tanpa prioritas, kualitas: c
tanpa referensi

Khutbah Syiqsyiqiyyah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Khutbah Syiqsyiqiyyah (bahasa Arab: الخطبة الشقشقية) adalah khutbah yang paling dikenal dalam kitab Nahjul Balaghah. Imam Ali as dalam khutbah ini menjelaskan tentang masa pemerintahan para khulafa, kritikan terhadap kebijakan pemerintahan secara umum dan memprotes setiap tindakan dari masing-masing khalifah. Beliau juga menjelaskan tentang serangan masyarakat untuk membaiat dirinya dan mengisyaratkan tentang orang-orang Nakitsin, Qasithin dan Mariqin. Pada akhirnya beliau menjelaskan tentang penerimaan kekhalifahan atas dirinya. Khutbah ini sesuai urutan kebanyakan Kitab Nahjul Balaghah berada diurutan ke-3. Perawi khutbah ini adalah Ibnu Abbas yang didengarnya secara langsung dari Imam Ali as. [[Ahlusunnah] juga mengakui bahwa riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas dapat dipercaya. Khutbah ini telah banyak memiliki terjemahan dan syarah. Sebagian Ahlusunah meragukan sanad khutbah ini dan sebagiannya lagi mengakui kesahihannya.

Waktu dan Tempat Penyampaian Khutbah

Dengan petunjuk sejarah, perkataan Imam tentang Nakitsin (sekelompok orang-orang dari perang Jamal, terjadi pada tahun bulan Jumadil Akhir tahun 36 H/656 dan Qasithin (Muawiyah dan pengikutnya yang berbuat zalim pada perang Shiffin akhir tahun 26 H/647 dan permulaan tahun 27 H/648) dan Mariqin (Khawarij Nahrawan pada akhir tahun 37 H/657 atau awal tahun 38 H/658) Syaikh Mufid [1] dan Quthbuddin ar-Rawandi [2] memberikan kemungkinan bahwa khutbah ini dibacakan di Rahabah dengan petunjuk adanya kehadiran Ibnu Abbas di Kufah, maka dapat diperkirakan bahwa khutbah ini bacakan oleh Imam Ali as pada akhir tahun 38 H/658 atau permulaan tahun 39 H/659. Meskipun Rahabah bisa dijadikan tempat terjadinya segala sesuatu, namun yang dimaksud disini nampaknya adalah tempat dipertengahan Masjid Kufah dimana Imam Ali as biasanya duduk di sana untuk memberikan nasehat atau memberikan keputusan pengadilan yang beliau jalankan pada zaman Ziyad bin Abihi. Para muhadits karena takutnya terhadap keadaan waktu, mengatakan "Sahib Rabadah" sebagai ganti dari nama Imam Ali as. [3] Sebagaimana Matharzi (w. 610 H/1213) berkata: Rahbah Kufah adalah sebuah tempat di tengah-tengah Masjid Kufah di mana Imam Ali as duduk disana dan memberikan nasehat dan ketika dikatakan bahwa Imam Ali as menumpahkan harta rampasan perang Khawarij di Rahbah, maksudnya adalah di tengah-tengah Masjid tersebut. [4]

Penamaan Khutbah

Khutbah ini karena diawali dengan kalimat "Wallahi laqad naqammashaha fulan" maka disebut dengan "taqammash" yang bermakna memakai pakaian. Imam Ali as menyerupakan khilafah dengan baju dimana meskipun Abu Bakar mengetahui bahwa hal itu bukan haknya, namun ia mengenakannya. Namun khutbah ini terkenal dengan nama khutbah Syiqsyiqiyyah dan diambil dari kalimat "Syiqsyiqiyyah" yang merupakan kata yang beliau pakai pada akhir khutbah dan permintaan Ibnu Abbas supaya Imam Ali as melanjutkan khutbahnya: (Haihata yabna Abbas talaka Syiqsyiqiyyah hadarati tsumma qarrata).

Syiqsyiqiyyah, sebagaimana atas petunjuk dari sekelompok ahli bahasa dan komentator adalah seperti kondisi unta ketika gembira atau marah maka akan keluar dari mulutnya semacam lendir yang disertai dengan suara dari leher unta dan kemudian tenang setelah dikeluarkan dan keadaan ini tidak akan terjadi pada kondisi normal. Imam di sini menyerupakan keadaan dirinya dengan keadaan unta yang sedang marah, seolah-olah beliau tidak mampu menguasai dirinya dan dengan adanya khutbah itu karena Imam telah membacakan khutbhahnya, maka beliau sudah normal kembali, oleh karena itu beliau tidak melanjutkan lagi. Dengan demikian, Imam tidak mengabulkan permintaan Ibnu Abbas untuk melanjutkan khutbahnya. Ibnu Abbas berkata: "Tiada satu pun yang membuatku lara atas ucapan yang tidak tuntas kecuali khutbah ini.

Sanad Khutbah Syiqsyiqiyyah sebelum Sayid Radhi

Dengan memperhatikan kritikan secara jelas atas ketiga khalifah dalam khutbah ini, maka sanad khutbah ini tidak hanya menyebabkan timbulnya keraguan dari ulama Ahlusunah, namun juga menjadikan mereka ragu terhadap sanad Nahjul Balaghah. [5] Tentu saja keraguan ini adalah batil karena khutbah ini telah ada sebelum Nahjul Balaghah ditulis dan sanadnya sampai kepada Imam Ali as. Allama Amini dalam kitab al-Ghadir jilid 28 menyebutkan khutbah ini tanpa dengan menggunakan sanad yang berasal dari Sayid Radhi. [6] Dalam kitab Partui az Nahj al-Balāghah terdapat 22 sanad dalam khutbah ini, dimana 8 sanad darinya terkait dengan literatur-literatur sebelum Sayid Radhi, 5 sanad lainnya terkait dengan zaman Ibnu Radhi dan 9 literatur yang dinukil setelah penulisan Nahj al-Balāghah atau setelah abad ke-5 H, namun dari literatur-literatur terpisah dari Nahj al-Balāghah atau dari literatur yang berbeda dengannya. [7] Cuplikan dari khutbah sebagai bukti lughawi juga ada dalam kitab–kitab lughawi sepeti: Al-Nihayah ibnu Atsir, Qamus Firuz Abadi, Lisan al-Arab Ibnu Mandzur dan Majma’ al-Meidani. [8]

Di bawah ini adalah sebagian sanad khutbah Syiqsyiqiyyah:

  • Ibnu Abil Hadid, Sunni Mu’tazili (w. 656 H/1258) setelah mensyarah khutbah Syiqsiqiyah berkata: Pada tahun 603 H/1206 aku mendengar dari Syaikh Mushadiq bin Syabib Wasithi: Aku membacakan khutbah ini (yaitu Khutbah Syiqsiqiyah) kepada Abdullah bin Ahmad yang terkenal dengan Ibnu Hisyab. Kemudian aku bertanya: Apakah engkau tahu bahwa khutbah ini milik Imam Ali as? Aku bersumpah demi Tuhan, aku tahu bahwa khutbah itu adalah perkataan Imam Ali as sebagaimana yang aku tahu bahwa engkau berkeyakinan terhadap hal itu. Aku kembali berkata: Sangat banyak masyarakat yang mengatakan bahwa khutbah ini adalah perkataan Sayid Radhi. Ia berkata: Sayid Radhi dimana dan kefasihan khutbah ini dimana? Kami membaca Rasail karangan Sayid Radhi dan kami mengetahui cara serta metode yang ia gunakan dalam karangannya. Ia tidak menambah untuk memperbaiki atau mengurangi khutbah itu. Kemudian ia melanjutkan tuturannya: Sungguh aku bersumpah demi Tuhan! Aku telah melihat bahwa khutbah ini telah ditulis pada kitab yang telah ditulis semenjak 200 tahun sebelum kelahiran Sayid Radhi, aku pun tahu gaya tulisan pengarangnya dan aku pun tahu tulisan ulama dan ahli sastra sebelum masa-masa Abu Ahmad (Ayah Sayid Radhi) lahir. [9] Ibnu Abil Hadid melanjutkan perkataannya: Aku sangat banyak melihat khutbah ini dalam tulisan-tulisan Syaikh kami, Abul Qasim Balakhi seorang Imam Mu'tazilah di Baghdad. Ia hidup di pada masa pemerintahan Muqtadar sebelum kelahiran Sayid Radhi. Demikian juga, sangat banyak dari khutbah-khutbah itu aku lihat di kitab terkenal Abu Ja'far bin Qabah salah seorang Teolog Imamiyyah yang terkenal dengan kitab al-Inshaf. Abu Ja’far ini termasuk murid Syaikh Abul Qasim Balakhi dan ia hidup sebelum kelahiran Sayid Radhi. [10]
  • Salah seorang yang meriwayatkan khutbah Syiqsiyqiyah dalam karangannya berdasarkan mustanad dari Imam Ali as adalah Syaikh Shaduq (381 H/991). Ia menuliskan sanad khutbah Syiqsyiqiyyah di kitabnya, Ilal al-Syarayi'. [11] Ia juga mencantumkan sanad khutbah Syiqsyiqiyyah di kitab Ma'ani al-Akhbar. [12] Di dalam kedua kitab, Syaikh Shaduq menuliskan dua sanad khutbah dan setelah selesai khutbah, ia menjelaskan lafadz-lafadz yang sulit.
  • Syaikh Mufid (w. 413 H/1022), Ustad Sayid Radhi dalam kitab al-Irsyad, menukil khutbah dalam kitabnya dan berkata beberapa dari para perawi meriwayatkan khutbah Syiqsyiqiyyah dengan sanad yang bermacam-macam. [13] Ia juga dalam Al-Masalatan fi al-Nash ala Ali As menyebut khutbah Syiqsyiqiyyah sebagai khutbah yang terkenal. [14] Hal ini berdasarkan bahwa pada masanya sanad khutbah Syiqsyiqiyyah bukan hanya tidak diragukan lagi keberadaan sanadnya, namun merupakan khutbah yang telah dikenal orang dan terkenal. Syaikh Mufid kembali memberikan penjelasan tentang khutbah ini dalam kitabnya dan menyatakan bahwa khutbah ini adalah khutbah yang terkenal dan memberikan penjelasan terkait dengan khutbah itu. [15]

Perampasan Kekhilafahan

Perampasan kekuasaan telah dijelaskan dalam khutbah Syiqsyiqiyah dan kritikan Imam atas khulafa, bukan merupakan sesuatu yang aneh dan dengan mudah dapat dilihat dari perkataan Imam Ali pada selain khutbah ini dan pada kalam bukan Syiah. Berikut ini adalah pendekatan-pendekatan untuk menjelaskan masalah ini terhadap hal-hal yang telah diisyaratkan.

Sikap Imam terhadap Para Khalifah pada selain Khutbah Siqsyiqiyyah

Pada khutbah yang ditulis oleh Jakhadh (w. 255 H/869) yaitu kira-kira pada kurun 1 abad setengah sebelum dituliskannya Nahjul Balaghah di Bayan dan Tabyin dari Imam Ali terdapat nukilan: "Keduanya (khalifah pertama dan kedua) membiarkan dan yang ketiganya (khalifah ketiga) seperti burung gagak, tekadnya ada di perutnya, celakalah dia, jika sayapnya robek dan kepalanya terpisah, niscaya hal itu lebih baik baginya". [16] Ibnu Abil Hadid juga mengutip khutbah ini dari Jahidh. [17] Ibnu Abdi Rabah (w. 328/940) juga menukilkan hal ini dalam kitab Al-Iqdul Farid dengan sedikit perbedaan sebelum Sayid Radhi hidup. [18]

Perampasan Khilafah oleh Abu Bakar dan Umar dalam perkataan Muawiyah

Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Muhammad bin Abi Bakar berkata bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, ayahmu (Abu Bakar) dan Faruq (Umar bin Khattab) adalah orang-orang yang mengambil hak beliau (Ali as) dan menjadi oposisi bagi pemerintahannya. Keduanya (Abu Bakar dan Umar) bersekongkol dalam tindakan makar ini. [19]

Terjemahan

Khutbah Syiqsyiqiyyah di samping merupakan bagian terjemahan lengkap dari Nahjul Balaghah, terdapat pula terjemahan-terjemahan yang mengkhususkan tentang Khutbah Syiqsyiqiyyah, diantaranya:

  • Terjemahan Khutbah Syiqsyiqiyyah. Bahasa Persia oleh Ali Anshari, yang dicetak pada tahun 1354 syamsiah dalam 14 halaman. [20]
  • Terjemahan Khutbah Syiqsyiqiyyah dengan bentuk qasidah oleh Sayid Muhammad Taqi bin Amir Muhammad Mukmini Husaini Qazwini (w. 1270 H/1854). [21]
  • Terjemahan Khutbah Syiqsyiqiyyah. Bahasa Persia. Penerjemah dan nama kitabnya tidak diketahui. Naskahnya ada di Perpustakaan Astan Quds Razawi. [22]

Syarah-Syarah

  • Tafsir al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah, Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah. Bahasa Arab oleh Sayid Murtadha (w. 436 H/1044) [23]Tafsir khutbah ini terdapat di dalam kitab Majmu’ah Rasail al-Murtadha jilid 2. [24]
  • Al-Syiqsyiqiyyah: Dirasah Maudhu li Syahsyiyat Tashadat lil Khilafah al-Islamiyah, Abdul Rasul Ghafari. [25]
  • Ahi Suzan az Amirul Mukminin (Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah), Ali Asghar Ridhwani. [26]
  • Sayibane Iyah (Syarah Khutbah Amirul Mukminin as) Nadie Fadhili. [27]
  • Al-Syadzarat al-Lawiyah fi Syarah Khutbah al-Syiqsyiqiyyah lil Imam Ali as), Abu Dzar al-Ghifari. [28]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah (naskah tulisan tangan) [29]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah (naskah tulisan tangan) [30]
  • Syarah Khutbah Syaqsyaqyah (Murtadha Qashimi Kasyani) [31]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah (Naskah tulisan tangan). Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah. [32]
  • Khutbah Syiqsyiqiyyah az Nahjul Balaghah, terjemah wa syarah az Muhammad Baqir Rasyad Zanjani. [33]
  • Akidah Syiah dar Khutbah Syiqsyiqiyyah, Muhammad Asadi Garmarawardi.[34]
  • Al-Masail al-Tathbiqah ala al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah, Ali Tabrizi. [35]
  • Al-Taudhihat al-Tahqiqat fi Syarah al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah, karya Ali Akbar bin Sayid Muhammad bin Sayid Dildar Ali (w. 1326). [36]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Mula Ibrahim Gilani, Ulama permulaan abad ke-11. Naskah aslinya ada di Qum. [37]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Mirza Abul Ma'ali Kalabasi (w. 1315 H/1897). [38]
  • Syarah Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Taj Ulama Likahanwi (w. 1312 H/1894) [39]
  • Syarah Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Kumpulan Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Sayid Muhammad Taqi Qazwini (w. 1270 H/1854). Naskahnya disimpan di Perpustakaan Madrasah Sepahsalar dan Universitas Tehran. [40]
  • Syarah Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Arab. Sayid Ja'far bin Shadiq Abid. [41]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Sayid Alauddin Gulistaneh, karya Hadaiq al-Haqaiq, kebanyakan dari naskah itu disimpan oleh pengarang kitab Dzari'ah di Najaf Sayid Muhammad Baqir Yazdi. [42]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah. Bahasa Arab, seorang khatib terkenal Sayid Ali Hashemi. [43]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Syaikh Hadi Banani, pengarang Syarah Khutbah Zainabiyah semasa dengan Syaikh Anshari. [44]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Bahasa Arab, Pengarang naskah Sejarah, permulaan abad ke-13. Naskah ini disimpan di Ketabkhaneh Meli. [45]
  • Syarah Khutbah Syiqsyiqiyyah, Bahasa Arab, Pengarang naskah Sejarah, permulaan abad ke-13. Naskah ini disimpan di Ketabkhaneh Meli. [46]
  • Al-Naqd al-Sayid Syarah al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah li Abi al-Hadid, Bahasa Arab. Syaik Muhsin Karim yang terdiri dari 2 jilid dicetak pada tahun 1383 di Najaf. [47]
  • Kasyf al-Sahab fi Syarah al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah. Mula Habib Ilahi Kasyani. (w. 1340 H/1921) [48]

Catatan Kaki

  1. Mufid, Irsyad, jld. 1, hlm. 287.
  2. Al-Rawandi, Minhaj al-Barā’ah fi Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 133.
  3. Madani, al-Tharaz al-Awal, jld. 2, hlm. 61.
  4. Matharazi, Al-Maghrib, jld. 1, hlm. 324.
  5. Al-Husaini, Mashādir dar Nahj al-Balāghah wa Asanidah, jld. 1, hlm. 336.
  6. Al-Amini, al-Ghadir, jld. 7, hlm. 109-115.
  7. Silahkan lihat: Thaliqani, Partui az Nahj al-Balāghah, hlm. 124-128.
  8. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 205.
  9. Ibnu Abil Hadid, Syarah al-Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 205-206.
  10. Ibnu Abil Hadid, Syarah al-Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 205-206.
  11. Syaikh Shaduq, Ilal al-Syarayi, jld. 1, hlm. 150.
  12. Syaikh Shaduq, Ma'āni al-Akhbār, hlm. 361.
  13. Al-Mufid, al-Jamal, hlm. 62.
  14. Al-Mufid, Al-Masalatān fi al-Nash Ali Ali As, hlm. 28.
  15. Al-Mufid, al-Jamal, hlm. 62.
  16. Al-Jakhadh, al-Bayān wa al-Tabyin, hlm. 238.
  17. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 276.
  18. Ibnu Abdul Rabihi, al-Aqd al-Farid, jld. 4, hlm. 157.
  19. Al-Mas'udi, Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jawahir, jld. 3, hlm. 12-13.
  20. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 13.
  21. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 13.
  22. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 13.
  23. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 21.
  24. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/531991
  25. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/28ff1ii099
  26. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2000653
  27. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/593117
  28. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2620809v\
  29. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/807165
  30. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/807300
  31. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/577339
  32. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1804ff1ii2
  33. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2994093
  34. http://opac.nlai.ir/opacprod/bibliographic/771346
  35. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2091715
  36. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 22-23.
  37. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32.
  38. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32.
  39. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32.
  40. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32.
  41. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32.
  42. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 32-33.
  43. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 33.
  44. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 33.
  45. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 33.
  46. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 33.
  47. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 38.
  48. Ustadi, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, hlm. 55.

Daftar Pustaka

  • Nahj al-Balāghah, terjemah Sayid Ja’far Syahidi, Tehran: Ilmi wa Farhanggi, 1377.
  • Al-Amini, Abdul Husain, Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunah wa al-Adab, Qum, Al-Ghadir, Markaz al-Ghadir li Dirasah al-Islamiyah, 1416/1995.
  • Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, Riset: Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, jld. 1, Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyah, 1959/1378 (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Ibnu Abad Rabah, Ahmad bin Muhammad, al-Awad al-Farid, Riset: Mufid Muhammad Qamihah, Dar al-Kitab Ilmiyah tanpa tahun, Beirut.
  • Ustadi, Ridha, Ketāb Nāmeh Nahj al-Balāghah, Tehran: Bunyad Nahj al-Balāghah, 1359 S.
  • Al-Husaini al-Khatib, Sayid Abdul Zahra, Mashādir al-Balāghah wa Asanidahu, jld. 1, Beirut, Dar al-Zahra, 1409-1988.
  • Al-Jakhath, al-Bayān wa al-Tabyin, Mesir: Maktabah al-Tijarah al-Kubra li Shahibuha Musthafa Muhammad. 1345/1926. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Al-Rawandi, Quth al-Din, Minhaj al-Bara’ah fi Syarah Nahj al-Balāghah, Riset: Sayid Abdul Lathif al-Kuhakmari, Qum, Maktabah Ayatullah Mar’asyi Najafi al-Amah, 1406. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Syaikh Shaduq, Ilal al-Syarayi’, jld. 1, Najaf, Mansyurat al-maktabah al-Haidariyah wa Mathbu’atuha, 1385/1966. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Syaikh Shaduq, Ma’āni Akhbār, Riset: Ali Akbar Ghifari, Qum, Muasasah al-Nasyar al-Islami al-Taba’ah al-Mudarisin, 1379/1338 S. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Thaliqani, Mahmud, Partui az Nahj Balāghah, Editor: Sayid Muhammad Mahdi Ja’fari, Tehran: Sazman Cab wa Intisyarat Farhang wa Irsyad Islami, 1374.
  • Al-Mas’udi, Muruj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar, Qum, Dar al-Jahrah, 1404-1363 S. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Madani, Ali Khan bin Ahmad, al-Tharaz al-Awal, Masyhad Muasasah Ali al-Bait As li Ihya al-Tsurats. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Matharazi, Nashir bin Abdul Sayid, Al-Maghrib, Riset: Fakhuri, Mahmud, Mukhtar, Abdul Hamid, Halab, Maktabah Usamah bin Zaid, 1979.
  • Al-Mufid, al-Irsyād, Qum, Muasasah Ali al-Bait, Riset: Al-Tsurats, 1414/1993. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Al-Mufid, Al-Masalatān fi Nash ala Ali As, Riset: Muhammad Ridha al-Anshari, jld. 2, Beirut, 1414/1993. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).
  • Al-Mufid, Al-Jamal, Qum, Maktabah al-Dawari, tanpa tahun. (Naskah tersebut ada software ke-2 Perpustakaan Ahlul Bayt).