tanpa foto

Hari Asyura'

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Hari 'Asyura (bahasa Arab: يوم عاشوراء) adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Kepengtingan hari ini bagi pengikut Syiah dikarenakan peristiwa Asyura yang terjadi tahun 61 H. Imam Husainas bersama sahabat-sahabatnya syahid di bumi Karbala pada hari Asyura dalam berperang melawan pasukan Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Saad.

Umat muslim Syiah setiap tahun dengan dimulai bulan Muharram mengadakan majelis duka. Acara majelis duka pada sebagian besar daerah berlangsung hingga 11 dan 12 Muharram dan pada beberapa daerah hingga akhir bulan Shafar. Puncak acara duka ini adalah pada hari Asyura. Hari ini pada kalender resmi Iran, Irak, Afganistan, Pakistan dan India adalah hari libur.

Arti Leksikal

'Asyur, 'Asyura dan 'Asyura' menurut pendapat aklamasi ahli bahasa adalah sepuluh Muharram dan hari itu adalah hari dimana Husain bin Ali mati syahid.[1] Di dalam buku Jamharah al-Lughah dimuat, hari Asyura disebut dengan nama ini setelah datangnya Islam dan pada masa Jahiliyah tidak terdapat nama ini, dan pada perkataan orang Arab tidak ada kata apapun yang berwazan "Fā'ulā'" selain kata Asyura'.[2] Beberapa ahli bahasa percaya bahwa kata Asyura' merupakan bahasa Ibrani dan diarabkan dari kata Asyur. Dalam bahasa Ibrani, Asyura' digunakan untuk menamakan hari kesepuluh bulan Tasyri (bulan Yahudi). [3]

Sebelum Peristiwa Karbala

Dalam buku Jāmi' Ahādits al-Syiah yang disadur dari Man La Yahdhuruhu al-Faqih dinukilkan dari Imam Baqir as: "Puasa pada hari Asyura sebelum diwajibkannya puasa bulan Ramadhan adalah hal yang sudah lumrah (dijalankan), tetapi setelah itu ditinggalkan." [4]

Ahlusunnah meyakini hari Asyura sebagai ulang tahun peringatan hari dimana Nabi Musa as membelah laut merah dan bersama pengikutnya menyebarangi laut tersebut. Mereka menghormati hari ini dan berpuasa di hari ini diyakini mustahab. [5]

Asyura Paska Peristiwa Karbala

Peristiwa Karbala terjadi pada hari Jumat 10 Muharram tahun 61 H. Usia Imam Husain as pada saat itu 56 tahun dan sekian bulan. [6]

Paska peristiwa Karbala, Bani Umayyah dengan melakukan beberapa tindakan seperti menyimpan bekal makanannya untuk setahun, mengucapkan tabrik dan selamat, mengenakan pakaian baru dan berpuasa, menganggap hari Asyura sebagai hari yang penuh berkah. [7] sebagaimana hal ini telah disinyalir dalam ziarah Asyura Imam Husain as: «هذا یومٌ تَبَرَّکت ‏بِهِ بَنُوأُمَیةَ»; "Ini adalah hari dimana Banu Umayyah mengambil berkah dengannya."[8]

Para Imam Maksum Syiah melarang berpuasa pada hari Asyura dan pada sebagian tempat mengatakan, "pada hari Asyura janganlah kalian makan dan minum (imsak) hingga dekat matahari tenggelam, adapun saat medekati matahari tenggelam, maka makanlah kalian hingga tidak disebut puasa secara istilah."[9]

Berkabung pada Hari Asyura

Hari Asyura adalah paling pentingnya hari berkabung bagi muslim Syiah. Di setiap daerah dimana hadir disitu komunitas Syiah, maka pada hari ini diadakan acara duka dan berkabung. Negara-negara yang diduduki orang-orang Syiah pada hari ini libur resmi. Pasar-pasar dan perniagaan juga libur. Acara duka dan berkabung yang biasanya diadakan pada malam hari dan di tempat tertutup pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, berpindah ke gang-gang dan jalan-jalan dan masyarakat secara berkelompok kelompok berpawai mengadakan aza dan duka. Kelompok-kelompok pelaku aza membawa bendera-bendera aza dan atribut-atribut lain yang menandakan aza. Acara aza pada hari Asyura berlansung hingga waktu zhuhur. Kelompok-kelompok pelaku aza tersebut biasanya berjalan menuju tempat-tempat umum relegi seperti haram para Imam atau anak-anak keturunan Imam (Imamzadegan) di daerah masing-masing dan rumah-rumah ulama besar setiap kota. Dan, pada beberapa daerah titik akhir pawai aza tersebut adalah pekuburan dan tempat pemakaman mayit supaya bisa memohonkan rahmat dan ampunan atas mereka yang telah meninggalkan dunia fana.[butuh referensi]

Untuk pertama kalinya, Al Bawaih mengumumkan hari ini sebagai libur umum/resmi dan masyarakat sibuk mengadakan aza dan berkabung. [10]

Muslim Syiah bahkan sebagian Ahlusunnah dan agama-agama non Islam pada hari Asyura turut berkabung demi menghidupkan dan mengenang syuhada Karbala. Berkabung di bulan Muharram pada mulanya diawali dengan menangis dan lantunan bait-bait syair, namun lama kelamaan ditambahkan kepadanya kidungan aza, kronologi pembunuhan, memukul-mukul dada dan ta'ziah. Kebanyakan ritual-ritual ini terbentuk pada era Al Bawaih, Shafawiyah dan Qajar. Sebagian ulama agama dan cendikiawan mengajukan protes terhadap sebagian ritual-ritual ini terkhusus qamehzani (melukai badan).[butuh referensi]

Amalan-amalan Hari Asyura

Syaikh Abbas Qummi dalam Mafatih al-Jinan berkata: "Layak bagi seseorang pada hari ini untuk tidak sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan dunia dan harus bersedih, dan hal ini diaplikasikan dalam cara berpakaian dan makanannya. Hendaknya di hari ini mengadakan acara aza untuk Imam Husain as dan berziarah kepadanya dengan ziarah Asyura. Membaca 1000 kali surah Al-Ikhlash, doa Asyarat, mencegah diri dari makan dan minum tapi bukan dengan niat puasa serta mendoakan para pembunuh Sayyid al-Syuhada supaya dijauhkan dari rahmat Allah termasuk dari amalan-amalan yang disebutkan untuk hari ini. [11]

Asyura Pra Islam

Dahulu orang-orang Yahudi, Nasrani dan Arab masa Jahiliyah memuliakan Asyura dan berpuasa di hari ini. [12] Fayyumi dalam Mishbah al-Munir berkata: Diriwayatkan dari Rasulullah saw: "Berpuasalah kalian satu hari sebelum dan sesudah Asyura supaya kalian tidak serupa dengan Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh." [13] Kandungan riwayat ini juga dinukil dalam kitab-kitab Sunan al-Darimi, [14] Sunan Ibni Majah, [15] Shahih Muslim, [16] Jamharah al-Lughah, [17] Shahih Bukhari, [18] dan Nail al-Authar[19].

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Lihat: Dehkhuda, Lughatnameh Dehkhuda, dibawah kata Asyura
  2. Ibnu Duraid, Jamharah al-Lughah, jld. 2, hlm. 727
  3. Dairah al-Ma'arif Tasyayyu, jld. 11, hlm. 15
  4. Asyura Syenasi, makalah sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 37-38, dinukil dari Jami Ahadits al-Syiah, jld. 9, hlm. 479; dan Man la Yahduruhu al-Faqih, jld. 2, hlm. 85
  5. [Ishak Dabiri, Bagaimana cara kita melewati Hari Asyura, ....]
  6. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, muassasah A'lami li al-Mathbuat, hlm. 84
  7. Kulliyat Mafatih al-Jinan, hlm. 290
  8. Qummi, Mafatih al-Jinan, dibawah Zaiarah Asyura.
  9. Lihat: Asyura Syenasi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 42
  10. Muassasah Syiah Syenasi, Sunnate Azadari wa Manqabatkhani, hlm. 79
  11. Kulliyat Mafatih al-Jinan, hlm. 388-389
  12. Lihat:Ustadi, Ridha, Pisyine-e Asyura dar Asyura Syenasi, hlm. 38-39
  13. Asyura Syenasi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 37-38, dinukil dari Baihaqi, jld. 4, hlm. 287
  14. Lihat: Ustadi, Ridha, Pisyine-e Asyura dar Asyura Syenasi, hlm. 38-39, dinukil dari Sunan Darimi, jld. 2, hlm. 22
  15. Asyura Syenasi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 37-38, dinukil dari Sunan Ibnu Majah, jld. 1, hlm. 552
  16. Asyura Syenasi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, 37-38, dinukil dari Shahih Muslim, jld. 3, hlm. 150
  17. Asyura Syenasi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 37-38, dinukil dari Jamharah al-Lugha, Ibnu Duraid', jld. 3, hlm. 390
  18. Asyura Syenasi, maklah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm.37-38, dinukil dari Shahih Bukhari, jld. 3, hlm. 57
  19. Asyura Syenansi, makalah Sejarah Asyura, Ridha Ustadi, hlm. 37-38, dinukil dari Nail al-Authar, jld. 4, hlm. 326

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj Isfahani, Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibin. Beirut: Muassasah A'lami li al-Mathbuat, tanpa tahun.
  • Dairah al-Ma'arif Tasyayyu'. Dibawah pengawasan Ahmad Shadr, Kamran Fani, Bahauddin Khurramsyahi. Teheran: Muassasah Intisyarat Hikmat, 1390 HS/ 1432 H.
  • Dehkhuda, Ali Akbar. Lughatnameh Dehkhuda. Teheran: 1377 HS.
  • Ibnu Duraid, Muhammad bin Hasan. Jamharah al-Lughah. Beirut: Dal al-Ilm li al-Malayin, 1987.
  • Qummi, Abbas. Mafatih al-Jinan. Qom: Uswah, tanpa tahun.
  • Ustadi, Ridha. Asyura Syenasi: Makalah Sajarah Asyura. Qom: Zamzame Hidayat, 1387 HS.