Lompat ke isi

Konsep:Ayat MASYIAH

Dari wikishia
Ayat MASYIAH
Informasi Ayat
SurahAl-Kahf
Ayat23-24
Juz15
Informasi Konten
Sebab
Turun
Janji Nabi Akram saw untuk menjawab pertanyaan kaum Yahudi tanpa mengucapkan Insya Allah
Tempat
Turun
Madinah
TentangKetergantungan pelaksanaan segala urusan pada kekuatan dan masyiah (kehendak) Allah


AYAT MASYIAH merujuk pada ayat kedua puluh tiga dan kedua puluh empat ayat-ayat Surah Al-Kahf yang dikenal dengan nama Ayat Masyiah.[1] Ayat-ayat ini berisi rekomendasi dan pesan kepada Nabi Akram saw bahwa setiap kali beliau memiliki maksud untuk melakukan suatu pekerjaan di masa depan, hendaknya menggantungkan pekerjaan tersebut pada masyiah dan izin Allah dengan mengucapkan kalimat "Insya Allah".[2] Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, mufasir Syiah, sapaan (khitab) dalam kedua ayat ini baik dikhususkan kepada Nabi Akram saw maupun ditujukan kepada masyarakat umum, bermaksud menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta merupakan milik dan berada di bawah wewenang Allah, dan Dia melakukan tindakan apa pun yang Dia kehendaki di dalamnya; tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu atau pengaruh apa pun kecuali jika Allah telah menjadikan seseorang sebagai pemilik atau memberikan izin untuk melakukan tindakan atas sesuatu tersebut.[3]

Dan janganlah engkau berkata mengenai sesuatu (yang hendak engkau lakukan): "Bahawa aku akan lakukan yang demikian itu, kemudian nanti". Melainkan (hendaklah disertakan dengan berkata): "Insya Allah". Dan ingatkanlah serta sebutlah akan Tuhanmu jika engkau lupa; dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan petunjuk yang lebih dekat dan lebih terang dari ini".


Perintah untuk mengucapkan kalimat "Insya Allah" dalam ayat ini tidak dianggap sebagai perintah wajib (wujubi), melainkan bersifat bimbingan (irsyadi), dan tidak melakukannya tidak akan menyebabkan Dosa. Hasil lain dari perbuatan ini dianggap berlaku untuk saat di mana manusia tidak memiliki kemampuan melakukan pekerjaan yang telah dikabarkannya, sehingga dengan cara ini ia terjaga dari perbuatan berbohong.[4] Ayat Istitsna adalah nama lain dari ayat ini.[5] Maksud dari istitsna (pengecualian) dengan mengucapkan "Insya Allah" adalah bahwa pembicara dengan mengatakan kalimat ini pada hakikatnya berkata: "Kecuali jika Allah menghendaki agar aku tidak melakukannya", yakni aku akan melakukan pekerjaan ini "kecuali jika Allah berkehendak agar aku tidak melakukannya".

Mengenai syan nuzul ayat ini dikatakan bahwa sekelompok kaum Yahudi meminta kaum musyrikin untuk bertanya kepada Nabi Muhammad saw mengenai Dzulkarnain, Ruhulkudus, dan Ashabulkahfi. Setelah pertanyaan kaum musyrikin diajukan, Nabi saw tanpa mengucapkan kalimat "Insya Allah" berkata kepada mereka bahwa esok hari aku akan memberikan jawaban atas pertanyaan kalian; namun Malaikat Jibril berdasarkan beberapa riwayat tidak membawakan Wahyu bagi Nabi saw hingga empat puluh atau lima puluh hari, yang menyebabkan kaum musyrikin menyindir Nabi saw dengan berkata bahwa Tuhannya telah melupakannya. Setelah masa tersebut berakhir, dengan turunnya ayat-ayat ini Allah mengingatkan Nabi saw bahwa setiap kali engkau bermaksud mengabarkan pelaksanaan suatu pekerjaan di masa depan, hendaknya katakan dengan kalimat "Insya Allah", dan dengan cara ini Allah mengajarkan adab kepada Nabi saw.[6] Dalam Al-Qur'an, pengucapan Insya Allah mengenai berbagai masalah dinukil melalui lisan Nabi Yusuf as mengenai masuknya orang tua dan saudara-saudaranya ke Mesir,[7] dan Nabi Ismail as mengenai mimpi Nabi Ibrahim as dan kesabaran menghadapi tugasnya,[8] serta Nabi Musa as mengenai kesabaran atas tindakan maupun langkah-langkah Nabi Khidir as.[9]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hal. 384.
  2. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hal. 270-271.
  3. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hal. 270-271.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 711.
  5. Daftar Tablighat Ulum Eslami, Farhang-nameh Ulum-e Qur'an, 1394 HS, hal. 223.
  6. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 12, hal. 338; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 4, hal. 217; Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 15, hal. 47; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hal. 385.
  7. Ayat 99 Surah Yusuf.
  8. Ayat 102 Surah Ash-Shaffat.
  9. Ayat 69 Surah Al-Kahf.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Asyur, Muhammad Thahir. Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Beirut: Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1420 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Mohammad Mahdi Naseh, Mohammad Jafar Yahaqi. Masyhad: Astan Qods Razavi, Bunyad-e Pazhuhesy-haye Eslami, 1408 H.
  • Huwaizi, Abd al-Ali bin Jumu'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Hashem Rasuli. Qom: Isma'iliyan, 1415 H.
  • Daftar Tablighat Ulum Eslami. Farhang-nameh Ulum-e Qur'an. 1394 HS.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Koreksi: Fadhlullah Thabathabai Yazdi dan Hashem Rasuli. Teheran: Nasir Khosrow, 1372 HS.
  • Kulaini. al-Kafi. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Mohammad Akhoundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.