Konsep:Imamah Tanṣīṣī
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |
Imamah Tanṣīṣī (Imamah Melalui Nash) adalah sebuah pandangan dalam pemikiran Islam bahwa Imam hanya dapat dikenali melalui nash (teks dari Al-Qur'an atau maksum). Berdasarkan pandangan Imamiyah dan beberapa kelompok Islam lainnya, nash adalah satu-satunya jalan untuk mengenali Imam. Para teolog (mutakallim) Imamiyah bersandar pada karakteristik seperti kema'suman, ilmu khusus Imam, dan sirah Nabi untuk membuktikan eksklusivitas ini. Sebagian juga mengajukan karamah sebagai pengganti atau penguat nash dalam penentuan Imam.
Di samping nash, jalan lain juga diajukan oleh sekte-sekte Islam lainnya untuk menentukan Imam: pilihan/elektif (Ahlusunnah dan Khawarij), warisan (Abbasiyah), dan taghallub (dominasi). Para teolog Imamiyah mengkritik teori-teori ini dengan argumen seperti kemungkinan kekosongan zaman dari Imam, kesalahan dalam pemilihan, dan ketidaksesuaian dengan martabat Imamah.
Mengenai Imamah Tanṣīṣī, beberapa karya telah ditulis, seperti Naẓariyyat al-Naṣṣ ‘alā al-Imāmah fī al-Qur’ān al-Karīm, al-Imāmah wa al-Naṣṣ, dan lain sebagainya.
Pengenalan dan Kedudukan
Imamah Tanṣīṣī adalah sebuah pandangan dalam pemikiran Islam yang menyatakan bahwa Imam hanya dapat dikenali melalui nash (teks dari Al-Qur'an atau Sunnah Nabi). [1] Pandangan ini diterima di kalangan Imamiyah, Ismailiah, dan beberapa kelompok Syiah lainnya. [2] Prinsip kemungkinan penentuan Imam melalui nash disetujui oleh seluruh umat Muslim. [3]
Menurut Syekh Mufid (w. 413 H), perbedaan pendapat mengenai jalan penentuan Imam termasuk dalam pembahasan tertua antara Syiah dan Sunni. [4] Para ulama Imamiyah telah menghimpun nash-nash yang berkaitan dengan Imamah Ali bin Abi Thalib, dan beberapa tokoh termasuk Allamah Thabathaba'i (w. 1360 HS) menganggap keterikatan Imam pada nash dapat disimpulkan dari Al-Qur'an. [5]
Kaum Syiah sejak awal menganggap Imamah sebagai kedudukan Ilahi [6] dan para Imam Syiah memperkenalkan diri mereka sebagai sosok yang ditunjuk oleh Nabi (saw). [7] Beberapa peneliti menganggap teori Imamah Tanṣīṣī berkaitan dengan periode awal Syiah. [8] Meskipun sebagian pihak menganggap keyakinan ini muncul belakangan, namun para teolog Imamiyah seperti Syekh Mufid [9] dan Sayyid Murtadha [10] telah mengkritik pandangan tersebut. [11]
Eksklusivitas Jalan Mengenal Imam Melalui Nash dari Sudut Pandang Imamiyah
Para teolog Imamiyah bersandar pada karakteristik Imam untuk membuktikan eksklusivitas nash, [12] seperti: Templat:Kotak kutipan
- Kema'suman Imam: Kema'suman adalah karakteristik internal yang tidak dapat diidentifikasi melalui observasi atau diagnosis secara urf; oleh karena itu, pengenalan Imam hanya mungkin dilakukan melalui nash. [13]
- Ilmu Imam: Imam harus memiliki ilmu laduni dan ilmu khusus mengenai hukum-hukum, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi darinya. Diagnosis ilmu semacam ini tidak mungkin dilakukan kecuali melalui jalan nash. [14]
- Keunggulan (Afdhaliyyah) Imam: Imam harus menjadi manusia yang paling unggul (afdal) dan karakteristik semacam ini tidak dapat disingkap secara normal; oleh karena itu, Imamah harus dibuktikan melalui nash atau tanda-tanda luar biasa. [15]
- Imam Sebagai Bentuk Luthf: Jika Allah tidak menetapkan Imam melalui nash, maka masyarakat tidak akan mampu mengenalinya, dan hal ini bertentangan dengan keniscayaan kemurahan (luthf) Ilahi. [16]
Juga disandarkan pada sunnah Nabi (saw) dalam penentuan pengganti selama masa ketidakhadiran singkat sebagai landasan bagi peran nash dalam penentuan Imam. [17]
Karamah Sebagai Pengganti atau Penguat Nash
Para teolog Syiah memiliki pandangan berbeda mengenai peran karamah dalam penentuan Imam; mayoritas teolog, termasuk Syekh Thusi, menganggap nash sebagai jalan utama penentuan Imam, di mana kemunculan karamah dapat menjadi penguatnya. [18] Sebagian mengajukan karamah sebagai jalan independen untuk membuktikan Imamah dan pengganti bagi nash, [19] seperti Muhaqqiq Hilli yang menggunakannya sebagai sandaran untuk Imamah Imam Ali (as). [20]
Jalan-Jalan Lain Penentuan Imam
Sebagai lawan dari teori nash, jalan-jalan lain untuk penentuan Imam juga dikemukakan dalam sumber-sumber Islam: [21] Pilihan (elektif) di kalangan mayoritas Ahlusunnah, Khawarij, dan sekte Shalihiyah dari Zaidiyah, [22] teori warisan oleh Abbasiyah [23] dan teori taghallub (dominasi) yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengajak masyarakat kepada dirinya dan memberontak terhadap para penindas, maka ia dianggap sebagai Imam yang sah [24] meskipun ia adalah seorang orang fasik. [25]
Para teolog Imamiyah menolak teori-teori ini dengan argumen-argumen seperti kemungkinan kekosongan zaman dari Imam, [26] ketidaksesuaian pilihan rakyat dengan konsep kekhalifahan [27] dan martabat Imamah, [28] munculnya kekacauan, [29] kemungkinan kenabian elektif, [30] kemungkinan kesalahan dalam pemilihan [31] dan analogi (qiyas) Imam terhadap hakim. [32] [33]
Menurut Abdurrahim Hosayni Musawi (w. 1433 H) dalam kitab al-Imāmah wa al-Naṣṣ, Ahlusunnah menganggap Imamah dan kekhalifahan sebagai jabatan politik untuk mengelola masyarakat, oleh karena itu mereka tidak menganggap penentuan Imam melalui nash sebagai suatu keniscayaan. Sementara kaum Syiah menganggap Imamah sebagai jabatan Ilahi yang serupa dengan Kenabian dan memiliki karakteristik khusus, serta menganggap nash sebagai jalan untuk mengenali Imam. [34]

Monografi
Para ulama Imamiyah telah menulis karya-karya mengenai teori Imamah Tanṣīṣī, di antaranya:
- Naẓariyyat al-Naṣṣ ‘alā al-Imāmah fī al-Qur’ān al-Karīm, karya Mohsen Araki (lahir 1334 HS) yang membuktikan teori Imamah Tanṣīṣī dengan bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an. [35]
- al-Imāmah wa al-Naṣṣ, ditulis oleh Abdurrahim Hosayni Musawi (w. 1433 H) yang menjelaskan teori nash dan mengkritik jalan-jalan penentuan Imam lainnya, termasuk ikhtiyar dan elektif. [36]
- al-Imāmah baina Naẓariyyat al-Naṣṣ wa Isykāliyāt al-Intikhāb, karya Abdus Sattar Qasim Sa'idi dalam dua jilid yang mengkaji secara komparatif antara teori Imamah Tanṣīṣī dan Imamah Pilihan. [37]
- Khilāfat al-Rasūl baina al-Syūrā wa al-Naṣṣ, ditulis oleh Sa'ib Abdul Hamid, seorang mustabsir Irak, yang di dalamnya teori syura dan elektif dalam penentuan Imam serta hubungannya dengan ajaran-ajaran Islam dikaji, serta teori nash dilaporkan dan dianalisis. [38]
Catatan Kaki
- ↑ Syekh Mufid, Mas’alatān fī al-Naṣṣ ‘alā ‘Alī (as), 1414 H, jld. 2, hlm. 3.
- ↑ Hosseini Khatib, Muqaddimah al-Syāfī fī al-Imāmah (Sayyid Murtadha), 1407 H, jld. 1, hlm. 7; Subhani Tabrizi, Khodā wa Imāmat, 1362 HS, hlm. 22; Ibnu Maitsam, al-Najāh fī al-Qiyāmah, 1417 H, hlm. 69; Abu Ya’qub Sijistani, al-Iftikhār, 2000 M, hlm. 168–169; Kirmani, al-Maṣābīḥ fī Itsbāt al-Imāmah, 1429 H, hlm. 111; Nashiri, "Imāmat az Dīdgāh-e Ismā’īliyyah", hlm. 219.
- ↑ Adhududdin Iji, Syarḥ al-Mawāqif, Penerbit al-Syarif al-Radhi, jld. 8, hlm. 351; Fakhr Razi, al-Arba’īn, Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, jld. 2, hlm. 268; Lahiji, Gowhar-e Murād, 1383 HS, hlm. 480.
- ↑ Syekh Mufid, Mas’alatān fī al-Naṣṣ ‘alā ‘Alī (as), 1414 H, jld. 2, hlm. 3.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mīzān, 1373 HS, jld. 1, hlm. 268-276; Iraqi, Naẓariyyat al-Naṣṣ ‘alā al-Imāmah fī al-Qur’ān al-Karīm, 1428 H, hlm. 59.
- ↑ Amirkhani, "Nash", hlm. 333.
- ↑ Shahifah Sajjadiyyah, doa ke-47 dan doa ke-48; Tsaqafi Kufi, al-Ghārāt, 1356 HS, hlm. 195–202; Hakim Naisaburi, al-Mustadrak, 1406 H, jld. 3, hlm. 172.
- ↑ Amirkhani, "Nash", hlm. 335.
- ↑ Syekh Mufid, al-Fuṣūl al-Mukhtārah, 1413 H, hlm. 289.
- ↑ Sayyid Murtadha, al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 2, hlm. 108.
- ↑ Amirkhani, "Nash", hlm. 335.
- ↑ Amirkhani, "Nash", hlm. 337.
- ↑ Sayyid Murtadha, al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 2, hlm. 5; Syekh Thusi, al-Iqtiṣād, 1406 H, hlm. 313; Khwaja Nasir Thusi, Tajrīd al-I’tiqād, 1407 H, hlm. 223; Allamah Hilli, Kasyf al-Murād, 1382 HS, hlm. 188; Lahiji, Gowhar-e Murād, 1383 HS, hlm. 480; Ibnu Maitsam Bahrani, Qawā’id al-Marām, 1406 H, hlm. 181.
- ↑ Sayyid Murtadha, al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 2, hlm. 7–8.
- ↑ Syekh Thusi, Talkhīṣ al-Syāfī, 1382 HS, jld. 1, hlm. 278; Allamah Hilli, al-Alfain, 1409 H, hlm. 41; Lahiji, Gowhar-e Murād, 1383 HS, hlm. 480; Amirkhani, "Nash", hlm. 338.
- ↑ Lahiji, Sarmāyeh-ye Īmān, 1372 HS, hlm. 116–117; Amirkhani, "Nash", hlm. 340.
- ↑ Khwaja Nasir Thusi, Tajrīd al-I’tiqād, 1407 H, hlm. 223; Fazhel Miqdad, al-Lawāmi’, 1380 HS, hlm. 334.
- ↑ Syekh Thusi, al-Iqtiṣād, 1406 H, hlm. 313.
- ↑ Sayyid Murtadha, al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 2, hlm. 5; Syekh Thusi, Talkhīṣ al-Syāfī, 1382 HS, jld. 1, hlm. 276.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, al-Maslak fī Uṣūl al-Dīn, 1373 HS, hlm. 241.
- ↑ Ibnu Maitsam, al-Najāh fī al-Qiyāmah, 1417 H, hlm. 69.
- ↑ Adhududdin Iji, Syarḥ al-Mawāqif, Penerbit al-Syarif al-Radhi, jld. 8, hlm. 351; Allamah Hilli, Kasyf al-Murād, 1382 HS, hlm. 187-188; Hosseini Khatib, Muqaddimah al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 1, hlm. 6.
- ↑ Allamah Hilli, Kasyf al-Murād, 1382 HS, hlm. 187-188.
- ↑ Ibnu Maitsam, al-Najāh fī al-Qiyāmah, 1417 H, hlm. 69.
- ↑ Hosseini Khatib, Muqaddimah al-Syāfī fī al-Imāmah, 1407 H, jld. 1, hlm. 6.
- ↑ Ibnu Maitsam Bahrani, al-Najāh fī al-Qiyāmah, 1417 H, hlm. 71.
- ↑ Lahiji, Gowhar-e Murād, 1383 HS, hlm. 482; Thabarsi, Asrār al-Imāmah, 1380 HS, hlm. 142; Naraghi, Anīs al-Muwaḥḥidīn, 1369 HS, hlm. 146–147.
- ↑ Naraghi, Anīs al-Muwaḥḥidīn, 1369 HS, hlm. 145.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, al-Maslak fī Uṣūl al-Dīn, 1373 HS, hlm. 211–212; Allamah Hilli, al-Alfain, 1409 H, hlm. 38; Lahiji, Gowhar-e Murād, 1383 HS, hlm. 481.
- ↑ Thabari Amoli, Mu’taqad al-Imāmiyyah, 1339 HS, hlm. 104; Thabarsi, Asrār al-Imāmah, 1380 HS, hlm. 140.
- ↑ Allamah Hilli, al-Alfain, 1409 H, hlm. 36–51; Thabari Amoli, Mu’taqad al-Imāmiyyah, 1339 HS, hlm. 103–104; Thabarsi, Asrār al-Imāmah, 1380 HS, hlm. 140–143.
- ↑ Allamah Hilli, al-Alfain, 1409 H, hlm. 36–37; Thabarsi, Asrār al-Imāmah, 1380 HS, hlm. 140.
- ↑ Amirkhani, "Nash", hlm. 340–342.
- ↑ Hosayni Musawi, al-Imāmah wa al-Naṣṣ, 1426 H, hlm. 15-18.
- ↑ Araqi, Naẓariyyat al-Naṣṣ ‘alā al-Imāmah fī al-Qur’ān al-Karīm, 1428 H, hlm. 18-19.
- ↑ Hosayni Musawi, al-Imāmah wa al-Naṣṣ, 1426 H, hlm. 106-107.
- ↑ Sa'idi, al-Imāmah baina Naẓariyyat al-Naṣṣ wa Isykāliyāt al-Intikhāb, 1429 H, jld. 1, hlm. 5-7.
- ↑ Abdul Hamid, Khilāfat al-Rasūl baina al-Syūrā wa al-Naṣṣ, 1417 H, hlm. 10-11.
Daftar Pustaka
- Abdul Hamid, Sa'ib. Khilāfat al-Rasūl baina al-Syūrā wa al-Naṣṣ. Qom, Markaz al-Risālah, 1417 H.
- Abu Ya’qub Sijistani, Ishaq bin Ahmad. al-Iftikhār. Beirut, Dār al-Gharb al-Islāmī, 2000 M.
- Adhududdin Iji, Abdurrahman bin Ahmad. Syarḥ al-Mawāqif. Qom, Penerbit al-Syarif al-Radhi, tanpa tahun.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. al-Alfain fī Imāmah Mawlānā Amīr al-Mu’minīn ‘Alī bin Abī Ṭālib ‘alaihissalām. Qom, Dār al-Hijrah, 1409 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murād fī Syarḥ Tajrīd al-I’tiqād. Qom, Muasasah al-Imam al-Shadiq alaihissalam, 1382 HS.
- Amirkhani, Ali. "Nash", kitab (kumpulan makalah) Ma’ārif-e Kalāmī-ye Syī’eh; Kolliyyāt-e Imāmat. Qom, Penerbit Universitas Agama dan Mazhab; Teheran, Organisasi Studi dan Penyusunan Buku Ilmu Humaniora Universitas (Samt), 1393 HS.
- Araqi (Araki), Mohsen. Naẓariyyat al-Naṣṣ ‘alā al-Imāmah fī al-Qur’ān al-Karīm. Qom, al-Majma’ al-‘Ālamī li Ahl al-Bait (as), 1428 H.
- Askari, Sayyid Murtadha. Ma’ālim al-Madrasatain. Teheran, Markaz al-Ṭibā’ah wa al-Nasyr lil Majma’ al-‘Ālamī li Ahl al-Bait (as), 1426 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. al-Arba’īn fī Uṣūl al-Dīn. Kairo, Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, tanpa tahun.
- Fazhel Miqdad, Miqdad bin Abdullah. al-Lawāmi’ al-Ilāhiyyah fī al-Mabāḥits al-Kalāmiyyah. Qom, Penerbit Kantor Dakwah Islam Hauzah Ilmiah Qom, 1380 HS.
- Hakim Naisaburi, Muhammad bin Abdullah. al-Mustadrak ‘alā al-Ṣaḥīḥain. Beirut, Dār al-Ma’rifah, 1406 H.
- Hosayni Khatib, Abdul Zahra. al-Syāfī fī al-Imāmah (Sayyid Murtadha), Muqaddimah al-Taḥqīq. Teheran, Muasasah al-Shadiq, 1407 H.
- Hosayni Musawi, Abdurrahim. al-Imāmah wa al-Naṣṣ. Qom, Majelis Agung Ahlulbait (as), 1426 H.
- Ibnu Maitsam Bahrani, Maitsam bin Ali. al-Najāh fī al-Qiyāmah fī Taḥqīq Amr al-Imāmah. Qom, Majma’ al-Fikr al-Islami, 1417 H.
- Ibnu Maitsam Bahrani, Maitsam bin Ali. Qawā’id al-Marām fī ‘Ilm al-Kalām. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi al-Najafi, 1406 H.
- Khwaja Nasir Thusi, Muhammad bin Muhammad. Tajrīd al-I’tiqād. Teheran, Maktab al-I’lām al-Islāmī, 1407 H.
- Kirmani, Ahmad bin Abdullah. al-Maṣābīḥ fī Itsbāt al-Imāmah. Beirut, Muasasah al-Nur lil Mathbu'at, 1429 H.
- Lahiji, Abdurrazzaq. Gowhar-e Murād. Teheran, Penerbit Sayeh, 1383 HS.
- Lahiji, Abdurrazzaq. Sarmāyeh-ye Īmān. Teheran, al-Zahra, 1372 HS.
- Mas’udi, Ali bin Husain. Murūj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jawhar. Beirut, Muasasah al-A’lami lil Mathbu'at, 1411 H.
- Muhaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. al-Maslak fī Uṣūl al-Dīn. Masyhad, Astana al-Radhawiyyah al-Muqaddasah, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1373 HS.
- Nashiri, Muhammad. "Imāmat az Dīdgāh-e Ismā’īliyyah", kitab (kumpulan makalah) Ma’ārif-e Kalāmī-ye Syī’eh; Kolliyyāt-e Imāmat. Qom, Penerbit Universitas Agama dan Mazhab; Teheran, Organisasi Studi dan Penyusunan Buku Ilmu Humaniora Universitas (Samt), 1393 HS.
- Sa'idi, Abdus Sattar Qasim. al-Imāmah baina Naẓariyyat al-Naṣṣ wa Isykāliyāt al-Intikhāb. Qom, Dalil-e Ma, 1429 H.
- Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. al-Syāfī fī al-Imāmah. Teheran, Muasasah al-Shadiq, 1407 H.
- Subhani Tabrizi, Jafar. Khodā wa Imāmat. Qom, Penerbit Kantor Dakwah Islam Hauzah Ilmiah Qom, 1362 HS.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Fuṣūl al-Mukhtārah min al-‘Uyūn wa al-Maḥāsin. Koreksi: Ali Mirsharifi. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Mas’alatān fī al-Naṣṣ ‘alā ‘Alī (as). Beirut, Dār al-Mufīd, 1414 H.
- Syekh Saduq, Muhammad bin Ali. Ma’ānī al-Akhbār. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin, 1403 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Iqtiṣād fī mā Yata’allaqu bi al-I’tiqād. Beirut, Dār al-Aḍwā’, 1406 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Talkhīṣ al-Syāfī. Qom, Muhibbin, 1382 HS.
- Thabari Amoli, Hasan bin Ali bin Muhammad. Mu’taqad al-Imāmiyyah. Teheran, Universitas Teheran, 1339 HS.
- Thabarsi, Hasan bin Ali. Asrār al-Imāmah. Masyhad, Astana al-Radhawiyyah al-Muqaddasah, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1380 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Mohammad Husain. al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān. Qom, Isma'iliyyan, 1373 HS.
- Tsaqafi Kufi, Ibrahim bin Muhammad. al-Ghārāt. Teheran, Anjoman-e Atsar-e Milli, 1356 HS.