Lompat ke isi

Konsep:Pintu-Pintu Neraka

Dari wikishia

Pintu-Pintu Neraka (bahasa Arab:أَبْوَابُ جَهَنَّمَ) adalah salah satu konsep Al-Qur'an yang oleh sebagian mufasir ditafsirkan sebagai tingkatan-tingkatan neraka. Berdasarkan Surah Al-Hijr ayat 44, Neraka memiliki 7 pintu. Beberapa peneliti berpendapat bahwa pintu-pintu utama neraka ada 7 dan meyakini adanya pintu-pintu tambahan lainnya. Pengkhususan setiap pintu untuk kelompok tertentu dari penghuni neraka, tertulisnya beberapa nasihat akhlak di atas pintu-pintu tersebut, dan tertutupnya pintu-pintu itu pada bulan Ramadan adalah beberapa karakteristik yang disebutkan dalam riwayat untuk pintu-pintu neraka.

Pintu-Pintu Neraka dalam Al-Qur'an dan Pandangan Filosof serta Mufasir

Dalam berbagai ayat Al-Qur'an, dikabarkan mengenai adanya pintu-pintu bagi neraka.[1] Beberapa mufasir seperti Allamah Thabathaba'i dan Muhammad Shadiqi Tehrani menafsirkan pintu-pintu neraka sebagai tingkatan-tingkatan neraka, di mana para penghuni neraka ditempatkan di salah satu tingkatan tersebut berdasarkan beratnya hukuman dan siksaan, yang mana jenis dan intensitas azab mereka berbeda-beda.[2] Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir as, 7 pintu neraka juga ditafsirkan sebagai tingkatan-tingkatannya.[3] Meskipun demikian, Nashir Makarim Syirazi, penulis Tafsir Nemuneh, berkeyakinan bahwa pintu-pintu neraka sebenarnya adalah dosa-dosa yang menyeret seseorang ke dalam neraka.[4]

Mulla Sadra, pendiri aliran filsafat Hikmah Muta'aliyah, mengemukakan beberapa pandangan mengenai tujuh pintu neraka. Dalam beberapa pandangan, pintu-pintu ini adalah tujuh indra manusia: pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, peraba, khayal, dan pikir. Dari pandangan lain juga dinukil bahwa pintu-pintu neraka adalah sifat-sifat akhlak tercela seperti kemunafikan, kesombongan, dengki, rakus, panjang angan-angan, dan bakhil yang membawa manusia ke neraka.[catatan 1] Mulla Sadra juga menjelaskan bahwa pintu-pintu neraka berjumlah sesuai dengan tujuh anggota tubuh manusia yang dengannya ia melakukan taklif (tugas), sedangkan pintu-pintu surga selain tujuh ini, memiliki satu pintu tambahan bernama "Bab al-Qalb" (Pintu Hati), yang mana pintu ini tertutup bagi penghuni neraka. Oleh karena itu, api neraka tidak sampai ke hati karena pintunya tertutup, tetapi api menembus ke dalam hati dari dalam, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Humazah ayat 7: "yang (membakar) sampai ke hati".[5]

Jumlah dan Nama Pintu Neraka

Berdasarkan Surah Al-Hijr ayat 44, neraka memiliki tujuh pintu.[6] Dalam beberapa riwayat, nama ketujuh pintu ini disebutkan sebagai berikut: Jahim, Lazha, Saqar, Huthamah, Hawiyah, Sa'ir, dan Jahannam; dalam hadis-hadis ini juga dijelaskan perbedaan tingkatan dan karakteristiknya.[7] Namun, menurut kemungkinan yang diajukan oleh Makarim Syirazi, angka tujuh dalam ayat ini bukan untuk menyatakan jumlah pasti pintu neraka, melainkan menunjukkan banyaknya jumlah pintu neraka (katsrah).[8] Sayid Kamal Haidari (lahir 1956 M) juga memberikan kemungkinan bahwa selain pintu-pintu utama, terdapat pintu-pintu tambahan lainnya bagi neraka.[9] Dalam riwayat, beberapa hal diperkenalkan sebagai pintu neraka; sebagai contoh Nabi saw dalam sebuah riwayat menyebut Falaq sebagai salah satu pintu dari pintu-pintu neraka yang jika dibuka, maka neraka akan menyala-nyala.[10][catatan 2]

Dalam hadis, disebutkan karakteristik-karakteristik bagi pintu-pintu neraka, di antaranya adalah pengkhususan setiap pintu untuk kelompok tertentu seperti kafir, musyrik, Bani Umayyah, dan musuh-musuh Ahlulbait as;[11] tertulisnya beberapa nasihat akhlak seperti haram-nya neraka bagi orang-orang yang melakukan ibadah malam dan pemberi sedekah di atas pintu-pintu neraka;[12] tertutupnya pintu-pintu tersebut pada bulan Ramadan dan bagi orang yang berpuasa tujuh hari di bulan Rajab;[13] serta menurut sebuah riwayat dari Nabi saw, kunci-kunci surga dan neraka berada di tangan Imam Ali as.[14]

Monografi

Buku Darha-ye Jahannam ra Bebandid (Tutup Pintu-Pintu Neraka) karya Muhammad Waniqi ditulis dengan topik pintu-pintu neraka.[15] Penerbit Arman-e Roshd menerbitkan karya ini pada tahun 1401 S dalam 264 halaman.[16]

Lihat Juga

Catatan

  1. Teks Arab: و قيل هي الأخلاق الذميمة من الفكر و النفاق و الكبر و الحسد و الحرص و طول الأمل و البخل و غير ذلك مما لا يحصى و لا شبهة في أن منشأ دخول الجحيم هو هذه الصفات (Dikatakan bahwa itu adalah akhlak tercela seperti pikiran [buruk], kemunafikan, kesombongan, dengki, rakuHS, panjang angan-angan, kikir, dan lain-lain yang tak terhitung jumlahnya. Tidak diragukan lagi bahwa asal mula masuknya ke neraka Jahiim adalah sifat-sifat ini).
  2. Teks Arab: بَاب فِي النَّار إِذا فتح سعرت جَهَنَّم (Sebuah pintu di neraka yang apabila dibuka, Jahannam akan menyala).

Catatan Kaki

  1. Surah Al-Nahl, ayat 29; Surah Al-Zumar, ayat 71 dan 72; Surah Al-Ghafir, ayat 76.
  2. Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 12, hlm. 170; Shadiqi Tehrani, al-Furqan, 1365 HS, jld. 16, hlm. 198.
  3. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 376.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 11, hlm. 77.
  5. Shadr al-Din Syirazi, Mafatih al-Ghaib, 1363 HS, hlm. 668-671.
  6. Surah Al-Hijr, ayat 44.
  7. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 376; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 519.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 11, hlm. 77.
  9. Al-Haidari, al-Ma'ad, 1440 H, jld. 6, hlm. 74-75.
  10. Suyuthi, Jalaluddin, al-Dur al-Mantsur, jld. 8, hlm. 688.
  11. Ayyashi, Tafsir Ayyashi, 1380 H, jld. 2, hlm. 243; Syekh Shaduq, al-Khishal, 1363 HS, jld. 2, hlm. 361.
  12. Ibnu Syadzan Qumi, al-Raudhah fi Fadhail Amir al-Mukminin as, 1423 H, hlm. 175-177.
  13. Syekh Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, jld. 2, hlm. 797.
  14. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 326.
  15. Waniqi, Darha-ye Jahannam ra Bebandid, 1401 HS.
  16. Waniqi, Darha-ye Jahannam ra Bebandid, 1401 HS.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Syadzan Qumi, Fadhl. al-Raudhah fi Fadhail Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Qom: Maktabah al-Amin, 1423 H.
  • Al-Haidari, Sayid Kamal. al-Ma'ad. Kadzimain: Muassasah al-Imam al-Jawad as, 1440 H.
  • Suyuthi. al-Dur al-Mantsur. Beirut: Dar al-Fikr, [Tanpa Tahun].
  • Syekh Shaduq. al-Khishal. Qom: Daftar Intisyarat-e Islami, 1363 HS.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Mishbah al-Mutahajjid wa Silah al-Muta'abbid. Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad. al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Qom: Intisyarat-e Farhang-e Islami, 1365 HS.
  • Shadr al-Din Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Mafatih al-Ghaib. Teheran: Anjuman-e Islami-e Hikmat wa Falsafeh Iran, 1363 HS.
  • Thabathaba'i, Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Daftar Intisyarat-e Islami, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Nashir Khusru, 1373 HS.
  • Ayyashi. Tafsir Ayyashi. Teheran: Chapkhaneh-ye Ilmiyeh, 1380 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Waniqi, Muhammad. Darha-ye Jahannam ra Bebandid. Teheran: Arman-e Rusyd, 1401 HS.