Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Ulul Azmi

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Ulul Azmi (bahasa Arab:اولوالعزم) berarti orang-orang yang memiliki keteguhan hati. Beberapa nabi disebut dengan Ulul Azmi. Ada beberapa makna yang disebutkan untuk kalimat ‘Azm, seperti kebulatan tekad, kehendak dan janji. Kata Ulul Azmi dituturkan sekali dalam Al-Quran, dalam surah Al-Ahqaf, «فَاصْبِرْ کما صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُل» “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar” (Q.S. Al-Ahqaf: 35).

Ada banyak pendapat tentang siapa yang dimaksud Ulul Azmi dan apakah risalah mereka universal atau terbatas. Pendapat masyhur tentang istilah tersebut adalah lima nabi pemilik syariat, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad As.

Maksud Ulul Azmi

“Ulu” berarti pemilik dan “‘Azm” secara bahasa berarti kebulatan tekad yang kokoh. Raghib dalam Al-Mufradāt mengatakan, ‘Azm berarti keteguhan hati untuk melakukan pekerjaan. [1] Dalam penulisan marak Persia, dua alif yang ada dalam Ulu al-Azmi ditulis sekali. [2]

Ada tiga pendapat yang dipaparkan tentang apa maksud Ulul Azmi dan siapakah para nabi Ulul Azmi:

Orang-orang yang memiliki Kesabaran dan Ketabahan Hati

Sebagian menganggap ‘Azm berartikan ketabahan hati dan menafsirkan nabi Ulul Azmi sebagai para nabi yang memiliki ketabahan dan pengembanan atas kesukaran dan problem dakwah hukum-hukum Ilahi, karena dalam ayat Ulul Azmi, diantara sifat-sifat yang ada, sifat ketabahan diketengahkan sebagai sebuah sifat istimewa untuk para nabi Ulul Azmi. [3]

Orang-orang Yang Teguh

Sebagian mufassir dengan bersandar pada sebagian riwayat, menganggap ‘Azm dalam kalimat Ulul Azmi dengan arti ‘Ahd (janji/komitmen) dan mengungkapkan makna ini dari sebagian ayat-ayat Al-Quran, seperti dalam surah Al-Ahzab ayat 7 dan 8; dalam ayat-ayat tersebut mengisyaratkan masalah pengambilan janji dan mitsaq (perjanjian) dari para nabi-nabi agung, seperti nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad As. Demikian juga, dalam ayat-ayat lain dikemukakan bahwa nama nabi Adam, yang telah gagal dalam mengamalkan janji dan mitsaq dan diungkapkan tidak memiliki ‘Azm karena kegagalan tersebut. (Q.S. Thaha: 115).

Dengan demikian, ‘Azm berarti ‘ahd dan mitsaq[4] , maksud dari Ulul Azmi adalah para nabi yang mana Allah telah mengambil janji mereka atas penghambaan dan ketaatan penuh dirinya [5] atau atas kewilayahan nabi terakhir dan Ahlulbaitnya. [6]

Pemilik Syariat

Sejumlah penafsir lain dengan melihat sebagian riwayat menafsirkan nabi Ulul Azmi sebagai para nabi yang memiliki kitab dan syariat[7] , semisalnya dalam riwayat Imam Ridha As ditanya, kenapa sebagian para nabi disebut dengan Ulul Azmi, beliau menjawab: karena nabi Nuh As diutus bersama dengan kitab dan syariat dan barang siapa yang datang setelahnya harus beramal sesuai dengan kitab, syariat dan metodenya sampai pada akhirnya Nabi Ibrahim As datang dengan membawa kitab dan shuhuf baru dan setiap nabi yang datang setelahnya harus beramal sesuai dengan syariat nabi Ibarhim As, kemudian Nabi Musa As datang dan membawa kitab Taurat dan setelahnya juga Isa al-Masih membawa ajaran baru dengan kitab Injil dan sampai masa Rasulullah Saw, kesemuanya harus beramal sesuai dengan syariat Nabi Isa As, Rasulullah Saw datang dengan membawa Al-Quran dan syariat baru, dimana halal dan haramnya akan terus tetap ada sampai tibanya hari kiamat. [8]

Sebagian para nabi meskipun memiliki kitab Samawi, namun kitab mereka bukanlah kitab hukum, syariat, tidak independen dan tidak baru, sebagainama Nabi Adam, Tsits, Idris dan Daud As, juga memiliki kitab, namun mereka bukanlah nabi Ulul Azmi. [9]

Jumlah Nabi Ulul Azmi

Terdapat perbedaan pendapat antara para mufassir terkait jumlah dan wuju pada nabi Ulul Azmi:

Semua Utusan Allah

Semua mufassir berkeyakinan bahwa kata “Min” dalam ayat Ulul Azmi min al-Rusul adalah Bayaniyah (yakni menjelaskan maksud dari kalimat sebelumnya) dan keteguhan, ketabahan dan hal-hal yang diujikan Allah Swt termasuk kriteria semua para utusan Allah. [10] Namun, di sini perlu perbedaan antara rasul dan nabi diperhatikan secara seksama.

Sebagian Utusan Allah

Mayoritas mufassir berkeyakinan bahwa kata “Min” dalam ayat tersebut adalah untuk “Tab’idh” dan dengan demikian hanya mencakup kelompok khusus para rasul Ulul Azmi saja. [11]

Sebagian dari mereka menganggap Ulul Azmi tersebut hanya terbatas 18 rasul saja, dimana nama-nama mereka telah dicantumkan dalam surat Al-An’am: 82-90, kemudian, setelah nama para nabi-nabi tersebut Allah Swt berfirman, «فَبِهُداهُمُ اقتَدِه», “Maka ikutilah petunjuk mereka” dan sebagian dari mereka – berdasarkan sebagian riwayat – menganggap nabi Ulul Azmi berjumlah 9 orang dan sebagian lain juga memperkenalkan mereka hanya 6 atau 7 orang. [12]

Allamah Thabathabai dan sebagian mufassir lainnya meyakini Ulul Azmi adalah lima nabi pemilik syariat, yakni nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad[13] dan meyakini riwayat-riwayat yang menunjukkan masalah tersebut sangatlah mendetail dan terperinci. [14] Namun sebaliknya, sebagian lainnya berkeyakinan karena riwayat-riwayat tersebut tidak mutawatir, maka tidaklah menghasilkan yakin dan dari ayat-ayat Al-Quran tidak ada yang menunjukkan secara pasti akan pembatasan para nabi pemilik syariat hanya pada lima orang saja. [15] [16]

Para Nabi Ulul Azmi dan Risalah Universal

Dengan demikian, maksud dari nabi Ulul Azmi adalah para nabi yang memiliki syariat. Lantas apakah risalah mereka universtal ataukah setiap dari mereka diutus untuk kaum tertentu saja? Yang jelas tidak diragukan lagi tentang universalitas risalah Rasulullah (Saw) dan sama sekali tidak ada perselisihan, namun ada tiga pendapat yang diketengahkan tentang para nabi Ulul Azmi lainnya:

Universalitas Risalah Semua Rasul

Sebagian mufassir seperti Allamah Thabathabai meyakini bahwa risalah nabi Ulul Azmi adalah universal. Beliau telah membawakan bukti-bukti dari ayat-ayat Al-Quran untuk membuktikan klaim tersebut[17] dan menjelaskan bahwa nabi Ulul Azmi dan pemilik kitab memiliki dua jenis ajakan, salah satunya mengajak penyembahan Allah, tauhid dan penafian syirik, dan lainnya adalah mengajak pada hukum dan syariat khusus. Ajakan pertama adalah universal, berbeda dengan ajakan kedua, yang diperuntukkan bagi kaum tertentu saja dan kaum tersebut berkewajiban untuk mengamalkan hukum-hukum tersebut.

Universalitas Risalah Sebagian Rasul

Risalah nabi Ulul Azmi tidaklah universal. Semisalnya nabi Musa As dan Isa hanya diutus untuk Bani Israel dan dakwah mereka hanya dikhususkan untuk kaum tersebut. Sebagian ayat juga secara lahiriah menguatkan klaim tersebut, seperti Wa Rasulan ila Bani Israil (Q.S. Ali Imran: 49) dan juga maksud ayat-ayat lainnya secara lahiriah seperti surah as-Shaff: 6; Al-Isra: 101; Thaha: 47; al-Syu’ara: 17; al-Ghafir: 53. Dengan demikian tidak ada korelasi antara nabi pemilik syariat (Ulul Azmi) dan universalitas risalahnya.

Perincian

Pendapat ketiga adalah jika makna universalitas adalah seorang nabi berkewajiban menyampaikan risalahnya tidak hanya sebatas pada kaumnya semata, yakni menghantarkan kepada semua kaum dan bangsa dunia, maka banyak dari risalah para nabi, bahkan risalah nabi Musa As dan Isa As tidaklah universal. Namun jika universalitas diartikan kelaziman penyampaian risalah saat berjumpa dengan kaum-kaum lain dan kelaziman mengikutinya semua orang-orang yang mengenal agama baru, maka risalah semua para nabi adalah universal. Dengan demikian, dengan satu makna universalitas, dakwah para nabi bukanlah universal dan dengan arti lain, risalah mereka adalah universal. [18]

Disebutkan bahwa masalah para nabi Ulul Azmi dan hubungannya dengan wilayah para Imam maksum As dibahas dalam pelbagai riwayat[19] , seperti riwayat-riwayat yang memperkenalkan para Imam As sebagai para pewaris ilmu, mukjizat dan keutamaan para nabi Ulul Azmi. [20]

Catatan Kaki

  1. Mufradāt, Raghib, kata ‘Azm.
  2. Farhangge Imlai Khāt Farsi, hlm. 79.
  3. Tafsir Amuli, jild. 7, hlm. 533; Tafsir Āyat al-Ahkām, hlm. 680; Tafsir Marāghi, jild. 21, hlm. 132; Al-Tahrir wa al-Tanwir, jild. 26, hlm. 57.
  4. Tafsir Al-Qurān al-Adzim, jild. 6, hlm. 342 dan Kanz al-Daqā’iq, jild. 8, hlm. 360.
  5. Bihār al-Anwār, jild. 11, hlm. 35 dan Tafsir Al-Quran al-Karim, jild. 6, hlm. 342.
  6. Bihār al-Anwār, jild. 11, hlm. 35; Al-Mizān, jild. 2, hlm. 213; Tafsir al-Shāfi, jild. 3, hlm. 342; Tafsir Qummi, jild. 2, hlm. 66 dan Kanz al-Daqā’iq, jild. 8, hlm. 360.
  7. Al-Mizān, jild. 2, hlm. 213; Jawāmi’ al-Jāmi’, jild. 6, hlm. 27, 29; Ruh al-Bayān, jild. 8, hlm. 495; Kanz al-Daqāid, jild. 12, hlm. 203 dan Tafsir al-Mubin, hlm. 550.
  8. Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, jild. 5, hlm. 51; Kanz al-Daqā’iq, jild. 12, hlm. 206; Tafsir al-Burhān, jild. 4, hlm. 80 dan ‘Uyun Akhbār al-Ridhā, jild. 2, hlm. 178.
  9. Al-Mizān, jild. 2, hlm. 142; Tarjumeh Al-Mizān, jild. 2, hlm. 213.
  10. Tanwir, hlm. 426; Syaikh Thusi, jild. 9, hlm. 287; Zamakhsyari, jild. 4, hlm. 313; Fakhruddin, jild. 27, hlm. 35.
  11. Tanwir, hlm. 426; Syaikh Thusi, jild. 9, hlm. 287; Zamakhsyari, jild. 4, hlm. 313; Fakhruddin, jild. 27, hlm. 35.
  12. Al-Mizan, jild. 18, hlm. 333; Ruh al-Ma’ani, jild. 26, hlm. 34 dan 35.
  13. Al-Mizan, jild. 2, hlm. 213; Al-Burhan, jild. 3, hlm. 776; Tafsir Maraghi, jild. 21, hlm. 132 dan jild. 26, hlm. 29.
  14. Al-Mizan, jild. 2, hlm. 145, 146 dan jild. 18, hlm. 220.
  15. Ruh al-Ma’ani, jild. 18, hlm. 333.
  16. Rah wa Rahshenasi, jild. 5, hlm. 329.
  17. Al-Mizan, jild. 2, hlm. 141, 142.
  18. Rah wa Rahshenasi, jild. 5, hlm. 46.
  19. Shaffar, 61; Kulaini, jild. 1, hlm. 416; Majlisi, jild. 26, hlm. 382, jild. 44, hlm. 226.
  20. Bihar al-Anwar, jild. 2, hlm. 205.

Daftar Pustaka

  • Bihār al-Anwār, Majlisi, Muhammad Baqir, Tehran, Al-Maktabah al-Islamiyyah.
  • Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, Bahrani, Sayid Hasyim, Qom, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1339 H.
  • Al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibn Āsyur, Muhammad bin Thahir, Bi Ta.
  • Tafsir Āyat al-Ahkām, al-Sayid, Muhammad Ali, Bi Ta.
  • Tafsir al-Shāfi, Faidh Kasyani, Mulla Muhsen, Intisyarat Sadr, Tehran, 1415 H.
  • Tafsir Al-Qurān al-Adzim, Ibn Katsir, Ismail, Beirut, Dar al-Andalus, 1416 H.
  • Tafsir al-Mubīn, Mughniyah, Muhammad Jawad, Bunyad Bi’tsat, Qom.
  • Tafsir Amuli, Amuli, Ibrahim, Tehran, Intisyārāt Shaduq, 1360 S.
  • Tafsir Qummi, Qummi, Ali bin Ibrahim, Qom, Dar al-kibat, 1367 H.
  • Tafsir Marāghi, Maraghi, Ahmad bin Mushtafa, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut.
  • Tafsir Al-Qurān al-Karim, Ibn Qayyim Jauzi, Muhammad bin Abu Bakar, Beirut, Dar Maktabah al-Hilal.
  • Jawāmi’ al-Jāmi’, Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Daneshgah Tehran, Tehran, 1377 S.
  • Rah wa Rahshenasi, Mishbah, Muhammad Taqi, Markas Mudiriyyat Hauzah Ilmiah Qom, 1376 H.
  • Ruh al-Bayān, Haqqi al-Barousawi, Ismail, Dar al-Fikr, Beirut, Bi Ta.
  • Ruh al-Ma’āni, Ālusi, Sayid Mahmud, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • ‘Uyun Akhbār al-Ridhā, Shaduq, Muhammad bin Ali, Tehran, Intisyarat Jahan.
  • Farhangge Imlāi Khat Farsi, Shadiqi, Ali Asyraf, Farhanggestan Zaban wa Adab Farsi, cet. 4, 1391 S.
  • Kanz al-Daqā’iq, Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha, Wezarat Irsyad Islami, Tehran, 1368 S.
  • Al-Mizān, Thabathabai, Muhammad Husain, Beirut, Muassasah al-A’lami, 1393 H.

Pranala Luar