Ibrahim bin Adham

Prioritas: c, Kualitas: a
Dari wikishia
Sahabat Imam
Ibrahim bin Adham
إبراهيم بن أدهم.jpg
Kuburan Ibrahim bin Adham di Syam
Nama Lengkap Ibrahim bin Adham bin Sulaiman bin Manshur al-Balkhi
Sahabat dari Imam Sajjad as, Imam Baqir as, dan Imam Shadiq as
Julukan Abu Ishak
Gelar Al-'Ijli
Lahir Balkh, 80 atau 100 H
Tempat Tinggal Balkh • Naisyabur • Mekkah • Syam
Wafat/Syahadah 160 H • 161 H • 162 H • 166 H
Penyebab
Wafat / Syahadah
Natural atau, menurut riwayat dalam perang melawan Romawi
Tempat dimakamkan Syam
Guru-guru besar Muhammad bin Ziyad al-Jumahi Abu Ishak • Malik bin Dinar • Al-A'masy
Murid-murid Syaqiq al-Balkhi


Ibrahim bin Adham (bahasa Arab: إبراهيم بن أدهم; Ibrāhīm bin Adham) adalah seorang arif besar yang hidup semasa dengan tiga imam Syiah: Imam Sajjad as, Imam Baqir as, dan Imam Shadiq as. Namanya tidak termaktub dalam kitab-kitab referensi kuno ilmu rijal. Akan tetapi, menurut pandangan sebagian ulama, ia adalah seorang Syiah yang beraliran sufi.

Ibrahim bin Adham berasal dari keluarga ternama dan penguasa kawasan Balkh. Akan tetapi, ia secara tiba-tiba beralih orientasi ke dunia kezuhudan (tidak terikat kepada dunia dan materi). Setelah bertobat, ia berangkat menuju Mekkah dan berjumpa dengan para pembesar sufi di kota ini, seperti Sufyan al-Tsauri dan Fudahil al-'Iyadh. Setelah beberapa waktu, ia berpindah ke Syam dan berdomisili di daerah ini hingga akhir usia. Ibrahim bin Adham dikenal sebagai sumber silsilah aliran-aliran tarekat sufi, seperti Tarekat Adhamiyyah dan Tarekat Naqsyabandiyyah.

Banyak karya di bidang irfan yang menjelaskan tentang biografi, nasehat serta sejarah perilaku dan perbuatan Ibrahim Adham. Ia berpandangan bahwa menikah dan mempunyai keturunan tidak sesuai dengan kezuhudan. Syaqiq al-Balkhi adalah salah satu murid Ibrahim Adham.

Biografi

Ibrahim bin Adham bin Sulaiman bin Manshur al-Balkhi adalah salah seorang tokoh sekte kezuhudan[1] dan arif pada abad kedua Hijriah.[2] Julukannya adalah Abu Ishak[3] dan disebut juga dengan al-'Ijli.[4] Ibrahim bin Adham dilahirkan dalam sebuah keluarga berkebangsaan Persia[5] atau bangsa Arab bani Tamim[6] di kota Balkh pada tahun 80 H[7] atau 100 H.[8] Kota Balkh kala itu termasuk dalam teritorial kekuasaan Khurasan.[9] Menurut keyakinan al-Dzahabi, penulis kitab Tarikh al-Islam, ia lahir di kota Mekkah ketika orang tuanya berkunjung ke kota ini untuk menjalankan ibadah haji.[10]

Ibrahim dan para leluhurnya termasuk amir,[11] penguasa,[12] dan pembesar kota Balkh.[13] Akan tetapi, menurut laporan sumber-sumber sejarah, ia meninggalkan takhta singgasana kemewahan, memilih hidup zuhud, melakukan suluk, dan memerangi hawa nafsu.[14]

Banyak buku dan kitab termasuk kitab dalam bidang irfan memuat biografi, perilaku, dan nasihat-nasihat Ibrahim bin Adham.[15] Sebagian sumber seperti Tadzkirat al-Auliya' karya Aththar Naisyaburi juga menyebutkan, Ibrahim bin Adham pernah berjumpa dengan Nabi Khidir as, dan juga mengetahui isim teragung ilahi (Ism al-A'dham).[16]

Memilih Zuhud

Sumber-sumber referensi keislaman menyebutkan aneka ragam faktor mengapa Ibrahim bin Adham lebih memilih zuhud dan meninggalkan dunia. Faktor-faktor ini antara lain adalah ia mendengar suara gaib ketika ingin berangkat berburu,[17] seekor rusa yang berbicara,[18] atau ia menyaksikan seorang pekerja kasar yang bisa menikmati hidup dengan fasilitas yang sangat minim.[19] Menurut pengakuan Ibrahim bin Adham sendiri, ia memilih zuhud dan meninggalkan dunia lantaran beberapa faktor ini: takut terhadap kesendirian di alam kubur, perjalanan panjang hari Kiamat dengan perbekalan yang tidak cukup, dan kemurkaan Allah swt sedangkan ia tidak memiliki alasan yang bisa diandalkan.[20] [catatan 1]

Dalam keyakinan Ibrahim bin Adham, diperlukan beberapa syarat untuk memasuki dunia zuhud dan menggapai peringkat orang-orang saleh. Antara lain adalah menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesengsaraan, menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu kesantaian dan membuka pintu usaha keras, menutup pintu tidur dan membuka pintu keterjagaan, menutup pintu ketidakbutuhan dan membuka pintu kebutuhan, serta menutup pintu angan-angan dan membuka pintu kematian.[21]

Menurut penilaian Muhsin Qara'ati, seorang penulis kontemporer, zuhud yang diinginkan oleh Ibrahim bin Adham bertentangan dengan arti zuhud yang didefinisikan oleh Islam[22] serta dilarang dan dicerca oleh Rasulullah saw.[23] Ibrahim menilai, pernikahan dan menghasilkan keturunan bertentangan dengan zuhud,[24] serta mengasingkan diri dari masyarakat adalah sesuatu yang wajib dilakukan.[25]

Hijrah ke Makkah dan Syam

Setelah bertobat, Ibrahim bin Adham berpindah ke kota Naisyabur. Ia berdiam diri selama 9 tahun di dalam gua di sebuah gunung yang bernama al-Batsra'.[26] Setelah itu, ia pergi ke Makkah.[27] Al-Dzahabi, seorang sejarawan Ahlusunah, menyebutkan, Ibrahim keluar dari kota Balkh karena takut kepada Abu Muslim al-Khurasani.[28] Di Mekah, ia berkenalan dengan para arif seperti Sufyan al-Tsauri dan Fudhail bin 'Iyadh.[29] Tidak lama berlalu, ia berpindah ke Syam.[30] Menurut para ulama, ia berhasil menyebarluaskan zuhud dan irfan di Syam.[31]

Wafat

Banyak sumber yang berbeda dalam mencatat tahun wafat Ibrahim bin Adham: 160 H,[32] 161 H,[33] 162 H,[34] atau 166 H.[35] Ia meninggal dunia secara natural.[36] Sekalipun demikian, sebagian ahli sejarah berkeyakinan, ia wafat dalam sebuah peperangan melawan bangsa Romawi[37] di daerah Suqain, sebuah daerah yang kala itu berada dalam kekuasaan imperium Romawi.[38] Kuburan Ibrahim bin Adham juga diperdebatkan. Menurut sebuah pandangan, ia dimakamkan di Shur, sebuah kota kawasan pantai di Syam.[39]

Kedudukan

Ibrahim bin Adham, di samping Hasan al-Bashri (w. 110 H), Malik bin Dinar, Rabi'ah al-'Adawiyyah, Syaqiq al-Balkhi, dan Makruf al-Karkhi (w. 200 H), termasuk tingkatan pertama irfan dan tasawuf dalam Islam.[40] [catatan 2] Menurut keyakinan sebagian ulama, nama sufi melejit terkenal pada masa hidup Ibrahim bin Adham.[41]

Para sufi asal Balkh, termasuk Ibrahim bin Adham, banyak terpengaruh oleh aliran tasawuf Bashrah. Untuk itu, mereka berlebihan dalam berzuhud, beribadah, takut, dan berkomitmen untuk hidup miskin.[42] Ibrahim bin Adham juga terpengaruh oleh tokoh-tokoh besar tasawuf seperti Hasan al-Bashri dan Sufyan al-Tsauri.[43] Sekalipun demikian, aliran tasawuf Syam juga sangat terpengaruh oleh Ibrahim bin Adham.[44] Perubahan dalam zuhud, ibadah, dan riadat-riadat sufi adalah manifestasi pengaruh Ibrahim ini.[45]

Ibrahim bin Adham juga adalah seorang muhadis.[46] Namanya sangat dipuji dalam kitab-kitab rijal Ahlusunah serta disebut sebagai sahabat Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsauri.[47] Abu Hanifah, pemimpin Mazhab Hanafiah,[48] dan Junaid al-Baghdadi menyebut Ibrahim bin Adham dengan julukan-julukan yang penuh penghormatan,[49] dan julukan-julukan ini juga banyak digunakan dalam syair-syair irfani para arif.[50] Akan tetapi, menurut Zainuddin al-Syirwani (1194-1253 H), seorang penulis dan penyair sufi, nama Ibrahim bin Adham tidak pernah disebutkan dalam kitab-kitab rijal Syiah terdahulu.[51] Sayid Muhsin al-A'raji al-Kazhimi (1130-1227 H), seorang fakih Syiah, menyebut Ibrahim bin Adham bersama Kumail bin Ziyad, Busyr bin Harits al-Mirwazi, dan Bayazid al-Basthami sebagai ahli ilmu rijal Syiah yang beraliran sufi.[52]

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai pencetus silsilah beberapa tarekat sufi.[53] Untuk itu, tarekat Adhamiyyah[54] dan Naqsyabandiyyah berkeyakinan bersambung kepada Imam Sajjad as melalui perantara Ibrahim ini.[55] [catatan 3]

Hubungan dengan Para Imam Maksum

Ibrahim bin Adham hidup semasa dengan Imam Sajjad as, Imam Baqir as, dan Imam Shadiq as. Sumber-sumber referensi juga mencatat hubungannya dengan para imam Syiah ini. Menurut sebagian sumber, ia senantiasa menjalin hubungan dekat Imam Sajjad as.[56] Pertemuan Ibrahim bin Adham dengan Imam Zainal Abidin as, serta wejangan beliau untuknya juga termaktub dalam sumber-sumber referensi Syiah.[57]

Zainal Abidin al-Syirwani menyebutkan, Ibrahim bin Adham pernah berjumpa dengan Imam Baqir as,[58] dan Muhammad Kazhim Asrar Tabrizi (1265-1315 H), seorang penyair dan sufi di masa dinasti Qajar, menyebut Ibrahim bin Adham termasuk salah seorang pengikut setia Imam Baqir as.[59] Beberapa hadis Imam Baqir as disebutkan dalam kitab-kitab referensi hadis melalui riwayat Ibrahim bin Adham.[60]

Dalam kitab Safinat al-Bihar dan beberapa sumber yang lain diriwayatkan, ketika Imam Shadiq as ingin keluar dari Kufah menuju Madinah, Ibrahim bin Adham turut mengantar beliau.[61] Menurut beberapa sumber yang lain, ia termasuk salah seorang khadim (pelayan) Imam Shadiq as.[62]

Guru dan Murid

Ibrahim bin Adham meriwayatkan hadis dari Imam Baqir as, Muhammad bin Ziyad al-Jumahi, Abu Ishak, Malik bin Dinar, al-A'masy, dan ayahnya sendiri.[63]

Murid Ibrahim bin Adham yang paling masyhur adalah Syaqiq al-Balkhi yang juga merupakan arif besar dan murid Imam Kazhim as.[64] Menurut pandangan yang masyhur,[65] Syaqiq adalah hasil didikan langsung Ibrahim bin Adham,[66] atau sahabat seperjuangannya.[67]

Dalam Syair dan Sastra

Metode hidup, perilaku, dan nasihat-nasihat Ibrahim bin Adham terefleksikan dalam syair-syair yang dilantunkan oleh para penyair, terutama para arif, secara luas. Semua ini terjelmakan dalam syair-syair dengan aneka ragam tema, seperti biografi,[68] kisah tobat dan memilih zuhud,[69] faktor hijrah,[70] perjumpaan dengan Nabi Khidir as,[71] putra kita,[72] munajat,[73] keramat,[74] hikayat,[75] dan tema-tema yang lain.

Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Al-Sahruwardi, 'Awārif al-Ma'ārif, 1375 S, hlm. 4.
  2. Thabathaba'i, Syi'eh dar Eslām, 1378 S, hlm. 110.
  3. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15; al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, 1375 S, hlm. 128.
  4. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 1407 H, jld. 1, hlm. 135.
  5. Pirjamal Ardestani, Mir'at al-Afrad, 1371 S, hlm. 332.
  6. Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1413 H, jld. 10, hlm. 44; Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 129.
  7. Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 129.
  8. Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', 1406 H, jld. 7, hlm. 387-388.
  9. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15.
  10. Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1413 H, jld. 10, hlm. 45.
  11. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15.
  12. Mutahhari, Majmū'eh-ye Ātsār, 1377 S, hlm. 48.
  13. Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1413 H, jld. 10, hlm. 45; al-Kharazmi, Yanbūʻ al-Asrār, 1384 S, jld. 1, hlm. 377.
  14. Sajjadi, Farhangg-e Maʻāref-e Eslāmī, 1373 S, jld. 1, hlm. 126; Mutahhari, Majmū'eh-ye Ātsār, 1377 S, hlm. 327.
  15. Sebagai contoh, silakan rujuk: Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā’, 1905 M, hlm. 94; Qusyairi, Risālah Qusyairiyyah, 1374 S, hlm. 345, 430, dan 455; al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, 1375 S, hlm. 129; al-Mustamili al-Bukhari, Syarh al-Taʻarruf li Madzhab al-Tashawwuf, 1363 S, jld. 1, hlm. 226; al-Nasafi, Rāz-e Rabbāniy-e Asrārul Wahy-e Subhānī, 1378 S, hlm. 127 dan 163; Sahruwardi, ‘Awārif al-Maʻārif, 1375 S, hlm. 3; al-Ghazali, Terjemah kitab Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, 1386 S, jld. 3, hlm. 185; al-Sullami, Majmūʻat Ātsār al-Sullami, 1369 S, jld. 1, hlm. 366; al-Ghazali, Kimiya-ye Saʻādat, 1383 S, jld. 1, hlm. 363; al-Meibudi, Kasyf al-Asrār wa ‘Uddat al-Abrār, 1371 S, jld. 5, hlm. 451; al-Samʻani, Ruh al-Arwah fi Syarh Asma’ al-Malik al-Fattah, 1384 S, hlm. 169 dan 513; Anshariyan, Erfan-e Eslami, 1386 S, jld. 2, hlm. 462; Mesykini, Nasayeh wa Sokhanan-e Chahardah Ma'shum wa Hezar-o-yek Sokhan, 1382 S, hlm. 165; Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 92; Faidh Kasyani, Rah-e Rousyan, 1372 S, jld. 5, hlm. 220; al-Dailami, Terjemah Irsyad al-Qulub, 1349 S, jld. 2, hlm. 277; al-Karajiki, Nuzhat al-Nawazhir fi Tarjumat Maʻdan al-Jawāhir, Teheran, hlm. 77; Jami, Nafahat al-Uns, 1858 M, hlm. 4.
  16. Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā', 1905 M, hlm. 88; al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 11; Ibnu Khamis al-Mushili, Manaqib al-Abrar wa Mahasin al-Akhyar fi Thabaqat al-Shufiyyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 51.
  17. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 1407 H, jld. 1, hlm. 135; Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15; Ibnu al-Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya', 1427 H, hlm. 37; al-Manawi, al-Kawakib al-Durriyyah di Tarajum al-Sadah al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, hlm. 195; Zaqzuq, Mausuʻat al-Tashawwuf al-Islami, 1430 H, hlm. 202; Ibnu Khamis al-Mushili, Manaqib al-Abrar wa Mahasin al-Akhyar fi Thabaqat al-Shufiyyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 51.
  18. Al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, 1375 S, hlm. 128.
  19. Mazhahiri, Akhlaq wa Jawan, 1387 S, jld. 1, hlm. 103.
  20. Mesykini, Nasayeh wa Sokhanan-e Chahardah Ma'shum wa Hezar-o-yek Sokhan, 1382 S, hlm. 165.
  21. Al-Sahruwardi, 'Awārif al-Ma'ārif, 1375 S, hlm. 3.
  22. Qara'ati, Gonah-syenasi, 1386 S, hlm. 197.
  23. Qara'ati, Gonah-syenasi, 1386 S, hlm. 197.
  24. Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā, 1905 M, hlm. 93; Kasyani, Majmu'eh-ye Rasa'el wa Mushannafat Kasyani, 1380 S, hlm. 54; Syahid Tsani, Munyat al-Murid, 1409 H, hlm. 228; Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 92.
  25. Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 92.
  26. Al-Zubaidi, Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus, 1414 H, jld. 6, hlm. 47.
  27. Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā', 1905 M, hlm. 87.
  28. Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1413 H, jld. 10, hlm. 44.
  29. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15; Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 129.
  30. Ibnu al-Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya, 1427 H, hlm. 37.
  31. Lembaga Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Budaya Islam Hasanat Isfahan, Seiri dar Sepehr-e Akhlaq, 1389 S, jld. 1, hlm. 107.
  32. Al-Kharazmi, Yanbū' al-Asrār, 1384 S, jld. 1, hlm. 377.
  33. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 15; Ibnu al-Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya’, 1427 H, hlm. 39; Ruzbehan Tsani, Tuhfat Ahl al-'Irfan, 1382 S, hlm. 21.
  34. Ibnu 'Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 282; Pirjamal Ardestani, Mir'at al-Afrad, 1371 S, hlm. 332.
  35. Al-Kharazmi, Yanbū' al-Asrār, 1384 S, jld. 1, hlm. 377.
  36. Al-Kharazmi, Yanbū' al-Asrār, 1384 S, jld. 1, hlm. 377, menukil dari Tadzkirat al-Auliya'.
  37. Ruzbehan Tsani, Tuhfat Ahl al-'Irfan, 1382 S, hlm. 21.
  38. Al-Zubaidi, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, 1414 H, jld. 13, hlm. 232; Al-Kharazmi, Yanbū' al-Asrār, 1384 S, jld. 1, hlm. 377.
  39. Ibnu al-Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya', 1427 H, hlm. 39. Untuk mengetahui pandangan yang lain, silakan rujuk al-Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 31.
  40. Ahmadpur, Ketab-syenakht-e Akhlaq-e Eslami, laporan analisis tentang warisan aliran-liran akhlak Islam, 1385 S, hlm. 37.
  41. Ahmadpur, Ketab-syenasi-ye Akhlaq-e Eslami, laporan analistis tentang warisan aliran-liran akhlak Islam, 1385 S, hlm. 37.
  42. Al-Sullami, Majmū'at Ātsār Abu Abdirrahman al-Sullami, 1369 S, jld. 1, hlm. 385.
  43. Lembaga Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Budaya Islam Hasanat Isfahan, Seiri dar Sepehr-e Akhlaq, 1389 S, jld. 1, hlm. 107.
  44. Lembaga Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Budaya Islam Hasanat Isfahan, Seiri dar Sepehr-e Akhlaq, 1389 S, jld. 1, hlm. 107.
  45. Lembaga Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Budaya Islam Hasanat Isfahan, Seiri dar Sepehr-e Akhlaq, 1389 S, jld. 1, hlm. 107.
  46. Ensiklopedia Besar Islam, jld. 1, hlm. 405, kosa kata Ibrahim bin Adham.
  47. Al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 12.
  48. Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā’, 1905 M, hlm. 86.
  49. Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā’, 1905 M, hlm. 85.
  50. Al-Asiri al-Lahiji, Asrar al-Syuhud fi Maʻrifat al-Haqq al-Ma'bud, n.d., hlm. 182.
  51. Al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 11.
  52. Al-A'raji al-Kazhimi, 'Uddat al-Rijal, 1415 H, jld. 2, hlm. 60.
  53. Al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 7; Mirza Syirazi, Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah, 1363 S, jld. 1, hlm. 645.
  54. Gulpinarli, Maulana Jalaluddin, 1363 S, hlm. 246; Masykur, Farhangg-e Feraq-e Eslami, 1372 S, hlm. 309.
  55. Mirza Syirazi, Manahij Anwar al-Maʻrifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah, 1363 S, jld. 1, hlm. 645.
  56. Al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 190.
  57. Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 1 , hlm. 118; al-Qummi, Safinat al-Bihar, 1414 H, jld. 1, hlm. 289.
  58. Al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 190.
  59. Al-Tabrizi, Manzhar al-Auliya', 1388 S, hlm. 140.
  60. Ibnu Thawus, Muhaj al-Da'awat wa Manhaj al-'Ibadat, 1411 H, hlm. 75.
  61. Al-Qummi, Safinat al-Bihar, 1414 H, jld. 1, hlm. 289; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 241.
  62. Al-Jaza'iri, Riyadh al-Abrar fi Manaqib al-A'imma al-Athhar, 1427 H, jld. 2, hlm. 136; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 248; al-Majlisi, Zendegani-ye Hazrat-e Emam Shadiq as, 1398 H, hlm. 22.
  63. Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1413 H, jld. 10, hlm. 44.
  64. Sajjadi, Farhangg-e Maʻāref-e Eslāmī, 1373 S, jld. 1, hlm. 106.
  65. Faqir Estahbanati, Khārābāt, 1377 S, hlm. 124.
  66. Shafi Alisyah, ‘Irfan al-Haqq, 1371 S, hlm. 121; Mutahhari, Majmū’eh-ye Ātsār, 1377 S, hlm. 48.
  67. Al-Sullami, Thabaqāt al-Shūfiyyah, 1424 H, hlm. 18.
  68. Syah Ni'matullah Wali, Diwan-e Syah Ni'matullah Wali, 1380 S, hlm. 996; Aththar Naisyaburi, Elahi-nameh-ye Aththar, 1355 H, hlm. 21; Al-Asiri al-Lahiji, Asrar al-Syuhud fi Maʻrifat al-Haqq al-Ma'bud, n.d., hlm. 182.
  69. Khalkhali, Rasa'el-e Farsi-ye Adham Khalkhali, 1381 S, hlm. 141.
  70. Maulawi, Matsnawi Maulawi, 1373 S, hlm. 520.
  71. Aththar Naisyaburi, Elahi-nameh-ye Aththar, 1355 H, hlm. 277.
  72. Aththar Naisyaburi, Manthiq al-Thair, 1373 H, hlm. 232.
  73. Aththar Naisyaburi, Elahi-nameh-ye Aththar, 1355 H, hlm. 402.
  74. Maulawi, Matsnawi Maulawi, 1373 S, hlm. 279.
  75. Aththar Naisyaburi, Mushibat-nameh, 1354 H, hlm. 225; Maulawi, Diwan-e Kabir-e Syams, 1384 S, hlm. 717; Aththar Naisyaburi, Elahi-nameh-ye Aththar, 1355 H, hlm. 69; Faidh Kasyani, Diwan-e Faidh Kasyani, 1381 S, jld. 4, hlm. 79; Aththar Naisyaburi, Mazhhar al-'Aja'ib wa Mazhhar al-Asrar, 1323 S, hlm. 98; Faidh Kasyani, Erfan-e Matsnawi, 1379 S, hlm. 178.
  1. Masih terdapat faktor-faktor lain yang mendorong Ibrahim bin Adham untuk memilih zuhud. Untuk informasi lebih detail, silakan rujuk: Aththar Naisyaburi, Tadzkirat al-Auliyā’, 1905 M, hlm. 86; Fathimi, Ganineh-ye Akhlaq, Jami’ al-Durar Fathimi, 1384 S, jld. 2, hlm. 154; al-Mustamili al-Bukhari, Syarh al-Ta'arruf li Madzhab al-Tashawwuf, 1363 S, jld. 1, hlm. 202.
  2. Sekalipun demikian, menurut keyakinan sebagian ulama, sebagian sahabat Imam Ali as, seperti Salman al-Farisi, Uwais al-Qarani, Kumail bin Ziyad, Rasyid al-Hijri, dan Maitsam al-Tammar, berada dalam tingkatan pertama irfan. Para arif meletakkan figur-figur agung ini berada di atas silsilah mereka (Thabathaba'i, Syi'eh dar Eslam, 1378 S, hlm. 110).
  3. Sebagian ulama berkeyakinan, Ibrahim bin Adham dalam tarekat memiliki silsilah kepada Imam Ali as melalui Fudhail bin 'Iyadh, dari Fudhail melalui Abdulwahid bin Zaid, dari Abdulwahid melalui Kumail bin Ziyad, dan dari Kumail kepada Amirul Mukminin as (al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 38). Tarekat Chasytiyyah menerima silsilah ini (al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 38). Meskipun sebagian ulama berkeyakinan, Adhamiyyah dan Chasytiyyah bersambung kepada Imam Baqir as melalui Ibrahim bin Adham (al-Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 S, jld. 1, hlm. 38; al-Syirwani, Bustan al-Siyahah, 1315 S, jld. 1, hlm. 347). Begitu pula, tarekat Husainiyyah bersambung kepada Imam Baqir as melalui Ibrahim bin Adham (al-Syirwani, Bustan al-Siyahah, 1315 S, jld. 1, hlm. 346).

Referensi

  • Ibnu al-Mulaqqin, Umar bin Ali al-Mishri. (cet. 2, 1427 H). Thabaqat al-Auliya', Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Ibnu Khamis al-Mushili, Husain bin Nashr bin Muhammad. (1427 H). Manaqib al-Abrar wa Mahasin al-Akhyar fi Thabaqat al-Shufiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Ibnu Syahr Asyub al-Mazandarani, Muhammad bin Ali. (1379 H). Manaqib Al Abi Thalib, Qom: Allameh.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. (1411 H). Muhaj al-Da'awat wa Manhaj al-'Ibadat, Qom: Dar al-Dzakha'ir.
  • Ibnu ‘Imad al-Hanbali, Abul Falah Syihabuddin. (1406 H). Syadzarat al-Dzahab fi Akhbari Man Dzahab, diteliti ulang oleh al-Arna'uth, Beirut: Dar Ibnu Katsir.
  • Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ismail bin Umar. (1407 H). Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Beirut: Dar al-Fikr.
  • Ahmadpur, Mahdi. (1385 S). Ketab-syenasi-ye Akhlaq-e Eslami, Qom: Pusat Penelitian Ilmu dan Budaya Islam.
  • Al-Asiri al-Lahiji, Muhammad. (n.d.). Asrar al-Syuhud fi Ma'rifat al-Haqq al-Maʻbud, n.p.
  • Al-Aʻraji al-Kazhimi, Muhsin bin Hasan. (1415 H). 'Uddat al-Rijal, Qom: Ismailiyan.
  • Anshariyan, Husain. (1386 S). Erfan-e Eslami: Syarh Mishbah al-Syari'ah, Qom: Dar al-'Irfan.
  • Pirjamal Ardestani. (cet. 1, 1371 S). Mir'at al-Afrad, Teheran: Penerbit Zuwwar.
  • Al-Tabrizi, Muhammad Kazhim bin Muhammad. (1388 S). Manzhar al-Auliya’, Teheran: Perpustakaan dan Pusat Dokumen Majelis Syura Islami.
  • Jami, Abdurrahman. (1858 M). Nafahat al-Uns, Kalkutta: Penerbit Laisi.
  • Al-Jaza'iri, Ni'matullah bin Abdullah. (1427 H). Riyadh al-Abrar fi Manaqib al-A'imma al-Athhar, Beirut: Muassasah al-Tarikh al-'Arabi.
  • Al-Kharazmi, Kamaluddin Husain. (1384 S). Yanbū' al-Asrār, Teheran: Asosiasi Warisan dan Kebanggaan Budaya.
  • Ensiklopedia Besar Islam. (1374 S). Teheran: Pusat Ensiklopedia Besar Islam.
  • Al-Dailami, Hasan bin Muhammad. (1349 S). Terjemah Irsyad al-Qulub, Teheran: Toko Buku Jamhari.
  • Al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. (1413 H). Tārīkh al-Islām wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam, diteliti ulang oleh Umar Abdussalam al-Tadmuri, Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi.
  • Mirza Syirazi, Abul Qasim. (cet. 2, 1363 S). Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah, Teheran: Khan-qah Ahmadi.
  • Ruzbehan Tsani, Ibrahim bin Shadruddin. (cet. 2, 1382 S). Tuhfat Ahl al-'Irfan, Teheran: Yalda Qalam.
  • Al-Zubaidi, Muhammad Murtadha. (1414 H). Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut: Dar al-Fikr.
  • Al-Zirikli, Khairuddin. (1989 M). Al-A'lam, Beirut: Dar al-Malayin.
  • Zaqzuq, Mahmud Hamdi. (1430 H). Mausu'at al-Tashawwuf al-Islami, Kairo: Kementerian Wakaf Mesir.
  • Sajjadi, Sayyid Ja'far. (1373 S). Farhangg-e Ma'āref-e Eslāmī, Teheran: Penerbit Universitas Teheran.
  • Al-Sullami, Muhammad bin Husain. (cet. 2, 1424 H). Thabaqāt al-Shūfiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Al-Sullami, Muhammad bin Husain. (1369 S). Majmū'at Ātsār al-Sullami, Teheran: Markas Penerbitan Danesygahi.
  • Al-Samʻani, Ahmad. (cet. 2, 1384 S). Ruh al-Arwah fi Syarh Asma' al-Malik al-Fattah, Teheran: Entesyarat-e 'Elmi wa Farhanggi.
  • Al-Sahruwardi, Syihabuddin Abu Hafsh. (1375 S). ‘Awārif al-Ma'ārif, terjemah Abu Manshur al-Isfahani, Teheran: Entesyarat-e 'Elmi wa Farhanggi.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. (1409 H). Munyat al-Murid, Qom: Maktabah al-I'lam al-Islami.
  • Al-Syirwani, Zainul Abidin. (1361 S). Riyadh al-Siyahah, Teheran: Entesyarat-e Sa'di.
  • Shafi Alisyah, Muhammad Hasan bin Muhammad Baqir. (cet. 2, 1371 S). ‘Irfan al-Haqq, Teheran: Shafi Alisyah.
  • Thabathaba'i, Muhammad Husain. (cet. 13, 1378 S). Syiʻeh dar Eslām', Qom: Daftar-e Nasyr-e slami.
  • Aththar Naisyaburi, Fariduddin. (cet. 1, 1905 M). Tadzkirat al-Auliyā’, Percetakan Liden.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (cet. 11, 1383 S). Kimiya-ye Saʻādat, Teheran: Entesyarat-e 'Elmi Farhanggi.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (cet. 6, 1386 S). Ihya' 'Ulum al-Din, terjemah Mu'yyiduddin al-Kharazmi, Teheran: Entesyarat-e 'Elmi Farhanggi.
  • Faqir Estahbanati, Ali. (1377 S). Khārābāt dar Bayan-e Hekmat, Syoja'at, Effat, wa Edalat, Teheran: Ayeneh-ye Mirats.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. (1372 S). Rah-e Rousyan, Masyhad: Astaneh-ye Qods-e Rezawi.
  • Qara'ati, Muhsin. (cet. 8, 1386 S). Gonah-syenasi, Teheran: Pusat Budaya Darshai az Quran.
  • Qusyairi, Abul Qasim Abdulkarim. (cet. 4, 1374 S). Risālah Qusyairiyyah, Teheran: Teheran: Entesyarat-e 'Elmi wa Farhanggi.
  • Al-Qummi, Abbas. (1414 H). Safinat al-Bihar, Qom: Usweh.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. (cet. 2, 1380 S). Majmu'eh-ye Rasa'el wa Mushannfat-e Kasyani, Teheran: Mirats-e Maktub.
  • Lembaga Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Budaya Islam Hasanat Isfahan. (1389 S). Seiri dar Sepehr-e Akhlaq, Qom: Shahifeh-ye Kherad.
  • Al-Karajiki, Muhammad bin Ali. (n.d.). Nuzhat al-Nawazhir fi Tarjumat Ma'dan al-Jawāhir, Teheran: Eslamiyyeh.
  • Gulpinarli, Abdulbaqi. (cet. 3, 1363 S). Maulana Jalaluddin, terjemah Taufik Subhani, Teheran: Yayasan Riset Kebudayaan.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. (cet. 2, 1398 H). Zendegani-ye Hazrat-e Emam Shadiq as, terjemah Musa Khosrawi, Teheran: Eslamiyyeh.
  • Al-Mustamili al-Bukhari, Ismail. (1363 S). Syarh al-Taʻarruf li Madzhab al-Tashawwuf, Teheran: Entesyarat-e Asathhir.
  • Masykur, Muhammad Jawad. (cet. 2, 1372 S). Farhang-ge Feraq-e Eslami, Masyhad: Astanh-ye Qods-e Rezawi.
  • Mesykini Ardebili, Ali. (cet. 24, 1382 S). Nasayeh wa Sokhanan-e Chahardah Ma'shum wa Hezar-o-yek Sokhan, Qom: Nasyr al-Hadi.
  • Mutahhari, Murtadha. (cet. 8, 1377 S). Majmū’eh-ye Ātsār, Teheran: Shadra.
  • Mazhahiri, Husain. (cet. 4, 1387 S). Akhlaq wa Jawan, Qom: Syafaq.
  • Al-Manawi, Muhammad Abdurra'uf. (1999 M). Al-Kawakib al-Durriyyah di Tarajum al-Sadah al-Shufiyyah, Beirut: Dar al-Shadir.
  • Al-Meibudi, Abul Fadhl Rasyiduddin. (cet. 5, 1371 S). Kasyf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār, Teheran: Entesyarat-e Amir Kabir.
  • Al-Nasafi, Azizuddin. (1378 S). Rāz-e Rabbāniy-e Asrārul Wahy-e Subhānī, Teheran: Entesyarat-e Amir Kabir.
  • Namazi Syahrudi, Ali. (1414 H). Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, Teheran: putra penulis.
  • Al-Hujwiri, Abul Hasan Ali. (cet. 4, 1375 S). Kasyf al-Mahjub, Teheran: Thahuri.