Prioritas: c, Kualitas: c

Sayid Ali Qadhi Thabathabai

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Sayid Ali Qadhi Thabathabaihttp://en.wikishia.net
سید علی قاضی طباطبایی.jpg
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Sayid Ali Qadhi Thabathabai
Garis keturunan Bani Hasyim, Imam Hasan al-Mujataba
Kerabat termasyhur Sayid Muhammad Husain Thabathabai
Informasi ilmiah
Murid-murid [Sayid Muhammad Husain Thabathabai]] • Sayid Hasyim Musawi al-Haddad • Muhammad Taqi Bahjat
Kegiatan Sosial dan Politik

Sayid Ali Qadhi Thabathabai (bahasa Arab: سید علي قاضي طباطبائي) adalah seorang arif, cendekiawan dan guru akhlak di Hauzah Ilmiah Najaf pada abad 14 H. Banyak ulama, fukaha dan marja taklid yang belajar akhlak darinya. Diantara muridnya yang terkenal Sayid Muhammad Husain Thabathabai, Sayid Hasyim Musawi al-Haddad dan Muhammad Taqi Bahjat.

Dalam Irfan, Qadhi Thabathabai mengikuti gurunya Mulla Husain Quli Hamadani. Ia percaya bahwa tidak mungkin bagi pesuluk dalam perjalanan spritualnya menuju Tuhan akan mencapai maqam tauhid jika tidak menerima wilayah Aimmah as dan Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Dalam tarekat irfannya, ia mengajarkan untuk melakukan amalan-amalan sunah, berziarah ke makam-makam suci, tawassul kepada Imam Husain as dan mewajibkan untuk memiliki guru. Ia merekomendasikan kitab Risalah Sair wa Suluk Bahrul Ulum adalah kitab irfan yang terbaik dan ihraq sebagai metode terbaik. Ia disebutkan memiliki banyak karamah.

Kekagumannya yang besar pada Ibnu Arabi dan Maulana Rumi menimbulkan kritik dan ketidak sukaan beberapa ulama padanya. Meskipun ia masyhur dalam bidang irfan, namun ia juga mumpuni dalam bidang-bidang ilmu keislaman yang lain seperti hadis, fikih dan tafsir.

Kelahiran dan Keluarga

Sayid Ali Qadhi Thabathabai lahir pada 13 Dzulhijjah 1282 H/1865 atau sebagian lain menyebutkan ia lahir pada 1285 H/1868 (7 Farvardin 1248 HS) di kota Tabriz, Iran. [1] Keluarganya adalah keturunan Nabi Muhammad saw dari sadat Thabathabai yang dikenal karena kesalehan, kebaikan dan kebanyakan dari mereka adalah ulama dan pelajar agama yang terkenal. Nasabnya bersambung sampai ke Ibrahim Thabathabai, cucu dari Imam Hasan al-Mujtaba as. [2]

Ayahnya bernama Sayid Husain Qadhi (w. 1314 H/1897), murid dari Mirza Syirazi di Samarra. Setelah beberapa lama, ia kembali ke Tabriz dan melakukan praktik penyucian diri. Selain menulis tafsir singkat atas Alquran, ia juga menulis tafsir Surah Alfatihah dan tafsir yang tidak lengkap Surah al-An'am. Kakek dari pihak ibunya Mirza Muhsin Qadhi Tabrizi (w. 1306 H/1889) adalah juga seorang ulama yang saleh dan ahli ibadah. Ia disebut berteman dengan Mulla Hadi Sabziwari. [3]

Pernikahan dan Keturunan

Sepanjang usianya, Sayid Ali Qadhi menikah empat kali dan dari pernikahan tersebut ia memiliki 11 putra dan 15 putri. [4] Beberapa putranya mengikuti jejaknya sebagai ulama yang dikenal dengan keilmuan dan pengetahuannya yang luas, diantaranya Sayid Muhammad Hasan Qadhi Thabathabai, yang menamatkan Bahr al-Ma'arif karya Abdul Shamad Hamadani lewat bimbingan ayahnya sendiri. Ia menulis Safahat min Tarikh al-A'lam dalam 10 jilid. Jilid pertama dan kedua diterjemahkan dalam bahasa Persia oleh saudaranya Sayid Muhammad Ali Qadhiniya, seorang professor teologi dengan judul Ayat al-Haqq pada tahun 2010 di Tehran. Pada jilid pertama dari kitab tersebut, Sayid Muhammad Hasan mengumpulkan puisi ayahnya dan mensyarahinya. [5] Diantara putra Sayid Ali Qadhi yang terkenal lainnya adalah Sayid Mahdi, guru dari Hasan Hasanzadeh Amuli. [6]

Penerus dalam Bidang Akhlak dan Irfan

Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai penerus dan penggantinya dalam mengajar akhlak dan irfan: Putranya, Sayid Muhammad Hasan Qadhi mengklaim penerus ayahnya adalah iparnya yaitu Mirza Ibrahim Syarifi. [7] Namun dinukil juga dari Hasan Ali Nijabat Syirazi, salah seorang murid Sayid Ali Qadhi bahwa Sayid Ali Qadhi di hari-hari terakhir hidupnya telah memperkenalkan Muhammad Jawad Anshari Hamadani sebagai penerus spiritualnya. [8]

Sebagian menyebutkan penerus Sayid Ali Qadhi adalah Sayid Muhammad Husain Thabathabai [9] namun yang terkenal pengganti resminya adalah Abbas Hatif Qhucani. [10]

Mengingat kondisi pada masa itu, hambatan komunikasi, akses jalan yang sulit menunjukkan adanya beberapa pengganti adalah sesuatu yang rasional dan mungkin, Karena alasan yang disebutkan, Sayid Ali Qadhi diyakini telah memilih beberapa penggantinya untuk beberapa wilayah. [11]

Para Guru

Sayid Ali Qadhi memperoleh pendidikan dasar ilmu-ilmu keagamaan di tanah kelahirannya [12] dan mempelajari Tafsir al-Kasysyaf dari ayahnya. Selain ayahnya, ia juga mendapat bimbingan dari Musawi Tabriz (penulis Syarah Rasail Syaikh Anshari) dan Muhammad Ali Qarachi Daghi (penulis komentar atas Syarh Lum'ah). Ia juga belajar sastra Arab dan Persia dari penyair ternama Muhammad Taqi Nayyir Tabrizi, dikenal sebagai Hujjatul Islam. [13]

Atas saran ayahnya, ia mempelajari ilmu tazkiyatun nafs dari Imam Quli Nakhjawani yang kemudian menjadi gurunya. [14] Kemudian pada tahun 1308 H/1890 ia pindah ke Najaf untuk menimba ilmu lebih banyak. [15] Di Najaf ia belajar dari Muhammad Fadhil Syarabyani, Muhammad Hasan al-Mamaqani, Syaikh al-Syari'ah Isfahani, Akhund Khurasani dan Husain Khalili Tehrani. Dari ulama-ulama besar tersebut ia mempelajari fikih, Ushul, Hadis, Tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Dari kesemua gurunya, Husain Khalili Tehrani adalah guru yang secara khusus mengajarkannya akhlak. [16]

Ia juga menjadi murid Sayid Ahmad Karbalai dan Muhammad Bahari (dua murid terbaik Mulla Husain Quli Hamadani) untuk melakukan penyucian diri. [17] Meskipun Sayid Ali Qadhi lebih dikenal ahli irfan dan guru akhlak, namun ia juga memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu hadis, fikih dan tafsir. [18] Ia hadir dalam kelas-kelas fikih tingkat tinggi dari Ayatullah Sayid Muhammad Kazhim Yazdi dan Ayatullah Sayid Muhammad Isfahani dan sejumlah ulama Najaf lainnya. Disebutkan pula ia menghadiri kelas fikih kitab Syaikh Murtadha Anshari pada bahasan Thaharah sebanyak tujuh kali. [19]

Para Murid

Di kota Najaf Sayid Ali Qadhi mengajarkan irfan, akhlak dan tahdzib al-nafs kepada sejumlah muridnya. [20] Biasanya majelis-majelis pengajiannya berlangsung tertutup dan khusus diikuti oleh orang-orang tertentu. [21] Ia memiliki kamar di sebuah madrasah India, dan di tempat itu ia dikunjungi oleh murid-muridnya. [22]

Kemudian hari banyak diantara murid-muridnya yang menjadi ulama, fukaha dan marja taklid. Diantara beberapa muridnya yang terkenal adalah:

  • Sayid Muhammad Husain Thabathabai, berasal dari keluarganya sendiri yang awalnya dikenal sebagai Qadhi namun sebagai penghormatan pada gurunya, ia kemudian lebih dikenal dengan Thabathabai. [23] Ia dan saudaranya Sayid Muhammad Hasan Ilahi dan Abbas Hatif Quchani [24] menjadi murid Sayid Ali Qadhi selama 13 tahun. [25]
  • Sayid Hasyim Musawi al-Haddad. Ia belajar dari Sayid Ali Qadhi selama 28 tahun dan gurunya pernah menyebutnya sebagai murid yang telah memahami tauhid dengan sangat baik di dalam hatinya sehingga mustahil ada syubhat yang bisa mempengaruhinya. [26]
  • Sayid Hasan Isfahani al-Masqathi; sebelumnya ia mengajar kitab Syifa dan Asfar di Najaf. Namun atas perintah Sayid Abul Hasan Isfahani, ulama marja waktu itu dan saran atas gurunya Sayid Ali Qadhi, ia bermigrasi dari Najaf ke Masqat. [27]
  • Sayid Abul Qasim Khui, ia menjalankan amalan-amalan yang diperintahkan gurunya selama 40 hari, dan setelah itu ia mengalami mukasyafah (penglihatan batin). Melalui mukasyafah tersebut ia menyaksikan dirinya di masa depan yang akan mengajar dan menjadi ulama marja taklid. [28]

Diantara murid-murid lainnya bisa disebutkan sebagai berikut:

  • Ali Akbar Marandi; menjadi murid Sayid Ali Qadhi selama 16 tahun [29]
  • Muhammad Taqi Bahjat [30]
  • Ali Muhammad Burujerdi; ia merangkum dan menuliskan kembali pelajaran-pelajaran Sayid Ali Qadhi [31]
  • Murtadha Anshari Lahiji [32]
  • Sayid Hasan Kasymiri [33]
  • Sayid Ahmad Kasymiri [34]
  • Murtadha Mudarris Ghilani
  • Murtadha Mudarris Chahardihi
  • Sayid Husain Badkubi'i [35]
  • Sayid Abdul Kasymiri
  • Sayid Abbas Kasyani
  • Muhammad Taqi Amuli
  • Mirza Ibrahim Sistani [36]
  • Sayid Ahmad Fihri Zanjani; diantara yang terakhir belajar langsung dari Sayid Ali Qadhi [37]
  • Sayid Muhammad Husaini Hamadani; mempelajari beberapa bagian kitab Jami' al-Sa'adat Mulla Muhammad Mahdi Naraqi di bawah bimbingan Sayid Ali Qadhi [38]
  • Sayid Murtadha Firuz Abadi; penulis Fadhail al-Khamsa min al-Shihah al-Sittah. Ia bertetangga dengan Sayid Ali Qadhi dan turut hadir di kelas-kelas akhlak dan irfan Sayid Ali Qadhi. Ia juga disebut menjaga banyak rahasia gurunya. [39]

Para Penentang

Adanya penentangan sejumlah ulama atasnya membuat sebagian dari masyarakat memperlakukannya tidak pantas, misalnya mereka mengambil sajadah yang sedang didudukinya bahkan ada yang mengancamnya dengan kematian. Tampaknya, ketidak sukaan itu lahir dari ketertarikan Sayid Ali Qadhi yang besar terhadap Ibnu Arabi dan Rumi dan juga hubungannya yang dekat dengan salah seorang sufi dari Najaf Bahar Ali Syah. Syaikh Ali Qadhi bahkan oleh sejumlah penentangnya disebut sebagai seorang sufi. [40]

Mirza Mahdi Isfahani (1325 HS) salah seorang ulama Masyhad adalah penentang utama dari Sayid Ali Qadhi. Ia banyak mengkritisi pemikiran Sayid Ali Qadhi dalam bidang filsafat dan irfan teoritis. Ia mengaku penentangannya tidak ada kaitannya dengan gerakan sufi yang dikait-kaitkan dengan Sayid Ali Qadhi.

Sayid Abdul Ghaffar al-Mazandarani, salah seorang ahli zuhud yang terkenal di Najaf disebut-sebut juga sebagai salah seorang penentang Sayid Ali Qadhi.

Karya-Karya

Syarah tidak lengkap dari Doa Simat Sayid Ali Qadhi menulis karya berbahasa Arab ini pada dua tahun terakhir hidupnya. Disebabkan sakit ia tidak mampu menyelesaikan karya ini dan hanya sekitar sepertiga dari doa Samat yang sempat disyarahnya. Ia membiasakan membaca Doa Simat setiap Jumat sore dan kelas syarah dari doa ini dilakukan di rumahnya di Najaf. [41]

Tafsir Alquranu al-Karim

Kitab ini berisi penafsiran Alquran dari ayat pertama sampai ayat 91 dari Surah Al-An'am. [42] Kemungkinan naskah aslinya berada di London. [43] Metode penafsirannya disebutkan tafsir Alquran dengan Alquran. Tampaknya metode penafsirannya tersebut mempengaruh corak penafsiran muridnya Sayid Muhammad Husain Thabathabai ketika menafsirkan Tafsir Al-Mizan. [44]

Tashih wa Tahqiq al-Irsyad

Karya ini adalah tahkik dan catatan atas al-Irsyad karya Syaikh Mufid yang ditulis pada tahun 1306 HS saat Sayid Ali Qadhi berusia 21 tahun. [45]

Selain memberikan catatan atas al-Irsyad, ia juga menulis catatan mengenai sejumlah kitab lainnya seperti catatannya atas Matsnawi Jalaluddin Rumi dan Futuhat Ibnu Arabi, namun sampai sekarang karya ini tidak pernah diterbitkan. [46]

Sayid Ali Qadhi juga ahli dalam sastra Arab dan pandai membuat puisi. [47] Seperti kasidah Ghadiriyah dalam bahasa Arab yang diciptakannya pada tahun 1316 HS. Ia juga menggubah kasidah tersebut dalam bahasa Persia. [48]

Metode Irfan

Muhammad Husain Thabathabai menyebut Sayid Ali Qadhi sama sekali tidak ada kaitannya dengan salah satu silsilah tarekat sufi, melainkan ia mengikuti tarekat irfani Mulla Husainquli Hamadani dan gurunya Sayid Ali Syausytari yang mereka juga mengikuti irfani yang tidak dikenal bernama Jula. [49]

Namun oleh putranya, Sayid Muhammad Hasan Qadhi, ayahnya tidak mengikuti tarekat murid-murid Husainquli Hamadani. Menurutnya Sayid Ali Qadhi mengikuti tarekat ayahnya sendiri Sayid Husain. Sayid Husain adalah murid Imam Quli Nakhjawani. Imam Quli adalah murid Sayid Muhammad Quraisy Qazwini yang murid daei Mihrab Gilani Isfahani yang murid Muhammad Bidabadi, yang murid Sayid Qutb al-Din Muhammad Niyrizi, salah seorang pemimpin Dzahabiyyah. [50] Namun Sayid Ali Qadhi sendiri membantah penisbatan silsilah tersebut atas dirinya dan mengatakan yang dilakukannya sesuai dengan tirakat para ulama dan fukaha. [51]

Menurut Husaini Tehrani [52] (salah seorang murid Allamah Thabathabai) pada awalnya Sayid Ali Qadhi mengikuti ayahnya, namun setelah kematian ayahnya, ia menjadi murid Sayid Ahmad Karbalai yang dengan itu ia menjalankan tirakat Husain Quli Hamadani. [53] Sayid Ali Qadhi juga dikenal bersahabat dengan Sayid Murtadha Kasymiri selama 10 tahun, namun dalam bidang akhlak dan irfan ia tidak dikenal sebagai muridnya, [54] karena Kasymiri sangat menentang Ibnu Arabi dan karya-karyanya, dan ia juga memiliki banyak pandangan yang berbeda dengan Sayid Ali Qadhi. [55]

Sayid Ali Qadhi meyakini bahwa untuk mencapai maqam tauhid dan menemukan jalan spritual yang benar menuju Tuhan mustahil dicapai tanpa menerima wilayah Imam Maksum as dan Sayidah Fatimah az-Zahra sa. [56]

Ia berkata:

Jika aku tiba di suatu tempat, maka itu berawal dari dua petunjuk, Alquranul Karim dan ziarah Sayidul Syuhada

Pada hakikatnya, metode suluknya adalah juga metode Husain Quli Hamadani. Pada metode ini, untuk menghilangkan kekhawatiran seorang salik setidaknya dalam sehari semalam harus menyisikan waktu untuk menilai dirinya sendiri, sehingga secara bertahap ia akan mengenali dirinya sendiri. Selain itu, untuk menyingkap hijab-hijab dan penghalang spritual ia perlu bertawassul melalui Imam Husain as. [57]

Ihraq (Pembakaran)

Sayid Ali Qadhi menawarkan metode ihraq (membakar) untuk menghilangkan keinginan rendah dan niat egois. Metode ini terilhami dari Alquran bahwa salik harus mengetahui dan yakin segala sesuatu adalah mutlak milik Allah swt dan ia adalah seorang yang fakir. Dengan memikirkan hal tersebut, maka akan membakar semua niat dan sifat egois dalam diri manusia, yang karena itu metode ini disebut dengan ihraq. [58]

Memperhatikan Amalan Sunnah

Diantara metode suluk Sayid Ali Qadhi yang lain adalah memperhatikan salat awal waktu, mengamalkan salat malam, tahajjud dan juga berzikir sepanjang waktu. Metode ini dianjurkan kepada murid-muridnya untuk diamalkan termasuk kepada masyarakat umum. Ia juga memesankan untuk membaca zikir Yunusiyah (لا إلهَ إلّا أنتَ سُبحانَکَ إنّی کُنتُ مِنَ الظّالِمینَ) sebanyak 400 kali atau lebih dan membaca Alquran dalam sujud, membaca 100 kali surah al-Qadr pada malam Jumat, senantiasa membaca surah Tauhid, membaca doa Kumail dan Ziarah Jami'ah. [59]

Ziarah Kubur

Muhammad Taqi Amuli, salah seorang murid Sayid Ali Qadhi menukilkan bahwa gurunya sangat menekankan untuk membiasakan ziarah kubur dan ia sendiri kerap mendatangi makam-makam suci dan berlama-lama di tempat tersebut untuk berziarah. [60] Ia suka tahajjud di Masjid Kufah dan Masjid Sahlah dan di kedua masjid tersebut ia memiliki kamar khusus untuk melakukan ibadah. [61] Ia juga merekomendasikan untuk berjalan kaki ketika mengunjungi Masjid Sahlah. [62]

Peran Guru

Dalam perjalanan spritual menuju Allah swt, Sayid Ali Qadhi menekankan pentingnya keberadaan dan peran guru spritual. Menurutnya guru tersebut harus berilmu dan berwawasan luas, kosong dari hawa nafsu, telah mencapai ma'rifatullah dan insan kamil. Menurutnya, seorang salik yang menghabiskan separuh usianya dalam mencari guru yang pantas dan mengamalkan yang diajarkan gurunya tersebut, maka ia telah menyelesaikan separuh perjalanan. [63] Ia juga berkeyakinan bahwa seorang salik dan 'arif harus juga seorang mujtahid, karena kemungkinan ketika sebagian ilmu-ilmu batin tersingkap untuknya dan dibebankan atasnya sejumlah kewajiban yang hanya mujtahid yang mampu mengerjakannya secara benar, ia mampu menunaikannya. [64]

Merekomendasikan Risalah Sair wa Suluk

Diantara kitab-kitab irfan, Sayid Ali Qadhi merekomendasikan kitab Risalah Sair wa Suluk yang dinisbatkan kepada Bahrul Ulum sebagai kitab irfan terbaik. Namun dari muridnya Abbas Quchani dan putranya Muhammad Hasan Qadhi dinukilkan bahwa Sayid Ali Qadhi tidak membolehkan sebagian dari dastur 'amal yang sulit dari kitab tersebut untuk dijalankan. [65] Sayid Ali Qadhi juga menyukai kitab Futuhat Makkiyah dan Matsnawi Maulawi. Sebagian urafa meyakini Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi adalah Syiah. [66]

Sebaliknya, Sayid Ali Qadhi menganjurkan untuk tidak menyimpan beberapa kitab diantaranya al-Aghani (ditulis Abul Faraj Isfahani) karena menurutnya kitab tersebut memuat mengenai penyanyi dan musisi dan menceritakan mengenai kebobrokan moral mereka yang hanya melahirkan kesia-siaan. [67]

Sifat dan Akhlak

Agha Buzurg selama bertahun-tahun menjadi teman Sayid Ali Qadhi dan memiliki hubungan yang dekat. Ia mengagumi Sayid Ali Qadhi karena keistiqamahan, karamah dan martabatnya. [68] Menurut Sayid Ali Qadhi keistiqamahan dalam perjalanan menuju Allah swt harus dimulai dari memahami nama-nama agung Allah dan mencari tahu rahasia Ilahi. [69] Terlepas dari kemiskinan dan kehidupannya yang sederhana, ia menentang asketisme yang tidak syar'u dan terlampau ketat. Ia yakin bahwa seorang salik tetap harus peduli dengan penampilan tubuhnya, karena tubuh adalah gabungan dengan jiwa. Karena itu, ia peudli dengan penampilan lahiriahnya. Ia biasa memakai parfum dan pakaian putih dan bersih. Ia selalu menasehatkan ke orang lain agar berakhlak baik dan suka menebar kebaikan. [70]

Karamah

Banyak karamah yang diriwayatkan tampak dan dilakukan oleh Sayid Ali Qadhi, seperti mampu berpindah tempat seketika, mematikan seekor ular hanya dengan menyebutkan nama Allah al-Mumit [71], hidupnya orang yang sudah mati setelah ia berdoa, mampu menyampaikan mengenai keadan, apa yang dipikirkan dan tindakan seseorang, menyampaikan informasi mengenai yang akan terjadi di masa depan seperti mengenai kemarjaan Sayid Abul Hasan Isfahani dan ia menyampaikan waktu kematiannya sendiri. Karamah lainnya, adalah terpancarnya cahaya ketika ia sedang mendirikan salat. [72]

Dari Ayatullah Khui dinukilkan mengenai terjadinya peristiwa ajaib dan diluar kebiasaan di saat Sayid Ali Qadhi menjelang kematiannya. [73] Begitupun disebutkan, karamahnya masih sering tampak dari makamnya. [74]

Pendapat Khusus dalam Fikih

Sayid Ali Qadhi berpendapat masuknya waktu maghrib syar'i adalah ketika matahari keluar dari pandangan cakrawala, seperti pendapat pada umumnya ulama sunni. [75]

Mengkritik Sistem Pendidikan Hauzah

Sayid Ali Qadhi mengkritik sistem pendidikan dan beberapa kitab pelajaran hauzah khususnya kitab-kitab pelajaran aqidah yang menurutnya matannya harus diganti dengan yang baru. Ia bahkan meminta muridnya Abbas Quchani untuk menulis ulang Jawahir al-Kalam karya Muhammad Hasan Najafi sebagaimana ia sendiri 21 jilid dari 43 jilid kitab tersebut telah diteliti dan memberikan catatan pinggir.

Ia juga mengusulkan ke Mirza Ibrahim Syarifi menantunya dan Sayid Muhammad Husain Thabathabai untuk menyusun kitab berisi sejarah Nabi Muhammad saw dalam pandangan Syiah sebab sebagian besar kitab yang tersedia ditulis oleh penulis-penulis di luar Syiah. Ia juga menyarankan kepada murid-muridnya untuk teliti mempelajari sejarah Islam dari kelahiran Nabi Muhammad saw hingga kelahiran Imam Mahdi afs. [76] Termasuk ia juga meminta untuk mempelajari filsafat dan irfan teoritis. Muridnya Abbas Quchani adalah satu-satunya yang mengajar filsafat pada masa itu. [77]

Wafat

Pada tahun-tahun terakhir usianya, Sayid Ali Qadhi menderita penyakit polidipsia dan meninggal dunia pada 6 Rabiul Awal 1365 H. [78] Sayid Jamaluddin Ghulpaighami menyelenggarakan salat jenazah atasnya. Ia dimakamkan di Pemakaman Wadi al-Salam, di sisi maqam Imam Mahdi afs dan di sisi kuburan ayahnya. [79]

Catatan Kaki

  1. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565; Ruhani Nejad, hlm. 26
  2. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 32-34; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 6
  3. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 2, hlm. 529; Mu'allim Habib Abadi, jld. 3, hlm. 103; Habib Abadi, jld. 5, hlm. 1474
  4. Ghaffari, hlm. 163; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 6
  5. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 6, 9
  6. Hasan Zadeh Amuli, hlm. 8; Shaduqi Saha, hlm. 381; lih. Amini, jld. 3, hlm. 966; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 6, 9
  7. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 15
  8. Karimi Nejad, hlm. 38
  9. Lih. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 15
  10. Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 23; Salah Kul, Mushahabah ba Mahmud Quchani, hlm. 196-197
  11. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 6, 9; Hasan Zadeh, hlm. 161-162
  12. Gharawi, jld. 2, hlm. 272
  13. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565; Ruhani Nejad, hlm. 29, 45
  14. Hasan Zadeh, hlm. 159, 171-172
  15. Muhammad Hasan Qadhi, Shafahat min Tarikh al-A'lam, jld. 1, hlm. 18; Ruhani Nejad, hlm. 27; Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565
  16. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565-1566
  17. Muallim Habib Abadi, jld. 7, hlm. 2695-2696; Qadhi, Muqaddimah, hlm. 10
  18. Lih. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 24, 27
  19. Husaini Hamadani, hlm. 46
  20. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565-1566; Amini, jld. 3, hlm. 966
  21. Husaini Hamadani, hlm. 48; Shaduqi Saha, hlm. 381
  22. Lih. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 318-319; Ruhani Nejad, hlm. 150
  23. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 13, cat. kaki 1, hlm. 35
  24. Qadhi Thabathabai, Muqaddimah Sayid Muhammad Hasan Qadhi, hlm. 7; Ruhani Nejad, hlm. 56
  25. Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 101
  26. Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 12-13, 101; lihat juga: Hadad, Sayid Hasyim Musawi
  27. Husaini Tehrani, Allah Senasyi, jld. 3, hlm. 285; Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 102-103
  28. Fatimah Niya, jld. 2, hlm. 196-197
  29. Ruhani Nejad, hlm. 80
  30. Lih. Rakhsyad, jld. 1, hlm. 188
  31. Husaini Hamadani, hlm. 45-46; Hasan Zadeh, hlm. 156
  32. Lih. Husaini Tehrani, Imam Syenasi, jld. 14, hlm. 280, cat. kaki. 1
  33. Husaini Tehrani, Allah Syenasi, jld. 2, hlm. 282
  34. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 28
  35. Shaduqi Saha, hlm. 293, 294, 392
  36. Ruhani Nejad, hlm. 56
  37. Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 142, cat. kaki 1; Lih. Ruhani Nejad, hlm. 56
  38. Husaini Hamadani, hlm. 44
  39. Firuz Abadi, Muqaddimah Sayid Muhammad Firuz Abadi, hlm. 7-8
  40. Lih. Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad, hlm. 42-43, 126; 'Athasy, hlm. 21; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 11; lih. Shalah Kulli, Mushahabah ba Mahmud Quchani, hlm. 194-195
  41. Qhadi, Muqaddimah Nasyir, hlm. 2-3
  42. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4
  43. Qadhi, Muqaddimah Nasyir, hlm. 3; lih. Ghaffari, hlm. 167, cat. kaki 1
  44. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 27; Ruhani Nejad, hlm. 33-34
  45. Lih. Masyar, jld. 5, hlm. 769; Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 34; Ruhani Nejad, hlm. 25-26
  46. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 9; Ghaffari, hlm. 167, cat. kaki 1
  47. Mu'allim Habib Abadi, jld. 7, hlm. 2694; Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 27
  48. Lih. Muhammad Hasan Qadhi Thabathabai, Shafahat min Tarikh al-A'lam, jld. 1, hlm. 29-72-75
  49. Lih. Husaini Tehrani, Risalah Lubb al-Lubab, hlm. 146-149
  50. Shaduqi Saha, hlm. 225
  51. 'Athasy, hlm. 332
  52. Husaini Tehrani, Tauhid 'Ilmi wa 'Aini, hlm. 20
  53. Lih. Ghaffari, hlm. 88-89
  54. Lih. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 29, 324; Ghaffari, hlm. 88-90
  55. Lih. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 8-9
  56. Husaini Tehrani, Tauhid 'Ilmi wa 'Aini, hlm. 40; Ruhani Nejad, hlm. 88
  57. Husaini Tehrani, Risalah Lubb al-Lubab, hlm. 149-150
  58. Risalah Sair wa Suluk, Syarh Husaini Tehrani, hlm. 147-148; Husaini Tehrani, Risalah Lubb al-Lub, hlm. 124-125
  59. Lih. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 26; Ruhani Nejad, hlm. 83; Dar Mahdhar Aflakiyan, hlm. 79-81, 83; untuk penjelasan lebih banyak mengenai zikir-zikir dan amalan-amalan yang diceritakan oleh murid-muridnya bisa lihat di Shalah Kulli, Mushahabah ba Mahmud Qhucani, 198, 191-199
  60. Hasan Zadeh Amuli, hlm. 10-11; Fatimi Niya, jld. 3, hlm. 68-69
  61. Husaini Tehrani, Ma'ad Senasyi, jld. 1, hlm. 232
  62. Firuz Abadi, Muqaddimah Sayid Muhammad Firuz Abadi, hlm. 8
  63. Risalah Sair wa Suluk, Syarh Husaini Tehrani, hlm. 176
  64. Lih. Shalah Kulli, Mushahabah ba Mahmud Quchani, hlm. 189
  65. Risalah Sair wa Suluk, Muqaddumah Husaini Tehrani, hlm. 12; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 10
  66. Husaini Tehrani, Tauhid 'Ilmi wa 'Aini, hlm. 40-41; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 9
  67. Lih. Fathimi Niya, jld. 1, hlm. 52-53
  68. Agha Buzurg, jld. 1, bag. 4, hlm. 1566
  69. Qadhi, Muqaddimah, hlm. 11-12
  70. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 99; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 10; lih. Ghaffari, hlm. 163-165
  71. Lih. Husaini Tehrani, Ma'ad Syenasi, jld. 1, hlm. 231-235; Mehr Taban, hlm. 370-371
  72. Fathimi Niya, jld. 3, hlm. 98-99, 112-114; Ruhani Nejad, hlm. 148, 150-153
  73. Musawi, hlm. 60
  74. Lih. Dar Mahdhar Aflaghiyan, hlm. 66-67
  75. Husaini Tehrani, Mehr Taban, hlm. 99; Husaini Tehrani, Tauhid 'Ilmi wa 'Aini, hlm. 230
  76. Lih. Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 12, 14
  77. Shalah Kulli, Mushahabah ba Mahmud Qhucani, hlm. 185-182
  78. Sabiqah Sajal Ahwal Ayatullah Qadhi
  79. Agha Buzurg Tehrani, jld. 1, bag. 4, hlm. 1565-1566; Yad-e Nameh 'Arif Kabir, hlm. 14-15; Mu'allim Habib Abadi, jld. 7, hlm. 2696, menyebut hari wafatnya adalah 4 Rabiul Awal.

Daftar Pustaka

  • Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat al-'Alam al-Syi'ah, Naqba al-Basyar fi al-Qarn al-Rabi' Asyar, 1/2, al-Qasam al-Rabi' min al-Juz al-Awwal, Najaf 1381 H/1962
  • Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat al-A'lam al-Syi'ah, Naqba al-Basyar fi al-Qarn al-Rabi' Asyar, jld. 1, Najaf, 1373 H/1954
  • Athasy, Haihat Tahririyah Muassasah Farhanggi Muthali'ati Syams al-Syamus, Tehran, 1383 HS
  • Dar Mahdhar Aflakiyan, Guruh Tahqiqan al-Ghadir, Tehran, 1389 HS
  • Hasan Zadeh Amuli, 'Allamah Thabathabai dar Manzharah 'Irfan Nazhari wa 'Ilmi, Kaihan Andisyeh, nmr. 26, Mehr wa Aban 1368 HS
  • Husain Ruhani Nejad, Bahr Kharusyan: Syarh Hal 'Alim Rabbani Sayid Ali Qadhi, Tehran, 1387 HS
  • Husaini Ghaffari, Falsafah 'Irfan Syi'ih, Tehran, 1383 HS
  • Khanbaba Masyar, Muallifin Kutubi Capi Farsi wa Arabi az Agaz ta Kunun (Daftar Penulis Kitab-kitab Terbitan Persia dan Arab dan Dulu sampai Sekarang), [Tehran] 1343 HS
  • Manucehr Shaduqi Saha, Tahrir Tsani Tarikh Hukama wa 'Urafa Mutaakhir, Tehran, 1381 HS; Salh Kull (kumpulan wawancara yang belum pernah terpublis mengenai kehidupan Ayatullah Sayid Ali Qadhi dari para putranya), kumpulan penulis, Tehran, 1382 HS
  • Muhammad Ali Mu'allim Habib Abadi, Makarim al-Atsar, jld. 3, Isfahan, 1351 HS
  • Muhammad Ali Mu'allim Habib Abadi, Makarim al-Atsar, jld. 5, Isfahan, tanpa tahun
  • Muhammad Ali Mu'allim Habib Abadi, Makarim al-Atsar, jld. 7, Isfahan, 1374 HS
  • Muhammad Hadi Amini, Mu'jam Rijal al-Fikr wa al-Adab fi al-Najaf Khalal Alif 'Am, Najaf, 1413 H/1992
  • Muhammad Husain Rakhsyad, Dar Mahdhar Ayatullah al-Uzhma Bahjat, Qom, 1389 HS
  • Musthada Karami Nejad, Dar Kui bi Nesyan ha, Qom, 1377 HS
  • Risalah Sair wa Suluk Mansub be Bahrul Ulum, cet. Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Tehran, 1360 HS
  • Sayid Abdullah Fathimi Niya, Nukteha az Ghufteha Ghuzidei az Sukhanrani hai Ustad Fathimi Niya, Masyhad, 1386 HS
  • Sayid Ali Qadhi Thabathabai, Syarh Du'a Samat, Tehran, 1385 HS
  • Sayid Muhammad Gharawi, Ma'a 'Ulama al-Najaf al-Asyraf, Beirut, 1420 H/1999
  • Sayid Muhammad Hasan Qadhi Thabathabai, Shafahat min Tarikh al-A'lam, Qom, tanpa tahun
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Allah Syenasi, Masyhad 1423 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Imam Syenasi, Masyhad 1425 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Ma'ad Syenasi, jld. 1, Tehran, 1402 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Mehr Taban, Masyhad, 1423 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Risalah Lubb al-Lubab dar Sair wa Sulul Auliya al-Albab, Masyhad 1426 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Ruh Mujarrad: Yad-e Nameh Mauhud 'Azhim wa 'Arif Kabir Haj Sayid Hasyim Musawi Hadad, Masyhad 1427 H
  • Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Tauhid 'Ilmi wa 'Aini, Masyhad 1428 H
  • Sayid Muhammad Husaini Hamadani, Mushahabah ba Ustad Ayatullah Husaini Hamadani (Najafi), Hauzah, thn. 5, nmr. 6, nmr terbit. 30, Bahman dan Esfand, 1367 HS
  • Sayid Murtadha Firuz Abadi, Fadhail Panc Tan 'Alaihi al-Salam dar Shihah Syesyghaneh Ahl-e Sunnat, terj. Muhammad Baqir Sa'adi, 1373 HS
  • Shadiq Hasan Zadeh dan Mahmud Thayyar Maraghi, Uswah 'Arifan Gufteh Ha wa Nagufteh Ha Darbare-ye 'Arif Kamil 'Allamah Mirza 'Ala Agha Qadhi Tabrizi, Qom, 1383 HS
  • Taqi bin Husain Musawi, Qadwah al-'Arifin: Sirah al-'Arif al-Kabir Sayid Hasan al-Musqath al-Musawi wa Karamatuhu, Beirut, 1428 H/2007
  • Yad-e Nameh 'Arif Kabir Sayid Ali Qadhi, Zir Nazhar Mahdi Parwinzad, Kayhan Farhanggi, nmr. 206, Azar, 1382 HS