Konsep:Pintu-pintu Surga
Templat:Eskatologi-Vertikal Pintu-pintu Surga (Abwab al-Jannah) adalah salah satu konsep Al-Qur'an yang oleh sebagian mufasir ditafsirkan sebagai Derajat Surga. Berdasarkan berbagai riwayat dari kalangan Syiah dan Sunni, jumlah pintu Surga adalah delapan pintu. Sebagian peneliti berpendapat bahwa pintu utama surga berjumlah delapan, sedangkan pintu cabangnya lebih banyak dari jumlah tersebut.
Pintu-pintu surga dinamai dengan nama-nama seperti Rayyan, Sabar, dan Jihad, dan penduduk surga memasukinya sesuai dengan amal perbuatan mereka. Dalam beberapa riwayat, Imam Ali as dan Ahlulbait as diperkenalkan sebagai pintu dari pintu-pintu surga. Dalam beberapa hadis pula, tempat-tempat tertentu (seperti Rukun Yamani) dan waktu-waktu tertentu (seperti bulan Ramadan) dianggap berkaitan dengan pintu-pintu surga.
Dalam hadis-hadis, disebutkan ciri-ciri fisik untuk pintu-pintu surga; di antaranya bahwa pada pintu-pintu surga terdapat prasasti yang bertuliskan kalimat: "Tidak ada sembahan selain Allah; Muhammad adalah utusan Allah dan Ali adalah saudara utusan Allah."
Buku Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah karya Hasyim Musawi Jaza'iri telah ditulis dan diterbitkan dengan tema pintu-pintu surga.
Maksud dari Pintu-pintu Surga
Dalam ayat-ayat Al-Qur'an, dikabarkan adanya pintu-pintu untuk Surga.[1] Para mufasir memiliki berbagai penjelasan dalam menerangkan hakikat pintu-pintu surga. Mohammad Sadeqi Tehrani, penulis Tafsir al-Furqan,[2] dan Sayyid Kamal Haydari, salah seorang mufasir Syiah,[3] dengan menyatakan bahwa pintu setiap sesuatu disesuaikan dengan sesuatu tersebut, menafsirkan pintu-pintu surga sebagai Derajat Surga. Menurut keyakinan Nasir Makarem Syirazi, penulis Tafsir Nemuneh, pintu-pintu surga tidaklah seperti pintu-pintu duniawi yang berada di pintu masuk bangunan seperti rumah; melainkan pintu-pintu surga pada hakikatnya adalah amal perbuatan dan faktor-faktor yang menjadi penyebab masuk ke surga.[4]
Jumlah
Meskipun jumlah pintu surga tidak disebutkan dalam Al-Qur'an,[5] namun berdasarkan berbagai riwayat dari Syiah dan Sunni, jumlah pintu surga adalah delapan pintu.[6] Sebagian penulis menganggap jumlah pintu ini sesuai dengan jumlah surga yang disebutkan dalam Al-Qur'an (1. Jannatun Na'im[7] 2. Firdaus[8] 3. Jannatul Khuld[9] 4. Jannatul Ma'wa[10] 5. Jannat 'Adn[11] 6. Darussalam[12] 7. Darul Qarar[13] 8. Surga seluas langit dan bumi[14]).[15]
Dalam sebuah riwayat dari Imam Ali as, jumlah pintu surga disebutkan sebanyak 72 pintu.[16] Makarem Syirazi memberikan kemungkinan bahwa seluruh angka yang disebutkan bukanlah untuk menyatakan jumlah eksak pintu surga, melainkan menunjukkan banyaknya pintu tersebut.[17] Sayyid Kamal Haydari, untuk menyelesaikan perbedaan riwayat dalam menyatakan jumlah pintu surga, menganggap pintu utama surga berjumlah delapan dan pintu cabangnya lebih banyak dari jumlah tersebut.[18]
Alasan Lebih Banyaknya Pintu Surga Dibandingkan Pintu Neraka
Ayatullah Makarem Syirazi meyakini bahwa lebih banyaknya pintu surga dibandingkan Pintu-pintu Neraka menunjukkan mendahuluinya rahmat Ilahi atas murka-Nya dan lebih banyaknya sebab kebahagiaan daripada sebab kesengsaraan.[19] Menurut Murtadha Muthahhari, berdasarkan hadis-hadis, salah satu pintu surga dikhususkan bagi orang-orang yang meskipun bukan Muslim, namun memercayai Tauhid dan tidak memusuhi Ahlulbait as.[20]
Mulla Sadra, filsuf dan arif Syiah, mengatakan bahwa pintu-pintu neraka sesuai dengan jumlah tujuh anggota tubuh yang dengannya manusia melakukan tugas-tugasnya, dan pintu-pintu surga pun berjumlah sama ditambah dengan pintu hati (Bab al-Qalb) yang mana pintu ini tertutup bagi penghuni neraka.[21]
Nama-nama

Dalam sebagian riwayat, nama pintu-pintu surga disebutkan sebagai berikut: 1. Tobat 2. Zakat 3. Salat 4. Amar Makruf Nahi Mungkar 5. Haji 6. Wara' 7. Jihad 8. Sabar.[22] Berdasarkan sebuah riwayat dari kalangan Ahlusunah, di surah terdapat pintu khusus bagi ahli setiap amal yang darinya mereka akan dipanggil.[23] Dalam hadis-hadis Syiah juga disebutkan bahwa bagi orang-orang yang ber-jihad terdapat pintu bernama Mujahidin[24] dan bagi orang-orang yang ber-puasa terdapat pintu bernama Rayyan (segar/puas meminum) yang darinya mereka akan masuk.[25] Dalam sebuah hadis dari Nabi saw, beberapa nama pintu surga disebutkan sebagai berikut: Pintu Rahmat, Pintu Sabar, Pintu Bala', Pintu Syukur, dan Pintu Teragung (al-Bab al-A'zham).[26]
Sesuai dengan sebagian riwayat, salah satu pintu surga dikhususkan untuk para nabi dan shiddiqin, satu pintu untuk para syuhada dan orang-orang saleh, lima pintu untuk para Syiah dan pecinta Ahlulbait as, dan satu pintu untuk kaum Muslim lainnya.[27]
Individu, Tempat, dan Waktu Terkait
Berdasarkan sebagian riwayat, pintu-pintu surga disesuaikan dengan beberapa individu. Dalam sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw, Imam Husain as[28] dan dalam sebuah hadis dari Imam Kazim as, Imam Ali as[29] serta sesuai dengan riwayat dari Imam Ali as, Ahlulbait diperkenalkan sebagai pintu-pintu surga.[30] Ja'far Syusytari dalam kitab Al-Khashais al-Husainiyyah menyebut Nabi dan para Imam as sebagai pintu-pintu surga dan menegaskan bahwa pintu Imam Husain as lebih luas dari pintu-pintu lainnya.[31] Berdasarkan sebuah riwayat dalam kitab Al-Kafi, salah satu pintu surga terletak di Rukun Yamani yang mana pintu masuk darinya dikhususkan untuk Ahlulbait Nabi saw, namun menurut hadis lain dari kitab ini, para Syiah akan masuk melaluinya.[32]
Dalam sumber-sumber riwayat, beberapa tempat disebutkan sebagai lokasi pintu-pintu surga; di antaranya tempat-tempat tersebut dapat merujuk pada Hijir Ismail,[33] Mimbar Nabi saw,[34] makam Imam Husain as[35] dan juga kota Qom.[36]
Terdapat pula riwayat-riwayat yang menganggap beberapa waktu sebagai waktu terbukanya pintu-pintu surga; seperti bulan Ramadan,[37] waktu kelahiran Nabi saw,[38] waktu salat zuhur,[39] Senin dan Kamis termasuk di antara waktu-waktu tersebut.[40]
Ciri-ciri Fisik
Templat:Kotak kutipan Dalam hadis-hadis Syiah disebutkan beberapa ciri untuk pintu-pintu surga; di antaranya bahwa lebar setiap pintu surga adalah sejauh empat puluh tahun perjalanan.[41] Berdasarkan sebuah riwayat dari Nabi saw, pengetuk pintu surga terbuat dari yaqut merah dan ketika pintu diketuk dengannya, maka akan mengeluarkan suara "Ya Ali".[42]
Dalam hadis lainnya, Bilal al-Habasyi menukil dari Nabi saw bahwa Pintu Rahmat dan Pintu Sabar terbuat dari yaqut merah; namun Pintu Sabar kecil dan memiliki satu daun pintu; Pintu Syukur terbuat dari yaqut putih dan memiliki dua daun pintu serta sangat luas, dan Pintu Bala' terbuat dari yaqut kuning dan memiliki satu daun pintu; Pintu Teragung juga merupakan pintu yang dimasuki oleh para hamba yang saleh dan orang-orang baik.[43]
Muhyiddin bin Arabi dalam menafsirkan "futihat abwabuha; pintu-pintunya dibukakan" dalam Ayat 73 Surah Az-Zumar berkata: Pintu-pintu surga telah terbuka sebelum kedatangan penduduk surga; karena pintu rahmat dan karunia Ilahi senantiasa terbuka dan karunia Allah selalu mengalir agar siapa pun yang memiliki kelayakan dapat menerimanya; namun pintu-pintu neraka tertutup dan hanya terbuka bagi siapa saja yang memiliki kesiapan untuk masuk ke neraka.[44] Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma'ani mengibaratkan terbukanya pintu-pintu surga bagi masuknya orang-orang bertakwa seperti seorang tuan rumah yang sedang menanti tamu dan telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut dan memasukkannya ke dalam rumah.[45]
Kunci-kunci
Dalam sumber-sumber riwayat Syiah, Salat,[46] pedang-pedang (kiasan dari jihad di jalan Allah),[47] zikir La ilaha illallah,[48] Nabi saw[49] dan Imam Ali as diperkenalkan sebagai Kunci-kunci Surga. Berdasarkan sebuah riwayat dalam Tafsir Furat Kufi, Nabi saw dan Imam Ali as adalah orang-orang pertama yang mengetuk pintu surga[50] dan Imam Ali as membantu Nabi saw dalam membuka pintu surga.[51]
Prasasti

Berdasarkan berbagai riwayat dari Syiah dan Sunni, pada pintu-pintu surga tertulis kalimat: "Tidak ada sembahan selain Allah; Muhammad adalah utusan Allah dan Ali adalah saudara utusan Allah."[52] Sesuai dengan riwayat dari Nabi saw, Jibril dalam Mikraj memperlihatkan pintu-pintu surga kepada beliau yang mana selain kalimat "Tidak ada sembahan selain Allah; Muhammad adalah utusan Allah dan Ali adalah Wali Allah", pada setiap pintu juga terdapat ungkapan etika yang terpisah.[53] Dalam sebuah hadis dari Imam ash-Shadiq as juga disebutkan bahwa pada pintu surga tertulis: Bagi setiap Sedekah, sepuluh pahala dan bagi pinjaman (qardhul hasan) delapan belas pahala.[54]
Monograf
Beberapa buku yang ditulis dengan tema pintu-pintu surga di antaranya adalah:
- Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah karya Hasyim Musawi Jaza'iri; dalam karya ini disebutkan 318 riwayat dari Syiah dan Sunni dengan tema pintu-pintu surga dan Penerbit Naji di Qom telah mencetaknya pada tahun 1395 HS.[55]
- Abwab al-Jannah karya Mohammad Vanaqi; buku ini dicetak oleh Penerbit Arman-e Roshd pada tahun 1397 HS setebal 252 halaman.[56]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Surah Shad, ayat 50; Surah Az-Zumar, ayat 73; Surah Ar-Ra'd, ayat 23.
- ↑ Sadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 25, hlm. 392.
- ↑ Al-Haydari, Al-Ma'ad, 1440 H, jld. 6, hlm. 74.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 194; Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 6, hlm. 237.
- ↑ Mohammadi Rey Syahri, Behesht wa Duzakh az Negah-e Qur'an wa Hadits, 1390 HS, jld. 1, hlm. 122; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 194.
- ↑ Surah Asy-Syu'ara, ayat 85.
- ↑ Surah Al-Mukminun, ayat 11.
- ↑ Surah Al-Furqan, ayat 15.
- ↑ Surah An-Najm, ayat 15.
- ↑ Surah Thaha, ayat 76.
- ↑ Surah Al-An'am, ayat 127.
- ↑ Surah Ghafir, ayat 39.
- ↑ Surah Ali 'Imran, ayat 133.
- ↑ Musawi Jaza'iri, Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah, 1395 HS, hlm. 8.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 369.
- ↑ Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 6, hlm. 238.
- ↑ Al-Haydari, Al-Ma'ad, 1440 H, jld. 6, hlm. 75.
- ↑ Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 6, hlm. 237-238.
- ↑ Muthahhari, Asynayi ba Qur'an, 1389 HS, jld. 5, hlm. 85.
- ↑ Shadruddin Syirazi, Mafatih al-Ghaib, 1363 HS, hlm. 668-669.
- ↑ Khu'i, Minhaj al-Bara'ah, 1400 H, jld. 9, hlm. 189.
- ↑ Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 1409 H, jld. 2, hlm. 274.
- ↑ Syaikh Thusi, Tahdzib, 1407 H, jld. 6, hlm. 123.
- ↑ Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal, 1406 H, hlm. 71.
- ↑ Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 295-296.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 2, hlm. 408.
- ↑ Khawarizmi, Maqtal al-Husain, 1423 H, hlm. 212.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 389.
- ↑ Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-'Uqul, 1404 H, hlm. 115.
- ↑ Syusytari, Al-Khashais al-Husainiyyah, 1414 H, hlm. 14.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 409.
- ↑ Quthb Rawandi, Lubb al-Albab, 1431 H, jld. 1, hlm. 116.
- ↑ Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 568.
- ↑ Ibnu Qulawayh, Kamil al-Ziyarat, 1356 HS, hlm. 271.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 57, hlm. 212.
- ↑ Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal, 1406 H, hlm. 64.
- ↑ Qaysi Dimasyqi, Jami' al-Atsar, 2010 M, jld. 5, hlm. 2679.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 575.
- ↑ Sayyid Ibnu Thawus, Jamal al-Usbu', 1330 H, hlm. 173.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 2, hlm. 408.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 588-589.
- ↑ Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 295-296.
- ↑ Ibnu Arabi, Tafsir Ibnu 'Arabi, 1422 H, jld. 2, hlm. 196.
- ↑ Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 12, hlm. 288.
- ↑ Ibnu Abi Jumhur, 'Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 1, hlm. 322.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 2.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Alu Abi Thalib as, 1379 HS, jld. 4, hlm. 312.
- ↑ Qumi, Al-Fadhail, 1363 HS, hlm. 33.
- ↑ Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, 1410 H, hlm. 394.
- ↑ Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, 1410 H, hlm. 635.
- ↑ Syusytari, Ihaq al-Haq, 1409 H, jld. 4, hlm. 199-201.
- ↑ Ibnu Syadzan Qumi, Al-Fadhail, 1363 HS, hlm. 152-154
- ↑ Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 58.
- ↑ Musawi Jaza'iri, Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah, 1395 HS.
- ↑ Vanaqi, Abwab al-Jannah, 1397 HS.
Daftar Pustaka
- Alusi, Syihabuddin. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidun, 1415 H.
- Al-Haydari, Sayyid Kamal. Al-Ma'ad. Kazhimain, Muassasah al-Imam al-Jawad as, 1440 H.
- Furat Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat Kufi. Teheran, Penerbit Kementerian Bimbingan Islam, 1410 H.
- Ibnu Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-'Aziziyyah fi al-Ahadits al-Diniyyah. Qom, Dar Sayyid al-Syuhada as, 1405 H.
- Ibnu Abi Syaibah, Abu Bakar. Al-Mushannaf. Riyadh, Maktabah al-Rusyd, 1409 H.
- Ibnu Qulawayh, Ja'far bin Muhammad. Kamil al-Ziyarat. Najaf, Dar al-Murtadhawiyyah, 1356 HS.
- Ibnu Syadzan Qumi, Syadzan bin Jibril. Al-Fadhail. Qom, Radhi, 1363 HS.
- Ibnu Syahr Asyub. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom, Allamah, 1379 HS.
- Ibnu Syu'bah Harrani. Tuhaf al-'Uqul. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1404 H.
- Ibnu Arabi, Muhyiddin. Tafsir Ibnu 'Arabi. Riset dan Koreksi: Abdul Warits Muhammad Ali. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1422 H.
- Khu'i, Mirza Habibullah. Minhaj al-Bara'ah fi Syarh Nahj al-Balaghah. Teheran, Al-Maktabah al-Islamiyah, 1400 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
- Khawarizmi, Muwaffaq bin Ahmad. Maqtal al-Husain as. Qom, Anwar al-Huda, 1423 H.
- Makarem Syirazi, Nasir. Payam-e Qur'an. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1386 HS.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar as. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Musawi Jaza'iri, Hasyim. Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah. Qom, Naji, 1395 HS.
- Mohammadi Rey Syahri, Muhammad. Behesht wa Duzakh az Negah-e Qur'an wa Hadits. Qom, Dar al-Hadits, 1390 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Asynayi ba Qur'an. Teheran, Sadra, 1389 HS.
- Quthb Rawandi, Said bin Hibatullah. Lubb al-Albab. Qom, Alu 'Aba as, 1431 H.
- Qaysi Dimasyqi, Muhammad bin Abdullah. Jami' al-Atsar fi Mawlid al-Nabi al-Mukhtar. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010 M.
- Sadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Teheran, Penerbit Farhang-e Eslami, 1365 HS.
- Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Mafatih al-Ghaib. Teheran, Muassasah Muthala'at wa Tahqiqat-e Farhangi, 1363 HS.
- Sayyid Ibnu Thawus. Jamal al-Usbu' bi Kamal al-'Amal al-Masyru'. Qom, Dar al-Radhi, 1330 H.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Kitabchi, 1376 HS.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1362 HS.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1413 H.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal. Qom, Dar al-Syarif al-Radhi, 1406 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
- Syusytari, Ja'far. Al-Khashais al-Husainiyyah. Beirut, Dar al-Surur, 1414 H.
- Syusytari, Qadhi Nurullah. Ihqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1409 H.
- Thabari Amuli, Muhammad bin Abi al-Qasim. Bisyarah al-Mushthafa li Syi'ah al-Murtadha. Najaf, Al-Maktabah al-Haydariyyah, 1383 H.
- Vanaqi, Muhammad. Abwab al-Jannah. Teheran, Arman-e Roshd, 1397 HS.