Lompat ke isi

Konsep:Hadis Marw

Dari wikishia
Hadis Marw
Nama lainHadis Imam Ridha as di Marw
TemaImamah
Diriwayatkan dariImam Ridha as
Periwayat utamaAbdul Aziz bin Muslim
Sumber SyiahTuhaf al-Uqul, Al-Kafi, Al-Amali
Penegas dalam Al-Qur'anAyat 124 Surah Al-Baqarah, Ayat 36 Surah Al-Ahzab


Hadis Marw (Bahasa Persia: حدیث مرو) adalah sabda Imam Ridha as mengenai sifat dan syarat Imam Maksum yang disampaikan kepada Abdul Aziz bin Muslim di kota Marw. Dalam hadis ini disebutkan berbagai dalil naqli (Al-Qur'an) dan aqli (rasional) untuk membuktikan keunggulan Para Imam Syiah.

Hadis Marw dinukil dalam sumber-sumber kuno Syiah seperti Al-Kafi, Al-Amali Syekh Shaduq, dan Tuhaf al-Uqul dengan redaksi yang berbeda-beda. Sanad lengkap hadis ini diriwayatkan melalui dua jalur dalam kitab Kamal al-Din karya Syekh Shaduq. Kesesuaian hadis ini dengan keumuman Al-Qur'an, Sunah, dan dalil-dalil akal dalam topik Imamah dianggap sebagai bukti validitas dan kehujahannya.

Hadis Marw dirujuk dalam kitab-kitab seperti Al-Ihtijaj karya Thabarsi dan Bihar al-Anwar terkait sifat-sifat Imam, kemaksuman Imam as, syarat-syarat Imamah, dan argumentasi melawan para penentang. Selain itu, dalam kitab-kitab tafsir, hadis ini dijadikan sandaran dalam penafsiran ayat-ayat seperti Ayat 124 Surah Al-Baqarah dan Ayat 36 Surah Al-Ahzab mengenai Imamah dan pemilihan Imam oleh Allah.

Kedudukan Hadis Marw dalam Mengenal Imam as

Hadis Marw mencakup ucapan dan argumentasi Imam Ridha as mengenai sifat dan keutamaan Imam as serta syarat-syarat Imamah yang disampaikan kepada Abdul Aziz bin Muslim di kota Marw.[1] Hadis ini disampaikan ketika terjadi banyak perselisihan pendapat di tengah masyarakat mengenai masalah Imamah.[2] Alasan argumentasi Imam Ridha as dalam hadis ini juga disebutkan karena kebingungan masyarakat tentang Imamah setelah penerimaan Wilayatul Ahdi Imam Ridha as (posisi putra mahkota) oleh beliau.[3] Hadis Marw yang dinukil secara rinci dan panjang, mengandung banyak dalil naqli (Al-Qur'an) dan aqli dalam membuktikan keunggulan para Imam as di atas orang lain.[4] Hal ini menjadi perhatian para pensyarah dalam pembahasan Imamah dan mereka memberikan penjelasan ringkas mengenai hadis ini.[5] Gaya argumentasi Imam Ridha as dalam Hadis Marw juga menjadi perhatian beberapa peneliti.[6]

Hadis Marw dijadikan sandaran dalam kitab-kitab tafsir di bawah ayat-ayat seperti Ayat 124 Surah Al-Baqarah,[7] Ayat 3 Surah Al-Ma'idah,[8] Ayat 68 dan 69 Surah Al-Qashash[9] serta Ayat 36 Surah Al-Ahzab,[10] dalam topik Imamah dan pemilihan Imam oleh Allah. Selain itu, hadis ini dikaji dalam kitab-kitab akidah,[11] hadis,[12] dan syarah hadis[13] terkait topik-topik seperti sifat-sifat Imam, kemaksuman Imam as, syarat-syarat Imamah, argumentasi terhadap lawan, dan kritik terhadap dalil-dalil Ahlusunah mengenai Imamah.

Validitas Hadis

Hadis Marw dinukil dalam sumber-sumber awal Syiah seperti Al-Kafi,[14] Al-Amali Syekh Shaduq[15] dan Tuhaf al-Uqul[16] dengan perbedaan dalam teks hadis. Sanad lengkap hadis ini dinukil dalam kitab Kamal al-Din karya Syekh Shaduq melalui dua jalur.[17]

Hadis ini disebutkan dalam kitab Al-Kafi secara marfu' (terputus sanadnya di akhir)[18] dan dalam kitab Tuhaf al-Uqul tanpa sanad,[19] yang dianggap sebagai penyebab kelemahan hadis. Namun, berbagai indikasi seperti popularitas riwayat serta kesesuaiannya dengan keumuman Al-Kitab, Sunah, dan bukti-bukti akal dalam pembahasan Imamah dianggap menutupi kelemahan tersebut dan menjadi sebab validitas (hujah) Hadis Marw.[20]

Kandungan Hadis

Hadis Marw berisi ucapan dan argumentasi Imam Ridha as mengenai sifat, keutamaan, dan karakteristik Imam Maksum as serta syarat-syarat Imamah yang disampaikan kepada Abdul Aziz bin Muslim di kota Marw.[21] Imam Ridha as berargumen dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an mengenai Hujah Ilahi setelah tauhid dan kenabian, serta menjelaskan bahwa Hujah Ilahi tidak dapat dikenali kecuali oleh Allah Swt dan tidak ada yang berhak mengangkatnya selain Tuhan.[22] Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa perkara agung ini telah disampaikan secara resmi oleh Nabi saw kepada masyarakat pada Haji Wada' sesuai dengan Ayat Ikmal.[23]

Imam Ridha as dengan merujuk pada Nabi Ibrahim as yang mencapai maqam Imamah setelah maqam kenabian, menjelaskan bahwa maqam Imamah hanya dikhususkan bagi orang-orang suci dan terpilih dari keturunannya. Maqam ini sampai kepada Nabi Muhammad saw dan beliau atas perintah Allah menyerahkannya kepada Imam Ali as, dan setelah beliau, Imamah berlanjut pada keturunan suci dan terpilih Imam Ali as hingga Hari Kiamat.[24]

Beliau menyebutkan ciri-ciri Imam, antara lain: lebih unggul dari semua orang, sosok tunggal di zamannya, memiliki kelapangan dada (syarh shadr), memiliki kekuatan dan keberanian dalam perang serta pelaksanaan hukum (hudud), dan tidak ada yang menyamai atau setara dengannya. Imam Ridha as dengan mengisyaratkan pada peran Imamah, menyebut Imam sebagai penjaga agama, faktor persatuan dan penjaga tatanan sosial kaum Muslimin, serta pelaksana hukum-hukum Ilahi.[25] Imam Ridha as juga menjelaskan bahwa ibadah dan hukum Islam seperti Salat, Zakat, Puasa, dan Jihad mencapai kesempurnaan melalui Imamah. Dengan menjelaskan karakteristik ini, Imam as kembali mencela orang-orang yang ingin memilih Imam dengan akal mereka sendiri tanpa adanya sifat-sifat tersebut.[26]

Teks Hadis

Terjemahan Teks Hadis
Abdul Aziz bin Muslim berkata: Kami bersama Imam Ridha as di Marw, lalu kami berkumpul di Masjid Jami' di sana. Orang-orang memperbincangkan masalah Imamah di antara mereka dan menyebutkan banyaknya perbedaan pendapat di dalamnya. Kemudian aku menemui tuanku dan molaku Imam Ridha as dan memberitahunya tentang apa yang diperbincangkan orang-orang. Imam Ridha as tersenyum, lalu bersabda: "Wahai Abdul Aziz, kaum itu bodoh dan tertipu dari agama mereka. Sesungguhnya Allah Jalla wa 'Azza tidak mewafatkan Nabi-Nya saw hingga Dia menyempurnakan agama baginya dan menurunkan Al-Qur'an kepadanya yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu; Dia menjelaskan di dalamnya halal dan haram, hukum-hukum (hudud) dan ahkam, serta semua yang dibutuhkan manusia secara sempurna, lalu Dia berfirman: 'Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab'. [Ayat 38 Surah Al-An'am]

قَالَ عَبْدُ الْعَزِیزِ بْنُ مُسْلِمٍ کُنَّا مَعَ الرِّضَا ع بِمَرْوَ فَاجْتَمَعْنَا فِی الْمَسْجِدِ الْجَامِعِ بِهَا فَأَدَارَ النَّاسُ بَیْنَهُمْ أَمْرَ الْإِمَامَةِ فَذَکَرُوا کَثْرَةَ الِاخْتِلَافِ فِیهَا فَدَخَلْتُ عَلَى سَیِّدِی وَ مَوْلَایَ الرِّضَا ع فَأَعْلَمْتُهُ بِمَا خَاضَ النَّاسُ فِیهِ فَتَبَسَّمَ ع ثُمَّ قَالَ ع یَا عَبْدَ الْعَزِیزِ جَهِلَ الْقَوْمُ وَ خُدِعُوا عَنْ أَدْیَانِهِمْ إِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَ عَزَّ لَم‏ یَقْبِضْ نَبِیَّهُ ص حَتَّى أَکْمَلَ لَهُ الدِّینَ وَ أَنْزَلَ عَلَیْهِ الْقُرْآنَ فِیهِ تِبْیَانُ کُلِّ شَیْ‏ءٍ وَ بَیَّنَ فِیهِ الْحَلَالَ وَ الْحَرَامَ وَ الْحُدُودَ وَ الْأَحْکَامَ وَ جَمِیعَ مَا یَحْتَاجُ إِلَیْهِ النَّاسُ کَمَلًا فَقَالَ ما فَرَّطْنا فِی الْکِتابِ مِنْ شَیْ‏ءٍ

Dan Dia menurunkan kepadanya pada saat Haji Wada' yang merupakan akhir umur beliau saw: 'Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu'. [Ayat 3 Surah Al-Ma'idah] Dan perkara Imamah adalah bagian dari kesempurnaan agama. Dan Nabi saw tidak berlalu (wafat) hingga beliau menjelaskan kepada umatnya rambu-rambu agamanya, menerangkan jalan-jalan mereka, meninggalkan mereka di atas jalan kebenaran, dan mendirikan Ali as bagi mereka sebagai tanda dan Imam. Beliau tidak meninggalkan sesuatu pun yang dibutuhkan umat kecuali telah menjelaskannya. Maka barang siapa menyangka bahwa Allah belum menyempurnakan agama-Nya, sungguh ia telah menolak Kitabullah, dan barang siapa menolak Kitabullah, sungguh ia telah kafir.

وَ أَنْزَلَ عَلَیْهِ فِی حِجَّةِ الْوَدَاعِ وَ هِیَ آخِرُ عُمُرِهِ ص- الْیَوْمَ أَکْمَلْتُ لَکُمْ دِینَکُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَیْکُمْ نِعْمَتِی وَ رَضِیتُ لَکُمُ الْإِسْلامَ دِیناً وَ أَمْرُ الْإِمَامَةِ مِنْ کَمَالِ الدِّینِ وَ لَمْ یَمْضِ ص حَتَّى بَیَّنَ لِأُمَّتِهِ مَعَالِمَ دِینِهِ وَ أَوْضَحَ لَهُمْ سُبُلَهُمْ وَ تَرَکَهُمْ عَلَى قَصْدِ الْحَقِّ وَ أَقَامَ لَهُمْ عَلِیّاً ع عَلَماً وَ إِمَاماً وَ مَا تَرَکَ شَیْئاً مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَیْهِ الْأُمَّةُ إِلَّا وَ قَدْ بَیَّنَهُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ لَمْ یُکْمِلْ دِینَهُ فَقَدْ رَدَّ کِتَابَ اللَّهِ وَ مَنْ رَدَّ کِتَابَ اللَّهِ فَقَدْ کَفَر

Apakah mereka mengetahui kadar Imamah dan kedudukannya di tengah umat sehingga pemilihan mereka diperbolehkan di dalamnya? Sesungguhnya Imamah adalah sesuatu yang Allah khususkan bagi Ibrahim al-Khalil as setelah kenabian dan kedudukan khullah (kekasih Allah) sebagai martabat ketiga dan keutamaan yang dengannya Dia memuliakannya dan mengangkat sebutannya. Maka Allah Jalla wa 'Azza berfirman: 'Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia"'. [Ayat 124 Surah Al-Baqarah] Al-Khalil (Ibrahim) berkata dengan gembira karenanya: 'Dan (saya mohon juga) dari keturunanku'. Allah berfirman: 'Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim'. [Ayat 124 Surah Al-Baqarah] Maka ayat ini membatalkan kepemimpinan setiap orang zalim hingga hari kiamat dan menjadikannya pada orang-orang terpilih. Kemudian Allah memuliakannya dengan menjadikannya pada keturunan orang-orang terpilih dan suci, lalu berfirman: 'Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah'. [Ayat 72 dan 73 Surah Al-Anbiya] Maka keturunannya as senantiasa mewarisinya satu sama lain, dari abad ke abad, hingga Nabi saw mewarisinya, lalu Allah berfirman: 'Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman'. [Ayat 68 Surah Ali Imran]

هَلْ یَعْرِفُونَ قَدْرَ الْإِمَامَةِ وَ مَحَلَّهَا مِنَ الْأُمَّةِ فَیَجُوزَ فِیهَا اخْتِیَارُهُمْ إِنَّ الْإِمَامَةَ خَصَّ اللَّهُ بِهَا إِبْرَاهِیمَ الْخَلِیلَ ع بَعْدَ النُّبُوَّةِ وَ الْخُلَّةِ مَرْتَبَةً ثَالِثَةً وَ فَضِیلَةً شَرَّفَهُ بِهَا وَ أَشَادَ بِهَا ذِکْرَهُ فَقَالَ جَلَّ وَ عَزَّ وَ إِذِ ابْتَلى‏ إِبْراهِیمَ رَبُّهُ بِکَلِماتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قالَ إِنِّی جاعِلُکَ لِلنَّاسِ إِماماً قالَ الْخَلِیلُ سُرُوراً بِهَا وَ مِنْ ذُرِّیَّتِی قالَ لا یَنالُ عَهْدِی الظَّالِمِینَ فَأَبْطَلَتْ هَذِهِ الْآیَةُ إِمَامَةَ کُلِّ ظَالِمٍ إِلَى یَوْمِ الْقِیَامَةِ وَ صَارَتْ فِی الصَّفْوَةِ ثُمَّ أَکْرَمَهَا اللَّهُ بِأَنْ جَعَلَهَا فِی ذُرِّیَّةِ أَهْلِ الصَّفْوَةِ وَ الطَّهَارَةِ فَقَالَ وَ وَهَبْنا لَهُ إِسْحاقَ وَ یَعْقُوبَ نافِلَةً وَ کُلًّا جَعَلْنا صالِحِینَ. وَ جَعَلْناهُمْ أَئِمَّةً یَهْدُونَ بِأَمْرِنا وَ أَوْحَیْنا إِلَیْهِمْ فِعْلَ الْخَیْراتِ وَ إِقامَ الصَّلاةِ وَ إِیتاءَ الزَّکاةِ وَ کانُوا لَنا عابِدِینَ فَلَمْ تَزَلْ تَرِثُهَا ذُرِّیَّتُهُ ع بَعْضٌ عَنْ بَعْضٍ قَرْناً فَقَرْناً حَتَّى وَرِثَهَا النَّبِیُّ ص فَقَالَ اللَّهُ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْراهِیمَ لَلَّذِینَ اتَّبَعُوهُ وَ هذَا النَّبِیُّ وَ الَّذِینَ آمَنُوا

Maka Imamah menjadi khusus bagi mereka, lalu Nabi saw mengalungkannya (menyerahkannya) kepada Ali as, sehingga menjadilah ia pada keturunannya yang terpilih, orang-orang yang Allah berikan ilmu dan iman kepada mereka. Dan itulah firman-Nya: 'Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)."'. [Ayat 56 Surah Ar-Rum] Sebagaimana yang berlaku dan yang diwajibkan Allah pada anak-anaknya hingga hari kiamat, karena tidak ada nabi setelah Muhammad saw. Maka dari mana orang-orang bodoh ini (hendak) memilih Imamah dengan pendapat mereka? Sesungguhnya Imamah adalah kedudukan para nabi dan warisan para washi. Sesungguhnya Imamah adalah kekhalifahan Allah dan kekhalifahan Rasul-Nya saw, dan maqam Amirul Mukminin as serta kekhalifahan Hasan dan Husain as. Sesungguhnya Imam adalah kendali agama, tatanan kaum Muslimin, kebaikan dunia, dan kemuliaan orang-orang mukmin.

فَکَانَتْ لَهُمْ خَاصَّة فَقَلَّدَهَا النَّبِیُّ ص عَلِیّاً ع  فَصَارَتْ فِی ذُرِّیَّتِهِ الْأَصْفِیَاءِ الَّذِینَ آتَاهُمُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَ الْإِیمَانَ وَ ذَلِکَ قَوْلُهُ وَ قالَ الَّذِینَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَ الْإِیمانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِی کِتابِ اللَّهِ إِلى‏ یَوْمِ الْبَعْثِ فَهذا یَوْمُ الْبَعْثِ وَ لکِنَّکُمْ کُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ عَلَى رَسْمِ مَا جَرَى وَ مَا فَرَضَهُ اللَّهُ فِی وُلْدِهِ إِلَى یَوْمِ الْقِیَامَةِ إِذْ لَا نَبِیَّ بَعْدَ مُحَمَّدٍ ص فَمِنْ أَیْنَ یَخْتَارُ هَذِهِ الْجُهَّالُ الْإِمَامَةَ بِآرَائِهِمْ إِنَّ الْإِمَامَةَ مَنْزِلَةُ الْأَنْبِیَاءِ وَ إِرْثُ الْأَوْصِیَاءِ إِنَّ الْإِمَامَةَ خِلَافَةُ اللَّهِ وَ خِلَافَةُ رَسُولِهِ ص وَ مَقَامُ أَمِیرِ الْمُؤْمِنِینَ ع وَ خِلَافَةُ الْحَسَنِ وَ الْحُسَیْنِ ع إِنَّ الْإِمَامَ زِمَامُ الدِّینِ وَ نِظَامُ الْمُسْلِمِینَ وَ صَلَاحُ الدُّنْیَا وَ عِزُّ الْمُؤْمِنِین‏

Imam adalah fondasi Islam yang tumbuh berkembang dan cabangnya yang menjulang tinggi. Dengan Imam, sempurnalah salat, zakat, puasa, haji, dan jihad, serta melimpahnya fai' dan sedekah, terlaksananya hudud dan hukum, serta terjaganya perbatasan dan wilayah. Imam menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, menegakkan batasan-batasan Allah, membela agama Allah, dan menyeru ke jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan hujah yang kuat. Imam bagaikan matahari terbit yang menyinari alam semesta dengan cahayanya, sementara ia berada di ufuk di mana pandangan dan tangan tidak dapat menjangkaunya. Imam adalah bulan purnama yang bersinar, pelita yang terang, cahaya yang memancar, dan bintang penunjuk jalan di kegelapan malam, serta petunjuk menuju hidayah dan penyelamat dari kebinasaan.

الْإِمَامُ أُسُّ الْإِسْلَامِ النَّامِی وَ فَرْعُهُ السَّامِی بِالْإِمَامِ تَمَامُ الصَّلَاةِ وَ الزَّکَاةِ وَ الصِّیَامِ وَ الْحَجِّ وَ الْجِهَادِ وَ تَوْفِیرُ الْفَیْ‏ءِ وَ الصَّدَقَاتِ وَ إِمْضَاءُ الْحُدُودِ وَ الْأَحْکَامِ وَ مَنْعُ الثُّغُورِ وَ الْأَطْرَافِ الْإِمَامُ یُحَلِّلُ حَلَالَ اللَّهِ وَ یُحَرِّمُ حَرَامَهُ وَ یُقِیمُ حُدُودَ اللَّهِ وَ یَذُبُّ عَنْ دِینِ اللَّهِ وَ یَدْعُو إِلَى سَبِیلِ اللَّهِ بِالْحِکْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَ الْحُجَّةِ الْبَالِغَةِ الْإِمَامُ کَالشَّمْسِ الطَّالِعَةِ الْمُجَلِّلَةِ بِنُورِهَا لِلْعَالَمِ وَ هُوَ بِالْأُفُقِ حَیْثُ لَا تَنَالُهُ الْأَبْصَارُ وَ لَا الْأَیْدِی الْإِمَامُ الْبَدْرُ الْمُنِیرُ وَ السِّرَاجُ الزَّاهِرُ وَ النُّورُ الطَّالِعُ وَ النَّجْمُ الْهَادِی فِی غَیَابَاتِ الدُّجَى وَ الدَّلِیلُ عَلَى الْهُدَى وَ الْمُنْجِی مِنَ الرَّدَى

Imam adalah api di atas tempat tinggi yang menghangatkan orang yang mencari kehangatan, dan penunjuk jalan di tempat-tempat membinasakan; siapa yang berpisah darinya akan binasa. Imam adalah awan yang menurunkan hujan, hujan lebat yang mencurah, langit yang menaungi, bumi yang terhampar, mata air yang deras, kolam (ghadir), dan taman. Imam adalah orang kepercayaan yang menyertai, ayah yang penyayang, saudara kandung, dan bagaikan ibu yang baik kepada anak kecilnya, serta tempat berlindung para hamba. Imam adalah kepercayaan Allah di bumi dan makhluk-Nya, hujah-Nya atas hamba-hamba-Nya, khalifah-Nya di negeri-negeri-Nya, penyeru kepada Allah, dan pembela kehormatan Allah. Imam disucikan dari dosa, bersih dari aib, dikhususkan dengan ilmu, ditandai dengan kesantunan, tatanan agama, kemuliaan kaum muslimin, kemurkaan bagi orang-orang munafik, dan kebinasaan bagi orang-orang kafir. Imam adalah satu-satunya di zamannya, tidak ada seorang pun yang mendekatinya (menyamainya), tidak ada orang alim yang setara dengannya, tidak ditemukan pengganti baginya, dan tidak ada yang serupa maupun sebanding dengannya. Ia dikhususkan dengan segala keutamaan tanpa ia memintanya maupun mengusahakannya, melainkan kekhususan dari Sang Pemberi Karunia Yang Maha Pemberi.

الْإِمَامُ النَّارُ عَلَى الْیَفَاعِ الْحَارُّ لِمَنِ اصْطَلَى وَ الدَّلِیلُ فِی الْمَهَالِکِ مَنْ فَارَقَهُ فَهَالِکٌ الْإِمَامُ السَّحَابُ الْمَاطِرُ وَ الْغَیْثُ الْهَاطِلُ وَ السَّمَاءُ الظَّلِیلَةُ وَ الْأَرْضُ الْبَسِیطَةُ وَ الْعَیْنُ الْغَزِیرَةُ وَ الْغَدِیرُ وَ الرَّوْضَةُ الْإِمَامُ الْأَمِینُ الرَّفِیقُ وَ الْوَلَدُ الشَّفِیقُ وَ الْأَخُ الشَّقِیقُ وَ کَالْأُمِّ الْبَرَّةِ بِالْوَلَدِ الصَّغِیرِ وَ مَفْزَعُ الْعِبَادِ الْإِمَامُ أَمِینُ اللَّهِ فِی أَرْضِهِ وَ خَلْقِهِ وَ حُجَّتُهُ عَلَى عِبَادِهِ وَ خَلِیفَتُهُ فِی بِلَادِهِ وَ الدَّاعِی إِلَى اللَّهِ وَ الذَّابُّ عَنْ حَرِیمِ اللَّهِ الْإِمَامُ مُطَهَّرٌ مِنَ الذُّنُوبِ مُبَرَّأٌ مِنَ الْعُیُوبِ مَخْصُوصٌ بِالْعِلْمِ مَوْسُومٌ بِالْحِلْمِ نِظَامُ الدِّینِ وَ عِزُّ الْمُسْلِمِینَ وَ غَیْظُ الْمُنَافِقِینَ وَ بَوَارُ الْکَافِرِینَ الْإِمَامُ وَاحِدُ دَهْرِهِ لَا یُدَانِیهِ أَحَدٌ وَ لَا یُعَادِلُهُ عَالِمٌ وَ لَا یُوجَدُ لَهُ بَدَلٌ وَ لَا لَهُ مِثْلٌ وَ لَا نَظِیرٌ مَخْصُوصٌ بِالْفَضْلِ کُلِّهِ مِنْ غَیْرِ طَلَبٍ مِنْهُ وَ لَا اکْتِسَابٍ بَلِ اخْتِصَاصٌ مِنَ الْمُفْضِلِ الْوَهَّابِ

Maka siapakah yang dapat mencapai pengenalan akan Imam atau hakikat sifatnya? Tidak mungkin, tidak mungkin! Akal tersesat, pikiran melayang, hati bingung, para orator terdiam, para penyair tumpul, para sastrawan lemah, para ahli balaghah gagap, dan para ulama bungkam dari mendeskripsikan satu urusan dari urusannya atau satu keutamaan dari keutamaannya, dan mereka mengakui kelemahan dan kekurangan. Maka bagaimana mungkin ia disifati secara keseluruhannya, atau digambarkan bagaimana keadaannya, atau ditemukan orang yang menempati kedudukannya, atau yang dapat mencukupi (menggantikan) perannya? Dan bagaimana mungkin (itu terjadi) sedangkan ia laksana bintang yang jauh dari jangkauan orang-orang yang ingin meraihnya dan dari deskripsi para pendeskripsi. Apakah mereka menyangka bahwa hal itu dapat ditemukan pada selain Keluarga Rasulullah saw? Demi Allah, diri mereka telah membohongi mereka dan kebatilan telah memberi harapan kosong kepada mereka, ketika mereka mendaki pendakian yang sulit dan tempat yang licin, yang menggelincirkan kaki-kaki mereka ke jurang kehinaan, ketika mereka hendak menegakkan (mengangkat) seorang Imam dengan pendapat mereka. Dan bagaimana mungkin mereka memilih Imam? Padahal Imam adalah orang alim yang tidak bodoh, penggembala yang tidak menipu, tambang kenabian yang tidak dicela nasabnya.

فَمَنْ ذَا یَبْلُغُ مَعْرِفَةَ الْإِمَامِ أَوْ کُنْهَ وَصْفِهِ هَیْهَاتَ هَیْهَاتَ ضَلَّتِ الْعُقُولُ وَ تَاهَتِ الْحُلُومُ وَ حَارَتِ الْأَلْبَابُ وَ حَصِرَتِ الْخُطَبَاءُ وَ کَلَّتِ الشُّعَرَاءُ وَ عَجَزَتِ الْأُدَبَاءُ وَ عَیِیَتِ الْبُلَغَاءُ وَ فَحَمَتِ الْعُلَمَاءُ عَنْ وَصْف‏ شَأْنٍ مِنْ شَأْنِهِ أَوْ فَضِیلَةٍ مِنْ فَضَائِلِهِ فَأَقَرَّتْ بِالْعَجْزِ وَ التَّقْصِیرِ فَکَیْفَ یُوصَفُ بِکُلِّیَّتِهِ أَوْ یُنْعَتُ بِکَیْفِیَّتِهِ أَوْ یُوجَدُ مَنْ یَقُومُ مَقَامَهُ أَوْ یُغْنِی غِنَاهُ وَ أَنَّى وَ هُوَ بِحَیْثُ النَّجْمُ عَنْ أَیْدِی الْمُتَنَاوِلِینَ وَ وَصْفِ الْوَاصِفِینَ أَ یَظُنُّونَ أَنَّهُ یُوجَدُ ذَلِکَ فِی غَیْرِ آلِ رَسُولِ اللَّهِ ص کَذَبَتْهُمْ وَ اللَّهِ أَنْفُسُهُمْ وَ مَنَّتْهُمُ الْأَبَاطِیلُ إِذِ ارْتَقَوْا مُرْتَقًى صَعْباً وَ مَنْزِلًا دَحْضاً زَلَّتْ بِهِمْ إِلَى الْحَضِیضِ أَقْدَامُهُمْ إِذْ رَامُوا إِقَامَةَ إِمَامٍ بِآرَائِهِمْ وَ کَیْفَ لَهُمْ بِاخْتِیَارِ إِمَامٍ وَ الْإِمَامُ عَالِمٌ لَا یَجْهَلُ وَ رَاعٍ لَا یَمْکُرُ مَعْدِنُ النُّبُوَّةِ لَا یُغْمَزُ فِیهِ بِنَسَب‏

Dan tidak ada orang yang memiliki kedudukan yang dapat menyamainya. Rumahnya dari Quraisy, puncaknya dari Hasyim, dan keturunannya dari Rasul saw, kemuliaan dari segala kemuliaan, dan cabang dari Abdu Manaf. Ilmunya berkembang, kesantunannya sempurna, kuat dalam urusan, ahli dalam politik (siyasah), berhak atas kepemimpinan, wajib ditaati, pelaksana perintah Allah, dan penasihat bagi hamba-hamba Allah. Sesungguhnya para nabi dan washi as, Allah memberi taufik kepada mereka, meneguhkan mereka, dan memberikan kepada mereka dari perbendaharaan ilmu dan hikmah-Nya apa yang tidak Dia berikan kepada selain mereka, sehingga ilmu mereka berada di atas ilmu orang-orang sezaman mereka. Dan sungguh Allah Jalla wa 'Azza telah berfirman: 'Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) ia diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?' [Ayat 35 Surah Yunus] Dan Dia berfirman dalam kisah Thalut: 'Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya'. [Ayat 247 Surah Al-Baqarah] Dan Dia berfirman dalam kisah Daud as: 'Dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya'. [Ayat 251 Surah Al-Baqarah]

وَ لَا یُدَانِیهِ ذُو حَسَبٍ فَالْبَیْتُ مِنْ قُرَیْشٍ وَ الذِّرْوَةُ مِنْ هَاشِمٍ وَ الْعِتْرَةُ مِنَ الرَّسُولِ ص شَرَفُ الْأَشْرَافِ وَ الْفَرْعُ عَنْ عَبْدِ مَنَافٍ نَامِی الْعِلْمِ کَامِلُ الْحِلْمِ مُضْطَلِعٌ بِالْأَمْرِ عَالِمٌ بِالسِّیَاسَةِ مُسْتَحِقٌّ لِلرِّئَاسَةِ مُفْتَرَضُ الطَّاعَةِ قَائِمٌ بِأَمْرِ اللَّهِ نَاصِحٌ لِعِبَادِ اللَّهِ إِنَّ الْأَنْبِیَاءَ وَ الْأَوْصِیَاءَ ص یُوَفِّقُهُمُ اللَّهُ وَ یُسَدِّدُهُمْ وَ یُؤْتِیهِمْ مِنْ مَخْزُونِ عِلْمِهِ وَ حِکْمَتِهِ مَا لَا یُؤْتِیهِ غَیْرُهُمْ یَکُونُ عِلْمُهُمْ فَوْقَ عِلْمِ أَهْلِ زَمَانِهِمْ وَ قَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَ عَزَّ- أَ فَمَنْ یَهْدِی إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ یُتَّبَعَ أَمَّنْ لا یَهِدِّی إِلَّا أَنْ یُهْدى‏ فَما لَکُمْ کَیْفَ تَحْکُمُونَ وَ قَالَ تَعَالَى فِی قِصَّةِ طَالُوتَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفاهُ عَلَیْکُمْ وَ زادَهُ بَسْطَةً فِی الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ وَ اللَّهُ یُؤْتِی مُلْکَهُ مَنْ یَشاءُ وَ قَالَ فِی قِصَّةِ دَاوُدَ ع وَ قَتَلَ داوُدُ جالُوتَ وَ آتاهُ اللَّهُ الْمُلْکَ وَ الْحِکْمَةَ وَ عَلَّمَهُ مِمَّا یَشاءُ

Dan Dia berfirman kepada Nabi-Nya saw: 'Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu'. [Ayat 113 Surah An-Nisa] Dan Dia berfirman tentang para Imam dari Ahlulbait, itrah, dan keturunannya: 'ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?' hingga firman-Nya 'api neraka yang menyala-nyala'. [Ayat 54 dan 55 Surah An-Nisa] Dan sesungguhnya seorang hamba jika Allah memilihnya untuk urusan hamba-hamba-Nya, Dia melapangkan dadanya untuk itu, menitipkan sumber-sumber hikmah di hatinya, dan melancarkan lidahnya, sehingga setelah itu ia tidak akan kesulitan dalam menjawab dan tidak akan ditemukan padanya selain kebenaran. Maka ia diberi taufik, diteguhkan, dan didukung; ia aman dari kesalahan dan kekeliruan. Allah mengkhususkannya dengan hal itu agar ia menjadi hujah atas makhluk-Nya dan saksi atas hamba-hamba-Nya. Maka apakah mereka mampu (menemukan) yang seperti ini lalu mereka memilihnya, sehingga pilihan mereka memiliki sifat ini?[27]

وَ قَالَ لِنَبِیِّهِ ص وَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَیْکَ الْکِتابَ وَ الْحِکْمَةَ وَ عَلَّمَکَ ما لَمْ تَکُنْ تَعْلَمُ وَ کانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَیْکَ عَظِیماً وَ قَالَ فِی الْأَئِمَّةِ مِنْ أَهْلِ بَیْتِهِ وَ عِتْرَتِهِ وَ ذُرِّیَّتِهِ- أَمْ یَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلى‏ ما آتاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِلَى قَوْلِهِ سَعِیراً وَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اخْتَارَهُ اللَّهُ لِأُمُورِ عِبَادِهِ شَرَحَ صَدْرَهُ لِذَلِکَ وَ أَوْدَعَ قَلْبَهُ یَنَابِیعَ الْحِکْمَةِ وَ أَطْلَقَ عَلَى لِسَانِهِ فَلَمْ یَعْیَ بَعْدَهُ بِجَوَابٍ وَ لَمْ تَجِدْ فِیهِ غَیْرَ صَوَابٍ  فَهُوَ مُوَفَّقُ مُسَدَّدٌ مُؤَیَّدٌ قَدْ أَمِنَ مِنَ الْخَطَإِ وَ الزَّلَلِ خَصَّهُ بِذَلِکَ لِیَکُونَ ذَلِکَ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ شَاهِداً عَلَى عِبَادِهِ  فَهَلْ یَقْدِرُونَ عَلَى مِثْلِ هَذَا فَیَخْتَارُونَهُ فَیَکُونُ مُخْتَارُهُمْ بِهَذِهِ الصِّفَة


Catatan Kaki

  1. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15.
  2. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15.
  3. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 16.
  4. "Tafawut-e Amuzeha-ye Hadisi-ye Emam Reza (as) dar Madinah wa Marw", Situs Rasekhoon.
  5. Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1406 H, jld. 3, hlm. 486; Thaherzadeh, Emam va Emamat dar Takwin va Tasyri', 1390 HS, hlm. 25-38.
  6. Lihat: Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15-29.
  7. Maliki Mianji, Manahij al-Bayan, 1414 H, jld. 1, hlm. 347.
  8. Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1374 HS, jld. 2, hlm. 224.
  9. Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1374 HS, jld. 4, hlm. 282.
  10. Modarresi, Min Huda al-Quran, 1419 H, jld. 10, hlm. 338.
  11. Thabarsi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hlm. 433; Husaini Tehrani, Imam Syenasi, 1422 H, jld. 2, hlm. 108.
  12. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 25, hlm. 115 dan Ibnu Babawaih, Uyun Akhbar al-Ridha as, 1378 HS, jld. 1, hlm. 216.
  13. Hasyimi Khoei, Minhaj al-Bara'ah fi Syarh Nahj al-Balaghah, 1400 H, jld. 16, hlm. 102; Astarabadi, Al-Hasyiah ala Ushul al-Kafi, 1430 H, hlm. 142; Montazeri, Darasat fi Wilayah al-Faqih wa Fiqh al-Daulah al-Islamiyyah, 1409 H, jld. 1, hlm. 385.
  14. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 198.
  15. Shaduq, Al-Amali, Tehran, 1376 HS, hlm. 674.
  16. Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1363 HS, hlm. 436.
  17. Syekh Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah, 1395 H, jld. 2, hlm. 675.
  18. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 198.
  19. Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1363 HS, hlm. 436.
  20. Labbaf, Hadis-e Marw dar Miras-e Elmi-ye Tsiqatulislam Muhammad bin Ya'qub Kulaini, 1392 HS, hlm. 25-27.
  21. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15.
  22. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15.
  23. Hasyimi dkk, "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw", hlm. 15.
  24. Husaini Tehrani, Imam Syenasi, 1422 H, jld. 2, hlm. 108-115.
  25. Fattahizadeh dan Ahadian, "Tahlil-e Muhtawa-ye Riwayat-e Razavi", hlm. 79.
  26. Husaini Tehrani, Imam Syenasi, 1422 H, jld. 2, hlm. 108-115.
  27. Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1382 HS, hlm. 795-803.

Daftar Pustaka

  • Astarabadi, Mulla Muhammad Amin. Al-Hasyiah ala Ushul al-Kafi. Tahqiq: Mulla Khalil Qazwini dan Ali Fadhili. Qom, Dar al-Hadits, Cetakan Pertama, 1430 H.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Tahqiq: Qism al-Dirasat al-Islamiyyah Muassasah al-Bi'tsah. Qom, Muassasah al-Bi'tsah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin. Al-Wafi. Isfahan, Kitabkhane-ye Emam Amirul Mukminin Ali (as), Cetakan Pertama, 1406 H.
  • Fattahizadeh, Fathiyyah dan Husain Ahadian. "Tahlil-e Muhtawa-ye Riwayat-e Razavi darbare-ye Vijegi-ha wa Syakishe-ha-ye Emamat az Ketab al-Hujjah Kafi". Faslnameh Farhang-e Razavi, Tahun Keenam, No. 24, Musim Dingin 1397 HS.
  • Hasyimi Khoei, Mirza Habibullah. Minhaj al-Bara'ah fi Syarh Nahj al-Balaghah. Penerjemah: Hasan Hasanzadeh Amuli dan Muhammad Baqir Kamarehi; Tahqiq: Ibrahim Mianji. Tehran, Maktabah al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1400 H.
  • Hasyimi dkk. "Tabyin-e Sabk va Uslub-e Ihtijaj-e Emam Reza dar Hadis-e Marw dar Zamine-ye Luzum-e Tab'iyat az Hujjat-e Ilahi (ba Mehvariyat-e Ketab al-Hujjah Kafi) bar Asas-e Nazariye-ye Konesy-e Goftari-ye John Searle". Majalleh Pazhuhesy-e Dini, No. 45, Musim Gugur dan Musim Dingin 1401 HS.
  • Husaini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Imam Syenasi. Masyhad, Muassasah Tarjumeh wa Nasyr-e Dore-ye Ulum wa Ma'arif-e Eslam, Cetakan Pertama, 1422 H.
  • Ibnu Babawaih (Syekh Shaduq), Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha as. Penerjemah: Ali Akbar Ghaffari dan Hamid Ridha Mustafid. Tehran, Nasyr-e Shaduq, Cetakan Pertama, 1378 HS.
  • Ibnu Syu'bah Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-Uqul. Penerjemah: Shadiq Hasanzadeh. Qom, Entisyarat-e Ale Ali as, Cetakan Pertama, 1382 HS.
  • Ibnu Syu'bah Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-Uqul. Tahqiq: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Jame'eh Mudarrisin, Cetakan Kedua, 1404 H / 1363 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tashih: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Labbaf, Ali. Hadis-e Marw dar Miras-e Elmi-ye Tsiqatulislam Muhammad bin Ya'qub Kulaini. Tehran, Munir, 1392 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
  • Maliki Mianji, Muhammad Baqir. Manahij al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran, Vezarat-e Farhang va Ershad-e Eslami, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Modarresi, Muhammad Taqi. Min Huda al-Quran. Tehran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Montazeri, Husain Ali. Darasat fi Wilayah al-Faqih wa Fiqh al-Daulah al-Islamiyyah. Qom, Al-Markaz al-Alami li al-Dirasat al-Islamiyyah, Cetakan Kedua, 1409 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Tehran, Ketabchi, Cetakan Keenam, 1376 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah. Tehran, Islamiyyah, Cetakan Kedua, 1395 H.
  • "Tafawut-e Amuzeha-ye Hadisi-ye Emam Reza (as) dar Madinah wa Marw". Situs Rasekhoon, Tanggal kunjungan: 25 Azar 1404 HS.
  • Thaherzadeh, Asghar. Emam va Emamat dar Takwin va Tasyri'. Isfahan, Lobbul Mizan, 1390 HS.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj ala Ahl al-Lajaj. Tahqiq: Muhammad Baqir Kharsan. Nasyr-e Mortadha, Cetakan Pertama, 1403 H.