Konsep:Ilmu Imam
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |
Ilmu Imam adalah salah satu karakteristik utama Imam dalam keyakinan kaum Syiah. Kaum Syiah meyakini bahwa Imam adalah orang yang paling berilmu, dan selain memiliki ilmu tentang hukum-hukum agama dan Tafsir Al-Qur'an, ia juga memiliki pengetahuan tentang urusan gaib. Salah satu faktor yang menjelaskan maksumnya Imam adalah ilmunya terhadap hakikat segala perkara. Imam dapat mengakses hakikat agama dan non-agama melalui jalur-jalur non-biasa seperti menyaksikan Malakut, Ilham, dialog dengan malaikat, dan merujuk pada Jafr dan Jamiah. Dalam kitab-kitab hadis kuno seperti Basa'ir al-Darajat dan Al-Kafi, serta dalam kumpulan hadis terkemudian seperti Bihar al-Anwar, telah dikumpulkan banyak hadis mengenai ilmu Imam, cakupannya, kualitasnya, serta jalur-jalur akses Imam terhadap ilmu tersebut. Meskipun demikian, karya-karya independen mengenai ilmu Imam baru ditulis pada periode-periode yang sangat belakangan.
Riwayat-riwayat yang dinukil mengenai ilmu Imam tidak memiliki konten yang seragam dan menjadi pemicu perbedaan pendapat di antara para teolog Syiah serta pembagian mereka menjadi kelompok Mufawwidah dan Muqassirah. Sekelompok ulama Syiah menganggap ilmu Imam tidak terbatas, aktual (bi al-fi'l), dan hadir (hudhuri); namun kelompok lain seperti Mufid dan Murtadha menganggap ilmu Imam terbatas, atas kehendak (iradi), dan bersyarat. Sifat ilmu para Imam yang dapat bertambah serta riwayat-riwayat yang menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap beberapa perkara dianggap sebagai pendukung teori kedua. Sebagian menganggap pengetahuan Imam tentang hal gaib sebagai keniscayaan imamah, sementara yang lain menganggapnya sebagai karunia dari Allah yang diberikan kepada Imam di luar tugas-tugas imamatnya.
Mengenai ilmu Imam tentang waktu terjadinya Hari Kiamat dan Ilmu Manaya wa Balaya, serta pengetahuannya tentang ilmu dan teknik yang umum di tengah masyarakat serta pengetahuan tentang bahasa-bahasa lain, tidak dilaporkan adanya kesepakatan pendapat. Penerbitan buku-buku seperti Syahid Javid, Maktab dar Farayand-e Takamol, dan Teori Ulama Abrar telah memicu perdebatan di ruang ilmiah kaum Syiah.
Kedudukan dan Urgensi Pembahasan
Pembahasan mengenai ilmu Imam adalah salah satu pembahasan fundamental dalam tasyayyu',[1] karena dalam keyakinan Syiah, ilmu Imam dianggap sebagai salah satu karakteristik utama Imam[2] yang juga berpengaruh dalam pemenuhan syarat-syarat imamat lainnya seperti afdhaliyah.[3] Pada awal pembahasan mengenai ilmu Imam, terjadi pertentangan pemikiran antara mazhab Syiah dan para pengklaim imamat,[4] dan keyakinan pada karakteristik ini menjadi pembeda teori imamat dalam Syiah (baik Mufawwidah maupun Muqassirah) dengan sekte-sekte Islam lainnya.[5] Belakangan, pembahasan ini sendiri berubah menjadi diskursus internal mazhab dan menjadi landasan munculnya berbagai pendapat dan kecenderungan.[6] Selain itu, kaum Syiah juga menganggap para Imam memiliki tingkatan ilmu gaib.[7] Banyak dari mereka meyakini bahwa para Imam mengetahui keadaan masyarakat, dan saat masyarakat melakukan Tawassul kepada mereka, para Imam melihat dan mendengar suara mereka.Templat:Yad
Ilmu Imam dalam Kitab-kitab Hadis
Dalam kitab-kitab hadis Syiah, diberikan kedudukan khusus untuk pembahasan ilmu Imam dan banyak hadis yang dinukil dalam hal ini.[8] Saffar Qummi, muhadis Syiah abad ketiga, mengkhususkan beberapa bab berbeda dari kitab hadisnya, Basa'ir al-Darajat, untuk menukil hadis-hadis terkait ilmu para Imam.[9] Saffar menamai kitabnya Basa'ir al-Darajat fi 'Ulum Al-e Muhammad wa ma Khashshahumullah bihi[10] untuk memberikan penekanan khusus pada kedudukan ilmu Imam.[11] Demikian pula Kulaini, muhadis abad keempat, dalam beberapa bab dari Ushul al-Kafi yang merupakan salah satu kitab paling sentral bagi kaum Syiah, telah mengumpulkan hadis-hadis bertema ilmu Imam.[12]
Ilmu Imam dalam Kitab-kitab Akidah
Dalam kitab-kitab yang terkait dengan pembahasan akidah seperti Haqq al-Yaqin karya Majlisi dan Ilm al-Yaqin karya Faidh Kasyani, di bawah pembahasan karakteristik Imam, dibahas mengenai sifat ilmu, dan para teolog Imamiyah telah menjelaskan keunggulan ilmiah para Imam Syiah atas orang lain.[13] Dalam kitab-kitab irfan pun, para penulis seperti Mulla Sadra dan Imam Khomeini memberikan perhatian khusus pada pembahasan ilmu Imam.[14]
Tantangan Ilmiah Kontemporer
Pada akhir dekade 1340-an HS di Iran, penerbitan buku Syahid Javid karya Ni'matullah Saleh Najafabadi memicu banyak diskusi mengenai ilmu Imam.[15] Tema buku Syahid Javid adalah tujuan kebangkitan Imam Husain(as), dan penulis mendasarkan bukunya pada pengingkaran terhadap ilmu rinci (tafshili) Imam mengenai waktu kesyahidannya.[16]
Tantangan ilmiah lainnya seputar ilmu Imam adalah penerbitan buku Maktab dar Farayand-e Takamol (The Crisis of Consolidation) karya Sayyid Hossein Modarressi Tabataba'i. Berdasarkan analisis Tabataba'i dalam buku ini, keyakinan pada ilmu khusus para Imam adalah produk dari periode tertentu imamat, dan pada kaum Syiah awal keyakinan semacam itu tidak ditemukan.[17] Berdasarkan analisisnya, setelah Imam Shadiq(as) tidak menyertai pemberontakan anti-Bani Umayyah, kedudukan Imam dalam benak kaum Syiah berubah dari kepemimpinan politik menjadi kepemimpinan ilmiah, dan kaum Syiah semakin menekankan pada ilmu khusus para Imam.[18]
Pembahasan lain yang memicu diskusi mengenai ilmu Imam adalah dimunculkannya Teori Ulama Abrar[19] pada dekade 1380-an HS di Iran. Menurut klaim beberapa peneliti, termasuk Modarressi Tabataba'i dan Mohsen Kadivar,[20] teori Ulama Abrar adalah sebuah teori yang berhadapan dengan teori ghali dan kecenderungan Mufawwidah.Templat:Yad Dasar teori Ulama Abrar adalah pengingkaran terhadap ilmu luas para Imam dan juga pengingkaran terhadap Wilayah Takwini mereka.
Topik-topik yang Diperselisihkan
Rabbani Golpayegani, seorang teolog Syiah, dengan bersandar pada pendapat para teolog awal Syiah seperti Khwaja Nasiruddin al-Thusi, Ibnu Maitsam al-Bahrani, dan Hamshi Razi, melaporkan bahwa menurut Syiah, ilmu Imam harus berada pada tingkat tertinggi yang diperlukan,[21] ia harus mengetahui semua hukum,[22] dan selain ilmu-ilmu agama, ia juga harus mengetahui ilmu-ilmu duniawi yang merupakan keniscayaan imamat.[23] Abdul Husain Lari menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu dalam pembahasan ilmu Imam bukanlah ilmu lahiriah yang mungkin dipelajari setiap orang dari orang lain, melainkan yang menjadi topik diskusi adalah ilmu laduni dan ilmu batin Imam.[24] Berdasarkan apa yang ada dalam Ensiklopedia Imam Ali, mengenai ilmu para Imam terhadap sebagian urusan gaib juga tidak ada perselisihan.[25] Menurut Reza Ostadi, fakta bahwa para Imam mewarisi ilmu Nabi dan juga mendapatkan ilham telah diterima oleh semua ulama Syiah.[26]
Berdasarkan sebuah penelitian, apa yang menjadi perhatian dalam kalam Imamiyah mengenai cakupan ilmu Imam terbagi dalam tiga kelompok:
- Ilmu Imam tentang syariat dan ajaran agama (ilmu tentang halal dan haram Ilahi, tafsir dan takwil Al-Qur'an, tafsir Sunah, menjawab kontradiksi dalam pemahaman agama, dll.)
- Ilmu Imam tentang hal gaib (ilmu tentang batin manusia dan pembahasan gaib seperti kiamat, alam abstrak, dan peristiwa masa depan)
- Ilmu Imam tentang sains dan teknik, seperti ilmu mereka tentang profesi manusia dan ilmu mereka tentang bahasa manusia.[27]
Ilmu-ilmu Keniscayaan Imamat
Berdasarkan penelitian Rabbani Golpayegani, dalam banyak kitab teologi Syiah, apa yang menjadi keniscayaan imamat dan harus diketahui oleh Imam adalah ilmu mengenai ma'arif dan hukum syariat secara aktual (bi al-fi'l) dan tanpa kekeliruan, serta tanpa membutuhkan Ijtihad.[28] Kaum Syiah meyakini ilmu ini harus bersifat Ilahi.[29]
Ilmu lain yang harus diketahui oleh Imam adalah ilmu tentang manajemen serta kepemimpinan politik dan moral masyarakat.[30] Meskipun demikian, menurut keyakinan beberapa teolog Syiah seperti Sayyid al-Murtadha, Syekh Thusi, dan Hamshi Razi, tidak wajib bagi Imam untuk memiliki ilmu tentang bahasa, teknik, dan industri.[31]
Di sisi lain, ilmu Imam adalah rukun terpenting dalam keyakinan pada Ismah para Imam. Berdasarkan analisis para ulama dan teolog Syiah mengenai konsep ismah, karakteristik ini muncul dari ilmu Imam terhadap hakikat eksistensi.[32] Sebagaimana Thabathaba'i, filsuf dan mufasir Syiah, menegaskan bahwa para Maksum memiliki ilmu khusus yang mencegah keluarnya dosa dan kesalahan dari mereka.[33] Berdasarkan hal ini, beberapa teolog Syiah tidak membahas mengenai ilmu Imam dan menganggap diri mereka tidak butuh membahas ilmu setelah membuktikan ismah bagi Imam.[34]
Tiga Perselisihan Utama
Menurut Reza Ostadi, terdapat beberapa topik yang diperselisihkan mengenai ilmu para Imam; seperti apakah ilmu Imam terbatas atau tidak terbatas?, bersifat hudhuri atau hushuli?, mencakup semua detail atau sebagian detail?, memiliki ilmu sebelum mencapai kedudukan imamat atau menjadi alim setelahnya?, pintu ilmu selalu terbuka baginya atau terkadang tertutup?, apakah ilmu Imam bertambah secara bertahap atau tidak?[35] Sebagaimana penulis buku Mahiyat-e Ilmu Imam juga melaporkan perselisihan yang sama dalam bentuk beberapa pertanyaan dan menyebutkan perselisihan mengenai apakah ilmu para Imam bersifat pemberian (mawhibati) atau ijtihadi sebagai bagian dari masalah yang diperselisihkan.[36] Penulis lain mengumpulkan perselisihan ini dalam tiga topik umum: cakupan ilmu Imam, hakikat ilmu Imam, dan cara Imam mencapai ilmu.[37]
Para ulama Syiah memiliki tiga teori mengenai cakupan ilmu Imam:[38] sekelompok menganggapnya sangat luas dan mencakup segala perkara,[39] kelompok lain menganggap ilmu mereka terbatas,[40] dan kelompok ketiga adalah mereka yang tidak memberikan pendapat dalam hal ini dan memilih untuk berdiam diri (tawaqquf).[41] Syekh Murtadha al-Anshari adalah tokoh paling menonjol dari teori ini.[42]
Akar Perselisihan
Sumber perbedaan pendapat ulama Syiah mengenai cakupan dan juga kualitas ilmu Imam adalah ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang datang mengenai ilmu Rasulullah dan para Imam yang secara lahiriah tidak selaras satu sama lain.[43] Berdasarkan klasifikasi penulis buku Baz-andisyi dar Ilmu Imam, riwayat-riwayat ilmu Imam terbagi dalam lima kelompok: (1) Imam tidak mengetahui ilmu gaib,[44] (2) Ilmu Imam bersifat diperoleh (iktisabi),[45] (3) Ilmu gaib pada Imam bersifat atas kehendak (iradi),[46] (4) Ilmu Imam terbatas pada kebutuhan manusia dan sosial,[47] (5) Ilmu Imam bersifat hudhuri serta aktual, dan setiap ilmu yang dimiliki Allah, Imam pun memilikinya.[48]
Sumber perselisihan lain dalam pembahasan ilmu Imam adalah bahwa dengan menerima ilmu luas para Imam dan pengetahuan mereka tentang hal gaib, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tampak tidak selaras dengan beberapa prinsip akidah. Seperti jika para Imam memiliki ilmu tentang waktu kematian mereka, mengapa mereka tidak mencegahnya dan membiarkan diri mereka terbunuh?[49] Atau jika para Imam mengetahui segala sesuatu, maka hal itu akan tidak selaras dengan sunah ujian Ilahi,[50] dan banyak dari tindakan mereka seperti tidurnya Imam Ali(as) menggantikan Nabi pada peristiwa Lailat al-Mabit tidak akan lagi memiliki nilai.[51]
Generalitas Ilmu Imam
Salah satu kecenderungan dalam ilmu Imam adalah teori tidak terbatasnya ilmu mereka. Syekh al-Mufid menisbatkan teori ini kepada keluarga Nawbakhti.[52] Qazwini Barghani berpendapat bahwa ulama Imamiyah memiliki ijmak atas generalitas ilmu Imam.[53] Namun peneliti lain meyakini teori generalitas ilmu Imam mulai populer dari abad kedua belas dan seterusnya, dan para ulama Imamiyah sebelum itu menganggap ilmu Imam terbatas.[54] Penulis lain juga dengan mengumpulkan pendapat sebelas teolog Syiah dari mazhab-mazhab Baghdad, Ray, dan Hillah berkeyakinan bahwa hingga masa Fadhil al-Miqdad (wafat 826 H) yaitu abad kesembilan, dalam diri para teolog Imamiyah tidak ada jejak pemikiran bahwa Imam mengetahui segala sesuatu.[55] Mulla Mahdi Naraqi, Abdul Husain Lari, Muhammad Husain Thabathaba'i, dan Abdullah Jawadi Amuli dianggap termasuk dalam kelompok ulama ini.[56]
Menurut Abdul Husain Lari, yang dimaksud dengan generalitas ilmu Imam adalah bahwa ilmu Imam mencakup segala sesuatu yang telah ada hingga saat ini dan apa pun yang akan terjadi hingga hari kiamat.[57] Ilmu ini dengan ungkapan "ilmu ma kana wa ma yakunu ila yaum al-qiyamah" dan ungkapan serupa digunakan setidaknya dalam 24 hadis.[58] Terlepas dari ilmu-ilmu yang dikhususkan bagi zat Allah, terdapat ilmu-ilmu lain yang Allah ajarkan kepada para nabi dan malaikat-Nya. Berdasarkan keyakinan mereka yang menganggap ilmu Imam tidak terbatas, para Imam mengetahui semua ilmu tersebut.[59] Abdul Husain Lari sendiri juga memiliki keyakinan demikian, namun ia menukil adanya perselisihan mengenai ilmu Imam tentang waktu kiamat (ilmu al-sa'ah), umur individu (ilmu al-ajal), dan ilmu al-manaya.[60] Hafizh Rajab Borsi juga termasuk dalam kelompok ini.[61]
Tanda-tanda Tidak Terbatasnya Ilmu Para Imam
Abdul Husain Lari, seorang mujtahid Syiah, dalam sebuah tulisan singkat menganggap Kaidah Luthf, Kaidah Imkan, dan kaidah muqtadhi serta ketiadaan penghalang sebagai bagian dari dalil rasional bagi ilmu tidak terbatas para Imam Syiah,[62] dan ia juga berargumen bahwa jika mereka tidak mengetahui sesuatu, maka mereka harus merujuk kepada orang lain dalam bidang tersebut, dan ini sendiri merupakan kekurangan besar yang tidak mungkin ada pada para Imam.[63] Para ulama dengan kecenderungan Irfan Teoretis juga mengemukakan dalil rasional bagi tidak terbatasnya ilmu Imam, dan dengan bersandar pada kedudukan Insan Kamil dan fakta bahwa Imam adalah Khalifatullah, mereka meyakini bahwa Imam harus memiliki semua sifat Allah termasuk ilmu yang tidak terbatas.[64] Mereka melakukan pembenaran dan takwil terhadap hadis-hadis yang tidak selaras dengan teori ini.[65]
Sayyid Kamal Haydari, teolog dan fakih Syiah, dengan bersandar pada Hadis Tsaqalain dan tidak terpisahkannya Ahlulbait dari Al-Qur'an,[66] serta konsep Kitab Mubin yang merupakan Ummul Kitab,[67] berargumen bahwa semua ilmu ada dalam Kitab Mubin[68] dan para Imam pun mengetahui apa pun yang ada di dalam Kitab Mubin.[69] Ia juga dengan bersandar pada ajaran afdhaliyah Nabi Islam dan para Imam atas para nabi lainnya,[70] dan fakta bahwa faktor afdhaliyah terpenting adalah keunggulan ilmiah,[71] menjelaskan cakupan ilmu Ahlulbait.[72]
Para penganut ilmu tidak terbatas juga merujuk pada beberapa kelompok hadis; seperti riwayat-riwayat yang memperkenalkan para Imam sebagai pewaris ilmu para nabi dan Nabi Islam, riwayat-riwayat yang menganggap ilmu para Imam mencakup masa lalu, masa depan, langit, bumi, surga, neraka, dan segala urusan, riwayat penyaksian malakut langit dan bumi oleh para Imam, serta riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa tidak ada pertanyaan yang diajukan kepada Imam melainkan Imam mengetahui jawabannya.[73]
Beberapa Contoh Ilmu Imam
Konten ilmu-ilmu gaib ini dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok:
- Ilmu tentang segala sesuatu yang telah terjadi atau yang akan terjadi di masa depan;[74] seperti kabar-kabar yang diberikan Imam Ali mengenai masa depan dan dinyatakan dalam khotbah-khotbah Nahjul Balaghah. Seperti: kabar mengenai kehancuran Kufah,[75] serangan Abdul Malik bin Marwan ke Kufah,[76] pertumpahan darah dan kerakusan Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi,[77] masa depan berdarah Basra,[78] pemerintahan empat penguasa korup dari putra-putra Marwan bin al-Hakam,[79] serta serangan bangsa Mongol dan kejahatan mereka.[80]
- Ilmu tentang kematian dan musibah;[81]
- Ilmu tentang semua urusan dunia dan akhirat;[82]
- Ilmu tentang tata cara dan waktu wafat serta kesyahidan diri sendiri;[83]
- Ilmu tentang rahasia Ilahi;[84]
Ilmu para Imam tentang Kesyahidan Mereka
Dalam kitab Al-Kafi yang merupakan bagian dari Empat Kitab Utama Syiah, terdapat bagian dengan judul bahwa para Imam mengetahui kapan mereka akan mati.[85] Syekh al-Mufid, Allamah al-Hilli, dan Sayyid al-Murtadha juga membicarakan masalah ini dalam karya-karya mereka.[86] Menurut Syekh al-Mufid (wafat 413 H), teolog Syiah, riwayat-riwayat dalam hal ini bersifat mutawatir.[87] Dalam menjawab masalah bahwa jika para Imam mengetahui waktu kesyahidan mereka mengapa mereka tidak menjaga nyawa mereka, ia mengemukakan dua kemungkinan:
- Mungkin ilmu mereka tentang waktu dan tempat kesyahidan serta pembunuh mereka tidak bersifat rinci (tafshili).
- Dengan asumsi bahwa para Imam mengetahui detail kesyahidan mereka, mungkin tugas (taklif) mereka adalah bersabar.[88]
Penulis artikel "Ilmu Imam terhadap Kesyahidan dan Keraguan Ketidaksesuaiannya dengan Ismah", setelah meninjau riwayat-riwayat dan berbagai pandangan, sampai pada kesimpulan bahwa dalam kasus-kasus di mana para Imam menerima kesyahidan, mereka tidak menentang hukum wajibnya menjaga nyawa sehingga tidak selaras dengan maksumnya mereka, karena ilmu mereka bukan melalui jalur konvensional dan ilmu semacam itu mungkin tidak mendatangkan kewajiban syariat (taklif-awar), dan dengan asumsi mendatangkan kewajiban pun, mungkin para Imam memiliki kewajiban khusus dalam rangka kebahagiaan masyarakat dan lain-lain, serta mereka telah mengamalkannya.[89]
Pembatasan Ilmu Imam
Sekelompok teolog dan ulama Syiah menganggap ilmu para Imam terbatas. Dan mereka tidak menganggap perlu bagi Imam untuk memiliki ilmu lebih dari ilmu-ilmu yang merupakan keniscayaan bagi jabatan imamat.[90] Syekh al-Mufid dan para muridnya seperti Sayyid al-Murtadha, Ibnu Syahrasyub, Al-Thabrasi penulis Majma' al-Bayan,[91] Al-Karajaki,[92] Syekh Thusi, dan Majlisi Kedua[93] dianggap termasuk dalam kelompok ini. Berdasarkan penelitian Rabbani Golpayegani, dalam teks-teks resmi dan klasik Imamiyah, ilmu gaib bukan termasuk syarat wajib imamat.[94] Meskipun mereka tidak memungkiri bahwa para Imam dalam beberapa kasus mengetahui urusan tersembunyi dan gaib, serta waktu kematian orang lain atau diri mereka sendiri, namun pengetahuan ini bersifat kasuistik, terbatas, dan bersumber dari ilham Ilahi yang bukan merupakan syarat imamat.[95]
Tanda-tanda Keterbatasan Ilmu Imam
Para peneliti yang melakukan riset mengenai ilmu Imam dan cakupannya, berkeyakinan bahwa beberapa ayat Al-Qur'an dan hadis yang sampai dari para Imam menunjukkan bahwa pengetahuan para Imam terbatas dan tidak mencakup semua hakikat eksistensi.Templat:Mencari sumber
Bertambahnya ilmu para Imam yang diisyaratkan atau ditegaskan dalam banyak hadis[96] dianggap sebagai salah satu dalil dan tanda keterbatasan ilmu Imam. Karena saat ilmu bertambah, itu berarti ilmu Imam sebelumnya lebih sedikit.[97] Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa setiap minggu atau setiap Jumat ilmu para Imam bertambah.[98] Sebagaimana dari riwayat-riwayat pembelajaran ilmu dari para nabi juga dipahami adanya keterbatasan pengetahuan para Imam,[99] penyetoran amal orang-orang mukmin kepada para Imam yang disebutkan dalam beberapa riwayat juga dianggap sebagai bagian dari tanda keterbatasan ilmu para Imam.[100]
Waktu pencapaian Imam terhadap ilmu juga termasuk pembahasan yang hasilnya berpengaruh pada cakupan ilmu Imam. Sekelompok meyakini Imam memiliki ilmu sejak masa kanak-kanak dan sebelum imamat, sementara yang lain menganggap pencapaian Imam terhadap ilmu khusus imamat berkaitan dengan saat mencapai jabatan imamat.Templat:Mencari sumber
Sumber Ilmu Imam
Mengenai dari mana dan melalui cara apa para Imam memperoleh ilmu mereka, terdapat beberapa teori yang dikemukakan oleh para ulama Syiah. Dalam koleksi hadis besar Bihar al-Anwar, pada bab pertama dari bab-bab terkait ilmu Ahlulbait, telah dikumpulkan 149 hadis, dan pada bab kedua yang mengenai kedudukan tahdits, terdapat 47 hadis. [101]
Beberapa peneliti membagi sumber ilmu Imam menjadi dua bagian: sumber umum dan sumber khusus. Sumber umum bersifat bersama dan digunakan oleh semua Imam, sedangkan sumber khusus adalah sumber yang hanya digunakan oleh beberapa Imam saja.[102] Sumber umum terdiri dari: Al-Qur'an, pengajaran dari Nabi, Kitab Imam Ali, Jafr, Mushaf Fatimah, tahdits malaikat, limpahan Ruhul Kudus, cahaya Ilahi, Ismul Azham, mimpi yang benar, kitab-kitab para nabi terdahulu, penyaksian malakut, dan akal sempurna.[103] Sumber khusus terdiri dari: Sahifah Makhtumah, suara langit, suara pedang, terbukanya bendera, dan limpahan rahmat.[104] Sumber-sumber seperti ilham dari sisi Allah, akses ke Lauh dan Qalam serta Arsy, koneksi ke wahyu, Lailatul Qadar, Mikraj, dan berbicara tanpa perantara dengan Allah juga disebutkan sebagai sumber ilmu para Imam.[105]
Tahdits atau Hubungan dengan Malaikat
Menurut para ulama Syiah, salah satu sumber ilmu para Imam adalah hubungan para Imam dengan malaikat dan sebagian dari ilmu khusus mereka bersumber dari penyampaian pesan para malaikat. Karena alasan inilah para Imam disebut sebagai muhaddats.[106] Sebagaimana telah masyhur bahwa bahkan Fatimah az-Zahra putri Nabi juga mendengar berita-berita dari Jibril dan menuliskannya dalam Mushaf Fatimah.[107] Sebagaimana dinukil dari Hasan bin Yahya al-Madaini bahwa ia bertanya kepada Imam Shadiq(as) ketika sebuah pertanyaan diajukan kepada Imam, dengan ilmu apa ia menjawabnya? Imam menjawab bahwa terkadang ia diberikan Ilham, terkadang ia mendengar dari Malaikat, dan terkadang keduanya.[108]
Mushaf Fatimah
Berdasarkan beberapa hadis, Mushaf Fatimah(sa) adalah salah satu sumber ilmu para Imam. Mushaf Fatimah adalah kumpulan riwayat yang dikumpulkan selama proses tahdits (pembicaraan) para malaikat dengan Hazrat Zahra(sa) yang di dalamnya terdapat berita-berita peristiwa masa depan hingga hari kiamat. Berita-berita ini dituturkan oleh Hazrat Zahra kepada Hazrat Ali(as) dan beliau menuliskannya.[109]
Ilmu Nabi dan Para Imam Terdahulu
Salah satu sumber ilmu Imam lainnya adalah ilmu yang sampai kepada mereka secara turun-temurun dari ayah-ayah mereka.[110] Dalam sebuah hadis dari Imam Ridha(as) ditegaskan bahwa ilmu Imam sampai kepadanya melalui jalur Nabi, dan Nabi menerima ilmu gaib dari Allah melalui perantara Jibril.[111] Selain melalui jalur pengajaran biasa dan mendengar dari ayah-ayah mereka,[112] jalur-jalur non-biasa juga disebutkan untuk perpindahan ilmu ini: seperti ilmu-ilmu yang dipindahkan kepada Hazrat Ali(as) pada jam-jam terakhir umur Nabi. Berdasarkan riwayat-riwayat, dalam peristiwa tersebut dipindahkan ilmu-ilmu kepada beliau yang setara dengan seribu pintu ilmu yang dari setiap pintunya terbuka seribu pintu lainnya. Ilmu ini mencakup ilmu tentang peristiwa masa lalu dan masa depan serta ilmu tentang kematian, musibah, dan pengadilan. Ilmu ini dihitung sebagai bagian dari titipan imamat yang dipindahkan dari setiap Imam kepada Imam berikutnya.[113]
Metode lain perpindahan ilmu Nabi kepada para Imam adalah dengan merujuk pada kitab Jafr dan Jamiah. Kitab Jamiah didiktekan oleh Nabi(saw) kepada Hazrat Ali dan beliau pun menuliskannya, yang mencakup berita dan pengetahuan yang dibutuhkan Imam serta dipindahkan dari setiap Imam kepada Imam berikutnya.[114] Kitab Jafr juga berdasarkan beberapa riwayat merupakan warisan para nabi Ilahi dan para pengganti mereka, yang di dalamnya terdapat ilmu para nabi dan washi serta ilmu para ulama Bani Israil. Sebagaimana kitab Zabur Daud, Taurat Musa, Injil Isa, dan Shuhuf Ibrahim juga ada di dalamnya.[115]
Hakikat dan Mahiyat Ilmu Imam
Menentukan mahiyat ilmu para Imam adalah salah satu pembahasan populer dalam materi akidah Syiah. Kaum Syiah menganggap ilmu Imam bersumber dari pemberian (mawhibat) Allah dan tidak ada satu pun pengikut Syiah yang menganggap ilmu ini bersifat esensial (dzati) baginya.[116] Menurut para peneliti pun tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan hal itu.[117] Kaum Syiah juga menganggap sebagian dari ilmu para Imam bersifat diperoleh (iktisabi) dan sebagian lainnya bersifat pemberian (mawhibati).[118]
Namun dilaporkan adanya perselisihan mengenai apakah ilmu pemberian tersebut bersifat atas kehendak (iradi) atau aktual (fi'li), serta apakah bersifat hushuli atau hudhuri.[119] Karakteristik ini berkaitan dengan cakupan ilmu Imam; sebagaimana jika seseorang menganggap ilmu Imam bersifat iradi, maka ia tidak dapat lagi menganggap Imam mengetahui semua hakikat eksistensi secara aktual (bi al-fi'l).[120]
Iradi atau Aktual
Templat:اصلی Sekelompok ulama Imamiyah menganggap ilmu para Imam bersifat iradi (berdasarkan kehendak), dalam artian kapan pun mereka berkehendak untuk mengetahui sesuatu, maka mereka akan mengetahuinya. Salah satu dalil kelompok ulama ini adalah riwayat-riwayat yang memiliki konten bersama berupa ungkapan "lau sya'a an ya'lama la'alima" (jika ia ingin tahu, maka ia akan tahu).[121] Templat:Yad Majlisi, Mulla Shalih Mazandarani, Najafi Lari, Zainul Abidin Golpayegani, Mudhaffar, dan Thabathaba'i diperkenalkan sebagai para penganut aktualitas (fi'liyah) ilmu Imam, sementara Subhani, Jawadi Amuli, dan Makarim Syirazi sebagai penganut sifat sya'ni dan iradi ilmu Imam.[122]
Qazwini Barghani dalam risalahnya yang bernama Kaifiyyah Ilmu al-Imam menukil dua belas dalil dari pihak yang berpendapat ilmu para Imam bersifat iradi,[123] yang tujuh dalil di antaranya berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an, dan satu dalil merupakan kesimpulan dari banyak hadis yang menunjukkan bahwa para Imam sebelumnya tidak mengetahui beberapa perkara lalu kemudian mengetahuinya.[124] Di sisi seberang, Lari meyakini bahwa konsekuensi dari sifat iradi adalah para Imam secara aktual bersifat jahil (tidak tahu) dan bukan alim, dan karena alasan inilah ia menganggap ilmu Imam bersifat fi'li (aktual) dan bukan iradi.[125]
Beberapa orang memberikan kemungkinan bahwa sebagian dari ilmu para Imam bersifat fi'li dan sebagian lainnya bersifat sya'ni serta iradi, yang dalam hal ini kedua kelompok riwayat tersebut dapat diterima.[126] Sebagaimana Al-Karajaki meyakini bahwa ilmu Imam tentang agama bersifat fi'li namun ilmu gaibnya bersifat sya'ni.[127] Haydari berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan potensial (bil-quwwah) adalah ilmu tersebut ada di hati Imam dan ia mengaktulkannya dengan sedikit perhatian.[128] Teori lainnya adalah bahwa ilmu sya'ni berlaku bagi ilmu rinci (tafshili) dan tidak untuk semua ilmu.[129] Dan pendapat lain yang dinisbatkan kepada Allamah Thabathaba'i mengatakan bahwa ilmu biasa Imam merujuk pada keberadaan elementer dan materinya, sementara ilmu aktualnya terealisasi pada maqam nuraniyahnya.[130]
Hudhuri atau Hushuli
Sekelompok ulama Syiah menganggap ilmu para Imam bersifat hudhuri (hadir), syuhudi, dan melingkupi (ihati), sementara di sisi seberang kelompok lainnya menganggapnya sebagai hushuli, iradi, bersyarat, dan sya'ni.[131]
Qazwini Barghani menganggap ilmu para Imam bersifat hudhuri dan untuk membuktikannya ia mengemukakan 36 dalil.[132] Tiga dalil pertamanya bersifat argumentatif dan rasional,[133] serta dalil kelima hingga kedelapan didasarkan pada kesaksian Imam di hari kiamat yang ia ambil dari ayat-ayat Al-Qur'an.[134] Dalil kesebelasnya didasarkan pada penafian kelalaian (sahw) dan lupa (nisyan) dari para Imam yang ia anggap beriringan dengan ilmu.[135] Ia juga bersandar pada beberapa hadis dari sumber-sumber hadis, namun tidak memberikan pembahasan mengenai sanad dan sumber dari hadis-hadis tersebut.[136] Barghani selain hadis juga bersandar pada beberapa kisah di zamannya sendiri yang dinukil sebagai karamah dari para Imam untuk membuktikan sifat hudhuri dan ihati ilmu para Imam.[137]
Sayyid Abdul Husain Lari (1303-1326 H) dalam Risalah Wajizah fi Kammiyah Ilmu al-Imam wa Kaifiyatihi, meskipun menjelaskan ilmu Imam sebagai ilmu yang mencakup segala hal dan aktual (fi'li), namun ia menganggapnya hushuli dan bukan hudhuri, karena ia meyakini ilmu hudhuri khusus milik Allah.[138]
Karya-karya yang Ditulis
Terlepas dari kitab Basa'ir al-Darajat yang ditulis pada abad ketiga dengan fokus pada ilmu para Imam —yang merupakan kitab hadis— hingga berabad-abad kemudian tidak dilaporkan adanya karya khusus mengenai ilmu Imam.[139] Menurut Muhammad Hasan Nadem yang telah mengumpulkan kumpulan artikel mengenai ilmu Imam, monograf dan karya independen mengenai ilmu Imam sangat sedikit dan berkaitan dengan masa belakangan,[140] dan sebagian besar materi mengenai ilmu Imam harus dicari di dalam kitab-kitab lain seperti kitab-kitab teologi.[141] Agha Buzurg al-Tehrani dalam kitab Al-Dhari'ah memperkenalkan empat buku mengenai ilmu Imam dalam bahasa Arab dan satu buku berjudul Risalah fi Ilmu al-Imam wa al-Nabi dalam bahasa Persia karya Agha Muhammad Ali Behbahani. [142] Karya independen pertama dengan nama Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani berasal dari tahun-tahun awal abad ke-14 H dan ditulis oleh Sayyid Abdul Husain Lari, serta karya berikutnya adalah risalah Ilmu al-Imam karya Muhammad Husain Mudhaffar yang diterbitkan pada tahun 1385 H.[143]
Buku-buku lain juga diterbitkan dengan memfokuskan pada ilmu Imam, beberapa di antaranya adalah:
- Ilmu al-Imam: Buhuts fi Haqiqah wa Maratib Ilmu al-Aimmah al-Ma'shumin, yang ditulis oleh Ali Hammud al-Abbadi dan diterbitkan berdasarkan pelajaran Sayyid Kamal Haydari, teolog dan fakih Syiah.
- Miftah al-Asrar fi Ilmu al-Aimmah al-Athhar, ditulis oleh Muhammad Mahdi Muhaqqiq Farid, dalam dua jilid yang diterbitkan oleh Penerbit Dalil-e Ma.
- Al-Rasikhun fi al-Ilm: Madkhal li Dirasah Mahiyah Ilmu al-Ma'shum wa Hududuhi wa Manabi' Ilhamihi, ditulis oleh Khalil Rizq yang diterbitkan oleh Penerbit Dar al-Faraqid di Qom.
- Muhammad Hasan Nadem mengumpulkan dan menerbitkan dua kumpulan artikel mengenai ilmu Imam, salah satunya diterbitkan dengan nama Ilmu Imam (Kumpulan Artikel) yang mengumpulkan 18 artikel dan risalah, serta yang lainnya disajikan dengan judul Ilmu Imam (Kumpulan Risalah). Jilid pertama buku ini memuat kumpulan 19 artikel manuskrip dan beberapa artikelnya sama dengan buku Ilmu Imam (Kumpulan Artikel).
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Hamadi, "Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Kulaini va Saffar", hlm. 58.
- ↑ Nadem, Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat), 1388 HS, hlm. 12.
- ↑ Kumpulan Penulis, Imamat-pajuhi, 1389 HS, hlm. 167.
- ↑ Hamadi, "Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Kulaini va Saffar", hlm. 58.
- ↑ Siyamiyan Gorji dkk., "Tahlil-e Goftemani-ye Mirats-e Haditsi-ye Syiah: Mabani va Nata'ej", hlm. 79.
- ↑ Hamadi, "Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Kulaini va Saffar", hlm. 58.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 428.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 24.
- ↑ Al-Saffar al-Qummi, Basa'ir al-Darajat, 1404 H, hlm. 539-542.
- ↑ Amir-Moezzi, "Saffar Qummi va Ketab-e Basa'ir al-Darajat", hlm. 86-87.
- ↑ Siyamiyan Gorji dkk., "Tahlil-e Goftemani-ye Mirats-e Haditsi-ye Syiah: Mabani va Nata'ej", hlm. 79.
- ↑ Lihat: Al-Kulaini, Al-Kafi, cetakan Islamiyah, jil. 1, hlm. 210-270.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 24.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 24.
- ↑ Ostadi, Sargozasy-e Syahid Javid, 1382 HS, hlm. 134.
- ↑ Ranjbar, "Naqdi bar Nazariyeh-ye Qiyam-e Emam Hossein(as) baraye Tasykil-e Hokumat dar Ketab-e Syahid Javid", hlm. 207.
- ↑ Modarressi Tabataba'i, Maktab dar Farayand-e Takamol, hlm. 38-39.
- ↑ Siyamiyan Gorji dkk., "Tahlil-e Goftemani-ye Mirats-e Haditsi-ye Syiah: Mabani va Nata'ej", hlm. 73-74.
- ↑ Modarressi Tabataba'i, Maktab dar Farayand-e Takamol, hlm. 73-75.
- ↑ Kadivar, "Qera'at-e Faramosy Syodeh", hlm. 92-102.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 176.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 177.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 177.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani, hlm. 20.
- ↑ Kumpulan Penulis, Danisynameh Emam Ali, jil. 3, hlm. 386.
- ↑ Ostadi, Sargozasy-e Syahid Javid, 1382 HS, hlm. 16.
- ↑ Isma'ili, "Qolamrow va Vizyegi-haye Ilmu Imam dar Andisheh-ye Kalami-ye Marhum Karajaki", hlm. 32.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 411.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 176-179.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 411.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 412.
- ↑ Rabbani Golpayegani dan Misbahi, "Chisti va Cherayi-ye Ismah-ye Anbiya dar Andisheh-ye Filsof-han-e Mosalman", hlm. 50.
- ↑ Faryab, Ismah-ye Payambaran dar Monzumih-ye Fekri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 15.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 412.
- ↑ Ostadi, Sargozasy-e Syahid Javid, 1382 HS, hlm. 16.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 24-26.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 25.
- ↑ Subhani, Manabi'-e Ilmu Imaman, 1393 HS, hlm. 43.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 34; Mudhaffar, hlm. 12-13; Thabathaba'i, Al-Mizan, jil. 18, hlm. 207.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 34; Al-Hilli, Ajwibah al-Masa'il, hlm. 148.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 39; Rezaei dan Karbasizadeh, "Ilmu Imam dar Andisheh-ye Ulama-ye Mo'asir-e Hauzah-ye Isfahan", hlm. 129.
- ↑ Panahloo dkk., "Manabi' va Gostareh-ye Ilmu Imam dar Masayriq Anwar al-Yaqin Barresi", hlm. 106.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani, hlm. 27.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 35.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 41.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 45.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 48.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 50.
- ↑ Al-Husaini al-Jalali, "Ilmu al-Aimmah bi al-Ghaib wa al-I'tiradh 'alaihi bi al-Ilqa' ila al-Tahlukah wa al-Ijabah 'anhu 'abra al-Tarikh", hlm. 7-107.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 149.
- ↑ Soleimani Behbahania, "Tahlil va Barresi-ye Mabani-ye Kalami-ye Itsbat-e Fadhilat-e Amirul Mukminin dar Hadits-e Lailat al-Mabit", hlm. 75.
- ↑ Mufid, Awa'il al-Maqalat, hlm. 67.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 158-160.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 34.
- ↑ Faryab, "Barresi-ye Didgah-e Motakalleman-e Imamiyah dar Bareh-ye Gostareh-ye Ilmu Imam ba Tekyeh bar Revayat", hlm. 37.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 38.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani, hlm. 21.
- ↑ Farzipourian dan Ghaderdan, "Barresi-ye Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Hadits-ha", hlm. 51.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 323.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani, hlm. 21.
- ↑ Panahloo dkk., "Manabi' va Gostareh-ye Ilmu Imam dar Masayriq Anwar al-Yaqin Barresi", hlm. 104-105.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Risalah Wajizah, hlm. 103.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Risalah Wajizah, hlm. 103.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 39.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 38.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 116.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 108.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 101.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 112.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 128.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 141.
- ↑ Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 157.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 323.
- ↑ Mudhaffar, hlm. 23.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 101.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 101: 189.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 116.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 102.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 73.
- ↑ Nahjul Balaghah, khotbah 128.
- ↑ Al-Kasy-syi, Rijal al-Kasy-syi, hlm. 1348.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 61.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 258.
- ↑ Al-Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1365 HS, jil. 6, hlm. 95.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 258-260.
- ↑ Lihat: Rabbani Golpayegani dan Rahmanizadeh, "Ilmu Imam be Syahadat va Syobhe-ye Nasazgari-ye An ba Ismah", hlm. 105.
- ↑ Syekh al-Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jil. 1, hlm. 319.
- ↑ Syekh al-Mufid, Al-Masa'il al-'Akbariyyah, 1413 H, hlm. 69-72.
- ↑ Rabbani Golpayegani dan Rahmanizadeh, "Ilmu Imam be Syahadat va Syobhe-ye Nasazgari-ye An ba Ismah", hlm. 111.
- ↑ Panahloo dkk., "Manabi' va Gostareh-ye Ilmu Imam dar Masayriq Anwar al-Yaqin Barresi", hlm. 105.
- ↑ Panahloo dkk., "Manabi' va Gostareh-ye Ilmu Imam dar Masayriq Anwar al-Yaqin Barresi", hlm. 105.
- ↑ Isma'ili, "Qolamrow va Vizyegi-haye Ilmu Imam dar Andisheh-ye Kalami-ye Marhum Karajaki", hlm. 36.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 38.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 411.
- ↑ Rabbani Golpayegani, Imamat dar Binesy-e Islami, 1386 HS, hlm. 428.
- ↑ Al-Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 301.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 317.
- ↑ Nadem dan Eftekhari, "Manabi'-e Ilmu Imam az Negah-e Motakalleman-e Qom va Baghdad", hlm. 61.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 318.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 148.
- ↑ Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jil. 26, hlm. 18-85.
- ↑ Subhani, Manabi'-e Ilmu Imaman, 1393 HS, hlm. 85-86.
- ↑ Subhani, Manabi'-e Ilmu Imaman, 1393 HS, hlm. 85-157.
- ↑ Subhani, Manabi'-e Ilmu Imaman, 1393 HS, hlm. 161-168.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 77-117.
- ↑ Nadem dan Eftekhari, "Manabi'-e Ilmu Imam az Negah-e Motakalleman-e Qom va Baghdad", hlm. 59-60.
- ↑ Nadem dan Eftekhari, "Manabi'-e Ilmu Imam az Negah-e Motakalleman-e Qom va Baghdad", hlm. 64.
- ↑ Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1404 H, jil. 26, hlm. 58; Al-Thusi, Al-Amali, 1414 H, jil. 1, hlm. 408.
- ↑ Al-Saffar, Basa'ir al-Darajat, 1404 H, hlm. 150.
- ↑ Nadem dan Eftekhari, "Manabi'-e Ilmu Imam az Negah-e Motakalleman-e Qom va Baghdad", hlm. 62.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 256.
- ↑ Kharrazi, Bidayah al-Ma'arif, jil. 2, hlm. 46.
- ↑ Al-Shaduq, Al-Khishal, 1403 H, jil. 2, hlm. 643.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 275.
- ↑ Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 240.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 467.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 313.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 315.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 211.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 339.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani, hlm. 37.
- ↑ Farzipourian, Syani ya Fi'li Bodan-e Ilmu Imam Maksum, hlm. 79-80.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 158-160.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 158-160.
- ↑ Nadem, Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat), 1388 HS, hlm. 99.
- ↑ Hashemi, Mahiyat-e Ilmu Imam, 1396 HS, hlm. 348.
- ↑ Isma'ili, "Qolamrow va Vizyegi-haye Ilmu Imam dar Andisheh-ye Kalami-ye Marhum Karajaki", hlm. 38.
- ↑ Al-Haydari, Ilmu al-Imam, 1429 H, hlm. 408.
- ↑ Farzipourian, Syani ya Fi'li Bodan-e Ilmu Imam Maksum, hlm. 86.
- ↑ Qolizadeh dan Faryab, "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat", hlm. 43.
- ↑ Hassan-begi dkk., "Kaifiyat va Kammiyat-e Ilmu Imam dar Revayat", hlm. 48-49.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 126-158.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 126-129.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 129-131.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 132-133.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 134-156.
- ↑ Al-Qazwini al-Barghani, Kaifiyyah Ilmu al-Imam, hlm. 156-157.
- ↑ Al-Najafi al-Lari, Risalah Wajizah, hlm. 100.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 182.
- ↑ Nadem, "Ketab-syinasi-ye Ilmu Imam", hlm. 765.
- ↑ Rostami dan Al-e Boyeh, Ilmu Imam, 1390 HS, hlm. 23.
- ↑ Al-Tehrani, Al-Dhari'ah ila Tasyanif al-Syiah, 1408 H, jil. 15, hlm. 318-319; jil. 2, hlm. 414.
- ↑ Rahbari, Baz-andisyi dar Ilmu Imam, 1394 HS, hlm. 182.
Catatan
Daftar Pustaka
- Al-Haydari, Sayyid Kamal. Ilmu al-Imam: Buhuts fi Haqiqah wa Maratib Ilmu al-Aimmah al-Ma'shumin. Penulis: Ali Hammud al-Abbadi. Dar Faraqid, Qom, 1429 H.
- Al-Husaini al-Jalali, Sayyid Muhammad Ridha. "Ilmu al-Aimmah bi al-Ghaib wa al-I'tiradh 'alaihi bi al-Ilqa' ila al-Tahlukah wa al-Ijabah 'anhu 'abra al-Tarikh". Majalah Turatsuna, Nomor 37, Syawal 1414 H.
- Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Dar al-Kutub Islamiyah, Tehran, 1407 H.
- Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, 1403 H.
- Al-Najafi al-Lari, Sayyid Abdul Husain. "Ma'arif al-Salmani bi Maratib al-Khulafa' al-Rahmani". Dalam Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat). Editor: Muhammad Hasan Nadem. Penerbit Universitas Agama dan Mazhab, Qom, 1388 HS.
- Al-Najafi al-Lari, Sayyid Abdul Husain. "Risalah Wajizah fi Kammiyah Ilmu al-Imam wa Kaifiyatihi". Dalam Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat). Editor: Muhammad Hasan Nadem. Penerbit Universitas Agama dan Mazhab, Qom, 1388 HS.
- Al-Qazwini al-Barghani, Muhammad Taqi. "Kaifiyyah Ilmu al-Imam". Dalam Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat). Editor: Muhammad Hasan Nadem. Penerbit Universitas Agama dan Mazhab, Qom, 1388 HS.
- Al-Saffar al-Qummi, Muhammad bin Hasan. Basa'ir al-Darajat fi Fadhail Al-e Muhammad. Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, Qom, 1404 H.
- Al-Tehrani, Agha Buzurg. Al-Dhari'ah ila Tasyanif al-Syiah. 1408 H.
- Al-Thusi. Al-Amali. 1414 H.
- Al-Thusi. Tahdzib al-Ahkam. 1365 HS.
- Amir-Moezzi, Mohammad Ali. "Saffar Qummi va Ketab-e Basa'ir al-Darajat". Jurnal Imamat-pajuhi, Nomor 4, Musim Dingin 1390 HS.
- Faryab, Muhammad Husain. "Barresi-ye Didgah-e Motakalleman-e Imamiyah dar Bareh-ye Gostareh-ye Ilmu Imam ba Tekyeh bar Revayat". Jurnal Tahqiqat-e Kalami, Nomor 15, Maret 2017.
- Faryab, Muhammad Husain. Ismah-ye Payambaran dar Monzumih-ye Fekri-ye Allamah Thabathaba'i. Ma'rifat, Nomor 211, Juli 2015.
- Farzipourian, Muhammad. "Syani ya Fi'li Bodan-e Ilmu Imam Maksum". Jurnal Kalam Islami, Nomor 109, Juni 2019.
- Farzipourian, Muhammad dan Ghaderdan Qaramaleki, Muhammad Hasan. "Barresi-ye Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Hadits-ha". Jurnal Kalam Islami, Nomor 107, Oktober 2018.
- Hamadi, Abdul Ridha. "Gostareh-ye Ilmu Imam az Manzar-e Kulaini va Saffar". Jurnal Imamat-pajuhi, Nomor 4, Januari 2012.
- Hashemi, Sayyid Ali. Mahiyat-e Ilmu Imam: Barresi-ye Tarikhi va Kalami. Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, Qom, 1396 HS.
- Hassan-begi, Ali dkk. "Kaifiyat va Kammiyat-e Ilmu Imam dar Revayat". Jurnal Tahqiqat-e Kalami, Nomor 26, Desember 2019.
- Isma'ili, Ma'sumeh. "Qolamrow va Vizyegi-haye Ilmu Imam dar Andisheh-ye Kalami-ye Marhum Karajaki". Ma'rifat, Nomor 282, Juni 2021 HS.
- Kadivar, Mohsen. "Qera'at-e Faramosy Syodeh: Baz-khwani-ye Nazariyeh-ye Ulama-ye Abrar". Majalah Madrasah, Nomor 3, Mei 2006.
- Kharrazi. Bidayah al-Ma'arif.
- Kumpulan Penulis. Danisynameh Emam Ali.
- Kumpulan Penulis. Imamat-pajuhi: Barresi-ye Didgah-e Imamiyah, Mu'tazilah va Asya'irah. Di bawah pengawasan Mahmoud Yazdi Muthlaq. Universitas Ilmu Islam Razavi, Masyhad, 1389 HS.
- Modarressi Tabataba'i, Sayyid Hossein. Maktab dar Farayand-e Takamol. Terjemahan: Hashem Izadpanah. Tehran, Kavir, 1391 HS.
- Nadem, Muhammad Hasan. Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat). Penerbit Universitas Agama dan Mazhab, Qom, 1388 HS.
- Nadem, Muhammad Hasan. "Ketab-syinasi-ye Ilmu Imam". Dalam Ilmu Imam (Majmu'eh Maqalat). Editor: Muhammad Hasan Nadem. Penerbit Universitas Agama dan Mazhab, Qom, 1388 HS.
- Nadem, Muhammad Hasan dan Eftekhari, Sayyid Ibrahim. "Manabi'-e Ilmu Imam az Negah-e Motakalleman-e Qom va Baghdad". Jurnal Syiah-pajuhi, Nomor 2, Musim Semi 1394 HS.
- Ostadi, Reza. Sargozasy-e Ketab-e Syahid Javid. Penerbit Qods, Qom, 1382 HS.
- Panahloo, Omran dkk. "Manabi' va Gostareh-ye Ilmu Imam dar Masayriq Anwar al-Yaqin Barresi". Ayeneh-ye Ma'refat, Nomor 64, Musim Gugur 1400 HS.
- Qolizadeh, Amrullah dan Faryab, Muhammad Husain. "Baz-khwani-ye Qolamrow-e Ilmu Imam dar Ayineh-ye Revayat". Ma'rifat, Nomor 244, April 2018.
- Rabbani Golpayegani, Ali. Imamat dar Binesy-e Islami. 1386 HS.
- Rabbani Golpayegani, Ali dan Misbahi, Abdullah. "Chisti va Cherayi-ye Ismah-ye Anbiya dar Andisheh-ye Filsof-han-e Mosalman". Jurnal Kalam Islami, Nomor 88, Musim Dingin 1392 HS.
- Rabbani Golpayegani, Ali dan Mohsen Rahmanizadeh. "Ilmu Imam be Syahadat va Syobhe-ye Nasazgari-ye An ba Ismah". Majalah Kalam Islami, Nomor 110, Juli 2019 HS.
- Rahbari, Hassan. Baz-andisyi dar Ilmu Imam. Penerbit Kavir, Tehran, 1394 HS.
- Ranjbar, Mohsen. "Naqdi bar Nazariyeh-ye Qiyam-e Emam Hossein(as) baraye Tasykil-e Hokumat dar Ketab-e Syahid Javid". Pazuhesy-nameh Enteqadi-ye Motun va Barnameh-haye Olum-e Ensani, Nomor 53, April 2018.
- Rezaei, Muhammad Ja'far dan Karbasizadeh, Ali. "Ilmu Imam dar Andisheh-ye Ulama-ye Mo'asir-e Hauzah-ye Isfahan". Jurnal Naqd va Nazar, Nomor 69, Musim Semi 1392 HS.
- Rostami, Muhammad Zaman dan Al-e Boyeh, Tahereh. Ilmu Imam (ba Ruykard-e Qur'ani, Revayi, Irfani, Falsafi va Kalami). Bustan-e Ketab, Qom, 1390 HS.
- Soleimani Behbahania, Abdul Rahim. "Tahlil va Barresi-ye Mabani-ye Kalami-ye Itsbat-e Fadhilat-e Amirul Mukminin dar Hadits-e Lailat al-Mabit". Jurnal Imamat-pajuhi, Nomor 29, Musim Semi dan Panas 1400 HS.
- Subhani, Sayyid Muhammad Ja'far. Manabi'-e Ilmu Imaman. Misy'ar, Tehran, 1393 HS.
- Syekh al-Mufid. Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah 'ala al-'Ibad. Qom, Kongres Syekh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.
- Syekh al-Mufid. Al-Masa'il al-'Akbariyyah. 1413 H.
- Syekh al-Mufid. Awa'il al-Maqalat.
- Syaduq. Al-Khishal. 1403 H.