Lompat ke isi

Konsep:Nasi

Dari wikishia

Nasi' (bahasa Arab:نَسیء) adalah istilah untuk merujuk pada sebuah tradisi di masa Jahiliyah yang menyebabkan penundaan atau pergeseran Bulan-bulan Haram. Ayat 36 dan 37 Surah At-Taubah mencela Nasi' dan menganggapnya sebagai faktor penambah kekafiran dan kesesatan. Menurut para mufasir, tradisi ini kemungkinan dilakukan oleh beberapa kabilah dengan cara yang berbeda-beda. Salah satu metode Nasi' adalah menunda bulan-bulan haram untuk memungkinkan terjadinya peperangan. Praktik ini terkadang dilakukan dengan membayar sejumlah uang kepada orang-orang dari kabilah Bani Kinanah yang bertugas mengumumkan atau menunda bulan-bulan tersebut.

Metode lain dari Nasi' adalah interkalasi (penisipan bulan/kabisat) untuk menyelaraskan bulan-bulan Qamariah (lunar) dengan tahun Syamsiah (solar). Menurut dokumen sejarah, tujuan dari interkalasi ini adalah agar bulan Dzulhijjah tetap berada pada musim-musim yang lebih cocok untuk perdagangan dan perjalanan. Para sejarawan Islam memperkirakan bahwa tradisi ini berpindah dari orang-orang Yahudi kepada orang-orang Arab di Jazirah Arab. Di antara alasan penentangan Islam terhadap Nasi' adalah karena hal itu mengubah ketetapan Halal dan Haram Ilahi serta menciptakan lahan untuk mencari keuntungan dari ritual ibadah seperti haji. Nasi' terus berlanjut hingga sebelum tahun ke-10 Hijriah dan Nabi Muhammad saw menyatakannya Haram pada saat Haji Wada'. Menurut riwayat sejarah, pendiri tradisi ini adalah seseorang bernama "Amru bin Luhai". Orang-orang terakhir yang bertugas mengumumkan Nasi' disebutkan bernama "Na'im bin Tsa'labah" dan "Junadah bin Auf".

Terminologi

Nasi' diartikan sebagai tradisi menunda bulan-bulan, khususnya Bulan-bulan Haram.[1] Allah swt melarang tradisi ini dalam ayat 36 dan 37 Surah At-Taubah. Kata Nasi' bermakna menunda sesuatu.[2] Alasan penamaan ini disebutkan karena semua bulan dinamai dengan nama mereka sendiri pada saat hilal muncul; namun pada saat Nasi', penamaan bulan pertama tahun berikutnya (yaitu Muharram) ditunda.[3] Mengenai maknanya, terdapat dua kemungkinan: pertama, menunda satu bulan haram agar larangan berperang tertunda,[4] dan kedua, melakukan interkalasi (kabisat) agar bulan-bulan Qamariah sesuai dengan siklus musim Syamsiah.[5]

Allamah Thabathaba'i juga mengemukakan kemungkinan bahwa mungkin orang-orang Arab Jahiliyah tidak memiliki satu metode tunggal dalam melakukan Nasi', dan setiap kelompok menerapkannya sesuai keinginan mereka sendiri.[6] Dikatakan juga bahwa ini bukan kebiasaan umum seluruhnya, melainkan dilakukan oleh beberapa kabilah di Jazirah Arab.[7] Tentu saja, beberapa peneliti meyakini bahwa hanya sedikit kabilah Arab yang tidak mempraktikkan tradisi Nasi' atau menerapkannya dengan cara lain.[8]

Pergeseran Bulan-bulan Haram

Menurut para mufasir Al-Qur'an, dalam tradisi Arab pra-Islam, empat bulan dalam setahun, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab adalah bulan haram dan dilarang berperang di dalamnya.[9] Di antara bulan-bulan tersebut, tiga bulan (Dzulkaidah, Dzulhijjah, dan Muharram) terjadi secara berturut-turut. Urutan berturut-turut ini dan larangan segala bentuk perang serta penjarahan selama periode tersebut terasa berat bagi banyak kabilah; sehingga mereka perlu sesekali menggeser kehormatan (keharaman) bulan-bulan ini.[10]

Menurut beberapa nukilan, jika sebuah kabilah ingin berperang pada bulan-bulan ini, mereka akan membayar sejumlah uang kepada pengurus Ka'bah dan meminta agar bulan tersebut dinyatakan Halal dan menggantinya dengan menjadikan bulan lain sebagai bulan Haram.[11] Dengan demikian, bulan yang kehormatannya dicabut itu disebut "Nasi'".[12] Dalam beberapa sumber, jenis Nasi' ini disebut sebagai "penambahan dalam bulan-bulan haram".[13] Terkadang penundaan ini hanya untuk satu tahun dan terkadang lebih dari satu tahun, dan kemudian setelah masa penundaan berakhir, mereka kembali mengharamkan bulan-bulan haram tersebut.[14]

Dari beberapa perkataan Nashir Makarim Syirazi dan beberapa pakar lainnya, tersirat bahwa dalam beberapa kasus, penundaan bulan hanya khusus untuk "Dzulhijjah". Berdasarkan analisis ini, pada tahun-tahun di mana hari-hari manasik haji bertepatan dengan musim panas, orang-orang Arab mengubah posisi Dzulhijjah dan menempatkan bulan lain yang cuacanya lebih cocok untuk pelaksanaan haji sebagai gantinya.[15]

Interkalasi (Kabisat)

Menurut para sejarawan, orang-orang Arab di masa Jahiliyah, untuk menyesuaikan bulan-bulan Qamariah dengan tahun Syamsiah, menambahkan satu bulan pada tahun Qamariah setiap tiga tahun.[16] Pergeseran ini berlanjut dalam siklus tiga puluh tiga tahun hingga pada tahun ketiga puluh empat, Dzulhijjah kembali ke tempat asalnya selama dua atau tiga tahun.[17] Menurut laporan lain, mereka menambahkan 9 bulan untuk setiap 24 tahun Qamariah.[18] Beberapa sumber menyebut pembacaan Nasi' ini sebagai "penundaan pada bulan-bulan haram".[19]

Prosesinya adalah salah satu pemimpin kabilah "Bani Kinanah" dalam upacara haji di tanah "Mina", setelah permintaan masyarakat, mengucapkan kalimat ini: "Aku telah menunda bulan Muharram tahun ini dan memilih bulan Safar sebagai gantinya."[20] Menurut nukilan lain, selama pengumuman ini, darah beberapa kabilah juga dinyatakan Mubah.[21]

Alasan Interkalasi

Dalam beberapa sumber dilaporkan bahwa motivasi orang-orang Arab melakukan Nasi' adalah agar hari-hari Haji setiap tahun jatuh pada waktu yang paling ramai dan waktu yang paling mudah bagi lalu lintas karavan dagang, yaitu musim-musim di mana cuaca Semenanjung Arab dapat ditoleransi.[22] Menurut nukilan lain, penduduk Mekah memiliki dua pakta keamanan dengan pemerintah Syam dan Yaman yang menjamin keamanan perjalanan musim panas mereka ke Syam dan perjalanan musim dingin mereka ke Yaman. Di sisi lain, kehidupan penduduk Mekah bergantung pada perjalanan dagang ini dan perjalanan jemaah haji ke Mekah. Oleh karena itu, mereka harus mengatur waktu haji sedemikian rupa agar tidak bertabrakan dengan waktu-waktu ini dan tidak mengganggu perdagangan mereka. Maka mereka beralih melakukan interkalasi (kabisat) tahun.[23]

Penentangan Islam terhadap Nasi'

Al-Qur'an dalam ayat 36 dan 37 Surah At-Taubah mencela tradisi Nasi'. Menurut isi ayat-ayat ini, jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, di mana empat di antaranya adalah bulan haram. Ayat-ayat ini juga menyatakan bahwa "Nasi'" adalah penambahan dalam kekafiran dan penyebab kesesatan manusia.[24] Menurut para ahli, alasan mengapa Al-Qur'an menentang tradisi Nasi' dapat dijelaskan dari beberapa aspek:

  • Akibat Nasi' dan penundaan bulan-bulan, haji jatuh pada bulan-bulan Qamariah lainnya dan menyebabkan batalnya amal ibadah kaum muslimin.[25]
  • Tindakan ini memiliki dua konsekuensi yang bertentangan dengan Islam: pertama, menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berperang di bulan haram) dan kedua, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah (berperang di bulan-bulan lainnya).[26]
  • Pencarian hak istimewa, semangat diskriminasi, dan monopoli Quraisy sebagai pengurus Ka'bah serta menjadikan Haji sebagai sarana untuk mengamankan kepentingan dan tujuan kelompok, semuanya berujung pada pengosongan makna ritual ibadah ini dan pencarian keuntungan oleh Quraisy.[27]
  • Nasi', dengan mencabut larangan perang di bulan-bulan haram, memicu pertumpahan darah antar manusia, padahal larangan empat bulan menciptakan kesempatan untuk berpikir dan merenung, serta kemungkinan berakhirnya perang menjadi jauh lebih besar.[28]
  • Karena Nasi' adalah bid'ah Yahudi dan tradisi yang tersisa dari masa Jahiliyah, pernyataan keharamannya merupakan tanda bahwa bid'ah yang dibuat-buat atau tiruan tanpa landasan agama tidak disetujui oleh Islam.[29]

Sejarah

Sejarah Nasi' dalam sumber-sumber Islam dikaji dari dua aspek: pertama, asal-usul dan awal pembentukannya di masa Jahiliyah serta individu-individu yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi ini; dan kedua, bagaimana kelanjutannya dan akhirnya dihentikan dengan munculnya Islam dan pernyataan keharamannya oleh Nabi saw:

Awal Mula Tradisi Nasi'

Zubaidi dalam bukunya, Taj al-Arus, mengutip syair dari salah satu Qalammas (pemimpin Nasi') kabilah Bani Kinanah yang menunjukkan kebesaran dan kebanggaan posisi ini:

Sesungguhnya kabilah-kabilah terkemuka Kinanah mengetahui
Bahwa kami, ketika dahan pohon menghijau,
Adalah orang-orang paling mulia di antara mereka dari segi keturunan, derajat, dan kedudukan,
Dan pada awal masa, kami memiliki nasab, asal-usul, dan keturunan yang lebih unggul.
Kami menunjukkan manasik agama mereka kepada mereka
Dan kami menyediakan bagian kebaikan dan kebajikan yang lebih banyak bagi mereka.
Perintah bermula dari kami dan datang kepada kami
Dan jika kami berpaling dari urusan dan perintah, maka (urusan itu) akan dipalingkan.[30]

Berdasarkan sebagian riwayat, Nasi' adalah salah satu tradisi Yahudi yang dipelajari oleh orang-orang Arab masa Jahiliyah dari mereka.[31] Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, orang pertama yang menetapkan tradisi ini di Jazirah Arab adalah "Amru bin Luhai",[32] yang berkuasa atas Mekah dengan bantuan Bani Kinanah. Menurut nukilan lain, Hudzaifah bin Abd bin Faqim Kinani,[33] dan menurut nukilan Baladzuri, anaknya Qala' bin Hudzaifah adalah orang-orang pertama yang menjalankan tradisi ini.[34] Secara umum, tugas ini menjadi milik orang-orang dari kabilah Bani Kinanah yang bergelar Qalammas (penanggung jawab pengumuman penundaan dan pergeseran bulan).[35]

Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani untuk menghitung tahun pertama pelaksanaan tradisi ini mengatakan bahwa jabatan ini diwariskan kepada anak-anaknya hingga tujuh generasi setelah Hudzaifah, hingga akhirnya sampai kepada Abu Tsumamah (Junadah bin Auf bin Umayyah bin Qala' bin Abbad bin Qala' bin Hudzaifah). Jika rata-rata usia setiap generasi dianggap tiga puluh tahun, maka total umur tradisi ini adalah dua ratus sepuluh tahun, dan jika kita kurangi sepuluh tahun hijrah darinya, kita akan menyimpulkan bahwa tahun kedua ratus sebelum hijrah adalah tahun dimulainya tradisi ini.[36]

Berakhirnya Tradisi Nasi'

Berdasarkan perkataan para mufasir, sebelum munculnya Islam, seseorang bernama Na'im bin Tsa'labah dari kabilah Bani Kinanah memegang jabatan atau gelar "Qalammas"[37]. Juga pada masa munculnya Islam, Junadah bin Auf (dikenal sebagai Abu Tsumamah) adalah orang terakhir yang memegang gelar ini.[38] Menurut sumber-sumber sejarah Islam, tradisi ini berlanjut hingga tahun ke-9 Hijriah.[39] Pada tahun ini musim haji jatuh pada bulan Dzulkaidah; namun pada tahun ke-10 Hijriah (Haji Wada') di mana musim haji jatuh pada bulan Dzulhijjah yang sebenarnya, tradisi ini dinyatakan haram oleh Nabi Muhammad saw.[40] Nabi Muhammad saw berkhotbah pada hari Idul Adha dan bersabda: "Waktu telah berputar dan kembali seperti keadaannya pada saat penciptaan langit dan bumi."[41] Dengan demikian, tradisi Jahiliyah ini ditinggalkan.[42]

Lihat Pula

Catatan Kaki

  1. Ja'fari, "Bahtsi darbareh-ye 'Nasi wa Rabithe-ye an ba Hajj", hlm. 119.
  2. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 141.
  3. Mirshadiqi, "Darbareh-ye Nasi'", hlm. 99.
  4. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 9, hlm. 271.
  5. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 152.
  6. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 9, hlm. 271.
  7. Athiyyah 'Aufi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1388 HS, jld. 2, hlm. 67.
  8. Mirshadiqi, "Darbareh-ye Nasi'", hlm. 102.
  9. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 44.
  10. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan, 1408 H, jld. 9, hlm. 243; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1431 H, jld. 5, hlm. 70.
  11. Subhani, Mansyur-e Javid, jld. 6, hlm. 35.
  12. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 9, hlm. 271.
  13. "Kitab Tarikhi, Tafsiri, Taqvimi 'Nasi va Kabiseh', Atsar-e Jadid-e Sayid Hasan Khomeini Montasyer Syud", Portal Imam Khomeini.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 9, hlm. 271.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 410; Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 142.
  16. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 2, hlm. 189.
  17. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 152.
  18. Mirshadiqi, "Darbareh-ye Nasi'", hlm. 100.
  19. "Kitab Tarikhi, Tafsiri, Taqvimi 'Nasi va Kabiseh', Atsar-e Jadid-e Sayid Hasan Khomeini Montasyer Syud", Portal Imam Khomeini.
  20. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374, jld. 7, hlm. 409.
  21. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hlm. 217; Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 290.
  22. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 45.
  23. Mirshadiqi, "Darbareh-ye Nasi'", hlm. 103-105.
  24. Surah At-Taubah, ayat 36 dan 37.
  25. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 151.
  26. Makarim, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 410.
  27. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 151.
  28. Taqizadeh Akbari, Jihad dar Ayine-ye Qur'an, 1386 HS, jld. 2, hlm. 70; Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 407.
  29. Musaipur dan Shadiqpur, "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi", hlm. 141.
  30. Zubaidi, Taj al-Arus, jld. 1, hlm. 457, di bawah kata Nasi'.
  31. "Kitab Tarikhi, Tafsiri, Taqvimi 'Nasi va Kabiseh', Atsar-e Jadid-e Sayid Hasan Khomeini Montasyer Syud", Portal Imam Khomeini.
  32. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, jld. 7, hlm. 409.
  33. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyah, t.t., jld. 1, hlm. 28.
  34. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 11, hlm. 141.
  35. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 409.
  36. Husaini Tehrani, Imam-syenasi, 1426 H, jld. 6, hlm. 161.
  37. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 45.
  38. Thabari, Jami' al-Bayan, 1422 H, jld. 11, hlm. 452.
  39. Ja'fari, "Bahtsi darbareh-ye Nasi' wa Rabithe-ye an ba Hajj", hlm. 120.
  40. Aburaihan Biruni, Al-Atsar al-Baqiyah, 1380 HS, hlm. 16.
  41. Thabari, Al-Mustarsyid, 1415 H, hlm. 318.
  42. Aburaihan Biruni, Al-Atsar al-Baqiyah, 1380 HS, hlm. 16.

Daftar Pustaka

  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad, Astan Quds Razavi, 1408 H.
  • Aburaihan Biruni, Muhammad bin Ahmad. Al-Atsar al-Baqiyah 'an al-Qurun al-Khaliyah. Teheran, Markaz-e Pajuhesyi-ye Mirats-e Maktub, 1380 HS.
  • Athiyyah 'Aufi, Athiyyah bin Sa'ad. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Dalil-e Ma, Cetakan pertama, 1431 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Jumal min Ansab al-Asyraf. Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H/1996 M.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketiga, 1420 H.
  • Husaini Tehrani, Muhammad Husain. Imam-syenasi. Masyhad, Entisharat-e Allamah Thabathaba'i, 1426 H.
  • Huwaizi, Abd Ali. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom, Ismailiyan, Cetakan keempat, 1415 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Al-Sirah al-Nabawiyah. Kairo, Maktabah Muhammad Ali Shabih wa Auladuhu, t.t.
  • Ja'fari, Ya'qub. "Bahtsi darbareh-ye Nasi' wa Rabithe-ye an ba Hajj". Miqat Hajj, No. 3, Musim Semi 1372 HS.
  • "Kitab Tarikhi, Tafsiri, Taqvimi 'Nasi va Kabiseh', Atsar-e Jadid-e Sayid Hasan Khomeini Montasyer Syud". Portal Imam Khomeini. Diakses tanggal: 17 Mehr 1403 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Tahqiq: As'ad Daghir, Qom, Dar al-Hijrah, 1409 H.
  • Mirshadiqi, Sayid Muhammad Husain. "Darbareh-ye Nasi'". Dalam Majalah Maqalat wa Barresi-ha, No. 77, 1384 HS.
  • Musaipur, Mahbubah dan Qasim Shadiqpur. "Negahi be Tafsir-e Nasi' be Madad-e Taqvim-syenasi". Dalam Majalah Muthala'at-e Tarikhi-ye Qur'an wa Hadits, No. 73, Esfand 1401 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1363 HS.
  • Subhani, Ja'far. Mansyur-e Javid. Qom, Muassasah Imam Shadiq, t.t.
  • Taqizadeh Akbari, Ali. Jihad dar Ayine-ye Qur'an. Qom, Zamzam-e Hedayat, 1386 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Qom, Hauzah Ilmiah Qom: Markaz-e Mudiriyat, 1412 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Al-Mustarsyid fi Imamah Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib alaihis-salam. Teheran, Muassasah al-Tsaqafah al-Islamiyyah li Kusyanpur, 1415 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an (Tafsir al-Thabari). Kairo, Hajar, 1422 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1352–1393 H.
  • Zubaidi, Muhammad bin Muhammad. Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus. Beirut, Dar Maktabah al-Hayah, 1306 H.