Lompat ke isi

Konsep:Iddah Talak

Dari wikishia

Templat:Hukum Templat:Artikel Deskriptif Fikih Iddah Talak (bahasa Arab: Templat:Arab) adalah masa tunggu yang harus dijalani oleh seorang wanita setelah perceraian di mana ia tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain. Para fakih menetapkan awal masa ini sejak shighah (ijab kabul) talak diucapkan, baik wanita tersebut mengetahui perceraiannya atau tidak. Dasar dari fatwa ini adalah Ayat 228 Surah Al-Baqarah, riwayat-riwayat, dan ijma.

Durasi iddah talak berbeda-beda tergantung pada kondisi siklus menstruasi wanita. Para fakih menetapkan bahwa bagi wanita yang memiliki siklus haid teratur, masa iddahnya adalah tiga kali masa suci (thuhur). Jika suami istri tidak melakukan hubungan suami istri selama pernikahan atau jika wanita tersebut tidak mengalami haid karena menopause (yaisah), maka tidak ada kewajiban iddah.

Menurut pandangan fakih, iddah talak bagi wanita yang berada dalam usia haid namun tidak mengalami haid atau ragu dalam melihat darah haid, adalah tiga bulan atau hingga waktu melahirkan (maksimal 9 bulan) sampai iddahnya selesai. Namun, jika wanita tersebut telah mencapai usia haid tetapi siklusnya tidak teratur, untuk menentukan masa iddah, ia harus merujuk pada kebiasaan wanita seusianya dan kerabatnya. Disebutkan bahwa iddah wanita hamil, baik dalam pernikahan permanen maupun sementara (mut'ah), berakhir dengan kelahiran anak, kecuali dalam kasus kehamilan tidak sah (di luar nikah) di mana ia harus menjalani iddah selama tiga kali masa suci atau tiga bulan.

Para fakih menetapkan hukum-hukum iddah sesuai dengan jenis talaknya. Berdasarkan hukum tersebut, menikah dengan wanita yang sedang dalam masa iddah, baik secara permanen maupun sementara, adalah tidak diperbolehkan. Jika seseorang mengetahui hukum ini dan tetap menikahinya, maka wanita tersebut menjadi haram selamanya bagi laki-laki itu, meskipun tidak terjadi hubungan seksual. Selain itu, terkait dampak hukum iddah talak, disebutkan bahwa dalam Talak Raj'i, nafkah istri menjadi tanggungan suami, dan jika salah satu pihak meninggal dunia selama masa iddah, pihak lainnya akan mewarisinya. Namun, dalam Talak Ba'in, nafkah hanya wajib jika wanita tersebut hamil, dan setelah berakhirnya iddah atau terjadinya talak, hubungan saling mewarisi antara suami istri terputus.

Konsep dan Durasi Iddah Talak

Iddah talak adalah jangka waktu di mana seorang wanita tidak dapat menikah dengan pria lain setelah perceraian.[1] Menurut para fakih, wanita setelah ditalak harus menunggu selama tiga masa suci (thuhur) sebagai iddah.[2] Juga disebutkan bahwa talak harus dilakukan pada masa suci di mana belum terjadi hubungan suami istri, dan masa suci ini dihitung sebagai salah satu dari tiga masa suci iddah; dengan demikian, dengan dimulainya haid ketiga, iddah talak berakhir.[3]

Para fakih tidak mewajibkan iddah bagi pasangan suami istri yang belum melakukan hubungan badan, wanita di bawah 9 tahun, dan wanita menopause (yaisah); wanita-wanita ini dapat langsung menikah setelah talak;[4] tentu saja, fakih Ahlusunah dan sekelompok fakih Imamiyah menentang fatwa ini dan meyakini bahwa mereka juga harus menjalani iddah selama tiga bulan.[5]

Awal iddah talak dihitung sejak selesainya pengucapan shighah talak, baik wanita tersebut mengetahui dirinya ditalak ataupun tidak.[6] Disebutkan bahwa iddah fasakh dan infisakh (pembatalan akad secara otomatis) juga sama seperti iddah talak.[7]

Landasan hukum iddah talak adalah Ayat 228 Surah Al-Baqarah[8] serta riwayat-riwayat mutawatir dan ijma (kesepakatan) para fakih.[9]

Cara Menentukan Iddah Talak bagi Wanita dengan Siklus Haid Berbeda

Iddah talak bagi wanita yang mengalami haid setiap bulan adalah tiga kali melihat haid atau tiga masa suci.[10] Namun bagi wanita yang karena kondisi fisik atau penyakit tidak mengalami haid padahal berada dalam usia haid, jika talak atau fasakh terjadi setelah dukhul (hubungan seksual), mereka harus menjalani iddah selama tiga bulan.[11] Hukum ini juga mencakup anak perempuan berusia 9 tahun selama belum melihat haid atau wanita tanpa rahim.[12]

Menurut Syahid Tsani, seorang fakih Syiah, jika seorang wanita ragu melihat darah selama masa iddah talak, karena ada kemungkinan hamil, ia harus menunggu hingga tiga periode suci dari haid atau sampai 9 bulan (masa kehamilan). Jika ia sama sekali tidak melihat darah haid, ia harus menunggu 9 bulan dan setelah itu keluar dari iddah. Namun jika dalam masa ini ia melihat darah haid dan memiliki tiga periode suci, iddahnya selesai.[13] Pandangan ini juga diterima oleh fakih seperti Shahib al-Jawahir dan Shahib al-Hada'iq.[14] Namun jika ia mengalami gangguan dalam melihat darah, kondisinya terbagi menjadi beberapa keadaan:

  • Jika dalam tiga bulan masa iddah ia melihat darah haid satu atau dua kali lalu darah berhenti, ia harus menunggu hingga tiga siklus haid selesai. Meskipun pada bulan-bulan berikutnya ia tidak melihat darah, hukum ini berlaku karena adanya kemungkinan kehamilan.
  • Jika sebelum batas maksimal masa kehamilan berakhir tiga siklus haid telah sempurna, maka iddahnya juga selesai.
  • Jika tiga siklus haid belum sempurna dan batas maksimal masa kehamilan berakhir, menurut pendapat masyhur, wanita tersebut harus menunggu hingga satu tahun. (Jika dalam masa ini ia melahirkan atau tiga siklus haid sempurna, iddahnya selesai).
  • Jika batas maksimal masa kehamilan telah lewat, ia harus menunggu melihat darah. Jika tidak melihat darah, ia harus menunggu 9 bulan dan pada bulan kesepuluh ia keluar dari iddah.[15]

Iddah talak bagi wanita yang baru mencapai usia haid, siklus haidnya terganggu, atau lupa kebiasaannya, harus merujuk pada kebiasaan wanita seusianya dan kerabatnya untuk menentukan masa iddah.[16] Jika kebiasaan tersebut dapat ditentukan, iddah mereka adalah tiga masa suci; jika tidak, mereka harus menjalani iddah selama tiga bulan Qamariyah.[17] Jika talak terjadi di awal bulan Qamariyah, iddahnya adalah tiga bulan penuh, tetapi jika terjadi di pertengahan bulan, harus melewati dua bulan penuh dan sisa hari dari bulan pertama digenapkan pada bulan keempat.[18]

Iddah Talak Wanita Hamil

Menurut pendapat para fakih, iddah wanita hamil, baik dalam pernikahan permanen maupun sementara, berakhir dengan kelahiran anak, bahkan jika talak terjadi segera setelahnya, dengan syarat kehamilan tersebut berasal dari suami yang sah secara syar'i dan anak tersebut dinasabkan kepadanya.[19] Jika kehamilan tersebut tidak sah (ilegal), iddah tidak berakhir dengan kelahiran anak, dan wanita tersebut harus menjalani iddah seperti wanita tidak hamil, yaitu tiga masa suci atau tiga bulan Qamariyah.[20] Dalam sumber-sumber fikih disebutkan alasan hukum ini adalah karena nuthfah (sperma) yang berasal dari Zina tidak dianggap terhormat oleh syariat karena tidak adanya ikatan syar'i.[21]

Hukum Fikih dalam Iddah Talak Raj'i dan Ba'in

Para fakih menjelaskan hukum-hukum iddah sesuai dengan jenis talaknya, antara lain:

  • Menurut fakih, dalam iddah talak raj'i, jika salah satu pasangan melakukan zina, hadd rajam akan diberlakukan atas mereka.[22] Selain itu, berzina dengan wanita yang ditalak raj'i selama masa iddah menyebabkan keharaman abadi untuk menikahinya, namun zina dengan wanita dalam iddah wafat, talak ba'in, mut'ah, fasakh, atau wathi syubhat tidak memiliki hukum demikian dan pernikahan setelah berakhirnya iddah diperbolehkan.[23]
  • Para fakih menekankan bahwa selama masa iddah raj'i, pria tidak boleh menikah dengan wanita kelima atau saudara perempuan dari istri yang ditalaknya.[24] Namun mengenai iddah talak ba'in, terdapat perbedaan pendapat; sebagian fakih membolehkan pernikahan ini[25] tetapi menurut Muhaqqiq Sabzawari, salah seorang fakih Syiah era Safawiyah, Syekh Mufid (wafat: 413 H) dalam Al-Muqni'ah berpendapat tidak boleh menikah hingga iddah berakhir.[26] Sebagian fakih memberikan rincian (tafsil) dalam masalah ini dan meyakini bahwa pernikahan pada masa iddah raj'i dan juga iddah akibat akad sementara (mut'ah) tidak diperbolehkan,[27] namun membolehkannya dalam iddah talak ba'in.[28]
  • Dalam iddah talak raj'i, suami dapat kembali (rujuk) kepada istri yang ditalaknya tanpa perlu akad baru,[29] namun dalam masa iddah talak ba'in, diperlukan pengucapan shighah (akad) baru.[30]
  • Menurut pendapat masyhur fakih, talak wanita yang suaminya hilang tak berjejak (mafqud al-atsar) adalah jenis Talak Raj'i,[31] namun iddahnya dari segi jumlah hari sama seperti iddah wafat.[32]
  • Iddah dalam pernikahan sementara (mut'ah), jika telah terjadi hubungan suami istri, adalah wajib, dengan syarat istri tidak dalam keadaan menopause (yaisah). Dua kali haid adalah iddah bagi wanita yang memiliki siklus haid teratur; adapun wanita yang tidak haid namun berada dalam usia wanita yang biasanya haid, iddah mereka adalah 45 hari.[33] Jika tidak terjadi hubungan suami istri dan masa kontrak habis atau suami menghibahkan sisa waktunya, wanita tidak memiliki iddah.[34]
  • Jika suami menjadi Murtad Milli setelah berhubungan dengan istrinya, istri harus menjalani iddah talak. Selama masa ini, jika suami bertobat, ia dapat kembali kepada istrinya. Setelah iddah berakhir, jika suami belum bertobat, istri terpisah darinya dan suami tidak berhak rujuk.[35] Jika istri menjadi murtad (baik milli maupun fitri), ia harus menjalani iddah talak. Jika dalam masa ini ia kembali kepada Islam, suami dapat rujuk kepadanya.[36]
  • Pernikahan permanen atau sementara dengan wanita yang sedang dalam masa iddah—baik iddah raj'i, ba'in, atau wafat—tidak diperbolehkan.[37] Mengenai hal ini disebutkan tiga kondisi dan tiga hukum:
  1. Jika pria dan wanita keduanya atau salah satu dari mereka mengetahui hukum ini dan tetap menikah, maka dalam kasus ini pernikahan mereka batil dan wanita tersebut menjadi haram selamanya bagi pria itu, baik telah terjadi hubungan seksual maupun tidak.[38]
  2. Jika keduanya tidak mengetahui hukum ini lalu melakukan akad dan hubungan seksual, maka dalam kasus ini juga akad mereka batil dan mereka menjadi haram selamanya satu sama lain.[39]
  3. Jika keduanya tidak mengetahui hukum ini dan melakukan akad, namun tidak melakukan hubungan seksual, maka dalam kasus ini hanya akad yang batil dan setelah berakhirnya iddah mereka dapat menikah kembali.[40]

Masalah Hukum Selama Masa Iddah Talak

Menurut para fakih, jika seorang pria menceraikan istrinya dengan talak raj'i dan salah satu dari mereka meninggal dunia selama masa iddah, maka pihak yang lain akan mewarisinya; karena dalam masa ini istri masih dianggap sebagai istri yang sah.[41] Namun setelah talak ba'in atau berakhirnya iddah talak raj'i, tidak ada hak waris antara suami istri. Meskipun demikian, jika suami menceraikan istri dalam keadaan sakit dan meninggal dunia dalam waktu satu tahun setelah talak, istri berhak mewarisi dengan syarat ia tidak menikah lagi selama masa itu, suami tidak sembuh, dan talak bukan atas permintaan istri.[42] Juga wanita yang ditalak yang masuk Islam selama masa iddah, memiliki hak waris dari mantan suaminya hingga satu tahun.[43]

Dalam fikih Imamiyah, Nafkah istri dalam iddah talak raj'i adalah Wajib dan harus dibayarkan setiap hari, karena wanita tersebut masih dianggap istri yang sah secara syar'i;[44] para fakih menganggap hukum ini mencakup wanita Muslim dan Ahli Kitab.[45] Namun dalam talak ba'in, pria hanya wajib membayar nafkah jika wanita tersebut sedang hamil.[46]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 219; Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 3, hlm. 23.
  2. Bahrani, Al-Hada'iq al-Nadhirah, 1363 HS, jld. 25, hlm. 400.
  3. Imam Khomeini, Tauzhih al-Masa'il (Al-Muhasya), 1424 H, jld. 2, hlm. 518–522.
  4. Tarhini Amili, Al-Zubdah al-Fiqhiyah, 1427 H, jld. 7, hlm. 46–47.
  5. Syekh Thusi, Al-Khilaf, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 5, hlm. 53; Sayid Murtadha, Al-Intishar, 1415 H, hlm. 146.
  6. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1421 H, jld. 2, hlm. 353; Makarem Syirazi, Ahkam-e Khanevadeh, 1389 HS, hlm. 445.
  7. Isfahani, Wasilah al-Najat, 1380 HS, hlm. 887.
  8. Sebagai contoh lihat: Syekh Mufid, Ahkam al-Nisa, 1413 H, hlm. 43; Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 8, hlm. 116; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 9, hlm. 213.
  9. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 312; Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah, 1410 H, jld. 6, hlm. 56.
  10. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 227.
  11. Syekh Mufid, Al-Muqni'ah, 1413 H, hlm. 532; Syahid Awal, Al-Lum'ah al-Dimasyqiyah, 1410 H, hlm. 195; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 230.
  12. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 230.
  13. Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyah, 1410 H, jld. 2, hlm. 156–157.
  14. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 236; Bahrani, Al-Hada'iq al-Nadhirah, 1363 HS, jld. 25, hlm. 419–420.
  15. Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyah, 1410 H, jld. 2, hlm. 156–157.
  16. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 243–244.
  17. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 243–244.
  18. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 249.
  19. Isfahani, Wasilah al-Najat, 1380 HS, hlm. 782–783.
  20. Isfahani, Wasilah al-Najat, 1380 HS, hlm. 782–783.
  21. Ibnu Fahd Hilli, Al-Muhadzdzab al-Bari', 1407 H, jld. 2, hlm. 456; Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1414 H, jld. 4, hlm. 456.
  22. Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1417 H, hlm. 46.
  23. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 29, hlm. 446.
  24. Sebagai contoh lihat: Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 3, hlm. 10; Khoei, Mausu'ah al-Imam al-Khoei, 1418 H, jld. 32, hlm. 358.
  25. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 7, hlm. 350–351.
  26. Muhaqqiq Sabzawari, Kifayah al-Ahkam, 1423 H, jld. 2, hlm. 147.
  27. Sebagai contoh lihat: Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyah, 1420 H, jld. 3, hlm. 472.
  28. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1421 H, jld. 2, hlm. 351.
  29. Allamah Hilli, Qawa'id al-Ahkam, 1419 H, jld. 3, hlm. 132.
  30. Sebagai contoh lihat: Musawi Amili, Nihayah al-Maram, 1413 H, jld. 2, hlm. 141.
  31. Sebagai contoh lihat: Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyah, Jami'ah al-Najaf al-Diniyah, jld. 6, hlm. 66; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 293; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1421 H, jld. 2, hlm. 343.
  32. Sebagai contoh lihat: Syekh Mufid, Al-Muqni'ah, 1413 H, hlm. 537; Sallar Dailami, Al-Marasim, 1404 H, hlm. 165; Ibnu Sa'id, Al-Jami' li al-Syarayi', 1405 H, hlm. 473; Ibnu Barraj, Al-Muhadzdzab, 1406 H, jld. 2, hlm. 338; Ibnu Zuhrah, Ghunyah al-Nuzu, Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), hlm. 384; Muhaqqiq Hilli, Al-Mukhtashar al-Nafi, 1418 H, jld. 1, hlm. 210.
  33. Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 532; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 30, hlm. 196–199.
  34. Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Tafsir, jld. 25, hlm. 101.
  35. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 30, hlm. 49.
  36. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 30, hlm. 49; Musawi Ardebili, Fiqh al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1427 H, jld. 4, hlm. 228.
  37. Gulpaygani, Wasilah al-Najat (Al-Muhasya), 1352 HS, jld. 3, hlm. 188.
  38. Bani Hasyimi Khomeini, Tauzhih al-Masa'il Maraji, 1424 H, jld. 2, hlm. 470.
  39. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 7, hlm. 335; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 268.
  40. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 7, hlm. 335; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 268.
  41. Sebagai contoh lihat: Syekh Thusi, Al-Khilaf, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 4, hlm. 102; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 39, hlm. 196–197.
  42. Isfahani, Wasilah al-Najat, 1380 HS, hlm. 794.
  43. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 156.
  44. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 339.
  45. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 32, hlm. 339.
  46. Fayyadh, Risalah Tauzhih al-Masa'il, 1426 H, hlm. 565; Bahjat, Jami' al-Masa'il, 1426 H, jld. 4, hlm. 108–109.

Daftar Pustaka

  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam fi Ma'rifat al-Halal wa al-Haram. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan pertama, 1419 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyah 'ala Madzhab al-Imamiyah. Tahkik dan koreksi: Ibrahim Bahaderi. Qom: Muassasah Imam Shadiq, cetakan pertama, 1420 H.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad. Al-Hada'iq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Tahkik: Muhammad Taqi Iravani. Qom: Nasyr-e Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom, cetakan pertama, 1363 HS.
  • Bahjat Fumani, Muhammad Taqi. Jami' al-Masa'il. Qom: Daftar-e Ayatullah Bahjat, cetakan kedua, 1426 H.
  • Bani Hasyimi Khomeini, Sayid Muhammad Husain. Tauzhih al-Masa'il Maraji' Mutabiq ba Fatawa-ye Sizdah Nafar az Maraji' Mu'azzam Taqlid. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami vabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom, 1424 H.
  • Fayyadh Kabuli, Muhammad Ishaq. Risalah Tauzhih al-Masa'il. Qom: Majlesi, cetakan pertama, 1426 H.
  • Gulpaygani, Sayid Muhammad Ridha. Wasilah al-Najat (Al-Muhasya). Qom: Nashr-e Niknam, 1352 HS.
  • Ibnu Barraj, Abdul Aziz bin Nahrir. Al-Muhadzdzab. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1406 H.
  • Ibnu Fahd Hilli, Ahmad bin Muhammad. Al-Muhadzdzab al-Bari' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Tahkik: Mujtaba Araki. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1407 H.
  • Ibnu Idris, Muhammad bin Ahmad. Al-Sara'ir al-Hawi li Tahrir al-Fatawi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Ibnu Sa'id, Yahya bin Ahmad. Al-Jami' li al-Syarayi'. Qom: Muassasah Sayyid al-Syuhada (as), 1405 H.
  • Ibnu Zuhrah, Hamzah bin Ali. Ghunyah al-Nuzu' ila Ilmai al-Ushul wa al-Furu'. Qom: Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), tanpa tahun.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom: Dar al-Ilm, 1421 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tauzhih al-Masa'il (Al-Muhasya). Tahkik: Sayid Muhammad Husain Bani Hasyimi Khomeini. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami, cetakan kedelapan, 1424 H.
  • Isfahani, Abu al-Hasan. Wasilah al-Najat (Ma'a Ta'aliq al-Imam al-Khomeini). Qom: Muassasah Tanzim va Nashr-e Atsar-e Imam Khomeini, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Khoei, Sayid Abu al-Qasim. Mausu'ah al-Imam al-Khoei. Qom: Nashr-e Tauhid, 1418 H.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Ahkam-e Khanevadeh. Penyiapan dan Pengaturan: Wahid Alian Nejad. Qom: Intisharat-e Imam Ali (as), cetakan kedua, 1389 HS.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Al-Mukhtashar al-Nafi' fi Fiqh al-Imamiyah. Qom: Mathbu'at-e Dini, 1418 H.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Syarayi' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram. Tahkik: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal. Qom: Ismailiyan, cetakan kedua, 1408 H.
  • Muhaqqiq Karaki, Ali bin Husain. Jami' al-Maqashid fi Syarh al-Qawa'id. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1414 H.
  • Muhaqqiq Sabzawari, Muhammad Baqir. Kifayah al-Ahkam. Tahkik: Murtadha Wa'izhi Araki. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1423 H.
  • Musawi Amili, Muhammad bin Ali. Nihayah al-Maram fi Syarh Mukhtashar Syara'i' al-Islam. Qom: Daftar-e Nasyr-e Eslami, 1413 H.
  • Musawi Ardebili, Sayid Abdul Karim. Fiqh al-Hudud wa al-Ta'zirat. Qom: Muassasah Intisharat-e Daneshgah-e Mofid, cetakan kedua, 1427 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Koreksi: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Sabzawari, Sayid Abdul A'la. Muhadzdzab al-Ahkam. Qom: Dar al-Tafsir, tanpa tahun.
  • Sallar Dailami, Hamzah bin Abdul Aziz. Al-Marasim fi al-Fiqh al-Imami. Tahkik: Mahmud Bustani. Qom: Mansyurat al-Haramain, 1404 H.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Al-Intishar fi Infiradat al-Imamiyah. Koreksi dan Tahkik: Kelompok Riset Daftar Intisharat Eslami. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami vabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom, cetakan pertama, 1415 H.
  • Syahid Awal, Muhammad bin Makki. Al-Lum'ah al-Dimasyqiyah fi Fiqh al-Imamiyah. Tahkik: Muhammad Ali Marvarid. Beirut: Dar al-Turats, 1410 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Al-Raudhah al-Bahiyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyah. Tahkik: Sayid Muhammad Kalantar. Qom: Kitabfurusyi Davari, cetakan pertama, 1410 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam. Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyah, 1413 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Ahkam al-Nisa. Qom: Intisharat-e al-Mu'tamar al-'Alami li Alfiyah al-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom: Intisharat-e Kongres Dunia Milenium Syekh Mufid, 1413 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. Al-Muqni. Qom: Muassasah Imam Hadi (as), 1415 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Khilaf. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi al-Fiqh al-Imamiyah. Tahkik: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran: Al-Maktabah al-Murtadhawiyah li Ihya al-Atsar al-Ja'fariyah, cetakan ketiga, 1387 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Tabrizi, Jawad. Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat. Qom: Tanpa penerbit, 1417 H.
  • Tarhini Amili, Muhammad Hasan. Al-Zubdah al-Fiqhiyah fi Syarh al-Raudhah al-Bahiyah. Tanpa tempat: Dar al-Fiqh li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1427 H.