Lompat ke isi

Konsep:Khudu

Dari wikishia

Akhlak


Ayat-ayat Akhlak
Ayat-Ayat IfkAyat UkhuwahAyat Istirja'Ayat Ith'amAyat Naba'Ayat Najwa


Hadis-hadis Akhlak
Hadis ''Qurb Nawafil''Hadis Makarim AkhlakHadis MikrajHadis ''junud aql'' dan ''jahl''


Keutamaan-keutamaan Akhlak
Rendah HatiKepuasanDermawanMenahan AmarahIkhlasLembutZuhud


Keburukan-keburukan Moral
CongkakTamakHasudDustaGibahGunjingkikirMendurhakai orang tuaHadis ''Nafs''Besar DiriMengupingMemutus hubungan silaturahmiPenyebaran Kekejian


Istilah-istilah Akhlak
Jihad NafsNafsu LawamahNafsu AmarahJiwa yang tenangPerhitunganMuraqabahMusyaratahDosaPelajaran AkhlakRiadat


Ulama Akhlak
Mulla Mahdi NaraqiMulla Ahmad NaraqiSayid Ali QadhiSayid Ridha BahauddiniDastgheibMuhammad Taqi Bahjat


Sumber Referensi Akhlak

Al-Qur'anNahjul BalaghahMishbah al-Syari'ahMakarim al-AkhlaqAl-Mahajjah al-Baidha' Majmu'atu WaramJami' al-Sa'adatMi'raj al-Sa'adahAl-Muraqabat

Khudu' yang berarti rendah hati dan ketaatan kepada Allah, adalah dari makarim al-akhlaq. Istilah ini dalam ilmu akhlak juga didefinisikan sebagai penunjukan kekerdilan di hadapan Allah. Meskipun ketiga kata khudu', khusyuk, dan tawaduk, terkadang digunakan dalam satu makna, namun terdapat perbedaan-perbedaan halus di antara ketiganya.

Dalam ajaran-ajaran agama selain kepada Allah, ditekankan pula perlunya menjaga kerendahan hati di hadapan Nabi (saw), para Imam, fakih, guru, dan orang tua. Menjaga khudu' dalam ibadah-ibadah seperti salat dan tawaf serta di tempat-tempat seperti masjid-masjid dan tempat ziarah, dianggap sunah. Selain itu, berdasarkan riwayat-riwayat, khudu' di hadapan pemilik kekuasaan dan kekayaan termasuk di antara perilaku yang tercela dan merendahkan diri di hadapan penguasa yang zalim, dianggap sebagai dosa besar.

Menurut keyakinan para ulama Muslim, merenungkan keajaiban penciptaan, mengenali keagungan dan kekuasaan Ilahi, bergaul dengan ahli takwa, dan merutinkan salat, adalah dari faktor-faktor peningkat khudu' di hadapan Tuhan. Mereka meyakini, khudu' di hadapan Ilahi tidak hanya menghilangkan keangkuhan hawa nafsu, tetapi juga menyebabkan kedekatan kepada Allah, terkabulnya doa, dan lebih berdampaknya amal perbuatan.

Terminologi

Khudu' berarti rendah hati[1] dan ketaatan,[2] dan merupakan kebalikan dari takabur.[3] Dalam ilmu akhlak dan irfan hal ini diartikan sebagai menunjukkan kekerdilan di hadapan Allah[4] dan ketaatan kepada-Nya.[5]

Tiga kata khudu', khusyuk, dan tawaduk dianggap memiliki satu makna.[6] Meskipun demikian perbedaan-perbedaan di antara kosakata-kosakata ini telah dijelaskan.[7] Allamah Thabathaba'i penafsir Syiah, menganggap khudu' khusus untuk anggota tubuh dan khusyuk khusus untuk hati.[8] Untuk mendukung pandangan ini, dikatakan bahwa jika hati menjadi khusyuk karena wibawa dan keagungan Ilahi, maka setelah itu, tubuh pun akan menjadi khudu'.[9] Dalam kitab Al-Furuq fi al-Lughah juga, ditekankan perbedaan ini bahwa karena khusyuk disertai dengan rasa takut dan berasal dari lubuk hati, ia tidak memiliki sifat kaku dan dibuat-buat; tetapi dalam khudu' terkadang manusia merendahkan diri kepada seseorang yang tidak ia anggap lebih unggul; oleh karena itu mungkin saja hal itu terjadi dengan kaku dan karena paksaan.[10]

Mengenai perbedaan khudu' dan tawaduk juga dikatakan bahwa khudu' berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari tawaduk; karena dalam khudu', selain ketertundukan dan kerendahan hati, keadaan berserah diri juga tersembunyi.[11]

Khudu' sebagai keutamaan akhlak dan Al-Qur'an

Khudu', dianggap sebagai akhlak Qur'ani[12] dan termasuk dari makarim al-akhlaq.[13] Khudu' di hadapan Allah juga disebut dengan kata "qunut"[14] dan hal itu dianggap dari sifat-sifat orang yang bertakwa.[15]

Dalam dua ayat dari Al-Qur'an, kata-kata yang berakar dari khudu' digunakan;[16] satu kata "takhdha'na" dalam ayat 32 surah al-Ahzab (Wahai istri-istri Nabi! ... janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga merayu dalam perkataan), yang lain kata "khadhi'in" dalam ayat 4 surah asy-Syu'ara (Jika Kami kehendaki, sebuah mukjizat dari langit Kami turunkan kepada mereka, sehingga tengkuk mereka khudu' di hadapannya).[17]

Dalam sumber-sumber fikih juga telah dibicarakan mengenai hukum-hukum khudu' dalam bab-bab salat, haji dan perdagangan.[18]

Misdak-misdak dan hukum-hukum khudu'

Dalam ajaran-ajaran agama selain kepada Allah, ditekankan perlunya khudu' di hadapan Nabi Akram (saw), para Imam Maksum (as) dan juga kerendahan hati terhadap para ulama dan fakih pada masa kegaiban Imam.[19]

Berdasarkan riwayat-riwayat, tawaduk dan kerendahan hati di hadapan guru[20] dan orang tua[21] juga, dianggap dari anjuran-anjuran yang sangat ditekankan. Muhammad Baqir Majlisi (wafat: 1110 H) muhadis Syiah, di bawah ayat 24 surah al-Isra (وَ اخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ..), menganggap maksud dari "khafdh al-janah" di hadapan orang tua adalah, khudu' dalam perkataan dan perbuatan disertai dengan kebaikan dan kasih sayang terhadap mereka.[22] Selain itu berdasarkan sebuah riwayat,[23] kerendahan hati istri di hadapan suaminya dianggap dari perilaku-perilaku yang disukai.[24]

Para fakih juga menganggap menjaga khudu' dan khusyuk pada keadaan-keadaan berikut sebagai hal yang sunah:[25] saat hadir di masjid-masjid[26] dan tempat-tempat ziarah,[27] untuk menziarahi para Maksum (as),[28] waktu masuknya orang yang salat ke tempat salat,[29] dalam keadaan salat,[30] khususnya dalam keadaan berdiri yang mana mereka katakan orang yang salat dengan keadaan khudu' melihat ke tempat sujudnya[31] dan secara umum meninggalkan setiap perbuatan yang menghalangi khudu' di dalam salat.[32] Saat membaca Al-Qur'an dan mengucapkan zikir serta membaca doa,[33] saat pergi ke gurun untuk mendirikan salat hujan,[34] saat masuk ke Haram Makki, kota Mekah, Masjidil Haram[35] dan rumah Kakbah,[36] dan dalam tawaf.[37]

Celaan khudu' di hadapan pemilik kekuasaan dan kekayaan

Berdasarkan riwayat-riwayat, khudu' di hadapan pemilik kekuasaan dan kekayaan termasuk dari perilaku yang tercela telah dihitung.[38] Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq (as) khudu' di hadapan orang-orang kuat untuk mencapai harta dunia, dianggap faktor kemarahan Ilahi dan harta yang diperoleh dari jalan ini, dianggap tidak berkah.[39] Dalam hadis lain, kerendahan hati di hadapan individu-individu kaya dengan tujuan pemanfaatan dari harta mereka, diperkenalkan sebagai sebab kebinasaan dua pertiga agama manusia.[40]

Abdullah Mamaqani dari ulama Syiah pada abad keempat belas Hijriah, berdasarkan riwayat-riwayat,[41] menghitung khudu' di hadapan penguasa zalim dari dosa-dosa besar dan pekerjaan-pekerjaan haram, kecuali hal itu dari sisi takiyah.[42]

Cara-cara memperkuat khudu'

Berdasarkan beberapa sumber akhlak, peningkatan makrifat terhadap Tuhan sebagai suatu faktor untuk memperkuat khudu' di hadapan-Nya telah dikemukakan.[43] Ibrahim Amini (wafat: 1399 HS) dengan bersandar pada sebuah hadis dari Imam Shadiq (as),[44] mengetahui keagungan dan kekuasaan Ilahi menganggap sebagai pembentuk landasan khudu'.[45] Selain itu, Sayyid Abdul Husain Dastghaib (syahid: 1360 HS) merenung dalam keajaiban-keajaiban penciptaan dan pemahaman nikmat-nikmat Allah memperkenalkan penyebab peningkatan khudu'.[46]

Dari faktor-faktor efektif lain dalam pewujudan khudu', bergaul dengan ahli takwa,[47] pengulangan salat,[48] dan juga memperoleh ilmu serta iman pada keagungan Tuhan telah disebutkan.[49]

Dampak khudu' di hadapan Tuhan

Mulla Ahmad Naraqi dari ulama Syiah pada abad 13 Hijriah, khudu' di hadapan Allah menganggap sebagai sebuah jalan untuk menghilangkan kegelapan-kegelapan yang timbul dari keangkuhan hawa nafsu.[50] Imam Khumaini juga meyakini khudu' dan khusyuk, kesegaran rohani dan pendekatan diri pada Allah ada di baliknya.[51] Dalam sebagian dari riwayat-riwayat pun, khudu' dalam zahir dan khusyuk dalam batin, dari faktor-faktor terkabulnya doa telah dihitung.[52] Selain itu, kelangsungan khudu' di hadapan Ilahi telah mereka anggap sebagai penyebab berdampaknya yang lebih pada perbuatan-perbuatan.[53]

Catatan Kaki

  1. Ibn Manzhur, Lisan al-'Arab, pada kata "khadha'a".
  2. Ibn Atsir, An-Nihayah, pada kata "khadha'a".
  3. Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 197; Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami, Farhang-i Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 465.
  4. Ridhaye Ilahi, Rah-i Najat dar Du'a-yi Simat, 1388 HS, hlm. 173.
  5. Jurjani, Kitab at-Ta'rifat, 1370 HS, hlm. 44.
  6. Jurjani, Kitab at-Ta'rifat, 1370 HS, hlm. 44; Ibn Manzhur, Lisan al-'Arab, pada kata "khadha'a".
  7. Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami, Farhang-i Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 465.
  8. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 1, hlm. 152.
  9. Mujtahidah Amin, Makhzan al-'Irfan, 1361 HS, jld. 15, hlm. 116.
  10. Askari, Al-Furuq fi al-Lughah, 1400 H, hlm. 243-244.
  11. Mushthafawi, At-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, 1360 HS, jld. 3, hlm. 77.
  12. Syarbashi, Mausu'ah Akhlaq al-Qur'an, 1407 H, jld. 5, hlm. 161.
  13. Syarbashi, Mausu'ah Akhlaq al-Qur'an, 1407 H, jld. 2, hlm. 240.
  14. Ibn Humaid dan Ibn Malluh, Mausu'ah Nadhrah an-Na'im, 1426 H, jld. 8, hlm. 3179.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir-i Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 463.
  16. Abdul Baqi, Mu'jam al-Mufahras, 1374 HS, hlm. 298.
  17. Abdul Baqi, Mu'jam al-Mufahras, 1374 HS, hlm. 298.
  18. Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami, Farhang-i Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 465.
  19. Naraqi, Mi'raj as-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 305.
  20. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 36, hadis 1; Syaikh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 359, hadis 9; Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jld. 2, hlm. 75.
  21. Dinisbahkan kepada Imam Ridha (as), Al-Fiqh, 1406 H, hlm. 334; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 71, hlm. 76, hadis 72.
  22. Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 8, hlm. 391.
  23. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 508; Ibn Syahrasyub, Manaqib Al Abi Thalib (as), 1379 HS, jld. 1, hlm. 97.
  24. Tajlil Tabrizi, Mu'jam al-Mahasin wa al-Masawi, 1417 H, jld. 7, hlm. 318.
  25. Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami, Farhang-i Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 465.
  26. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 14, hlm. 121; Muntazhari, Risaleh Istifta'at, Qom, jld. 3, hlm. 323, pertanyaan 3584.
  27. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 20, hlm. 101; Muhaddits Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, 1405 H, jld. 17, hlm. 421; Allamah Hilli, Tazkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 8, hlm. 449.
  28. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 20, hlm. 101; Muhaddits Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, 1405 H, jld. 17, hlm. 421; Allamah Hilli, Tazkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 8, hlm. 449.
  29. Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jld. 1, hlm. 261; Syahid Awwal, Al-Alfiyyah wa an-Nafliyyah, 1408 H, hlm. 110.
  30. Kasyif al-Ghitha', Kasyaf al-Ghitha', 1422 H, jld. 3, hlm. 242.
  31. Muhaddits Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, 1405 H, jld. 8, hlm. 88.
  32. Bani Hasyimi Khumaini, Taudhih al-Masa'il-i Maraji', 1424 H, jld. 1, hlm. 631, masalah 1157.
  33. Kasyif al-Ghitha', Kasyaf al-Ghitha', 1422 H, jld. 3, hlm. 519.
  34. Syaikh Baha'i, Jami'-i Abbasi, Muassasah Mansyurat-i Farahani, hlm. 75.
  35. Naraqi, Mustanad asy-Syi'ah, 1415 H, jld. 12, hlm. 61; Syahid Awwal, Ad-Durus asy-Syar'iyyah, 1417 H, jld. 1, hlm. 392.
  36. Syaikh Baha'i, Jami'-i Abbasi, Muassasah Mansyurat-i Farahani, hlm. 131.
  37. Syahid Awwal, Ad-Durus asy-Syar'iyyah, 1417 H, jld. 1, hlm. 402.
  38. Tajlil Tabrizi, Mu'jam al-Mahasin wa al-Masawi, 1417 H, jld. 7, hlm. 495-496.
  39. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 105, hadis 3; Syaikh Shaduq, Al-Muqni', 1415 H, hlm. 539.
  40. Syaikh Mufid, Al-Amali, 1413 H, hlm. 188, hadis 15; Syaikh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 229; Warram, Majmu'ah-i Warram, 1410 H, jld. 2, hlm. 170.
  41. Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 11; Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal, 1406 H, hlm. 281.
  42. Mamaqani, Siraj asy-Syi'ah, 1388 HS, jld. 7, hlm. 621.
  43. Ansariyan, Irfan-i Islami, 1386 HS, jld. 13, hlm. 299; Imam Khumaini, Syarh-i Cihil Hadits, 1380 HS, hlm. 344.
  44. Dinisbahkan kepada Imam Shadiq (as), Misbah asy-Syari'ah, 1400 H, hlm. 56; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 90, hlm. 158, hadis 33.
  45. Amini, Khudsazi, 1375 HS, hlm. 208.
  46. Dastghaib, Akhlaq-i Islami, 1387 HS, hlm. 56.
  47. Naraqi, Jami' as-Sa'adat, Muassasah A'lami, jld. 1, hlm. 151.
  48. Imam Khumaini, Syarh-i Cihil Hadits, 1380 HS, hlm. 496.
  49. Imam Khumaini, Adab ash-Shalah, 1378 HS, hlm. 13-14.
  50. Naraqi, Mi'raj as-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 637.
  51. Imam Khumaini, Syarh-i Cihil Hadits, 1380 HS, hlm. 344.
  52. Ibn Fahd Hilli, Uddah ad-Da'i, 1407 H, hlm. 207; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 13, hlm. 361, hadis 33.
  53. Makarim Syirazi, Tafsir-i Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 395.

Daftar Pustaka

  • Abdul Baqi, Muhammad Fu'ad. Mu'jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karim. Teheran, Penerbit Islami, cetakan kedua, 1374 HS.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tahrir al-Ahkam asy-Syar'iyyah ala Mazhab al-Imamiyyah. Muhaqqiq dan musahih: Bahaduri, Ibrahim. Qom, Muassasah Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1420 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tazkirah al-Fuqaha. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1414 H.
  • Amini, Ibrahim. Khudsazi (ya Tazkiyeh wa Tahdzib-i Nafs) (Pembinaan Diri (atau Penyucian dan Perbaikan Jiwa)). Qom, Penerbit Syafaq, cetakan kedelapan, 1375 HS.
  • Ansariyan, Husain. Irfan-i Islami (Syarh-i Misbah asy-Syari'ah) (Irfan Islam (Syarah Misbah asy-Syari'ah)). Muhaqqiq: Faizpur, Muhsin; Shabiriyan, Muhammad Jawad. Qom, Penerbit al-'Irfan, cetakan pertama, 1386 HS.
  • Askari, Hasan bin Abdullah. Al-Furuq fi al-Lughah. Beirut, Penerbit al-Afaq al-Jadidah, cetakan pertama, 1400 H.
  • Bani Hasyimi Khumaini, Sayyid Muhammad Hasan. Taudhih al-Masa'il-i Maraji' (Penjelasan Masalah-masalah Marja). Qom, Kantor Penerbit Islami Jami'ah-i Mudarrisin-i Hauzah-i Ilmiyyah-i Qom, 1381 HS.
  • Bani Hasyimi Khumaini, Sayyid Muhammad Husain. Taudhih al-Masa'il-i Maraji' (Penjelasan Masalah-masalah Marja). Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan kedelapan, 1424 H.
  • Barqi, Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad bin Khalid. Al-Mahasin. Muhaqqiq dan musahih: Muhaddits, Jalaluddin. Qom, Penerbit al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, 1371 H.
  • Dastghaib, Abdul Husain. Akhlaq-i Islami (Akhlak Islam). Qom, Jami'ah-i Mudarrisin-i Hauzah-i Ilmiyyah-i Qom, cetakan keempat belas, 1387 HS.
  • Dinisbahkan kepada Imam Ridha (as), Ali bin Musa. Al-Fiqh al-Mansub li al-Imam ar-Ridha (as). Masyhad, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1406 H.
  • Dinisbahkan kepada Imam Shadiq (as), Ja'far bin Muhammad. Misbah asy-Syari'ah. Beirut, Penerbit A'lami, cetakan pertama, 1400 H.
  • Faiz Kasyani. Ghazaliyat, ghazal nomor 117. Tanggal akses: 27 Ordibehesht 1404 HS.
  • Ibn Atsir, Mubarak bin Muhammad. An-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar. Koreksi: Thanahi, Mahmud Muhammad. Qom, Penerbit Isma'iliyan, cetakan keempat, 1367 HS.
  • Ibn Fahd Hilli, Jamaluddin Ahmad bin Muhammad. Uddah ad-Da'i wa Najah as-Sa'i. Penerbit al-Kutub al-Islami, cetakan pertama, 1407 H.
  • Ibn Humaid, Shalih bin Abdullah dan Ibn Malluh, Abdurrahman bin Muhammad. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim (saw). Jeddah, Penerbit al-Wasilah, cetakan keempat, 1426 H.
  • Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Muhaqqiq dan musahih: Mirdamadi, Jamaluddin. Penerbit al-Fikr li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', Beirut, Penerbit Shadir, cetakan ketiga, 1414 H.
  • Ibn Syahrasyub Mazandarani. Manaqib Al Abi Thalib (as). Qom, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Imam Khumaini, Sayyid Ruhullah. Adab ash-Shalah. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr-i Atsar-i Imam Khumaini, cetakan ketujuh, 1378 HS.
  • Imam Khumaini, Sayyid Ruhullah. Syarh-i Cihil Hadits (Syarah Empat Puluh Hadis). Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr-i Atsar-i Imam Khumaini, cetakan keempat, 1380 HS.
  • Jurjani, Sayyid Syarif. Kitab at-Ta'rifat. Teheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan keempat, 1370 HS.
  • Kasyif al-Ghitha', Ja'far bin Khidhr. Kasyaf al-Ghitha' an Mubhamat asy-Syari'ah al-Gharra'. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan pertama, 1422 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Muhaqqiq dan musahih: Ghaffari, Ali Akbar; Akhundi, Muhammad. Teheran, Penerbit al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Penerbit Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Al ar-Rasul. Muhaqqiq dan musahih: Rasuli, Sayyid Hasyim. Teheran, Penerbit al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, 1404 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-i Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Penerbit al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mamaqani, Abdullah. Siraj asy-Syi'ah dar Adab asy-Syari'at (Pelita Syiah dalam Adab Syariat). Muhaqqiq: Fadhli, Ali. Qom, Risalat-i Ya'qubi, Qom, 1388 HS.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad. Syarh al-Kafi (Al-Ushul wa ar-Raudhah). Muhaqqiq dan musahih: Sya'rani, Abu al-Hasan. Teheran, Al-Maktabah al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1382 H.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih. Syarh al-Kafi. Teheran, Al-Maktabah al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1382 H.
  • Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami. Farhang-i Fiqh muthabiq ba Mazhab-i Ahlulbait 'Alaihimussalam (Kamus Fikih Menurut Mazhab Ahlulbait as). Qom, Muassasah Dairatul Ma'arif-i Fiqh-i Islami bar Mazhab-i Ahlulbait, 1387 HS.
  • Muhaddits Bahrani, Yusuf bin Ahmad. Al-Hada'iq an-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah ath-Thahirah. Muhaqqiq dan musahih: Irawani, Muhammad Taqi; Muqarram, Sayyid Abdurrazzaq. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan pertama, 1405 H.
  • Mujtahidah Amin, Sayyidah Nushrat. Makhzan al-'Irfan dar Tafsir-i Qur'an (Gudang Irfan dalam Tafsir Al-Qur'an), jld. 15, hlm. 116. Teheran, Nahdhat-i Zanan-i Musalman, 1361 HS.
  • Muntazhari, Husain Ali. Risaleh Istifta'at (Risalah Istifta). Qom, Bina, cetakan pertama, t.t.
  • Mushthafawi, Hasan. At-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Bungah-i Tarjumeh wa Nasyr-i Kitab, 1360 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Muhaqqiq dan musahih: Qucani, Abbas; Akhundi, Ali. Beirut, Penerbit Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Naraqi, Mulla Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mustanad asy-Syi'ah fi Ahkam asy-Syari'ah. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1415 H.
  • Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj as-Sa'adah. Tahkik: Muhammad Naqdi. Qom, Penerbit Hijrat, cetakan keenam, 1378 HS.
  • Naraqi, Mulla Mahdi. Jami' as-Sa'adat. Koreksi oleh Sayyid Muhammad Kalantar. Beirut, Muassasah A'lami, cetakan pertama, t.t.
  • Ridhaye Ilahi, Fadhlullah. Rah-i Najat dar Du'a-yi Simat (Jalan Penyelamatan dalam Doa Simat). Teheran, Sazman-i Tablighat-i Islami, 1388 HS.
  • Sana'i. Qasha'id, qasidah nomor 99. Tanggal akses: 27 Ordibehesht 1404 HS.
  • Sana'i. Thariq at-Tahqiq, bagian 49. Tanggal akses: 27 Ordibehesht 1404 HS.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Ad-Durus asy-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan kedua, 1417 H.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Alfiyyah wa an-Nafliyyah. Muhaqqiq: Fadhil Qa'ini dan Najafi, Ali. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan pertama, 1408 H.
  • Syaikh Baha'i; Sawaji, Nizham bin Husain. Jami'-i Abbasi wa Takmil-i An (Jami' Abbasi dan Pelengkapnya). Muhaqqiq dan musahih: Mahallati Ha'iri, Ali. Teheran, Muassasah Mansyurat-i Farahani, cetakan pertama, t.t.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Amali. Muhaqqiq dan musahih: Ustad Wali, Husain; Ghaffari, Ali Akbar. Qom, Kongres Syaikh Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Penerbit Kitabci, cetakan keenam, 1376 HS.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Muqni'. Qom, Muassasah Imam Mahdi (as), cetakan pertama, 1415 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Muhaqqiq dan musahih: Ghaffari, Ali Akbar. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal. Qom, Penerbit asy-Syarif ar-Radhi, cetakan kedua, 1406 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Penerbit ats-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
  • Syarbashi, Ahmad. Mausu'ah Akhlaq al-Qur'an. Beirut, Penerbit ar-Ra'id al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
  • Tajlil Tabrizi, Abu Thalib. Mu'jam al-Mahasin wa al-Masawi. Jami'ah-i Mudarrisin-i Hauzah-i Ilmiyyah-i Qom, Qom, cetakan pertama, 1417 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Kantor Penerbit Islami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Warram bin Abi Firas, Mas'ud bin Isa. Tanbih al-Khawatir wa Nuzhah an-Nawazir al-Ma'ruf bi Majmu'ah-i Warram. Maktabah al-Faqih, Qom, cetakan pertama, 1410 H.