Konsep:Ayat Ruh
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Ruh |
| Surah | Al-Isra' |
| Ayat | 85 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Jawaban atas pertanyaan kaum musyrik terkait ruh |
| Tempat Turun | Madinah atau Mekah |
| Tentang | Ruh |
| Deskripsi | Hakikat Ruh |
Ayat Ruh adalah ayat ke-85 dari Surah Al-Isra' yang turun sebagai jawaban atas pertanyaan kaum musyrik Mekah tentang hakikat roh. Dalam ayat ini, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw bahwa roh adalah termasuk urusan Tuhan dan tidak ada seorang pun selain Allah yang mengetahui hakikatnya, dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan mengenai hal ini.
Beberapa mufasir meyakini bahwa ayat ini adalah jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi atau orang-orang Quraisy tentang roh, dan tujuan dari tidak adanya penjelasan lebih lanjut adalah untuk mendorong orang-orang agar berpikir atau mencegah perdebatan yang tidak bermanfaat.
Terdapat perbedaan pendapat mengenai sebab turunnya ayat ini; sebagian menganggapnya Madani dan sebagian lainnya menganggapnya Makki. Bagaimanapun juga, orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi saw tentang roh untuk mengujinya, dan ayat tersebut memberikan jawaban secara singkat.
Roh memiliki berbagai makna dalam Al-Qur'an, di antaranya roh ilahi yang memperkuat para nabi, atau Jibril as yang juga disebut sebagai Ruhulkudus. Pada ayat 85 Surah Al-Isra', para mufasir telah mengemukakan berbagai pandangan mengenai makna roh, di antaranya adalah bahwa roh merupakan makhluk dari alam perintah (alam amr) ilahi atau sebagai kekuatan yang memberikan kehidupan.
Pengenalan dan Teks Ayat
Ayat 85 Surah Al-Isra' yang dikenal sebagai Ayat Ruh,[1] membahas tentang keagungan roh dan mengisyaratkan keterbatasan pengetahuan manusia dalam hal ini.[2] Menurut para mufasir, seruan (khithab) Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi saw[3] atau orang-orang Yahudi[4] atau seluruh umat manusia.[5] Ayat ini adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat, kualitas,[6] huduts (kebaruan) dan qidam (ketiadaan permulaan)[7] atau apakah roh itu berupa materi (jisim) atau aksiden ('aradh).[8] Allah dalam ayat ini menekankan[9] bahwa manusia tidak mampu memahami hakikat roh secara sempurna[10] dan hanya Allah yang memiliki pengetahuan tentangnya.Templat:Catatan Beberapa peneliti meyakini bahwa roh jauh lebih halus daripada materi, dan karena alasan ini memahaminya adalah hal yang mustahil bagi manusia.[11]
| “ | وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
|
” |
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan: "Roh itu dari perkara urusan Tuhanku; dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sahaja".
Menurut para mufasir, Nabi saw diperintahkan untuk memperkenalkan roh secara singkat sebagai bagian dari alam perintah (alam amr)[12]Templat:Catatan dan sebagai tanggapan atas klaim Yahudi yang merasa mengetahui segalanya, beliau memperkenalkan bahwa pengetahuan tentang hakikat roh sangatlah sedikit dan kecil.[13] Sebagian orang meyakini bahwa tidak adanya jawaban yang terperinci adalah karena adanya maslahat (kebaikan) agar manusia merenungkan hal ini[14] dan sebagian lainnya menganggap pemahaman akan masalah yang begitu rumit tidaklah mendesak dan tugas para nabi hanyalah untuk menyampaikan (tablig).[15]
Asbabun Nuzul
Mengenai sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat 85 Surah Al-Isra', terdapat perbedaan pendapat di antara para mufasir.[16] Beberapa pihak menganggap ayat ini sebagai ayat Madaniyah[17] dan meyakini bahwa Ahli Kitab[18] atau orang-orang Yahudi di Madinah bertanya kepada Nabi saw mengenai hakikat roh.[19] Beberapa lainnya menganggap ayat ini sebagai ayat MakkiyahTemplat:Catatan dan meyakini bahwa sebagian pemuka Quraisy[20] seperti Abu Jahal,[21] Nadhar bin Harits, dan Uqbah bin Abi Mu'aith pergi ke Madinah dan berkonsultasi dengan orang-orang Yahudi mengenai Nabi Islam saw dan klaim kenabiannya.[22] Orang-orang Yahudi meminta mereka untuk bertanya kepada Nabi saw tentang roh untuk mengujinya. Dikatakan bahwa jika Nabi memberikan banyak informasi tentang roh, maka ia adalah seorang pendusta karena hal-hal semacam itu tidak terdapat dalam kitab-kitab mereka.[23]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang-orang Yahudi meminta kaum Quraisy untuk mengajukan tiga pertanyaan kepada Nabi saw, salah satunya adalah tentang roh.[24] Dalam situasi ini, orang-orang Yahudi berkata bahwa jika Nabi saw menjawab ketiga pertanyaan tersebut, maka kenabiannya tidak akan diakui, namun jika ia hanya menjawab pertanyaan tentang Ashabul Kahfi dan Zulkarnain, tetapi tidak menjawab tentang roh, maka ia adalah seorang nabi.[25]
Menurut Thabarsi, pada awalnya Nabi saw tidak menjawab pertanyaan ini, karena tujuan mereka hanyalah untuk memicu perdebatan dan pertengkaran, serta memberikan jawaban kepada mereka hanya akan memperparah sikap keras kepala mereka.[26] Oleh karena itu, setelah lima belas hari ayat tersebut turun[27] dan secara ringkas namun penuh makna menyinggung masalah roh, di mana jawaban ini membangkitkan kekaguman semua orang.[28]
Penggunaan Kata Roh dalam Al-Qur'an
Menurut para peneliti Al-Qur'an, di dalam Al-Qur'an, kata roh disebutkan sebanyak 21 kali[29] dengan makna yang berbeda-beda: memperkuat para nabi (Surah Al-Baqarah), menolong orang-orang mukmin (Surah Al-Mujadilah), Jibril as (Surah Asy-Syu'ara), makhluk yang lebih utama dari para malaikat (Surah Al-Qadar), Al-Qur'an (Surah Asy-Syura), dan roh manusia (Surah As-Sajdah dan Al-Hijr)[30]. Selain itu, terkadang juga disebutkan dalam bentuk "Ruhulkudus"[31] dan "Ruhul Amin".[32]
Makna Roh dalam Ayat
Mengenai makna roh dalam ayat 85 Surah Al-Isra', berbagai mufasir dari kalangan Syiah[33] dan Ahlusunah[34] memiliki banyak pandangan dan dalam berbagai kitab tafsir dinukil riwayat-riwayat yang beraneka ragam.[35] Terlepas dari perbedaan-perbedaan ini, telah ada upaya untuk mengklasifikasikan pendapat-pendapat ini ke dalam lima[36] atau enam[37] kelompok yang berbeda.[38]
Allamah Thabathaba'i, dengan memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an, menunjuk pada poin bahwa semua makhluk di dunia adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan pada asma' (nama-nama) dan sifat-sifat ilahi dan mereka tidak memiliki kemandirian sedikit pun dari diri mereka sendiri. Ia menisbatkan roh kepada alam perintah (alam amr) ilahi dan malakut dari makhluk-makhluk, serta menganggapnya sebagai eksistensi yang ada tanpa membutuhkan sebab-akibat material dan tanpa terikat pada ruang dan waktu. Dalam pandangan ini, roh diidentifikasi sebagai salah satu dari makhluk-makhluk ilahi yang berada di alam amr (alam malakut).[39]
Mughniyah mengartikan roh sebagai kehidupan, dan untuk membuktikan pendapatnya ia merujuk pada kompleksitas ilmu tentang sel serta ketidakmampuan manusia dalam menciptakan makhluk hidup.[40] Beberapa pihak lain, berdasarkan riwayat-riwayat, memaknai roh sebagai malaikat agung yang berwujud seperti manusia dan lebih besar dari semua makhluk lainnya.[41]
Menurut Qurthubi, salah seorang mufasir Ahlusunah, sebagian besar mufasir melakukan takwil atas roh dengan arti roh manusia, dan sebagian menafsirkan roh sebagai roh manusiawi[42] atau hewani[43] atau roh yang menghidupkan tubuh.[44]
Pembahasan luas mengenai hakikat dan kemandirian (independensi) roh juga telah dikemukakan oleh para mufasir.[45] Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir as, selain roh diperkenalkan sebagai roh manusiawi dan hewani, diisyaratkan pula mengenai beberapa aspek dari hakikat roh.[46]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Ridha'i Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 12, hlm. 148.
- ↑ Ridha'i Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 12, hlm. 148.
- ↑ Dinawari, Al-Wadhih, 1424 H, jld. 1, hlm. 462; Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 515.
- ↑ Thabrani, Al-Tafsir al-Kabir, 1008 M, jld. 4, hlm. 135; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 15, hlm. 104.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 10, hlm. 324.
- ↑ Wahidi, Al-Wajiz, 1415 H, jld. 2, hlm. 646.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1416 H, jld. 3, hlm. 265; Naisyaburi, Wadhh al-Burhan, 1410 H, jld. 2, hlm. 20.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Mutasyabih al-Qur'an, 1369 H, jld. 1, hlm. 42.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 250.
- ↑ Ja'fari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 6, hlm. 354.
- ↑ Deobandi, Tafsir Kabuli, 1385 HS, jld. 3, hlm. 591.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 252.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 252.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 113.
- ↑ Deobandi, Tafsir Kabuli, 1385 HS, jld. 3, hlm. 591.
- ↑ Lihat: Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 15, hlm. 104.
- ↑ Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 3, hlm. 481.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 15, hlm. 104.
- ↑ Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 5, hlm. 104; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 12, hlm. 283.
- ↑ Ja'fari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 6, hlm. 353.
- ↑ Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 547; Dinawari, Al-Wadhih, 1424 H, jld. 1, hlm. 462.
- ↑ Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 3, hlm. 481.
- ↑ Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 2, hlm. 343.
- ↑ Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 12, hlm. 283.
- ↑ Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 3, hlm. 481; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 5, hlm. 613.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 674.
- ↑ Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 3, hlm. 481.
- ↑ Ridha'i Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 12, hlm. 148-149.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 112.
- ↑ Lihat: Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 198; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 251; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 112 dan 113.
- ↑ Surah Al-Maidah, ayat 110; Surah An-Nahl, ayat 102.
- ↑ Surah Asy-Syu'ara, ayat 193.
- ↑ Qomi, Tafsir al-Qomi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 26; Ayyasyi, Tafsir Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 316; Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1416 H, jld. 3, hlm. 214; Huwaizi, Tafsir Nur ats-Tsaqalain, 1415 H, jld. 3, hlm. 215-216; Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 273.
- ↑ Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 4, hlm. 199; Shan'ani, Tafsir Abdurrazzaq, 1411 H, jld. 1, hlm. 329.
- ↑ Thabrani, Al-Tafsir al-Kabir, 2008 M, jld. 4, hlm. 132; Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 515; Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 10, hlm. 323; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 5, hlm. 105; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 5, hlm. 613; Maturidi, Ta'wilat Ahl al-Sunnah, 1426 H, jld. 7, hlm. 105.
- ↑ Mawardi, An-Nukat wa al-'Uyun, Beirut, jld. 3, hlm. 269.
- ↑ Ibnu Jauzi, Zad al-Masir, 1422 H, jld. 3, hlm. 50.
- ↑ Samarqandi, Bahr al-'Ulum, 1416 H, jld. 2, 327; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hlm. 675; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 13, hlm. 195.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1392 H, A'lami Beirut, jld. 13, hlm. 197-199.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 79.
- ↑ Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 547.
- ↑ Thabrani, Al-Tafsir al-Kabir, 2008 M, jld. 4, hlm. 134.
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 690; Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 515; Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 2, hlm. 343.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1416 H, jld. 3, hlm. 265; Wahidi, Al-Wajiz, 1415 H, jld. 2, hlm. 646.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 254.
- ↑ Syakuri, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 845.
Catatan
Daftar Pustaka
- Ibnu Sulaiman, Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
- Ibnu Arabi, Muhammad bin Abdullah. Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Jil, 1408 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Zad al-Masir fi 'Ilm al-Tafsir. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1422 H.
- Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Mutasyabih al-Qur'an wa Mukhtalifuhu. Qom: Bidar, 1369 H.
- Ibnu Athiyyah, Abdul Haq bin Ghalib. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1422 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1419 H.
- Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad: Astan Quds Razavi, 1408 H.
- Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
- Ja'fari, Ya'qub. Tafsir Kautsar. Qom: Muassasah Intisyarat Hejrat, 1376 HS.
- Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur ats-Tsaqalain. Qom: Ismailiyan, cetakan keempat, 1415 H.
- Dinawari, Abdullah bin Muhammad. Al-Wadhih fi Tafsir al-Qur'an al-Karim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1424 H.
- Deobandi, Mahmud Hasan. Tafsir Kabuli. Teheran: Nasyr Ihsan, cetakan kesebelas, 1385 HS.
- Ridha'i Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir Qur'an Mehr. Qom: Pajouhesy-haye Tafsir wa Ulum-e Qur'an, 1387 HS.
- Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
- Zaid bin Ali bin al-Husain. Tafsir as-Syahid Zaid bin Ali al-Musamma Tafsir Gharib al-Qur'an. Beirut: Al-Dar al-'Alamiyyah, 1412 H.
- Samarqandi, Nashr bin Muhammad. Tafsir as-Samarqandi al-Musamma Bahr al-'Ulum. Beirut: Dar al-Fikr, 1416 H.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1404 H.
- Syakuri, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Teheran: Daftar Nasyr Dad, 1373 HS.
- Shahib bin 'Abbad, Ismail. Al-Muhith fi al-Lughah. Riset: Muhammad Hasan Ali Yasin. Beirut: 'Alam al-Kutub, tanpa tahun.
- Shadeqi Tehrani, Muhammad. Tarjuman Furqan: Tafsir Mokhtasar Qur'an Karim. Qom: Syokraneh, 1388 HS.
- Shan'ani, Abdurrazzaq bin Hammam. Tafsir al-Qur'an al-'Aziz al-Musamma Tafsir Abdurrazzaq. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1411 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Tafsir al-Kabir: Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Irbid Yordania: Dar al-Kitab al-Tsaqafi, 2008 M.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Qom: Hauzah Ilmiah Qom, Markaz Modiriyat, 1412 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Kitab al-Tafsir. Riset: Hasyim Rasuli. Teheran: Maktabah al-'Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1380 HS.
- Farra', Yahya bin Ziyad. Ma'ani al-Qur'an. Kairo: Al-Hai'ah al-Mishriyyah al-'Ammah lil Kitab, cetakan kedua, 1980 M.
- Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom: Nasyr Hejrat, cetakan kedua, tanpa tahun.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Safi. Teheran: Maktabah as-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, 1388 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, 1364 HS.
- Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Qom: Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1363 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Maturidi, Muhammad bin Muhammad. Ta'wilat Ahl al-Sunnah. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. Beirut: Mansyurat Muhammad Ali Baidhoun, 1426 H.
- Mawardi, Ali bin Muhammad. An-Nukat wa al-'Uyun Tafsir al-Mawardi. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, tanpa tahun.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
- Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar. Teheran: Amir Kabir, cetakan kelima, 1371 HS.
- Naisyaburi, Mahmud bin Abul Hasan. Wadhh al-Burhan fi Musykilat al-Qur'an. Beirut: Dar al-Qalam, 1410 H.
- Wahidi, Ali bin Ahmad. Al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz. Beirut: Dar al-Qalam, 1415 H.