu Syakban

Sejumlah hadis mengenai keutamaan dan fadhilah malam dan hari Nisfu Syakban diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw dan Maksumin as. Berikut ini diantara fadhilahnya:

  • Pembukaan bagi semua kenikmatan dan pemaafan serta lautan kebaikan dan rezki pada malam Nisfu Syakban [12]
  • Ditetapkannya rezki dan ditentukannya ajal manusia. [13]
  • Dimaafkannya semua manusia, kecuali orang-orang musyrik, pelaku judi, yang memutuskan silaturahmi, pemabuk dan orang-orang yang gemar berlaku dosa. [14]
  • Malam terbaik setelah malam al-Qadr. [15]

Amalan-amalan yang Disunahkan pada Nisfu Syakban

Amalan pada malam dan siang hari Nisfu Syakban
Amalan pada malam hari
  • Mandi yang dapat menggugurkan dosa-dosa
  • Menghidupkan malam dengan salat, doa dan istighfar
  • Membaca doa Kumail
  • Membaca Ziarah Imam Husain as yang dapat menjadi wasilah terampuninya dosa-dosa. salah satu riwayat menyebutkan ruh 124 ribu Anbiyah as menziarahi Imam Husain as pada malam Nisfu Syakban. Jika tidak memungkinkan untuk menziarahi Imam Husain as di makamnya langsung di Karbala, maka dapat dilakukan dengan membaca doa ziarah pada tempat ketinggian yang diawali dengan menghadap ke kanan dan kekiri kemudian menghadapkan kepala ke langit dengan berucap: :اَلسَّلامُ عَلَیْكَ یا اَبا عَبْدِاللّهِ، اَلسَّلامُ عَلَیْكَ وَ رَحْمَةُالsetelah itu membaca doa berikut:

اَللّهُمَّ بِحَقِّ لَیْلَتِنا (هذِهِ) وَ مَوْلُودِها وَ حُجَّتِكَ وَ مَوْعُودِهَا الَّتى قَرَنْتَ اِلى فَضْلِها فَضْلاً فَتَمَّتْ كَلِمَتُكَ صِدْقاً وَ عَدْلاً لا مُبَدِّلَ لِكَلِماتِكَ وَلا مُعَقِّبَ لاِیاتِكَ نُورُكَ الْمُتَاَلِّقُ وَ ضِیاَّؤُكَ الْمُشْرِقُ وَ الْعَلَمُ النُّورُ فى طَخْیاَّءِ الدَّیْجُورِ الْغائِبُ الْمَسْتُورُ جَلَّ مَوْلِدُهُ وَ كَرُمَ مَحْتِدُهُ وَالْمَلاَّئِكَةُ شُهَّدُهُ وَاللّهُ ناصِرُهُ وَ مُؤَیِّدُهُ اِذا آنَ میعادُهُ وَالْمَلاَّئِكَةُ اَمْد ادُهُ سَیْفُ اللّهِ الَّذى لا یَنْبوُ وَ نُورُهُ الَّذى لا یَخْبوُ وَ ذوُالْحِلْمِ الَّذى لا یَصْبوُا مَدارُ الَّدهْرِ وَ نَوامیسُ الْعَصْرِ و َوُلاةُ الاْمْرِ وَالْمُنَزَّلُ عَلَیْهِمْ ما یَتَنَزَّلُ فى لَیْلَةِ الْقَدْرِ وَ اَصْحابُ الْحَشْرِ وَالنَّشْرِ تَراجِمَةُ وَحْیِهِ وَ وُلاةُ اَمْرِهِ وَ نَهْیِهِ اَللّهُمَّ فَصَلِّ عَلى خاتِمِهْم وَ قآئِمِهِمُ الْمَسْتُورِ عَنْ عَوالِمِهِمْ اَللّهُمَّ وَ اَدْرِكَ بِنا اءَیّامَهُ وَظُهُورَهُ وَقِیامَهُ وَاجْعَلْنا مِنْ اَنْصارِهِ وَاقْرِنْ ثارَنا بِثارِهِ وَاكْتُبْنا فى اَعْوانِهِ وَ خُلَصاَّئِهِ وَ اَحْیِنا فى دَوْلَتِهِ ناعِمینَ وَ بِصُحْبَتِهِ غانِمینَ وَ بِحَقِّهِ قآئِمینَ وَ مِنَ السُّوَّءِ سالِمینَ یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ وَالْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعالَمینَ وَ صَلَواتُهُ عَلى سَیِّدِنا مُحَمَّدٍ خاتَمِ النَّبِیّینَ وَ الْمُرْسَلینَ وَ عَلى اَهْلِ بَیْتِهِ الصّادِقینَ وَ عِتْرَتِهَ النّاطِقینَ وَالْعَنْ جَمیعَ الظّالِمینَ واحْكُمْ بَیْنَنا وَ بَیْنَهُمْ یا اَحْكَمَ الْحاكِمینَ النّاطِقینَ وَالْعَنْ جَمیعَ الظّالِمینَ واحْكُمْ بَیْنَنا وَ بَیْنَهُمْ یا اَحْكَمَ الْحاكِمینَ

  • Memperbanyak bacaan salawat.
  • Membaca doa berikut yang juga dibaca Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Syakban:اَللّهُمَّ اقْسِمْ لَنا مِنْ خَشْیَتِكَ ما یَحُولُ بَیْنَنا وَ بَیْنَ مَعْصِیَتِكَ وَ مِنْ طاعَتِكَ ما تُبَلِّغُنا بِهِ رِضْوانَكَ وَ مِنَ الْیَقینِ ما یَهُونُ عَلَیْنا بِهِ مُصیباتُ الدُّنْیا اَللّهُمَّ اَمْتِعْنا بِاَسْماعِنا وَ اَبْصارِنا وَ قُوَّتِنا ما اَحْیَیْتَنا وَاجْعَلْهُ الْوارِثَ مِنّا وَاجْعَلْ ثارَنا عَلى مَنْ ظَلَمَنا وَانْصُرنا عَلى مَنْ عادانا تَجْعَلْ مُصیبَتَنا فى دینِنا وَلا تَجْعَلِ الدُّنْیا اَكْبَرَ هَمِّنا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنا وَلا تُسَلِّطْ عَلَیْنا مَنْ لا یَرْحَمُنا بِرَحْمَتِكَ یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ
  • Membaca zikir: سُبْحانَ اللّهِ, الْحَمْدُلِلّهِ., اللّهُ اَكْبَرُ, dan لا اِلهَ اِلا اللّهُ" 100 kali
  • Melakukan salat Ja'far ath-Thayyar.
  • Mendirikan salat 4 rakaat, yang disetiap rakaatnya membaca Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas 100 x setelah itu membaca doa berikut:

اَللّهُمَّ اِنّى اِلَیْكَ فَقیرٌ وَمِنْ عَذاِبكَ خائِفٌ مُسْتَجیرٌ اَللّهُمَّ لا تُبَدِّلْ اِسْمى وَلا تُغَیِّرْ جِسْمى وَلاتَجْهَدْ بَلاَّئى وَلا تُشْمِتْ بى اَعْداَّئى اَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِق ابِكَ وَ اَعُوذُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ عَذابِكَ وَ اَعُوذُ بِرِضاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ اَعُوذُبِكَ مِنْكَ جَلَّ ثَناَّؤُكَ اَنْتَ كَما اَثْنَیْتَ عَلى نَفْسِكَ وَ فَوْقَ ما یَقُولُ الْقآئِلُونَ.

Amalan pada siang hari
  • Membaca ziarah Imam Zaman as.
  • Membaca doa untuk kemunculan segera Imam Zaman as.

Nisfu Syakban dalam Pandangan Ahlusunah

Bukan hanya umat Islam Syiah yang meyakini Nisfu Syakban memiliki keutamaan besar melainkan juga dalam keyakinan Ahlusunah khususnya kelompok-kelompok tarikat tasawuf. Diriwayatkan dalam sejumlah hadis dari Rasulullah saw dan periwayatan dari sejumlah sahabat mengenai besarnya keutamaan beribadah pada malam Nisfu Syakban. [16] [17] [18] [19] [20]

Sebagian dari ulama Ahlusunah meragukan kesahihan riwayat mengenai keutamaan Nisfu Syakban demikian pula diantaranya oleh Ibnu Taimiyah yang menjadi rujukan kaum salafi, sehingga mengeluarkan fatwa bid'ahnya bagi kaum muslimin menghidupkan malam Nisfu Syakban dengan mendirikan salat 100 rakaat. [21] Oleh karena itu, ulama salafi abad 14 dan 15 H seperti Tahanawi, Yusuf Qardhawi dan Muhammad saleh Munjid mengeluarkan fatwa menghidupkan malam Nisfu Syakban dan melakukan peringatan di dalamnya adalah amalan tanpa dasar dan merupakan perbuatan bid'ah. [22] [23] [24]

Secara umum Ahlusunah meyakini keutamaan dan fadhilah malam Nisfu Syaban. Bahwa menghidupkan malam Nisfu Syakban dengan amalan ibadah seperti membaca Al-Quran, mendirikan salat berjama'ah, memperbanyak doa, berpuasa pada hari Nisfu Syakban memiliki keutamaan besar diluar hari-hari lainnya. Malam Nisfu Syakban bagi mereka juga diyakini sebagai malam pembebasan dari api neraka. [25] [26] [27]

Mendirikan salat 100 rakaat atau salat al-Khair yang didalamnya dibaca 1000 kali surah Al-Ikhlas adalah diantara amalan sunah yang dilakukan oleh Sunni dan Syiah pada malam Nisfu Syakban. [28] Pada sebagian wilayah Islam seperti di bagian selatan asia hari Nisfu Syakban dirayakan dengan menziarahi kubur, berbagi makanan serta bersedekah pada orang yang membutuhkan. [29]

Perayaan Malam Nisfu Syakban di Masjid Jamkaran

Perayaan Nisfu Syakban

Umat Islam Syiah menjadikan malam Nisfu Syakban sebagai malam perayaan karena bertepatan dengan malam kelahiran Imam Mahdi as. Pada malam itu mereka menghiasi masjid dan tempat-tempat keramaian dengan lampu-lampu hias. Mereka membagikan makanan dan minuman kepada orang-orang miskin untuk turut bergembira. Di Iran, salah satu pusat tempat merayakan malam Nisfu Syakban adalah di Masjid Jamkaran yang terletak di kota Qom. Pada hari 15 Syakban, di Iran ditetapkan sebagai hari libur resmi dan disebut sebagai hari Musthadafien sedunia. [30]

Di Irak umat Islam Syiah juga mengadakan perayaan malam Nisfu Syakban. Mereka pada malam itu melakukan ziarah di makam Imam Husain as sampai keesokan harinya. Demikian pula perayaan malam Nisfu Syakban juga diadakan umat Islam Syiah di Bahrain, Yaman, Mesir, Lebanon, Suriah dan India. [31]

Catatan Kaki

  1. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 98, hlm. 413.
  2. Sayid Ibnu Thawus, Iqbāl al-A'māl, riset: Jawad Quyyumi Isfahani, hlm. 216-217.
  3. Sayid Ibnu Thawus, Iqbāl al-A'māl, riset: Jawad Quyyumi Isfahani, hlm. 540; Majlisi, Bihār al-Anwār, cet. III, jld. 94, hlm. 84-85.
  4. Sayid Ibnu Thawus, Ali bin Musa, Iqbāl al-A'māl, hlm. 218-219.
  5. Ali Akbar Dehkhuda, Lughatname, item: برات , Tehran, 1325-1359 S.
  6. Rampuri, Ghiyāts al-Lhugāt, riset: Manshur Tsarwat, Mendia Informasi Hauzah.
  7. Ba Syukuhtarin Jasyn Tawalud Baraye Kamiltarin_e Insan, Media Informasi Hauzah.
  8. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 514; Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 339; Thabari, Dalāil al-Imamah, hlm. 501; Thusi, Kitab al-Ghaibah, hlm. 239.
  9. Thusi, Kitab al-Ghaibah, hlm. 231; Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 346.
  10. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 329, hadis no. 5 dan hlm. 514, hadis no. 1; Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, terj: Baqir Kamraha, Kamāl al-Din wa Tamām al-Ni'mah, jdl. 2, hlm. 104.
  11. Thusi, al-Ghaibah, hlm. 396, hadis no. 367.
  12. Sayid Ibnu Thawus, Iqbāl al-A'māl, riset: Jawad Qayyumi Isfahani, hlm. 212; Majlisi, Bihār al-Anwār, Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-'Arabi, cet. III, jld. 98, hlm. 413.
  13. Sayid Ibnu Thawus, Iqbāl al-A'māl, riset: Jawad Qayyumi Isfahani, hlm. 216-217.
  14. Sayid Ibnu Thawus, hlm. 209; Majlis, Bihār al-Anwār, jld. 94, hlm. 85.
  15. Mandzari, al-Targhib wa al-Tarhib, Abdul Adzhim bin Abdul Qaqi, riset: Ibrahim Syamsuddin, Dar al-Kutub al-'Ilmiah, cet. I, jld. 2, hlm. 73 dan 74, jld. 3, hlm. 67, 233, 307 dan 309.
  16. Albani, al-Silsilah al-Shahihah, jld. 3, hlm. 135, jld. 4, hlm. 86.
  17. Ibnu Hajar al-asqalani, al-Amāli al-Muthlaqah, riset: Hamdi Abdul Majid al-salafi, Beirut, hlm. 52.
  18. Baihaqi, Syu'ab al-Iman, cet. I, jld. 3, hlm. 378-386.
  19. Ahmad Nigari, Jami' al-'Ulum, jld. 3, hlm. 179.
  20. Ibnu Taimiyah, Fatawa, cet. I, jld. 5, hlm. 344.
  21. Tahanawi, Tashil Behesti Zaiwar asatid Jami' al-Rasyid, Kitab Ghahr, Karachi, hlm. 75.
  22. Hukum syar'i menghidupkan malam pada pertengahan Syakban, site resmi Yusuf Qhardawi.
  23. 'Athir saqar, Malam Nisfu Syakban, Fadhilat dan Hukum Syar'i Menghidupkan Malamnya, site resmi Islami online.
  24. Multani, jld. 1, hlm. 174-176.
  25. Alawi Kirmani, jld. 1, hlm. 405.
  26. Nurbakhsy, al-Fiqh al-Ahwath, jld. 1, hlm. 112-113.
  27. Alawi Karmani, sair al-Awliya, jld. 1, hlm. 405.
  28. Ahmad Dehlawi, Farhang ashfiyah, item: شب برات
  29. Abu Raihan, al-Tafhim, hlm. 252.
  30. Situs Depertemen Tablighat Islami Iran.
  31. Situs Depertemen Tablighat Islami Iran.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Babwaih, Muhammad bin Ali, terj: Muhammad Baqir Kamareh-i, Kamāl al-Din wa Tamām al-Ni'mah, Tehran, Kitab Furusyi Islamiyah, 1419 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Fatawa, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. I, 1408 H.
  • Ahmad Dahlawi,Farhang ashfiyah, item: شب برات, Lahore, 1986.
  • Ahmad Nigari, Jami' al-'Ulum, Beirut, 1395 H.
  • Al-Bani, Muhammad Nashiruddin, al-Silsilah al-Shahihah, Riyadh, Maktabah al-Ma'arif lil Nasyr wa al-Tauzi', cet. I, 1415 H.
  • Biruni Khawarazmi, Abu Raihan Muhammad bin Ahmad, al-Tafhim li Awail Shana'ah al-Tanjim, Abu Raihan Biruni, riset: Jalaluddin Humai, Anjuman Atsar Milli Iran, tanpa tahun.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain, Syu'ab al-Iman, riset: Abu Hajir Muhammad sa'id Basyuni Zughlul, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiah, Mansyurat Muhammad Ali Baidhawi, cet. I, 1421 H.
  • Tahanawi, Tashil Behesti Zaiwar, asatid Jami' al-Rasyid, Kitab Ghahar, Karachi, 1327 H.
  • Khurramsyahi, Bahauddin, Hafidzh Nameh, Intisyarat 'Ilmi wa Farhanggi, cet. XXI, !435 H.
  • Dehkhuda, Ali Akbar, Lughatnameh, item: برات, riset: Muhammad Mu'in, Tehran, 1365-1400S.
  • Rampuri, Ghiyatsuddin Muhammad bin Jalaluddin bin Rampuri, Ghiyāts al-Lughāt, riset: Manshur Tsarwat, Tehran, Ambir Kabir, 1435 H.
  • Sayid Ibnu Thawus, Ali bin Musa, Iqbāl al-A'māl, riset: Jawad Qayyumi Isfahani, Daftar Tablighat Islami Hauzah Ilmiah Qom, 1418 H.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Irsyād fi Ma'rifati Hujujillah 'ala al-'Ibad, Beirut, Dar al-Mufid, 1413 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalāil al-Imāmah, riset: Muassasah Bi'tsat, Qom, Muassasah Bitsat, cet. I, 1413 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Kitab al-Ghaibah, Muassasah Ma'arif Islami, 1411 H.
  • asqalani, Ahmad bin Hajar, al-Amāli al-Muthlaqah, riset: Hamdi Abdul Majid al-salafi, Beirut, al-Maktabah al-Islami, cet. I, 1416 H.
  • Alawi Kirmani, Muhammad, sair al-Awliya, Islam Abad, 1398 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1389 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, riset: Muhammad Baqir Mahmudi dkk, Beirut, Dar al-Ahya al-Turats al-Arabi, cet. III, 1403 H.
  • Multani, Bahaudiin Zakariya, al-Awrād, Islam Abad, 1398 H.
  • Mundziri, Abdul 'Adzhim bin Abdul Qawi, al-Targhib wa al-Tarhib, Abdul 'Adzhim bin Abdul Qawi, riset: Ibrahim Syamsuddin, Dar al-Kutub al-'Ilmiah, cet. I, 1417 H.
  • Maulawi, Jalaluddin Muhammad bin Muhammad, Diwān Syams, riset: Azizullah Kasib, penerbit: Muhammad, 1429 H.
  • Nurbkahsy, Muhammad bin Muhammad, al-Fiqh al-Ahwath, Karachi, 1393 H.
  • "Ba Syukuhtarin Jasyn Tawalud Baray_e Kāmiltarin Insan", site resmi informasi Hauzah.
  • Site resmi Yusuf Qardhawi.
  • Site resmi Islami Online
  • Site resmi Departemen Tablighat Islami Iran.