Konsep:Ayat 110 Surah Ali 'Imran
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Ali 'Imran |
| Ayat | 110 |
| Juz | 4 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Mengenalkan Umat Terbaik |
| Deskripsi | Akidah, Fikih |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 104 Surah Ali 'Imran • Ayat 13 Surah Al-Hujurat |
Ayat 110 Surah Ali 'Imran memperkenalkan kaum Muslimin sebagai umat terbaik yang diciptakan untuk kemaslahatan masyarakat manusia karena melakukan Amar Makruf dan Nahi Mungkar serta berIman kepada Allah. Beberapa mufasir seperti Syaikh Thusi, dengan indikasi adanya para pendosa dan kaum munafik di antara umat Islam, mengkhususkan pujian dan deskripsi umat terbaik ini kepada Ahlulbait as.
Abdullah Jawadi Amuli menganggap orang-orang yang diperintahkan untuk menyeru kepada kebaikan, amar makruf dan nahi mungkar dalam Ayat 104 Surah Ali 'Imran serta menaatinya sebagai audiens ayat ini, dan ia menganggap kemungkinan ini selaras dengan Ayat 13 Surah Al-Hujurat.
Beberapa fakih berargumen dengan ayat ini untuk kewajiban amar makruf dan nahi mungkar atau statusnya sebagai Wajib Aini. Berbagai riwayat menganggap misdaq nyata dari ayat ini adalah Ahlulbait as. Jabir bin Abdullah al-Ansari dalam sebuah hadis bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang konsep ayat 110 Surah Ali 'Imran. Beliau dalam jawaban yang terperinci menjelaskan tentang kualitas penciptaan cahaya Ahlulbait as dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka.
Pengenalan, Teks dan Terjemahan Ayat
Dari sudut pandang Tafsir Nemuneh, ayat 110 Surah Ali 'Imran memperkenalkan kaum Muslimin sebagai umat terbaik yang diciptakan untuk memperbaiki masyarakat manusia dikarenakan Amar Makruf dan Nahi Mungkar serta Iman kepada Allah.[1] Bagian akhir ayat menurut pandangan para mufasir mengingatkan bahwa jika Ahli Kitab beriman, maka mereka akan beruntung di dunia dengan selamat dari pembunuhan dan di akhirat dengan selamat dari Neraka serta mencapai Surga,[2] namun hanya sedikit dari mereka yang memeluk Islam dan banyak dari mereka yang keluar dari perintah Allah serta kafir.[3]
| “ | كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَـٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ
|
” |
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka: orang-orang yang fasik.
Penentuan Umat Terbaik dan Alasannya
Menurut keyakinan Abdullah Jawadi Amuli, ayat 110 Surah Ali 'Imran memuji para pelaksana Ayat 104 Surah Ali 'Imran, yakni para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran serta orang-orang yang beriman kepada Allah, dan menganggap mereka sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk kepentingan manusia.[4] Beberapa mufasir seperti Syaikh Thusi, dengan indikasi keberadaan para pendosa dan kaum munafik di antara umat, mengkhususkan pujian ayat ini kepada Ahlulbait as.[5] Menurut keyakinan mufasir, penggunaan kata kerja lampau KUNTUM (kalian telah menjadi) alih-alih kata ANTUM (kalian adalah) dalam ayat ini, mungkin dikarenakan dalam kitab-kitab langit sebelumnya atau dalam Lauh Mahfuzh, kaum Muslimin telah dinamai sebagai umat terbaik. Di sisi lain, beberapa mufasir memberikan kemungkinan bahwa ayat ini dengan kata kerja lampau mengabarkan tentang sebuah kejadian di masa depan untuk menekankan kepastian terjadinya sedemikian rupa seolah-olah telah terjadi.[6]
Imam Ali as berdasarkan sebuah hadis berargumen dengan ayat ini dalam menjelaskan keunggulan Nabi Muhammad saw atas seluruh para nabi dan keunggulan umat Islam atas umat-umat lainnya.[7]
Beberapa mufasir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an (MINHUM AL-MUKMINUN) adalah orang-orang seperti Abdullah bin Salam dan para sahabatnya dari kalangan Yahudi, serta Najasyi penguasa Habasyah dan para sahabatnya dari kalangan Nasrani.[8]
Alasan
Dari sudut pandang Abdullah Jawadi Amuli, amal saleh harus selaras dengan pemimpin dan hujah pada masanya. Menurut pandangannya, luasnya jangkauan Amar Makruf dan Nahi Mungkar serta pengamalannya pada era nabi terbaik yakni Nabi Muhammad saw telah menjadikan umat Islam lebih unggul daripada umat-umat lainnya.[9] Makarim Syirazi menganggap alasan keunggulan umat Islam adalah karena memiliki agama samawi terakhir dan yang paling sempurna di antara semuanya.[10]
Audiens Ayat
Para mufasir Syiah telah memberikan beberapa kemungkinan mengenai audiens ayat 110 Surah Ali 'Imran, di antaranya:
- Kaum Muhajirin dan Ansar di awal Islam. Berdasarkan kemungkinan dan makna ini, ayat mengatakan bahwa kalian kaum Muslimin di masa lalu adalah umat terbaik dan sekarang bukan lagi.[11] Berdasarkan kemungkinan ini, generasi Muslim saat ini tidak akan menjadi umat terbaik. Dalam kritik terhadap kemungkinan ini dikatakan bahwa celaan implisit terhadap kaum Muslimin lainnya tidak sesuai dengan konteks ayat yang berisi sanjungan dan pujian terhadap audiens.[12]
- Seluruh kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad saw.[13] Jawadi Amuli menganggap kemungkinan ini tidak tepat dikarenakan kandungan Ayat 67 Surah At-Taubah mengenai keberadaan kaum munafik pada masa yang sama dan perbuatan amar mungkar serta nahi makruf oleh mereka.[14]
- Seluruh kaum Muslimin di setiap waktu dan tempat.[15] Kemungkinan ini juga dianggap gugur karena adanya para penzalim, pendosa, dan pelaku peperangan seperti Jamal, Shiffin, Nahrawan, dan Peristiwa Karbala.[16]
- Jawadi Amuli menganggap orang-orang yang dalam ayat 104 Surah Ali 'Imran diperintahkan untuk menyeru kepada kebaikan, amar makruf dan nahi mungkar serta menaatinya, sebagai audiens dan subjek pujian ayat ini. Ia menganggap kemungkinan ini selaras dengan Ayat 13 Surah Al-Hujurat dan hadis yang memperkenalkan sebaik-baik manusia adalah ahli Takwa dan orang-orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar.[17]
Ahlulbait as sebagai Misdaq Umat Terbaik
Dalam berbagai riwayat, Ahlulbait as diperkenalkan sebagai misdaq umat terbaik dan audiens dari ayat 110 Surah Ali 'Imran.[18] Berdasarkan sebuah hadis, Abdullah bin Sinan membacakan ayat ini di hadapan Imam Shadiq as. Imam dengan bertanya tentang makna ayat tersebut bersabda: Apakah kalian umat terbaik sementara kalian telah membunuh Amirul Mukminin as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as? Ibnu Sinan berkata: Aku tebusanmu, lantas bagaimana ayat itu diturunkan? Beliau bersabda: "ANTUM KHAIRU AIMMATIN UKHRIJAT LIN-NAS" (Kalian adalah sebaik-baik para Imam yang dikeluarkan untuk manusia), tidakkah engkau melihat Allah memuji mereka demikian: "Kalian memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah"?[19]
Jabir bin Abdullah al-Ansari juga dalam sebuah hadis bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang ayat ini. Beliau dalam jawaban yang panjang menjelaskan kualitas penciptaan cahaya Ahlulbait as dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka.[20]
Penggunaan Ayat dalam Fikih dan Usul
Dalam beberapa pembahasan Fikih dan Usul, ayat 110 Surah Ali 'Imran dijadikan sandaran, di antaranya:
- Menurut Syaikh Mufid, ayat ini dengan memuji umat atas perbuatan amar makruf dan nahi mungkar di samping kewajiban seperti iman kepada Allah, menunjukkan atas kewajiban amar makruf dan nahi mungkar.[21]
- Syaikh Thusi, Fadhil al-Miqdad dan Ibnu Syahrasyub menganggap amar makruf dan nahi mungkar sebagai Wajib Aini dengan bersandar pada dalil-dalil seperti ayat 110 Surah Ali 'Imran.[22]
- Para ulama Ahlusunnah berargumen dengan ayat ini untuk kehujahan Ijmak, dan menganggap konsepnya adalah ditinggalkannya seluruh kemungkaran dan dilakukannya seluruh kebaikan oleh umat.[23] Sebaliknya, menurut pandangan ulama Syiah, audiens ayat dan maksud dari umat terbaik bukanlah seluruh kaum Muslimin (ijmak); karena adanya para pendosa dan pelaku peperangan seperti Jamal, Shiffin, Nahrawan, dan Peristiwa Karbala di tengah umat menghalangi penafsiran dengan makna tersebut.[24]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 48.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 811; Kasyani, Zubdah al-Tafasir, 1423 H, jld. 1, hal. 540.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 811; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 49.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 333, 338 dan 339.
- ↑ Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 558; Rawandi, Feqh al-Qur'an, jld. 1, 1405 H, hal. 360-361.
- ↑ Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 557; Rawandi, Feqh al-Qur'an, 1405 H, jld. 1, hal. 360.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 16, hal. 342.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 811; Husseini, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 2, hal. 212.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 334.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 48.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 811; Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 337-338.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338-339.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 811; Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338-339.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 24, hal. 154-155 dan jld. 89, hal. 60; Bahrani, Tafsir al-Burhan, 1374 HS, jld. 1, hal. 344 dan 676.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 24, hal. 154.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 25, hal. 22-23.
- ↑ Syaikh Mufid, al-Muqni'ah, 1413 H, hal. 809.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Iqtishad, 1375 H, hal. 147; Fadhil al-Miqdad, Kanz al-'Irfan fi Feqh al-Qur'an, 1425 H, jld. 1, hal. 406; Ibnu Syahrasyub, Mutasyabih al-Qur'an wa Mukhtalifuhu, 1369 H, jld. 2, hal. 187.
- ↑ Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, t.t, jld. 3, hal. 190; Fadhil al-Miqdad, Kanz al-'Irfan fi Feqh al-Qur'an, 1425 H, jld. 1, hal. 406.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 15, hal. 338; Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 558; Ibnu Syahrasyub, Mutasyabih al-Qur'an wa Mukhtalifuhu, 1369 H, jld. 2, hal. 156.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Sayid Hashem. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Fadhil al-Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Kanz al-'Irfan fi Feqh al-Qur'an. Qom, Penerbit Murtadhawi, 1425 H.
- Husseini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran, Penerbit Miqat, Cetakan Pertama, 1363 HS.
- Ibnu Asyur, Muhammad bin Thahir. al-Tahrir wa al-Tanwir. tanpa tempat, tanpa penerbit, tanpa tahun.
- Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Mutasyabih al-Qur'an wa Mukhtalifuhu. Qom, Dar Bidar lil-Nasyr, Cetakan Pertama, 1369 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Koreksi: Abdul Karim Abidini. Qom, Markaz-e Nasyr-e Esra, Cetakan Kedua, 1388 HS.
- Kasyani, Mulla Fathullah. Zubdah al-Tafasir. Qom, Bunyad-e Ma'arif-e Eslami, Cetakan Pertama, 1423 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Rawandi, Said bin Hibatullah. Feqh al-Qur'an fi Syarh Ayat al-Ahkam. Riset: Sayid Ahmad Husseini. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, Cetakan Kedua, 1405 H.
- Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. al-Muqni'ah. Qom, Kongres Global Seribu Tahun Syaikh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Iqtishad al-Hadi ila Thariq al-Rasyad. Teheran, Penerbit Perpustakaan Jami' Cehel Sotun, Cetakan Pertama, 1375 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Nasir Khosrow, 1372 HS.