tanpa navbox

Kelebihutamaan Imam

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Kelebihutamaan imam (bahasa Arab: أَفْضَلِيَّةُ الإِمَامِ) sebagai salah satu syarat imamah berarti kelebihunggulan imam atas orang dalam karakteristik dan kesempurnaan insani. Menurut pandangan para teolog Syiah Imamiyah, seorang imam harus lebih utama atas orang lain dalam keilmuan, agama, ketakwaan, kedermawanan, keberanian, dan pahala ukhrawi. Untuk membuktikan kelebihutamaan imam ini, banyak argumentasi yang dijadikan landasan. Antara lain adalah kaidah “lebih memilih satu sisi masalah tanpa alasan pembenar adalah sebuah tindakan buruk”, “lebih mengutamakan orang biasa atas orang yang lebih utama adalah perbuatan buruk”, hadis Rasulullah saw “ketika seseorang memimpin sebuah kaum, sedangkan di kalangan mereka masih ada orang yang lebih utama darinya, urusan mereka akan menuju kepada kehancuran hingga hari kiamat kelak”, dan sebagian ayat Alquran.

Mayoritas Ahlusunah tidak mewajibkan seorang imam harus lebih utama. Mereka memperbolehkan seorang biasa menjadi imam ketika ada halangan atau demi sebuah kemaslahatan. Sa'duddin Taftazani, salah seorang teolog beraliran Asy'ariyyah pada abad ke-8 menegaskan, menurut pandangan Ahlusunah dan mayoritas mazhab Islam, kepemimpinan adalah hak seseorang yang pada setiap masa lebih utama daripada orang lain, kecuali apabila kepemimpinannya bisa menyebabkan kekacauan. Salah satu argumentasi mereka adalah ijma' ulama untuk menerima kepemimpinan manusia biasa dan pemasrahan urusan kekhalifahan kepada dewan beranggotakan enam orang yang dilakukan oleh Khalifah Kedua, sekalipun masih ada orang yang lebih utama di kalangan mereka.

Menurut keyakinan para ulama Syiah, para imam Ahlulbait as adalah pribadi-pribadi yang paling utama di kalangan makhluk Allah setelah Rasulullah saw wafat. Allamah Majlisi menegaskan, hanya orang yang tidak mengenal hadis akan mengingkari kelebihutamaan para imam Ahlulbait as.

Prinsip "kelebihutamaan imam" ini digunakan sebagai argumentasi untuk membuktikan kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as. Argumentasi ini dikenal dengan sebutan argumentasi afdhaliyyah.

Definisi dan Ruang Lingkup

Dalam pandangan para teolog Syiah Imamiyah, kelebihutamaan imam didefinisikan dengan kelebihunggulan imam atas orang lain dalam karakteristik yang menjadi syarat seorang imam, seperti keilmuan, keadilan, keberanian, dan ketakwaan.[1] Dalam sebagian sumber referensi teologi, kelebihutamaan ini diartikan dengan kelebihunggulan dalam ibadah dan menerima pahala ukhrawi.[2] Untuk itu, para teolog Syiah berkeyakinan bahwa imam adalah lebih unggul atas seluruh masyarakat dalam kesempurnaan jasmani dan rohani, seperti ilmu, agama, takwa, kedermawanan, keberanian,[3] dan pahala ukhrawi.[4] Menurut mereka, imam haruslah orang yang paling alim, paling pemberani, paling dermawan, paling sabar, paling bertakwa, dan lain sebagainya sehingga masyarakat bisa mengikutinya dengan lebih baik.[5][6]

Menurut sebuah penegasan, imam tidak harus lebih unggul atas orang lain dalam urusan duniawi, seperti harta, kedudukan, dan kekuasaan, karena tujuan utama adalah mengikuti dan mengimani imam secara hakiki, bukan hanya secara lahiriah.[7]

Syiah: Imam Harus Lebih Unggul

Para teolog Syiah Imamiah meyakini bahwa kelebihutamaan merupakan salah satu syarat kepemimpinan.[8] Mereka memiliki sepakat dalam hal ini.[9] Untuk membuktikan kelebihutamaan imam, telah dipaparkan banyak argumentasi rasional dan tekstual.

Argumentasi Rasional

  1. Dalam keutamaan dan kesempurnaan, imam adakalanya berposisi sama, lebih rendah, atau lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. Dalam posisi sama, pemilihannya sebagai imam adalah sebuah tindakan lebih memilih satu sisi masalah tanpa alasan pembenar. Akal menilai ini adalah suatu hal yang mustahil, dan Allah tidak akan pernah bertindak demikian. Apabila imam adalah lebih rendah dibandingkan dengan orang lain, akal menghukumi bahwa lebih mengutamakan orang yang lebih rendah atas orang yang lebih utama adalah sebuah perbuatan yang buruk. Dengan demikian, imam haruslah orang yang lebih utama dibandingkan dengan orang lain.[10]
  2. Imam harus maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan). Orang yang maksum pasti lebih utama daripada orang yang tidak maksum. Untuk itu, imam adalah lebih utama dibandingkan dengan orang lain.[11]
  3. Imam ditentukan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw senantiasa memperhatikan prinsip kelebihutamaan dalam setiap pilihan yang beliau lakukan.[12]

Argumentasi Tekstual

Untuk membuktikan kelebihutamaan imam, surah Yunus ayat 35,[13] surah Al-Taubah ayat 119,[14] dan surah Al-Zumar ayat 9[15] dijadikan sebagai landasan.

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa "pemberi hidayah kepada kebenaran adalah lebih utama atas orang yang ia sendiri masih memerlukan hidayah", "orang-orang yang jujur adalah lebih utama atas selain mereka", dan “orang alim adalah lebih utama atas orang yang tidak alim". Semua ini menunjukkan bahwa orang yang lebih utama lebih diutamakan atas orang biasa.[16]

Hadis-hadis juga dijadikan sandaran untuk membuktikan kelebihutamaan merupakan syarat seorang imam.[17] Antara lain adalah hadis Rasulullah saw yang menegaskan, “Ketika seseorang memimpin sebuah kaum, sedangkan di kalangan mereka masih ada orang yang lebih utama darinya, urusan mereka akan menuju kepada kehancuran hingga hari kiamat kelak.”[18] Dalam hadis ini, pengutamaan orang biasa atas orang yang lebih utama dinilai sebagai sebuah perbuatan yang buruk.[19]

Terdapat hadis yang juga diriwayatkan oleh Ahlusunah. Abu Darda’ berjalan mendahului Abu Bakar. Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Apakah engkau berjalan mendahului orang yang lebih utama darimu di dunia dan akhirat?”[20] Menurut sebuah penegasan, hadis ini menunjukkan keburukan kita mendahulukan orang biasa atas orang yang lebih utama dalam berjalan. Untuk itu, tentu mendahulukan orang biasa atas orang yang lebih utama dalam kepemimpinan sudah pasti perbuatan yang lebih buruk.[21]

Ahlusunah: Orang Biasa Boleh Menjadi Imam

Mayoritas Ahlusunah tidak mewajibkan dan juga tidak menjadikan kelebihutamaan sebagai syarat seorang imam. Orang biasa boleh menjadi imam.

Asy'ariyyah: Para teolog Asy’ariyyah tidak mewajibkan dan juga tidak mensyaratkan bahwa seorang imam haruslah orang yang lebih utama. Untuk itu, mereka membolehkan orang biasa menjadi imam untuk orang yang lebih utama.[22] Sekalipun demikian, Qadhi Abu Bakar Baqillani, seorang teolog Asy’ariyyah pada abad 5 H, berkeyakinan, kelebihutamaan adalah salah satu kriteria wajib yang harus dimiliki oleh seorang imam, kecuali apabila ada aral yang merintangi penobatan orang yang lebih utama untuk menjadi imam. Dalam kondisi ini, orang biasa diperbolehkan menjadi imam.[23] Untuk membuktikan pendapat ini, ia membawakan aneka ragam argumentasi. Antara lain adalah hadis yang menegaskan, “Sebuah kaum harus dipimpin oleh orang yang lebih utama di kalangan mereka.”[24] Masih menurut Baqillani, beberapa kekhawatiran, seperti akan terjadi kekacauan, fasad, peliburan hukum Ilahi, dan ketamakan musuh-musuh Islam untuk menjajah, adalah justifikasi yang masuk akal untuk menyingkirkan orang yang lebih utama dan mengangkat orang biasa untuk menjadi imam.[25]

Sa'duddin Taftazani, teolog Asy'ariyyah pada abad 8 H, juga berkeyakinan, kepemimpinan adalah hak orang yang lebih utama di masa manapun, kecuali apabila kepemimpinannya akan menyebabkan kekacauan.[26]

Mu'tazilah: Kaum Mu'tazilah juga tidak mewajibkan kelebihutamaan imam. Mereka memperbolehkan orang biasa diutamakan atas orang yang lebih utama.[27]Qadhi Abdul Jabbar, seorang teolog tersohor Mu’tazilah pada abad 4 dan 5 H, berkeyakinan, dalam beberapa kasus, orang biasa malah lebih bagus untuk dikedepankan daripada orang yang lebih utama. Kasus-kasus itu adalah sebagai berikut:

  • Orang yang lebih utama tidak memiliki beberapa kriteria yang disyaratkan untuk seorang imam, seperti ia tidak menguasi ilmu politik.
  • Orang yang lebih utama adalah seorang budak, menyandang penyakit khusus, memiliki gangguan komitmen dalam pendapat, atau tidak mampu untuk menegakkan hudud dan jihad.
  • Orang yang lebih utama tidak berasal dari bangsa Quraisy, sedangkan orang biasa berasal dari bangsa Quraisy.[28]

Argumentasi

Ahlusunah menyodorkan argumentasi dan dalil untuk membuktikan kebolehan seorang biasa bisa menjadi imam. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Kesepakatan para ulama atas kepemimpinan orang biasa pasca periode Khulafaurrasyidin, padahal masih ada orang yang lebih utama.
  2. Umar bin Khattab menyerahkan urusan kepemimpinan kepada dewan yang beranggotakan enam orang, padahal kala itu, Imam Ali as dan Utsman bin Affan adalah lebih utama daripada orang lain.
  3. Kriteria lebih utama adalah sesuatu yang tersembunyi, sulit diketahui, dan masih menjadi ajang perdebatan.[29]

Kelebihutamaan Ukhrawi Imam

Banyak argumentasi yang telah ditawarkan untuk membuktikan bahwa imam adalah lebih utama dalam menerima pahala ukhrawi. Antara lain adalah sebagai berikut:

  • Kemaksuman: Seorang imam harus maksum dan terjaga dari dosa. Seorang yang maksum pasti lebih utama daripada orang lain dalam hal pahala ukhrawi,[30] karena berkat kemaksuman ini, lahiriah dan batiniah imam selalu singkron. Untuk itu, di samping kelebihutamaan lahiriah, ia juga memiliki kelebihutamaan batiniah, dan tentu akan memperoleh pahala ukhrawi yang lebih besar.[31]
  • Taklif berat, pahala lebih besar: Lantaran mengemban tugas kepemimpinan, imam memiliki taklif yang lebih berat dibandingkan dengan orang lain. Untuk itu, pahala yang akan ia terima tentulah lebih besar.[32]
  • Imam adalah hujah: Sebagaimana Rasulullah saw, imam adalah hujah Ilahi. Sebagaimana Rasulullah saw memperoleh pahala ukhrawi yang lebih besar dibandingkan orang lain, imam juga demikian. [33]

Kelebihutamaan Para Imam Syiah

Para ulama Syiah berkeyakinan, para imam Ahlulbait as setelah Rasulullah saw adalah figur-figur yang lebih utama dan lebih unggul dibandingkan dengan orang lain, sekalipun para nabi, malaikat, dan masyarakat biasa.[34] Hadis-hadis yang menegaskan bahwa para imam Ahlulbait as adalah lebih utama dibandingkan seluruh makhluk sudah mencapai tingkat mustafidh, dan bahkan mutawatir.[35] Menurut penegasan Allamah Majlisi, orang yang mau meneliti hadis pasti akan mengakui kelebihutamaan Rasulullah saw dan para imam Ahlulbait as. Hanya orang yang bodoh hadis mengingkari kelebihutamaan mereka. Menurut Allamah Majlisi, hadis-hadis tentang bab ini tidak bisa dihitung.[36]

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali Ridha as dari ayah dan kakek-kakeknya, dari Imam Ali bin Abi Thalib as bahwa Rasulullah saw bersabda, "Wahai Ali, sesungguhnya Allah telah mengutamakan para nabi atas malaikat-malaikat yang muqarrab, dan mengutamakanku atas seluruh nabi. Wahai Ali, kelebihutamaan sepeninggalku dianugerahkan kepadamu dan para imam setelahmu. Sesungguhnya para malaikat adalah khadim kita dan para pecinta kita."[37]

Untuk membuktikan kelebihutamaan Imam Ali as atas seluruh sahabat dan masyarakat juga telah dipaparkan banyak ayat Alquran dan hadis.[38] Allamah Hilli dalam kitab Kasyf al-Murad[39] memaparkan dua puluh lima dalil, dan Ibnu Maitsam Bahrani dalam kitab al-Najah fi al-Qiyamah[40] menyebutkan dua puluh dua dalil untuk membuktikan kelebihutamaan Imam Ali as. Di antara dalil-dalil tersebut adalah ayat Mubahalah, ayat Mawaddah, hadis thair, hadis Manzilah, dan hadis Rayah.[41]

Menurut sebuah pandangan, seluruh pengikut Mu'tazilah Baghdad, termasuk Ibnu Abil Hadid penulis syarah Nahj al-Balaghah, dan sebagian pengikut Mu'tazilah Bashrah juga meyakini bahwa Imam Ali as adalah lebih utama dibandingkan dengan ketiga khalifah dan para sahabat yang lain.[42]

Argumentasi Kelebihutamaan

Prinsip “imam harus orang yang lebih utama” digunakan untuk membuktikan kepemimpinan Imam Ali as. Argumentasi yang dikenal dengan nama burhan afdhaliyyah ini tersusun dari proposisi-proposisi berikut ini:

  • Proposisi pertama: Sesuai penegasan ayat-ayat Alquran dan banyak hadis, Imam Ali as adalah lebih utama dibandingkan dengan para sahabat dan orang-orang muslim yang lain.
  • Proposisi kedua: Salah satu syarat imam adalah ia haruslah orang yang lebih utama dibandingkan orang lain dalam karakteristik dan kesempurnaan insani.
  • Kesimpulan: Untuk itu, Imam Ali as adalah imam dan pengganti Rasulullah saw.[43]

Syubhat dan Kritik

Sebagian pengikut Ahlusunah melontarkan beberapa syubhat dan kritik tentang kelebihutamaan Imam Ali as. Antara lain adalah sebagai berikut ini:

  • Kelebihutamaan tidak meniscayakan seseorang harus didahulukan, karena bisa jadi orang biasa bisa melebihi orang yang lebih utama dalam beberapa poin. Sebagai contoh, ketika orang biasa terbukti lebih mampu dan lebih layak dalam memimpin masyarakat dan memanajemen urusan agama dan politik dibandingkan orang yang lebih utama, tentu kepemimpinannya lebih didahulukan.[44]

Jawab: Landasan asumsi syubhat ini adalah kelebihutamaan dalam kepemimpinan hanya terbatas pada kelebihutamaan dalam hukum dan ibadah. Tentu, asumsi seperti ini tidak bisa dibenarkan, karena satu hal yang pasti dalam kelebihutamaan imam adalah kelebihutamaan dalam karakteristik yang harus ia miliki. Mengatur urusan politik termasuk dalam karakteristik ini. Masalah kedua adalah syubhat tersebut hanya menengok kelebihutamaan secara relatif. Padahal maksud dari kelebihutamaan imam ini bersifat mutlak dan meliputi seluruh karakteristik yang harus terpenuhi dalam diri imam.[45]

Jawab: Dalam komandan perang tidak disyaratkan kelebihutamaan yang bersifat mutlak. Komandan perang hanya disyaratkan harus lebih utama dalam urusan perang. Zaid dan Usamah kala itu memenuhi kriteria ini. Berkenaan dengan penobatan Usamah, ketika itu, Imam Ali as sedang berada di sisi ranjang Rasulullah saw, dan Rasulullah tidak memerintahkan Imam Ali untuk bergabung dengan pasukan Usamah. Untuk itu, ia tidak diwajibkan untuk ikut bersama pasukan Usamah.[48] Kehujahan tindakan Umar bin Khattab berlandaskan pada kehujahan tindakan sahabat, dan Syiah tidak menerima jenis kehujahan ini.[49]

Catatan Kaki

  1. Rabbani Golpaigani, Emamat dar Binesy-e Eslami, 1396 S, hlm. 188 dan 191.
  2. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 205; Homshi Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 2, hlm. 286; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 121.
  3. Silakan rujuk: Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1382 S, hlm. 187; Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 66; Muzhaffar, Dala’il al-Shidq, 1422 H, jld. 4, hlm. 237 dan 238.
  4. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 205; Homshi Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 2, hlm. 286; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 121 dan 122.
  5. Fadhil Miqdad, Irsyad al-Thalibin, 1405 H, hlm. 336; Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 66.
  6. Muzhaffar, Dala'il al-Shidq, 1422 H, jld. 4, hlm. 237.
  7. Muzhaffar, Dala’il al-Shidq, 1422 H, jld. 4, hlm. 240.
  8. Silakan rujuk: Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 198; Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1382 S, hlm. 187; Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyyah, 1422 H, hlm. 333; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 121.
  9. Fadhil Miqdad, Irsyad al-Thalibin, 1405 H, hlm. 336; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 122; Muzhaffar, Dala’il al-Shidq, 1422 H, jld. 4, hlm. 233.
  10. Silakan rujuk: Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 206; Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1382 S, hlm. 187; Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyyah, 1422 H, hlm. 333; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 125.
  11. Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 65.
  12. Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 66.
  13. Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1382 S, hlm. 187; Fadhil Miqdad, Irsyad al-Thalibin, 1405 H, hlm. 336; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 126.
  14. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 126.
  15. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 127.
  16. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 126 dan 127.
  17. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 127-130.
  18. Shaduq, Tsawab al-A’mal, 1406 H, hlm. 206; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 3, hlm. 56.
  19. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 130.
  20. Ibnu Hanbal, Fadha'il al-Shahabah, 1403 H, jld. 1, hlm. 152, 154, dan 423; Abu Nu’aim Isfahani, Fadha’il al-Khulafa’ al-Rasyidin, 1417 H, hlm. 39.
  21. Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 129.
  22. Iji Jurjani, Syarh al-Mawaqif, 1325 H, jld. 8, hlm. 373; Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, hlm. 246 dan 247.
  23. Baqillani, Tamhid al-Awa'il, 1407 H, hlm. 471.
  24. Baqillani, Tamhid al-Awa'il, 1407 H, hlm. 474 dan 475.
  25. Baqillani, Tamhid al-Awa'il, 1407 H, hlm. 475.
  26. Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, jld. 5, hlm. 291.
  27. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 20, bagian pertama, hlm. 215; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 3, jld. 3, hlm. 296, dan jld. 3, hlm. 328.
  28. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 20, bagian pertama, hlm. 227-230.
  29. Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, jld. 5, hlm. 247.
  30. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 205; Homshi Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 2, hlm. 286
  31. Rabbani Golpaigani, Emamat dar Binesy-e Eslami, 1396 S, hlm. 204.
  32. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 205; Homshi Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 2, hlm. 286; Bahrani, Manar al-Huda, 1405 H, hlm. 122.
  33. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 205; Homshi Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 2, hlm. 287.
  34. Silakan rujuk, Shaduq, al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 93; Mufid, Awa'il al-Maqalat, 1413 H, hlm. 70 dan 71; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 297; Syubbar, Haqq al-Yaqin, 1424 H, hlm. 149.
  35. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 297; Syubbar, Haqq al-Yaqin, 1424 H, hlm. 149.
  36. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 297 dan 298.
  37. Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha, 1378 S, jld. 1, hlm. 262, hadis nomor 22. Untuk lebih mengetahui hadis-hadis tentang kelebihutamaan para imam Ahlulbait as, silakan rujuk: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 267-319.
  38. Allamah Hilli, kasyf al-Murad, 1382 H, hlm. 211-238; Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 148-165; Rabbani Golpaigani, Barahin va Nushush-e Emamat, 1396 S, hlm. 26-48.
  39. Allamah Hilli, kasyf al-Murad, 1382 H, hlm. 211-238.
  40. Ibnu Maitsam Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 148-165.
  41. Silakah rujuk: Allamah Hilli, kasyf al-Murad, 1382 H, hlm. 211-238; Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 148-165; Rabbani Golpaigani, Barahin va Nushush-e Emamat, 1396 S, hlm. 26-48.
  42. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 7-9.
  43. Bahrani, al-Najah fi al-Qiyamah, 1417 H, hlm. 148; Rabbani Golpaigani, Barahin va Nushush-e Emamat, 1396 S, hlm. 21.
  44. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 20, bagian pertama, hlm. 227-230; Iji Jurjani, Syarh al-Mawaqif, 1325 H, jld. 8, hlm. 373; Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, hlm. 246 dan 247.
  45. Rabbani Golpaigani, Emamat dar Binesy-e Eslami, 1396 S, hlm. 197-198.
  46. Muhaqqiq Hilli, al-Masalik fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 207
  47. Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, hlm. 247.
  48. Rabbani Golpaigani, Emamat dar Binesy-e Eslami, 1396 S, hlm. 199.
  49. Rabbani Golpaigani, Emamat dar Binesy-e Eslami, 1396 S, hlm. 199-200.

Daftar Pustaka

  • Abu Nu'aim Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Fadha'il al-Khulafa’ al-Rasyidin, diteliti oleh Shalih bin Muhammad al-‘Aqil. Madinah: Dar al-Bukhara, 1417 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I’Tiqad, diteliti dan direvisi oleh Ja’far Subhani, Qom: Mu'assasah Imam Shadiq as, 1382 S.
  • Bahrani, Ibnu Maitsam bin Ali. Al-Najah fi al-Qiyamah fi Tahqiq Amr al-Imamah. Qom: Majma' al-Fikr al-Islami, 1417 H.
  • Bahrani, Syekh Ali. Manar al-Huda fi al-Nash 'ala Imamat al-A'immah al-Itsnai 'Asyar, diteliti oleh Abduzahra Khatib. Beirut: Dar al-Muntazhir, 1405 H.
  • Baqillani, Abu Bakar Muhammad bin Thayyid. Tamhid al-Awa’il fi Talkhish al-Dala’il, diteliti oleh ‘Imaduddin Ahmad Haidar. Lebanon: Mu'assasah al-Kutub al-Tsqafiyyah, 1407 H/1987 M.
  • Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Irsyad al-Thalibin ila Nahj al-Mustarsyidin, diteliti oleh Sayid Mahdi Raja'i. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi, 1405 H.
  • Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Al-Lawami' al-Ilahiyyah fi al-Mabahhits al-Kalamiyyah, diteliti oleh Syahid Qadhi Thabathaba'i. Qom: Daftar-e Tablighat-e Eslami, 1422 H.
  • Homshi Razi, Sadiduddin. Al-Munqidz min al-Taqlid. Qom: Mu'assasah al-Nasyr al-Islami, 1412 H.
  • Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah, diteliti dan direvisi oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi, 1404 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Hanbal. Fadha’il al-Shahabah, diteliti oleh Washiyullah Muhammad Abbas. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1403 H.
  • Iji Jurjani, 'Adhududdin dan Mir Sayid Syarif. Syarh al-Mawaqif, direvisi oleh Badruddin Na'sani. Qom: Syarif al-Radhi, 1325 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athhar. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Taqi. Raudhat al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahdhuruh al-Faqih, Qom: Yayasan Budaya Islam Kusyanpur, 1406 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Awa'il al-Maqalat fi al-Madzahib wa al-Mukhtarat. Qom: al-Mu'tamar al-'Alami li al-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja’far bin Hasan. Al-Masalik fi Ushul al-Din wa al-Risalah al-Mati'iyyah, diteliti oleh Ridha Ustadi. Masyhad: Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1414 H.
  • Muzhaffar, Muhammad Husain. Dala'il al-Shidq, Qom: Mu'assasah Alulbait as, 1422 H.
  • Qadhi Abdul Jabbar, Abdul Jabbar bin Ahmad. Al-Mughni fi Abwab al-Tauhid wa al-‘Adl, diteliti oleh George Qanawati, Kairo: Dar al-Mishriyyah, 1962-1965 M.
  • Rabbani Golpaigani, Ali. Barahin va Nushush-e Emamat. Qom: Ra'ed, 1396 S.
  • Rabbani Golpaigani, Ali. Emamat dar Binesy-e Eslami. Qom: Bustan-e Ketab, 1396 S.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. 'Uyun Akhbar al-Ridha, Tehran: Nasyr-e Jahan, 1378 S.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Tsawab al-A’mal wa 'Iqab al-A'mal. Qom: Dar al-Syarif al-Radhi, 1406 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-I'tiqadat. Qom: al-Mu'tamar al-'Alami li al-Syekh al-Mufid, 1414 H.
  • Syubbar, Sayid Abdullah. Haqq al-Yaqin fi Ma'rifat Ushul al-Din. Qom: Anwar al-Huda, 1424 H.
  • Taftazani, Sa’duddin. Syarh al-Maqashid, mukadimah, penelitian, dan catatan oleh Abdurrahman 'Amsarah. Qom: Syarif al-Radhi, 1409 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam, diteliti oleh Hasan Musawi Kharsan. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.