Konsep:Ayat Hijrah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Hijrah |
| Surah | An-Nisa |
| Ayat | 97 |
| Juz | 5 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Tidak berhijrahnya sebagian Muslim dari Makkah ke Madinah |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Akidah |
Ayat Hijrah adalah ayat ke-97 dari Surah An-Nisa yang turun mengenai orang-orang yang beriman di Makkah;[1] namun dikarenakan kecintaan pada kehidupan dan harta benda, mereka tidak ikut serta dalam hijrah ke Madinah dan tetap tinggal di Makkah.[2] Berdasarkan Ayat Hijrah, orang-orang ini setelah mati, dalam menjawab pertanyaan Malaikat mengenai agama mereka, menyatakan ketidakmampuan mereka (untuk berhijrah) di Makkah; namun para malaikat menjawab bahwa mereka memiliki kemungkinan untuk berhijrah, akan tetapi mereka tidak melakukannya.[3]
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzalimi diri mereka sendiri, (para malaikat) bertanya (kepada mereka), 'Dalam keadaan bagaimana kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi.' (Para malaikat) berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi ini?' Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa: 97)
Terdapat berbagai laporan mengenai siapa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat ini.[4] Menurut Ibnu Abbas, maksudnya adalah orang-orang yang tetap tinggal di Makkah dan tidak berhijrah ke Madinah serta meninggal dunia sebelum bergabung dengan Nabi saw.[5] Majma' al-Bayan dengan menukil dari Abu Hamzah al-Tsumali menganggap mereka adalah orang-orang yang telah masuk Islam, namun pada Perang Badar mereka berada di barisan kaum musyrikin dan ketika melihat jumlah kaum muslimin yang sedikit, mereka meragukan kebenaran Islam.[6]
Menurut sebagian riwayat, yang dimaksud ayat ini adalah sekelompok muslim yang tetap tinggal di Makkah, berperang melawan kaum muslimin dalam Perang Badar dan terbunuh.[7] Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam al-Baqir as, orang-orang ini ada lima orang: Qais bin Fakih bin Mughirah, Harits bin Zam'ah, Qais bin Walid, Abu al-'Ash bin Munabbih dan Ali bin Umayyah bin Khalaf.[8]
Berdasarkan riwayat lain, pada Perang Badar ketika kaum muslimin menawan Abbas paman Nabi saw dan Aqil, Nabi meminta Abbas untuk membayar tebusan bagi kebebasan dirinya dan Aqil. Abbas berkata: "Bukankah kami salat menghadap Kiblat-mu dan bersaksi atas apa yang engkau saksikan?" Nabi menjawab: "Kalian memusuhi dan kalian dimusuhi," lalu beliau membacakan Ayat Hijrah.[9]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.4, hlm.83.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.4, hlm.83-84.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417, jld.5, hlm.49-50.
- ↑ Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, 1404, jld.2, hlm.206.
- ↑ Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, 1404, jld.2, hlm.206.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.3, hlm.150.
- ↑ Syekh Thusi, At-Tibyan, Dar Ihya at-Turats, jld.3, hlm.303.
- ↑ Syekh Thusi, At-Tibyan, Dar Ihya at-Turats, jld.3, hlm.303.
- ↑ Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, 1404, jld.2, hlm.206.
Daftar Pustaka
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Suyuthi, Jalaluddin. Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asye Najafi, 1404.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Riset: Ahmad Qashir Amili, Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Tanpa Tanggal.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran, Nashir Khusro, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Qom, Penerbit Publikasi Islam, 1417.