Konsep:Nasibah binti al-Harits
- Makalah ini tentang Nasibah binti al-Harits berjuluk Ummu Athiyah. Untuk mengenal Nasibah binti Ka'ab, lihat makalah Ummu 'Umarah.
| Info pribadi | |
|---|---|
| Nama lengkap | Nasibah binti al-Harits |
| Julukan | Ummu Athiyah |
| Tempat Tinggal | Madinah |
| Wafat/Syahadah | Tahun 17 H |
| Informasi Keagamaan | |
| Memeluk Islam | Baiat Aqabah Kedua |
| Keikutsertaan dalam Ghazwah | Perang Uhud, Perang Khaibar dan ... |
| Terkenal sebagai | Berpartisipasi dalam perang dan mengobati korban luka |
| Aktivitas lain | Perawi hadis dalam topik seperti Mandi Jenazah |
Ummu Athiyah al-Ansari (bahasa Arab:اُمعَطیّة الاَنصاری) adalah seorang sahabat wanita Nabi saw dan perawi hadis. Ia berpartisipasi dalam peperangan dan mengobati orang-orang yang terluka. Ummu Athiyah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mengobati Imam Ali as setelah beliau terluka dalam Perang Uhud.
Sumber-sumber Syiah dan Sunni meriwayatkan hadis darinya dalam topik-topik seperti Haid, Mandi Jenazah, Pengiringan Jenazah, dan berkabung untuk orang mati. Salah satu riwayatnya adalah tentang keutamaan Imam Ali as dan doa Nabi saw untuk keselamatannya, yang dinukil dalam sumber-sumber kedua mazhab (Syiah dan Sunni).
Ummu Athiyah bertugas memandikan jenazah di Madinah. Ia memandikan Zainab putri Nabi. Ia mempelajari tata cara memandikan jenazah dari Nabi saw dan mengajarkannya kepada sahabat lainnya. Abdullah Mamaqani, salah satu ahli Rijal Syiah, menganggap status Ummu Athiyah sebagai majhul al-hal (tidak diketahui secara pasti keadaannya), namun kepercayaan Muslim terhadap riwayatnya mengenai mandi jenazah dianggap sebagai bukti ketsiqahan atau setidaknya husn al-hal (keadaan yang baik) dirinya.
Pengenalan
Ummu Athiyah al-Ansari, yang namanya disebut sebagai Nasibah al-Ansariyah[1] atau Nasibah binti al-Harits,[2] adalah salah satu sahabat Nabi saw dan perawi hadis.[3] Beberapa orang menganggapnya sebagai sahabat besar Nabi saw,[4] fadhil (utama),[5] jalil al-qadr (berkedudukan tinggi),[6] dan faqih.[7] Dikatakan bahwa ia lebih sering disebut dengan kuniyah-nya (Ummu Athiyah)[8] dan terkenal dengan panggilan tersebut.[9]
Nasibah berbaiat kepada Nabi Muhammad saw setelah memeluk Islam dan menyertai beliau dalam peperangan.[10] Menurut Hassoun, penulis kitab A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, ia termasuk orang yang berbaiat dalam baiat aqabah kedua dan juga Baiat Ridwan.[11]
Ummu Athiyah berasal dari Basra[12] dan setelah datang ke Madinah, ia tinggal di lingkungan Bani Khalaf.[13] Sebelum memeluk Islam, ia melakukan khitan (sunat) untuk wanita[14] dan setelah itu ia melanjutkannya dengan persetujuan Nabi saw. Nabi saw juga memberikan nasihat kepadanya dalam hal ini.[15] Pekerjaannya ini membuatnya dikenal juga dengan nama Ummu Athiyah al-Ansariyah al-Khafidzah (wanita pengkhitan).[16]
Ibnu Jauzi, penulis kitab Al-Muntazham, meyakini bahwa ia meninggal dunia pada tahun 17 H.[17] Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa ia hidup hingga tahun 70 H.[18]
Perawi Hadis
Ummu Athiyah dianggap sebagai salah satu perawi hadis Nabi Muhammad saw.[19] Selain dari Nabi saw, ia juga meriwayatkan hadis dari Umar bin Khattab.[20] Dikatakan bahwa ia meriwayatkan 40 hadis dari Nabi saw.[21] Riwayat-riwayat ini disebutkan dalam Sihah Sittah.[22] Bukhari dan Muslim meriwayatkan 6 hadis darinya secara bersama-sama (muttafaq 'alaih), dan masing-masing juga meriwayatkan satu hadis unik darinya.[23] Dikatakan bahwa Thabarani menyebutkan hampir 85 hadis darinya.[24]
Muhammad bin Sirin[25] dan saudarinya Hafsah,[26] Anas bin Malik,[27] Abdul Malik bin Umair,[28] Ali bin al-Aqmar,[29] Ismail bin Abdurrahman bin Athiyah[30] dan Ummu Syurahil[31] adalah termasuk orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Ummu Athiyah.[32]
Riwayat-riwayatnya mencakup topik-topik seperti Haid, Mandi Jenazah, Pengiringan Jenazah[33] dan berkabung untuk orang mati.[34] Salah satu riwayatnya yang sering muncul dalam sumber-sumber manaqib dan biografi Syiah[35] serta Sunni[36] adalah riwayat dari Nabi saw yang menyebutkan salah satu keutamaan Imam Ali as dan doa Nabi saw untuk keselamatannya.[catatan 1]
Ketsiqahan
Syeikh Thusi[37] dan para ahli Rijal Syiah lainnya yang mengikutinya[38] menyebut Ummu Athiyah sebagai salah satu sahabat Nabi saw; namun mereka tidak memberikan komentar mengenai ketsiqahan (kepercayaan) terhadapnya. Abdullah Mamaqani, penulis kitab Rijal Tanqih al-Maqal, menganggapnya majhul al-hal (tidak diketahui statusnya); tetapi kepatuhan Muslim kepadanya dalam cara Mandi Jenazah dianggap sebagai bukti ketsiqahan atau setidaknya husn al-hal (keadaan yang baik) dirinya.[39]
Kehadiran dalam Peperangan
Ummu Athiyah berpartisipasi dalam banyak peperangan[40] bersama Nabi Muhammad saw.[41] Ia hadir dalam 7 ghazwah[42] termasuk Perang Khaibar.[43] Dikatakan bahwa ia termasuk di antara dua puluh wanita yang berpartisipasi dalam Perang Khaibar.[44]
Ummu Athiyah bersama sejumlah wanita dengan pakaian khusus[45] berada di belakang kamp pasukan Islam untuk membantu para pejuang[46] serta memberikan layanan seperti memasak, menjaga barang-barang prajurit, merawat orang sakit, dan mengobati orang yang terluka.[47] Oleh karena itu, ia juga disebut sebagai wanita petugas medis (penolong).[48] Dikatakan bahwa ia adalah salah satu wanita yang diberi bagian harta rampasan perang oleh Nabi saw.[49]
Mengobati Luka Imam Ali as
Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa setelah Amirul Mukminin terluka parah dalam Perang Uhud, Nabi saw memerintahkan Ummu Athiyah bersama Ummu Sulaim untuk mengobati Ali as. Setelah putus asa dalam mengobati luka-luka Imam, Ummu Athiyah memberitahu Rasulullah saw tentang bahaya luka-lukanya. Nabi saw kemudian mengusap luka-luka tersebut dan berdoa untuk Imam seraya bersabda: "Seseorang yang menjadi seperti ini di jalan Allah, sungguh telah melalui ujiannya dengan bentuk terbaik dan telah menunaikan tanggung jawabnya." Imam juga memuji Allah karena tidak melarikan diri dan tidak membelakangi musuh.[50] Dikatakan bahwa Imam Ali as sering pergi ke rumah Ummu Athiyah dan melakukan tidur siang (qailulah) di sana.[51]
Memandikan Jenazah
Ummu Athiyah adalah salah satu orang yang memandikan jenazah.[52] Menurut beberapa laporan, atas perintah Nabi Muhammad saw,[53] ia memandikan Zainab putri Nabi.[54] Nabi saw juga mengajarkan tata cara memandikan jenazah kepada Ummu Athiyah dan memberikan pesan-pesan kepadanya. Ibnu Abdil Barr, salah satu ahli hadis Sunni, meyakini bahwa ia menyaksikan pemandian putri Nabi saw dan menukil riwayat-riwayat darinya.[55]
Dalam beberapa sumber, disebutkan juga bahwa ia memandikan Ummu Kulthum putri Nabi.[56] Beberapa sahabat dan Tabi'in[57] penduduk Basra[58] mempelajari cara memandikan jenazah darinya. Hadisnya dalam bab mandi jenazah dianggap sebagai prinsip yang mapan dan pasti.[59]
Kesamaan Nama dengan Ummu Amarah
Kesamaan nama Ummu Athiyah dengan Nasibah binti Ka'ab yang berjuluk Ummu Amarah, salah satu sahabat wanita lainnya, telah menyebabkan perbedaan pendapat di antara penulis biografi. Beberapa peneliti telah menunjukkan perbedaan pendapat ini.[60] Sebagian dari mereka menyatukan informasi mengenai kedua orang ini,[61] sebagaimana disebutkan kutipan dari Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal di mana Ummu Athiyah al-Ansari dianggap sebagai Nasibah binti Ka'ab;[62] namun kelompok lain seperti Ibnu Abdil Barr, penulis kitab Al-Isti'ab, memperkenalkan kedua orang ini secara terpisah.[63] Beberapa menyebut namanya sebagai Nasibah binti Ka'ab meskipun menganggapnya berbeda dari Ummu Amarah.[64][65]
Dikatakan bahwa namanya dibaca Nusaibah dan juga Nasibah;[66] namun kelompok lain meyakini bahwa Ummu Athiyah adalah Nusaibah dan Ummu Amarah adalah Nasibah.[67]
Catatan
- ↑ Dari Abu al-Jarrah, ia berkata: Jabir bin Shabih menceritakan kepadaku, dari Ummu Syurahil, dari Ummu Athiyah: "Bahwa Rasulullah saw mengirim Ali dalam sebuah sariyah (ekspedisi militer), lalu aku melihat beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata: 'Ya Allah, jangan matikan aku sampai Engkau memperlihatkan Ali kepadaku'."
Catatan Kaki
- ↑ Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 733.
- ↑ Azdi, Al-Mu'talif wa al-Mukhtalif, 1428 H, jld. 2, hlm. 692; Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 502.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 202; Khuza'i, Takhrij ad-Dalalat, 1419 H, hlm. 753.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 502; Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 733.
- ↑ Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 202.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala, 1405 H, jld. 2, hlm. 218.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1919.
- ↑ Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 280.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333.
- ↑ Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 733.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 202; Alyari Tabrizi, Bahjat al-Amal, 1412 H, jld. 7, hlm. 568.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 438.
- ↑ Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 367; A'lami Ha'iri, Tarajim A'lam an-Nisa', 1407 H, jld. 1, hlm. 287; Sahmi, Tarikh Jurjan, 1407 H, hlm. 559.
- ↑ Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 4, hlm. 246.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala, 1405 H, jld. 2, hlm. 218.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 437; Husaini, At-Tadzkirah bi Ma'rifat Rijal al-Kutub al-Asyrah, 1418 H, jld. 4, hlm. 2359; Gharawi Na'ini, Muhadditsat Syi'ah, 1375 HS, hlm. 85.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 503.
- ↑ Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah Wanita, Banovan-e 'Alimeh va Atsar-e Anha, 1379 HS, hlm. 22; Gharawi Na'ini, Muhadditsat Syi'ah, 1375 HS, hlm. 86.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 503.
- ↑ Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah Wanita, Banovan-e 'Alimeh va Atsar-e Anha, 1379 HS, hlm. 22; Gharawi Na'ini, Muhadditsat Syi'ah, 1375 HS, hlm. 86.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 53, hlm. 186.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 352.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Husaini, At-Tadzkirah bi Ma'rifat Rijal al-Kutub al-Asyrah, 1418 H, jld. 4, hlm. 2359; Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 203.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, 1325 H, jld. 9, hlm. 112.
- ↑ Ibnu Qani' Baghdadi, Mu'jam as-Sahabah, 1425 H, jld. 14, hlm. 5216.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 8, hlm. 262.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 42, hlm. 337.
- ↑ Abu Nu'aim, Ma'rifat as-Sahabah, 1422 H, jld. 5, hlm. 315; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 437; Gharawi Na'ini, Muhadditsat Syi'ah, 1375 HS, hlm. 85.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 502.
- ↑ Shalihi ad-Dimasyqi, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 1414 H, jld. 12, hlm. 211.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, Qom, jld. 2, hlm. 221; Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 2, hlm. 302; Karajiki, Kanz al-Fawa'id, 1410 H, jld. 1, hlm. 296; Mar'asyi Syusytari, Ihaqaq al-Haq, 1409 H, jld. 7, hlm. 81.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Hanbal, Fadha'il as-Sahabah, 1430 H, jld. 2, hlm. 754; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 42, hlm. 337; Ibnu Maghazili, Manaqib al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1424 H, hlm. 142.
- ↑ Syeikh Thusi, Rijal at-Thusi, 1427 H, hlm. 52.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syusytari, Qamus ar-Rijal, 1410 H, jld. 12, Al-Alqab al-Mansubah, hlm. 211; Khui, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 24, hlm. 205; Tafresyi, Naqd ar-Rijal, 1377 HS, jld. 5, hlm. 307.
- ↑ Mamaqani, Tanqih al-Maqal, Tanpa Tahun, jld. 3, Al-Kuna, hlm. 73.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 502; Abu Nu'aim, Ma'rifat as-Sahabah, 1422 H, jld. 5, hlm. 315.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 5, hlm. 289.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 334.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 2, hlm. 685; Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 321; Yusufi Gharawi, Tarikh-e Tahqiqi-ye Eslam (Mausu'ah at-Tarikh al-Islami), 1383 HS, jld. 4, hlm. 26.
- ↑ Amin, A'yan as-Syi'ah, 1403 H, jld. 3, hlm. 483.
- ↑ Sekumpulan Penulis, Tarikh-e Eslam Doran-e Payambar saw, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 5, hlm. 289.
- ↑ Sekumpulan Penulis, Tarikh-e Eslam Doran-e Payambar saw, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Halabi Syafi'i, As-Sirah al-Halabiyah, 1427 H, jld. 3 hlm. 82; Murtadha Amili, Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A'zham, Qom, jld. 18, hlm. 59; Suhaili, Ar-Raudh al-Unuf, 1412 H, jld. 6, hlm. 585.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, Qom, jld. 2, hlm. 119; Hurr Amili, Itsbat al-Hudah, 1425 H, jld. 1, hlm. 368.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 334; Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 203; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 438.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 502; Abu Nu'aim, Ma'rifat as-Sahabah, 1422 H, jld. 5, hlm. 315.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 5, hlm. 289.
- ↑ Ibnu Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 333; Amin, A'yan as-Syi'ah, 1403 H, jld. 3, hlm. 482; Abu Nu'aim, Hilyat al-Auliya, Kairo, jld. 6, hlm. 340; Mahrizi, Mirats-e Hadits-e Syi'ah, 1380 HS, jld. 16, hlm. 39.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947.
- ↑ Thabari, Tarikh ath-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 124; Namazi Syahroudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 8, hlm. 555; Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 384; Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 3, hlm. 375.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947.
- ↑ Hassoun, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 203.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Khuza'i, Takhrij ad-Dalalat, 1419 H, hlm. 753.
- ↑ Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 280.
- ↑ Ibnu Hibban, Tarikh as-Sahabah, 1410 H, hlm. 254.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1947; Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 503.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1919.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifat as-Shafwah, 1423 H, jld. 2, hlm. 50.
- ↑ Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 4, hlm. 246.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 503.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 503.
Daftar Pustaka
- Abu Nu'aim, Ahmad bin Abdullah, Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya, Kairo, Dar Umm al-Qura, Tanpa Tahun.
- Abu Nu'aim, Ahmad bin Abdullah, Ma'rifat as-Sahabah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baydhun, 1422 H.
- A'lami Ha'iri, Muhammad Husain, Tarajim A'lam an-Nisa', Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1407 H.
- Alyari Tabrizi, Ali bin Abdullah, Bahjat al-Amal fi Syarh Zubdat al-Maqal, Teheran, Bonyad-e Farhang-e Eslami Kushanpur, Cetakan kedua, 1412 H.
- Amin, Muhsin, A'yan as-Syi'ah, Beirut, Dar at-Ta'aruf lil-Mathbu'at, 1403 H.
- Azdi, Abdul Ghani bin Sa'id, Al-Mu'talif wa al-Mukhtalif fi Asma' Naqalat al-Hadits wa Asma' Aba'ihim wa Ajdadihim, Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1428 H.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Siyar A'lam an-Nubala, Beirut, Muassasah ar-Risalah, 1405 H.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam, Tahqiq: Umar Abdus Salam Tadmuri, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan kedua, 1413 H.
- Gharawi Na'ini, Nahla, Muhadditsat Syi'ah, Teheran, Universitas Tarbiat Modares, 1375 HS.
- Halabi Syafi'i, Abul Faraj, As-Sirah al-Halabiyah, Abul Faraj al-Halabi, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1427 H.
- Hassoun, Muhammad, A'lam an-Nisa' al-Mu'minat, Teheran, Uswah, Cetakan kedua, 1421 H.
- Hurr Amili, Itsbat al-Hudah bi an-Nushush wa al-Mu'jizat, Beirut, A'lami, 1425 H.
- Husaini, Muhammad bin Ali, At-Tadzkirah bi Ma'rifat Rijal al-Kutub al-Asyrah, Kairo, Maktabah al-Khanji, 1418 H.
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah, Al-Isti'ab fi Ma'rifat al-Ash-hab, Beirut, Dar al-Jil, 1412 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, Usdul Ghabah fi Ma'rifat as-Sahabah, Beirut, Dar al-Fikr, 1409 H.
- Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali, Al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baydhun, 1415 H.
- Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali, Tahdzib at-Tahdzib, Beirut, Dar Shadir, 1325 H.
- Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad, Fadha'il as-Sahabah, Kairo, Dar Ibn al-Jauzi, Cetakan keempat, 1430 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad, Syarh al-Akhbar fi Fadha'il al-Aimmah al-Athhar as, Qom, Jami'ah Mudarrisin, 1409 H.
- Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban, Tarikh as-Sahabah Alladzina Ruwiya 'anhum al-Akhbar, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baydhun, 1408 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Tahqiq: Muhammad Abdul Qadir Atha dan Musthafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1412 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Shifat as-Shafwah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baydhun, Cetakan ketiga, 1423 H.
- Ibnu Maghazili, Ali bin Muhammad al-Jullabi, Manaqib al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Beirut, Dar al-Adhwa', Cetakan ketiga, 1424 H.
- Ibnu Qani' Baghdadi, Abdul Baqi, Mu'jam as-Sahabah, Beirut, Dar al-Fikr, 1424 H.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad, At-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baydhun, 1410 H.
- Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Al-Manaqib, Qom, Allamah, Tanpa Tahun.
- Karajiki, Muhammad bin Ali, Kanz al-Fawa'id, Qom, Dar adz-Dzakha'ir, 1410 H.
- Khui, Abul Qasim, Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat ar-Ruwat, Tanpa Penerbit, Tanpa Tempat, Cetakan kelima, 1413 H.
- Khuza'i, Ali bin Muhammad, Takhrij ad-Dalalat, Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1419 H.
- Mahrizi, Mahdi, Mirats-e Hadits-e Syi'ah, Qom, Muassasah Ilmi Farhangi Dar al-Hadits, 1380 HS.
- Mamaqani, Abdullah, Tanqih al-Maqal fi Ilm ar-Rijal (Rahli), Tanpa Penerbit, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.
- Maqrizi, Ahmad bin Ali, Imta' al-Asma' bima lin-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata', Tahqiq: Muhammad Abdul Hamid an-Numaisi, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H.
- Mar'asyi Syusytari, Qadhi Nurullah, Ihaqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil, Qom, Maktabah Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1409 H.
- Murtadha Amili, Ja'far, Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A'zham, Qom, Dar al-Hadits, Tanpa Tahun.
- Namazi Syahroudi, Ali, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, Teheran, Putra Penulis, 1414 H.
- Nawawi, Yahya bin Syaraf, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Damaskus, Dar ar-Risalah al-Alamiyah, 1430 H.
- Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah Wanita, Deputi Penelitian, Banovan-e 'Alimeh va Atsar-e Anha, Qom, Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah Wanita, 1379 HS.
- Sahmi, Hamzah bin Yusuf, Tarikh Jurjan, Beirut, Alam al-Kutub, Cetakan keempat, 1407 H.
- Sekumpulan Penulis, Tarikh-e Eslam Doran-e Payambar saw, Teheran, Departemen Pendidikan Akidah Politik Perwakilan Wali Fakih di Sepah, Cetakan keempat, 1380 HS.
- Shalihi ad-Dimasyqi, Muhammad bin Yusuf, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1414 H.
- Suhaili, Abdurrahman, Ar-Raudh al-Unuf, As-Suhaili, Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1412 H.
- Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Rijal at-Thusi, Qom, Muassasah an-Nasyr al-Islami, Cetakan ketiga, 1427 H.
- Syusytari, Muhammad Taqi, Qamus ar-Rijal, Qom, Muassasah an-Nasyr al-Islami, Cetakan kedua, 1410 H.
- Tafresyi, Musthafa bin Husain, Naqd ar-Rijal, Qom, Muassasah Alu al-Bait as li Ihya at-Turats, 1377 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Beirut, Dar at-Turats, Cetakan kedua, 1387 H.
- Waqidi, Muhammad bin Umar, Al-Maghazi, Beirut, A'lami, 1409 H.
- Yusufi Gharawi, Muhammad Hadi, Tarikh-e Tahqiqi-ye Eslam (Mausu'ah at-Tarikh al-Islami), Qom, Muassasah Imam Khomeini, Cetakan keempat, 1383 HS.