Prioritas: a, Kualitas: b

Syarif Radhi

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Sayid Radhi)
Lompat ke: navigasi, cari
Syarif Radhihttp://en.wikishia.net
Syarif-radhi2.jpg
Makam Syarif Radhi di Kazhimain
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Abu al-Hasan Muhammad bin Husain al-Musawi
Lahir 359 H/970
Tempat tinggal Baghdad
Wafat/Syahadah 406 H/1015
Tempat dimakamkan Kazhimain, (menurut sebuah laporan, di Karbala)
Kerabat termasyhur Asy-Syarif al-Murtadha (saudara)
Informasi ilmiah
Guru-guru Syaikh Mufid • Muhammad Thabari • Abu Ali Farsi • Qadhi Abdul Jabbar • Ibnu Nubatah • ...
Murid-murid Abu Zaid Sayid Abdullah Kabaiki al-Husini al-Jurjani • Abu Abdullah Syaikh Muhammad bin Ali al-Halwani • ...
Karya-karya Nahjul BalaghahHaqaiq al-TanzilMajāz al-Qurān, Khashāish al-Aimmah asal-Ziyādāt fi Syi'r Abi TamāmTa'liqāh fi al-Idhāh li Abi Ali, al-Jaid min Si'r Ibnu Hajāh • ...
Kegiatan Sosial dan Politik
Sosial membangun Dar al-'Ilm

Muhammad bin Abi Ahmad Hasani (l. 359 H/970 - w. 406 H/1015) yang bergelar Syarif Radhi (bahasa Arab:الشريف الرضي) dan terkenal dengan sebutan Sayid Radhi merupakan salah satu ulama besar Syiah dan seorang penyair terkemuka pada zamannya. Ia dihormati oleh kalangan Syiah dan Sunni karena kezuhudan dan ketakwaannya.

Sayid Radhi adalah penulis beberapa kitab seperti: Haqāiq al-Ta'wil fi Mutasyābih al-Tanzil, al-Mujāzāt al-Nabawiyyah, Khasāish al-Aimmah dan pengumpul tuturan-tuturan Imam Ali as yang terhimpun dalam kitab Nahj al-Balaghah.

Sayid Radhi wafat di Baghdad dan di sana pula dikebumikan. Pada masa kemudian, oleh saudaranya, asy-Syarif al-Murtadha, jasadnya dipindahkan ke Karbala. Guru Sayid Radhi yang paling terkenal adalah: Muhammad al-Thabari, Abu Ali Farsi, Qadhi al-Sairafi, Qadhi Abdul Jabbar Mu'tazili, Ibnu Nubatah, Syaikh Mufid dan Sahl bin Dibaji.

Nasab dan Keluarga

Muhammad bin Husain bin Musa bin Muhammad bin Musa bin Ibrahim bin Imam Musa Kazhim as[1] terkenal dengan nama Syarif Radhi. [2] Syarif Radhi berasal dari sebuah keluarga besar dan Sadat Hasyimi dan Bani Abi Thalib. [3] Oleh itu, ia disebut dengan syarif. Nasab ayahnya sampai kepada Imam Musa bin Ja'far as (Imam ketujuh Syiah) dengan 5 perantara dan Ibundanya juga merupakan cucu Imam Ali Zainal Abidin as, Imam ke-4 Syiah. [4]

Ayahnya, Abu Ahmad Husain bin Musa Alawi seorang Alim, pemimpin dan Naqib Bani Abi Thalib. Menjadi pelindung bagi masyarakat dan pemangku jabatan di Diwan Mazhalim serta Amirul haj. Tugas menjadi pemimpin (Niqabat) adalah tugas yang sangat penting dari sisi maknawi dan kemasyarakatan. Abu Ahmad memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat penting dalam kekhalifahan Abbasiyah dan Dinasti Buyid pada zamannya. [5] Ibundanya adalah Fatimah putri Hasan (atau Husain) bin Ahmad bin Hasan bin Ali bin Umar al-Asyraf bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib[6] dan wafat pata tahun 385 H/995. Sayid Radhi pada tahun ke 68 menulis kasidah untuk mengenangnya. [7]

Lahir dan Wafat

Marqad Syarif Radhi di Kazhimain

Sayid Radhi lahir pada tahun 359 H/970 dan wafat pada 6 Muharram 406 H/1015. [8] Setelah dimandikan, dikafankan dan disalatkan, jenazahnya dimakamkan di Karakh. Terdapat pendapat lain tentang di mana ia dikuburkan. Menurut sebuah sumber, setelah rumahnya rusak, Sayid Radhi dibawa ke Kazhimain dan dikubur di samping pusara Imam Kazhim as. Menurut pendapat lainnya, yang diyakini kebenarannya oleh Abdul Husain al-Hilli ia dibawa ke Karbala dan dikuburkan di dekat makam ayahandanya. [9] Sayid Dawudi dalam kitab Umdah al-Thalib[10] dan Sayid Ali Khan dalam kitab al-Darajāt al-Rafi'ah dalam pembahasan tentang riwayat kehidupan Sayid Radhi, Syaikh Yusuf al-Bahrani dalam kitab Lu'lu' al-Bahrain [11] juga menegaskan[12] bahwa kuburan Sayid Radhi dan saudaranya berada di Karbala dan dimakamkan di sisi kakeknya yaitu Imam Husain as. [13]

Kedudukan Ilmu

Syarif Radhi termasuk salah satu ulama yang langka pada masanya dan berguru kepada guru-guru besar. Ia adalah seorang ahli tata bahasa yang mahir, terkenal, seorang fakih yang mempuni, seorang teolog yang berbakat, mufasir al-Quran dan hadis nabawi. Sebagian ulama berkata, sekiranya tidak ada Radhi, Murtadha merupakan penyair yang paling terkenal dan jika tidak ada Murtadha, Radhi merupakan orang yang paling pintar di antara masyarakat. [14] Kehidupan Sayid Radhi bertepatan dengan periode pemerintahan Abbasi (334 H/945-447 H/1055) dimana Ali Buwaih (334 H/945-447 H/1055) memerintah Irak dan dari sisi Sejarah Sastra, sezaman dengan Mutanabbi (303 H/915-354 H/965) dan Abu 'Ala Mu'arri (363 H/973-449 H/1057). [15]

Abdul Latif Syararah berkata:

"Apabila kita meninjau secara teliti dan mendalam selama 150 tahun yang penuh euphoria politik dan kebudayaan pada abad ke-10/4 Hijriah dan ke-11/5 Hijriah yaitu bahwa Sayid Radhi lahir 5 tahun setelah terbunuhnya Mutanabbi dan al-Mu'arri lahir 4 tahun setelah kelahiran Sayid Radhi. Maka hal ini merupakan umur yang pendek. Namun al-Mua'rri hidup selama 80 tahun. Ketiga penyair ini tampil selama 150 tahun dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Arab secara terus menerus. Ketiganya sibuk dengan urusan hiburan dan dekat dengan politisi, negarawan, pembesar agama, dan pemegang keadilan. Mereka berupaya keras untuk merefleksikan keadaan masyarakatnya dalam karya-karya mereka.” [16]

Mempelajari Fikih dan Ushul Fiqh dari selain Syiah

Sayid Radhi, di samping mempelajari ajaran-ajaran Syiah, ia juga belajar dari ulama-ulama selain Syiah. Abdul Husain Hilli menyebutkan tentang alasan Sayid Radhi mempelajari fikih dan ushul fikih selain Syiah Imamiyah: Sebagian orang yang berpikiran sederhana menilai sikap berlebihan dalam tindakan Sayid Radhi yang mempeajari fikih, ushul fikih dan kalam dan bersikap heran terhadap kepercayaan orang-orang yang berseberangan dengan madzhab Syiah karena menurut mereka yang terpenting adalah bahwa seseorang mencukupkan diri dengan mempelajari madzhabnya sendiri. Namun para ulama pada abad-abad sebelumnya, tidak akan puas jika belum mempelajari hadis-hadis, fikih dan ushul fikih kedua firkah sehingga mereka sendiri akan mengenalnya secara sempurna dan meluaskan pensucian dan tarbiyahnya sendiri, unggul dalam berargumentasi karena lembaga debat pada masa itu sangat terbuka, perdebatan tentang Imamah dan Kalam sangat nyata. Di samping itu, karena Sayid Radhi juga bertanggung jawab dalam hal pengadilan di Diwān al-Mazhālim (semacam dewan peradilan), tanggung jawab dan kewajiban seperti secara terang memotivasinya untuk mempelajari akan fikih semua madzhab. Dengan cara ini, ia memiliki kemampuan yang baik dalam peradilan dan mengeluarkan pendapat dalam masalah itu. [17]

Niqabat

Ketika 'Adhud al-Daulah pada tahun ke-367 H/977 berkuasa di Baghdad ia takut kepada kekuatan dan pengaruh Abu Ahmad, ayahanda Sayid Radhi. Oleh karena itu, ia bersama dengan beberapa pembesar Syiah ditangkap pada tahun 369 H/979. Setelah harta-harta mereka disita, mereka kemudian dibuang ke penjara Ishtakhr (sebuah kawasan di Fars) dan memenjarakan mereka. [18] Walaupun para penguasa selanjutnya membebaskannya, namun ia tetap dibatasi ruang geraknya selama sepuluh tahun. Pada tahun 380 H/990 M, semua posisi Abu Ahmad dikembalikan lagi kepadanya. Namun karena ia telah tua dan fisiknya lemah juga karena telah kenyang atas hukuman penjara, ia menyerahkan tanggung jawab (sebagai pembesar Syiah) itu kepada Abu al-Hasan (Sayid Radhi). [19] Dengan demikian, Sayid Radhi telah memegang jabatan Pembesar bagi Bani Alawi (Naqib) pada usia 21 tahun di Baghdad dan selanjutnya ia digantikan oleh saudaranya, Sayid Murtadha. [20]

Pendirian Madrasah

Walaupun Sayid Radhi tidak memiliki keuangan yang cukup, namun ketika ia melihat kondisi para muridnya selalu tergantung kepadanya, ia menyiapkan rumahnya dan menjadikan rumahnya sebagai madrasah bagi murid-muridnya. Nama madrasah itu adalah Dār al-'Ilm. Ia menyediakan dan mencukupi kebutuhan para muridnya. Ia membangun perpustakaan Dar al-'Ilm dan menyediakan kas dengan segala kebutuhan yang diperlukan. Ia membuat gudang tersendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan muridnya di Dar al-'Ilm. [21] Meski jabatan departemen keuangan ditugaskan kepada Ahmad Abdul Salam bin Husain Bashri yang terkenal dalam ilmu taqwim, [22] namun ia memberikan juga kunci gudang kepada beberapa murid supaya mereka terbentuk karakter dan kemandiriannya sehingga kapan saja mereka menginginkan, maka mereka akan secara langsung membuka pintu gudang dan mengambil segala yang diperlukan dan tidak perlu menunggu petugas gudang untuk membukakannya. [23] Dar al-'Ilm juga memiliki gedung perpustakaan dan menampung kitab-kitab yang dibutuhkan oleh muridnya sehingga murid Dar al-'Ilm tidak lagi membutuhkan sumber-sumber rujukan lain untuk belajar. [24] Walaupun sebagian para ahli sejarah dan para penulis biografi, Khajah Nizham al-Mulk Thusi (menteri berpengaruh dari dua raja Dinasti Salajuqi), pendiri Madrasah Nizhamiyah Baghdad adalah orang yang pertama kali mengetahui bahwa dalam Islam, madrasah digunakan untuk menuntut ilmu-ilmu agama, namun keterangan di atas menunjukkan bahwa Nizham al-Mulk (w. 485 H/1092) kira-kira 100 tahun setelah wafatnya Sayid Radhi melakukan aktivitas ini. Oleh karena itu kita harus menilai bahwa Sayid Radhi yang merupakan pelopor dan pendiri madrasah ini. [25] Seolah-olah Dar al-'Ilm yang didirikan oelh Sayid Radhi, pada masa-masa kedepan, oleh saudaranya, Sayid Murtadha dilanjutkan kehidupan keilmuannya. Adapun bahwa pada sebagian kitab-kitab Dar al-'Ilm terdapat perkataan-perkataan mengenai Sayid Murtadha, maka hal itu karena aktivitas Sayid Radhi dan kegiatan-kegiatan lainnya dilanjutkan oleh saudaranya, Sayid Murtadha. Dari Dar al-'Ilm Sayid Murtadha lahir ilmuwan-ilmuwan hebat seperti Syaikh Thaifah Hasan bin Muhammad Thusi yang berhasil menggondol prestasi dan meraih kesempurnaan ilmu. [26]

Anak Tunggal

Abu Ahmad Adnan bin Radhi terkenal dengan Syarif Murtadha Tsani adalah seorang ilmuwan, sastrawan, dan penyair. Ia termasuk orang-orang yang memiliki keutamaan dalam keilmuan, kemuliaan dan kesempurnaan sehingga mendapat julukan kakeknya "Thahir Dzul Manaqib.” Setelah ayah dan pamannya, ia memegang tanggung jawab sebagai Niqābat Thālibiyan (kepala suku Bani Alawi) di Baghdad. Abul Hasan Umri berkata: Ia seorang syarif yang suci, mendalam dalam berfikir dan kebersihan jiwanya. Aku melihat bahwa ia mengetahui ilmu Arudh (prosody, parameter pembuatan syair). Para raja, pangeran, pembesar-pembesar keluarga pemerintah sangat memperhitungkan keberadaannya sebagaimana mereka melihat kebesaran dan kewibawaan yang ada pada ayah, paman dan kakeknya. Ia hanya memiliki seorang anak bernama Ali dalam kehidupnnya, namun anaknya meninggal pada masa kehidupannya, sehingga ia tidak memiliki anak. Ia meninggal pada tahun 449 H/1057 dan dengan meninggalnya Ali, silsilah keluarga Syarif Radhi pun berakhir. [27]

Para Guru

Muhammad Thabari

Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Thabari, faqih Maliki (w.393H/1002), muhaddits dan pengarang buku. Abu al-Faraj bin Jauzi dalam kitab Tārikh-nya terkait dengan wafat Syaikh Abu Ishak Thabari menulis: Ia adalah seorang syaikh yang syahid, adil, terdepan dari yang lainnya, sangat banyak mendengar hadis, dan sangat pemurah kepada para murid dan santrinya. Syarif Radhi mempelajari Al-Quran darinya. Suatu hari berkata, Syarif, di mana rumahmu? Di rumah ayahku, gang kecil Bab Muhawwil. Ia berkata: Seseorang seperti Anda tidak seharusnya tinggal di rumah ayahnya. Rumahku yang ada di gang Karah dan terkenal dengan nama Dar al-Barkah aku berikan kepadamu. Sayid Radhi tidak menerima pemberian itu dan kepada Thabari berkata: Sampai sekarang aku juga tidak menerima sesuatu pun dari ayahku. Ia berkata: Hakku atasmu adalah jelas, lebih besar dari pada hak ayahmu karena aku mengajarkan al-Quran kepadadamu. Kemudian Sayid Radhi pun menerima hadiah itu. [28]

Abu Ali Farsi

Abu Hasan bin Ahmad bin Abdul Ghafar Farsi Fasuhi Nahwi (w.377 H/987) adalah tokoh dalam bidang ilmu dan sastra. Bukunya menjadi bahan referensi utama yang mendalam dan berharga bagi semua penuntut ilmu. Dalam masa hidupnya, ia merupakan pemuka dalam bidang ilmu Nahwu. Beberapa lama hidup di Halab, ia berguru kepada Saif al-Daulah Hamedani. Antara ia dan Mutanabbi terjadi perdebatan dalam masalah keilmuan dan kesastraan. Kedudukanya dalam bidang kesustraan sedemikian tinggi sehingga sebagian sastrawan menganggap ia lebih unggul dari pada Mabarad. 'Adhud al-Daulah lebih mendahulukannya dari pada Ali bin Isa Syirazi dan Ibnu Hani Musala. Kitab Takmilah dan persoalan Syirāziyat (dalam 13 jilid) ditulis untuknya. Karya-karyanya adalah al-Aidhah dalam bidang Nahwu, Al-Maqshud wa al-Mamdud dan Al-Hujah fi 'Ilal al-Qirāat. Sayid Radhi belajar Nahwu dari Abu Ali Farsi ini. Sayid Radhi meriwayatkannya dalam kitabnya, Al-Majāzāt al-Nabawiyyah. [29] Sayid Radhi memperoleh ijin darinya untuk menukil dari kitab al-Aidhah.

Qadhi Sairafi

Abu Sa'id Hasan bin Abdullah bin Mirzban Baghdadi Nahwi (w.368 H/978) merupakan salah seorang pembesar dalam bidang nahwu dan sastra. Ia mengajar Ulumul Quran, Nahwu, Bahasa dan Faraidh di Baghdad. Sayid Radhi telah belajar darinya sebelum mencapai umur 10 tahun. Ia untuk beberapa lama bekerja sebagai hakim. Karya-karyanya adalah Syarah Kitab Saibuyah dan Syarah Maqshurah Ibnu Duraid. Ketika Sairafi meninggal di Baghdad pada bulan Rajab tahun 368 H/978, Sayid Radhi menulis kasidah untuk memuji kerja keras gurunya dalam bidang ilmu Nahwu dan menyanjung atas betapa tingginya ilmu yang dimiliki. [30]

Qadhi Abdul Jabbar

Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad Baghdadi Syafi'i Mu'tazili seorang muhadits, sastrawan dan seorang yang fadhil. Ia termasuk hakim yang berpengaruh di Baghdad. Ia terkenal sebagai orang yang memegang erat agamanya, kuat akidahnya dan zuhud. Darinya Sayid Ridha belajar kitab-kitab: Qadhi Abdul Jabbar, Syarah Ushul al-Khamsah dan kitab al-'Umdah fi Ushul Fiqh. Sayid Radhi dalam kitab Majāzāt al-Nabawiyah beberapa kali menyebut namanya dan berkata: aku menulis ta'liqat (annotasi) tentang Rukyat dari Qadhi al-Qadhah Abil Hasn Abdul Jabbar bin Ahmad. [31]

Ibnu Nabatah

Abu Yahya Abdurahman bin Muhammad Farsi Khatib dijuluki dengan Khatib Misri (w.374 H/984) dan termasuk pembesar kaum Romawi yang menonjol. Sayid Radhi belajar Seni Balaghah dan Sastra dari Ibnu Nabatah dan selalu bersama dengannya sampai ia pindah ke Halab. [32]

Abu Ahmad Akfani Qadhi

Abu Muhammad Abdullah Asadi Akfani Qadhi (w.405 H/1014) seorang yang memiliki keutamaan ilmu, termasuk seorang hakim yang bertakwa dan memiliki keutamaan. Ia memikul tanggung jawab sebagai hakim selama beberapa lama di Baghdad. Sayid Radhi untuk beberapa lama menjadi muridnya. Abi Hasan Karakhi juga secara singkat belajar darinya. [33]

Usman bin Hani Mausuli Baghdadi

Abul Fatah Utsman bin Hani Mausuli Baghdadi Nahwi (w.392 H/1001) dari sisi kepandaian bahasa lebih pintar dari lainnya. Ia lebih pandai dari semua ahli nahwu. Kepandaiannya lebih banyak di bidang nahwu. Tidak ada seorang ulama nahwu pun yang mampu menandingi kepintarannya dalam menyelesaikan persoalan nahwu dan dalam menjelaskan rumitnya sebuah kalimat. Diantara karya-karyanya adalah: Al-Shana'ah wa Asrār al-Balāghah, Al-Manhaj fi al-Isytiqāq, Syi'r al-Hamasah, Syarah Kitab Al-Syawadz bin Mujāhid dar Qirāat, Syarah Diwān Mutanabbi, Al-Kāfi fi Syarah Kitab al-Qawāfi karya Akhfasy, Al-Khawāish, Al-Muqātadhab, Al-Ma' al-Tsaqib, Al-Tabsyirah, Al-Maqsud wa al-Mamdud. Sayid Radhi belajar Nahwu dari Ali bin Isa Rab'i Syirazi. Dalam kitab Majāzāt al-Nabawiyah sangat banyak matlab (pembahasan) yang dinukil dari Ibnu Jani. Ibnu Jani walaupun merupakan guru dari Sayid Radhi, mensyarah kasidah Sayid Radhi yang merupakan pujian kepada Abu Thahir Nashir al-Daulah. Dengan perantara itu, ia memiliki informasi yang luas dan dinilai memiliki ilmu dan sastra zaman. Sayid Radhi, setelah mengetahui langkah yang diambil gurunya, membacakan kasidah penuh makna sebagai ungkapan terima kasih kepada gurunya. Dan Ibnu Janni inilah yang berkata: Sayid Radhi mengarang sebuah kitab tentang makna-makna al-Quran yang sulit ditemukan padanannya. [34]

Ali bin Isa Rab'i Baghdadi

Abu al-Hasan bin Isa Rab'i Baghdadi Syirazi (w 420 H/1029) merupakan Imam dalam bidang Nahwu dan Bahasa Arab. Ia terkemuka dalam bidang Sastra dan dalam ilmu 'Arudh ( ilmu yang digunakan untuk mengetahui benar atau tidaknya sebuah wazan syair). Untuk beberapa waktu ia belajar Sastra dari Sairafi, kemudian ia pergi ke Shiraz dan selama 20 tahun belajar dari Abu Ali Farsi. Abu Ali Farsi berkata: Katakan kepada Ali bin Isa Baghdadi: Apabila engkau menjelajah Timur dan Barat, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih pandai darimu dalam ilmu Nahwu.” Sekelompok ulama belajar darinya. Karya-karyanya di antaranya adalah: Al-Tanbiya Khatha bin Jani fi Tafsir Syi'r Mutanabbi, Syarah al-Aidha karya Abu Ali Farsi, Syarah al-Balaghah dan Syarah Mukhtasyar al-Jurmi. Sayid Radhi dalam kitab Ta'wil fi Mutasyabih al-Tanzil menulis: Guru kami, Abu al-Hasan Ali bin Isa Nahwi yang merupakan teman Abu Ali Farsi berkata kepadaku. Dan aku sebelum belajar kepada guru kami, Abu al-Futuh Utsman bin Janni aku telah mulai belajar Nahwu dan Mukhtashar al-Jarmi dari Syaikh ini juga sebagian dari Kitab al-Aidhah Abu Ali Farsi. Ia mendiktekan mukadimah untuk memulai pelajaran Nahwu dan Arudh karya Abi Ishaq Zujaj, Qāwafi karya Abul Hasan Akhfasy juga saya pelajari darinya. Ia adalah orang yang senantiasa bersama dengan Abu Ali dan memiliki ilmu yang sangat luas dan dalam Nahwu merupakan orang utama dalam tingkatannya.[35]

Abu Hafsh Kinani

Abu Hafsh Umar bin Ibrahim bin Ahmad Kinani adalah seorang muhaddits yang berilmu, terpercaya dan jujur. Sayid Radhi dalam kitab Majāzāt al-Atsar al-Nabawiyah menyebut namanya beberapa kali, misalnya: Dari Umar bin Ibrahim bin Ahmad al-Muqri Abu Khafash Kinani meriwayatkan hadis bagi kami dan kami juga mendengar hadis darinya. [36]Abu Hafsh Umar bin Ibrahim Kinani penulis Ibnu Mujahid berkata kepadaku: Aku belajar membaca a-Quran darinya dengan berbagai riwayat. [37] Oleh itu, ia termasuk guru membaca al-Quran dan hadis Sayid Radhi. [38]

Ibnu Jarah Baghdadi

Abul Qasim Isa bin Ali bin Isa bin Dawud Jarah Baghdadi (w. 391 H/1001) adalah seorang penulis dan mengetahui ilmu-ilmu terhadap kejadian-kejadian yang telah berlalu. Ayahnya, merupakan menteri utama dan ia sendiri sibuk sebagai penulis di Diwan Rasail bagi al-Thai'illah Khalifah. Ibnu Katsir berkata bahwa ia memiliki pendengaran yang tajam dan memilki ilmu yang sangat luas dan sebanding dengan Mutaham dalam bidang Filsafat. Di antara karya-karyanya adalah: Ajzā fil Hadits wa al-Lughah al-Fārsiyah. Sayid Radhi mendengarkan hadis darinya dan dalam kitab Majāzāt Atsar Nabawiyah (hal. 165) berkata: Hadis ini berasal dari Abul Qasim bin Ali dan disebutkan di sela-sela hadis yang sampai kepada kami.”[39]

Abu Bakar Kharazmi Baghdadi

Abu Bakar Muhammad bin Musa Kharazmi Baghdadi (w. 403 H/1012) adalah seorang fakih dan pakar dalam hadis. Sejumlah fukaha dan tokoh merupakan murid darinya. Sayid Radhi berguru kepadanya dalam bidang Fikih. Dalam kitab Mujāzāt al-Nabawiyah berkata: Dan dari guruku, Abu Bakar Muhammad bin Musa Kharazmi, Semoga Allah mengampuninya, selagi saya sedang membaca buku saya mendengar bahwa ia berkata tentang perbedaan pandangan mengenai pernikahan.” Sayid Radhi juga belajar kitab Mukhtashar al-Thahawi dalam bidang fikih belajar darinya. [40]

Syaikh Mufid

Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu'man bin Abdul Salam Mufid Bahgdadi (w. 413 H/1022). Ia adalah fukaha besar dan teolog terkenal pada pertengahan abad ke-4 dan beberapa tahun pertama pada abad ke-5. Cerita mimpi Syaikh Mufid dan pengajaran fikih kepada Sayid Radhi sangat terkenal. Peristiwa ini adalah mimpi Syaikh Mufid pada masa tidak adanya Husain (ayah Sayid Radhi) di mana atas perintah Adhd al-Daulah ia dijebloskan ke dalam penjara Ishtakhr Fars. Syaikh Mufid kira-kira memiliki karya sebanyak 200 buku dalam berbagai bidang khususnya fikih dan kalam. [41] Sumber referensi pertama kalinya adalah Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid yang dinukil dari Fakhar bin Mu'idd Alawi dan Musawi dimana Syaikh Mufid melihat dalam mimpi seolah Sayidah Fatimah Zahra Sa duduk di masjid di Karakh dan masuk dengan serta membawa kedua putranya yang masih kecil, Hasan dan Husain As. Ia menyampaikan salam kepadaku dan bersabda, "Ajarkan fikih kepada keduanya." Maka ia kaget dan langsung bangun. Dini hari pada hari itu juga, ia duduk di tempat belajarnya dan melihat bahwa Fatimah putri Nasir masuk ke masjid, disertai dengan kakak beradik, Muhammad Murtadha dan Ali Murtadha yang juga masik anak-anak telah berada di dekatnya. Syaikh berdiri dihadapannya dan mengucapkan salam kepadanya. Fatimah berkata: "Syaikh, keduanya adalah anak-anakku, mereka aku bawa ke hadapanmu supaya engkau ajarkan fikih kepada mereka." Abu Abdullah (Syaikh Mufid) menangis dan menceriterakan mimpinya kepadanya. Kemudian Syaikh Mufid pun mengajarkan fikih kepada mereka. Allah Swt membukakan rahmat-Nya bagi mereka dan meluaskan ilmu-ilmu dan kemuliaan mereka sehingga terkenal di seluruh dunia. [42]

Harun Tal'akbari

Abu Muhammad Harun bin Musa bin Ahmad bin Sa'id bin Sa'id al-Syaibani Tal'akbari (w. 385 H/995) adalah seorang fakih yang tsiqah dan memiliki banyak kemuliaan. Sayid Radhi seperti ulama yang lainnya, menjadi muridnya. Sayid Radhi menukil hadis darinya. Di antaranya adalah doa Kumail dari Imam Ali As dalam Kitab Khashaish Amirul Mukminin As (hal, 81) menukil dari sang gurunya. Karya-karyanya di antaranya adalah Kitāb Jawāmi' fi Ushuluddin. [43]

Sahal bin Dibaji

Abu Muhammad Sahal bin Ahmad bin Abdullah bin Sahal Dijabi (w. 380 H/990) merupakan muhadits terkemuka madzab Syiah yang tinggal di Baghdad. Ia diakui oleh ulama rijal madzab Syiah. Ulama rijal Ahlusunah dikarenakan ia bersama dengan para sahabat dalam menentang Imam Ali as dan ulama salafi menentang mereka, maka ia dikenal dengan "Afdha Kadzab" dan merupakan orang yang dhaif tapi beberapa orang diantaranya Syaikh Najafi dan Sayid Murtadha menukil hadis darinya. Tal'akbari pada tahun 370 H/980 juga menukil hadis darinya dan memberikan ijin kepada kedua anaknya untuk menukil hadis darinya. Najasyi berkata Kitab Imān Abi Thālib merupakan karyanya. Sayid Radhi terkait dengan hadis 195 dimana Rasulullah Saw bersabda, "Ciptaan (makhluk) adalah keluarga Allah Swt." (Majāzāt al-Nabawiyah hal. 165) berkata: Hadis ini berasal dari Sahal bin Ahmad bin Abdullah bin Sahal Dibaji dari Muhammad bin Yahya Shauli yang juga meriwayatkan hadis untuk kami. [44]

Abu Abdullah Jurjani

Muhammad bin Yahya bin Mahdi, Abdullah Jarjani (w.397 H/1006) adalah seorang Faqih dari Madzab Hanafi. Ia adalah penduduk Jarjani, tinggal di Baghdad dan juga belajar di sana. Kitab-kitab Tarjih Madzhab, Abu Hanifah wa Qaul al-Manshur fi Ziyārah Sayidul Qubur merupakan karya-karyanya. Sayid Radhi dalam hadis 148 Kitab Mujāzāt Atsar al-Nabawiyah (hal. 133 dan 134) berkata: Dan Abu Abdullah Muhammad bin Yahya Jarjani yang merupakan seorang faqih berkata kepadaku: Menurut pengikut-pengikut kami (mazhab Hanafiyah) salat lebih baik dari pada puasa. Perkataan ini menunjukkan bahwa Sayid Radhi demi mempelajari fikih semua madzhab-madzab Islam, ia menggunakan kesempatan yang ada dan berguru kepada banyak ulama-ulama yang hidup di Baghdad dan memanfaatkan penjelasan secara bebas dan memperhatikan kebudayaan yang berkembang dan maju dengan bebas.[45]

Murid-murid

Abu Zaid Sayid Abdullah Kabaiki Husini Jarjani

Ia adalah seorang fakih ternama, mujtahid, peneliti, alim yang terkenal dengan nama Abu Zaid Kabaiki. Ia adalah murid Sayid Murtadha dan Sayid Radhi. Setelah sang guru meninggal, ia meriwayatkan hadis dari keduanya dan sibuk mengajar. Ia memiliki hauzah di mana sejumlah ulama-ulama ahli ilmu dan agama belajar di sana dan mendidik murid-muridnya. Salah seorang muridnya adalah putranya sendiri, Abul Fadhl Muntashir (w. 533 H/1138). Ia termasuk Masyayikh Ibnu Syahr Asyub Mazandarani. Ia memiliki Ta'liqāt dan Rasāil dalam Fikih dan termasuk ulama pada abad ke -5 di Baghdad. [46]

Abu Abdullah Syaikh Muhammad bin Ali Halwani

Ia adalah seorang alim, fadhil, adib, penyair yang merupakan murid Sayid Murtadha dan Sayid Radhi. Ia termasuk tokoh bahasa pada abad ke-5 H. Ia juga mengajar di Hauzah dan sejumlah ulama belajar kepadanya. [47]

===Abu Abdullah Syaikh Ja'far bin Muhammad bin Ahmad Duraisti Abbasi=== ( w.kira-kira pada 473 H/1080)

Ia berasal dari keluarga berilmu dan terkenal dalam fikih dan keutamaan akhlak. Ia belajar dari Syaikh Mufid, Syarif Murtadha dan Syarif Radhi. Ia terkenal dalam semua seni dan keilmuan Islam. Banyak meriwayatkan hadis dan banyak karyanya. Nedzam Malik menghormatinya dan sekali dalam setiap dua minggu, pergi dari Rei menuju desa Duraisti sejauh 2 mil demi memperoleh berkah dari Syaikh, kemudian kembali ke tempat asalnya. Syaikh Ja'far setelah kembali dari Baghdad membangun Hauzah di mana di dalamnya merupakan tempat belajarnya para ahli ilmu dan bahasa. Karya-karyanya diantaranya: al-Kifāyah fi al-Ibādāt, Kitab al-I'tiqādāt, Kitab al-Rad 'ala al-Zaidiyyah, Kitab Yaum wa Lailah dan Kitab al-Hasani. [48]

Abul Hasan Sayid Ali bin Bandar bin Muhammad Qadhi Hasyimi

Ia adalah seorang faqih, mujtahid, syaikhnya para syaikh dan termasuk tokoh terkenal pada abad ke-5. Ia merupakan murid Sayid Radhi dan meriwayatkan hadis darinya. Ia juga meriwayatkan hadis dari Syaikh Mufid dan Sayid Murtadha. Kemudian ia secara mandiri mendirikan hauzah ilmiah dan sejumlah ulama belajar di hauzahnya dan meriwayatkan hadis darinya. Ia terkenal dengan ketsiqahannya, faqih, keilmuannya yang tinggi, kejujuran dan kewaraannya. Ia termasuk hakim yang terkenal di Baghdad. Ia memiliki karya dalam bidang fikih dan bahasa. [49]

Hafidz Abu Ahmad Abdur Rahman bin Abi Bakar Khaza'i Neisyaburi (Mufid Naisyaburi)

Ia hidup di Rey dan termasuk pembesar Syiah. Ia adalah seorang hafidz, oratur yang ulung dan orang yang tsiqah. Ia melakukan perjalanan ke Barat dan Timur demi mendengarkan hadis dari banyak ulama dan ia juga meriwayatkan hadis itu dari mereka. Ia juga meriwayatkan hadis dari Sayid Murtadha, Sayid Radhi dan Syaikh Mufid. Ia juga memiliki murid. Ia mendengarkan hadis dari orang-orang yang satu pemahaman dengannya dan dari orang-orang yang pemahamannya berbeda dengannya.dan sangat banyak orang-orang yang meriwayatkan hadis darinya. Ia mempunyai karya yang sangat banyak diantaranya: al-Amāli, al-Radhuyāt, Safinah al-Najah fi Manāqib Ahlul Bayt Alaihimussalam, Kitāb al 'Alawiyat, Uyun al-Akhbār, dan Mukhtasharāt fi al-Mawāidh wa al-Zawājir. [50]

Abu Bakar Neisyaburi Ahmad bin Husain bin Ahmad Khaza'i

Ia seorang penghafal, fakih, tsiqah dan termasuk tokoh Mazhab Jakfari. Ayah dari dua ulama terkenal dan muhaddits, Hafiz Mufid Abdurahman bin Ahmad, Mufid Abi Sa'id Muhammad bin Ahmad. Kakeknya adalah Abu al-Futuh Razi penulis kitab tafsir pertama kali dalam Bahasa Persia. Ia memiliki hauzah (tampat belajar agama) dan banyak ulama-ulama yang menjadi alumnus dari hauzah itu. Ia banyak mendengar hadis dari ulama-ulama di Baghdad dan meriwayatkan hadis dari mereka. Karya-karya yang sampai kepada kita adalah: Amāli fi al-Akhbār (4 jilid), Uyun al-Ahādits, al-Raudhah fi al-Fiqh wa al-Sunan wa al-Miftāh fi Ushul. [51]

Abu al-Hasan Mahyar Dailami bin Marzuyah

Ia termasuk pengikut Zoroaster Iran dan termasuk penduduk Dilam (Rudbar, Gilan) yang pada tahun 394 H/1003 masuk Islam dengan perantara Sayid Radhi kemudian memilih mazhab Syiah Imamiyah dan mencintai Ahlul Bait dan menyenandungkan syair kepada Imam Husain as. Setelah ia masuk Islam, ia belajar syair dan sastra Arab kepada Sayid Radhi dan termasuk seorang penyair yang terkenal pada pertengahan tahun pertama abad ke-5 H di Baghdad. Ibnu Khalkan berkata: Ia adalah seorang penyair yang besar dan lebih utama dari pada para penyair lain yang ada di zamannya. Diwan syairnya terdiri dari 4 jilid. [52] Ia meninggal dunia pada tahun 428 H/1036. Mahyar menyiapkan qasidah sebanyak 70 bait tentang sanjungannya kepada Sayid Radhi. [53]

Qadhi Abu Manshur Muhammad bin Abi Nashr 'Akbari Mu'adal Baghdadi (w. 472 H/1079)

Ia adalah Muhaddits, fakih, Muhakkiq, Tsiqah, dan Shadiq. Di Baghdad ia mendengar hadis dari Syarif Murtadha dan Syarif Radhi dan dari keduanya meriwayatkan kepada orang lain. Orang-orang lain pun kemudian meriwayatkan hadis darinya. Quthbuddin Rawandi dan Abi Abdullah Hazin termasuk muridnya. Qadhi Abu Mansur termasuk ahli rijal dalam sanad Shahifah Sajjadiyah di mana Abu Hazin meriwayatkan darinya. [54]

Karya

Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid

Najasyi (w. 450 H/1058) mencatat kitab-kitab Sayid Radhi sebagai berikut: [55]

  1. Haqāiq al-Tanzil
  2. Majāz al-Qurān
  3. Khashāish al-Aimmah As
  4. Nahj al-Balāghah
  5. al-Ziyādāt fi Syi'r Abi Tamām
  6. Ta'liqāh fi al-Aidhāh li Abi Ali
  7. Al-Jaid min Si'r Ibnu Hajāh
  8. Mukhtār Syi'r Abi Ishāk Al-Shābi
  9. Mādār Bainahu wa Baina Abi Ishāq min al-Rasāil Syi'r

Agha Buzurg Tehrani meyebutkan karya Sayid Radhi sebagai berikut: [56]

  1. Akhbar Qadhāh Baghdād
  2. Talkhish al-Bayān
  3. Haqāiq al-Tanzil
  4. Khashāish al-Aimmah
  5. Diwān Syi'r
  6. Al-Rasāil
  7. Al-Ziyādāt fi Syi'r al-Shābi wa Abi Tamām
  8. Thaif al-Khiyāl
  9. Al-Mutasyābih fi Al-Qurān
  10. Al-Hasan min Syi'r Al-Husain
  11. Al-Mutasyābih fi Al-Qurān
  12. Al-Majāzāt fiAal-Qurān
  13. Nahj al Balāghah

Karya-karya yang telah dicetak

Sebagian karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia:

  1. Nahj al-Balāghah
  2. Talkhish al-Bayān 'an Majāzāt Al-Qurān [57]
  3. Haqāiq al-Ta'wil fi Mutasyābih al-Tanzil.[58]
  4. Majazat al-Nabawiyah.[59]
  5. Khashāish al-Aimmah. [60]
  6. Diwān al-Syarif al-Radhi.[61]

Pengenalan sebagian Karya Sayid Radhi

Majāzāt al-Atsār al-Nabawiyyah

Sayid Radhi dalam kitab ini mengumpulkan 361 hadis dari Nabi Muhammad Saw yang mengandung majazi atau isti'arah dan balaghah dan memberikan penjelasan-penjelasan pada setiap hadis. Kitab ini telah dicetak secara berulang-ulang di Mesir dan Irak. Tapi cetakan dan penata letak dilakukan oleh Muhammad al-Halabi pada tahun 1391 H/1971. Di Mesir, penata letak oleh Thaha Abdul Rauf Sa'd. . [62] Karya ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia dengan judul "Aferinesy Adabi dar Guftāre Nabawi be Fārsi." [63]

Haqāiq al-Ta'wil fi Mutasyābih al-Tanzil

Ahmad bin Ali Dawudi dalam kitab "Umdah al-Thālib" hal. 170 menukil dari Abu al-Hasan Umri berkata: Aku telah melihat Tafsir Al-Qur'an yang disandarkan kepada Sayid Radhi. Kitab itu bagus dan kebesarannya seperti Tafsir Abu Ja'far Thabari. Atau menurut suatu pendapat: Abu Ja'far Thusi (bahkan lebih besar yaitu Allamah Amini dalam kitab Al-Ghadir) 198-4 (menulis Haqaiq al-Ta'wil Tafsir Sayid Radhi dalam kitab Mutasyabihāt Al-Qurān karya Nabawiyah disatukan dalam kitab Haqāiq al-Ta'wil dan di tempat lain ia menyinggung nama kitab terkenal dalam Mutasyabihāt Al-Qurān. Najasyi memberi nama Haqāiq al-Tanzil, penulis Umdah al-Thālib memberi nama Mutasyābih Al-Qurān. Ibnu Janni, guru Sayid Murtadha sebagai komentator dalam kitab ini menulis: Radhi telah menulis sebuah kitab dalam bidang Ma'āni Qurān dan tidak ada yang menyamainya. Khatib Baghdadi dalam Tārikh Baghdādi menukil dari perkataan gurunya, Ahmad bin Muhammad menulis: Radhi telah menulis kitab dalam bidang Ma'āni Qurān dan tidak ada yang menyamainya. [64]

Diwan Syair

Kecerdasan Sayid Radhi dalam bersyair tumbuh sejak ia berumur 10 tahun dan ia membacakan qasidahnya untuk pertama kalinya. Hal ini membuat para penyair dan sastrawan terkejut dan heran. Beberapa orang berusaha untuk mengumpulkan syair-syair itu. Orang yang terakhir mengumpulkan syair itu adalah Abu Hakim al-Muallim Abdullah al-habari (w. 476 H/1084). Diwan ini yang pada masa sekarang terdiri lebih dari 6300 bait bentuk syair selalu berada di tengah masyarakat, dibaca oleh mereka dan senantiasa menimbulkan ketakjuban bagi mereka dan berupaya untuk menjaga syair-syair itu. Sejarah menunjukkan bahwa Sayid Radhi juga merupakan seorang sastrawan, penceramah dan seorang orator ulung yang membuat orang-orang menarik perhatian khusus kepadanya. Seorang sastrawan, orator ulung dan penulis produktif. Sahib bin 'Abbad sangat menyukai syair Sayid Radhi sehingga jika ada orang yang pergi ke Baghdad ia akan berpesan untuk diwan Sayid Radhi untuknya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 385 H/995 ketika usia Sayid Radhi tidak lebih dari 26 tahun. Ketika Sayid Radhi mengetahui hal ini, maka ia mengirimkan naskah dari diwannya kepadanya. Ia pun mengirimkan kasidah bersama diwan yang dikirimkan kepadanya. [65] Sastrawan yang sezaman pada masa Arab, menempatkan Sayid Radhi pada jajaran Bahtari dan Mutanabbi dan membagi syairnya menjadi beberapa golongan: Hijaziyat, Syi'ayat, Ratsaiyat dan fakhriyat. Hijaziyat terdiri dari 40 kasidah yang sebagian besarnya adalah ghazal. Orang-orang sebelumnya berkata ruh penelitian pakar sastra (adib) tidak akan puas kecuali melahap Hasyimiyat Kamiyyat, Khamriyat Abu Nawas, Zuhdawiyat Abul 'Atahiyyat, Tasybihat Ibnu al-Mu'taz, Madaih Bakhtari, dan Hijaziyat Syarif Radhi. Motivasi Sayid Radhi dalam Syi'ayat adalah menjelaskan kehidupan Bani Alawi yang dirampas dan direbut hak dan kekuasannya. Ratsaiyat adalah kidung ratapan yang ditujukan kepada tokoh-tokoh pada zaman itu, kawan-kawan, keluarganya dan juga sebuah narasi ratapan untuk para Syuhada Karbala. Sayid Radhi dalam Fakhruyat sangat menghargai dan menghormati martabat masa lampau. [66]

Al-Hasan min Syi'r al-Husain

Yang dimaksud dengan Husain, Abu Abdullah Husain bin Ahmad Hijaj Baghdadi (w.391 H/1001). Salah seorang tokoh dan ulama Syiah Imamiyah. Diwannya terdiri dari 10 jilid di mana Habatullah bin Hasan Esterlabi (w. 534 H/1140) mengelompokkan 141 bab dalam berbagai syair dan memberi nama dengan Darrah al-Taj fi Syi'r Abi al-Hujaj. Sayid Radhi memilih syair-syair yang bagus dan mengurutkannya berdasarkan huruf alphabet dan diberi nama dengan Al-Hasan min Syi'r al-Husain. Aktivitas ini dilakukannya ketika ia menjadi penyair. Orang-orang berkata: Sayid Radhi memberi nama dengan Al-nadhif min al-Sahif. [67]

Catatan Kaki

  1. Agha Buzurgh, tanpa tahun, hal. 164.
  2. Agha Buzurgh, tanpa tahun, 164.
  3. Ta'alabi, Yatimah al-Dahr, jil. 3, hal. 155; Ja'fari, Sayid Radhi, hal. 22.
  4. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 22.
  5. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 23.
  6. Al-Mahami Rasyid al-Shafar, Terjemah Al-Murtadha, Fi Syarif Murtadha, 1415, hal. 11-12.
  7. Ja'fari, Sayid Radhi, hal. 28.
  8. Agha Buzurg, tanpa tahun, hal. 164.
  9. Muqadimah Haqāiq al-Ta'wil, hal. 111, menukil dari Ja'fari, Sayid Radhi, hal. 150.
  10. Ibid, hlm. 200, cet. Najaf.
  11. Ibid, hlm. 971.
  12. Ja'fari, Sayid Radhi, hal. 149-150.
  13. Ibnu Maitsam Al-Bahrani, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 89.
  14. Al-Amin, A'yān al-Syiah, jld. 9, hlm, 218.
  15. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 11.
  16. Al-Syarif al-Radhi, hlm. 7; menukil dari Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 21.
  17. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 42-43.
  18. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 24.
  19. Tsa'alabi, Yatimah al-Dahr, jld, 3, hlm. 155, Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 2.
  20. Agha Buzurg Tehrani, tanpa tahun, hlm. 164.
  21. Umdah al-Thālib, hlm. 171, menukil dari Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balaghah, hlm. 93-94.
  22. Kakh Delawiz, hlm. 58; menukil dari Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balaghah, hlm. 94.
  23. Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balāghah, hlm. 94.
  24. Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balāghah, hlm. 94.
  25. Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balāghah, hlm. 94.
  26. Dawani, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balāghah, hlm. 94.
  27. Amini, Al-Syarif al-Radhi, hlm. 25, menukil dari Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 33.
  28. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 35.
  29. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 35-36.
  30. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 36-37.
  31. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 37.
  32. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 37.
  33. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 37.
  34. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 37-38.
  35. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 38-39.
  36. Majāzāt al-Atsār Al-Nabawiyah, hlm. 166.
  37. Majāzāt al-Atsār Al-Nabawiyah, hlm 33.
  38. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 39.
  39. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 39-40.
  40. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 40-41.
  41. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 41.
  42. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balāghah, jld. 1, hlm. 41; Aidhan, silahkan lihat: Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 28.
  43. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 41-42.
  44. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 42.
  45. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 42.
  46. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 44.
  47. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 45.
  48. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 45.
  49. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 45.
  50. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 45-46.
  51. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 46.
  52. Wafāyat al-A'yān, jld. 4, hlm. 441, menukil dari Ja'fari, hlm. 47.
  53. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 46-47.
  54. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 47.
  55. al-Najasi, Rijal, hlm. 398.
  56. Agha Buzurg, tanpa tahun, hlm. 164-165.
  57. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/556645.
  58. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1323779.
  59. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/659033.
  60. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2479338.
  61. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/933459.
  62. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 57.
  63. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1085751.
  64. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 52-53.
  65. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 53-54.
  66. Ayati, Abdul Muhammad, Muqaddimah Tarjumah al-Balāghi, hlm. 13.
  67. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 51-52.

Daftar Pustaka


  • Al-Amin, Sayid Muhsin, A'yān al-Syi'ah, Riset: Hasan Al-Amin, jil. 9, Beirut, Dar al-Ta'arif al-Mathbu'ath, 1403 H/1983.
  • Al-Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijāl al-Najāsyi (Fahrast Asma Mushanif al-Syiah), editor: Sayid Musawi Zanjani, Qum, Daftar Intisyarat Islami, 1407 H/1986
  • Al-Thehrani, Agha Buzurg, Thabaqāt A'lām al-Syiah, jil. 2, Qum, Isma'iliyan, tanpa tahun.
  • Ayati, Abdul Muhammad, Terjemah Nahjul Balāghah, Daftar Nasyar Farhang Islami, 1998.
  • Dawwani, Ali, Sayid Radhi Mualif Nahjul Balāghah, Tehran, Bunyad Nahjul Balaghah, 1980.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarah Nahjul Balāghah, Editor: Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Qum, Ketabkhaneh Umumi Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1998.
  • Ibnu Maitsam al-Buhrani, Syarah Nahjul Balāghah, Qum, Markaz Intisyarat fi Infirad al-Imamiyah, 1983.
  • Ja'fari, Sayid Muhammad Mahdi, Sayid Radhi, Tarh Nu, 1996.
  • Nahjul Balāghah, terjemah Sayid Ja'far Syahidi, Tehran, Ilmi wa Farhanggi, 1998.
  • Syarif Murtadha, Ali bin Husain Musawi, Al-Intishār fi Infirādāt al-Imāmiyah, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1415 H/1994.