Lompat ke isi

Konsep:Ayat 169 Surah Ali 'Imran

Dari wikishia
Ayat 169 Surah Ali 'Imran
Informasi Ayat
SurahAli 'Imran
Ayat169
Juz4
Informasi Konten
Sebab
Turun
Setelah Perang Uhud
Tempat
Turun
Madinah
TentangLarangan menganggap mati orang-orang yang gugur di jalan Allah
Ayat-ayat terkaitAyat 154 Surah Al-Baqarah, Ayat 168 dan Ayat 170 Surah Ali 'Imran.


Ayat 169 Surah Ali 'Imran merujuk pada kelanjutan kehidupan para syuhada dan perolehan nikmat-nikmat khusus dari Tuhan bagi mereka di alam Barzakh. Berdasarkan syan nuzul ayat ini, misdaqnya adalah para syuhada Perang Uhud; namun dengan memperhatikan kandungannya yang bersifat umum, banyak pihak meyakini bahwa ayat ini mencakup seluruh syuhada. Sebagian juga berpandangan bahwa ayat ini mencakup siapa pun yang terbunuh di jalan Allah, meskipun hukum-hukum (fikih) syahid tidak berlaku atasnya.

Pengenalan dan Kedudukan

Ayat 169 Surah Ali 'Imran termasuk di antara ayat-ayat Madaniyah Al-Qur'an.[1] Turunnya ayat ini dianggap terjadi setelah Perang Uhud.[2] Dalam ayat sebelumnya, kaum munafik dikecam dikarenakan pandangan merendahkan mereka terhadap para syuhada Uhud. Dalam ayat 169, disebutkan: Janganlah mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; melainkan mereka melanjutkan kehidupan mereka di alam lain dan memperoleh nikmat-nikmat Ilahi.[3]

Dalam kitab Ihtijaj Thabarsi disebutkan bahwa Sayidah Zainab sa dalam khotbah masyhurnya di majelis Yazid bin Muawiyah, membacakan ayat ini untuk mendeskripsikan Syuhada Karbala.[4] Selain itu, ayat "wa la tahsabannalladzina qutilu..." terpasang pada bagian dalam zarih Haram Hazrat Abbas as (pemasangan: tahun 2016).[5]

Ayat ini juga banyak digunakan dalam majelis peringatan (haul)[6] serta pesan-pesan yang berkaitan dengan para syahid.[7]

Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (yang gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki;


Maksud dari Orang yang Gugur di Jalan Allah

Templat:Kotak kutipan

Beberapa mufasir menganggap maksud dari "orang-orang yang gugur di jalan Allah" adalah para syuhada Uhud; kelompok lain menganggapnya mencakup syuhada Badar, dan sebagian lagi menganggapnya syuhada peristiwa Bi'r Ma'unah.[8] Tafsir Nemuneh dengan memperhatikan syan nuzul ayat, menganggapnya mengenai syuhada Uhud; namun berdasarkan kandungan umum ayat dan sebuah hadis dari Imam Muhammad Baqir as, ia menganggapnya mencakup seluruh syuhada.[9]

Dalam Tafsir al-Qumi, dinukil sebuah hadis dari Imam Shadiq as berkaitan dengan ayat ini dan ayat selanjutnya ("farihina bima atahumullah min fadhlih") yang mana berdasarkan itu, kaum Syiah dianggap sebagai salah satu misdaq ayat; yakni orang-orang yang saat masuk ke Surga dan berhadapan dengan kemuliaan Ilahi, memberikan kabar gembira kepada saudara-saudara seiman mereka.[10]

Sayid Abdul Husain Thayyib (wafat: 1991), salah seorang mufasir Syiah, juga menganggap ayat ini mengenai siapa pun yang terbunuh di jalan Allah, meskipun hukum syahid tidak berlaku atasnya; seperti para Imam as, sahabat mereka, ulama, dan kaum mukminin yang mengorbankan nyawa di jalan agama. Hal ini dikarenakan ayat menggunakan ungkapan "maqtuul fī sabīlillāh".[11]

Imam Khomeini pun dalam sebuah pesan, menggunakan ayat ini untuk mendeskripsikan para syuhada Perang Iran-Irak dan menyatakan: "Seandainya tidak ada bagi para syuhada di jalan Allah kecuali ayat ini saja, niscaya itu sudah cukup untuk memperkenalkan kedudukan tinggi mereka."[12]

Kehidupan Syahid Setelah Mati

Ayat "wa la tahsabannalladzina qutilu..." digunakan untuk membuktikan eksistensi alam Barzakh.[13] Para mufasir menafsirkan kehidupan yang disebutkan bagi para syuhada dalam ayat ini sebagai kehidupan barzakhi; bukan kehidupan materiil dan bukan pula hayat surgawi di alam akhirat.[14]

Meskipun kehidupan barzakhi tidak terbatas pada para syuhada saja, namun dikarenakan karakteristik khusus dan nikmat maknawi melimpah yang dimiliki oleh hayat para syuhada, Al-Qur'an hanya merujuk kepada mereka.[15] Beberapa pihak juga dengan bersandar pada ayat ini yang memperkenalkan syuhada sebagai sosok yang hidup, menganggap tawasul kepada mereka dan para wali Ilahi lainnya sebagai hal yang diperbolehkan.[16]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 2, hal. 693.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 168.
  3. Faidh al-Islam, Terjemah wa Tafsir-e Qur'an, 1378 HS, jld. 1, hal. 148 dan 149.
  4. Thabarsi, al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hal. 309.
  5. "Prasasti pertama zarih Hazrat Abbas (as)", Jaringan Global al-Kafeel.
  6. Sebagai contoh lihat "Peringatan Syuhada Intelijen Fars", Kantor Berita IQNA.
  7. Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, 1389 HS, jld. 18, hal. 325.
  8. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 2, hal. 881.
  9. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 2, hal. 881; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 169.
  10. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 127.
  11. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 3, hal. 425.
  12. Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, 1389 HS, jld. 18, hal. 325.
  13. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 1, hal. 349.
  14. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 4, hal. 72; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 170.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 170.
  16. Qara'ati, Mohsen, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 2, hal. 195 dan jld. 5, hal. 194.

Daftar Pustaka

  • "Inskripsi pertama zarih Hazrat Abbas (as)", Jaringan Global al-Kafeel, tanggal publikasi: 30 Maret 2016 M, tanggal kunjungan: 6 Mehr 1402 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Sahifeh-ye Imam. Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini (s), 1389 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lujaj. Koreksi: Kharsan, Muhammad Baqir. Masyhad: Nasyr-e Murtadha, Cetakan Pertama, 1403 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Mukadimah: Balaghi, Muhammad Javad. Teheran: Nasir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1382 HS.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Penerbit Islam, Cetakan Kedua, 1378 HS.
  • Faidh al-Islam, Sayid Ali-Naqi. Terjemah wa Tafsir-e Qur'an. Teheran: Penerbit Faqih, Cetakan Pertama, 1378 HS.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaze Farhangi Dars-hai az Qur'an, Cetakan Kesebelas, 1383 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Riset dan koreksi: Musawi Jaza'iri, Sayid Tayyib. Qom: Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1404 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • "Peringatan Syuhada Intelijen Fars", Kantor Berita IQNA, tanggal publikasi: 21 Dey 1391 HS, tanggal kunjungan: 6 Mehr 1402 HS.