Lompat ke isi

Konsep:Ibnu Taimiyah al-Harrani

Dari wikishia
Ibnu Taimiyah al-Harani
Informasi Pribadi
Nama LengkapAhmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah al-Harrani al-Hanbali
Terkenal denganTeoretikus Salafiyah, Pemilik Fatwa-fatwa Syadz (Ganjil)
LakabSyaikhul Islam (menurut pendukungnya)
Lahir661/1263
Tempat lahirHarran
Wafat/Syahadah728/1328
Tempat dimakamkanDamaskus
Informasi ilmiah
Murid-muridIbnu Qayyim al-Jauziyyah
Kegiatan Sosial dan Politik


Ahmad bin Abdul Halim yang terkenal dengan nama Ibnu Taimiyah al-Harrani (bahasa Arab : ابن تيمية) (661-728 H) , adalah seorang ulama bermazhab Hanbali dan teoretikus Salafi yang mengemukakan pandangan-pandangan khusus yang bertentangan dengan ijmak ulama Muslim dan berulang kali dipenjara. Sebagian dari pendapat dan fatwanya yang memicu penentangan dan kritik dari ulama Syiah dan Ahlussunnah antara lain: menganggap Ziarah Kubur sebagai bidah, penafsiran tekstual (zhahir) terhadap sifat-sifat Ilahi, dan pengkafiran (takfir) terhadap kelompok-kelompok Muslim (Syi'ah, Sufi, dan Filsuf).

Ibnu Taimiyah menulis buku dalam berbagai topik seperti tafsir Al-Qur'an, akidah, dan fikih; di antaranya adalah Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyah yang ditulis untuk mengkritik buku Minhaj al-Karamah karya Allamah Hilli, Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra sebagai jawaban atas pertanyaan akidah tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, serta Al-Nushush 'ala al-Fushush untuk menentang pemikiran Ibnu Arabi. Ia menentang segala bentuk takwil, tasybih (penyerupaan), dan tamtsil (pemisalan) terkait ayat-ayat Al-Qur'an. Ia juga tidak membolehkan Tawasul dalam arti bersumpah atas nama Allah atau meminta sesuatu dari-Nya dengan perantara Nabi saw. Berdasarkan prinsip bahwa kekafiran terjadi karena mengingkari salah satu hal yang urgensi dalam agama (dharuriyat al-din) atau mengingkari hukum mutawatir atau ijmak, ia mengkafirkan berbagai kelompok termasuk filsuf, Jahmiyah, Batiniyah, Ismailiyah, Syi'ah Itsna 'Asyariyah, dan Qadariyah. Ibnu Taimiyah juga menganggap Ziarah Kubur sebagai bid'ah dan tidak membolehkan pelaknatatn terhadap Yazid bin Muawiyah.

Ia menyebut kecintaan kepada Ahlulbait sebagai kewajiban dan menganggap mencaci serta melaknat mereka sebagai kezaliman. Ia meyakini keadilan Sahabat sebagai aksioma agama (muslimat) dan pengingkarnya dianggap kafir, namun demikian ia tetap melontarkan kritik terhadap Sahabat. Ibnu Taimiyah menyebut Syiah sebagai sumber segala fitnah di dunia Islam dan mewajibkan perang melawan kelompok-kelompok seperti Nushairiyah, Ismailiyah, Qaramithah, dan Druze.

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai peletak dasar pemikiran Wahabisme dan disebutkan bahwa pemikirannya berpengaruh dalam pembentukan kelompok-kelompok takfiri seperti ISIS dan Taliban. Pandangan mengenai kepribadian Ibnu Taimiyah beragam; sebagian ulama Ahlussunnah menggelarinya Syaikhul Islam, namun banyak ulama Muslim yang menghukumnya karena ekstremisme dan penyimpangan dari ijmak kaum Muslimin. Banyak karya tulis yang disusun untuk menentang dan mengkritik Ibnu Taimiyah.

Riwayat Hidup

Ahmad bin Abdul Halim, yang dikenal sebagai Ibnu Taimiyah, adalah ulama bermazhab Hanbali yang lahir pada tahun 661/1263 di wilayah Harran (tempat di antara Mosul dan Syam).[1] Keluarganya berimigrasi ke Damaskus ketika ia berusia 6 tahun akibat serangan bangsa Mongol, dan pada usia 17 tahun ia menerima ijazah ijtihad di sana.[2] Ibnu Taimiyah menempuh pendidikan dalam ilmu-ilmu yang umum pada zamannya seperti Fikih, Ushul, Hadis, Ilmu Kalam, Tafsir, Filsafat, dan Matematika, serta memiliki pengetahuan tentang agama-agama lain khususnya Yudaisme.[3]

Ketenaran Ibnu Taimiyah disebabkan oleh kekuatan retorikanya, kekerasan dalam berdebat dengan lawan,[4] penentangan terhadap ulama di zamannya, keberanian di hadapan penguasa, keterlibatan dalam urusan politik, sosial, dan peperangan, serta sikap kerasnya dalam masalah amar makruf nahi mungkar.[5]

Setelah menduduki jabatan Syekh al-Hanabilah di Damaskus, Ibnu Taimiyah memicu protes di kalangan ulama dan masyarakat dengan menyusun karya-karya seperti Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra.[6] Konflik dan perdebatan dengan berbagai sekte terus berlanjut hingga pada tahun 705/1305 ia dipanggil ke Mesir dan dipenjara atas tuduhan penyimpangan akidah. Setelah dibebaskan, ia tetap tinggal di Mesir dan menyebarkan pandangannya, yang menyebabkan ia dipenjara beberapa kali.[7]

Pada tahun 713/1313, ia kembali ke Damaskus bersama Raja Nashir yang berangkat ke Syam untuk menghadapi serangan Mongol, dan kembali sibuk berdakwah dan mengajar. Selama berada di Damaskus, ia berkali-kali dipenjara karena berselisih dengan ahli fikih dari mazhab lain, hingga akhirnya ia wafat pada tahun 728/1328 di penjara Benteng Damaskus.[8]

Guru, Murid, dan Latar Belakang

Saat berada di Damaskus, Ibnu Taimiyah belajar kepada Majd bin 'Asakir, Ibnu Abdud Daim, Qasim Arbili, Syarafuddin Ahmad bin Ni'mah al-Maqdisi, dan lainnya,[9] serta menerima ijazah ijtihad dari gurunya, Syarafuddin.[10]

Ibnu Katsir, penulis kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah,[11] Abu al-Hajjaj al-Mizzi penulis kitab Tahdzib al-Kamal,[12] dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[13] adalah di antara murid-muridnya.

Karya Tulis

Buku Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, salah satu karya Ibnu Taimiyah yang paling kontroversial.

Ibnu Taimiyah menulis banyak karya dalam berbagai bidang ilmu agama. Ibnu Syakir dalam kitab Fawat al-Wafayat mendaftar buku dan risalahnya berdasarkan topik dalam bidang Tafsir, Kalam, Fikih, Ushul, dan fatwa.[14] Kumpulan bukunya juga dikumpulkan berdasarkan topik dalam kitab Asma' Mu'allafat Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.[15] Beberapa karya pentingnya antara lain:

  • Kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyah ditulis pada tahun 705/1305 sebagai kritik terhadap kitab Minhaj al-Karamah karya Allamah Hilli,[16] dan banyak karya telah diterbitkan untuk mengkritik dan menolaknya, atau menyetujuinya.[17] Ulama dari Ahlussunnah dan bahkan Salafi, Syiah Imamiyah, dan Zaidiyah telah menulis buku yang menentang Minhaj al-Sunnah.[18] Dengan berpegang pada apa yang disampaikan dalam buku ini, Ibnu Taimiyah dituduh sebagai seorang Nasibi.[19]
  • Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra, ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan teologis tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, yang memicu banyak protes di kalangan ulama mazhab Islam.[20] Ia menentang Ilmu Kalam dan meyakini bahwa ilmu kalam, seperti filsafat Aristoteles, mengarah pada penyimpangan dan zindik.[21] Ibnu Taimiyah juga mengkritik banyak akidah Asy'ariyah dalam buku ini dan menganggapnya lemah.[22]
  • Al-Hisbah fi al-Islam: Berisi beberapa pemikiran ekonomi Ibnu Taimiyah.
  • Al-Siyasah al-Syar'iyyah li-Ishlah al-Ra'i wa al-Ra'iyyah: Ditulis di Mesir tentang wilayah, imamah, dan pemerintahan.
  • Al-'Aqidah al-Wasithiyyah: Berisi masalah pokok-pokok akidah. Buku ini memicu perdebatan teoretis yang luas di kalangan ulama dan masyarakat serta menyebabkan Ibnu Taimiyah dipenjara.
  • Al-Nushush 'ala al-Fushush: Melawan pemikiran Ibnu Arabi dalam kitab Fushush al-Hikam.[23]

Koleksi 37 jilid Majmu'ah al-Fatawa adalah karya besar yang memuat karya-karya Ibnu Taimiyah, namun dikatakan bahwa koleksi ini tidak mencakup semua karyanya, karena daftar lengkap tulisannya tidak pernah dikumpulkan secara koheren.[24]

Pemikiran dan Pandangan

Ibnu Taimiyah dalam banyak kasus mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan pandangan dan fatwa Ahlussunnah; sebagian di antaranya adalah:

Pandangan Teologis dan Akidah

Ibnu Taimiyah meyakini bahwa Nabi saw telah menjelaskan semua usuluddin (pokok agama), namun para Mutakallim dengan dalil-dalil akal menjauhkan masyarakat dari ajaran Nabi.[25] Meskipun menentang ilmu kalam, ia menyajikan beberapa masalah kalam di bawah judul pandangan akidah yang ditentang oleh banyak ulama mazhab Islam; di antaranya:

  • Memahami Sifat Khabariyah Allah secara Lahiriah: Ibnu Taimiyah dalam risalah Al-'Aqidah al-Hamawiyyah, mengikuti Ahli Hadis, membawa makna Sifat Khabariyah seperti keberadaan Allah di atas Arsy atau memiliki tangan dan wajah kepada makna leksikal dan lahiriahnya, serta tidak membolehkan segala bentuk takwil, ta'thil (peniadaan sifat), tabdil (penggantian), tasybih (penyerupaan), dan tamtsil (pemisalan), dan ia mengkritik kaum Muawwilah (mereka yang meyakini takwil pada sifat Allah).[26] Meskipun demikian, ia menganggap sifat-sifat ini sebagai majhul (tidak diketahui kaifiyat-nya). Beberapa peneliti meyakini bahwa pendapat Ibnu Taimiyah tentang ketidaktahuan sifat khabariyah Allah ini adalah untuk menghindari tuduhan tasybih dan tajsim (menganggap Allah berjasad).[27] Ulama mazhab-mazhab Islam menafsirkan dan mentakwilkan sifat-sifat tersebut.[28]
  • Tawasul: Ibnu Taimiyah menyebutkan tiga makna untuk Tawasul: 1. Tawasul dengan ketaatan kepada Nabi saw yang dianggapnya sebagai penyempurna Iman, 2. Tawasul dengan Doa dan Syafaat Nabi Islam saw yang mungkin dilakukan semasa hidup beliau dan pada Hari Kiamat, 3. Tawasul dengan makna bersumpah atas nama Allah atau meminta sesuatu dari Allah dengan perantara zat Nabi saw. Ibnu Taimiyah tidak membolehkan jenis tawasul ketiga ini dan meyakini bahwa hal semacam itu tidak ada dalam sirah Sahabat.[29]
  • Takfir: Ibnu Taimiyah dengan keyakinan bahwa kekafiran terjadi karena mengingkari salah satu dari dharuriyat al-din (hal yang urgensi dalam agama) atau mengingkari hukum mutawatir atau hukum yang disepakati secara ijmak,[30] telah mengkafirkan banyak individu, kelompok, dan mazhab serta menganggap mereka keluar dari agama. Filsuf, Jahmiyah, Batiniyah, Ismailiyah, Syi'ah Itsna 'Asyariyah, dan Qadariyah adalah beberapa kelompok yang dikafirkan oleh Ibnu Taimiyah.[31] Selain itu, orang yang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah lalu menyerunya, orang yang meninggalkan salah satu Rukun Islam seperti Salat, penentang Mutawatir dan Ijmak, orang yang menyerupai Kafir, orang yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani, serta orang yang melakukan Istighatsah kepada para wali juga dikafirkan olehnya.[32]
  • Ziarah Kubur dan Masyhad: Ibnu Taimiyah menganggap Ziarah Kubur, masyhad (tempat syahadah/makam suci), dan tempat-tempat suci serta mendirikan bangunan di tempat-tempat ini sebagai bid'ah berdasarkan beberapa hadis.[33] Dalam Minhaj al-Sunnah, ia mencela Syiah karena membangun kubah di atas makam para Imam as.[34]
  • Melaknat Yazid: Meskipun Ibnu Taimiyah menganggap melaknat pembunuh Imam Husain as sebagai hal yang boleh (jaiz),[35] namun ia tidak menganggap keterlibatan Yazid dalam pembunuhan Imam Husain as sebagai sesuatu yang terbukti.[36] Selain itu, Ibnu Taimiyah membolehkan melaknat orang Fasik yang zalim,[37] tetapi ia tidak menganggap kefasikan dan kezaliman Yazid sebagai hal yang terbukti;[38] oleh karena itu, ia tidak membolehkan pelaknatan terhadapnya.[39]

Pandangan Fikih

Ibnu Taimiyah dalam fikih mengikuti Mazhab Hanbali, namun ia mengambil pendapat yang independen dari semua mazhab Islam.[40] Ia terkenal dengan fatwa-fatwa syadz (ganjil) dan langka, dan karakteristik inilah yang menyebabkan banyak protes di kalangan ulama dan ahli fikih sezamannya serta berulang kali menyebabkannya dipenjara.[41] Beberapa fatwa syadz-nya adalah sebagai berikut:

  1. Dalam mengqashar salat, ia tidak membedakan antara perjalanan pendek dan jauh, dan menyandarkannya pada kemutlakan ayat 43 Surah An-Nisa dan sunnah Rasulullah saw.[42]
  2. Dalam masalah Talak, berbeda dengan ulama Ahlussunnah lainnya, ia berpendapat bahwa talak dengan lafal tiga (talak tiga sekaligus) hanya dihitung sebagai satu talak, dan bersumpah dengan talak tidak menyebabkan jatuhnya talak. Ia juga tidak membolehkan tahlil dalam talak dengan niat agar wanita tersebut halal bagi suami pertamanya, dan menganggapnya sebagai hilah (rekayasa) syar'i.[43]

Pendekatan Hadis

Pendekatan Ibnu Taimiyah terhadap Hadis mengikuti metode umumnya yang mengutamakan Naql (dalil tekstual) dan mendahulukannya di atas Akal. Ia memberikan otoritas yang besar pada Hadis dan hanya menganggap Muhaddits (ahli hadis) sebagai ahli nalar, sementara ia mengkritik kaum rasionalis.[44] Mengenai hubungan antara akal dan naql, Ibnu Taimiyah menganggap akal yang valid adalah yang selaras dengan Nash; oleh karena itu, ia menolak pendapat para filsuf dan mutakallim yang bertentangan dengan teks syariat. Menurutnya, akal tanpa bersandar pada naql tidak memiliki nilai dan validitas.[45]

Meskipun sangat menekankan validitas hadis, Ibnu Taimiyah terkadang jika ada riwayat yang bertentangan dengan keinginannya, ia menukilnya secara tidak lengkap atau melakukan manipulasi di dalamnya.[46]

Pendekatan Tafsir

Bersandar pada makna lahiriah Al-Qur'an dan tafsir riwayat adalah metode Ibnu Taimiyah dalam Tafsir Al-Qur'an. Ia menganggap haram menafsirkan tanpa merujuk pada Hadis. Ibnu Taimiyah menyajikan metodenya dalam tafsir di buku Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir. Menurut pendapatnya, Nabi Islam saw telah menafsirkan seluruh Al-Qur'an untuk Sahabat, dan para Tabi'in mengumpulkan tafsir tersebut dengan menukil dari Sahabat. Berdasarkan metode Ibnu Taimiyah, pertama-tama Al-Qur'an ditafsirkan dengan Al-Qur'an, dan pada tahap berikutnya harus merujuk pada Sunnah Nabi, dan jika tidak ada Sunnah Nabi maka merujuk pada pendapat Sahabat, dan akhirnya pada tafsir para Tabi'in.[47]

Kritik terhadap Filsuf

Ibnu Taimiyah membagi para filsuf menjadi tiga kelompok:

  • Dahriyun: Mereka yang menganggap alam ini azali (kekal tanpa permulaan) dan tidak membayangkan adanya Pencipta yang mengatur baginya.
  • Thabi'iyyun (Naturalis): Mereka yang lebih memusatkan perhatian pada alam materi dan mengingkari Ma'ad.
  • Ilahiyyun (Teis): Filsuf terdahulu seperti Plato, Aristoteles, Farabi, dan Ibnu Sina yang meyakini kekekalan alam (qadim).[48]

Ibnu Taimiyah juga mengkafirkan para filsuf karena beberapa alasan:

Pendekatan Politik

Pendekatan politik Ibnu Taimiyah mengikuti pandangannya tentang keterbelakangan dan kelemahan Dunia Islam serta runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah akibat serangan Mongol dan Pasukan Salib, yang masing-masing menduduki sebagian wilayah Islam. Ibnu Taimiyah menganggap masalah dunia Islam disebabkan oleh adanya sektarianisme dan melihat jalan keluar dari keterbelakangan Muslim adalah dengan meninggalkan sektarianisme dan melakukan Jihad. Menurutnya, jihad lebih utama daripada semua Ibadah dan hukum Islam, termasuk Salat, Puasa, dan Haji, dan karakteristik sejati manusia Muslim tidak muncul dalam asketisme dan Takwa individu, melainkan dalam jihad. Menurut Ibnu Taimiyah, mereka yang berpartisipasi dalam jihad, meskipun Syahid, adalah pemenang di medan perang, dan jika Muslim tidak berpartisipasi dalam jihad, mereka akan menjadi Kafir.[50]

Pandangan Lainnya

Beberapa pandangan Ibnu Taimiyah adalah sebagai berikut:

Tentang Ahlulbait

Ibnu Taimiyah menganggap kecintaan kepada Ahlulbait sebagai Wajib dan Imamah adalah hak mereka, serta menganggap mencaci dan melaknat mereka sebagai bentuk kezaliman.[51] Ia memperkenalkan Imam Ali as sebagai Muslim terbaik setelah Tiga Khalifah dan meyakini bahwa Ahlulbait yang paling berilmu dan paling utama setelah Nabi Islam saw adalah Ali bin Abi Thalib. Ia menyebutkan banyak sifat-sifat baik bagi Imam Ali as termasuk Keadilan, Zuhud, dan Kejujuran,[52] dan berkeyakinan bahwa beliau Syahid dan akan tinggal di Surga.[53] Namun demikian, ia menganggap sejumlah Hadis dan kabar yang diriwayatkan tentang keutamaan Ahlulbait as sebagai cacat dan palsu. Berdasarkan hal ini, Ibnu Taimiyah meyakini bahwa Imam Ali as dalam 17 kasus bertindak bertentangan dengan nash Al-Qur'an, dan perang-perangnya bukan karena keinginan membela agama, melainkan karena keinginan duniawi dan kekuasaan.[54]

Ibnu Taimiyah meyakini bahwa meskipun Imam Husain as syahid secara mazlum (terzalimi), namun kebangkitannya tidak memiliki maslahat duniawi maupun ukhrawi. Ia menyebut Kebangkitan Asyura sebagai penyebab timbulnya banyak fitnah dalam Umat Islam dan bertentangan dengan sirah Nabi Islam saw. Sebaliknya, ia membebaskan Yazid dari perintah pembunuhan Imam Husain as dan meyakini bahwa kepala Imam tidak dibawa kepada Yazid, melainkan dibawa ke hadapan Ibnu Ziyad.[55]

Keadilan Sahabat

Ibnu Taimiyah menganggap dirinya sebagai pengikut Sahabat Salaf, Tabi'in, dan Muhaddits besar. Menurut pendapatnya, Salaf memahami teks-teks agama lebih baik daripada ulama dan mutakallim belakangan karena mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Nabi Islam saw, dan Al-Qur'an serta Sunnah diturunkan dalam bahasa dan pemahaman mereka.[56] Ia juga menganggap keadilan Sahabat sebagai muslimat (aksioma) agama, dan mengingkarinya dianggap Kafir. Menurut prinsip Ibnu Taimiyah, kriteria menjadi Sahabat adalah pernah duduk bersama Nabi saw dan tidak ada perbedaan antara sedikit atau banyaknya kebersamaan ini.[57]

Meskipun meyakini keadilan Sahabat, dalam beberapa kasus Ibnu Taimiyah bahkan mengkritik Khulafaur Rasyidin. Namun, dalam kitab Al-'Aqidah al-Wasithiyyah, dengan merujuk pada tindakan Thalhah dan Zubair dalam menentang Imam Ali as, ia menganggap orang-orang yang melontarkan keberatan atas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin lebih buruk daripada keledai.[58] Menurut keyakinan Ibnu Taimiyah, Khalifah Pertama dan Kedua menyimpang dari ucapan Nabi dan melakukan ijtihad terhadap nash, dan Khalifah Ketiga adalah pecinta harta.[59]

Tentang Syiah

Ibnu Taimiyah menyebut Syiah sebagai sumber segala fitnah di Dunia Islam dan menganggap perang melawan mereka lebih penting daripada perang melawan Khawarij dan Mongol. Karena keyakinan ini, ia bersama pasukan Mongol secara sukarela memerangi Syiah Druze di wilayah Kisrawan.[60] Ia membagi Syiah menjadi tiga kelompok:

Dalam perbandingan antara Syiah dan Yahudi, Ibnu Taimiyah menyebutkan beberapa kemeripan di antara mereka; termasuk penyimpangan dari kiblat, tidak meyakini adanya Iddah bagi wanita yang ditalak atau suaminya meninggal, keyakinan bahwa Allah mewajibkan lima puluh salat, mengucapkan "Al-Samu 'Alaikum" (kematian atas kalian), dan permusuhan terhadap Jibril.[64]

Pengaruh terhadap Kelompok Salafi Takfiri

Ibnu Taimiyah dianggap sebagai pemimpin[65] dan pendiri Salafiyah[66] dan pandangannya dianggap sebagai dasar bagi gerakan fundamentalis dan kekuatan jihadis Salafi[67] yang baru muncul di masyarakat Islam;[68] sedemikian rupa sehingga ia disebut sebagai bapak spiritual ekstremisme Islam Sunni.[69]

Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, dan Salafiyah Jihadi adalah di antara kelompok-kelompok yang mengikuti fikih Salafi (sebagai tandingan terhadap empat mazhab Ahlussunnah).[70] Selain itu, reproduksi pemikiran fundamentalis Ibnu Taimiyah muncul dalam bentuk kelompok-kelompok seperti Taliban, Al-Qaeda, dan ISIS[71] yang dikenal sebagai Salafi Takfiri karena mengkafirkan sebagian besar umat Islam.[72]

Ekstremisme dan Salafisme secara intelektual memanfaatkan ajaran Ibnu Taimiyah dan murid-murid alirannya seperti Muhammad bin Abdul Wahhab, Abul A'la Maududi, dan Sayyid Qutb,[73] dan ketika memegang kekuasaan, dengan bersandar pada ajaran Ibnu Taimiyah, mereka melakukan pembantaian terhadap Muslim[74] dan penghancuran makam Ahlulbait as serta Sahabat Nabi saw.[75]

Disebutkan bahwa fundamentalisme agama dalam menghadapi krisis dunia modern, dengan bersandar pada fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah dan dengan interpretasi khusus terhadap teks-teks agama, telah menyeru umat Islam menuju ekstremisme.[76]

Dalam Pandangan Orang Lain

Banyak ulama dan penulis Ahlussunnah telah berbicara tentang Ibnu Taimiyah dan memiliki pandangan yang berbeda tentangnya. Di antara mereka, sebagian mengunggulkannya di atas para imam Mazhab Empat Ahlussunnah, memberikan gelar seperti Syaikhul Islam, satu-satunya di zamannya, Allamah, Fakih, Mufasir,[77] orang yang paling mengetahui ilmu agama di zamannya,[78] dan ulama terbesar[79] kepada Ibnu Taimiyah.[catatan 1] Jalaluddin Suyuthi menyebutnya Syaikhul Islam, Allamah, Fakih, mufasir terkemuka, dan ilmuwan yang zuhud dan tiada duanya di zamannya.[80]

Sebaliknya, sejumlah besar ahli fikih dan hakim dari empat mazhab Ahlussunnah, karena akidah, fatwa syadz, dan pemikiran Ibnu Taimiyah, secara tegas menisbatkan kekafiran, kesesatan, dan bid'ah kepadanya; di antaranya 18 orang hakim Ahlussunnah menghukumi bahwa karena Ibnu Taimiyah merendahkan para Nabi, maka ia kafir.[81] Syaukani (1173-1250 H), ulama Salafi Ahlussunnah, menukil bahwa Muhammad Bukhari (wafat 841 H), seorang ulama Hanafi, selain menghukumi pengkafiran Ibnu Taimiyah, juga meyakini bahwa siapa pun yang menyebut Ibnu Taimiyah sebagai Syaikhul Islam juga kafir.[82]

Dikatakan bahwa karakteristik Ibnu Taimiyah berperan dalam penilaian negatif ulama Ahlussunnah terhadapnya dan menyebabkan kebencian mereka terhadap pemikiran dan kepribadian Ibnu Taimiyah; karakteristik tersebut antara lain temperamen yang keras, kekerasan, penghinaan terhadap lawan bicara, tidak mematuhi adab diskusi dan debat, dan menisbatkan kesalahan kepada para pendahulu;[83] faktor yang juga menyebabkan ia dipenjara dengan keputusan hakim dari empat mazhab, dan dilarang mengeluarkan fatwa.[84]

Buku-buku yang Mengkritik Ibnu Taimiyah

Karena mengeluarkan Fatwa dan pendapat yang syadz (ganjil) dan langka, Ibnu Taimiyah mendapat kritik dari banyak ulama Mazhab Empat dan ulama Syiah, dan buku-buku telah disusun untuk mengkritiknya. Beberapa buku penting yang mengkritik pemikirannya antara lain:

  1. Al-Durrah al-Mudhiyyah fi al-Radd 'ala Ibn Taimiyah, karya Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Subki (W. 756 H).
  2. Syifa' al-Siqam fi Ziyarah Khair al-Anam, karya Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Subki (W. 756 H).
  3. Naqd al-Ijtima' wa al-Iftiraq fi Masail al-Iman wa al-Thalaq, karya Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Subki (W. 756 H).
  4. Al-Nazhar al-Muhaqqaq fi al-Half bi al-Thalaq al-Mu'allaq, karya Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Subki (W. 756 H).
  5. Al-I'tibar bi Baqa' al-Jannah wa al-Nar, karya Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Subki (W. 756 H).
  6. Minhaj al-Syari'ah fi al-Radd 'ala Ibn Taimiyah, karya Muhammad Mahdi Kazhimi Qazwini.
  7. Risalah fi al-Radd 'ala Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Thalaq, Muhammad bin Ali Mazini Dimasyqi (W. 721 H).
  8. Risalah fi al-Radd 'ala Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Ziyarah, Muhammad bin Ali Mazini.
  9. Al-Tuhfah al-Mukhtarah fi al-Radd 'ala Munkir al-Ziyarah, Umar bin Yaman Maliki (W. 734 H).
  10. Al-Abhats al-Jaliyyah fi al-Radd 'ala Ibn Taimiyah, Ahmad bin Utsman Turkmani Hanafi (W. 744 H).
  11. Al-Radd 'ala Ibn Taimiyah fi al-I'tiqadat, Muhammad bin Ahmad Farghani Dimasyqi Hanafi (W. 867 H).
  12. Al-Jauhar al-Munazzham fi Ziyarah al-Qabr al-Syarif al-Nabawi al-Mukarram, Ibnu Hajar Haitami (W. 974 H).
  13. Nazhrah fi Kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, karya Allamah Amini, yang diambil dari kitab Al-Ghadir dan dicetak secara terpisah, membahas kritik terhadap pandangan Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj al-Sunnah.[85]

Kongres dan Pertemuan Ilmiah

Pada tahun 1408 H, sebuah kongres diadakan di Universitas Salafi Banaras, India, untuk menghormati Ibnu Taimiyah, di mana sekitar 50 makalah yang memperkenalkan dan memuji Ibnu Taimiyah dipresentasikan dan diterbitkan dalam kumpulan berjudul "Buhuts al-Nadwah al-'Alamiyyah 'an Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah wa A'malihi al-Khalidah". Untuk menolak berbagai pandangan Ibnu Taimiyah, berbagai pertemuan[86] dan kursi ilmiah[87] juga telah diadakan.

Catatan

  1. Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ahmad al-Baghdadi al-Hanbali berkata: Aku bersumpah di antara Rukun dan Maqam bahwa aku tidak pernah melihat orang sepertinya, dan ia menulis 20 halaman memujinya dan berkata: "Ia begitu kuat dalam hadis sehingga bisa dikatakan setiap hadis yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah bukanlah hadis" (Baghdadi, Al-Dzaill 'ala Thabaqat al-Hanabilah, 1417 H, jld. 4, hlm. 391).

Catatan Kaki

  1. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, h241.
  2. Abdul Hamid, Ibnu Taimiyah Hayatuhu wa 'Aqaiduhu, 1426 H, hlm. 56.
  3. Zaryab, "Ibn Taimiyah", jld. 3, hlm. 172.
  4. Dukhi, Manhaj Ibnu Taimiyah fi al-Tauhid, 1390 HS, hlm. 29.
  5. Zaryab, "Ibn Taimiyah", jld. 3, hlm. 173, 177.
  6. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, hlm. 343; jld. 14, hlm. 4.
  7. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, hlm. 343; jld. 14, hlm. 38.
  8. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, h343; jld. 14, hlm. 135.
  9. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 14, hlm. 137-138; Ibnu Syakir, Fawat al-Wafayat, Penerbit Shad, jld. 1, hlm. 74.
  10. Badruddin al-'Aini, Aqd al-Juman, 2015 M, jld. 1, h288.
  11. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 1, hlm. 2.
  12. Mizzi, Tahdzib al-Kamal, 1400 H, jld. 1, hlm. 18.
  13. Abu Zaid, Ibn Qayyim al-Jauziyyah: Hayatuhu wa Atsaruhu, 1423 H, h178.
  14. Ibnu Syakir, Fawat al-Wafayat, Penerbit Shadir, jld. 1, hlm. 75-80.
  15. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Asma' Mu'allafat Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, 1403 H.
  16. Bahrami, Bonyan-e Takfir, 1396 HS, hlm. 41.
  17. Thabasi dan Muruji Thabasi, "Guneshenasi-ye Mavadhe-e Atsar-e Maktub-e Eslami Raje' be Mavadhe-e Ibn Taimiyah...".
  18. Thabasi dan Muruji Thabasi, "Guneshenasi-ye Mavadhe-e Atsar-e Maktub-e Eslami Raje' be Mavadhe-e Ibn Taimiyah...", hlm. 9.
  19. Thabasi dan Muruji Thabasi, "Guneshenasi-ye Mavadhe-e Atsar-e Maktub-e Eslami Raje' be Mavadhe-e Ibn Taimiyah...", hlm. 7-8.
  20. Ibnu Syakir, Fawat al-Wafayat, Penerbit Shadir, jld. 1, hlm. 76.
  21. Rawandi, Tarikh-e Ejtemai-ye Iran, 1386 HS, jld. 10, hlm. 202.
  22. Majmu'ah Maqalat Ham-andishi Ziyarat, 1378 HS, hlm. 342.
  23. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 14, hlm. 37.
  24. Bori, “The Collection and Edition of Ibn Taimiyah’s Works...” p. 52–54.
  25. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 1, hlm. 160.
  26. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 1, hlm. 45; Subhani, Farhang-e Aqaid va Mazaheb-e Eslami, 1378 HS, jld. 1, h21-22.
  27. Zaryab, "Ibn Taimiyah", jld. 3, hlm. 179.
  28. Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1413 H, hlm. 296-297; Radhwani, Syiah Shenasi va Pasokh be Syobohat, 1384 HS, jld. 1, hlm. 217.
  29. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 1, hlm. 148-149.
  30. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 1, hlm. 106.
  31. Al-Masya'bi, Manhaj Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Takfir, 1418 H, hlm. 351-463.
  32. Radhwani, Wahabian-e Takfiri, 1390 HS, hlm. 114-122.
  33. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 2, hlm. 88, Bab Ma Yukrahu min Ittikhadz al-Masajid 'ala al-Qubur, H 1330.
  34. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 1, hlm. 131.
  35. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 4, hlm. 478.
  36. Ibnu Taimiyah, Ra's al-Husain, t.t., hlm. 207.
  37. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 4, hlm. 571.
  38. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 4, hlm. 572.
  39. Ibnu Jauzi, Al-Radd 'ala al-Muta'ashshib al-'Anid al-Mani' min Dzamm Yazid, Pengantar Tahkik, 1426 H, hlm. 17.
  40. Zaryab, "Ibn Taimiyah", jld. 3, hlm. 172.
  41. Zaryab, "Ibn Taimiyah", jld. 3, hlm. 192.
  42. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Rasail wa al-Masail, 1403 H, jld. 1, h243.
  43. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 3, hlm. 79-80.
  44. Zaryab, "Ibn Taimiyah", hlm. 178.
  45. Abu Zahrah, Ibnu Taimiyah Hayatuhu wa 'Ashruhu, 1952 M, hlm. 183-185.
  46. Abdul Hamid, Ibnu Taimiyah fi Shuratihi al-Haqiqiyah, 1415 H, hlm. 13, 67-72.
  47. Khalil Barakah, Ibn Taimiyah wa Juhuduhu fi al-Tafsir, 1405 H, hlm. 127-140.
  48. Al-Masya'bi, Manhaj Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Takfir, 1418 H, hlm. 351-352.
  49. Al-Masya'bi, Manhaj Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Takfir, 1418 H, hlm. 353-363.
  50. Mahdi Bakhshi, "Jihad; az Ibn Taimiyah ta Bin Laden", hlm. 172-174.
  51. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 4, hlm. 56.
  52. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, j6, h330; jld. 7, hlm. 88, 489.
  53. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, 4, hlm. 431.
  54. Ibnu Hajar al-'Asqalani, Al-Durar al-Kaminah..., 1414 H, jld. 1, hlm. 181.
  55. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, 1406 H, jld. 1, hlm. 530.
  56. Ibnu Taimiyah, "Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra", jld. 1, h427-429.
  57. Ibnu Taimiyah, Al-Sharim al-Maslul 'ala Syatim al-Rasul, 1403 H, hlm. 107.
  58. Ibnu Taimiyah, Al-'Aqidah al-Wasithiyyah, 1420 H, hlm. 118.
  59. Ibnu Hajar al-'Asqalani, Al-Durar al-Kaminah..., 1414 H, jld. 1, hlm. 179-181; Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 20, hlm. 251.
  60. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 28, hlm. 468-489.
  61. Ibnu Taimiyah, Majmu'ah al-Fatawa..., 1418 H, jld. 28, hlm. 468.
  62. Ibnu Taimiyah, Al-Sharim al-Maslul 'ala Syatim al-Rasul, 1403 H, hlm. 586.
  63. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 1, hlm. 35.
  64. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah..., 1406 H, jld. 1, hlm. 25.
  65. Luthfi, "Barresi-ye Ta'tsirat-e Andisye-ye Ibn Taimiyah bar Amalkard-e Salafiye-ye Jihadi", hlm. 41.
  66. Muhithi dan Farmanian, "Feqh-e Salafiye (Feqh-e Ibn Taimiyah) Mazhabi Jadid dar Feqh-e Ahl-e Sonnat", hlm. 121.
  67. Alipur dan lainnya, "Ta'tsir-e Andisye-haye Ibn Taimiyah bar Khuthuth-e Fekri va Khath-e Masy-e Goruh-haye Salafi-Takfiri", hlm. 43.
  68. Luthfi, "Barresi-ye Ta'tsirat-e Andisye-ye Ibn Taimiyah bar Amalkard-e Salafiye-ye Jihadi", hlm. 59.
  69. Alipur dan lainnya, "Ta'tsir-e Andisye-haye Ibn Taimiyah bar Khuthuth-e Fekri va Khath-e Masy-e Goruh-haye Salafi-Takfiri", hlm. 43.
  70. Muhithi dan Farmanian, "Feqh-e Salafiye (Feqh-e Ibn Taimiyah) Mazhabi Jadid dar Feqh-e Ahl-e Sonnat", hlm. 125-126.
  71. Alipur dan lainnya, "Ta'tsir-e Andisye-haye Ibn Taimiyah bar Khuthuth-e Fekri va Khath-e Masy-e Goruh-haye Salafi-Takfiri", hlm. 43.
  72. Purhasan dan Saifi, "Taqabol-e Neo-Salafi-ha ba Syiayan va Payamad-haye an bar Ettehad-e Jahan-e Eslam", hlm. 17-18.
  73. Mahdi Bakhshi, "Jihad az Ibn Taimiyah ta Bin Laden", hlm. 172-174.
  74. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 1427 H, hlm. 587.
  75. Amin, Kasyf al-Irtiyab, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, hlm. 52.
  76. Alipur dan lainnya, "Ta'tsir-e Andisye-haye Ibn Taimiyah bar Khuthuth-e Fekri va Khath-e Masy-e Goruh-haye Salafi-Takfiri", hlm. 43.
  77. Ibnu Syakir, Fawat al-Wafayat, Penerbit Shadir, jld. 1, hlm. 74.
  78. Hajwi, Al-Fikr al-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami, 1416 H, jld. 2, hlm. 362.
  79. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 14, hlm. 156.
  80. Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh, 1414 H, hlm. 520.
  81. Baghdadi, Al-Dzail 'ala Thabaqat al-Hanabilah, 1417 H, jld. 4, hlm. 401.
  82. Syaukani, Al-Badr al-Thali', Penerbit Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 262.
  83. Hajwi, Al-Fikr al-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami, 1416 H, jld. 2, hlm. 363-364.
  84. Ibnu Abi Ya'la, Thabaqat al-Hanabilah, Beirut, jld. 4, hlm. 394, 401.
  85. "Negahi Gozara be Zendegi-ye Ibn Taimiyah", Paygah-e Takhassushi-ye Wahabiyat Pajuhi va Jaryan-haye Takfiri; "Nazhrah fi Kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah", Pazhuhesykadeh Haji va Ziarat; Amini, Nazhrah fi Kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, Madrasah Faqahat, hlm. 20-21.
  86. "Neshaste Naqd va Barresi-ye Nazariye-ye Khilafat dar Atsar-e Ibn Taimiyah Bargozar Syod", Kantor Berita Hawzah; "Ibn Taimiyah Hich Averde-i baraye Andisye-ye Khilafat Nadarad", Jaringan Ijtihad.
  87. "Korsi-ye Elmi Tarviji ba Onvan-e Naqd va Barresi-ye Didgah-e Ibn Taimiyah Piramun-e Syafa'at", Universitas Shahid Bahonar Kerman; "Korsi-ye Elmi Tarviji Bazkhani-ye Enteqadi-ye Dalayel-e Salafiye dar Nekuheish-e Elm-e Kalam ba Tamarkoz bar Didgah-e Ibn Taimiyah", Madrasah Ilmiah Tinggi Nawab.

Daftar Pustaka

  • Abdul Hamid, Shaib. Ibn Taimiyah Hayatuhu wa 'Aqaiduhu. Qom: Muassasah Da'irah al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1426 H.
  • Abdul Hamid, Shaib. Ibn Taimiyah fi Shuratihi al-Haqiqiyah. Beirut: Al-Ghadir lil-Dirasat wa al-Nasyr, 1415 H.
  • Abu Zahrah, Muhammad. Ibn Taimiyah Hayatuhu wa 'Ashruhu: Ara'uhu wa Fiqhuhu. Cairo: Dar al-Kutub al-'Arabi, 1952 M.
  • Abu Zaid, Bakr bin Abdullah. Ibn Qayyim al-Jauziyyah: Hayatuhu wa Atsaruhu. Riyadh: Dar al-'Ashimah, 1423 H.
  • Al-Masya'bi, Abdul Majid bin Salim. Manhaj Ibn Taimiyah fi Mas'alah al-Takfir. Riyadh: Maktab Adhwa' al-Salaf, 1418 H.
  • Alipur, Javad; Sajjad Qithasi; Mahdi Darabi. "Ta'tsir-e Andisye-haye Ibn Taimiyah bar Khuthuth-e Fekri va Khath-e Masy-e Goruh-haye Salafi-Takfiri". Faslnameh Andisheh Siyasi dar Eslam, no. 12 (Summer 1396 HS).
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1413 H.
  • Amin, Sayid Muhsin. Kasyf al-Irtiyab fi Atba' Muhammad bin Abdul Wahhab. Qom: Dar al-Kutub al-Islami, n.d.
  • Amini, Abdul Husain. Nazhrah fi Kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah. Qom: Madrasah Faqahat, n.d.
  • Badruddin al-'Aini, Mahmud bin Ahmad. Aqd al-Juman fi Tarikh Ahl al-Zaman. Cairo: Dar al-Kutub, 2015 M.
  • Baghdadi, Ibnu Rajab. Al-Dzail 'ala Thabaqat al-Hanabilah. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1417 H.
  • Bahrami, Alireza. Bonyan-e Takfir: Pazhuheshi dar Zamine-haye Aqidati, Fekri va Farhangi-ye Peydayesh-e Jaryan-haye Takfiri. Qom: Barg-e Ferdows, 1396 HS.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir. Beirut: Dar Thauq al-Najah, 1422 H.
  • Dukhi, Yahya Abdul Hasan. Manhaj Ibn Taimiyah fi al-Tauhid. Tehran: Nasyr-e Masy'ar, 1390 HS.
  • Hajwi, Muhammad bin Hasan. Al-Fikr al-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1416 H.
  • Ibnu Abi Ya'la, Muhammad bin Muhammad. Thabaqat al-Hanabilah. Beirut: Dar al-Ma'rifah, n.d.
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Durar al-Kaminah fi A'yan al-Miah al-Tsaminah. Beirut: Dar al-Jil, 1414 H.
  • Ibnu Jauzi. Al-Radd 'ala al-Muta'ashshib al-'Anid al-Mani' min Dzamm Yazid. Tahqiq: Haitsam Abdussalam Muhammad. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1426 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakar. Asma' Mu'allafat Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Jadid, 1403 H.
  • Ibnu Syakir, Muhammad. Fawat al-Wafayat. Beirut: Dar Shadir, n.d.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. "Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra". In Majmu'ah al-Rasail al-Kubra. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, 1392 H/1972 M.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-'Aqidah al-Wasithiyyah. Riyadh: Adhwa' al-Salaf, 1420 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Sharim al-Maslul 'ala Syatim al-Rasul. Riyadh: Al-Haras al-Wathani al-Su'udi, 1403 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu'ah al-Fatawa li-Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Beirut: Dar al-Wafa, 1418 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu'ah al-Rasail wa al-Masail. Beirut: Lajnah al-Turats al-'Arabi, 1403 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyah. Tahqiq: Muhammad Rasyad Salim. Riyadh: Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah, 1406 H.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Ra's al-Husain. Tahqiq: Al-Sayid al-Jumaili. n.p.: n.pub., n.d.
  • Khalil Barakah, Ibrahim. Ibn Taimiyah wa Juhuduhu fi al-Tafsir. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1405 H.
  • Luthfi, Ali Akbar. "Barresi-ye Ta'tsirat-e Andisye-ye Ibn Taimiyah bar Amalkard-e Salafiye-ye Jihadi". Faslnameh Siraj Munir, no. 31 (Autumn 1397 HS).
  • Mahdi Bakhshi, Ahmad. "Jihad; az Ibn Taimiyah ta Bin Laden". Majallah Olum-e Siyasi, no. 34 (Summer 1385 HS).
  • Mizzi, Yusuf bin Abdurrahman. Tahdzib al-Kamal. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1400 H.
  • Muhithi, Mujtaba; Mahdi Farmanian. "Feqh-e Salafiye (Feqh-e Ibn Taimiyah) Mazhabi Jadid dar Feqh-e Ahl-e Sonnat". Majallah Shirat, no. 17 (Spring 1398 HS).
  • Rawandi, Murtadha. Tarikh-e Ejtemai-ye Iran. Vol. 10. Tehran: Muassasah Entisharat-e Negah, 1386 HS.
  • Subhani, Ja'far. Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal. Qom: Muassasah al-Imam al-Shadiq, 1427 H.
  • Subhani, Ja'far. Farhang-e Aqaid va Mazaheb-e Eslami. Qom: Tauhid, 1378 HS.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Thabaqat al-Huffazh. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1414 H/1994 M.
  • Syaukani, Muhammad bin Ali. Al-Badr al-Thali' bi Mahasin man ba'da al-Qarn al-Sabi. Beirut: Dar al-Ma'rifah, n.d.
  • Zaryab, Abbas. "Ibn Taimiyah". In Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami. Vol. 3. Tehran: Markaz-e Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1369 HS.
  • Bori, Caterina. "The Collection and Edition of Ibn Taimiyah’s Works: Concerns of a Disciple". Mamlūk Studies Review 13, no. 2 (2009): 47–67.