Tafsir Imam Hasan al-Askari as (buku)

Prioritas: b, Kualitas: b
tanpa navbox
tanpa alih
Dari wikishia
Tafsir Imam Hasan Askari ashttp://en.wikishia.net
Judul Asli التفسير المنسوب الی الامام أبي محمد الحسن بن علي العسکري
Bahasa Arab
Subyek Tafsir Alquran
Seri 1 jilid
Genre Riwayat
Diterbitkan oleh Madrasah al-Imam al-Mahdi
Tanggal Penerbitan 1409 H/1989


Tafsir Imam Hasan Askari as (bahasa Arab: تفسير الامام الحسن العسکري) adalah termasuk tafsir riwayat Syiah abad ke-3 H. Dalam sebagian ayat-ayatnya telah ditakwilkan dan sebagian takwilnya berkaitan dengan mukjizat Nabi Muhammad saw dan Para Imam as. Meski tafsir ini kurang memperhatikan asbab nuzul ayat-ayat, namun menjelaskan misdak-misdak ayatnya. Tafsir ini juga tidak membahas mengenai ilmu-ilmu sharaf, nahwu dan balaghah. Silsilah sanad riwayat menunjukkan bahwa penukilan tafsir ini di antara para ahli hadis dan fukaha Qum pada abad ke-4 dan ke-5 adalah hal yang lazim dan umum dilakukan. Teks tafsir ini mencakupi akhir ayat 282 surah Al-Baqarah.

Tipologi

Tafsir ini dimulai dengan pembahasan mengenai fadhilah-fadhilah Alquran, takwil dan adab-adab membaca al-Quran, penjelasan mengenai hadis-hadis yang meliputi keutamaan-keutamaan Ahlulbait as [1] dan juga musuh-musuh Ahlulbait As. [2] Juga dibahas mengenai pembahasan-pembahasan tentang sirah Nabawi, khususnya tentang Nabi Muhammad saw dan kaum Yahudi. [3] Secara umum, dalam tafsir ini terdapat 379 hadis. Sebagian riwayat-riwayatnya panjang dan mendetail; kadang-kadang satu riwayat terdiri dari beberapa halaman dan dengan sebab ini pula dalam sebagian hal susunan riwayat akan hilang dan pada sebagian riwayat-riwayat terdapat kecacatan. Dalam tafsir ini, sebagian riwayat-riwayat telah mengalami takwil dan sebagian riwayat-riwayat yang telah mengalami takwil adalah riwayat-riwayat mengenai mukjizat Nabi Muhammad saw dan para Imam as. [4] Dalam Tafsir ini pembahasan mengenai asbab nuzul ayat-ayat sangat sedikit, meskipun diisyaratkan tentang misdak-misdak ayat. Dalam tafsir ini, tidak ada pembahasan mengenai sharaf, nahwu dan balaghah. [5] Tafsir ayat-ayat sebagiannya dimulai dengan syarah dan dengan penjelasan pemahaman-pemahaman ayat kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai riwayat-riwayat dari Para Imam as. Terkait dengan riwayat sya'n nuzul dibahas mengenai penafsiran ayat-ayat secara bersama-sama. [6] Makna Syiah [7] makna rafidhi [8] dan taqiyyah [9] fadhilah-fadhilah sebagian para sahabat seperti Khabbab bin Arats, Ammar bin Yasir [10] adalah sebagian dari tema-tema yang ada dalam tafsir ini. Sebagian catatan-catatan tafsir ini seperti tafsir sajarah mamnu'ah [11] dengan judul syajarah ilmu Muhammad saw dan [[Ahlulbait as [12] merupakan kekhususan tafsir ini.

Sanad Kitab

Silsilah sanad riwayat kitab menunjukkan bahwa penukilan tafsir ini diantara para hadis dan fukaha Qum terjadi pada abad ke-4 dan ke-5. [13] Materi-materi tafsir diucapkan oleh Muhammad Qasim Ester Abadi terkenal dengan mufasir Jarjani yang boleh jadi merupakan pengarang tafsir juga dari dua rawinya yang dinukilkan dari Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Sayar dan Abu Ya'qub Yusuf bin Muhammad bin Yizad. Pada mukadimah singkatnya kedua ulama itu menuliskan bahwa setelah sampainya [Hasan bin Zaid]] pada tampuk kekuasaan, mereka terpaksa meninggalkan tanah airnya. Dari sisi bahwa mereka memberitahukan kedatangan mereka kepada Imam Hasan Askari as, maka dapat diketahui bahwa mereka memasuki Samara setelah tahun 254 karena pada tahun itu adalah masa permulaan keimamahan Imam Askari As. [14] Dalam lanjutannya dikatakan bahwa teks tafsir secara keseluruhan dipelajari selama 7 tahun [15] dari Imam Hasan Askari as, namun karena semenjak wafatnya Imam pada tahun 260 H tidak ada pembicaraan lagi, nampaknya setelah meninggalnya Imam keduanya kembali ke negara asalnya. [16]

Keabsahan Kitab

Tafsir ini menjadi perbincangan yang hangat diantara para ulama Imamah semenjak dahulu. Syaikh Shaduq (w. 381 H/991) adalah seorang ulama pertama kali yang menukilkan tema banyak dalam kitabnya, meskipun tidak ada pembahasan mengenai keabsahan atau tidaknya. Syaikh Shaduq menerima teks tafsir ini secara langsung dari Ester Abadi. Ia pada permulaannya, dalam kitab fatwanya, Man La Yahdhuruhu al-Faqih [17] disamping mengisyaratkan akan penjelasan ini bahwa apa yang tersedia dalam teks ini, menurut pendapatnya sendiri adalah benar, menjelaskan bahwa riwayat-riwayat dalam tafsir ini diambil dari teks-teks muktabar dan terkenal. Demikian juga dalam bab Talbiyah dinukilkan hadis dari Ester Abadi dan pada bab penutup dikatakan bahwa selebihnya dituliskan pada kitab tafsirnya. [18] Berdasarkan hal ini, apabila Syaikh Shaduq bukan merupakan penulis tafsir itu sendiri, kemungkinan yang menulis adalah yang mendustakannya. Petunjuk perkataan ini adalah perkataan Najasyi (w.450) [19] yang mengisyaratkan hal ini pada karya Syaikh Shaduq akan kedua tafsir tersebut, yaitu Tafsir Al-Quran dan Mukhtashar Tafsir Al-Quran. Bukti lain atas pendapat ini adalah adanya riwayat yang disebutkan dengan sanad ini yang ada pada kitab Tauhid al-Tauhid [20] karya Syaikh Shaduq. Pada akhir riwayat itu juga Syaikh Shaduq menjelaskan bahwa teks lengkap hadis ia sertakan dalam kitab tafsirnya. [21]

Kritikan atas Keabsahan Kitab

Ulama pertama kali yang mengkritiki keabsahan kitab tafsir ini adalah Ahmad bin Husain bin Abdullah 'Adhairi terkenal dengan Ibnu 'Adhairi yang dalam kitabnya, Al-Dhu'afa, menyebut Muhammad bin Qasim Ester Abadi sebagai pribadi yang lemah dan pendusta dan menyebut kedua orang itu merupakan orang-orang yang tidak dikenal yang mana kitab itu dinukilkan dari para ayahnya yang pada mulanya berasal dari Imam Hasan Askari as. Ibnu 'Adhairi menilai bahwa tafsirnya adalah hadis maudhu (kontroversial dan tidak berdasar) dan penukilnya adalah Sahl bin Ahmad bin Abdullah Diyabi (w. 380 H/990). [22] Orang-orang yang percaya kepada teks tafsir dalam mengkritiki perkataan Ibnu Ghadhairi berkata diantaranya bahwa penyandaran kitab al-Dhu'afa kepada Ibnu Ghadhairi terdapat keraguan [23] dan berdasarkan teks tafsir, Ibnu Sayar dan Abu Ya'qub menukilkan teks secara langsung dari Imam. Demikian juga dalam tafsir disebutkan bahwa para kedua ayah ini setelah beberapa lama menetap di Samara kembali ke tanah kelahirannya [24] dan tidak menyebutkan nama ayah dalam sanad riwayat kitab. [25]

Oleh itu, penyebutan nama mereka dalam sebagian riwayat lain merupakan kesengajaan penulis. [26] Namun ungkapan ini tidak dapat diterima karena nama ayah-ayah mereka Ibnu Sayar dan Abu Ya'qub ada dalam semua riwayat menukilkan tafsir dalam karya Syaikh Shaduq yang banyak. [27] Terkait tentang Sahl bin Ahmad, Najasyi [28] mengenalkannya sebagai orang-orang yang tidak terpengaruhi. Khatib Baghdadi [29] hanya mengisyaratkan pengantaran jenazah Sahl bin Ahmad dan salat jenazah oleh Syaikh Mufid (w. 413 H/1022) atas jenazahnya dimana hal ini menunjukkan diakuinya ia diantara para Syiah. Hal terpenting yang menjadi perhatian adalah adanya nama ayah Ibnu Ghadhair dalam jalur riwayat tafsir atau silsilah sanad yang merupakan hal yang umum. [30]

Sebagian orang berkata bahwa riwayat tafsir yang berasal dari jalur Syaikh Shaduq adalah banyak karena dalam beberapa hal, sebagai ganti Muhammad bin Qasim Ester Abadi disebut sebagai Muhammad bin Ali Ester Abadi, dalam jalurnya sendiri dari dua perawi tafsir. Tidak menutup kemungkinan bahwa kedua orang itu merupakan satu orang karena penyebutan nama kakek sebagai ganti dari ayah adalah hal yang umum. [31] Sebagian ulama berkata bahwa jalur Syaikh Shaduq dalam riwayat tafsir ini tidak berbilang, karena dalam beberapa hal menyebutkan dua perawi tafsir: Muhammad bin Ali Ester Abadi sebagai ganti Muhammad Qasim Ester Abadi sebagai perawi tafsir ini. Demikian juga disebutkan bahwa Hasan bin Khalid Barqi juga menulis tafsir dalam 120 bagian dengan didikte oleh Imam Hasan Askari as. [32] Namun Syaikh Thusi (w. 460 H/1068) [33] menilai bahwa Hasan bin Khalid Barqi adalah termasuk orang-orang yang tidak berjumpa dengan para Imam as dan meriwayatkan hadis-hadis secara tidak langsung. Muhaddis Nuri (w. 1320) [34] dengan menyandarkan kepada perkataan Ibnu Syahr Asyub (w. 588 H/1192), beberapa potongan tafsir Barqi diakui sebagai riwayat teks tafsir Imam Askari, namun penilaian ini susah diterima karena tidak ada satu riawayatpun dari tafsir ini yang menyebutkan nama Barqi disebut didalamnya. Demikian juga Agha Buzurg Tehrani [35] mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan Askari dalam perkataan Ibnu Syahr Asyub adalah Imam Hadi as dan Hasan bin Khalid tidak mungkin menjadi perawi bagi Imam Hasan Askari as. [36] Dalam daftar naskah foto-foto dan film-film perpustakaan Sayid Abdul Aziz Thabathabai (w. Bahman 1374) di Qum terdapat tiga naskah dengan keterangan bahwa naskah itu ditulis oleh Abu Ali Hasan bin Khalid Barqi. [37] Namun dengan memperhatikan penulis makalah dan melihat naskah tertentu dimana mereka mengatakan bahwa tafsir ini merupakan tafsir yang disandarkan kepada Imam Hasan Askari as dan dengan silsilah sanad yang umum maka penyandaran kitab itu kepada Barqi, tidak benar minimal pada naskah ini.

Penukil Kitab

Setelah Syaikh Shaduq, Abu Mansur Ahmad bin Ali Thabarsi dalam kitab Ihtijaj sembari mengenalkan sumber-sumber referensinya berasal dari Tafsir Imam Hasan Askari, namun tidak lupa menyinggung ketidakmasyhurannya penafsiran ini. Dengan dalil ini, maka ia membawakan sanad riwayat kitab secara lengkap. [38] Sa'id Habatullah Rawandi [39] juga dalam tafsir ini tanpa mengisyaratkan kepada namanya menukilkan sebuah pembahasan. Ibnu Syahr Asyub juga dari tafsir ini dengan menjelaskan secara gamblang akan nama itu, namun tanpa menyebutkan nama sanad, membawakan pembahasan tertentu. [40] Abdul Jalil Qazwini yang menulis tafsir kira-kira 560 Kitab al-Naqdh diantaranya kitab tafsir Imamiyyah yang terkenal dengan Tafsir Imam Hasan Askari as, namun karena tidak dinukilkan materi-materi tertentu dari kitab ini, maka tidak dapat dipastikan bahwa kitab tafsir yang ia maksud adalah kitab tafsir ini. [41]

Terjemah

Terjemah Persia paling klasik dari kitab ini adalah Atsar al-Akhbar yang merupakan terjemahan Abul Hasan Ali bin Hasan Zawarehi (w. 984 H/1576) dan merupakan teks terjemahan secara utuh dari tafsir Imam Hasan Askari. [42] Qudratullah Husaini Syah Muradi juga menerjemahkan dan menerbitkan surah al-Fatihah dati tafsir ini dengan nama Tafsir Surah al-Fatihah Imam Hasan Askari as dan penelitan yang berkaitan dengannya (Teheran, 1404) dengan pengantar yang berisi tentang penetapan dan kepercayaan terhadap tafsir ini. Sayid Hasan Bahr Bahrilawi, w (1361) menerjemahkan tafsir ini ke dalam bahasa Urdu dan mencetak dengan nama Haidari. [43] Teks bahasa Arab telah mengalami cetak ulang berkali-kali. [44] Kitab ini dengan berdasarkan naskah tulisan tangan dan dengan usaha Sayid Muhammad Baqir Abthahi dicetak oleh percetakan Intiqadi Qum pada tahun 1409.

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh silahkan lihat: Hadis Sad al-Abwāb, hlm. 17.
  2. Tafsir Imām Askari, hlm. 47.
  3. Tafsir Imām Askari, hlm. 161-163, 190-192, 206-207.
  4. Silahkan lihat: hlm. 429-441, 497-500.
  5. Radhawi, hlm. 313.
  6. Radhawi, hlm. 477-479.
  7. Radhawi, hlm. 477-479.
  8. Radhawi, hlm. 310-311.
  9. Radhwi, hlm. 320-324.
  10. Radhawi, hlm. 324-325.
  11. (Qs Al-Baqarah [2]: 35)
  12. Radhawi, hlm. 221-222.
  13. Tafsir Imām Askari, hlm. 7 dan 8.
  14. Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imām Abi Muhammad al-Hasan bin Ali al-Askari, hlm. 9 dan 10, Qais Ibnu Jauzi, jld. 12, hlm. 74, Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 288-286.
  15. Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imām Abi Muhammad al-Hasan bin Ali al-Askari, hlm. 12.
  16. Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imām Abi Muhammad al-Hasan bin Ali al-Askari, hlm. 12.
  17. Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 1, hlm. 3.
  18. Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, jil 1, hlm. 211-212.
  19. Najasyi, hlm. 391-392.
  20. Shaduq, Al-Tauhid, hlm. 47.
  21. Al-Tafsir ila al-Imām Abi Muhammad a-Hasan bin Ali al-Askari, hlm. 50-52.
  22. Allamah Hilli, hlm. 256-257; Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 288.
  23. Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 288-289.
  24. Tafsir Imam Askari, hlm. 12.
  25. Tafsir Imam Askari, hlm. 9.
  26. Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 292.
  27. Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, 1361, hlm. 4, 24 dan 33.
  28. Najasyi, hlm. 186.
  29. Khatib Baghdadi, jld. 9, hlm. 122.
  30. Majlisi, jld. 105, hlm. 78.
  31. Shaduq, 1417, hlm. 240, Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 286.
  32. Ibnu Syahr Asyub, Ma'alim al-Ulama, hlm. 34.
  33. Thusi, hlm. 462.
  34. Nuri, jld. 5, hlm. 188.
  35. Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 283-285.
  36. Tastari, jld. 3, hlm. 228.
  37. Thayar Muraghi, hlm. 1436, 1440, 1489.
  38. Thabarsi, jld. 1, hlm. 8-6.
  39. Rawandi, jld. 2, hlm. 519-521.
  40. Ibnu Syahr Asyub, jld. 1, hlm. 92.
  41. Abdul Jalil Qazwini, hlm. 212, 285.
  42. Bakai, jld. 1, hlm. 2.
  43. Bakai, jld. 1, hlm. 3.
  44. Agha Buzurg Tehrani, jld. 4, hlm. 292; Bakai, jld. 5, hlm. 1904.

Daftar Pustaka

  • Shaduq, Ali bin Muhammad bin Babuwaih, Al-Amāli, Qum, 1417.
  • Shaduq, Ali bin Muhammad bin Babuwaih, Al-Tauhid, cet. Hasyim Husaini Tehrani, Qum, 1357 S.
  • Shaduq, Ali bin Muhammad bin Babuwaih, Ma'āni al-Akhbār, cetakan Ali Akbar Ghafuri, Qum, 1361 S.
  • Shaduq, Ali bin Muhammad Babuwaih, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, Qum, 1413.
  • Ibnu Jauzi, Al-Muntadham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Cet. Muhammad Abdul Qahir Atha wa Musthafa Abdul Qadir Atha, Beirut, 1412/1992.
  • Ibnu Syahr Asyub, Ma'ālim al-Ulama, Najaf, 1380/1961.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thalib, cet. Hasyim Rasuli Mahalati, Qum, tanpa tahun.
  • Ridha Ustadi, Risalah Ukhra Khaul al-Tafsir al-Mansub ila al-Imām al-Askari As dalam Al-Risalah al-Arba'ah Asyara, cet Ridha Ustadi, Qum, Muasasah al-Nasyar al-Islami, 1415.
  • Muhammad Hasan Bukai, Kitāb Nāme Buzurg Qurān al-Karim, Tehran, 1374 S.
  • Muhammad Hasan Bukai, Ketāb Nāme Buzurg Qurān al-Karim, 1374 S.
  • Hasan bin Ali, Imam ke-11, Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imām Abi Muhammad al-Hasan bin Ali al-Askari, cet. Muhammad Baqir Abthahi, Qum, 1409.
  • Negāhi be Tafsir Mansub be Imām Hasan Askari As (Fashl Nameh Pazuhesyhai Quran]], hlm. 5-6, Musim semi dan panas, 1375.
  • Ahmad bin Ali Thabarsi, Al-Ihtijāj, cet. Ibrahim Bahari dan Muhammad Hadi, Qum, 1413.
  • Muhammad Hasan Thusi, Rijal al-Thusi, Najaf, 1380/1961.
  • Mahmud Thayar Muraghi, Fehrest Nuskhah Aksi wa Mikrufilmhai Ketab Khaneh, peneliti Thabathabai, Dar al-Muhakik al-Thabathabai fi Dzikrah al-Tsanawiyah al-Aula, jld. 3, Qum, Ali al-Bait, 1417.
  • Abdul Jalil Qazwini, Naqdh, Cet. Jalauddin Muhaddits Armawi, Tehran, 1385 S.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Rijāl al-Alāmah al-Hilli, cet. Muhammad Shadiq Bahrul Ulum, Najaf, 1381/1961, cet. Offset, Qum, 1402.
  • Sa'id bin Habatullah Quthub Rawandi, Al-Kharāij wa al-Jarāih, Qum, 1409.
  • Majlisi.
  • Ahmad bin Ali Najasyi, Fehrest Asmā Mushanif al-Syiah al-Musytahar, Rijal Nal-Najasyi, cet. Musawi Syabiri Zanjani, Qum, 1407.
  • Husain bin Muhammad Taqi Nuri, Khātamah Mustadrak al-Wasāil, Qum, 1415-1420.