Lompat ke isi

Konsep:Ayat Khianat dalam Amanah

Dari wikishia
Ayat Khianat dalam Amanah
Informasi Ayat
NamaAyat Khianat dalam Amanah
SurahAl-Anfal
Ayat27
Juz9
Informasi Konten
Sebab
Turun
Pengkhianatan Abu Lubabah al-Anshari dalam menjaga rahasia militer
Tempat
Turun
Madinah
TentangKhianat dalam Amanah
DeskripsiFikih


Ayat Khianat dalam Amanah adalah ayat ke-27 dari Surah Al-Anfal yang mengacu pada larangan terhadap khianat dalam amanah serta khianat kepada Allah dan Nabi Muhammad saw. Para fakih menyandarkan keharaman khianat dalam amanah pada ayat ini. Ayat ini diturunkan berkaitan dengan pengkhianatan Abu Lubabah al-Anshari dalam menjaga rahasia militer dan pembocorannya pada Ghazwah Bani Quraizhah.

Para mufasir menafsirkan ungkapan "la takhunu Allah wa al-Rasul" sebagai mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan perintah dan larangan mereka. Menurut keyakinan mereka, kalimat "wa takhunu amanatikum" merujuk pada keharusan manusia untuk bersikap amanah terhadap segala sesuatu yang telah Allah wajibkan.

Pengenalan, Teks dan Terjemahan Ayat

Ayat 27 Surah Al-Anfal melarang perbuatan Khianat dalam Amanah[1] dan mengisyaratkan adanya hubungan antara sifat amanah dengan Iman.[2] Berdasarkan isi ayat ini, khianat dalam amanah hukumnya Haram dan menjaga amanah dihitung sebagai hal yang Wajib.[3]

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati (amanah) Allah dan RasulNya, dan (janganlah) kamu mengkhianati amanah-amanah kamu, sedang kamu mengetahui (salahnya).


Sebab Turun

Thabarsi dalam Majma' al-Bayan menganggap syan nuzul ayat ini adalah pengkhianatan Abu Lubabah al-Anshari dalam membocorkan rahasia militer pada Perang Bani Quraizhah dan menyebutkan alasan pengkhianatan tersebut dikarenakan keberadaan istri, anak, dan harta bendanya di tengah kabilah tersebut.[4] Berdasarkan syan nuzul ini, ketika kaum Muslimin atas perintah Nabi Muhammad saw mengepung kaum Yahudi Bani Quraizhah, mereka mengajukan tawaran perdamaian namun Nabi Muhammad saw menolak dan menunjuk Sa'ad bin Mu'adz sebagai hakim. Abu Lubabah yang menyertai Sa'ad bin Mu'adz dan memiliki latar belakang pertemanan dengan Bani Quraizhah, memberikan isyarat kepada mereka yang memahamkan bahwa jika mereka menerima hukum Sa'ad, mereka semua akan dibunuh. Jibril mengabarkan kejadian ini kepada Nabi Muhammad saw. Setelah itu Abu Lubabah menyesal dan mengikatkan dirinya pada salah satu tiang Masjid Nabawi serta tidak makan apa pun selama tujuh hari tujuh malam hingga Allah menerima tobatnya. Abu Lubabah berkata: Untuk menyempurnakan tobat, aku akan meninggalkan rumahku dan melepaskan seluruh harta bendaku. Nabi Muhammad saw bersabda: Jika engkau menyedekahkan sepertiga dari hartamu di jalan Allah, itu sudah cukup.[5] Huwaizi dalam Nur al-Tsaqalain menyebutkan bahwa syan nuzul ini dinukil dari Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Shadiq as.[6]

Poin-poin Tafsir

Maksud dari Khianat kepada Allah dan Rasul

Dalam Tafsir al-Qumi dinukil sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as bahwa yang dimaksud dengan khianat kepada Allah dan Rasul adalah mendurhakai mereka.[7] Syubbar, muhaddis Imamiyah pada abad ke-13 Hijriah, mengartikannya sebagai meninggalkan perintah serta larangan Ilahi dan meninggalkan Sirah serta Sunnah Nabi Muhammad saw.[8] Allamah Thabathabai menganggap kumpulan dua kalimat "la takhunu Allah wa al-Rasul wa takhunu amanatikum" sebagai satu larangan tunggal yang ditujukan pada satu jenis pengkhianatan bersama (antara Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin) seperti instruksi politik, perintah terkait Jihad, dan rahasia perang, yang jika dibocorkan maka hak Allah dan Rasul-Nya telah diabaikan sekaligus kerugiannya akan menimpa kaum mukminin.[9] Thabari (wafat: 310/922-23), mufasir Ahlusunnah, menjelaskan khianat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai menampakkan Iman secara lahiriah namun menyembunyikan kekufuran di dalam hati, dan menyebutkan misdaqnya adalah kaum Munafik.[10]

Maksud dari Amanah

Ali bin Ibrahim al-Qumi dan Huwaizi dari mufasir Syiah, menganggap amanatikum adalah hal-hal yang Allah tetapkan sebagai Wajib dan ditempatkan pada setiap manusia sebagai amanah, seperti Hukum Syar'i dan kewajiban-kewajiban.[11] Syubbar menganggap amanah adalah segala sesuatu yang telah dijanjikan untuk ditunaikan.[12] Menurut keyakinan Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, amanah tidak terbatas pada amanah materiil saja melainkan mencakup amanah sosial, politik, dan moral.[13]

Penggunaan Fikih

Para fakih dengan bersandar pada ayat 27 Surah Al-Anfal, menganggap Khianat dalam Amanah adalah Haram[14] dan menghukumi adanya Ta'zir bagi pelakunya.[15] Sekelompok mufasir meyakini bahwa dalam ayat ini, dikarenakan penggalan "takhunu amanatikum" diatofkan (disambungkan) pada kalimat sebelumnya, maka ia menunjukkan pada keharaman khianat dalam amanah.[16]

Catatan Kaki

  1. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hal. 396.
  2. Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1367 HS, jld. 3, hal. 434.
  3. Modir Shanechi, Ayat al-Ahkam, 1393 HS, jld. 2, hal. 774.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 4, hal. 238.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 4, hal. 455.
  6. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 143.
  7. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 272.
  8. Syubbar, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1427 H, hal. 180.
  9. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 9, hal. 55.
  10. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 13, hal. 481.
  11. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 272; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 144.
  12. Syubbar, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1427 H, hal. 180.
  13. Makarim Syirazi, al-Amtsal, 1379 HS, jld. 5, hal. 249.
  14. Allamah al-Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 12, hal. 147.
  15. Syaikh Mufid, al-Muqni'ah, 1410 H, jld. 4, hal. 804; Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1351 HS, jld. 8, hal. 22; Khoei, Mabani Takmilah al-Minhaj, 1438 H, jld. 1, hal. 285; Imam Khomeini, Mausu'ah al-Imam al-Khomeini, 1393 HS, jld. 2, hal. 614; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1367 HS, hal. 118; Allamah al-Hilli, Irsyad al-Adzhan, 1410 H, jld. 2, hal. 182; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hal. 493.
  16. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 9, hal. 54; Fakhr Razi, Tafsir al-Kabir, 1417 H, jld. 5, hal. 475; Ibnu Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 9, hal. 324.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Asyur, Muhammad Thahir. Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir al-Ma'ruf bi Tafsir Ibn Asyur. Beirut, Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1420 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Mausu'ah al-Imam al-Khomeini. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1393 HS.
  • Huwaizi, Abd Ali bin Jumu'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom, Isma'iliyan, 1415 H.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. Mabani Takmilah al-Minhaj. Riset: Mohammad Shadiq Ismailpour. Najaf, t.p, 1410 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi ra, 1404 H.
  • Syubbar, Sayid Abdullah. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Kuwait, Syirkah Maktabah al-Alfain, 1427 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyah, 1367 HS.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Mabsuth fi Feqh al-Imamiyah. Riset: Mohammad Baqer Behbudi. Teheran, Maktabah Murtadhawiyah, 1351 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 HS.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Muqni'ah. Qom, Muassasah Nasyr-e Eslami, 1410 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Irsyad al-Adzhan ila Ahkam al-Iman. Riset: Fares Tabrizian. Qom, Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah, 1410 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1414 H.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1417 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Koreksi: Sayid Thayyib Musawi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Reza. Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaiq. Riset: Hossein Dargahi. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1367 HS.
  • Modir Shanechi, Kazem. Ayat al-Ahkam. Teheran, Samt, 1393 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Javad. al-Tafsir al-Kasyif. Penerjemah: Musa Danesy. Teheran, Muassasah Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah al-Munzal. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1379 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Riset: Ibrahim Sulthani Nasab. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1362 HS.