Prioritas: b, Kualitas: b

Zakat Fitrah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
  • Baris isi

Zakat fitrah (bahasa Arab: زكاة الفطرة) adalah perbuatan wajib dalam fikih Islam yang bemakna membayar harta dengan kadar dan cara tertentu kepada orang-orang yang membutuhkan pada perayaan Idul Fitri. Kadar zakat fitrah untuk setiap orang -sesuai makanan pokok yang umum- sekitar satu Sha' (± 3 kg) gandum, jelai, kurma dan kismis atau seharga barang-barang tersebut.

Wajib hukumnya membayar zakat fitrah bagi kepala keluarga yang tidak fakir. Waktu pembayarannya sebelum salat Idul Fitri atau sebelum zuhur hari Idul Fitri. Tempat penyaluran zakat ini sama dengan zakat harta. Berdasarkan riwayat-riwayat, pembayaran zakat fitrah menjadi penyempurna puasa, pendukung diterimanya puasa, faktor penjaga manusia dari kematian tahun itu, dan penyempurna zakat harta.

Arti Fitrah

Fitrah mempunyai beberapa makna:

  • Bermakna penciptaan: yaitu bentuk dan rupa makhluk. Di sini maksud dari zakat fitrah akan menjadi zakat ciptaan. Atas dasar ini, zakat fitrah disebut juga zakan badan. Sebab, hal itu menyebabkan keselamatan badan dari bencana-bencana.
  • Berarti Islam: di sini maksud zakat fitrah adalah zakat Islam. Korelasi antara zakat fitrah dan Islam ialah dari sisi bahwa zakat termasuk rukun dan syiar Islam.
  • Bermakna berbuka puasa lawan dari puasa: arti zakat fitrah adalah zakat berbuka dari puasa.[1]

Dalam Riwayat

  • Imam Shadiq as ditanya mengenai ayat: قَدْ أَفْلَحً مَنْ تَزَكَّى; "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri"[2] beliau menjawab: "Orang yang membayar zakat fitrah", lalu ditanya lagi: وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى; "Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat"[3], beliau menjawab: "Orang yang keluar ke sahara lalu melaksanakan salat".[4]
  • Imam Shadiq as berkata: "Dari kesempurnaan puasa adalah membayar zakat fitrah sebagaimana salawat atas Nabi saw menjadi penyempurna salat. Sebab, setiap orang yang berpuasa tapi tidak mengeluarkan zakat, jika sengaja meninggalkan itu maka ia tidak dianggap berpuasa. Demikian juga orang yang meninggalkan salawat atas Nabi saw, maka salatnya tidak sah. Allah swt menyebut zakat sebelum salat dan berfirman: قَدْ أَفْلَحً مَنْ تَزَكَّى وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat"[5][6]
  • Imam Ali as berkata: "Orang yang membayar zakat fitrah, maka dengannya Allah swt akan menyempurnakan/menutupi kekurangan zakat hartanya".[7]
  • Imam Shadiq as berkata:"Orang yang menyempurnakan puasanya dengan perkataan baik atau perbuatan baik niscaya Allah swt mengabulkan puasanya". Beliau ditanya, wahai putra Nabi! Perkataan baik itu apa? Beliau menjawab: "Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah; dan perbuatan baik adalah membayar zakat fitrah."[8]
  • Imam Shadiq as kepada wakilnya, Muttaib berkata:"Pergilah dan bayarkan zakat fitrahnya semua orang yang biaya hidup mereka ditanggung kita, dan satupun jangan ditinggalkan, sebab jika engkau meninggalkan satu orang dan lupa, maka aku khawatir akan Faut ". Muttaib bertanya: Faut itu apa? "Kematian", jawab beliau.[9]

Hukum Taklifi

Zakat fitrah termasuk kewajiban ibadah. Oleh karenanya, dalam pelaksanaannya disyaratkan niat mendekatkan diri kepada Allah swt sehingga menjadi sah.[10]

Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah

1. Taklif: kewajiban zakat fitrah gugur dari selain Mukallaf (tidak balig dan gila).[11]
2. Sadar: orang yang jatuh pingsan di saat matahari terbenam (ghurub) pada hari akhir bulan Ramadhan tidak terkena kewajiban zakat fitrah.[12]
3. Tidak membutuhkan: zakat fitrah tidak wajib bagi orang fakir. Menurut pendapat masyhur maksud orang fakir adalah orang yang sekarang (bil fi'l) atau akan datang (bil quwwah) tidak mempunyai biaya hidup untuk dirinya dan keluarganya selama satu tahun.[13] Sebagian fukaha terdahulu mengatakan, fakir adalah orang yang tidak memiliki salah satu nisab zakat atau harganya.[14] Dari sebagian fukaha yang lain dinukilkan bahwa zakat fitrah wajib bagi orang fakir yang memiliki makanan untuk sehari semalam.[15] Tentu, tidak diragukan dalam kesunahan membayar zakat fitrah bagi orang fakir, minimalnya ia menggilirkan harta seukuran 1 sha' (± 3 kg) di antara anggota keluarganya, kemudian ia memberikannya kepada orang fakir diluar keluarganya sebagai zakat fitrah.[16]
  • Mengenai wajibnya zakat fitrah, apakah disyaratkan seseorang selain memiliki biaya hidupnya selama satu tahun, juga harus memiliki harta lebih seukuran zakat atau tidak? terjadi perbedaan pendapat. Menurut pendapat pertama, orang yang mempunyai biaya hidup selama satu tahun tetapi tidak ada lebihnya yang bisa dibayarkan untuk zakat, maka zakat tidak wajib baginya.
  • Sebagain fukaha membedakan antara kaya sekarang (bil fi'il) dan kaya akan datang (bil quwwah). Pada asumsi kedua, wajibnya zakat selain disyarati harus memiliki biaya hidup satu tahun, juga harus memiliki harta seukuran zakat.[17]
  • Tolok ukur wajibnya zakat bagi seseorang adalah pemenuhan syarat-syarat wajib sebelum terbenamnya matahari (ghurub) pada malam Idul Fitri hingga terbenam. Oleh karena itu, orang yang memenuhi syarat-syaratnya sebelum matahari terbenam, tetapi saat matahari terbenam tidak memiliki syarat-syarat itu, maka ia tidak wajib membayar zakat fitrah. Jika seseorang di antara waktu ghurub (matahari terbenam) dan pelaksanaan salat Id (condongnya mataharin ke arah barat hari Id) memiliki syarat-syarat itu, maka ia seperti orang yang tidak balig menjadi balig, dan zakat fitrah baginya akan menjadi mustahab.[18]
  • Sebagian fukaha kontemporer berpendapat, apabila di antara waktu ghurub (matahari terbenam) dan salat Id syarat-syarat dapat terpenuhi, maka berdasarkan ihtiyat wajib harus mengeluarkan zakat fitrah.[19] Sebagian fukaha juga mengatakan, pemenuhan syarat-syarat saat ghurub juga menyebabkan wajibnya zakat fitrah, walaupun sebelumnya ia tidak memiliki syarat-syarat tersebut.[20]

Orang-orang Yang Terkena Kewajiban Bayar Zakat Fitrah

Orang yang menjadi 'Iyal (tanggungan) seseorang, baik balig atau tidak, baik orang bebas atau hamba sahaya, dan baik Muslim atau kafir, maka zakatnya (jika memenuhi syarat) wajib dibayar oleh orang yang menanggungnya (Mu'il).[21]

Apakah zakat fitrah istri diwajibkan secara mutlak atas suami dan zakat fitrah hamba sahaya atas tuannya sekalipun mereka tidak dianggap 'Iyal mereka berdua, atau hanya akan wajib jika mereka menjadi 'Iyal suami dan tuannya, dan atau jika nafkah mereka wajib atas mereka berdua sekalipun mereka tidak dihitung sebagai 'Iyal mereka berdua? adalah masalah yang kontroversi.[22] Tentu, perbedaan itu akan terjadi bila istri dan budak bukan menjadi tanggungan orang lain, sebab kalau tidak demikian (artinya menjadi tanggungan orang lain) maka tidak ada perselisihan pendapat tentang gugurnya zakat atas suami dan tuan.[23]

Zakat fitrah gugur bagi orang yang zakat fitrahnya berada dalam tanggung jawab orang lain;[24] meskipun orang lain itu tidak membayarkan zakat.Tentu saja, jika penanggung (Mu'il) itu fakir sementara yang ditanggung ('Iyal) orang kaya, apakah yang ditanggung wajib membayar zakat sendiri atau tidak? suatu yang kontroversi.[25]

Zakat Fitrah Tamu

Zakat fitrah tamu wajib dibayar oleh tuah rumah. Memang masalah ini kontroversi, dimana apakah dengan satu kali berbuka puasa di malam idul Fitri, zakatnya wajib dibayar oleh tuan rumah atau tidak? Sebagian Fukaha memandang bahwa dengan sekedar terealisasi predikat tamu, sekalipun dalam waktu singkat sebelum tiba waktu berbuka puasa malam Id, maka zakatnya wajib bagi tuan rumah. Dan sebagian yang lain memandang bahwa zakat itu wajib bagi tuan rumah jika orang tersebut disebut tamu menurut uruf. Dan 'tamu' menurut uruf adalah orang yang dianggap 'Ayal tuan rumah.

Ada pendapat-pendapat lain yang disebut dalam hal ini (wajibnya zakat fitrah tamu bagi tuan rumah), diantaranya:

(1). Disyaratkannya satu bulan penuh menjadi tamu
(2). Pertengahan kedua dari bulan Ramadan menjadi tamu
(3). 10 hari dari akhir bulan menjadi tamu
(4). Dua malam dari akhir bulan menjadi tamu
(5). Satu malam akhir bulan menjadi tamu.[26]

Jenis dan Kadar

Kalimat-kalimat Fukaha dalam menjelaskan jenis zakat fitrah berbeda-beda. Sebagian mereka hanya menyebut gandum, jelai, kurma dan kismis. Sebagian yang lain menambahkan jagung atau susu kering (bahasa Persi:kasyk). Kelompok ketiga menyebut 5 bahan di atas ditambah susu. Dan kelompok keempat juga menambahkan beras pada 6 jenis makanan di atas.

Masyhur dikalangan mutakhir, jenis zakat fitrah adalah harus dari makanan pokok yang umum di tengah masyarakat.[27]

Dalam zakat fitrah membayarkan harga dari jenis-jenis makanan di atas sudah cukup.[28]

Kadar zakat fitrah untuk setiap orang selain susu adalah 1 sha' (± 3 kg). Dalam susu, sebagian fukaha menyebut kadarnya 4 Rathl tapi masyhur meyakini kadarnya 1 sha' juga. Sesuai pendapat pertama, yang dimaksud Rathl apakah jenis Irak atau Madinah masih menjadi perselisihan pendapat.[29]

Waktu Wajib Bayar Zakar Fitrah

  • Pendapat masyhur di kalangan fukaha komtemporer, waktu wajib bayar zakat fitrah adalah ghurub (terbenam matahari) hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian lagi memandang waktu wajibnya adalah munculnya fajar hari Id.[30] Mengenai akhir waktu wajib bayar zakat fitrah terjadi perbedaan pendapat. Sebagian fukaha mengatakan saat menjelang melakukan salat Id, sebagian yang lain mengatakan zawal (zuhur) hari Id, dan kelompok ketiga mengatakan ghurub hari Id.[31]
  • Terjadi perbedaan pendapat mengenai apakah pembayaran zakat fitrah di buln Ramadhan bisa dilakukan sebelum datang waktu wajibnya atau tidak? Berdasarkan pendapat yang mengatakan boleh, maka pembayaran zakat fitrah boleh dilakukan sejak awal bulan Ramadhan.[32]
  • Bila seseorang tidak membayarkan zakat fitrah pada waktu wajibnya, maka bila dia sudah memisahkan dan menyisihkan zakat itu dengan niat taqarrub, maka itu dikeluarkan untuk zakat fitrahnya. Namun, apabila dia tidak memisahkan, apakah zakat gugur dari tanggungannya atau tidak? Dan jika tidak gugur, apakah pembayaran zakatnya harus diniatkan adaan atau qadhaan? terjadi perbedaan pendapat.[33]
  • Bila setelah memisahkan zakat fitrah tidak membayarkannya padahal mampu membayar, maka ia wajib mengganti.[34]

Penyaluran Zakat Fitrah

  • Menurut pendapat masyhur dan makruf di antara fukaha, penyaluran zakat fitrah adalah sama dengan penyaluran zakat harta.[35]
  • Lahiriyah pernyataan sebagian fukaha terdahulu, penyaluran zakat fitrah adalah orang-orang fakir.[36] Sebagian fukaha kontemporer berfatwa, berdasarkan ihtiyat wujubi adalah membayarkan zakat fitrah kepada mereka.[37]
  • Menurut pendapat sekelompok fukaha, membayarkan zakat fitrah kepada mukhalif (Ahlusunah) yang lemah ketika tidak ada orang mukmin (Syiah imamiyah) yang fakir boleh hukumnya.[38]
  • Pemilik zakat bisa langsung membayarkan zakat fitrahnya kepada yang berhak meskipun lebih utama diserahkan kepada Imam as atau wakilnya.[39]
  • Menurut pendapat masyhur, tidak boleh membayar zakat fitrah kepada fakir kurang dari 1 sha' kecuali jika orang fakir jumlahmya banyak sehingga membayarkan 1 sha' kepada semua mereka tidak memungkingkan, maka dalam kondisi ini sebagian fukaha membolehkan pembayaran zakat fitrah kurang dari 1 Sha'.Sebaliknya, boleh membayar zakat fitrah lebih dari 1 Sha' dan bahkan boleh sampai batas kefakiran terangkat dari seorang fakir.[40]
  • Mustahab zakat fitrah disalurkan kepada familinya yang fakir kemudian kepada para tetangga, sebagaimana mustahab didahulukan orang-orang fakir yang berilmu dan pemilik fadilah atas selain mereka dalam penyaluran zakat fitrah.[41]
  • Seorang Sayid (keturunan Nabi saw) tidak boleh menerima zakat (harta dan fitrah) dari selain Sayid. Namun apabila khumus dan kewajiban-kewajiban harta lain (wujuhāt) tidak mencukupi biaya hidupnya dan terpaksa harus mengambil zakat, maka boleh baginya mengambil zakat dari selain Sayid.[42]

Catatan Kaki

  1. Amili, Madārik al-Ahkām, jld.5, hlm.307; Anshari, Kitab al-Zakah, hlm.297
  2. Q.S. Al-A'la:14
  3. Q.S. Al-A'la:15
  4. Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.1, hlm.510
  5. Q.S. Al-A'la: 14-15
  6. Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.2, hlm.183
  7. Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.2, hlm.183
  8. Shaduq, al-Tauhid, hlm.22
  9. Kulaini, al-Kafi, jld.7, hlm.668
  10. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.204
  11. Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.279
  12. Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.485
  13. Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.488-490
  14. Al-Khilāf, jld.2, hlm.146
  15. Mukhtalaf al-Syiah, jld.3, hlm.261
  16. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.492
  17. Hakim, Mustamsik al-'Urwah, jld.9, hlm.390-392
  18. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 499
  19. Minhaj al-Shālihin (Khui), jld.1, hlm.320
  20. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.205-206
  21. Hakim, Mustamsik al-Urwah, jld.9, hlm.396-397
  22. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.502-504
  23. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.504
  24. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.505
  25. Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.209
  26. Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.207-208; Khui, Mausu'ah al-Khui, jld.24, hlm.393-394
  27. Bahrani, al-Hadāiq al-Nādhirah, jld.12, hlm.279; Naraqi, Mustanad al-Syiah, jld.9, hlm.405-406; Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.514-518
  28. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.518
  29. Khui, Musawi al-Khui, jld.24, hlm.453
  30. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.527; Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.222
  31. Bahrani, al-Hadāiq al-Nādhirah, jld.12, hlm.301
  32. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 529
  33. Najafi, Jawāhir al-Kalam, 15, hlm.534-536
  34. Najfi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.538
  35. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 538
  36. Al-Muqni'ah, hlm.252
  37. Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.225
  38. Thusi, al-Nihāyah, hlm.192; Hilli, al-Jami' li al-Syarāi', hlm.140; Amili, Syarāi' al-Islam, jld.1, hlm.131-132
  39. Hairi, Riyādhul Masāil, jld.5, hlm.221-220
  40. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.14, hlm.541-542; Hakim, Mustamsik al-Urwah, jld.9, hlm.438-439
  41. Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.542-543
  42. Imam Khumaini, Taudhih al-Masāil, hlm. 298; Imam Khumaini, Tahrir al-Wasilah (terj. Persia), jld.1, hlm.386; Yazdi, al-Urwah al-Wustqa (Muhassyi), jld.4, hlm.136-137

Daftar Pustaka

  • Amili, Muhammad bin Ali Musawi. Madārik al-Ahkam fi Syarh Ibadat Syarāi'ul Islam. Muassasah Al al-Bait as, Bairut: 1411 H
  • Anshari, Murtadha. Kitab al-Zakah. Kongres Syaikh A'zham Anshari. Qom: 1415 H.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad.Al-Hadāiq al-Nādhirah fi Ahkām al-Itrah al-Thāhirah.Jami'ah Mudarrisin. Qom: 1405 H
  • Hairi, Ali bin Muhammad. Riyādhul Masāil fi Tahqiq al-Ahkām bi al-Dalāil. Qom: Muassasah Al al-Bait as, 1418 H.
  • Hakim, Muhsin. Mustamsik al-'Urwah al-Wutsqā. Muassasah Dar al-Tafsir. Qom: 1416 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf. Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah. Jami'ah Mudarrisin. Qom: 1413 H.
  • Hilli, Yahya bin Said. Al-Jami' li al-Syarāi'. Muassasah Sayid al-Syuhada al-Ilmiah. Qom: 1405 H
  • Imam Khumaini. Tahrir al-Wasilah (terj. Persia) Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini. Teheran: 1428 H
  • Imam Khumaini. Taudhih al-Masāil. Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini. Teheran:1429 H
  • Khui, Abul Qasim.Mausu'ah al-Imam al-Khui.Muassasah Ihya Atsar al-Imam al-Khumaini. Qom: 1418 H.
  • Khui, Abul Qasim.Minhaj al-Shalihin. Penerbit Madinah al-Ilm. Qom: 1410 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'kub. Al-Kafi. Darul Hadits, Qom: 1429 H
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Kongres Jahani Hezareh Syaikh Mufid, Qom: 1413 H
  • Najafi, Muhammad bin Hasan. Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarāi'ul Islam. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Bairut: 1404 H.
  • Naraqi, Ahmad bin Muhammad. Mustanad al-Syiah fi Ahkām al-Syiah. Muassasah Al al-Bait as,Qom; 1414 H
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Man la Yahduruhul Faqih. Ghaffari, Ali Akbar. Jamiah Mudarrisin. Qom: 1413 H
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Khilāf. Jami'ah Mudarrisin. Qom: 1407 H
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Nihāyah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatāwā. Darul Kitab al-Arabi, Bairut: 1400 H
  • Yazdi, Sayid Kazhim Thabathabai. Al-'Urwah al-Wustqā fi ma Taummu bihi al-Balwā (Muhassyi). Jami'ah Mudarrisin, 1419 H