Lompat ke isi

Konsep:Al-Mi'yar wa al-Muwazanah (buku)

Dari wikishia

|| || || || || || || || editorial box

Al-Mi'yar wa al-Muwazanah
Judul AsliAl-Mi'yar wa al-Muwazanah fi Fadhail al-Imam Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib
PenulisMuhammad bin Abdillah Iskafi
BahasaArab
SubyekKeutamaan Imam Ali as
Tahun DisusunAbad ke-3 H
Tanggal Penerbitan1402 H


Al-Mi'yar wa al-Muwazanah fi Fadhail al-Imam Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib as (buku) adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang membuktikan keutamaan Imam Ali as setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dibandingkan semua orang. Karya ini dinisbatkan kepada Abu Ja'far Muhammad bin Abdullah al-Iskafi al-Baghdadi, seorang ulama Mu'tazili (W. 240 H), atau putranya Abu al-Qasim Ja'far bin Muhammad al-Iskafi. Mahmud Mahdavi Damghani telah menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Persia.

Penisbatan Kitab

Sebagian ulama menisbatkan kitab ini kepada Abu Ja'far Muhammad bin Abdullah al-Iskafi al-Baghdadi, seorang ulama Mu'tazili (W. 240 H), sementara yang lain menisbatkannya kepada putranya, Abu al-Qasim Ja'far bin Muhammad al-Iskafi. Ibnu Nadim menganggap kitab ini sebagai karya sang putra dan dalam halaman yang sama di Al-Fihrist, ia menulis bahwa Abu al-Qasim Ja'far bin Muhammad al-Iskafi adalah seorang penulis yang mahir dan sekretaris yang bijaksana, serta al-Mu'tasim al-Abbasi (berkuasa 218 hingga 227 H) pernah menyerahkan kepemimpinan salah satu diwan kekhalifahan kepadanya. Sebagian peneliti meragukan penisbatan kitab ini kepada Abu Ja'far al-Iskafi oleh Muhammad Baqir al-Mahmudi, dengan alasan tidak ada bukti yang kuat untuk membenarkan penisbatan ini. Pertama, Ibnu Nadim menyebutkan judul ini sebagai karya putra al-Iskafi. Kedua, Muhammad Baqir al-Mahmudi dalam pengantar kitab tidak menyebutkan spesifikasi naskah maupun memberikan satu pun alasan yang membenarkan penisbatan kitab ini kepada al-Iskafi.[1]

Isi

Kitab ini, seperti banyak kitab lainnya, ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan beberapa penanya. Pertama-tama, kitab ini mengemukakan bahwa sebab penyimpangan masyarakat dari Amirul Mukminin as adalah kebencian dan permusuhan kelompok tertentu serta fanatisme periode jahiliyah. Penulis juga menyatakan bahwa propaganda pemerintah setelah Nabi saw, khususnya Dinasti Umayyah, turut berpengaruh dalam penyimpangan masyarakat dari keluarga Rasulullah saw dan pribadi Amirul Mukminin as. Dengan menyebutkan contoh kebodohan dan ketidaktahuan dalam Perang Jamal, penulis menguatkan klaimnya.[2][catatan 1] Kemudian, penulis mengutip riwayat-riwayat dari para sahabat besar tentang keutamaan Imam Ali as dan menolak riwayat-riwayat dari sebagian sahabat biasa yang menyatakan ketidakutamaan beliau.[3]

Penulis kemudian membandingkan perilaku Amirul Mukminin as dengan Utsman, serta kisah penolakan sekelompok orang untuk berbaiat kepada beliau dan kesabaran serta kelapangan dada beliau. Selanjutnya, penulis membahas Perang Jamal dan membuktikan bahwa Ali as tetap berpegang pada prinsip-prinsip akhlak mulia dan mengumpulkan semua kebaikan dalam diri beliau dengan merujuk pada hadis-hadis yang diterima oleh Ahlusunah.[4]

Riwayat terakhir dalam kitab al-Iskafi adalah jawaban Amirul Mukminin as kepada seseorang yang bertanya tentang bid'ah dan riwayat-riwayat yang beredar di masyarakat serta perbedaan mereka dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. Imam as menjawab dengan panjang lebar dan membagi orang-orang yang meriwayatkan hadis menjadi empat kelompok: Orang munafik yang sengaja berdusta atas nama Nabi, Orang yang mendengar hadis dari Nabi tetapi tidak menghafalnya dengan benar, orang yang mendengar suatu perintah atau larangan dari Nabi, tetapi kemudian perintah itu dihapus (mansukh) tanpa sepengetahuannya dan orang yang mendengar hadis dari Nabi dan karena takut kepada Allah serta memuliakan Nabi, dia tidak mengubahnya sedikit pun, menyampaikan persis seperti yang diucapkan Nabi, serta mengetahui nasikh-mansukh, 'am-khash, dan muhkam-mutasyabih dalam sabda Nabi saw.

Kemudian Imam Ali as menambahkan bahwa tidak semua sahabat Nabi seperti ini, tetapi beliau berkata: "Tidak ada satu pun yang terlewatkan dariku tanpa aku tanyakan kepada Nabi dan aku hafalkan." [5] [catatan 2]

Pentingnya Kitab

Tarjumeh Al-Mi'yar wa al-Muwazanah
  1. Mengingat al-Iskafi hidup pada masa kekhalifahan Abbasiyah, di mana pemerintahan Abbasiyah sejak awal hingga akhir selalu mendukung dan memperkuat posisi Mu'tazilah sebagai penentang Syiah dan keturunan Ali as. Hal ini karena Mu'tazilah berkeyakinan bahwa kepemimpinan yang kurang utama atas yang lebih utama (imamah mafdhul 'ala al-fadhil) adalah sah dan benar. Oleh karena itu, mereka tidak pernah mengkritik para khalifah sebelumnya. Jelas bahwa dari perspektif Al-Saffah, Al-Manshur, Harun al-Rasyid, dan Al-Ma'mun, mendukung kelompok ini adalah langkah politik yang menguntungkan. Keberanian teologis dan moral al-Iskafi dalam menulis kitab Naqd al-Utsmaniyyah dan (dirinya atau putranya) dalam menyusun Al-Mi'yar wa al-Muwazanah sangat jelas terlihat, terutama setelah penulisan Naqd al-Utsmaniyyah, di mana Al-Jahiz berusaha mengganggu al-Iskafi sehingga ia menghindari pertemuan langsung untuk tidak berkonfrontasi.
  2. Kitab ini mencerminkan keyakinan dan kecintaan mendalam Muslim non-Arab terhadap Amirul Mukminin Ali as, yang ditulis dengan keberanian moral, keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, metode yang sangat terpuji, logis, dan bebas dari fanatisme.
  3. Mengingat Al-Mi'yar wa al-Muwazanah disusun sekitar 180 tahun sebelum wafatnya Sayid Radhi dan penyusunan Nahjul Balaghah, serta memuat banyak khutbah, surat, dan kata-kata hikmah Amirul Mukminin Ali as, kitab ini sangat penting dari dua aspek: pertama, terdapat khutbah-khutbah yang tidak tercantum dalam Nahjul Balaghah karena tidak diketahui oleh Sayid Radhi atau dianggap tidak perlu dimuat. Kedua, kitab ini menjadi rujukan otentik dan sumber berharga untuk banyak khutbah dalam Nahjul Balaghah, sekaligus menjawab keraguan yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang kurang informasi atau berniat buruk terhadap keaslian Nahjul Balaghah.[6]

Naskah-Naskah

Terjemahan dan Publikasi

Al-Mi'yar wa al-Muwazanah pertama kali diterbitkan pada tahun 1402 H di Beirut setelah ditahqiq oleh Muhammad Baqir al-Mahmudi.[8]

Kitab ini diterjemahkan ke bahasa Persia oleh Dr. Mahmud Mahdawi Damghani dengan judul Al-Mi'yar wa al-Muwazanah: Keutamaan Amirul Mukminin" dan diterbitkan oleh Nashr-e Nay pada tahun 1374 HS.[9]

Catatan Kaki

  1. Al-Iskafi, Tarjumeh Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1374 HS, hlm. 14.
  2. Al-Iskafi, Abu Ja'far, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, jilid 1, hlm. 19.
  3. Al-Iskafi, Tarjumeh Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1374 HS, hlm. 19.
  4. Al-Iskafi, Tarjumeh Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1374 HS, hlm. 19.
  5. Al-Iskafi, Abu Ja'far, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah fi Fadhail al-Imam Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib, jilid 1, hlm. 301.
  6. Al-Iskafi, Tarjumeh Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1374 HS, Pengantar Kitab.
  7. Hafizhiyan Babuli, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1380 HS.
  8. Hafizhiyan Babuli, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1380 HS.
  9. Hafizhiyan Babuli, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, 1380 HS.

Catatan

  1. Al-Iskafi meriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa dalam Perang Jamal, ketika Muhammad bin al-Hanafiyah menyerang salah seorang musuh dengan tombak, musuh itu berkata untuk menyelamatkan diri: "Ana 'ala din 'Umar bin Abi Thalib" (Aku mengikuti agama Umar bin Abi Thalib). Muhammad bin al-Hanafiyah berkata: "Aku paham bahwa yang dia maksud adalah Imam Ali as, maka aku melepaskannya." (Fa'alimtu annahu yuridu 'Aliyan fa amsaktu 'anhu). Al-Iskafi, Abu Ja'far, Al-Mi'yar wa al-Muwazanah, jilid 1, hlm. 19.
  2. Wa kana la yamurru bi min dhalika shay'un illa sa'altu 'anhu wa hafizhtuhu

Daftar Pustaka

  • Hafizhiyan Babuli, Abul Fadhl. Al-Mi'yar wa al-Muwazanah. Majalah Kitab Maah-e Din Shahrivar dan Mehr 1380 HS, Nomor 47 dan 48.
  • Iskafi, Muhammad bin Abdullah. Al-Mi'yar wa al-Muwazanah. Beirut: 1402 H.
  • Iskafi, Muhammad bin Abdullah. Al-Mi'yar wa al-Muwazanah. terjemahan Mahmud Mahdawi Damghani, Teheran: Ney, 1374 HS.