tanpa prioritas, kualitas: c
tanpa link
tanpa foto
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Munajat Khamsa 'Asyar

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Munajat Khamsa ‘Asyar (bahasa Arab:المناجاة الخمس عشرة) adalah kumpulan dari 15 munajat yang dinukil dari Imam Sajad. Doa-doa ini termaktub dalam kitab-kitab seperti Al-Shahifah Al-Tsaniyah al-Sajādiyah, Bihār al-Anwār dan Mafātih al-Jinān. Kandungan munajat ini berkisar seputar persoalan-persoalan yang berkaitan dengan akhlak dan irfan. Banyak kitab-kitab telah ditulis mengenai syarah munajat ini.

Sanad

Munajat Khamsa ‘Asyara tercantum dalam kitab-kitab seperti Bihār al-Anwār[1] dan Mafātih al-Jinān[2] Allamah Majlisi berkata: Aku melihat munajat ini di beberapa kitab sahabat yang menukil munajat ini dari Imam Sajad As [3] padahal beliau tidak mengisyaratkan sedikit pun tentang nama kitab itu dan sanad riwayatnya pun tidak dinukilkan. Syaikh Hurr Amili dalam kitab Al-Shahifah al-Tsaniyah al-Sajādiyah juga menamai munajat ini dengan 15 munajat yang berasal dari doa-doa Sajjadiyah dan tidak diragukan lagi bahwa munajat ini berasal dari Imam Sajjad As. Riwayat 15 munajat ini adalah mursal (perawi tidak lengkap) namun karena tema-tema yang terkandung dalam munajat ini sesuai dengan ajaran al-Quran dan doa-doa berpengaruh lainnya, maka tidak ada masalah untuk membacanya.

15 Munajat menurut Ulama

Muhammad Taqi Majlisi, ayahanda Allamah Majlisi berkata: Sudah selayaknya jika seorang pesalik melanggengkan dalam membaca 15 munajat ini. [4]

Sebagian murid Sayid Ali Thabathabai pengarang Riyādh menukil bahwa beliau selalu berkata: Aku selama beberapa tahun telah melanggengkan dalam membaca munajat ini dan karena pengaruh munajat-munajat ini maka bersinarlah berbagai cahaya hikmah, makrifat dan kasih sayang dalam jumlah yang tidak terbatas dan aku pun telah mencoba bahwa doa-doa yang aku panjatkan telah dikabulkan oleh-Nya, para pesalik dan abid sebaiknya melanggengkan dalam membaca munajat-munajat ini. [5]

Syarah-syarah

Muhammad Taqi Misbah Yazdi dalam pelajaran Akhlak, Silsilah Mabāhits dar Syarah Munajat Khamsa ‘Asyarā dan pembahasan akhlaknya dalam buku Sajādah hai Suluk tentang syarah munajat-munajat Imam Sajad As yang terbit dalam dua jilid. Jilid pertama adalah syarah munajat awal sampai munajat ke delapan dan jilid kedua adalah syarah munajat ke-9 sampai ke-15. [6]

Munajat ‘Arifin nama salah satu kitab yang ditulis oleh Husain Ansariyan di mana dalam bab dua adalah terjemah yang mengikut bahasa sastra munajat khamsa 'asyar . [7] Ali Ridha Rijali Tehrani juga menulis buku dengan judul Zamzameh hai ‘Arifaneh yang merupakan syarah 15 Munajat. [8] Kitab Syarah Munajat Khamsah A’syara dalam bahasa Persia, penulisnya adalah Abdul Ali Buzurgi pada kurun ke-13. [9] Balaghi dan Irfan dar Munajat Khamsah ‘Asyara Imam Sajad As, penulis Ali Syams Nateri, Yusuf Rasuli. [10] Darbargah Nur, terjemah dan syarah Munājat Khamsa Asyāra, penulis: Nurallah Ali Dust Khurasani. [11]

Munajat Sajidin wa Zamzam Shafa, nama dua kitab yang ditulis oleh Muhsin Gharawiyan atas syarah Munajat Khamsa ‘Asyara. [12]

Waktu Membaca setiap Munajat

Allamah Majlisi dalam Bihar al-Anwar menyebutkan secara terpisah[13] tentang waktu membaca munajat-munajat 15 ini namun Syaikh Abbas Qummi dalam Mafatih al-Jinan tidak menyebutkan waktu untuk membaca munajat ini.

Urutan Membaca Munajat

Menurut pandangan Ayatullah Jawadi Amuli urutan 15 munajat ini masih perlu ditinjau lebih mendetail dan ulama akhlak harus menyusun urutan 15 munajat ini. Ia berkeyakinan bahwa: “….Keteraturan susunan sebagian doa-doa juga perlu ditinjau secara mendetail, munajat paling awal dari “Munajat Khamsa ‘Asyara” Imam Sajjad As, sesuai urutannya yang ada pada masa sekarang yaitu Munajat Taibin (Munajat Orang-orang yang bertaubat) dan munajat terakhir Munajat Zahidin (munajat orang-orang yang bermunajat), padahal apabila 15 munajat ini merupakan 15 tahapan maka munajat zahidin berada pada tahapan pertama, bukan terakhir. Artinya manusia, pada langkah pertamanya harus bertaubat dan menempuh kehidupan dengan penuh kezuhudan dan membersihkan diri dari keburukan-keburukan kemudian mencapai kemuliaan-kemuliaan yaitu merindukan aadanya pertemuan dengan Allah bahkan akan sampai pada tahapan mencintai Allah. Sebagaimana bahwa seorang ulama atau seorang ahli ushul mengatur permasalahan-permasalahan usul atau fikih, maka seorang ulama akhlak berdasarkan penelitian-penelitian standar keilmuannya selayaknya menentukan tingkatan sair dan suluk dari munajat-munajat yang ada. Oleh itu, sebagaimana seorang ulama akhlak harus mengatur ayat-ayat, riwayat-riwayat dan sirah para Maksum As, maka doa-doa dan dzikir-dzikir pun juga harus mengatur susunannya karena tingkatan dan tahapan doa-doa juga harus dibahas secara ilmiah. [14]

Catatan Kaki

  1. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 9, hlm. 142-153.
  2. Qumi, Mafatih al-Jinan, 179-164.
  3. «وَ مِنْهَا الْمُنَاجَاةُ الْخَمْسَ عَشْرَةَ لِمَوْلَانَا عَلِی بْنِ الْحُسَینِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَیهِمَا وَ قَدْ وَجَدْتُهَا مَرْوِیةً عَنْهُ (ع) فِی بَعْضِ کُتُبِ الْأَصْحَابِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَیهِمْ» Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 142.
  4. Majlisi, Raudhah al-Muttaqin fi Syarah Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 13, hlm. 128.
  5. Tehrani, Al-Dzari’ah, jld. 22, hlm. 239.
  6. Site Atsar Ayatullah Mizbah Yazdi.
  7. Site Irfan.
  8. Konsersium Muhtawa Meli.
  9. Tehrani, Al-Dzari’ah, jld. 22, hlm. 239.
  10. Ketabkhaneh Meli.
  11. Ketabkhaneh Meli.
  12. Baqiriyan Muwahid dan kawan-kawan, Ketab Syenasi Niyayisyhai Syiah, hlm. 272.
  13. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 142-153.
  14. Jawadi Amuli, Marahil Akhlaqi dar Quran, hlm. 150.

Daftar Pustaka

  1. Majlisi, Muhammad Taqi, Raudhah al-Muttaqin fi Syarah Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, Riset: Musawi Kermani, Husain Isytihardi, Ali Panoh, Muasasah Farhanggi Islami Kusyanpur, cet. 2, Qum, 1406.
  2. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Dar Ihya Al-Tsurats al-Arabi, Beirut, Cet. 2, hlm. 1403.
  3. Qumi, Syaikh Abbas, Mafātih al-Jinān, Nasyar Masy’ar, Qum, 1387.
  4. Agha Buzurq Tehrani, Al-Dzari’ah ila Tashnif al-Syiah, jld. 22, Beirut, Dar al-Adhwa, tanpa tahun.
  5. Jawadi Amuli, Abdullah, Marākhil Akhlāq dar Qurān, Periset: Ali Islami, Intisyarat Islami, cet. Ke-7, Qum, 1386 S.
  6. Baqiriyan Muwahid, Sayid Ridha, Rasul Ja’fariyan, Mahdi Mehrizi, Kitāb Syenāsi Neyāyesyhāi Syiah, Muasasah Farhanggi, Tehran, 1392.