Lompat ke isi

Konsep:Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar

Dari wikishia

Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar (Jika Ali tidak ada, maka Umar akan celaka) adalah sebuah ungkapan masyhur dari Umar bin Khattab, khalifah kedua, mengenai keunggulan dan keutamaan Imam Ali (as) dibandingkan dengan khalifah kedua tersebut. Para teolog Syiah dan sebagian ulama Ahlusunah menganggap ungkapan ini serta ungkapan-ungkapan serupa sebagai dalil atas keunggulan Ali (as) dalam ilmu, fikih, dan pengadilan. Atas dasar inilah mereka menganggap Ali (as) sebagai referensi dan tempat berlindung bagi para khalifah. Kalimat ini atau yang serupa dengannya telah dinukil dalam berbagai sumber Syiah dan Ahlusunah. Menurut kata Qadhi Nurullah Syusytari, salah seorang ulama Syiah abad ke-11 Hijriah, khalifah kedua mengucapkan kalimat ini sebanyak 70 kali.

Ibnu Abi al-Hadid al-Mu'tazili menganggapnya masyhur dan sebagian lainnya menganggapnya sebagai mustafidh. Di antara para perawi ungkapan ini adalah Sa'id bin al-Musayyib, Abdullah bin Abbas, Abu Sa'id al-Khudri, dan Muhammad bin Abi 'Umair yang dianggap tepercaya oleh Syiah dan Ahlusunah.

Kalimat serupa mengenai Ali bin Abi Thalib (as) juga dinukil dari khalifah pertama dan khalifah ketiga.

Teks

Ungkapan "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umaru; Jika Ali tidak ada maka Umar akan celaka", telah dinukil dari Umar bin Khattab, khalifah kedua. Ia mengucapkannya dalam beberapa kasus di mana ia terjatuh dalam kesalahan dalam suatu masalah dan Ali (as) mengoreksi kesalahannya, sebagai bentuk penyifatan terhadap Ali (as). Kalimat ini telah dinukil dalam berbagai sumber Syiah[1] dan Ahlusunah.[2]

Kandungan kalimat ini juga dinukil dengan ungkapan-ungkapan lainnya; di antaranya:

  • "A'ūdzu billāhi min mu'dhilatin laisa lahā Abul Hasan; Aku berlindung kepada Allah dari masalah sulit yang tidak ada Abu al-Hasan (Ali) di dalamnya".[3]
  • "Lā abqāniyallāhu ba'daka yā 'Aliyyu; Wahai Ali! Semoga Allah tidak membiarkanku tetap hidup setelahmu".[4]
  • "Allāhumma lā tubqinī li-mu'dhilatin laisa lahā Ibnu Abī Thālib hayyan; Ya Allah janganlah Engkau biarkan aku hidup dalam kesulitan di mana putra Abu Thalib tidak ada dalam keadaan hidup di sana".[5]
  • "Lā 'isytu fī ummatin lasta fīhā yā Abāl Hasan; Janganlah aku hidup dalam suatu umat di mana engkau wahai Abu al-Hasan (Ali) tidak ada di dalamnya".[6]
  • "Lau laka la-ftadhahnā; Wahai Ali! Jika bukan karenamu, niscaya kami pasti akan dipermalukan".[7]

Dari sudut pandang para ulama Syiah dan sebagian Ahlusunah, ungkapan "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" bermakna keunggulan dan keutamaan Imam Ali (as) terhadapnya. Para teolog Syiah menganggap ungkapan ini serta ungkapan-ungkapan serupa sebagai dalil dan pengakuan atas keunggulan Ali (as) dalam ilmu dan atas dasar inilah mereka menganggap Ali (as) sebagai referensi dan tempat berlindung bagi para khalifah.[8]

Beberapa ulama Ahlusunah termasuk Ibnu Abdil Barr, pakar fikih Maliki abad kelima Hijriah, Muwaffaq bin Ahmad al-Khwarazmi, pakar fikih dan orator Sunni pada abad keenam Hijriah, serta Ibnu Abi al-Hadid, salah satu ulama Syafi'i abad ketujuh Hijriah, juga menganggap ungkapan-ungkapan ini sebagai dalil atas keunggulan dan keutamaan Ali (as) dalam kehakiman,[9] Fikih,[10] atau ilmu.[11]

Shadruddin Juwayni, salah seorang ulama dan muhaddis Syafi'i abad kedelapan Hijriah, dalam kitab Fara'id al-Simthain yang ditulis mengenai keutamaan Ahlulbait (as), menganggap ungkapan-ungkapan Umar sebagai dalil atas imamah dan wilayah Imam Ali (as) yang mana atas dasar ini, seorang imam tidak membutuhkan orang lain dan masyarakatlah yang membutuhkan imam.[12]

Peristiwa-peristiwa

Kalimat "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" telah dinukil dalam banyak kasus dari khalifah kedua.[13] Menurut pandangan Ibnu Syahr Asyub, salah satu ulama Syiah abad keenam Hijriah, Umar bin Khattab merujuk kepada Ali (as) dalam 23 masalah dan mengucapkan ungkapan ini.[14] Menurut kata Qadhi Nurullah Syusytari, ulama Syiah abad ke-11 Hijriah, dan Murtadha Muthahhari, khalifah kedua mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 70 kali. Syusytari telah mengumpulkan berbagai kasus tersebut dalam kitab Iḥqāq al-Ḥaqq wa Izhaq al-Bāṭil.[15] Beberapa kasus yang disebutkan tersebut[16] adalah:

  • Khalifah kedua memberikan hukum Rajam terhadap seorang wanita hamil yang telah mengaku melakukan Zina. Imam Ali (as) melarang rajam tersebut dikarenakan adanya janin dalam perut wanita itu dan berkata: "Engkau tidak berhak menghukum janin tersebut!". Umar setelah menerima hukum Ali (as) dan membatalkan rajam berkata: "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar".[17]
  • Khalifah kedua telah memberikan hukum rajam terhadap seorang wanita gila yang berzina; namun Imam Ali (as) menganggap hukum rajamnya tidak tepat dikarenakan kegilaan wanita tersebut dan adanya Hadis Raf' yang menyatakan bahwa kewajiban diangkat dari orang yang tidur, orang gila, dan anak kecil. Khalifah kedua setelah menerima hukum Ali (as) berkata: "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar".[18]

Murtadha Muthahhari dalam menjelaskan keluarnya kalimat ini dari Umar bin Khattab mengatakan bahwa salah satu karakteristik kejiwaan Umar adalah ketergesa-gesaan dalam berpendapat lalu meninggalkannya serta perkataannya yang kontradiktif. Banyak cerita yang dinukil dalam hal ini. Di antaranya ungkapan "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" merujuk pada kesalahan-kesalahan ini dan perbaikannya dari pihak Ali (as).

Kredibilitas dan Perawi

Di antara perawi masyhur kalimat "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" adalah Sa'id bin al-Musayyib,[19] Muhammad bin Abī 'Umair[20] dan Zaid bin Ali. Ungkapan lainnya juga telah dinukil dengan kandungan yang sama yang mana beberapa perawinya adalah: Sa'id bin al-Musayyib,[21] Abdullah bin Abbas[22] dan Abu Sa'id al-Khudrī.[23]

Muhammad bin Abi 'Umair termasuk di antara Ashabul Ijma' dan merupakan orang yang dipercaya oleh para ulama Syiah.[24] Abdullah bin Abbas[25] dan Abu Sa'id al-Khudri[26] juga termasuk sahabat Nabi (saw) dan merupakan orang yang tsiqah.

Ibnu Hajar al-Asqalani, salah seorang ahli rijal Ahlusunah, menganggap Sa'id bin al-Musayyib sebagai orang yang tsiqah dan termasuk pakar fikih besar yang bahkan riwayat-riwayat mursal-nya dianggap sahih. Beberapa orang dengan meneliti sanad penukilan Sa'id bin al-Musayyib, menganggapnya sahih dari sudut pandang Ahlusunah.[27]

Ibnu Abi al-Hadid, dalam Syarh Nahj al-Balaghah, menganggap kutipan khalifah kedua tersebut sebagai khabar masyhur dan Ainullah Hasani Urmawi dalam catatan kaki kitab Nahj al-Haq Allamah Hilli, menganggap penukilan ungkapan "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" dan ungkapan-ungkapan serupa dari Umar sebagai mutawatir. Muhammad Jamil Hammud (lahir 1959 M), pensyarah dan peneliti kitab Abhā al-Midād juga dalam pengantarnya pada kitab ini, menyebut "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" sebagai mustafidh.

Dalam Puisi

Kalimat "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" juga digunakan dalam beberapa puisi Arab. Di antaranya:

Templat:Bait

Templat:Bait

Lau lā 'Aliyyun la-halaka Abū Bakrin wa 'Utsmānu

Dalam beberapa sumber, ungkapan serupa "Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Umar" juga dinukil mengenai Abu Bakar bin Abi Quhafah, khalifah pertama (Lau lā 'Aliyyun la-halaka Abū Bakrin) dan Utsman bin Affan, khalifah ketiga (Lau lā 'Aliyyun la-halaka 'Utsmānu). Atas dasar ini, mereka dalam banyak kasus di mana mereka tidak mampu menjawab masalah-masalah yang rumit dan Imam Ali (as) menjawab masalah-masalah tersebut, keduanya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 7, hlm. 424; Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 35 dan 36; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 306 dan jld. 10, hlm. 50; Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 111 dan 149.
  2. Sebagai contoh lihat: Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Ta'wil Mukhtalif al-Hadits, 1406 H, hlm. 152; Khwarazmi, Al-Manaqib, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 81; Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1103; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 18 dan 141 serta jld. 12, hlm. 179 dan 205; Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, 1419 H, jld. 12, hlm. 115 dan jld. 13, hlm. 213; Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 394; Hamu'i Juwayni, Fara'id al-Simthain, Muassasah Mahmudi, jld. 1, hlm. 337, 349-351.
  3. Ibnu Hanbal, Fadha'il al-Shahabah, 1403 H, jld. 2, hlm. 647; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 31.
  4. Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 397 dan 394; Khwarazmi, Al-Manaqib, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 101; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 360.
  5. Hamu'i Juwayni, Fara'id al-Simthain, Muassasah Mahmudi, jld. 1, hlm. 344 dan 446; Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 395; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 31 dan 361.
  6. Syekh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 477; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 361; Munawi, Faidh al-Qadir, 1356 H, jld. 4, hlm. 356.
  7. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 368; Syusytari, Ihaq al-Haq, 1409 H, jld. 8, hlm. 203.
  8. Thabari Amoli Shoghir, Dala'il al-Imamah, 1413 H, hlm. 21 dan 22; Ibnu Athiyyah, Abha al-Midad, 1423 H, jld. 2, hlm. 304; Hurr Amili, Itsbat al-Hudah, 1422 H, jld. 3, hlm. 360; Syusytari, Ihaq al-Haq, 1409 H, jld. 3, hlm. 102 dan jld. 31, hlm. 470-483.
  9. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1102 dan 1103; Khwarazmi, Al-Manaqib, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 80 dan 81.
  10. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 18.
  11. Khwarazmi, Al-Manaqib, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 80 dan 81; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 141; Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, Dar al-Uswah, jld. 1, hlm. 216.
  12. Hamu'i Juwayni, Fara'id al-Simthain, Muassasah Mahmudi, jld. 1, hlm. 346.
  13. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 1, hlm. 18; Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, Dar al-Uswah, jld. 1, hlm. 216 dan jld. 3, hlm. 146.
  14. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 31. Untuk mengetahui kasus-kasusnya lihat: Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 359-370.
  15. Lihat: Syusytari, Ihaq al-Haq, 1409 H, jld. 8, hlm. 182-236 dan jld. 17, hlm. 433-444 serta jld. 31, hlm. 470-483.
  16. Untuk kasus lainnya lihat: Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 390-399; Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 35 dan 36; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 2, hlm. 359-370.
  17. Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, 1419 H, jld. 12, hlm. 115 dan jld. 13, hlm. 213; Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 390; Khwarazmi, Al-Manaqib, Muassasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 81; Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 111.
  18. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1103; Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 392; Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, Dar al-Uswah, jld. 2, hlm. 172 dan 173; Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 111.
  19. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1102 dan 1103.
  20. Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 111.
  21. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1102 dan 1103; Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 395 dan 397; Hamu'i Juwayni, Fara'id al-Simthain, Muassasah Mahmudi, jld. 1, hlm. 344.
  22. Hamu'i Juwayni, Fara'id al-Simthain, Muassasah Mahmudi, jld. 1, hlm. 348.
  23. Thabari, Dzakha'ir al-'Uqba, 1428 H, jld. 1, hlm. 398.
  24. Kasy-syi, Rijal al-Kasy-syi: Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1409 H, hlm. 556.
  25. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 933.
  26. Kasy-syi, Rijal al-Kasy-syi, 1409 H, hlm. 40.
  27. "Riwayat Lau La Aliyyun (as) la-halaka Umar dar che manabe'i amadeh ast?" (Dalam sumber apa saja riwayat Lau La Aliyyun la-halaka Umar disebutkan?), Situs Lembaga Riset Hazrat Wali Ashr (aj).

Daftar Pustaka

  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah, Syarh Nahj al-Balaghah, riset Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahimi, Qom, Maktabah Ayatullah Mar'as-syi Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali, Taqrib al-Tahdzib, riset Muhammad 'Awamah, Suriah, Dar al-Rasyid, 1406 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad, Fadha'il al-Shahabah, riset Washiyullah Muhammad Abbas, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1403 H.
  • Ibnu Syahr Asyub Mazandarani, Muhammad bin Ali, Manaqib Ali Abi Thalib, Qom, Allamah, pertama, 1379 H.
  • Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ash-hab, riset Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H.
  • Ibnu Athiyyah, Muqatil, Abha al-Midad fi Syarh Mu'tamar Ulama' Baghdad, riset Jamil Hammud, Beirut, Muassasah al-A'lami, cetakan pertama, 1423 H.
  • Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Abdullah bin Muslim, Ta'wil Mukhtalif al-Hadits, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1406 H.
  • Amini, Mohammad Hadi, Ash-hab Amir al-Mu'minin (as) wa al-Ruwat 'anhu, Beirut, Dar al-Kutub al-Islami, tanpa tahun.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Ali, Itsbat al-Hudah, Beirut, Muassasah al-A'lami, cetakan pertama, 1422 H.
  • Hamu'i Juwayni, Ibrahim bin Muhammad, Fara'id al-Simthain, riset Muhammad Baqir Mahmudi, Muassasah Mahmudi, tanpa tahun.
  • Khwarazmi, Muwaffaq bin Ahmad, Al-Manaqib, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Syusytari, Qadhi Nurullah, Ihaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil, Qom, Maktabah Ayatullah Mar'as-syi Najafi, cetakan pertama, 1409 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, riset dan koreksi Ali Akbar Ghaffari, Qom, Daftar Entesharat-e Eslami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Thabari Amoli Shoghir, Muhammad bin Jarir bin Rustam, Dala'il al-Imamah, Qom, Ba'tsat, cetakan pertama, 1413 H.
  • Thabari, Muhibbuddin, Dzakha'ir al-'Uqba fi Manaqib Dzawi al-Qurba, Qom, Dar al-Kutub al-Islami, cetakan pertama, 1428 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qom, Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkam, Hasan Musawi Kharsan, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Ashimi, Ahmad bin Muhammad Ali, Al-Asal al-Mushaffa min Tahdzib Zain al-Fata fi Syarh Surah Hal Ata, Majma' Ihya al-Tsaqafah al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Nahj al-Haq wa Kasyaf al-Sidq, Beirut, Dar al-Kitab al-Libnani, cetakan pertama, 1982 M.
  • Qunduzi, Sulaiman bin Ibrahim, Yanabi' al-Mawaddah li-Dzawi al-Qurba, Qom, Dar al-Uswah, tanpa tahun.
  • Kasy-syi, Muhammad bin Umar dan Muhammad bin Hasan Thusi, Rijal al-Kasy-syi - Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, koreksi Hasan Mustafawi, Masyhad, Universitas Masyhad, cetakan pertama, 1409 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, riset dan koreksi Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam al-Syafi'i wa huwa Syarh Mukhtashar al-Muzani, riset Ali Muhammad Mu'awwad dan Adil Ahmad Abdul Maujud, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H.
  • Muthahhari, Murtadha, Siri dar Nahj al-Balaghah (Sekilas tentang Nahjul Balaghah), Penerbit Sadra, Tehran, 1379 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, Al-Ikhtishash, riset dan koreksi Ali Akbar Ghaffari dan Mahmoud Moharrami Zarandi, Qom, Al-Mu'tamar al-Alami li-Alfiyah al-Syaikh al-Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
  • Munawi, Zainuddin Muhammad, Faidh al-Qadir Syarh Jami' Shaghir, Mesir, Al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1356 H.


Templat:درجه‌بندی```