Lompat ke isi

Konsep:YATIM

Dari wikishia

YATIM adalah seseorang yang telah kehilangan ayahnya sebelum mencapai usia balig, meskipun kakeknya masih hidup. Namun, menurut syariat, seseorang yang kehilangan ibunya tidak dianggap sebagai yatim. Dalam Al-Qur'an dan Hadis, kata yatim terkadang juga digunakan dalam makna leksikal (kehilangan salah satu orang tua). Al-Qur'an dan riwayat sangat menekankan penghormatan dan pengasuhan anak yatim, serta menganjurkan berbuat baik, berinfaq, memberi makan, dan memperbaiki urusan mereka. Nabi Muhammad saw menyebut rumah yang di dalamnya terdapat perlakuan baik kepada anak yatim sebagai rumah terbaik, sedangkan rumah yang di dalamnya anak yatim dizalimi sebagai rumah terburuk.

Anak yatim dianggap sebagai Mahjur (terhalang) karena belum balig, sehingga mereka dilarang mengelola harta dan hak-hak keuangan mereka sendiri. Ayat-ayat Al-Qur'an dan Fikih menekankan sifat amanah dalam menjaga harta anak yatim dan hanya mengizinkan pengelolaannya dengan cara yang terbaik, termasuk menjaga dan menambah nilai harta tersebut. Memakan harta anak yatim termasuk dalam Dosa-dosa Besar dan memiliki konsekuensi hukuman di dunia maupun akhirat. Perdagangan dan pemberian pinjaman dari harta anak yatim hanya diperbolehkan jika kemaslahatan anak yatim tersebut terjaga di dalamnya.

Dalam fikih, wilayah qahri (perwalian paksa) atas anak kecil (yatim) pertama-tama berada di tangan ayah, diikuti oleh kakek dari pihak ayah, kemudian washi (penerima wasiat) dari ayah atau kakek, dan terakhir adalah Hakim Syar'i atau mukmin yang adil. Ibu dan kerabat lainnya tidak memiliki wilayah atas anak yatim. Pernikahan anak kecil (yatim) juga dilakukan dengan izin walinya (ayah atau kakek dari pihak ayah). Mengenai pernikahan dengan gadis yatim, Al-Qur'an menekankan pada penjagaan keadilan ekonomi dan finansial, dan jika tidak yakin dapat menjaga keadilan, maka dianjurkan untuk menikahi wanita lainnya.

Memukul anak yatim dapat menjadi Wajib (hukuman disiplin), Mustahab (pendidikan), atau Haram (penganiayaan) tergantung pada niat pelakunya. Anak yatim diperkenalkan dalam Surah Al-Anfal sebagai salah satu sasaran pendistribusian Khums, dan syarat bagi mereka untuk menerima khums adalah Iman dan kefakiran.

Konsep

Yatim (jamak: Aytam dan Yatama) dalam istilah fikih adalah seseorang yang kehilangan ayahnya sebelum usia balignya;[1] meskipun kakeknya masih hidup.[2] Secara syar'i, seseorang yang ditinggal mati ibunya tidak disebut sebagai yatim.[3] Dalam Al-Qur'an dan Hadis, kata yatim juga digunakan dalam makna non-syar'i dan leksikal (bermakna kesendirian dan keterpencilan, serta pada manusia mencakup siapa saja yang kehilangan salah satu dari kedua orang tuanya[4]).[5]

Menyantuni Yatim

Templat:Utama Dalam Al-Qur'an dan riwayat, terdapat penekanan yang sangat besar pada penghormatan dan pengasuhan anak yatim. Al-Qur'an menganjurkan perbuatan baik,[6] infaq,[7] memberi makan,[8] dan memperbaiki urusan anak yatim,[9] serta menganggap orang yang mendustakan hari pembalasan sama seperti orang yang berlaku kasar dan menghina anak yatim.[10] Selain itu, berdasarkan anjuran etika, saat pembagian warisan, meskipun anak yatim bukan ahli waris, ia tetap diberikan bagian.[11]

Nabi Akram (saw) menyebut rumah yang di dalamnya terdapat kebaikan kepada anak yatim sebagai rumah terbaik, dan rumah yang di dalamnya anak yatim dizalimi sebagai rumah terburuk.[12] Imam Ali (as) menganggap mengusap kepala anak yatim sebagai penyebab pahala yang besar[13] dan dalam wasiatnya kepada Imam Hasan (as) dan Imam Husain (as), beliau berpesan untuk menjaga anak-anak yatim agar tidak merasa kenyang di satu waktu dan lapar di waktu lain sehingga urusan mereka menjadi sia-sia.[14] Berdasarkan riwayat, menjamin dan menanggung biaya hidup anak yatim hingga ia mandiri atau balig akan menjadikan surga wajib bagi sang penjamin.[15]

Templat:Kotak kutipan

Urgensi Hidayah Spiritual Anak Yatim

Berdasarkan hadis-hadis bertema "Yatim Alu Muhammad" dalam Tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Hasan al-Askari (as), jenis yatim yang paling parah adalah seseorang yang terpisah dari Imamnya dan tidak memiliki akses kepada beliau.

Urgensi hidayah spiritual anak yatim:

  • Kedudukan para pembimbing: Mereka yang mengenal ilmu Alu Muhammad (as) dan memberikan hidayah kepada para yatim spiritual ini serta mengajarkan syariat kepada mereka, akan berada dalam kedudukan yang luhur bersama Ahlulbait (as).
  • Keutamaan tertinggi: Keutamaan pengasuh yatim spiritual ini[16] yang menyelamatkan mereka dari kebodohan, dibandingkan dengan mereka yang memberi makan dan minum kepada anak yatim, adalah seperti keutamaan matahari atas bintang-bintang.
  • Pahala ukhrawi: Para pengasuh yatim Alu Muhammad (as) pada hari kiamat akan mengenakan mahkota dari cahaya.
  • Kesulitan bagi Iblis: Hidayah para yatim spiritual ini melalui seorang faqih, lebih berat bagi Iblis daripada menanggung beban seribu ahli ibadah.[17]

Hukum Yatim

Dalam berbagai bab fikih, hukum-hukum terkait anak yatim telah dibahas, antara lain dalam pembahasan hajr, Khums, Zakat, jual beli, pinjaman, Wasiat, nikah, dan Wilayah al-Faqih.

Status Mahjur

Templat:Utama Anak yatim, sesuai definisinya, dianggap belum balig[18] dan karena alasan itulah, sebagaimana individu yang belum balig dan tidak rasyid lainnya, mereka dilarang (mahjur) untuk mengelola harta, hak-hak keuangan, dan bahkan hak-hak non-keuangan mereka sendiri (seperti hak Qishash dan Talak).[19][20] Larangan ini didasarkan pada penyandaran terhadap ayat 6 surah An-Nisa[21] yang mengisyaratkan pengujian anak yatim serta keharusan mencapai usia balig dan kedewasaan (rusyd) bagi mereka. Dalam fikih, terdapat pembahasan mengenai pendahuluan antara balig dan rusyd,[22] serta syarat keadilan untuk mengangkat status mahjur dari harta anak yatim.[23] Menurut undang-undang sipil Iran, harta individu yang sudah balig hanya diberikan kepadanya jika kedewasaannya (rusyd) juga telah terbukti.

  • Amanah dalam Menjaga Harta Yatim

Menurut para mufasir, ayat 152 surah Al-An'am dan 34 surah Al-Isra', melarang untuk mendekati dan mengelola harta anak yatim, kecuali dengan cara yang paling baik yang mencakup penjagaan dan penambahan nilai harta tersebut.[24] Para fukaha, termasuk Syekh Anshari, membahas mengenai kewajiban menjaga maslahat anak yatim atau cukupnya ketiadaan kerusakan (mifsadah) dalam pengelolaan hartanya.[25]

Di zaman jahiliyah, anak yatim terhalang dari warisan dan harta mereka diperlakukan dengan penuh kelalaian.[26] Karena itulah, ayat-ayat Al-Qur'an (seperti ayat 2 surah An-Nisa) mengeluarkan hukum penting mengenai harta anak yatim: 1. Kewajiban mengembalikan harta anak yatim kepada mereka sendiri. 2. Larangan menukar harta yang buruk dengan yang baik (khianat dalam amanah terhadap harta yatim). 3. Haram mencampur harta sendiri dengan harta anak yatim untuk kemudian mengelola keseluruhannya.[27]

Ayat 10 Surah An-Nisa juga mengisyaratkan azab ukhrawi bagi para penjarah harta anak yatim dan menyebut wajah hakiki dari pengelolaan yang zalim sebagai "memakan api". Ayat ini juga menyatakan bahwa perdagangan dan pengelolaan yang adil terhadap harta anak yatim tidak dianggap sebagai kezaliman dan diperbolehkan.[28] Dalam berbagai riwayat pun, memakan harta anak yatim secara zalim dikategorikan sebagai Dosa-dosa Besar[29] dan disebutkan hukuman dunia serta akhirat baginya,[30] tanpa memandang sedikit atau banyaknya jumlah harta tersebut.[31]

  • Perdagangan dan Pinjaman dengan Harta Yatim

Berdasarkan pendapat Syekh Thusi, jika harta anak yatim diberikan kepada orang lain untuk Mudharabah, maka keuntungan dibagi sesuai kesepakatan dan jika terjadi kerugian, maka orang yang memberikan harta tersebut yang akan menanggungnya.[32] Namun menurut pendapat Ibnu Idris, jika pengawas syar'i, washi, atau wali anak yatim mempertimbangkan maslahat anak yatim dalam perdagangan tersebut, maka ia tidak menanggung kerugian.[33] Pemberian pinjaman dari harta anak yatim juga hanya diperbolehkan jika maslahat anak yatim terjaga di dalamnya, misalnya untuk memenuhi kebutuhan finansial peminjam.[34]

Wali bagi Yatim

Lukisan Penampungan (Santunan Yatim) karya Master Farshchian

Dalam fikih dan undang-undang sipil, wali qahri bagi anak kecil (belum balig) pertama-tama adalah ayahnya dan setelahnya adalah salah satu kakek dari pihak ayah (dengan prioritas yang lebih dekat dan masih hidup).[35] Jika ayah dan kakek dari pihak ayah tidak ada, maka wilayah berpindah kepada washi (penerima wasiat) dari ayah atau kakek pihak ayah.[36] Jika orang-orang tersebut tidak ada, wilayah berada di tangan hakim syar'i[37] dan jika tidak memungkinkan untuk mengaksesnya, maka akan berada di tangan mukmin yang adil.[38] Menurut para fukaha, ibu, saudara laki-laki, bibi, dan paman tidak memiliki wilayah atas anak yatim.[39] Selain itu, jika kakek pihak ayah bersifat Fasik,[40] wilayahnya menjadi gugur.[41] Juga dikatakan bahwa dalam wilayah atas anak yatim, dengan adanya kakek yatim, hakim pun tidak memiliki wilayah apa pun atasnya.[42] Para fukaha, termasuk Syekh Anshari, menganggap wilayah atas anak yatim dan hartanya sebagai bagian dari Urusan Hasbiyah dan jika tidak ada pengasuh, maka hal itu menjadi tanggung jawab faqih yang adil (hakim).[43] Undang-undang sipil Iran juga membahas materi terkait wilayah qahri, ketidaklayakan, sifat amanah, dan pengangkatan wali bagi anak kecil yang tidak memiliki wali khusus.

  • Pernikahan dan Talak Anak Yatim

Wali bagi anak laki-laki dan perempuan yang masih kecil dan belum balig untuk pernikahan dan akad nikah adalah ayah dan kakek dari pihak ayah;[44] sedangkan ibu dan kerabat lainnya tidak memiliki wilayah.[45] Dengan wafatnya ayah, menurut sebagian fukaha, wilayah kakek tetap berlaku; karena pada asalnya wilayah ini tidak disyaratkan dengan keberadaan ayah.[46] Setelah akad nikah oleh kakek pihak ayah, anak laki-laki dan perempuan yang masih kecil (dalam hal ini yatim) setelah mencapai balig tidak memiliki hak khiyar (pilihan) maupun izin pembatalan (faskh).[47]

  • Menikahi Gadis Yatim dan Menjaga Keadilan

Al-Qur'an al-Karim dalam ayat ketiga surah An-Nisa, dikarenakan adanya penyalahgunaan sebagian pria terhadap gadis-gadis yatim untuk menguasai harta mereka dan tidak terjaganya hak-hak mereka, hanya memperbolehkan pernikahan dengan gadis yatim jika orang tersebut yakin akan menjaga keadilan ekonomi dan finansial (qisth dan adil) terhadap mereka.[48] Jika tidak, maka dianjurkan untuk menikahi wanita lainnya[49] dan jika mampu menjaga keadilan di antara istri-istri, ia dapat menikahi hingga empat wanita secara permanen.[50] Yang dimaksud dengan "Yatama" dalam ayat ini adalah gadis-gadis balig yang karena riwayat status yatim mereka[51] atau karena kesendirian dan belum bersuami, dipanggil dengan gelar tersebut.[52]

Selain itu, Ayat 127 Surah An-Nisa menekankan kewajiban menjaga hak-seluruh anak yatim, termasuk gadis yatim usia dini (yatama al-nisa) dan anak-anak yang lemah, dalam bidang-bidang seperti warisan, mahar, dan hak menikah,[53] serta memerintahkan untuk berlaku adil kepada mereka.[54] Dalam tafsir lain, "yatama al-nisa" ditujukan bagi para ibu yang memegang pengasuhan anak yatim, dan dipesankan untuk menjaga kondisi mereka.[55]

Hadhanah dan Pendidikan

Templat:Utama Menurut perkataan fukaha, jika ayah wafat, hak hadhanah (pengasuhan) anak yatim berada di tangan ibunya[56] dan yang lainnya tidak memiliki prioritas.[57] Jika kedua orang tua telah wafat, kakek dari pihak ayah yang akan memegang pengasuhan anak yatim.[58] Undang-undang sipil menetapkan prioritas hadhanah secara berurutan kepada ayah dan ibu, kakek pihak ayah, washi dari ayah dan kakek, dan jika tidak ada washi, maka wali (qayyim) yang akan mengemban tanggung jawab tersebut, sedangkan kerabat lainnya tidak memiliki tempat dalam urutan ini.[59] Menurut pasal 1170 undang-undang sipil, meskipun ayah telah menentukan washi, hadhanah anak yatim setelah wafatnya ayah tetap berada di tangan ibu.[60]

Mengenai "memukul anak yatim", perbuatan ini tergantung pada maksud dan niat pelakunya dapat bermakna hukuman (tanbih), pendidikan (tarbiyat), perbuatan baik (ihsan), atau kezaliman.[61] Memukul anak yatim untuk tujuan tanbih hukumnya wajib, untuk tarbiyat hukumnya Mustahab, dan dengan niat menyiksa atau menyakiti hukumnya Haram.[62] Jika perbuatan ini dilakukan dengan niat memberikan manfaat bagi anak yatim, maka dianggap sebagai ihsan, namun jika tujuannya adalah memberikan kerugian, maka dianggap sebagai kezaliman.[63]

Khums dan Zakat

Menurut perkataan fukaha, dalam ayat 41 surah Al-Anfal, anak yatim diperkenalkan sebagai salah satu sasaran pendistribusian Khums.[64] Berdasarkan tafsir para mufasir dan fukaha Imamiyah, hal ini juga mencakup "Sadaat Yatim" yang nasab ayahnya sampai kepada Abdul Mutthalib.[65] Agar anak yatim dapat menikmati khums, disyaratkan bagi mereka harus mukmin dan fakir.[66] Selain itu, berdasarkan ayat 7 surah Al-Hasyr, anak yatim mendapatkan bagian dari harta dan ghanimah kaum Muslimin (fai') agar harta tersebut tidak hanya beredar di tangan orang-orang kaya saja. Mengenai kaitan ayat ini dengan ayat Anfal serta perbedaan antara anfal dan fai', terdapat perselisihan pendapat di antara para mufasir.[67]

Di tengah para fukaha, terdapat perselisihan mengenai syarat balig agar khums berkaitan pada harta anak kecil (shabi) dan yatim. Sebagian dari mereka, termasuk Syekh Anshari, meyakini bahwa balig tidak menjadi syarat dan khums tetap berkaitan pada harta anak kecil.[68] Selain itu, dalam keterkaitan zakat pada harta anak kecil dan yatim juga terdapat perbedaan pendapat, di mana Syekh Anshari menganggapnya tidak wajib.[69]

Bacaan Lebih Lanjut

Buku al-Yatim fi al-Qur'an wa al-Sunnah, karya Izzuddin Bahrul Ulum, melalui ayat-ayat Al-Qur'an menjelaskan hak-hak anak yatim dan tugas-tugas sosial masyarakat di hadapannya, serta menerangkan filosofi dari beberapa hukum Qur'ani terkait yatim. Dikatakan bahwa dengan mempelajari buku ini dapat dipahami bahwa Al-Qur'an al-Karim dan sunnah Nabi (saw) memberikan perhatian khusus pada masalah-masalah anak yatim.[70]

Catatan Kaki

  1. Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hlm. 281; Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jld. 1, hlm. 245; Jassash, Ahkam al-Qur'an, 1405 H, jld. 2, hlm. 12; Thusi, al-Tibyan, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 124.
  2. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 14, hlm. 241; Anshari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 3, hlm. 538. (Dengan memperhatikan bahwa Syekh Anshari menganggap kemutlakan ayat "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat" mencakup kakek).
  3. Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hlm. 282; Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 1, hlm. 219.
  4. Jassash, Ahkam al-Qur'an, 1405 H, jld. 2, hlm. 12.
  5. Mesykini, Musthalahat al-Fiqh, tanpa tahun, hlm. 576.
  6. Surah An-Nisa, ayat 36 dan Surah Al-Baqarah, ayat 83.
  7. Surah Al-Baqarah, ayat 215.
  8. Surah Al-Insan, ayat 8.
  9. Surah Al-Baqarah, ayat 220.
  10. Surah Al-Ma'un, ayat 1 dan 2.
  11. Surah An-Nisa, ayat 8; Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 425.
  12. Jawadi Amoli, Mafatih al-Hayat (Kunci Kehidupan), 1391 HS, hlm. 398 (Nukilan dari: Mustadrak al-Wasa'il, jld. 2, hlm. 474).
  13. Shaduq, Tsawab al-A'mal, 1364 HS, hlm. 199, hadis 784.
  14. Nahjul Balaghah, surat 47; Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 7, hlm. 51.
  15. Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 HS, jld. 1, hlm. 224, hadis 44.
  16. Jawadi Amoli, Mafatih al-Hayat (Kunci Kehidupan), 1391 HS, hlm. 404.
  17. Hasan bin Ali (as), al-Tafsir al-Mansub, 1409 H, hlm. 339–345, hadis 214–226.
  18. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 4.
  19. Lotfi, "Estenbat-e Ahkam va Huquq-e Mahjurin az Qur'an Karim", 1380 HS, hlm. 22.
  20. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 4.
  21. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 10.
  22. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 18; Hilli, Ayat al-Ahkam, 1425 H, jld. 2, hlm. 101–106.
  23. Wejdani Fakhr, al-Jawahir al-Fakhriyyah, 1426 H, jld. 8, hlm. 225–228.
  24. Hosseini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 297.
  25. Anshari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 3, hlm. 573–580.
  26. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 213-214.
  27. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 213-214.
  28. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 471.
  29. Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 HS, jld. 1, hlm. 237, hadis 105.
  30. Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 HS, jld. 1, hlm. 223, hadis 37 dan 39.
  31. Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 HS, jld. 1, hlm. 224, hadis 42.
  32. Thusi, al-Nihayah, 1400 H, hlm. 430.
  33. Ibnu Idris, al-Sarair, 1410 H, jld. 2, hlm. 411.
  34. Allamah al-Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jld. 2, hlm. 545.
  35. Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, 1405 H, jld. 18, hlm. 322.
  36. Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, 1405 H, jld. 18, hlm. 322.
  37. Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, 1405 H, jld. 18, hlm. 322.
  38. Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, 1405 H, jld. 18, hlm. 322.
  39. Hosseini Amili, Miftah al-Karamah, Beirut, jld. 5, hlm. 258.
  40. Hosseini Amili, Miftah al-Karamah, Beirut, jld. 5, hlm. 257.
  41. Hosseini Amili, Miftah al-Karamah, Beirut, jld. 5, hlm. 258.
  42. Khoei, Misbah al-Fiqahah, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 522.
  43. Montazeri Najafabadi, Mabani-ye Feqhi-ye Hokumat-e Islami (Dasar Fikih Pemerintahan Islam), 1409 H, jld. 1, hlm. 95 dan 319.
  44. Anshari, Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatiha, 1429 H, jld. 1, hlm. 534.
  45. Thabathaba'i Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, 1409 H, jld. 2, hlm. 864; Anshari, Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatiha, 1429 H, jld. 1, hlm. 544.
  46. Thabathaba'i Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, 1409 H, jld. 2, hlm. 865; Anshari, Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatiha, 1429 H, jld. 1, hlm. 554.
  47. Thabathaba'i Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, 1409 H, jld. 2, hlm. 865.
  48. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 237.
  49. Thabathaba'i, al-Mizan, Mansyurat Isma'iliyan, jld. 5, hlm. 107.
  50. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 238.
  51. Jawadi Amoli, Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 238.
  52. Sayyid Murtadha, al-Intishar, 1415 H, hlm. 289.
  53. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 34.
  54. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 41.
  55. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 34 dan 40.
  56. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 31, hlm. 293.
  57. Mazru'i, "Mahiyat-e Hadhanat", 1387 HS, hlm. 147.
  58. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 31, hlm. 295.
  59. Thaheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 3, hlm. 333.
  60. Thaheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 3, hlm. 333.
  61. Lari, al-Ta'liqah 'ala al-Makasib, 1418 H, jld. 1, hlm. 70.
  62. Syahid Tsani, Rasail al-Syahid al-Tsani, 1421 H, jld. 1, hlm. 165.
  63. Haeri Mujahid, Kitab al-Manahil, 1242 H, hlm. 484.
  64. Hosseini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 194.
  65. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 365.
  66. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 365.
  67. Sebagai contoh lihat: Ibnu Jauzi, Zad al-Masir, 1422 H, jld. 4, hlm. 257 (di antara tafsir Ahlusunah); Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 391-392 (di antara tafsir Syiah).
  68. Sabzawari, al-Khums, 1424 H, hlm. 254-255.
  69. Anshari, Kitab al-Zakah, 1415 H, hlm. 90.
  70. Haji-Mirzaei, "al-Yatim fi al-Qur'an wa al-Sunnah", hlm. 2368.

Daftar Pustaka

  • Ahmadi, Mahdi. Qur'an dar Qur'an. Qom: Penerbit Syarq, 1374 HS.
  • Al-Alusi, Sayyid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riset: Ali Abdul Bari Athiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1415 H.
  • Al-Anshari, Murtadha. Kitab al-Khums. Qom: Kongres Internasional Peringatan Syekh al-A'zham al-Anshari, cetakan pertama, 1415 H.
  • Al-Anshari, Murtadha. Kitab al-Zakah. Qom: Kongres Internasional Peringatan Syekh al-A'zham al-Anshari, cetakan pertama, 1415 H.
  • Al-Anshari, Murtadha. Kitab al-Makasib al-Muharramah wa al-Bai' wa al-Khiyarat. Qom: Kongres Internasional Peringatan Syekh al-A'zham al-Anshari, cetakan pertama, 1415 H.
  • Al-Bahrani, Yusuf. al-Hada'iq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Riset: Muhammad Taqi Irawani dan Sayyid Abdul Razzaq Muqarrram. Qom: Penerbit Islami, cetakan pertama, 1405 H.
  • Al-Halabi, Ali bin Ibrahim. al-Sirah al-Halabiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1427 H.
  • Al-Hilli, Miqdad bin Abdullah. Ayat al-Ahkam. Qom: Murtadhawi, cetakan pertama, 1425 H.
  • Al-Himyari, Abdullah bin Jafar. Qurb al-Isnad. Qom: Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1413 H.
  • Al-Jassash, Ahmad bin Ali. Ahkam al-Qur'an. Riset: Muhammad Sadiq Qamhawi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1405 H.
  • Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Misbah al-Fiqahah - al-Makasib. Dihimpun oleh: Muhammad Ali Tauhidi. Tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan (Shahib al-Jawahir). Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Al-Thabrasi, Fadhl bin al-Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Penerbit Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Allamah al-Hilli. Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyyah. Qom: Muassasah Imam Sadiq (as), cetakan pertama, 1420 H.
  • Anshari Shirazi, Qudratullah dan sekelompok peneliti. Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatiha: Muqaranah Tafshiliyyah baina Madzhab al-Imamiyyah wa al-Madzahib al-Ukhra. Di bawah pengawasan Mohammad Javad Fazel Lankarani. Qom: Pusat Fikih Aimmah Ath-har (as), jld. 1, cetakan pertama, 1429 H.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Kitab al-Tafsir. Riset: Sayyid Hashem Rasouli Mahallati. Teheran: Percetakan Ilmiah, 1380 HS.
  • Dehkhoda, Ali Akbar. Lughatnameh Dehkhoda. Teheran: Universitas Teheran, 1377 HS.
  • Fakhruddin al-Razi. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Haji-Mirzaei, Farzad. "al-Yatim fi al-Qur'an wa al-Sunnah". Danesynama-ye Qur'an va Qur'an-pajushi. Atas usaha Baha'uddin Khorramsyahi. Teheran: Nahid, 1377 HS.
  • Haeri Mujahid Thabathaba'i, Sayyid Muhammad. Kitab al-Manahil. Qom: Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1242 H.
  • Hasan bin Ali (as). al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari (as). Qom: Sekolah Imam Mahdi (as), cetakan pertama, 1409 H.
  • Hosseini Shirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
  • Hosseini Amili, Sayyid Javad bin Muhammad. Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-Allamah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Ibnu Idris al-Hilli. al-Sarair al-Hawi li-Tahrir al-Fatawa. Qom: Penerbit Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Zad al-Masir fi 'Ilm al-Tafsir. Riset: Abdurrazzaq al-Mahdi. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan pertama, 1422 H.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Tasnim: Tafsir-e Qur'an-e Karim. Riset dan pengaturan: Hossein Asyrafi dan Abbas Rahimiyan. Qom: Pusat Penerbitan Esra.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Mafatih al-Hayat (Kunci Kehidupan). Qom: Penerbit Esra, cetakan keempat puluh empat, 1391 HS.
  • Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom: Dar al-Ilm, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Lari, Sayyid Abdul Husain. al-Ta'liqah 'ala al-Makasib. Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1418 H.
  • Lotfi, Asadullah. "Estenbat-e Ahkam va Huquq-e Mahjurin az Qur'an Karim". Jurnal Pajuhisy-e Dini, tahun pertama, No. 2, musim gugur 1380 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mazru'i, Rasoul. "Mahiyat-e Hadhanat va Ta'yin-e Shahiban". Jurnal Fiqh Ahlulbait (as), nomor 56, musim dingin 1387 HS.
  • Mesykini, Mirza Ali. Musthalahat al-Fiqh. Tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Montazeri Najafabadi, Hossein Ali. Mabani-ye Feqhi-ye Hokumat-e Islami. Terjemahan: Mahmoud Salavati dan Abulfazl Syakuri. Qom: Muassasah Keyhan, cetakan pertama, 1409 H.
  • Nahjul Balaghah.
  • Rawandi, Quthbuddin. Fiqh al-Qur'an fi Syarh Ayat al-Ahkam. Koreksi: Sayyid Ahmad Hosseini. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asye Najafi, cetakan kedua, 1405 H.
  • Sabzawari, Sayyid Abdul A'la. al-Khums. Baghdad: Kantor Ayatullah Sabzawari, cetakan pertama, 1424 H.
  • Sabzawari, Sayyid Abdul A'la. Muhadzdzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal wa al-Haram. Qom: Muassasah al-Manar, cetakan keempat, 1413 H.
  • Sa'di. Kulliyat-e Sa'di. Koreksi: Mohammad Ali Foroughi. Teheran: Hermes, 1385 HS.
  • Sayyid Murtadha (Alamul Huda). al-Intishar. Qom: Penerbit Islami, 1415 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom: Penerbit Islami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syahid Tsani. Rasail al-Syahid al-Tsani. Riset: Reza Mukhtari dan Hossein Syafii. Qom: Kantor Tablighat Islam Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1421 H.
  • Thaheri, Habibullah. Huquq-e Madani. Qom: Penerbit Islami, cetakan kedua, 1418 H.
  • Thabathaba'i Yazdi, Sayyid Muhammad Kazim. al-'Urwah al-Wutsqa fima Ta'ummu bihi al-Balwa. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1409 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Penerbit Islami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Riset: Sayyid Muhammad Taqi Kasyfi. Teheran: al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li-Ihya al-Atsar al-Jafariyyah, cetakan ketiga, 1387 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1400 H.
  • Undang-Undang Sipil: Disahkan pada 18 Ordibehesyt 1307 dengan amandemen berikutnya. Teheran: Kantor Administrasi Hukum dan Peraturan Negara, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Wejdani Fakhr, Qudratullah. al-Jawahir al-Fakhriyyah fi Syarh al-Raudhah al-Bahiyyah. Qom: Penerbit Sama', cetakan kedua, 1426 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud. al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
  • Zanjani, Sayyid Musa Syubairi. Kitab-e Nikah. Qom: Muassasah Pajuhisyi-ye Ray-pardaz, cetakan pertama, 1419 H.