Lompat ke isi

Konsep:Ayat 151 Surah Al-An'am

Dari wikishia
Ayat 151 Surah Al-An'am
Informasi Ayat
SurahAl-An'am
Ayat151
Juz8
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekah
TentangHal-hal yang Diharamkan (Muharramat)
DeskripsiMenyebutkan lima Dosa Besar
Ayat-ayat terkaitAyat 152 Surah Al-An'am, Ayat 153 Surah Al-An'am


Ayat 151 Surah Al-An'am melarang audiens dari lima dosa besar: Syirik, tidak berbuat baik kepada orang tua, membunuh anak-anak, mendekati perbuatan keji, dan membunuh orang tak bersalah. Ayat ini dan dua ayat berikutnya menjelaskan prinsip-prinsip muharramat (hal-hal yang diharamkan) dalam sepuluh bagian yang dikenal sebagai instruksi dasar syariat Islam, di mana rincian dan hukum-hukum cabangnya digali dari sini. Dikatakan bahwa hukum-hukum ini selaras dengan fitrah manusia dan membantu ketertiban sosial serta nilai-nilai kemanusiaan.

Alasan pelarangan syirik adalah kesesatan manusia, hilangnya ketenangan, dan jauh dari kebenaran. Berbuat baik kepada orang tua ditekankan karena peran kunci mereka dalam kehidupan manusia dan kaitannya dengan ketaatan kepada Allah. Selain itu, membunuh anak-anak karena takut miskin sangat dicela dan Allah diperkenalkan sebagai penjamin rezeki mereka. Selanjutnya, dosa-dosa lahir dan batin seperti Zina dan hubungan tidak sah yang tersembunyi dilarang, dan larangan membunuh orang tak bersalah juga ditekankan, kecuali dalam kasus-kasus tertentu seperti Qishash yang dibolehkan oleh syariat. Di akhir, dengan menekankan penggunaan akal, manusia diajak untuk memahami manfaat hukum-hukum ini dan konsekuensi meninggalkannya.

Ayat-ayat ini dianggap sebagai jawaban tegas terhadap hukum-hukum buatan orang-orang musyrik. Prinsip-prinsip yang dikemukakan di dalamnya dianggap sebagai kesamaan di antara semua agama samawi. Beberapa Mufasir merujuk pada Sepuluh Perintah Yahudi yang sangat mirip dengan instruksi ini, dan menganggap ayat-ayat ini lebih unggul dalam hal kedalaman dan kelengkapannya. Instruksi ini sebagai prinsip moral dan sosial memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam, termasuk masuk Islamnya penduduk Madinah.

Kedudukan dan Pentingnya

Ayat 151 Surah Al-An'am merujuk pada lima dosa besar[1] yaitu menyekutukan Allah, tidak berbuat baik kepada orang tua, membunuh anak-anak, dosa-dosa keji, dan membunuh orang tak bersalah.[2] Dalam Ayat ini dan dua ayat berikutnya,[3] Nabi Muhammad saw diminta untuk berbicara kepada orang-orang musyrik,[4] menjelaskan prinsip-prinsip muharramat[5] dan menyebutkan dosa-dosa besar dalam sepuluh bagian.[6]

Al-Qur'an dalam ayat 148 hingga 150 Surah Al-An'am, menolak hukum-hukum buatan orang-orang musyrik[7][8] dan dalam ayat 151, memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya rujukan sejati dalam menentukan muharramat[9] dan dalam dua ayat berikutnya merujuk pada lima hal lain yang diharamkan.[10]

Dalam ayat 151 dan dua ayat setelahnya, kalimat «ذلِکمْ وَصَّاکمْ بِهِ» (demikianlah Dia memerintahkan kepadamu) dianggap sebagai penekanan pada pentingnya pelaksanaan hukum-hukum Ilahi.[11] Ayat-ayat ini diakhiri dengan frasa «لَعَلَّکمْ تَعْقِلُونَ» (agar kamu mengerti), «لَعَلَّکمْ تَذَکرُونَ» (agar kamu ingat), dan «لَعَلَّکمْ تَتَّقُونَ» (agar kamu bertakwa) yang merujuk pada tiga tahap: ta'aqqul (berpikir), tadzakkur (mengingat), dan takwa. Tahapan-tahapan ini penting dalam semua hukum dan distribusi penekanan ini dianggap menunjukkan kefasihan dan balaghah Al-Qur'an.[12]

Katakanlah: "Marilah, supaya aku bacakan apa yang telah diharamkan oleh Tuhan kamu kepada kamu, iaitu janganlah kamu sekutukan dengan Allah sesuatupun; dan hendaklah (kamu) membuat baik kepada ibu bapa; dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana kepapaan, (sebenarnya) Kamilah yang memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu hampiri kejahatan-kejahatan (zina) - yang terang daripadanya dan yang tersembunyi; dan janganlah kamu membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh Syarak). Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu memahaminya."


Tidak Terbatas pada Syariat Tertentu

Para mufasir menganggap ayat-ayat ini sebagai ayat muhkam Al-Qur'an[13] yang menekankan pentingnya menjauhi hal-hal yang diharamkan.[14] Dikatakan bahwa hukum-hukum yang disajikan dalam ayat-ayat ini selaras dengan fitrah manusia[15] dan memainkan peran mendasar dalam pengelolaan masyarakat.[16] Muhammad Shadiqi Tehrani, penulis kitab tafsir Al-Furqan berpendapat bahwa sepuluh hukum utama ini sebagai prinsip dasar dan contoh komprehensif dari risalah Nabi Muhammad saw, berkuasa atas semua hukum syariat dan rincian serta hukum cabang digali darinya.[17] Muhammad Jawad Mughniyah, penulis kitab tafsir Al-Kasyif, melaporkan penamaan ayat-ayat ini sebagai "Sepuluh Perintah" oleh beberapa Mufasir.[18]

Menurut para Mufasir, prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam ayat 151 Al-An'am dan dua ayat berikutnya adalah kesamaan penting di antara agama-agama samawi.[19] Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa Al-Qur'an juga menyebutkan hukum-hukum ini dalam agama nabi-nabi lain[20] sebagaimana Ayat 13 Surah Asy-Syura menyatakan bahwa wasiat yang diberikan kepada umat Islam adalah wasiat yang sama dengan para nabi sebelumnya.[21] Oleh karena itu, dikatakan bahwa prinsip-prinsip ini dikenal sebagai dasar persatuan antar risalah dan penganut berbagai agama akan merasakan kesamaan tujuan dan hubungan hidup dengan bersandar padanya.[22]

Dalam kitab Taurat (Keluaran, pasal 20) disebutkan sepuluh perintah yang serupa.[23] Perintah-perintah ini dikenal di kalangan Yahudi sebagai wasiat[24] dan memiliki popularitas.[25]

Pengaruh Ayat dalam Masuk Islamnya Penduduk Madinah

Dalam laporan sejarah disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw membacakan ayat ini dan dua ayat berikutnya untuk mengajak berbagai kabilah memeluk Islam.[26] Termasuk kepada sejumlah penduduk Madinah, tindakan ini menjadi landasan bagi mereka memeluk Islam, terbentuknya Perjanjian Aqabah, dan akhirnya masuk Islamnya penduduk Madinah.[27]

Perintah Bertauhid dan Meninggalkan Syirik

Di awal ayat, manusia diperintahkan untuk menjauhi syirik kepada Allah.[28] Para mufasir mengatakan bahwa Allah menyebutkan hukum syirik sebelum dosa-dosa lain dalam ayat ini karena syirik adalah dasar,[29] kepala dari semua Dosa,[30] dan dosa besar terbesar.[31] Syirik adalah sumber kerusakan sosial dan muharramat Ilahi,[32] dan dianggap sebagai kezaliman besar yang dengan melakukannya, tidak ada harapan ampunan Ilahi yang tersisa.[33] Dan akhirnya dosa-dosa berujung padanya.[34] Juga dikatakan bahwa didahulukannya penyebutan hukum syirik merupakan tanda pentingnya tauhid sebagai jiwa dari seluruh ajaran Islam[35] dan dasar hak serta kewajiban, di mana semua ketaatan diterima dengannya.[36]

Berbuat Baik kepada Ayah dan Ibu

Perintah kedua dalam ayat ini adalah berbuat baik (ihsan) kepada orang tua.[37] Berbuat baik kepada ayah dan ibu dimaknai sebagai menghormati, menjaga, merawat, menaati mereka, dan menghilangkan segala kesulitan dari mereka.[38] Perintah ini datang segera setelah perintah Tauhid[39] dan sebelum perintah-perintah penting lainnya,[40] yang dianggap menunjukkan betapa luar biasanya pentingnya hak ayah dan ibu dalam ajaran agama.[41] Oleh karena itu, uququl walidain dianggap sebagai salah satu Dosa terbesar setelah Syirik[42] dan memiliki konsekuensi yang berat.[43]

Dikatakan bahwa dalam ayat ini, alih-alih melarang menyakiti orang tua, ditekankan untuk berbuat baik kepada mereka untuk menunjukkan bahwa sekadar menghindari perlakuan buruk tidaklah cukup[44] dan melakukan kebaikan secara langsung dan tanpa perantara kepada mereka juga penting dan wajib.[45] Beberapa Mufasir juga dengan merujuk pada beberapa riwayat tafsir, memperkenalkan Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as sebagai salah satu contoh (mashadiq) ayat tersebut.[46]


Larangan Membunuh Anak karena Kemiskinan

Dalam perintah ketiga ayat 151 Surah Al-An'am, manusia dilarang membunuh anak-anak karena takut miskin dan Allah diperkenalkan sebagai penjamin rezeki mereka dan anak-anak.[47] Dikatakan bagian ayat ini merupakan reaksi terhadap perilaku orang-orang musyrik di masa jahiliyah[48] yang karena fanatisme dan takut akan biaya hidup serta kelaparan,[49] membunuh anak perempuan[50] dan bahkan anak laki-laki mereka.[51] Mereka membayangkan bahwa dengan membunuh anak-anak, mereka dapat mencegah melihat kelaparan dan kehinaan anak-anak tersebut.[52] Para mufasir dengan merujuk pada ayat ini, menganggap Aborsi[53] dan beberapa bahkan pencegahan pembentukan nuthfah manusia melalui berbagai metode sebagai contoh larangan dalam ayat ini.[54]

Menjauhi Perbuatan Keji

Allah dalam perintah keempat-Nya di ayat 151 Surah Al-An'am, melarang manusia mendekati dosa-dosa keji (fawahisy).[55] Menurut Makarem Syirazi, ungkapan tidak mendekati dosa biasanya digunakan untuk dosa-dosa yang menggoda, dan tujuan dari peringatan ini dianggap untuk mencegah individu berada dalam godaan kuat dari jenis dosa ini.[56] Menurut penulis Al-Furqan, menjauhi dosa-dosa besar berarti menghindari pendahuluannya; karena mendekati pendahuluan akan menyeret manusia ke dosa utama.[57]

Perbuatan seperti zina, Liwat (homoseksual), dan menuduh zina kepada pria dan wanita yang menjaga kehormatan dianggap sebagai contoh "fahisyah".[58] Dikatakan bahwa zhahir ayat secara umum menunjukkan larangan dari segala jenis dosa dan tidak ada dalil pasti untuk membatasinya pada beberapa dosa tertentu.[59] Dan penyebutan contoh dalam riwayat hanya disajikan sebagai contoh yang jelas.[60]

Dosa Lahir dan Batin

Ayat 151 Al-An'am dalam satu frasa menekankan untuk meninggalkan dosa-dosa lahir dan batin.[61] Menjauhi dosa lahir dimaknai sebagai dosa yang nyata dan terang-terangan, dan dosa batin merujuk pada dosa-dosa yang tersembunyi.[62] Beberapa mufasir dengan bersandar pada riwayat dari Imam Baqir as, menganggap dosa nyata sebagai Zina dan dosa tersembunyi mencakup hubungan rahasia dan tidak sah.[63] Dikatakan bahwa pada masa jahiliyah, zina tersembunyi tidak dianggap dosa dan hanya zina terang-terangan yang dilarang; namun Allah melarang kedua jenis dosa tersebut.[64]

Beberapa orang dengan pandangan berbeda meyakini bahwa dosa lahir merujuk pada perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh, sedangkan dosa batin berkaitan dengan niat dan keputusan yang terbentuk di hati untuk menentang perintah Ilahi.[65]

Catatan Kaki

  1. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 30.
  2. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 372; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 8, hlm. 86.
  3. Thayyib, Atyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 5, hlm. 241; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, 1419 H, jld. 3, hlm. 323.
  4. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590.
  5. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 179; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33.
  6. Husaini Syah Abdul Azhim, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 3, hlm. 402; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33.
  7. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33.
  8. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 282; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 8, hlm. 61.
  9. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 4, hlm. 314; Ja'fari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 3, hlm. 582.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 372; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 8, hlm. 86.
  11. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 522; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 4, hlm. 297-298.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 32.
  13. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 221; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 522; Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 378.
  14. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 4, hlm. 297.
  15. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 366-368.
  16. Qurasyi, Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 3, hlm. 340.
  17. Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 10, hlm. 328.
  18. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 282, menukil dari orang lain.
  19. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 372; Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 131-132.
  20. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 372.
  21. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 372.
  22. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 366-368.
  23. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 581.
  24. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 378.
  25. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 131-132.
  26. Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 425.
  27. Thabrisi, I'lam al-Wara, 1390 H, hlm. 55-61; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 582.
  28. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590.
  29. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. [halaman hilang]
  30. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 368-369.
  31. Tsaqafi Tehrani, Ravan-e Javid, 1398 H, jld. 2, hlm. 397; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 4, hlm. 297.
  32. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 32-33.
  33. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 373.
  34. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 373.
  35. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 32-33.
  36. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 373; Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 282.
  37. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 29.
  38. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 131-132.
  39. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 374; Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590.
  40. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33.
  41. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 374.
  42. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 374.
  43. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 369.
  44. Baidhavi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 2, hlm. 188.
  45. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33.
  46. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 220; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 778.
  47. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590; Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 2, hlm. 170.
  48. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 374; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 178.
  49. Qurasyi, Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 3, hlm. 340-341.
  50. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 1, hlm. 597; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 522.
  51. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33-34; Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 131-132.
  52. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 374.
  53. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 33-34.
  54. Husaini Syah Abdul Azhim, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 3, hlm. 404.
  55. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 4, hlm. 316; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 8, hlm. 61.
  56. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 35-36.
  57. Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 10, hlm. 332-333.
  58. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 375; Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 370-372.
  59. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 8, hlm. 61.
  60. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 6, hlm. 35.
  61. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 4, hlm. 316.
  62. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 375.
  63. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590.
  64. Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 4, hlm. 204; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 522.
  65. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 133; Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 590-591, menukil dari orang lain.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Sayid Mahmud, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Tahqiq Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibnu Sulaiman, Muqatil, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1423 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, Masyhad, Astan Quds Razavi, Cetakan pertama, 1408 H.
  • Baghawi, Husain bin Mas'ud, Ma'alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Baidhavi, Abdullah bin Umar, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain, Dala'il al-Nubuwwah wa Ma'rifah Ahwal Shahib al-Syari'ah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad, Al-Kasyf wa al-Bayan al-Ma'ruf Tafsir al-Tsa'labi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan pertama, 1422 H.
  • Tsaqafi Tehrani, Muhammad, Tafsir Ravan-e Javid, Teheran, Entesharat Borhan, Cetakan ketiga, 1398 H.
  • Ja'fari, Ya'qub, Tafsir Kautsar, Qom, Muassasah Entesharat Hejrat, 1376 HS.
  • Husaini Syah Abdul Azhim, Husain bin Ahmad, *Tafsir Itsna Asyari*, Teheran, Entesharat Miqat, 1363 HS.
  • Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah, Tafsir Nur al-Tsaqalain, Qom, Ismailiyan, Cetakan keempat, 1415 H.
  • Sulthan Ali Syah, Muhammad bin Haidar, Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-Ibadah, Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan kedua, 1408 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar, Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur, Qom, Kitabkhaneh Omumi Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi (rh), 1404 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan pertama, Tanpa Tahun.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, Qom, Entesharat Farhang Eslami, Cetakan kedua, 1365 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan, I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, Cetakan ketiga, 1390 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Naser Khosrow, Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thayyib, Abdul Husain, Atyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Entesharat Eslam, Cetakan kedua, 1369 HS.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketiga, 1420 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, Beirut, Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Shafi, Teheran, Maktabah al-Shadr, Cetakan kedua, 1415 H.
  • Qara'ati, Mohsen, Tafsir Nur, Teheran, Markaz Farhangi Darsha-i az Quran, Cetakan pertama, 1388 HS.
  • Qurasyi, Sayid Ali Akbar, Tafsir Ahsan al-Hadits, Teheran, Bonyad Be'that, 1377 HS.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Teheran, Naser Khosrow, 1364 HS.
  • Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Reza, Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib, Tahqiq Husain Dargahi, Teheran, Sazman Chap va Entesharat Vezarat Ershad Eslami, 1368 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qummi, Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1363 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad, Al-Tafsir al-Kasyif, Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Makarem Syirazi, Naser, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Maibudi, Ahmad bin Muhammad, Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar, Teheran, Amirkabir, Cetakan kelima, 1371 HS.