Lompat ke isi

Konsep:Tadharru

Dari wikishia

Akhlak


Ayat-ayat Akhlak
Ayat-Ayat IfkAyat UkhuwahAyat Istirja'Ayat Ith'amAyat Naba'Ayat Najwa


Hadis-hadis Akhlak
Hadis ''Qurb Nawafil''Hadis Makarim AkhlakHadis MikrajHadis ''junud aql'' dan ''jahl''


Keutamaan-keutamaan Akhlak
Rendah HatiKepuasanDermawanMenahan AmarahIkhlasLembutZuhud


Keburukan-keburukan Moral
CongkakTamakHasudDustaGibahGunjingkikirMendurhakai orang tuaHadis ''Nafs''Besar DiriMengupingMemutus hubungan silaturahmiPenyebaran Kekejian


Istilah-istilah Akhlak
Jihad NafsNafsu LawamahNafsu AmarahJiwa yang tenangPerhitunganMuraqabahMusyaratahDosaPelajaran AkhlakRiadat


Ulama Akhlak
Mulla Mahdi NaraqiMulla Ahmad NaraqiSayid Ali QadhiSayid Ridha BahauddiniDastgheibMuhammad Taqi Bahjat


Sumber Referensi Akhlak

Al-Qur'anNahjul BalaghahMishbah al-Syari'ahMakarim al-AkhlaqAl-Mahajjah al-Baidha' Majmu'atu WaramJami' al-Sa'adatMi'raj al-Sa'adahAl-Muraqabat

Tadharru (bahasa Arab:تضرع) adalah istilah Al-Qur'an yang bermakna menampakkan kerendahan hati di hadapan Allah swt saat memohon hajat. Tadharru terhitung sebagai syarat terkabulnya doa dan disebutkan memiliki dampak seperti terbebas dari kesulitan, terjaga dari azab Ilahi, dan memperoleh pertolongan Allah.

Dalam teks-teks fikih, tadharru dibahas sebagai salah satu amalan ibadah jemaah haji saat wukuf di Arafah dan Masy'ar. Selain itu, dalam teks-teks irfan dan akhlak, kondisi ini dianggap sebagai salah satu karakteristik para Arif dan ditekankan untuk dilakukan saat bermunajat kepada Allah.

Konsep dan Kedudukan

Tadharru bermakna menampakkan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah saat memohon hajat atau meminta dihilangkannya kesulitan dan kesedihan.[1] Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, menggerakkan jari telunjuk tangan kanan saat berdoa adalah salah satu bentuk tadharru.[2]

Tadharru beserta beberapa kata turunannya disebutkan secara eksplisit dalam tujuh ayat Al-Qur'an.[3] Istilah ini juga digunakan secara relevan dalam ilmu-ilmu Islam lainnya. Sebagai contoh, para fakih dalam adab salat Istisqa (salat minta hujan) mengatakan bahwa imam jemaah hendaknya melakukan tadharru setelah melaksanakan salat, berdoa, dan mengucapkan pujian kepada Allah.[4] Mengangkat kedua tangan saat mengucapkan Takbir dalam Salat juga dianggap sebagai bentuk tadharru.[5] Dalam karya-karya fikih, tadharru di hadapan Allah dianggap sebagai salah satu amalan jemaah haji saat wukuf di Arafah[6] dan wukuf di Masy'ar al-Haram.[7]

Dalam karya-karya irfan dan akhlak, menampakkan tadharru dan merintih di hadapan Allah saat berkhalwat (sendirian) juga sangat dianjurkan, dan perbuatan ini dianggap sebagai salah satu tanda para arif.[8]

Perbedaan Tadharru dan Khusyuk

Raghib Isfahani dengan mengisyaratkan kesamaan makna antara khusyuk dan tadharru, membedakan kedua konsep ini. Menurut pandangannya, Khusyuk lebih banyak tampak pada anggota tubuh, sedangkan tadharru adalah kondisi batin. Untuk membedakan ini, ia bersandar pada riwayat, "Kapan saja hati mengalami tadharru, maka akan timbul kekhusyukan pada anggota badan."[9] Meskipun demikian, para mufasir dalam menafsirkan ayat «اُدْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَ خُفْيَةً; Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut» (Ayat Sukhrah), memaknai tadharru sebagai menampakkan doa (sebagai lawan dari khufyah atau sembunyi-sembunyi).[10]

Tadharru sebagai Adab Doa

Ulama Islam menganggap tadharru ke hadirat Ilahi sebagai salah satu syarat terkabulnya doa.[11] Ghazali menyandarkan hal ini pada ayat «Nomor surah atau ayat atau keduanya!»[12] dan juga sebuah hadis Nabi saw[13] yang menjelaskan hubungan antara kecintaan Allah kepada hamba dan cobaan yang menyebabkan hamba tersebut melakukan tadharru.[14] Faidh Kasyani juga menyandarkan hal ini pada riwayat-riwayat dari Para Imam Maksum as.[15] Imam Khomeini dalam kitab Syarh Du'a al-Sahar mengatakan bahwa sebaiknya orang yang berdoa dan orang yang sedang menempuh "sir wa suluk", memulai doanya dengan "Allahumma" atau "Ya Allah" dan berdoa dalam keadaan tadharru.[16]

Dampak Tadharru dalam Al-Qur'an

Dalam buku "Farhang-e Qur'an", disebutkan beberapa dampak tadharru dengan bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an, di antaranya:

  • Terbebas dari kesulitan dan kesukaran:[17] Berdasarkan Ayat 63 Surah Al-An'am, ketika hamba-hamba Allah dalam kesulitan dan kesukaran memohon pertolongan kepada Allah dengan tadharru dan merintih serta secara sembunyi-sembunyi, Allah akan menyelamatkan mereka.[18]
  • Terjaga dari azab Ilahi yang tiba-tiba:[19] Dalam ayat 94 dan 95 Surah Al-A'raf, Allah menjelaskan kepada Nabi saw bahwa umat-umat terdahulu ditimpa kesulitan dan penderitaan agar mereka dengan pilihan baik mereka sendiri mau melakukan tadharru; namun mereka tidak melakukan tadharru dan melupakan Allah. Kemudian Allah membukakan pintu-pintu nikmat bagi mereka hingga mereka tertipu (istidraj) dan menganggap diri mereka mandiri serta tidak butuh kepada Allah. Setelah itu, Allah menurunkan azab-Nya kepada mereka dari arah yang tidak mereka duga.[20]
  • Memperoleh pertolongan dan nusrah Ilahi:[21] Berdasarkan ayat 76 dan 77 Surah Al-Anbiya, ketika Nabi Nuh as memohon pertolongan Allah dengan tadharru, Allah menolongnya dan menyelamatkannya beserta keluarga dan pengikutnya dari kesedihan dan bencana yang besar.[22]

Catatan Kaki

  1. Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalimat Al-Qur'an, 1368 HS, jld. 7, hlm. 28-29.
  2. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 480.
  3. A'rafi, «Tadharru», hlm. 590.
  4. Muhaqqiq Hilli, Syarai' al-Islam, 1409 H, jld. 1, hlm. 84; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 12, hlm. 150.
  5. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 9, hlm. 230.
  6. Sebagai contoh lihat: Muhaqqiq Ardabili, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, 1403 H, jld. 7, hlm. 204.
  7. Sebagai contoh lihat: Golpaygani, Manasik al-Hajj, Dar al-Quran al-Karim, hlm. 142.
  8. Sebagai contoh lihat: Maliki Tabrizi, Tarjamah Al-Muraqabat, 1388 HS, hlm. 175; Khomeini, Syarh Chehel Hadits, 1380 HS, hlm. 462.
  9. Raghib Isfahani, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an, di bawah kata «Khasya'a».
  10. Sebagai contoh lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 4, hlm. 270; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 133.
  11. Sebagai contoh lihat: Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 165; Faidh Kasyani, Al-Mahajjah al-Baidha, Daftar-e Entisharat-e Eslami, jld. 2, hlm. 293; Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 869.
  12. Surah Al-A'raf, ayat 55.
  13. Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 165.
  14. Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 1421 H, jld. 7, hlm. 145.
  15. Faidh Kasyani, Al-Mahajjah al-Baidha, Daftar-e Entisharat-e Eslami, jld. 2, hlm. 293.
  16. Imam Khomeini, Syarh Du'a al-Sahar, 1374 HS, hlm. 9.
  17. Pusat Kebudayaan dan Ma'arif Al-Qur'an, Farhang-e Qur'an, 1379 HS, jld. 8, hlm. 168.
  18. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 133.
  19. Pusat Kebudayaan dan Ma'arif Al-Qur'an, Farhang-e Qur'an, 1379 HS, jld. 8, hlm. 167.
  20. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 89-90.
  21. Pusat Kebudayaan dan Ma'arif Al-Qur'an, Farhang-e Qur'an, 1379 HS, jld. 8, hlm. 168.
  22. Pusat Kebudayaan dan Ma'arif Al-Qur'an, Farhang-e Qur'an, 1379 HS, jld. 8, hlm. 168.

Daftar Pustaka

  • A'rafi, Muhammad. "Tadharru". Dalam Dairat al-Ma'arif Qur'an (Jilid 7). Qom, Muassasah Bustan-e Ketab, 1383 HS.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain. Syu'ab al-Iman. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1421 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Al-Mahajjah al-Baidha fi Tahdzib al-Ihya. Daftar-e Entisharat-e Eslami, Tanpa tahun.
  • Ghazali, Muhammad bin Muhammad. Ihya' 'Ulum al-Din. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Tanpa tahun.
  • Golpaygani, Sayid Muhammad Ridha. Manasik al-Hajj. Qom, Dar al-Quran al-Karim, Tanpa tahun.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh Du'a al-Sahar. Teheran, Muassasah Tanzhim va Nasyr-e Atsar-e Imam Khomeini, 1374 HS.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh Chehel Hadits (Syarah 40 Hadis). Teheran, Muassasah Tanzhim va Nasyr-e Atsar-e Imam Khomeini, 1380 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Disunting oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Maliki Tabrizi, Mirza Jawad. Tarjamah Al-Muraqabat. Penerjemah Karim Faizi. Qom, Entisharat-e Qaem-e Ale Muhammad, 1388 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Muhaqqiq Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Majma' al-Faidah wa al-Burhan. Qom, Muassasah al-Fikr al-Islami, 1403 H.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Syarai' al-Islam. Teheran, Entisharat-e Esteqlal, Cetakan kedua, 1409 H.
  • Musthafawi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimat Al-Qur'an. Teheran, Vezarat-e Farhang va Ershad-e Eslami, 1368 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarai' al-Islam. Disunting oleh Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketujuh, 1362 HS.
  • Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Qom, Entisharat-e Hejrat, 1378 HS.
  • Pusat Kebudayaan dan Ma'arif Al-Qur'an. Farhang-e Qur'an. Qom, Daftar-e Tablighat-e Eslami, 1379 HS.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an. Damaskus, Dar al-Qalam, 1412 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1393 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1415 H.