Kemaksuman Para Imam

Dari wikishia

Kemaksuman para Imam (bahasa Arab:عصمة الأئمة) adalah kesucian para Imam Syiah dari semua dosa besar dan kecil, kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja, serta kelupaan. Kemaksumam para Imam adalah di antara keyakinan khusus Syiah dua belas Imam. Dari sudut pandang Imamiyah dan juga Ismailiyah, kemaksuman merupakan salah satu syarat imamah dan merupakan sifat para imam.

Menurut Abdullah Jawadi Amuli, sebagaimana para imam as maksum dalam perilakunya, pengetahuan mereka juga benar dan terjaga dari kesalahan.

Para ulama Syiah bersandar pada beberapa ayat seperti ayat Ulil Amr, ayat tathhir dan ayat ibtila Ibrahim, ayat Shadiqin, ayat Mawaddah dan ayat Shalawat untuk membuktikan kemaksuman para imam. Dalam sumber-sumber riwayat, banyak sekali Riwayat yang dinukil dalam konteks ini. Hadis Tsaqalain, hadis Aaman dan hadis Safinah adalah di antara Riwayat-riwayat yang menjadi sandaran dalam membuktikan kemaksuman para Imam as. Terlepas dari banyaknya dalil tentang kemaksuman para imam, kaum Wahabi dan Ibnu Taimiyah Harani panutan kaum Salafi, menyangkal dan mempermasalahkannya. Ulama Syiah telah menjawab semua permasalahan dan kritikan tersebut.

Ada banyak kitab yang telah ditulis tentang kemaksuman Imam dan para imam, beberapa di antaranya adalah “Fashuhesyi dar Shenakht wa Esmat Imam” (Penelitian dalam hal pengetahuan dan kemaksuman Imam) karya Jafar Subhani, “Esmat Imam dan Tarikh Tafakkur Imamiye ta Payane Qarn Panjum Hejri” (Kemaksuman Imam dan sejarah pemikiran imamiyah hingga abad ke lima hijriah) karya Muhammad Husein Faryab dan “Esmat Imaman Az Didgah Aql wa Wahy” (Kemaksuman para imam dari perspektif akal dan wahyu) oleh Ibrahim Safarzadeh.

Urgensi dan Kedudukannya

Kemaksuman Imam dan dalil-dalilnya adalah termasuk pembahasan-pembahasan penting dalam topik-topik Alquran dan teologis.[1] Dari sudut pandang Syi'ah dua belas imam, kemaksuman adalah di antara syarat-syarat dan sifat-sifat Imamah dan kemaksuman imam-imam Syiah adalah di antara keyakinan-keyakinan dasar mereka.[2] Menurut yang dinukilkan dari Allamah Majlisi, Imamiyah sepakat bahwa para Imam as maksum atau terjaga dari segala bentuk dosa besar dan kecil, baik itu sengaja maupun tidak sengaja, dan juga dari kesalahan dan kekeliruan,[3] Dikatakan bahwa kaum Ismailiyah menyakini pula kemaksuman sebagai di antara syarat-syarat imamah.[4] Di sisi lain, Ahlusunnah tidak menganggap maksum sebagai syarat dari Imamah;[5] karena sesuai hasil kesepakaan para ulama mereka ( ijma’) bahwa ada khalifah yang tiga adalah Imam, tetapi mereka tidak maksum.[6] Mereka menganggap keadilan sebagai syarat, menggantikan kemaksuman.[7] Namun, Sibth ibnu Jauzi, dari ulama Ahlusunnah abad ke-7 menerima kemashuman Imam.[8] Kaum Wahabi juga tidak menerima kemashuman Imam dan para Imam Syiah, dan menganggapnya khusus bagi para Nabi.[9] Menurut yang dinukilkan dari Ibn Abi al-Hadid Mu’tazili, Abu Muhammad Hasan bin Ahmad bin Matwa'iyah, seorang teolog Mu'tazili abad kelima hijriah, meskipun ia tidak menganggap kemaksuman sebagai syarat untuk Imamah, tetapi dia mengakui kemaksuman Ali as dan menganggapnya sebagai pendapat mazhab Mu'tazilah.[10]

Menurut Ayatullah Subhani, perbedaan pendapat ini bersumber dari keyakinan dua kelompok Syiah dan Ahlusunnah tentang imamah dan khilafah Nabi. Dari sudut pandang Syiah, Imamah sebagaimana kenabian adalah suatu dan jabatan ilahi, dan Tuhan yang harus memilihnya;[11] tetapi dari sudut pandang Ahlusunnah, Imamah adalah suatu posisi atau jabatan yang biasa[12] dan Imam dipilih oleh umat dan ilmu serta keadilannya dalam tingkatan umat, dan tidak ditentukan oleh Tuhan.[13]

Kemaksuman para Imam as telah dianggap sebagai salah satu landasan teologis ilmu ushul fikih Syiah; Karena dengan membuktikan kemaksuman para imam, sunnah imam (ucapan, perbuatan, taqrir) diakui sebagai salah satu sumber istinbat dalam ilmu usul fikih dalam Syiah; Namun, jika kemaksuman para imam tidak terbukti, sunnah mereka tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hukum-hukum syariat.[14] Juga dikatakan bahwa menurut para ulama Syiah, kriteria kedalilan (hujjiyah) ijma’ adalah kemaksuman imam; Karena menurut mereka, imam adalah penerus Nabi saw dan maksum seperti dia, dan ijma adalah hujjah dikarenakan ia adalah penemu (penyingkap) dari perkataan maksum. Di sisi lain, Ushul fikih Ahlusunah menganggap kemaksuman umat sebagai kriteria validitas ijma.[15]

Kemaksuman Imam dan para Imam as tidak secara eksplisit disebutkan dalam Alquran, tetapi ulama Syiah telah menafsirkan ayat-ayat seperti ayat Ulil amr,[16] ayat thathir,[17] ayat ibtila Ibrahim[18] sebagai kemaksuman imam atau para imam; Namun, dalam sumber-sumber riwayat, banyak hadis yang diriwayatkan tentang kemaksuman para imam.[19]

Konsep dan Pengertian

Kemaksuman para imam berarti terjaganya mereka dari segala bentuk dosa dan kesalahan.[20] Dalam peristilahan para teolog dan filosof Muslim, kemaksuman mencakup makna etimologi (kata) dari keterjagaan dan terlindungi[21] tetapi berdasarkan prinsip-prinsip mereka, berbagai definisi dari kemaksuman telah disajikan, beberapa di antaranya adalah:

  • Definisi para teolog: Para teolog Adliyah (Imamiyah[22] dan Mu'tazilah[23]) telah mendefinisikan kemaksuman berdasarkan Rahmat (lutf).[24] Oleh karena itu, kemaksuman adalah rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada hambanya dan karena itu, dia tidak melakukan perbuatan buruk (jahat), atau tidak melakukan dosa.[25] Asy’ariyah mendefinisikan kemaksuman bahwa Tuhan tidak menciptakan dosa pada diri seorang maksum.[26]
  • Definisi para filosof: Filosof muslim mendefinisikan kemaksuman sebagai malakah nafsani yang dengannya, seorang yang maksum tidak melakukan suatu dosa.[27] dikatakan bahwa definisi ini didasarkan pada perinsip-prinsip [filsafat] para filosof dalam bab tauhid perbuatan yang mengaitkan perbuatan-perbuatan manusia kepada Tuhan melalui jiwa manusia yang bebas berkehendak.[28]

Ditinjau dari struktur tata bahasa, kemaksuman adalah kata benda infinitive (bentuk dasar) dari kata “عصم”[29] yang dalam kamus bermakna terjaga dan tercegah.[30] Kata “Ishmah” (kemaksuman) tidak digunakan dalam Alquran; Namun turunannya telah digunakan 13 kali dalam Alquran dalam arti literal[31]

Ruang Lingkupnya

Para ulama Imamiyah percaya bahwa para Imam Syiah, seperti para Nabi, adalah maksum dan terjaga dari dosa besar atau kecil, baik itu disengaja atau karena kelalaian dan kelupaan, serta dari segala kesalahan dan kekeliruan.[32] Dalam pandangan mereka, para Imam di sepanjang umurnya, sebelum dan sesudah Imamah adalah maksum.[33] Fayyadh Lahiji menyebut bahwa selain maksum dari dosa dan kesalahan, keterjagaan dari cacat fisik, mental, intelektual, dan keturunan (nasab) sebagai syarat bagi imam, dan berkeyakinan bahwa imam tidak boleh menderita penyakit fisik kronis atau menjijikkan, seperti kusta dan kebisuan, atau kecacatan jiwa (psikologis) seperti serakah, kikir dan kekerasan, atau cacat intelektual seperti kegilaan, kebodohan, pelupa dan cacat dari segi nasab. Alasannya adalah bahwa cacat ini menyebabkan orang membenci dan tidak menyukai Imam as dan tidak sesuai dengan adanya kewajiban untuk menaati mereka.[34]

Syeikh Mufid menganggap boleh bagi seorang imam meninggalkan perkara-perkara mustahab secara tidak sengaja; Tapi dia percaya bahwa para imam tidak pernah meninggalkan perkara mustahab apapun selama hidup mereka.[35] Abdullah Jawadi Amuli membagi kemaksuman menjadi dua jenis, praktis dan teoritis, dan menyebut para imam as sebagai orang yang memiliki kedua jenis tersebut secara konprehensif. Menurutnya, sebagaimana halnya perilaku para imam sesuai dengan kebenaran (haq), ilmu mereka juga benar dan muncul dari suatu sumber yang sama sekali tidak mengandung kesalahan, kekeliruan, atau kelupaan.[36] Menurutnya, siapa pun yang mencapai tahap kemaksuman teoritis (ilmu), Dia akan terjaga dari godaan Setan dan Setan tidak dapat ikut campur dalam pikirannya.[37]

Ali Rabbani Golpeigani, seorang sarjana dan peneliti di bidang Teologi, menyebut kemaksuman praktis adalah kemaksuman atau keterjagaan dari dosa itu sendiri, sedangkan kemaksuman teoritis ia sebutkan memiliki tingkatan sebagai berikut:

  • Kemaksuman dalam mengetahui hukum-hukum ilahi;
  • Kemaksuman dalam mengetahui subjek-subjek hukum ilahi;
  • Kemaksuman dalam menentukan (memilah) kebaikan dan keburukan perkara-perkara (urusan-urusan) yang berkaitan dengan kepemimpinan masyarakat;
  • Kemaksuman dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan biasa (normal), baik itu masalah-masalah pribadi maupun masalah-masalah sosial.[38]

Menurutnya, para imam Syiah memiliki semua tingkatan ini.[39]

Dalil-dalil Rasional Pembuktian Kemaksuman

Ada banyak dalil-dalil rasional yang telah dikemukakan oleh ulama Syiah dalam membuktikan kemaksuman, di antaranya ialah: Argumen terlarangnya tasalsul (pembuktian berputar), Argumen penjagaan dan penjelasan syariat oleh Imam, Argumen wajibnya ketaatan terhadap Imam, Argumen melanggar tujuan, Argumen kejatuhan Imam jika melakukan dosa.[40]

Dalil rasional membuktikan prinsip kemaksuman imam tanpa menunjuk dan memperhatikan misdak (objek luar) imam. Menurut Jafar Subhani, semua dalil-dalil rasional yang diajukan untuk membuktikan kemaksuman Nabi, seperti terpenuhinya tujuan pengutusan dan menarik kepercayaan masyarakat, berlaku pula untuk pembuktian kemaksuman Imam. Menurut beliau, kemaksuman Imam adalah sesuatu yang niscaya (perlu) bagi suatu maktab (maktab Syiah) yang menyakini maqam imamah adalah pelanjut kewajiban risalah dan kenabian Nabi saw, kelanjutan kewajiban seperti ini tanpa kemaksuman adalah tidak mungkin.[41]

Argumen Kewajiban Mematuhi Imam

Berdasarkan dalil-dalil seperti ayat Ulil Amr, menaati Imam adalah wajib;[42] sedemikian rupa sehingga sebagian orang menganggap kewajiban menaati Imam sebagai sebuah ijma (kesepakatan umat Islam).[43] Sekarang, jika Imam tidak maksum dan melakukan dosa atau kesalahan, menaatinya adalah haram dan melarangnya dari perbuatan dosa adalah wajib berdasarkan dalil amar ma'ruf dan nahi munkar; Dalam kondisi ini, di satu sisi, seseorang harus menentang Imam dan di sisi lain, seseorang harus menaatinya, dan hal itu tidak mungkin; Oleh karena itu, imam haruslah maksum.[44]

Penyandaran Kepada Ayat-ayat Alquran Untuk membuktikan kemaksuman para imam, ayat-ayat seperti ayat penderitaan Ibrahim, ayat Ulil Amr, ayat Tathhir, ayat Sadiqin,[45] ayat Mawaddah,[46] dan ayat Shalawat[47] menjadi rujukan dan sandarannya.

Ayat Ibtila (ujian) Ibrahim

وَ إِذِ ابْتَلی إِبراهیمَ رَبُّه بِکلماتٍ فَأتَمَّهُنَّ قالَ إِنّی جاعِلُک لِلنّاسِ إِماماً قالَ وَمِنْ ذُرّیتی قالَ لاینالُ عَهدی الظّالِمینَ Ketika Tuhan menguji Ibrahim as dengan berbagai cara [dan dia lulus ujian dengan baik]; Tuhan berkata kepadanya: Aku menjadikanmu Imam bagi umat manusia. Ibrahim as berkata: “Dan [jadikan pula] di antara anak-anakku. Allah berfirman: Janji-Ku tidak akan sampai kepada orang-orang yang zalim.”[48] Dalam argumentasi yang disandarkan pada ayat “Ibtila” dikatakan bahwa keumuman “لاینالُ عَهدی الظّالِمینَ” menunjukkan bahwa seseorang yang pernah zalim, dalam bentuk apapun, tidak akan pernah bisa mencapai (memperoleh) imamah. Oleh karena itu, ayat tersebut menunjukkan kemaksuman imam selama dan sebelum menyandang imamah.[49] Fadhil Miqdad menjelaskan penerapan argumentasi (istidlal) berdasarkan ayat tersebut sebagai berikut: Selain maksum adalah zalim; zalim tidak layak menyandang imamah; dengan demikian, selain maksum tidak pantas menjadi Imam. Oleh karena itu, imam harus maksum.[50] Ulama Syiah menyebut maksud dari pada “Ahd” (perjanjian) adalah imamah.[51]

Ayat Ulil Amr

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah [pula] Rasul dan ulil amr dari antara kalian…;[52] Bersandar pada ayat Ulil Amr, ulama Syiah mengatakan bahwa dalam ayat tersebut, ketaatan kepada Ulil Amr diperintahkan tanpa syarat apapun. Perintah seperti itu menunjukkan kemaksuman Ulil Amr; Karena jika Ulil Amr tidak maksum dan melakukan dosa atau kesalahan, kebijaksanaan dan keadilan Allah mengharuskan Dia untuk tidak memerintahkan ketaatan kepada mereka secara mutlak.[53] Kaum Syiah, berdasarkan riwayat,[54] percaya bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amr adalah para imam Syiah.[55]

Ayat Thathir (Penyucian)

انَّمَا یُرِیدُ اللهُ لِیُذْهِبَ عَنْکُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَیتِ وَ یُطَهِّرَکُمْ تَطْهِیراً Sesungguhnya Allah telah berkehendak untuk menghilangkan kekejian (kotoran) dari kalian Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.[56] Kemaksuman para Imam as juga telah dirujukkan pada ayat ini.[57] Sebagian berargumen dengan ayat ini sebagaimana berikut:

  • Maksud dari Ahlulbait as dalam ayat Thathir adalah lima orang keluarga ‘Aba.
  • Ayat ini menginformasikan tentang kehendak Tuhan untuk menghilangkan kekejian dari Ahlulbait as.
  • Tuhan, selain kehendak untuk menghilangkan kekejian (kotoran), juga memikirkan realisasi tindakan ini, karena ayat tersebut dalam posisi memuji Ahlulbait as. (kehendak takwini Tuhan)
  • Menghilangkan kekejian dan kotoran dari Ahlulbait as berarti kemaksuman mereka.[58]

Menurut banyak riwayat yang dinukilkan dari kalangan Syiah[59]dan Ahlusunah,[60] ayat Thathir (penyucian) diturunkan untuk para sahabat Kisa. Oleh karena itu, yang dimaksud Ahlulbait dalam ayat adalah lima orang.[61]

Sandaran Riwayat

Ada banyak riwayat, seperti hadis tsaqalain dan hadis safinah, yang telah dinukil untuk membuktikan kemaksuman para imam as melalui para sahabat dan para imam as.[62] Sebagian di antara hadis-hadis nabi yang menjadi sandaran Syiah adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله ص يَقُولُ:‏ «أَنَا وَ عَلِيٌّ وَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ تِسْعَةٌ مِنْ وُلْدِ الْحُسَيْنِ مُطَهَّرُونَ مَعْصُومُون Aku dan Ali serta Hasan dan Husain serta sembilan orang dari keturunan Husain adalah orang-orang suci dan maksum. (Khazaz Qummi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hal.19.

Hadis Tsaqalain

Hadis ini menunjukkan kemaksuman Ahlulbait as dengan menjelaskan tiadanya keterpisahan antara Alquran dan Ahlulbait dalam kalimat “لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّي يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْض”; Karena melakukan dosa apapun atau timbulnya kesalahan dari mereka akan menyebabkan mereka terpisah dari Alquran.[63] Selain itu, Rasulullah saw dalam hadis ini menjelaskan dengan gamlang bahwa siapa pun yang berpegang pada Alquran dan Ahlulbait as tidak akan pernah tersesat. Kalimat atau frasa ini juga menunjukkan kemaksuman Ahlulbait as; Karena jika mereka tidak maksum, berpegang teguh dan mengikuti mereka secara mutlak akan menyebabkan kesesatan.[64] Dengan kata lain, hadis ini menunjukkan kewajiban untuk mematuhi Ahlulbait as, dan kewajiban untuk menaati mereka, menunjukkan bahwa mereka itu adalah maksum.[65]

Dalam riwayat Syiah, Ahlulbait as telah ditafsirkan sebagai imam Syiah dalam hadis tsaqalain.[66] Sebagian Ahlusunah[67] menyebutkan maksud dari Ahlulbait sebagai para sahabat Kisa (ahlul kisa)[68] dan Sebagian lainnya menyebut Imam Ali as sebagai objek (misdak) paling jelas dan menonjol.

Sebagian teolog Syiah menganggap Hadis tsaqalain sebagai mutawatir dan meyakini bahwa keasliannya tidak diragukan.[69] Sebagian pula menganggapnya sebagai hadis mutawatir secara makna.[70]

Hadis Aaman

Hadis Aaman adalah hadis terkenal dari Nabi Islam saw yang diriwayatkan melalui Syiah[71] dan Sunni[72] dan dengan sedikit perbedaan, adalah sebagai berikut: “النُّجُومُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ وَ أَهْلُ بَيْتِی أَمَانٌ لِأُمَّتِی”; Bintang-bintang keamanan bagi penghuni langit dan Ahlulbaitku adalah keamanan bagi umatku.

Dalam argumen hadis ini disebutkan bahwa Rasulullah saw menyerupakan Ahlulbaitnya dengan bintang-bintang dan memperkenalkannya sebagai pelindung umat atau penduduk bumi. Pernyataan Nabi saw ini yang menyebutkan Ahlulbait, tanpa syarat sedikitpun, sebagai bintang-bintang pemberi petunjuk dan melindungi atau mengamankan umat dari perbedaan dan kesesatan, menunjukkan kemaksuman Ahlulbait as; Karena tanpa kemaksuman, hal seperti itu tidak mungkin terjadi.[73] Dalam riwayat yang dikutip dalam buku “Kifayah al-Atsar”, Ahlulbait ditafsirkan sebagai para Imam as dan kemaksuman mereka ditegaskan secara gamblang.[74] Hakim Nisyaburi, seorang muhaddis Ahlusunnah abad-4 H, mengukuhkan hadis Aaman sebagai Shahih secara sanad.[75]

Hadis Safinah

Hadis terkenal safinah dalam berbagai sumber Syiah[76] dan Ahlusunnah[77] dengan sedikit perbedaan, telah dinukilkan dari Nabi saw sebagaimana berikut: “إِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَیتِی فِیکُمْ کَمَثَلِ سَفِینَةِ نُوحٍ مَنْ رَکِبَهَا نَجَی وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ”; “Sesungguhnya perumpamaan keluargaku di antara kamu adalah bahtera Nuh, siapa yang naik ke kapal ini akan selamat dan siapa yang tertinggal akan tenggelam.” Sebagian menyebut hadis ini mutawatir.[78] Hakim Neisyaburi juga menganggap hadis ini shahih.[79] Mir Hamid Husain dalam argumentasinya melalui hadis ini mengatakan, jika kapal Ahlulbait as ini menyelamatkan orang-orang dan pelanggaran atasnya menyebabkan mereka tenggelam dan tersesat, maka sudah selayaknya secari awal Ahlulbait as haruslah terjaga dan terlindungi dari kesesatan. Jika tidak, maka perintah tanpa syarat untuk mengikuti mereka dan naik ke kapal mereka akan menyebabkan kesesatan, dan tidak mungkin bagi Allah dan Rasul-Nya saw untuk memberikan perintah yang akan menyebabkan orang tersesat.[80]

Misdak (objek eksternal) dari Ahlulbait as dalam hadis Safinah adalah dua belas imam.[81] Abdul Rauf Munawi, salah seorang ulama bermazhab Syafi'i abad ke-10 dan ke-11 H, menyebut para Imam dan Sayidah Fatimah as sebagai misdak dari Ahlulbait as.[82]

Sumber Keyakinan pada Kemaksuman

Sebagian penentang kemaksuman imam percaya bahwa pendapat seperti itu tidak ada di awal-awal Islam dan itu muncul kemudian. Misalnya, Ibn Taimiyah percaya bahwa kepercayaan pada kemaksuman Imam berasal dari Abdullah bin Saba dan merupakan bid'ah buatannya.[83] Menurut Nashir al-Kafari, Hisyam bin Hakam adalah orang pertama yang menciptakan kepercayaan semacam itu.[84] Sayid Husain Mudarrisi Thabathabai, seorang peneliti ilmu-ilmu Islam yang bermazhab Syiah dan berkebangsaan Iran, “Maktab dar Parayande Takamul” (Maktab dalam proses menyempurna), juga menyebut asal muasal gagasan kemaksuman dari Hisyam bin Hakam.[85]

Nashir al-Kaffari, seorang Wahabi, terlepas dari penentangan dan permusuhannya terhadap Syiah, menyebut penisbahan gagasan kemaksuman kepada Abdullah bin Saba secara historis tidak benar dan dia mengatakan bahwa “saya tidak menemukan kata seperti itu darinya dalam penelitian yang saya lakukan sendiri”. [86] kemaksuman para imam dan asal muasal kata maksum juga bukan bid'ah yang di buat oleh Hisyam bin Hakam, karena dalam banyak riwayat dari Nabi saw dan para Imam as, kemaksuman para Imam telah ditegaskan dengan jelas.[87] Misalnya, Imam Ali a dalam sebuah riwayat, menjelaskan kemaksuman sebagai di antara tanda-tanda Imam.[88] Imam Sajjad as meriwayatkan dalam sebuah riwayat dari ayahnya Imam Husain as bahwa Nabi Islam saw memperkenalkan para Imam as sebagai maksum.[89] Juga dalam sumber-sumber Sunni Abdullah bin Abbas meriwayatkan dari Nabi saw bahwa saya, Ali, Hasan dan Husain serta Sembilan orang dari putra-putra Husain adalah suci dan maksum.[90]

Kemaksuman Para Imam dan Pengagungan yang Berlebihan (Ghuluw)

Nashir al-Qafari, salah seorang ulama Wahabi dari Arab Saudi dan beberapa lainnya,[91] menganggap menyatakan Ahlulbait sebagai orang maksum adalah bentuk peninggian secara berlebihan (ghuluw).[92] Kalangan Syiah percaya bahwa orang Ghuluw adalah seseorang yang melampaui batas tengah (keseimbangan) dalam menggambarkan fadhilah atau keutamaan Ahlulbait as, mengangkat mereka melampaui maqom kehambaan dan penyembahan dan menisbahkan sifat-sifat khusus Tuhan kepada mereka. Tetapi kaum Syiah tidak memiliki keyakinan seperti itu tentang Ahlulbait as.[93] Syiah percaya bahwa kemaksuman, seperti sifat-sifat sempurna lainnya, pada hakekatnya adalah milik Tuhan; Namun Allah telah menolong sekelompok hamba-Nya yang menjadi penunjuk jalan. Oleh karena itu, meskipun kemaksuman terkhususkan kepada Tuhan, tidak ada halangan bagi sekelompok hamba untuk juga memiliki sifat ini; sebagaimana semua kaum Muslimin menganggap Nabi Islam saw sebagai maksum.[94]

Kemaksuman Perilaku serta Ucapan Para Imam

Beberapa perkataan para imam Syiah dianggap tidak sesuai dengan kemaksuman mereka. Di antaranya adalah kata-kata Imam Ali as yang ditujukan kepada para sahabatnya ini: فَلَا تَکُفُّوا عَنِّی مَقَالَةً بِحَقٍّ أَوْ مَشُورَةً بِعَدْلٍ فَإِنِّی لَسْتُ فِی نَفْسِـی بِفَوْقِ مَا أَنْ أُخْطِئَ وَ لَا آمَنُ ذَلِکَ مِنْ فِعْلِی إِلَّا أَنْ یَکْفِیَ اللهُ مِنْ نَفْسِی; Jangan menolak untuk mengatakan kebenaran dan bermusyawarah secara adil. Sesungguhnya, aku tidak tidak punya kelebihan (unggul) untuk membuat kesalahan, dan aku juga tidak aman dari kesalahan dalam pekerjaanku kecuali Tuhan melindungiku”.[95] Beberapa orang seperti Syahabuddin Alusi, seorang faqih dan mufassir bermazhab Syafii, Ahmad Amin Misri, Abdul Aziz Dihlawi, seorang ulama Salafi dari India, dan Nashir al-Kaffari menganggap riwayat ini tidak sesuai dengan kemaksuman Imam Ali as dan para imam dan merupakan salah satu dalil (alasan) untuk mengingkari kemaksuman para imam as.[96]

Allamah Majlisi[97] dan Mulla Salih Mazandarani[98] menafsirkan ungkapan Imam sebagai kerendahan hatinya untuk mendorong para sahabatnya agar luwes menerima kebenaran dan mengakui bahwa maksum adalah salah satu bentuk anugrah (Rahmat) Ilahi. Mereka menganggap kata-kata Imam mirip dengan kata-kata Nabi Yusuf as: “Dan aku tidak membebaskan egoku, karena ego pasti memerintahkan kejahatan, kecuali orang yang dirahmati Allah”.[99] Menurut Nashir Makarim Syirazi, kalimat “فَإِنِّی لَسْتُ فِی نَفْسِـی بِفَوْقِ مَا أَنْ أُخْطِئَ”, yang menjadi alasan para penentang kemaksuman, dapat ditafsirkan dengan kalimat “إِلَّا أَنْ یَکْفِیَ اللهُ مِنْ نَفْسِی”. Pada kalimat pertama, Imam mengatakan bahwa sebagai manusia, saya tidak luput dari kesalahan; Namun dengan kalimat kedua, dia memahamkan bahwa dia dilindungi dan dibantu oleh Tuhan dan bukan manusia biasa. Selain itu, imam dalam posisi mendidik para sahabatnya dan mengajarkan kepada mereka bahwa di setiap saat ada kemungkinan terjadi kesalahan, dan dia menempatkan dirinya di antara mereka atas dasar kerendahan hati (tawadhu).[100]

Pengakuan Dosa dan Permohonan Ampun Para Imam

Para penentang kemaksuman menyebut pengakuan dosa dan permohonan ampun para imam Syiah tidak sesuai dengan kemaksuman mereka.[101] Permohonan ampun dan taubat diriwayatkan juga dari Nabi saw. Antara lain, menurut Riwayat Nabi, beliau meminta ampun tujuh puluh kali sehari.[102]

Menurut Muhammad Taqi Majlisi,[103] para imam as meminta pengampunan untuk tujuan mengajar para perawi dan masyarakat, bukan lantaran melakukan dosa, seperti yang dikatakan sebagian Ahlusunah[104] dalam menjustifikasi istigfar atau permintaan ampunan Nabi saw. Sebagian menyebut pengakuan dosa dan permohonan ampunan para Imam as sebagai bentuk dari حَسَنَاتُ الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ (perbuatan baik orang-orang baik, bagi mereka yang dekat Allah masih terbilang tidak baik (tidak menyenangkan) dan mereka mengatakan bahwa karena posisi atau maqom mereka begitu tinggi, setiap kali mereka turun dari posisi itu untuk kepentingan orang-orang dan terlibat dalam urusan duniawi, mereka menganggap diri mereka orang berdosa dan meminta pengampunan.[105] Kalimat yang dikutip dari Nabi, إِنَّهُ لَيُغَانُ‏ عَلَى قَلْبِی وَ إِنِّی لَأَسْتَغْفِرُ الله کُلَّ یَومٍ سَبْعِينَ مَرَّةً;(Terkadang hatiku berkarat dan aku meminta pengampunan tujuh puluh kali sehari) juga mengacu pada hal yang sama.[106] Beberapa peneliti menyebutkan alasan terpenting untuk bertobat dan meminta pengampunan Nabi saw dan para Imam as adalah perhatian kepada selain Allah disebabkan kehidupan di dunia ini.[107] Menurut Allamah Majlisi, karena pengetahuan para maksum berada pada tingkat tertinggi dan mereka tenggelam dalam Zat Ilahi, ketika mereka melihat perbuatan mereka, mereka menganggapnya sangat kecil dan maksiat di hadapan keagungan Ilahi, mereka bertaubat kepada Allah dan memohon ampun.[108]

Begitupula dalam membenarkan permohonan ampunan para imam dikatakan bahwa permohonan ampun mereka memiliki aspek pencegahan dosa. Istigfar orang-orang biasa adalah untuk diampuni atas dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan; Tetapi istigfar para Imam adalah karena takut berbuat dosa dan mencegah untuk tidak melakukan itu.[109]

Bibliografi

Banyak buku dan artikel yang telah diterbitkan tentang kemaksuman Imam dan para Imam as, beberapa di antaranya adalah: - Pazuhesyi dar Shenakht wa Esmat Emam (Penelitian tentang pengetahuan dan kemaksuman Imam), Jafar Subhani, Astan Quds Razavi Islamic Research Foundation, edisi pertama, 1389 HS. - Esmat Emam dar Tarikh Tafakkur Imamiyeh ta Payan Qarn Panjum Hijri (Kemaksuman Imam dalam sejarah pemikiran Imamiyah hingga akhir abad ke lima), Muhammad Husain Faryab, Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, edisi pertama, 1390 HS. - Esmat Imaman az Didgah Aql wa Wahy (Kemaksuman Para Imam dari sudut pandang akal dan wahyu), Ibrahim Safarzadeh, Qom, Zair Astana Maqadse, edisi pertama, 1392 HS. - Dalail Esmat Imam az Didgah Aql wa Naql (Dalil-dalil Kemaksuman para Imam menurut Akal dan Teks), Hujjat Manganehchi, Tehran, Mashaar Publishing House, edisi pertama, 1391 HS. - Imamat wa Esmat Imaman dar Quran (Imamah dan Kemaksuman para Imam dalam al Quran), Reza Kardan, World Assembly of Ahl al-Bayt, edisi pertama, 1385 HS. - Quran wa Esmat Ahl bayt (Al Qur'an dan Kemaksuman Ahlulbait as), Alireza Azimifar, Qom, Mehr Amirul Momineen as, edisi pertama, 1389 HS.

Catatan Kaki

  1. Subhani, Manshur Jawid, jld. 239
  2. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Thusi, al-Iqtishad fima Yata'alaq bi al-I'tiqad, hlm. 305; Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, hlm. 184; Fayadh Lahiji, Sarmaye-e Eman, hlm. 114; Subhani, al-Ilahiyat, jld. 4, hlm. 116
  3. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 209, 350, & 351
  4. Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, hlm. 184; Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 351
  5. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, jld. 15, hlm. 251, 255 & 256, & jld. 20, bag. 1, hlm. 26,84, 95, 98, 215 & 323; Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 351; Taftazani, Syarh al-Maqashid, jld. 5, hlm. 249
  6. Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 351; Taftazani, Syarh al-Maqashid, jld. 5, hlm. 249
  7. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, jld. 20, bag. 1, hlm. 201; Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 351; Taftazani, Syarh al-Maqashid, jld. 5, hlm. 243-246
  8. Sibth Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, jld. 2, hlm. 519
  9. Silakan lihat ke: Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, jld. 2, hlm. 429, & jld. 3, hlm. 381; Ibnu Abdul Wahab, Risalah fi al-Rad ala al-Rafidhah, hlm. 28; Qafari, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiah, jld. 2, hlm. 775
  10. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 6, hlm. 376 & 377
  11. Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 244 & 245; Silakan lihat ke: Badzili, Ilahi Budan-e Mansab-e Emamat, hlm. 9-45
  12. Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 239
  13. Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 239-242
  14. Muballigi, mabani-e Kalami-e Ushul va Bahregiri az an dar Negah va Ravesy-e Emam Khomeini, hlm. 149
  15. Dhiya'i Far, Ta'sir Didgahaye Kalami bar Ushul-e Fiqh, hlm. 323
  16. Silakan lihat ke; Thusi, al-Tibyan, jld. 3, hlm. 236; Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 3, hlm. 100: Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 113 & 114; Thabathabai, al-Mizan, jld, 4, hlm. 391
  17. Sayid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld. 3, hlm. 134; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 646; Subhani, al-Ilahiyat, jld. 4, hlm. 125
  18. Silakan lihat ke: Sayid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld. 3, hlm. 139; Thusi, al-Tibyan, jld. 1, hlm. 449; Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyat, hlm. 332 & 333; Mudhafar, Dalail al-Shidq, jld. 4, hlm. 220
  19. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Shaduq, Ma'ani al-Akbar, hlm. 132 & 133; Khazzaz Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 16-19, 29, 36-38, 45, 76, 99 & 100-104; Ibnu Uqdah Kufi, Fadhail Amir al-Mukminin, hlm. 154 & 155; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 665-675
  20. Silakan lihat ke: Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 249
  21. Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 214
  22. Mufid, Tashih I'tiqadat al-Imamiah, hlm. 128; Sayid Murtadha, Rasail al-Syarif al-Murtadha, jld. 3, hlm. 326; Allamah Hilli, Bab al-Hadi 'Asyar, hlm. 9
  23. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, hlm. 259; Taftazani, Syarh al-Maqashid, jld. 4, hlm. 312 & 313
  24. Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyah, hlm. 242; Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 215
  25. Sayid Murtadha, Rasail al-Syarif al-Murtadha, jld. 3, hlm. 326; Allamah Hilli, Bab al-Hadi 'Asyar, hlm. 9; Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyah, hlm. 243
  26. Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 280; Taftazani, Syarh al-Maqashid, jld. 4, hlm. 312 & 313
  27. Thusi, Talkhish al-Mukhasshal, hlm. 369: Jarjani, Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 281: Thabathabai, al-Mizan, jld. 11, hlm. 126; Jawadi Amuli, Wahy va Nubuvat dar Quran, hlm. 197; Misbah Yazdi, Rah va Rahnama Syenasi, hlm. 285 & 286
  28. Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 216
  29. Musthafawi, al-Tahqiq fi Kalimat al-Quran, jld. 8, hlm. 154
  30. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lugah, jld. 4, hlm. 331: Ragib Isfahani, Mufradat Al-Fadz al-Quran, hlm. 569; Jauhari, al-Shihah, jld. 5, hlm. 1986; Ibnu Mandzur, Lisan al-Aeab, jld. 12, hlm. 403 & 404
  31. Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 3
  32. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Mufid, Tashih I'tiqadat al-Imamiah, hlm. 129; Allamah Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq, hlm. 164; Fayyadh Lahiji, Saramaye-e Eman, hlm. 115; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 209, 350 & 351
  33. Allamah Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq, hlm. 149; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 209, 350 & 351
  34. Fayyadh Lahiji, Gauhar Murad, hlm. 468 & 469; Fayyadh Lahiji, Saramaye-e Eman, hlm. 115
  35. Mufid, Tashih I'tiqadat al-Imamiah, hlm. 129 & 130
  36. Jawadi Amuli, Wahy va Nubuvat dar Quran, hlm. 198 & 199
  37. Jawadi Amuli, Wahy va Nubuvat dar Quran, hlm. 200
  38. Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 220
  39. Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 220
  40. Allamah Hilli,Kasyf al-Murad, hlm. 184; Sya'rani, Syarh Farsi Tajrid al-I'tiqad, hlm. 510
  41. Allamah Hilli,Kasyf al-Murad, hlm. 185
  42. Allamah Hilli,Kasyf al-Murad, hlm. 185
  43. Allamah Hilli,Kasyf al-Murad, hlm. 185; Sya'rani, Syarah Farsi Tajrid al-I'tiqad, hlm. 511
  44. Subhani, Manshur jawid, jld. 4, hlm. 251
  45. Silakan lihat ke: Allamah Hilli,Kasyf al-Murad, hlm. 196; Rabbani Golpeygani, Emamat dar Binesh-e Eslami, hlm. 274-280
  46. Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 664 & 665
  47. Rabbani Golpeygani, Afzaliyat va Esmat-e Ahlebait (as) dar Ayeh va Rivayat-e Salawat, hlm. 9-26
  48. Qs. al-Baqarah [2]: 124
  49. Mudhafar, Dalail al-Shidq, jld. 4, hlm. 220
  50. Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyah, hlm. 332
  51. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Sayid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld. 3, hlm. 139; Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, jld. 1, hlm. 449; Fadhil Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyah, hlm. 332; Mudhafar, Dalail al-Shidq, jld. 4, hlm. 220
  52. Qs. An-Nisa [3]: 59
  53. Silakan lihat ke Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, jld. 3, hlm. 236; Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 3, hlm. 100; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 113 & 114; Mudhafar, Dalail al-Shidq, jld. 4, hlm. 221
  54. Silakan lihat ke: Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 276, hadis no. 1; Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah, jld. 1, hlm. 253; Khazzar Qummi, kifayah al-Atsar, hlm. 53 & 54; Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 109-115
  55. Silakan lihat ke: Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, jld. 3, hlm. 236: Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 3, hlm. 100; Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 109
  56. Qs. al-Ahzab [33]: 33
  57. Sayid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld. 3, hlm. 134 & 135; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 646 & 647; Subhani, al-Ilahiyat, jld. 4, hlm. 125; Hamud, al-Fawaid al-Bahiyah, jld. 2, hlm. 92 & 93
  58. Faryab, Esmat-e Emam dar Tarikh-e Tafakur-e Imamaieh, hlm. 335 & 336
  59. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 193-211, disini, terdapat 34 riwayat dinukil dari referensi Syiah
  60. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Muslim Neisyaburi, Shahih Muslim, jld. 4, hlm. 1883. hadis no. 61; Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 351, hadis no. 3205 & hlm. 352, hadis no. 3206 & hlm. 663, hadis no. 3787; Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 173-192, disini, terdapat 41 riwayat dinukil dari referensi Ahlusunah
  61. Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 193; Thabathbai, Tafsir al-Mizan, jld. 16, hlm. 311 & 312; Subhani, Manshur Jawid, jld. 4, hlm. 387-392
  62. Silakan lihat ke: Khazzar Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 16-19, 29, 36-28, 45, 76, 99 & 100-104; Ibnu Uqdah Kufi, Fadhail Amir al-Mukminin, hlm. 154 & 155; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 665-673
  63. Silakan lihat ke: Mufid, al-Jarudiah, hlm. 42; Ibnu Athiyah, Abha al-Madad, jld. 1, hlm. 131; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 671; Hamdu, al-Fawaid al-Bahiyah, jld. 2, hlm. 95
  64. Ibnu Athiyah, Abha al-Madad, jld. 1, hlm. 131; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 671; Hamdu, al-Fawaid al-Bahiyah, jld. 2, hlm. 95
  65. Halabi, al-kafi fi al-Fiqh, hlm. 97
  66. Khazzar Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 87, 92, 129 & 137; Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, jld. 1, hlm. 57
  67. Manawi, Faidh al-Qadir, jld. 3, hlm. 14
  68. Ibnu Hajar Haitami, al-Shawai'iq al-Muhriqah, jld. 2, hlm. 442 & 443
  69. Ibnu Athiyah, Abha al-Madad, jld. 1, hlm. 130; Bahrani, Manar al-Huda, hlm. 670
  70. Bahrani, al-Hadaiq al-Nadhirah, jld. 9, hlm. 360; Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 6, hlm. 124
  71. Sebagai contoh, silakan lihat ke: al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam Hasan al-Askari, hlm. 546; Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 27; Thusi, al-Amali, hlm. 259 & 379
  72. Silakan lihat ke: Ibnu Hanbal, Fadhail al-Shabah, jld. 2, hlm. 671; Hakim Neisyaburi, al-Mustadrak ala al-Shahihain, jld. 2, hlm. 486 & jld. 3, hlm. 517; Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 7, hlm. 22, Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 40, hlm. 20
  73. Silakan lihat ke: Rabbani Golpeygani & Fatimi Nezad, Hadis-e Emaman va Emamat-e Ahlebait (as), hlm. 31
  74. Khazzar Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 29
  75. Hakim Neisyaburi, al-Mustadrak ala al-Shahihain, jld. 2, hlm. 486
  76. Silakan lihat ke: Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 27; Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 297; Khazzar Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 34; Thusi, al-Amali, hlm. 60, 249, 459, 482, 513 & 733; Bahrani, Ghayah al-Maram, jld. 3, hlm. 13-24
  77. Silakan lihat ke: Ibnu Hanbal, Fadhail al-Shahabah, jld. 2, hlm. 785; Hakim Neisyaburi, al-Mustadrak ala al-Shahihain, jld. 2, hlm. 373 & jld. 3, hlm. 163; Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 3, hlm. 45: Manawi, Faidh al-Qadir, jld. 2, hlm. 519 & jld. 5, hlm. 517
  78. Musawi Syifti, al-Imamah, hlm. 209
  79. Hakim Neisyaburi, al-Mustadrak ala al-Shahihain, jld. 3, hlm. 163
  80. Mirhamid Husain, Abaqat al-Anwar, jld. 23, hlm. 655 & 656
  81. Khazzar Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 34, 210 & 211; Halabi, al-Kafi fi al-Fiqh, hlm. 97
  82. Manawi, Faidh al-Qadir, jld. 2, hlm. 519
  83. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, jld. 7, hlm. 220
  84. Qafari, Ushul Madzhab al-Syiah, jld. 2, hlm. 777-779
  85. Mudarrisi Thabathabai, Maktab dar Farayand-e Takamul, hlm. 39, dinukil dari Qurbani Mubin & Muhammad Reza'i, Pazuhesyi-e dar Esmat-e Emaman, hlm. 153
  86. Qafari, Ushul Madzhab al-Syiah, jld. 2, hlm. 777
  87. Qurbani Mubin & Muhammad Reza'i, Pazuhesyi-e dar Esmat-e Emaman, hlm. 158
  88. Shaduq, al-Khishal, hlm. 129; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 164
  89. Ibnu Uqdah, Fadhail Amir al-Mukminin, hlm, 154; Khazzaz Qummi, Kifayah al-Atsar, hlm. 302 & 303
  90. Sebagai contoh, silakan lihat ke: Hamawi, Faraid al-Shimtain, jld. 2, hlm. 133 & 313
  91. Amin, Dhuha al-Islam, jld. 3, hlm. 864
  92. Qafari, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiah, jld. 2, hlm. 776
  93. Mufid, Tashih al-I'tiqad al-Imamiah, hlm. 131; Subhani, Rahnema-e Haqiqat, hlm. 114
  94. Subhani, Rahnema-e Haqiqat, hlm. 365
  95. Kulaini, al-Kafi, jld. 8, hlm. 356; Nahj al-Balaghah, khutbah no. 216, hlm. 335
  96. Silakan lihat ke: Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld. 11, hlm. 198; Amin, Dhuha al-Islam, jld. 3, hlm. 861; Dahlawi, Tuhfah Itsna 'Asyari, hlm. 373 & 463; Qafazi, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiah, jld. 2, hlm. 793
  97. Majlisi, Mir'ah al-'Uqul, jld. 26, hlm. 527 & 528
  98. Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 12, hlm. 485 & 486
  99. Qs. Yusuf [12]: 53
  100. Makarim Syirazi, Payam-e Emam Amir al-Mukminin, jld. 8, hlm. 269
  101. Silakan lihat ke: Qafari, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiah, jld. 2, hlm. 794-796; Dahlawi, Tuhfah Itsna 'Asyar, hlm. 463
  102. Kulaini, al-Kafi, jld. 2, hlm. 438, 450 & 505
  103. Majlisi, Lawami' Shahibqarani, jld. 4, hlm. 185
  104. Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld. 11, hlm. 198
  105. Majlisi, Lamwami' Shahibqarani, jld. 4, hlm. 185; Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Imamah, jld. 2, hlm. 253 & 254; Majlisi, Bihar al-Anwarm jld. 25, hlm. 204 & 210
  106. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 204 & 210
  107. Fasl-e Hasytum Maratib-e Taubeh/Martabeye Sevum: Taubeh Akhas al-Khawash site almazehiri.ir
  108. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 210
  109. Barresi-e Dalil-e Istigfar-e Ma'sumin (as) az Negah-e Emam Khomeini dar Partu-e Duaye Arafeh Emam Husain (as) site imam-khomeini.ir

Daftar Pustaka

  • Fasl-e Hasytum Maratib-e Taubeh/Martabeye Sevum: Taubeh Akhas al-Khawash site almazehiri.ir, dilihat 31 Farvardin 1402 S
  • Barresi-e Dalil-e Istigfar-e Ma'sumin (as) az Negah-e Emam Khomeini dar Partu-e Duaye Arafeh Emam Husain (as) site Imam-khomeini.ir. Diakses 8 Syahrivar 1396 S, dlihat 5 Urdibehest 1402 S
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. al-Bab al-Hadi 'Asyar. Teheran: Yayasan Muthala'at Islami, 1365 S
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad. Bagian Ilahiyat, dalam usaha Ja'far Subhani. Qom: Yayasan Imam Shadiq, cet. 2, 1382 S
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani, cet. 1, 1982 M
  • Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari. Riset: Muhammad Baqir Muwahid Abtahi. Qom: Madrasah Imam Mahdi, cet. 1, 1409 HS
  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Quran al-Adzim wa al-Sab' al-Matsani. Riset: Ali Abdul Bari Athiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, penerbit Muhammad Ali Baidhun, cet. 1, 1415 HS
  • Amin, Ahmad. Dhuha al-Islam. Kairo: Yayasan Hindawi, tanpa tahun
  • Badzili, Ridha. Ilahi Budan-e Mansab-e Emamat. Dalam Mausu'ah Radd-e Syubahat (16): Emamat (1). Teheran: Penerbit Masy'ar, cet. 1, 1398 S
  • Bahrani, Sayid Ali. Manar al-Huda fi al-Nash ala al-Imamah al-Aimmah al-Itsna 'Asyar. Riset: Abduz-Zahra Khatib. Beirut: Dar al-Muntadzar, 1405 HS
  • Bahrani, Sayid hasyim. Ghayah al-Maram wa Hujjah al-Khisham fi Ta'yin al-Imam. Riset: Sayid Ali 'Asyur. Beirut: Yayasan Tarikh Islami, cet. 1, 1422 HS
  • Bahrani, Sayid Yusuf. al-Hadaiq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Qom: Kantor penerbit Islami berafiliasi dengan Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiah, tanpa tahun
  • Dahlawi, Abdul Aziz. Tuhfah Itsna 'Asyar. Istanbul: Perpustakaan Haqiqah, tanpa tahun
  • Dhiya'i Far, Sa'id. Ta'sir dar Didgahaye kalami bar Ushul-e Feqh jurnal Naqd va Nadzar, vol. 41 & 42, Farvardin, 1385 S
  • Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. al-Lawami' al-Ilahiyah fi al-Mabahis al-Kalamiah. Riset & komentar Syahid Qadhi Thabathabai. Qom: kantor Tabligat-e Islami, cet. 2, 1422 HS
  • Faryab, Muhammad Husain. Esmat-e Emam dar Tarikh-e Tafakur-e Iamieh ta Payan-e Qarn-e Panjum-e Hijri. Qom: Yayasan Amuzesyi va Pazuhesyi Emam Khomeini, cet. 1, 1390 S
  • Fayyadh Lahiji, Abdul Razzaq. Gauhar Murad. Teheran: Penerbit Sayeh, cet. 1, 1383 S
  • Hakim Neisyaburi, Muhammad bin Abdullah. al-Mustadrak ala al-Shahihain. Riset: Musthafa Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. 1, 1411 HS, 1990 M
  • Halabi, Abu al-Shalah. al-Kafi fi al-Fiqh. Riset: Ridha Ustadi. Isfahan: Perpustakaan Amir al-Mukminin, cet. 1, 1403 HS
  • Hamawi, Ibrahim bin Muhammad. Faraid al-Simthain. Riset: Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Yayasan al-Mahmudi, tanpa tahun
  • Hamud, Muhammad Jamil. al-Fawaid al-Bahiyah fi Syarh Aqaid al-Imamiah. Beirut: Yayasan al-A'lami, cet. 2, 1421 HS
  • Ibnu Abdul Wahhab, Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman. Risalah fi al-Rad 'ala al-Rafidhah. Riset: Nashir bin Sa'ad al-Rasyid. Riyadh: Universitas al-Imam Muhammad bin Ma'ud al-Islamiah, tanpa tahun
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah, Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Qom: Perpustakaan Ayatullah Marasyi Najafi, cet. 1, 1404 HS
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Dimasyq. Riset: Amr bin Ghuramah al-Amrawi. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 HS-1995 M
  • Ibnu Athiyah, Maqatil. Abha al-Midad fi Syarh Mu'tamar Ulama Baghdad. Syarah dan riset: Muhammad Jamil Hamud. Beirut: Yayasan al-A'lami, cet. 1, 1424 HS
  • Ibnu Farism Ahmad. Mu'jam Maqayis al-Lugah. Riset: Abdu al-Salam Muhammad Harun. Qom: Perpustakaan al-A'lam al-Islami, cet. 1, tanpa tahun
  • Ibnu Hajar haitami, Ahmad bin Muhammad. al-Shawaiq al-Muhriqah ala Ahl al-Rafdh wa al-Dhalal wa al-Zindiqah. Riset Abdul Rahman bin Abdullah al-Tarki & Kamil Muhammad al-Kharrath. Beirut: Yayasan al-Risalah, cet. 1, 1417 HS-1997 M
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Fadhail al-Shahabah. Riset: Washiyullah Muhammad Abbas. Beirut: Yayasan al-Risalah, cet. 1, 1403 HS-1983 M
  • Ibnu Mandzur, Muhammad bin Mukrim. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Shadir, cet. 3, tanpa tahun
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah fi Kalam al-Syiah al-Qadariyah. Riset: Muhammad Rasyad Salim. Riyadh: Universitas al-Imam Muhammad bin Ma'ud al-Islamiah, cet. 1, 1406 HS/1986 M
  • Ibnu Uqdah Kufi, Ahmad bin Muhammad. Fadhail Amir al-Mukminin. Riset dan editor: Abdul Razaq Muhammad Husain Hirzud-Din. Qom: Dali-e ma, cet. 1, 1424 HS
  • Irbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Imamah (cetakan lama). Riset dan editor: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Tabriz: Bani Hasyim, cet. 1, 1381 HS
  • Jarjani, Mirsayid Syarif. al-Ta'rifat. Teheran: Nashir Khusru, cet. 4, 1412 HS
  • Jarjani, Mirsayid Syarif. Syarh al-Mawaqif. Riset: Badruddin Na'sani. Qom: Syarif Radhi, cet. 1, 1325 HS
  • Jauhari, Ismail bin Hamad. al-Shihah Taj al-Lugah wa Shihhah al-Arabiah. Riset: Ahmad Abdul ghafur Athar. Beirut: Dar al-Ilm, cet. 4, 1407 HS
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Wahy va Nubuvat dar Quran. (Tafsir Tematik al-Quran al-Karim Jld. 5) Riset dan penyusun Ali Zamani Qomsyeh'i. Qom: Penerbit Isra, cet. 3, 1385 S
  • Khazzar Qummi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash ala al-Aimmah al-Itsna 'Asyar. Riset dan editor: Abdul Lathif Husaini Kuhkamari. Qom: Bidar, 1401 HS
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 2, 1403 HS
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'ah al-'Uqul fi Syarh Akhbar Ali al-Rasul. Riset & editor: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiah, cet. 2, 1404 HS
  • Majlisi, Muhammad Taqi. lamwami' Shahibqarani Masyhur be Syarh faqih. Qom: Yayasan Ismailian, cet. 2, 1414 HS
  • Makarim Syirazi, Nashir. Payam-e Emam-e Amir al-Mukminin. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiah,cet. 1, 1386 S
  • Manawi, Abdul Rauf bin Taj al-Arifin, Faidh al-Qadir Syarh al-Jami al-Shagir. Mesir: Perpustakaan al-Tijariah al-Kubra, cet. 1,1356 HS
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad. Syarh al-Kafi (al-Ushul wa al-Raudhah). Editor: Abu al-Hasan Sya'rani. Teheran: Perpustakaan Islamiah, cet. 1, 1382 HS
  • Misbah Yazdi. Muhammad Taqi. Rah va Rahnamai Syenasi. Qom: Penerbit Yayasan Amuzesyi va Pazuhesyi Emam Khomeini, 1395 S
  • Muballigi, Ahmad. Mabani-e Kalami-e Ushul va Bahrehgiri az an dar Negah va Ravesy-e Emam Khomeini jurnal Feqh, vol. 45 Mehr, 1384 S
  • Mudhafar, Muhammad Husai. Dalail al-Shidq. Qom: Yayasan Alulbait, cet. 1, 1422 HS
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Masail al-Jarudiah. Qom: Kongres Internasional Syekh Mufid, cet. 1, 1413 HS
  • Mufid, Muhammad bin Nu'man. Tashih I'tiqadat al-Imamiah. Qom: Kongres Syekh Mufid, cet. 2, 1414 HS
  • Muslim Neisyaburi, Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Riset: Muhammad Fuad Abdul Baqi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun
  • Musthafawi, Hasan. al-Tahqia fi Kalimat al-Quran. Teheran: Markaz al-Kitab li tarjumah wa al-Nashr, cet. 1, 1402 HS
  • Muwawi Syifti, Sayid Asadullah. al-Imamah. Riset: Sayid Mahdi Rajai. Isfahan: Perpustakaan Hujjatul Islam al-Syifti, cet. 1, 1411 HS
  • Nahj al-Balaghah. Editor: Subhi Shalih. Qom: Hijrat, cet. 1, 1414 HS
  • Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad. al-Mughni fi Abwab al-Tauhid wa al-Adl. Riset: George Qanawati. Kairo: al-Dar al-Mishriyah, 1962-1965
  • Qaffari, Nashir Abdullah Ali. Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiah. Dar al-Ridha, cet. 4, 1431 HS-2010 M
  • Qurbani Mubin, Hamid Ridha & Muhammad Rezai. Pazuhesy dar Esmat-e Emaman jurnal Anjuman-e Ma'arif-e Eslami, vol. 23, musim panas, 1389 S
  • Rabbani Golpeygani, Ali & Ali Reza Fathimi Nezad. Hadis-e Eman va Emamat-e Ahlebait jurnal Kalam-e Islami, vol. 100, musim dingin, 1395 S
  • Rabbani Golpeygani, Ali. Esmat-e Emam az Didgah-e Khera jurnal Qabasat, vol. 45, musim gugur, 1386 S
  • Rabbani Golpeygani, Ali. Afzaliyat va Esmat-e Ahlebait dar Ayeh va Revayat-e Shalavat jurnal Kalam-e Eslami, vol. 99, musim gugur, 1395 S
  • Rabbani Golpeygani, Ali. Emamat dar Binesh-e Eslami. Qom: Bustan-e Ketab, cet. 2, 1387 S
  • Ragib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat al-Fadz al-Quran. Beirut: Dar Qalam, cet. 1, tanpa tahun
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. al-Syafi fi al-Imamah. Riset & komentar Sayid Abdul Zahra Husaini. Teheran: Yayasan Imam Shadiq, cet. 2, 1410 HS
  • Shaduq, Muhammad bin Ali Babawaih. al-Khishal. Riset & editor: Ali Akbar Ghafari. Qom: Jamiah Mudarrisin, cet. 1, 1362 S
  • Shaduq, Muhammad bin Ali Babawaih. Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah. Riset: Ali akbar Ghafari. Teheran: Penerbit islamiah, cet. 2, 1395 HS
  • Shaduq, Muhammad bin Ali Babawaih. Ma'ani al-Akhbar. Riset: Ali Akbar Ghafari. Qom: Kantor penerbit Islami, cet. 1, 1403 HS
  • Shaduq, Muhammad bin Ali Babawaih. Uyun Akhbar al-Ridha. Riset: Mahdi Lajurdi. Teheran: Penerbit Jahan, cet. 1, 1362 S
  • Subhani, Ja'far. Manshur Jawid. Qom: Yayasan Imam Shadiq, cet. 1, 1383 S
  • Sya'rani, Abu al-Hasan. Syarh Farsi Tajrid al-I'tiqad. Teheran: Toko buku Islamiah, cet. 8, 1376 S
  • Taftazani, Sa'dud-Din. Syarh al-Maqashid. Riset dan komentar Abdul Rahman Amirah. Qom: Syarif Radhi, cet. 1, 1409 HS
  • Thabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu'jam al-Kabir. Riset: Hamdi bin Abdul Majid al-Salafi. Kairo: Penerbit perpustakaan Ibnu Taimiyah, cet. 2, tanpa tahun
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran: Nashir Khusru, cet. 3, 1372 S
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Qom: Perpustakaan penerbit Islami, cet. 5, 1417 HS
  • Thusi, Khajah Nashiruddin. Talkhis al-Muhashal al-Ma'ruf bi Naqd al-Muhashal. Beirut: Dar al-Adhwa, cet. 21405 HS
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, cet. 1, 1414 HS
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Iqtishad fima Yata'allaq bi al-I'tiqad. Beirut: Dar al-Adhwa, cet. 2, 1406 HS
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 1, tanpa tahun
  • Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan Tirmidzi. Riset dan komentar: Ahmad Muhammad Syakir, Muhammad Fuad Abdul Baqi & Ibrahim Athuh. Mesir: Perpustakaan dan Perusahaan Percetakan Mustafa al-Babi al-Halabi, cet. 2, 1395 HS-1975 M