Konsep:Istri Luth
| Istri Nabi Luth as | |
| Terkenal dengan | Istri Nabi Luth as |
|---|---|
| Kerabat termasyhur | Nabi Luth as (suami) |
| Tempat tinggal | Sodom |
| Wafat | Dalam azab Kaum Luth |
Istri Luth as adalah istri dari Nabi Luth as yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai contoh nyata dari kekufuran. Berdasarkan Ayat 10 Surah At-Tahrim, ia telah berkhianat kepada suaminya yang berstatus sebagai nabi. Menurut pernyataan para mufasir, yang dimaksud dengan pengkhianatan tersebut adalah membocorkan rahasia sang nabi dan bekerja sama dengan orang-orang kafir. Para mufasir Syiah dan sebagian mufasir Ahlusunnah berkeyakinan bahwa Allah dengan menjelaskan masalah ini, memberikan peringatan kepada Aisyah dan Hafshah, dua istri Nabi Akram saw, agar tidak berkhianat kepada beliau.
Istri Luth as, dikarenakan kekufuran dan pengkhianatannya, tertimpa Azab Ilahi sebagaimana Kaum Luth; namun Luth as dan putri-putrinya keluar dari kota dan selamat dari azab. Dalam Taurat disebutkan bahwa istri Luth as berubah menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang, dan tidak disebutkan mengenai pengkhianatan maupun kekufurannya. Beberapa penelitian menolak penisbatan sejumlah peninggalan batu atau garam kepada istri Luth as.
Pengenalan dan Kedudukan
Istri Luth as adalah istri dari salah satu para nabi yang diingat dalam Al-Qur'an dengan sebutan "Istri Luth as", dan dalam beberapa ayat dengan sebutan "perempuan tua" yang tertimpa azab bersama Kaum Luth.[1] Meskipun ia adalah istri seorang nabi, namun ia dikategorikan dalam barisan orang-orang kafir.[2] Beberapa pihak juga menganggapnya sebagai seorang munafik yang secara lahiriah menampakkan diri sebagai orang mukmin, namun di batinnya kafir.[3] Dikatakan bahwa istri Luth as tidaklah kafir sejak awal, melainkan ia terseret ke dalam kesesatan setelah nubuwwah Luth as.[4]
Beberapa nama seperti Waliha, Wali'ah,[5] Wahila,[6] dan Waghilah disebutkan untuk istri Luth as.[7] Ia berasal dari penduduk kota Sodom yang kemudian dinikahi oleh Nabi Luth as setelah beliau memasuki kota tersebut.[8] Kota ini dan beberapa kota di dekatnya merupakan wilayah aktivitas Nabi Luth as yang dalam Al-Qur'an secara kolektif disebut dengan Mu'tafikāt.[9]
Contoh Nyata Kekafiran
Dalam Al-Qur'an, istri Luth as disebutkan sebanyak tujuh kali.[10] Dalam Ayat 10 Surah At-Tahrim, ia diperkenalkan sebagai contoh nyata dari kekufuran;[11] dikarenakan ia berada di bawah pengawasan seorang nabi, namun ia justru terjerumus dalam kekafiran serta kemunafikan, sehingga ikatan keluarga ini tidak memberikan manfaat baginya dan pada akhirnya ia menjadi penghuni Jahanam.[12]
Pengkhianatan
Al-Qur'anul Karim dalam Ayat 10 Surah At-Tahrim memperkenalkan istri Luth as sebagai seorang pengkhianat.[13] Menurut pendapat para mufasir Al-Qur'an yang sebagian di antaranya mengklaim adanya Ijmak dalam hal tersebut, pengkhianatan istri Luth as adalah berupa kerja sama dengan musuh-musuhnya, kekufuran, dan membocorkan rahasia; bukan dalam makna terjerumus dalam dosa yang menafikan kehormatan (iffah).[14]
Ibnu Abbas menyebutkan bahwa pengkhianatan istri Luth as adalah dengan mengabarkan kepada Kaum Luth perihal keberadaan tamu di rumah nabi tersebut.[15] Berdasarkan nukilan at-Tibyan, Ibnu Abbas menganggap istri Nuh as dan Luth as sebagai munafik, di mana hasil dari kemunafikan mereka (tidak adanya iman) adalah dengan menyebut Nuh as gila dan mengabarkan keberadaan tamu-tamu (kehadiran para malaikat dalam rupa pemuda tampan).[16]
Para mufasir Al-Qur'an menganggap tujuan dari pemaparan materi ini adalah untuk memberikan peringatan kepada dua istri Nabi Muhammad saw yang telah membocorkan rahasia beliau. Peringatan ini bermakna bahwa sekadar menjadi istri seorang nabi tidak dapat menjadi penghalang bagi azab mereka.[17] Muqatil bin Sulaiman, (wafat 150 H)[18] dan beberapa mufasir Ahlusunnah lainnya menegaskan bahwa Allah dengan ayat-ayat ini, memberikan peringatan kepada Aisyah dan Hafshah atas tindakan melawan Nabi saw dan risiko terjerumus dalam Azab Ilahi.[19]
Azab Ilahi
Berdasarkan beberapa riwayat, ketika para malaikat azab datang ke rumah Luth as dalam rupa beberapa pria muda, istri Luth as mengabarkan kepada penduduk kota bahwa beberapa pria yang sangat tampan telah datang ke rumah Luth as.[20] Kaum Luth menyerbu rumahnya dari segala penjuru untuk melecehkan orang-orang tersebut. Mereka memasuki rumah Luth as, lalu Jibril atas izin Ilahi mencabut kemampuan penglihatan mereka.[21] Luth as bersama istri dan putri-putrinya keluar dari kota. Istri Luth as di tengah jalan menyadari kehancuran kaumnya. Ia merasa sedih karenanya dan memalingkan wajahnya ke arah mereka. Pada saat yang sama, sebuah batu datang dan membinasakannya.[22] Sebagian juga meyakini bahwa istri Luth as tetap tinggal di kota dan tertimpa azab di sana.[23]
Berdasarkan nukilan yang beberapa perawinya tertuduh berdusta dan melakukan pemalsuan hadis,[24] Abul Jald dari kalangan Tabiin, telah melihat patung batu istri Luth as. Dalam nukilan tersebut diklaim bahwa patung ini mengalami Haid setiap awal bulan.[25] Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa foto-foto yang dipublikasikan mengenai tiang garam atau tiang batu yang oleh sebagian orang dinisbatkan kepada istri Luth as adalah tidak nyata; karena menurut pernyataan beberapa geolog, usia peninggalan-peninggalan tersebut mencapai jutaan tahun.[26]
Laporan Kitab Suci
Menurut tulisan beberapa peneliti, dalam Taurat tidak disebutkan mengenai pengkhianatan maupun kekufuran istri Luth as, dan satu-satunya kesalahannya adalah menoleh ke belakang.[27] Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa para malaikat pergi ke rumah Luth as di kota Sodom. Pria-pria kota tersebut menyerbu rumah Luth as. Para malaikat membawa Luth as, istrinya, dan dua putrinya keluar dari kota.[28] Salah satu malaikat berkata jangan menoleh ke belakang. Istri Luth as menoleh ke belakang yaitu ke arah kota, dan akibat perbuatan tersebut, ia berubah menjadi tiang garam.[29] Benjamin dari Tudela, seorang penjelajah Yahudi, menulis bahwa tiang garam ini berada pada jarak dua farsakh dari Laut Sodom.[30]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 15, hal. 325-326.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hal. 313.
- ↑ Ibnu Abi Zamanin, Tafsir al-Qur'an al-'Aziz, 1423 H, jld. 2, hal. 302.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 14, hal. 425.
- ↑ Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1384 H, jld. 18, hal. 201.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 10, hal. 64.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, jld. 2, hal. 73.
- ↑ Majlisi, Hayat al-Qulub, 1384 HS, hal. 418.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1422 H, jld. 12, hal. 537.
- ↑ Lembaga Riset Manajemen Informasi dan Dokumentasi Islam, Farhang-nameh Ulum-e Qur'an (Daftar Tablighat Eslami), 1394 HS, hal. 820.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1387 HS, jld. 10, hal. 136.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hal. 313; Haqqi Borusawi, Ruh al-Bayan, Dar al-Fikr, jld. 10, hal. 69-70.
- ↑ Thusi, at-Tibyan, 1371 HS, jld. 10, hal. 52.
- ↑ Thusi, at-Tibyan, 1371 HS, jld. 10, hal. 52; Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1384 H, jld. 18, hal. 201; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hal. 301.
- ↑ Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur, Dar al-Fikr, jld. 8, hal. 228.
- ↑ Thusi, at-Tibyan, 1371 HS, jld. 10, hal. 52.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hal. 300-301; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 10, hal. 64.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 2002 M, jld. 7, hal. 281.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Balkhi, Tafsir Muqatil, 1423 H, jld. 4, hal. 379; Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), 1420 H, jld. 30, hal. 574; al-Harari, Tafsir Hada'iq al-Ruh wa al-Raihan, 1421 H, jld. 29, hal. 456; Thusi, at-Tibyan, 1371 HS, jld. 10, hal. 52.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1422 H, jld. 12, hal. 520; Ibnu 'Adil, al-Lubab fi 'Ulum al-Kitab, 1419 H, jld. 11, hal. 477.
- ↑ Haqqi Borusawi, Ruh al-Bayan, Dar al-Fikr, jld. 4, hal. 166-169.
- ↑ Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, Dar al-Fikr, jld. 4, hal. 462; Thabari, Jami' al-Bayan, 1422 H, jld. 2, hal. 516; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, 1420 H, jld. 5, hal. 103.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 4, hal. 148; Ibnu Katsir, Qashash al-Anbiya', 1388 H, jld. 1, hal. 268.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 22, hal. 66.
- ↑ Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, Dar al-Fikr, jld. 4, hal. 462; Ibnu 'Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 50, hal. 327.
- ↑ "Timtsal Imra'ah Luth al-Maz'um Takawwana qabla al-Istithan al-Basyari fi al-Manthiqah bi Malayin al-Sinin...", Situs al-Ra'i.
- ↑ Al-Manshurfuri, Rahmatan lil-'Alamin, 1418 H, hal. 497.
- ↑ "Kitab Suci, Kitab Kejadian, Bab 19, Ayat 3-19", Persatuan Yahudi Teheran.
- ↑ "Kitab Suci, Kitab Kejadian, Bab 19, Ayat 17-26", Persatuan Yahudi Teheran.
- ↑ Al-Tathili, Rihlah Binyamin al-Tathili, 2002 M, hal. 253.
Daftar Pustaka
- Ibnu Abi Zamanin, Muhammad bin Abdullah. Tafsir al-Qur'an al-'Aziz. Kairo, al-Faruq al-Haditsah, 1423 H.
- Ibnu 'Adil, Umar bin Ali. al-Lubab fi 'Ulum al-Kitab. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan Pertama, 1419 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Qashash al-Anbiya'. Riset: Mushthafa Abdul Wahid. Kairo, Mathba'ah Dar al-Ta'lif, Cetakan Pertama, 1388 H.
- Abu Hayyan al-Andalusi, Muhammad bin Yusuf. al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir. Riset: Shidqi Muhammad Jamil. Beirut, Dar al-Fikr, 1420 H.
- Al-Tathili, Benjamin. Rihlah Binyamin al-Tathili. Abu Dhabi, al-Majma' al-Tsaqafi, Cetakan Pertama, 2002 M.
- Al-Manshurfuri, Muhammad Sulaiman. Rahmatan lil-'Alamin. Terjemahan: Samir Abdul Hamid Ibrahim. Riyadh, Dar al-Salam lil-Nasyr wa al-Tawzi', Cetakan Pertama, 1418 H.
- Al-Harari, Muhammad Amin. Tafsir Hada'iq al-Ruh wa al-Raihan fi Rawabi 'Ulum al-Qur'an. Beirut, Dar Thauq al-Najah, Cetakan Pertama, 1421 H.
- "Beresyit - Bab 19". Situs Persatuan Yahudi Teheran.
- Balkhi, Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil. Beirut, Dar Ihya at-Turats, Cetakan Pertama, 1423 H.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil. Riset: Muhammad Abdurrahman al-Mar'asyali. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, 1418 H.
- "Timtsal Imra'ah Luth al-Maz'um Takawwana qabla al-Istithan al-Basyari fi al-Manthiqah bi Malayin al-Sinin... al-Bahts 'an Wahilah la Yazalu Jariyan 'ala Mawa'id al-Syaythan". Situs al-Ra'i, 14 Dey 1383 HS.
- Lembaga Riset Manajemen Informasi dan Dokumentasi Islam. Farhang-nameh Ulum-e Qur'ani (Daftar Tablighat Eslami). Qom, Lembaga Riset Ilmu dan Budaya Islam, 1394 HS.
- Haqqi Borusawi, Ismail. Ruh al-Bayan. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam al-Tadmuri. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan Kedua, 1413 H.
- Zirikli, Khairuddin bin Mahmoud. al-A'lam. Beirut, Dar al-'Ilm lil-Malayin, Cetakan Kelima Belas, 2002 M.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Kelompok Peneliti. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Pertama, 1415 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tafsir al-Thabari Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Giza, Dar Hijr lil-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi' wa al-I'lan, Cetakan Pertama, 1422 H.
- Thusi, Jafar bin Muhammad. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Entesyarat-e Eslami, 1371 HS.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaze Farhangi Dars-ha-i az Qur'an, 1385 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Kairo, Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Cetakan Kedua, 1384 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Hayat al-Qulub. Koreksi: Ali Imamian. Qom, Sorour, 1384 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Ke-32, 1374 HS.
- Nawawi, Yahya bin Syaraf. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.