Konsep:Penegakan Hudud
Penegakan Hudud (Iqamah al-Hudud) merujuk pada pelaksanaan hukuman-hukuman syariat tertentu bagi para pelaku kejahatan oleh individu yang memiliki wewenang (kompetensi). Terdapat perbedaan pendapat di kalangan fukaha mengenai jumlah kejahatan yang mengakibatkan tetapnya had syariat, namun mayoritas dari mereka menyebutkan delapan tindak pidana yang meliputi Zina, Liwat, Qadzaf, syurbul khamar, pencurian (sariqah), perampokan (qath'ul thariq), Muharabah, dan artidad.
Dalam mazhab Syiah, pelaksanaan hudud pada masa kehadiran Imam maksum (as) hanya berada di bawah tanggung jawab beliau atau wakil yang ditunjuk oleh beliau. Namun, mengenai pelaksanaan hudud pada masa gaib (Ghaibat), terdapat berbagai pandangan di kalangan fukaha. Sebagian, dengan bersandar pada riwayat, Ijmak, dan argumen akal, menganggap pelaksanaan hudud syariat pada periode ini adalah boleh dan merupakan tugas dari Fakih jami' al-syara'it. Sebaliknya, kelompok lain meyakini bahwa pelaksanaan hudud secara eksklusif dikhususkan bagi Imam maksum (as) atau orang yang ditunjuk langsung oleh beliau, sehingga tidak diperbolehkan pada Masa Gaib.
Terdapat pula pandangan ketiga, di mana beberapa fukaha mengambil sikap ragu (tawaqquf) mengenai pelaksanaan hudud pada masa gaib dan hanya mengizinkan pelaksanaan "takzirat" guna mencegah kerusakan dan kejahatan di tengah masyarakat. Masalah penegakan hudud dibahas dalam bab-bab fikih hudud dan Jihad, serta terdapat banyak buku yang secara independen membahas topik ini.
Terminologi dan Dosa-dosa yang Memiliki Hukuman Had
Penegakan atau pelaksanaan hudud berarti menjalankan hukuman-hukuman syariat tertentu (hudud) terhadap pelaku kejahatan oleh orang yang memiliki kompetensi. [1] Hukuman-hukuman ini telah ditetapkan oleh Syara' untuk kejahatan-kejahatan khusus. [2] Pembahasan terkait penegakan hudud biasanya ditemukan dalam bab-bab fikih hudud dan Jihad [3] dan dalam karya-karya fikih terdahulu, sering kali dikemukakan setelah pembahasan Amar Makruf Nahi Munkar. [4] Beberapa fukaha menganggap pelaksanaan hudud sebagai salah satu tingkatan nahi munkar karena efek pencegahannya. [5] Dalam karya-karya belakangan, pembahasan ini terkadang dikaji di bawah masalah Wilayah al-Faqih, karena kedua konsep ini memiliki hubungan yang sangat erat. [6]
Mengenai jumlah dan jenis kejahatan yang mengakibatkan tetapnya had syariat, terdapat perbedaan pendapat di kalangan fukaha Syiah. [7] Sebagai contoh, Muhaqqiq Hilli menyebutkan enam kejahatan hudud: Zina, Liwat, Qadzaf, syurbul khamar, pencurian, dan perampokan jalanan. [8] Syahid Tsani menambahkan kasus-kasus seperti muharabah [9] dan murtad [10] ke dalam daftar ini.
Sayid Abul Qasim al-Khu'i, dalam kitab Mabani Takmilah al-Minhaj menambahkan delapan kasus lainnya sehingga total kejahatan hudud menjadi enam belas kasus. [11] Templat:Catatan
Syarat-syarat Penegakan Hudud
Beberapa syarat yang disebutkan oleh para fukaha untuk penegakan hudud antara lain:
- Pelaksanaan had setelah terbuktinya kejahatan tidak boleh ditunda kecuali dalam kasus-kasus pengecualian. [12]
- Jika seseorang bertaubat sebelum kejahatan terbukti, maka hukuman had diangkat darinya, namun setelah kejahatan terbukti, taubat tidak berpengaruh dalam pengguguran had. [13]
- Jika terdapat syubhat (keraguan) dalam terjadinya kejahatan, maka hukuman had gugur (kaidah pengguguran had dengan syubhat). [14] Templat:Catatan
- Jika pelaku mengklaim ketidaktahuan (jahil) terhadap hukum atau subjek dan ketidaktahuan ini dianggap mungkin secara hak baginya, maka had tidak dilakukan kepadanya. [15]
- Pelaksanaan had terhadap wanita hamil tidak diperbolehkan hingga setelah melahirkan dan berakhirnya masa nifas [16] dan menurut pernyataan Shahib al-Jawahir, jika tidak ada inang penyusu, maka ditunda hingga berakhirnya masa menyusui. [17]
- Terhadap orang yang sakit dan wanita mustahadhah, jika kejahatan terbukti, maka hukuman had tetap dilaksanakan. [18]
- Seseorang yang berlindung ke tanah Haram (Mekah) [19] tidak akan dikenakan had hingga ia keluar darinya; [20] meskipun mengenai cakupan hukum ini pada tanah Haram Nabi (saw) dan para Imam (as) lainnya [21] terdapat perbedaan di kalangan fukaha. [22]
- Jika terdapat keraguan atau kebimbangan dalam terjadinya atau penisbatan kejahatan, maka hukuman had tidak dilaksanakan (Kaidah Dar'u). [23]
Penegakan Hudud pada Masa Gaib
Berdasarkan keyakinan fukaha Syiah, pada masa kehadiran Imam maksum (as), penegakan hudud syariat merupakan tanggung jawab Imam atau orang yang ditugaskan oleh beliau untuk urusan ini; [24] namun mengenai pelaksanaan atau tidak dilaksanakannya hudud syariat pada masa gaib Imam (as), terdapat berbagai pernyataan dari para fukaha sebagai berikut:
Pandangan Kebolehan Pelaksanaan Hudud
- Mayoritas fukaha mengizinkan penegakan dan pelaksanaan hudud syariat pada masa gaib Imam Zaman (af) oleh Fakih jami' al-syara'it. [25]
- Dalil utama fukaha untuk pandangan ini adalah riwayat para Maksum (as) seperti: Maqbula Umar bin Hanzhalah, [26] Maqbula Abi Khadijah [27] serta riwayat-riwayat yang secara mutlak tidak mengizinkan penangguhan hudud [28] dan Ijmak fukaha Syiah. [29] Beberapa fukaha juga bersandar pada argumen akal untuk membuktikan kebolehan penegakan hudud pada masa gaib Maksum (as). [30]
- Sayid Abul Qasim al-Khu'i menganggap dalil-dalil pembuktian hudud syariat—Al-Qur'an dan Sunnah—bersifat mutlak dan tidak terikat pada waktu tertentu. [31] Oleh karena itu, pelaksanaan hudud ini juga tidak terbatas pada waktu tertentu dan mencakup seluruh zaman [32] dan pada masa gaib Imam maksum (as), tugas penegakan serta pelaksanaan hudud berada di tangan para fukaha. [33]
- Shahib al-Jawahir dalam kitab Jawahir al-Kalam, menghubungkan pendapat ini dengan pandangan masyhur fukaha Syiah. [34]
- Berdasarkan pendapat pendukung penegakan hudud pada masa gaib, tujuan dari penegakan hudud syariat adalah menjaga kemaslahatan umum, menolak kerusakan, serta mencegah kejahatan dan maksiat di tengah masyarakat [35] dan hal ini tidak hanya terbatas pada masa kehadiran Maksum (as), melainkan hikmah yang meniscayakan pensyariatan hudud menuntut agar hudud syariat pada masa gaib Imam maksum (as) tetap ditegakkan sebagaimana pada masa kehadiran beliau. [36]
Teori Penangguhan (Ta'thil)
- Beberapa fukaha menganggap penegakan dan pelaksanaan hudud syariat sebagai wewenang khusus Imam maksum (as) dan menurut keyakinan mereka, hal ini tidak diserahkan kepada siapa pun setelah beliau sehingga penegakan hudud pada masa gaib Imam maksum (as) ditangguhkan. [37] Para pendukung pandangan ini berpegang pada riwayat para Maksum (as) seperti: riwayat yang dinukil dalam kitab Da'aim al-Islam dari Imam Shadiq (as): "Lā yashluh al-hukm wa lā al-hudud wa lā al-jumu'ah illā bi imām; Tidak memiliki kompetensi dalam memberikan putusan, penegakan hudud, dan salat Jumat melainkan Imam maksum (as)." [38] serta ijmak para fukaha. [39]
- Ibnu Zuhrah, salah satu fakih Syiah abad ke-7 H dalam kitab Ghunyah al-Nuzu' [40] dan Ibnu Idris al-Hilli, salah satu fakih abad ke-8 H dalam kitab al-Sara'ir [41] menganggap penegakan hudud hanya boleh bagi Imam maksum (as) dan mengklaim adanya ijmak untuk pandangan ini.
- Sayyid Murtadha dalam kitab kalam al-Syafi fi al-Imamah menegaskan bahwa penegakan hudud semata-mata merupakan tugas para Imam (as) dan ia berkeyakinan bahwa Allah tidak menjadikan umat sebagai audiens penegakan hudud, yang mana jika tidak dilaksanakan, maka kita akan mencela umat karena telah menyia-nyiakan hudud Ilahi. [42]
- Syekh Thusi dalam kitab al-Nihayah pada pembahasan Amar Makruf Nahi Munkar [43] dan dalam kitab al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an [44] di bawah ayat 2 Surah An-Nur, menganggap penegakan hudud Ilahi hanya boleh dilakukan oleh penguasa zaman yang ditunjuk dari sisi Allah (Imam maksum) atau seseorang yang ditugaskan oleh Imam (as) untuk urusan ini.
- Fadhl bin Hasan al-Thabarsi dalam tafsir Majma' al-Bayan [45] dan Quthbuddin al-Rawandi dalam kitab Fiqh al-Qur'an [46] di bawah ayat 2 Surah An-Nur "Pecutlah pezina perempuan dan pezina laki-laki seratus cambukan" [47] menganggap pelaksanaan dan penegakan hudud hanya merupakan tugas Imam maksum (as) dan orang yang telah ditentukan dari sisi beliau untuk melakukan hal ini.
- Sayid Ahmad Khansari, salah seorang fakih Syiah dalam kitab Jami' al-Madarik melakukan perdebatan (munaqasyah) pada sanad dan dilalah dalil para pendukung kebolehan penegakan hudud pada masa gaib, dan menganggap penegakan hudud sebagaimana Jihad Ibtida'i termasuk dalam perkara-perkara yang hanya dikhususkan bagi Imam maksum (as) dan orang yang telah ditunjuk dari sisi beliau untuk urusan-urusan tersebut. [48]
- Berdasarkan pendapat Sayyid Muhammad al-Syirazi, penegakan hudud dalam kondisi saat ini bukan karena kurangnya dalil niabah ammah bagi fakih; melainkan karena fakta bahwa pada masa sekarang, Islam tidak dilaksanakan secara sempurna, sehingga tidak diperbolehkan. [49] Berdasarkan hal ini, penegakan hudud hanya dapat dilakukan di tengah masyarakat yang seluruh aspek ekonomi, sosial, dan lainnya sudah Islami. [50]
Ragu (Tawaqquf)
- Allamah Hilli dalam kitab Muntaha al-Mathlab saat mengkaji masalah penegakan hudud pada masa gaib, awalnya secara eksplisit bersikap ragu [51] namun beberapa baris setelahnya menganggap pendapat kebolehan bersifat kuat (qawi). [52]
- Muhaqqiq Hilli dalam kitab Syarayi' al-Islam dan dalam kitab al-Mukhtashar al-Nafi' menganggap penegakan hudud pada masa kehadiran hanya dikhususkan bagi Maksum (as) dan orang yang ditunjuk dari sisi beliau untuk urusan tersebut, sementara dalam penegakan hudud pada masa gaib, ia menisbatkan kebolehannya pada sebagian fukaha namun tidak menolak maupun mengonfirmasi pandangan mereka. [53] Karena alasan inilah beberapa fukaha seperti Shahib al-Jawahir berpendapat bahwa Muhaqqiq Hilli bersikap ragu dalam masalah ini. [54]
- Fazhel al-Abi dalam kitab Kasyf al-Rumuz tidak mengonfirmasi pandangan "kebolehan penegakan hudud pada masa gaib oleh para fukaha" dan bersikap ragu dalam hukum masalah ini. [55]
- Mirzay Qomi, salah satu fakih Syiah pada abad ke-13 secara eksplisit bersikap ragu dalam masalah ini dan dalam menjawab sebuah istifta beliau berkata: "Hamba yang hina ini bersikap ragu dan menimbang dalam kebolehan pelaksanaan hudud pada masa gaib. Benar, hakim syara' memberikan takzir kepada kelompok ini berdasarkan apa yang dianggap maslahat, dan itu pun merupakan tugas hakim syara'." [56]

- Berdasarkan pendapat Yusef Sane'i, pelaksanaan hudud pada masa gaib Imam maksum (as) dengan memperhatikan prinsip ketidakbolehan dan prinsip dar'ul hudud (menolak had karena keraguan) serta mengingat tidak adanya dalil yang kredibel untuk hal tersebut; merupakan tempat keraguan (tawaqquf) bahkan pelarangan [57] dan beliau berkeyakinan bahwa untuk menolak kerusakan dan menciptakan keamanan di tengah masyarakat, sebagai ganti dari hudud dapat digunakan hukuman-hukuman pengganti berupa takzir dengan memperhatikan jenis kejahatan, faktor pencegahan, dan pandangan para ahli kriminologi. [58]
Kejahatan Hudud dalam Hukum Iran
Dalam Undang-Undang Hukum Pidana Islam negara Republik Islam Iran, kejahatan-kejahatan yang mengakibatkan tetapnya had ditetapkan sebanyak delapan kasus dan dikaji dalam delapan bab. [59] Kejahatan-kejahatan tersebut meliputi: zina, liwat, qawadi (mempertemukan dua orang atau lebih untuk zina atau liwat), qadzaf, mencela Nabi, konsumsi minuman memabukkan (muskir), pencurian, dan muharabah. [60] Sesuai dengan pasal 61 Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran, tugas pelaksanaan hudud syariat pada masa sekarang berada di bawah tanggung jawab kekuasaan yudikatif [61] yang ketuanya berdasarkan pasal 57 undang-undang ini akan ditunjuk oleh Pemimpin Agung. [62]
Bibliografi
Meskipun mengenai "penegakan hudud" dan syarat-syarat pelaksanaannya telah dibahas dalam buku-buku fikih di bawah judul "Hudud"; namun terdapat banyak artikel dan buku yang secara independen membahas topik ini:
- Kitab Iqamah al-Hudud fi Zaman al-Ghaibah karya Sayid Muhammad Baqer Shafti, salah satu fakih Syiah abad ke-13 H, mengkaji berbagai pandangan fukaha mengenai kebolehan atau ketidakbolehan pelaksanaan hudud pada masa gaib. [63] Penulis setelah menganalisis pendapat-pendapat ini, sampai pada kesimpulan bahwa penegakan hudud pada masa gaib adalah diperbolehkan. Ia dengan bersandar pada perkataan para fakih seperti Syekh Thusi, Quthbuddin al-Rawandi, Syekh Thabarsi, dan Ibnu Idris meyakini bahwa meskipun secara lahiriah ucapan mereka menunjukkan keraguan (tawaqquf) dalam masalah ini, namun pada kenyatannya mereka semua secara tidak langsung berpendapat pada kebolehan pelaksanaan hudud. [64] Karya ini pada tahun 1425 H diterbitkan oleh Penerbit Maktabah Masjid Sayyid Isfahan [65] dan juga pada tahun 1385 HS dengan judul Maqalah fi Tahqiq Iqamah al-Hudud fi Hadzihi al-A'shar diterbitkan oleh Penerbit Bustan-e Ketab. [66]
- Buku Masyru'iyyat wa Dharurat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Ashr-e Ghaibat (Legalitas dan Keniscayaan Pelaksanaan Hudud Islam pada Masa Gaib) karya Mohammad Javad Fazel Lankarani juga mengkaji pandangan-pandangan para fukaha mengenai penegakan hudud pada masa gaib, serta mengonfirmasi teori kebolehan pelaksanaan hudud. Penulis meyakini bahwa pelaksanaan hudud termasuk dalam urusan dan contoh dari wilayah mutlakah al-faqih. [67] Buku ini setebal 93 halaman, berbahasa Persia dan diterbitkan oleh Pusat Fikih Aimmah al-Athar (as). [68]
Catatan Kaki
- ↑ Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh (Kamus Fikih), 1387 HS, jld. 1, hlm. 633.
- ↑ Shafti, Iqamah al-Hudud fi Zaman al-Ghaibah, 1425 H, hlm. 32.
- ↑ Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1387 HS, jld. 1, hlm. 633.
- ↑ Razavi-fard, "Ejra-ye Mojazat-ha-ye Hadi dar Zaman-e Ghaibat: Motale'e-yi Tahlili dar Nazhariyat-e Fuqaha-ye Syiah", hlm. 42.
- ↑ Razavi-fard, "Ejra-ye Mojazat-ha-ye Hadi dar Zaman-e Ghaibat: Motale'e-yi Tahlili dar Nazhariyat-e Fuqaha-ye Syiah", hlm. 43.
- ↑ Imam Khomeini, Wilayah al-Faqih, 1409 H, hlm. 28; Fazel Lankarani, Masyru'iyyat wa Dharurat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Ashr-e Ghaibat, 1430 H, hlm. 12-13.
- ↑ Mohammadi, Masyru'iyyat-e Iqamah Hudud wa Ta'zirat dar Ashr-e Ghaibat, 1392 HS, hlm. 45.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 4, hlm. 136.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 15, hlm. 5.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 15, hlm. 22.
- ↑ Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 32.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 338.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 9, hlm. 57; Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Muasasah Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 185.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 9, hlm. 57.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 9, hlm. 57.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 337.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 337.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 339.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 344.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 344.
- ↑ Syekh Thusi, al-Nihayah, 1400 H, hlm. 756; al-Tahdzib, 1365 HS, jld. 5, hlm. 419; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 345.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 345.
- ↑ Mohaqqiq Damad, Qawa'id-e Fiqh, 1406 H, jld. 4, hlm. 43.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 386.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syekh Mufid, al-Muqni'ah, 1410 H, hlm. 810; Syekh Thusi, al-Nihayah, 1400 H, hlm. 300; Syekh Thusi, al-Khilaf, Penerbit al-Nasyr al-Islami, jld. 6, hlm. 242; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 396; Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 224; Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 HS, jld. 1, hlm. 482; Khamenei, Ajwibah al-Istifta'at, 1415 H, jld. 1, hlm. 25.
- ↑ Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1416 H, jld. 1, hlm. 23; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 394.
- ↑ Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1416 H, jld. 18, hlm. 4; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 394.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 395; Nouri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 18, hlm. 7; Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1416 H, jld. 18, hlm. 314; Qadhi Nu'man al-Maghribi, Da'aim al-Islam, 1385 H, jld. 2, hlm. 442; Kulaini, al-Kafi, 1387 HS, jld. 7, hlm. 187.
- ↑ Syekh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 6, hlm. 244; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 386-399.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 386-399; Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 224.
- ↑ Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 224.
- ↑ Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 224.
- ↑ Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 226.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 394.
- ↑ Shahid Awwal, Ghayah al-Murad, 1414 H, jld. 1, hlm. 511; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 3, hlm. 108.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 396; Fazhel Miqdad, al-Tanqih al-Ra'i', 1404 H, jld. 1, hlm. 596-597; Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Penerbit Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, jld. 1, hlm. 224.
- ↑ Haj-zadeh, "Ejra-ye Hudud dar Zaman-e Ghaibat", hlm. 172.
- ↑ Qadhi Nu'man al-Maghribi, Da'aim al-Islam, 1385 H, jld. 1, hlm. 184; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 398.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 398.
- ↑ Ibnu Zuhrah, Ghunyah al-Nuzu', Muasasah al-Imam al-Shadiq (as), hlm. 425.
- ↑ Ibn Idris, al-Sara'ir, 1410 H, jld. 2, hlm. 25.
- ↑ Sayyid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, 1310 H, jld. 1, hlm. 112.
- ↑ Syekh Thusi, al-Nihayah, 1400 H, hlm. 300-301.
- ↑ Syekh Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Penerbit Dar Ihya al-Turats, jld. 7, hlm. 406.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 7, hlm. 219.
- ↑ Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jld. 2, hlm. 372.
- ↑ Surah An-Nur, ayat 2.
- ↑ Khansari, Jami' al-Madarik, 1355 HS, jld. 5, hlm. 411-412.
- ↑ Syirazi, Fiqh al-Awlamah, 1423 H, hlm. 285.
- ↑ Mohammadi, Masyru'iyyat-e Iqamah Hudud wa Ta'zirat dar Ashr-e Ghaibat, 1393 HS, hlm. 117-118.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 2, hlm. 994.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 2, hlm. 994.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 1, hlm. 313; Muhaqqiq Hilli, al-Mukhtashar al-Nafi', 1410 H, hlm. 115.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hlm. 394.
- ↑ Fazhel al-Abi, Kasyf al-Rumuz, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 1, hlm. 434.
- ↑ Mirzay Qomi, Jami' al-Syatat fi Ajwibah al-Su'alat, 1371 HS, jld. 1, hlm. 395.
- ↑ "Fatwa-ye Jadid-e Hazrat Ayatullah Sane'i dar-bare-ye Ejra-ye Hudud dar Zaman-e Ghaibat-e Imam Ma'sum alaihissalam", Situs Shafaqna.
- ↑ "Fatwa-ye Jadid-e Hazrat Ayatullah Sane'i dar-bare-ye Ejra-ye Hudud dar Zaman-e Ghaibat-e Imam Ma'sum alaihissalam", Situs Shafaqna.
- ↑ Qanun-e Mojazat-e Eslami, disahkan 1392 HS, Buku Kedua, Bagian Kedua, Kejahatan yang Mengakibatkan Had.
- ↑ Qanun-e Mojazat-e Eslami, disahkan 1392 HS, Buku Kedua, Bagian Kedua, Kejahatan yang Mengakibatkan Had.
- ↑ Qanun-e Asasi-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran, pasal 61.
- ↑ Qanun-e Asasi-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran, pasal 57.
- ↑ Shafti, Iqamah al-Hudud fi Zaman al-Ghaibah, 1425 H, hlm. 55-56.
- ↑ Shafti, Iqamah al-Hudud fi Zaman al-Ghaibah, 1425 H, hlm. 140.
- ↑ "Maqalah fi Tahqiq Iqamah al-Hudud fi Hadzihi al-A'shar", Situs al-Ijtihad.
- ↑ "Maqalah fi Tahqiq Iqamah al-Hudud fi Hadzihi al-A'shar", Situs al-Ijtihad.
- ↑ Fazel Lankarani, Masyru'iyyat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Zaman-e Ghaibat, hlm. 14.
- ↑ "Masyru'iyyat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Zaman-e Ghaibat", Situs Perpustakaan Digital Noor.
Catatan
Daftar Pustaka
- Fazel al-Abi, Hasan bin Abi Thalib. Kasyf al-Rumuz. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
- Fazel Lankarani, Mohammad Javad. Masyru'iyyat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Ashr-e Ghaibat. Qom, Pusat Fikih Aimmah al-Athar (as), 1430 H.
- Fazel Lankarani, Mohammad. Tafshil al-Syari'ah. Qom, Markaz Fiqh al-Aimmah al-Athar, 1422 H.
- Fazhel Miqdad. al-Tanqih al-Ra'i' fi Mukhtashar al-Syarayi'. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi (ra), cet. 1, 1404 H.
- Haj-zadeh, Hadi. "Ejra-ye Hudud dar Zaman-e Ghaibat". Jurnal Gofteman-e Hoquqi, nomor 17 dan 18, Musim Gugur dan Dingin 1389 HS.
- Hashemi Shahroudi, Sayid Mahmud. Bahuts fi 'Ilm al-Ushul (Catatan Pelajaran Kharij Ushul Syahid Sadr). Qom, Pusat Studi Islam al-Ghadir, cet. 2, 1417 H.
- Hurr Amuli, Mohammad bin Hasan. Wasail al-Syiah ila Tahshil Masa'il al-Syari'ah. Qom, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam li Ihya al-Turats, 1416 H.
- Ibn Idris, Mohammad bin Ahmad. al-Sara'ir. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cet. 2, 1410 H.
- Ibn Zuhra, Hamzah bin Ali. Ghunyah al-Nuzu'. Qom, Muasasah al-Imam al-Shadiq alaihissalam, tanpa tahun.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Muasasah Mathbu'ati Isma'iliyyan, 1390 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Wilayah al-Faqih. Teheran, Lembaga Penyusunan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini (qs), cet. 1, 1409 H.
- Khamenei, Sayid Ali. Ajwibah al-Istifta'at. Kuwait, Dar al-Naba', cet. 1, 1415 H.
- Khansari, Sayid Ahmad. Jami' al-Madarik. Teheran, Maktabah al-Shaduq, cet. 2, 1355 HS.
- Khoe'i, Sayid Abul Qasim. Mabani Takmilah al-Minhaj. Najaf Ashraf, Dar al-Ihya al-Turats al-Khoe'i, tanpa tahun.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub. al-Kafi. Qom, Dar al-Hadits, cet. 1, 1387 HS.
- Mahmudi, Mohammad Baqer. "Masyru'iyyat wa Dharurat-e Ejra-ye Hudud-e Eslami dar Zaman-e Ghaibat". Situs Ensiklopedia Bibliografi dan Biografi WikiNoor.
- Mohammadi, Baqer. Masyru'iyyat-e Iqamah Hudud wa Ta'zirat dar Ashr-e Ghaibat. Qom, Pusat Internasional Penerjemahan dan Penerbitan Al-Mustafa, 1393 HS.
- Mohaqqiq Damad, Mustafa. Qawa'id-e Fiqh. Teheran, Pusat Penerbit Ilmu-ilmu Islam, cet. 12, 1406 H.
- Mohaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. al-Mukhtashar al-Nafi'. Teheran, Departemen Studi Islam di Yayasan Ba'tsat, cet. 3, 1410 H.
- Mohaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. Syarayi' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram. Riset dan koreksi: Abdul Husain Mohammad Ali Baqqal. Qom, Isma'iliyyan, cet. 2, 1408 H.
- Mohaqqiq Karaki. Jami' al-Maqashid. Qom, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam, cet. 2, 1414 H.
- Mousawi Ardebili, Sayid Abdul Karim. Fiqh al-Hudud wa al-Ta'zirat. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Jami'ah lil Mufid, 1437 H.
- Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami. Farhang-e Fiqh Mutabiq-e Madzhab-e Ahlulbait (as). Di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hashemi Shahroudi. Qom, Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1387 HS.
- Mirzay Qomi, Abul Qasim. Jami' al-Syatat fi Ajwibah al-Su'alat. Teheran, Penerbit Keyhan, 1371 HS.
- Najafi, Mohammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam. Koreksi: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 7, 1362 HS.
- Nouri, Mirza Husain. Mustadrak al-Wasail wa Mustanbat al-Masail. Riset: Muasasah Alu al-Bait alaihissalam. Beirut, cet. 1, 1408 H.
- Qadhi Nu'man al-Maghribi. Da'aim al-Islam. Qom, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam, cet. 2, 1385 H.
- Rawandi, Quthbuddin. Fiqh al-Qur'an. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah Mar'asyi Najafi (ra), cet. 2, 1405 H.
- Razavi-fard, Behzad. "Ejra-ye Mojazat-ha-ye Hadi dar Zaman-e Ghaibat: Motale'e-yi Tahlili dar Nazhariyat-e Fuqaha-ye Syiah". Jurnal Hukum Kehakiman, nomor 55, Musim Panas 1385 HS.
- Sallar Daylami, Abdul Aziz. al-Marasim fi al-Fiqh al-Imami. Qom, Penerbit al-Haramain, 1404 H.
- Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. al-Syafi fi al-Imamah. Teheran, Muasasah al-Shadiq (as), cet. 2, 1310 H.
- Shafti, Sayid Mohammad Baqer. Iqamah al-Hudud fi Zaman al-Ghaibah. Isfahan, Maktabah Masjid Sayyid, 1425 H.
- "Maqalah fi Tahqiq Iqamah al-Hudud fi Hadzihi al-A'shar". Situs al-Ijtihad. Tanggal posting: 6 November 2017 M.
- Shahid Awwal, Mohammad bin Makki. al-Durus al-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyah. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cet. 2, 1417 H.
- Shahid Awwal, Mohammad bin Makki. al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah. Beirut, Dar al-Turats, cet. 1, 1410 H.
- Shahid Awwal, Mohammad bin Makki. Ghayah al-Murad fi Syarh Nukat al-Irsyad. Qom, Penerbit Kantor Tablighat Eslami Hauzah Ilmiah Qom, cet. 1, 1414 H.
- Shahid Tsani, Zainuddin bin Ali. al-Raudhah al-Bahiyyah. Qom, Kantor Media Islam, cet. 4, 1410 H.
- Shahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham. Qom, Muasasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1413 H.
- Syirazi. Fiqh al-Awlamah. Beirut, Muasasah al-Mujtaba, cet. 2, 1423 H.
- "Fatwa-ye Jadid-e Hazrat Ayatullah Sane'i dar-bare-ye Ejra-ye Hudud dar Zaman-e Ghaibat-e Imam Ma'sum alaihissalam". Situs Shafaqna. Tanggal posting: 27 Tir 1399 HS.
- Syekh Mufid, Mohammad bin Mohammad. al-Muqni'ah. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1410 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Khilaf. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cet. 1, 1407 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1400 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Tahdzib. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Riset dan catatan: Hasan Kharsan. Pengumpul: Ali Akhundi. Korektor: Mohammad Akhundi. Teheran, cet. 4, 1365 HS.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1415 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Arsyad al-Adzhan. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1410 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Muntaha al-Mathlab. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1412 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam. Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1413 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tahrir al-Ahkam. Masyhad, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam, tanpa tahun.