Konsep:Ayat Ja'a al-Haq
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Ja'a al-Haq |
| Surah | Surah Al-Isra |
| Ayat | 81 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Pembersihan Masjidil Haram dari berhala setelah Fathu Makkah |
| Tempat Turun | Mekkah |
| Tentang | Pengumuman kemenangan kebenaran dan kehancuran kebatilan |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 18 Surah Ar-Ra'd dan Ayat 26 Surah Ibrahim |
Ayat Ja'a al-Haq adalah ayat ke-81 dari Surah Al-Isra, di mana Allah memerintahkan Nabi Akram saw untuk mengumumkan kepada kaum musyrikin bahwa kebenaran selalu menang dan kebatilan pasti hancur. Kebatilan tidak memiliki kelanjutan dan tidak pula kesempatan untuk kembali.[1] Para mufasir memberikan beberapa kemungkinan mengenai makna "al-haq" (kebenaran) dan "al-batil" (kebatilan) dalam ayat ini. Sebagian menisbatkannya pada Islam dan kekufuran,[2] sebagian lain mengaitkan kebenaran dengan Tauhid dan kebatilan dengan Syirik.[3] Sebagian mufasir seperti Muhammad Jawad Mughniyah, menganggap "al-haq" sebagai risalah Nabi Akram saw dan "al-batil" adalah segala sesuatu yang bertentangan dengannya, seperti kekufuran dan kerusakan.[4] Selain itu, dalam tafsir-tafsir lain, "al-haq" mengacu pada Al-Qur'an, Wilayah Ahlulbait as, dan hukum-hukum syar'i, sedangkan "al-batil" mencakup agama-agama batil, hukum-hukum zalim, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah.[5]
Menurut para mufasir, ayat ini datang sebagai kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya dan mengatakan kepada Nabi saw untuk mengumumkan bahwa kebatilan tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkan kebenaran dan akan selalu hancur[6] dan ayat ini adalah tanda kehancuran pasti kebatilan.[7] Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa ayat ini mengisyaratkan pada sebuah Sunnatullah (hukum Allah) bahwa pada akhirnya kebenaran akan menang dan kebatilan akan lenyap seperti buih di atas air. Menurut penulis Tafsir Nemuneh, karena kebenaran selaras dengan realitas dan hukum penciptaan, ia selalu menang, sedangkan kebatilan karena tidak selaras dengan hukum-hukum ini, tidak akan bertahan.[8]
| “ | وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
|
” |
Dan katakanlah: "Telah datang kebenaran (Islam), dan hilang lenyaplah perkara yang salah (kufur dan syirik); sesungguhnya yang salah itu sememangnya satu perkara yang tetap lenyap".
Para mufasir menukil beberapa riwayat mengenai sebab turun ayat "Ja'a al-Haq", yang sebagian besar berkaitan dengan peristiwa Fathu Makkah dan penghancuran berhala-berhala di Masjidil Haram.[9] Thabarsi dalam tafsir Majma' al-Bayan menukil dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi saw pada hari Fathu Makkah dengan tongkat di tangan, menjatuhkan berhala-berhala ke tanah dan membaca ayat "Ja'a al-Haq".[10] Juga dinukil dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi saw memerintahkan Imam Ali as untuk menjatuhkan berhala besar Hubal dari atap Ka'bah dan setelah memecahkannya, ayat "Ja'a al-Haq" turun.[11] Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa saat membaca ayat ini, berhala-berhala jatuh dengan sendirinya ke tanah dan penduduk Mekkah takjub akan kekuatan Nabi saw.[12]
Muhammad Jawad Mughniyah menyinggung sebuah pertanyaan mengenai ayat "Ja'a al-Haq" bahwa mungkin terlihat kemenangan kebatilan dalam sejarah lebih banyak daripada kemenangan kebenaran, yang mana hal ini bertentangan dengan lahiriah ayat.[13] Ia menjawab bahwa kebenaran memiliki kekuatan zat yang tidak pernah terpisah darinya dan berpengaruh di hati-hati yang suci. Pengaruh ini pada saat-saat tertentu sampai pada tingkat di mana bahkan dengan adanya kesulitan dan kezaliman, seperti mati syahid di jalan akidah, tidak dapat dikalahkan. Sebaliknya, kebatilan dengan konspirasi, tipu daya, dan ancaman mencapai tujuan-tujuannya, tetapi sarana-sarana ini akan hilang dengan berubahnya kondisi. Oleh karena itu, Mughniyah meyakini bahwa pada akhirnya, kemenangan dan keunggulan akhir adalah milik kebenaran.[14]
Kemenangan Nabi saw dan kebangkitan Imam Mahdi as serta kehancuran pemerintahan-pemerintahan batil dianggap sebagai misdaq (contoh nyata) dari ayat "Ja'a al-Haq".[15] Juga dikatakan bahwa saat kelahiran Imam Mahdi as, ayat ini tertulis di lengan beliau.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 671–672; Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hal. 177; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hal. 233–234.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 672; Sabzwari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, jld. 1, hal. 295; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 8, hal. 297–298.
- ↑ Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 6, hal. 513.
- ↑ Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hal. 77; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 8, hal. 297–298.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 8, hal. 297–298.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hal. 177.
- ↑ Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 6, hal. 513.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hal. 233–234.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 671–672; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 12, hal. 276; Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 17, hal. 306–307.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 671–672.
- ↑ Haskani, Syawahid at-Tanzil, 1411 H, jld. 1, hal. 453–454; Muhaqqiq, Nemuneh-ye Bayyinat dar Sya'n-e Nuzul-e Ayat, 1361 HS, hal. 509–510.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 6, hal. 672.
- ↑ Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hal. 77.
- ↑ Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hal. 77–78.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hal. 261.
- ↑ Huwaizi, Nur ats-Tsaqalain, 1415 H, jld. 3, hal. 212–213.
Daftar Pustaka
Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an (Taman Surga dan Jiwa Surga dalam Tafsir Al-Qur'an). Masyhad, Bunyad-e Pazhuhesy-haye Eslami-ye Astan-e Qods-e Razavi, 1408 H. Haskani, Ubaidullah bin Abdullah. Syawahid at-Tanzil. Tahqiq: Muhammad Baqir Mahmudi. Teheran, Wizarat-e Irsyad, 1411 H. Huwaizi, Abd Ali. Nur ats-Tsaqalain. Qom, Ismailiyan, 1415 H. Maghniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H. Makarim Syirazi, Nashir (dengan kerja sama tim penulis). Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS. Muhaqqiq, Muhammad Baqir. Nemuneh-ye Bayyinat dar Sya'n-e Nuzul-e Ayat (Contoh Keterangan tentang Sebab Turun Ayat). Teheran, Eslami, 1361 HS. Sabzwari, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar at-Ta'aruf lil-Mathbu'at, 1419 H. Shadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Farhang-e Eslami, 1365 HS. Thabarsi, Hasan bin Fadhl. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, 1372 HS. Thabathabai, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1390 H. Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an (Penjelasan Terbaik dalam Tafsir Al-Qur'an). Teheran, Penerbit Eslam, 1378 HS. Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, t.t.