Tafsir bi al-Riwayat

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Tafsir bi al-Riwayah adalah sebuah Tafsir Alquran yang didasarkan kepada riwayat [[hadits-hadits] (atsar) dari Nabi Muhammad saw dan sahabat serta perkataan tabi’in (menurut sebagian pendapat). Tafsir ini juga merupakan metode penafsiran yang berkembang diantara Imamiyyah yang berisi hadits-hadits penafsiran Nabi Muhammad saw dan Ahlulbait as. Tafsir bi al-riwayah juga dikenal dengan nama-nama lain seperti tafsir al-naqli, tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir al-atsar. Menurut pandangan Imamiyyah, penjelasan Nabi Muhammad Saw dan para Imam pengganti Nabi dalam menjelaskan dan menafsirkan Alquran serta menjelaskan maksud-maksud ayat-ayat Alquran adalah bagian dari sunnah dan pasti memiliki hujjah sementara keadilan selururh sahabat tidak diterimanya secara mutlak. Oleh itu, perkataan sahabat dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran tidak memiliki keabsahan tertentu dan maksimalnya adalah sejajar dengan ijtihad para ulama dan mufasir lain dalam memahami dan menjelaskan ayat-ayat Alquran.

Pengenalan

Tafsir bi al-riwayah adalah sebuah bentuk penafsiran Alquran yang didasarkan kepada hadis-hadis (atsar) dari Nabi Muhammad saw dan sahabat, berdasarkan beberapa pendapat tafsir bi al-riwayah juga meliputi riwayat-riwayat yang dinukilkan oleh para tabi’in. Definisi yang lebih mendetail dari tafsir bi al-riwayah adalah tafsir ma’tsur yang berkaitan dengan kata-kata “atsar” meskipun para alim dan muhadits dalam tidak memiliki kesepakatan dalam mendefinisikan tafsir bi al-riwayat. Sebagian penulis sejarah tafsir [1] menilai bahwa penafsiran ayat-ayat Alquran dengan ayat-ayat Alquran merupakan bagian dari tafsir ma’tsur namun mengingat makna leksikal [2] dan tekhnikal atsar [3], maka penafsiran al-Quran dengan ayat-ayat Alquran bukan merupakan bagian dari tafsir atsar atau ma’tsur.

Keabsahan Tafsir bi al-Riwayah

Keabsahan Riwayat-riwayat Tafsir Nabi

Mengenai riwayat-riwayat tafsir Nabi Muhammad saw para mufasir meyakini bahwa Nabi Muhammad saw disamping berkewajiban untuk menyampaikan wahyu juga harus menafsirkan dan menjelaskan kalam Ilahi. Para mufasir, menilai bahwa surah al-Nahl ayat 44 dan 45 mengisyaratkan tentang sisi maqam nubuwwah [4] dan menyatakan bahwa perkataan atau hadis-hadis tafsir yang dinisbatkan kepada Nabi apabila terbukti kebenarannya, merupakan tafsir yang terbaik. [5] Disamping itu, para muhadits dan para faqih berdasarkan ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat yang yang memiliki kandungan dengannya mengatakan bahwa sunah nabawi merupakan sumber penting dan muktabar dalam mengenal ahkam dan aturan-aturan Ilahi dan digunakan secara konsisten sebagai dasar untuk mengambil hukum. [6]

Keabsahan Riwayat Tasir Sahabat

Mengenai keabsahan dan hujah tafsir Sahabat Nabi Muhammad saw dan perkataan tabi’i (menurut sebagian pendapat) terdapat berbedaan pendapat antara ahlu sunah dan Syiah. Ketidaksepakatan ini memiliki akar yang lebih panjang yaitu pada perbedaan pandangan mengenai keadilan sahabat dimana kaum ushuliyun, teolog dan muhadits semenjak dahulu mengakui atau menolaknya. [7] Para pendukung yang menerima keadilan semua sahabat menyandarkan pendapatnya kepada sebagian ayat-ayat Alquran [8] dan beberapa hadis nabawi [9] [10] Mereka menilai bahwa riwayat-riwayat tasfsir sahabat adalah sah dan benar dan mereka menilai bahwa sahabat adalah sumber rujukan asli dalam mengenal dan memahami Alquran. [11] Sebaliknya, golongan yang menolak keadilan sahabat secara mutlak [12], telah menajfsirkan ayat-ayat Alquran dengan cara yang relevan dan berbeda dan pada akhirnya meragukan kebenaran dan keabsahan hadis-hadis yang berasal dari para nabi. [13] Golongan ini percaya bahwa hukum sahabat dalam permasalahan keadilan sahabat seperti pada semua orang dan dalam menukilkan hadis, keadilan mereka harus dibuktikan. [14] Berdasarkan pandangan ini, perkataan sahabat dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran tidak memiliki keabsahan secara khusus. Perkataan sahabat maksimalnya seperti usaha keras para mujtahid dan para alim ulama serta para mufasir lain dalam memahami dan menjelaskan ayat-ayat Alquran.

Keabsahan riwayat-riwayat Tafsir Ahlul Bait as

Dalam permasalahan hujah hadist ma’tsur dari Ahlul Bait as perbedaan pendapat antara Ahlu Sunah dan Syiah juga mengemuka. Golongan Syiah dengan mendasarkan ayat-ayat Alquran [15] dan riwayat-riwayat mutawatir seperti hadis tsaqalain dan hadis ghadir yang menunjukkan tentang keimamahan dan ishmah para Imam dan juga hadis-hadis yang menjelaskan tentang kaitan Alquran dan Imam Ali as [16] atau juga hadis-hadis yang menjelaskan tentang hubungan antara Alquran dan Ahlul Bait as [17] dimana hadis-hadis ini menjelaskan tentang kedudukan khusus bagi para Imam memandang bahwa para Imam adalah marja keilmuan umat Islam dan sejarawan yang paling muktabar dan sebagai mufasir Alquran. Dari kumpulan hadis-hadis nabawi dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad saw disamping menjelaskan ayat-ayat Alquran untuk semua masyarakat, penafsir khusus untuk sebagian sahabat terutama bagi Imam Ali As. [18] Selain itu, pemberian wewenang yang dilakukan Nabi Muhammad kepada para Imam [19] telah membuka jalan bagi penafsiran ayat-ayat Alquran yang menghubungkan keabadian tafsir Alquran dengan Alquran itu sendiri sehingga hadis-hadis yang dinukilkan dari Ahlul Bait tentang penafsiran-penafsiran Alquran jika otentik dan dapat diandalkan, maka kehujahannya sama dengan perkataan nabi dan merupakan sumber muktabar dalam mengenal dan memahami ayat-ayat Alquran. Kesimpulannya bahwa menurut pandangan Imamiyyah, penjelasan nabi dan para Imam dalam menafsirkan dan menjelaskan makna-makna Alquran merupakan bagian dari sunnah dan berfungsi sebagai hujah serta mengandung kebenaran.

Kedudukan Tafsir Riwayat

Isu lain dalam tafsir ma’tsur adalah tentang kedudukan riwayat-riwayat dalam pembahasan ini. Secara umum, riwayat-riwayat tafsir ini mutawatir apabila memiliki sanad atau khabar wakhid yang disertai dengan indikasi-indikasi maka hal itu memiliki keabsahan. Yang menjadi perbedaan adalah riwayat-riwayat yang memiliki keluaran (sudur), petunjuk (dilalat) dan arah/sisi (jahat)nya tidak mengandung keyakinan maka hadis-hadis seperti ini dalam kehujahan dan kemuktabarannya terjadi perbedaan. Para teolog dan kaum Ushuliyun semenjak dahulu dengan gamblang menjelaskan tentang ketidak adanya hujah atas riwayat-riwayat yang berkaitan dengan akidah, karena kepercayaan harus memiliki ilmu sementara kabar yang tidak meyakinkan tidak bisa dijadikan sebagai dasar keyakinan. [20] Pada dasarnya, pembahasan hujah kabar wakhid ada pada pembahasan ahkam syar’i dengan penjelasan bahwa seorang mukallaf tak terelakkan dan jika tidak memiliki ilmu harus beralih ke pilihan lain dimana yang paling penting adalah kabar wakhid. Bagaimanapun, tidak bisa diabaikan realitas ini bahwa menurut kaum Ushuliyyun, salah satu dalil penting hujjiyah khabar wahid adalah sirah uqalah [21] dan berdasarkan hal ini disebutkan bahwa hujjiyah khabar wahid mencakup persoalan epistemologis di antaranya juga adalah penjelasan-penjelasan penafsiran. [22]

Beberapa Contoh Tafsir Riwayat

Berdasarkan sudut pandang sejarah, tafsir ma’tsur merupakan penafsiran terkuno al-Quran. Dalam beberapa referensi Syiah di antaranya seperti Tafsir Imam Hasan Askari as, Tafsir Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir Ayyasyi, Tafsir Furat Kufi dan dalam dasawarsa terakhir di antaranya al-Burhan fi Tafsir Alquran karya Hasyim bin Sulaiman Bahrani, Tafsir Nur al-Tsaqalain karya Abdul Ali bin Jum’ah Huwaizi, Tafsir Kanz al-Daqaiq dan Tafsir Bahr al-Ghuraba karya Muhammad Ridha Masyhadi Qummi. Dan di antara tafsir-tafsir Ahlusunnah penafsiran Alquran dengan metode ini di antaranya Tafsir Alquran al-‘Azhim ‘an Rasulillah Saw wa al-Shahabah wa al-Tabi’in karya Abdurahman bin Muhammad bin Idris Razi yang dikenal Ibnu Abi Hatim Razi, Tafsir Alquran al-‘Azhim karya Imaduddin Ismail bin Umar yang dikenal sebagai Ibnu Katsir dan Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur karya Jalaluddin Suyuthi. Dalam sebagian referensi Tafsir Thabari atau Jami’ al-Bayan ‘an Tawil Alquran karya Muhammad bin Jarir Thabari, al-Muharrir al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz Ibnu ‘Athiyyah, al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir Alquran Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad Tsa’labi, al-Jawahir al-Hisan Abdurrahman bin Muhammad Tsa’alabi, Bahr al-‘Ulum Ali bin Yahya bin Samarqandi, Ma’alim al-Tanzil Baghawi disebutkan sebagai tafsir-tafsir riwayat. [23]

Israiliyyat

Tulisan Asli: Israiliyyat Dalam tafsir riwayat, tema-tema lainnya seperti kelemahan sanad, rekayasa hadis dalam riwayat-riwayat penafsiran dan israliyat patut mendapat perhatian. Terlepas dari itu, orang-orang seperti Ahmad bin Hanbal telah menilai kelemahan semua hadis yang meriwayatkan tentang perang Islam, prediksi masa depan dan tafsir al-Quran. [24] Adanya fakta ini tidak dapat dinafikan bahwa hadis-hadis tafsir dari sudut pandang sanad memiliki banyak kelemahan. Para peniliti dalam bidang tafsir juga telah menyelidiki masalah ini. [25] Penukilan hadis telah dilakukan dengan berbagai otof dan alasan seperti penetapan dan penguatan satu akidah atau upaya untuk meninggikan kedudukan dan derajat salah seorang sahabat atau sebaliknya, menolak satu akidah [26] Contoh nyata atas rekayasa ini adalah sya’n al-nuzul ayat 113 surah al-Taubah. Beberapa penafsir menyebutkan bahwa ayat ini terkait dengan Abu Thalib dan diturunkan tatkala ia wafat dalam kondisi syirik hingga akhir usianya. [27] Abu Thalib wafat tiga tahun sebelum hijrah dan ayat ini diturunkan pada tahun kesembilan hijrah; karena itu bagaimana mungkin peristiwa wafatnya Abu Thalib dalam kondisi syirik menjadi sebab pewahyuan ayat ini?

Dalam tafsir riwayat, juga penting menaruh perhatian terhadap masalah Israiliyyat yang diriwayatkan oleh orang-orang Yahudi [28] karena juga berpengaruh dalam tafsir-tafsir riwayat. Tidak sedikit dari kalangan ahli tafsir yang selamat dari peristiwa nukilan-nukilan Israiliyyat. [29]
tanpa link tanpa foto tanpa Kategori tanpa infobox tanpa navbox tanpa alih tanpa referensi

Catatan Kaki

  1. Dzahabi, 1409, jld. 1, hlm. 154; Saghir, hlm. 55.
  2. Silahkan lihat: Farahidi, jld. 8, hlm. 236, klausul “atsar”, Murtadha Zubaidi, Tāj al-Arūs, 1414 H, jld. 10, hlm. 13.
  3. Tahanawi, jld. 1, hlm. 65; Qasimi, hlm. 62.
  4. Silahkan lihat: Thusi, jld. 6, hlm. 398; Fahr al-Razi, jld. 20, hlm. 57; Thabathabai, jld. 12, hlm. 284; Ibnu ‘Asyur, jld. 14, hlm. 196.
  5. Ibnu Asyur, jld. 6, hlm. 47, jld. 14, hlm. 163-164.
  6. Silahkan lihat: Syatibi, jld. 4, hlm. 34; Muhammad Sa’id Manshur, hlm. 121; Abdul Ghani, hlm. 291-308.
  7. Silahkan lihat: Ibnu Qayim Jauziyah, jld. 4, hlm. 118; Syaukani, hlm. 213; Hakim, hlm. 135.
  8. Silahkan lihat: Qs al-Baqarah: 143; Ali Imran: 110.
  9. Ibnu Munir, jld. 2, hal, 628.
  10. Silahkan lihat: Ibnu Abi Khatam, jld. 1, hlm. 7, Ibnu Abdul Barr, jld. 1, hlm. 19; Ibnu Atsir, jld. 1, hlm. 14; Ibnu Hajar Asqalani, jld. 1, hlm. 10.
  11. Silahkan lihat: Ibnu Abi Khatam, jld. 1, hlm. 7, Ibnu Abdul Barr, jld. 1, hlm. 19; Ibnu Atsir, jld. 1, hlm. 14; Ibnu Hajar Asqalani, jld. 1, hlm. 10.
  12. Biasanya para Syiah dan sebagian para alim Ahlu Sunah.
  13. Silahkan lihat: Ibnu Qayim Jauziyah, jld. 4, hlm. 144; Syathibi, jld. 4, hlm. 54-55; Hakim, hlm. 138.
  14. Amadi, jld. 2, hlm. 102; Adhuddin Aiji, jld. 2, hlm. 67.
  15. Misalnya Qs al-Nahl: 43; Silahkan lihat: Haskani, jld. 1, hlm. 432; Syustari, jld. 3, hlm. 482; Mar’asyi Najafi, jld. 14, hlm. 371.
  16. Silahkan lihat: Syustari, jld. 5, hlm. 639.
  17. Silahkan lihat: Syustari, jld. 5, hlm. 639.
  18. Silahkan lihat: Tirmidzi, jld. 6, hlm. 58; Kulaini, jld. 1, hlm. 64; Ibnu Syu’bah, hlm. 196; Ibnu Babuwaih, hlm. 247, Mazzi, jld. 7, hlm. 415; Majlisi, jld. 2, hlm. 230.
  19. Khususnya hadis Tsaqalain.
  20. Silahkan lihat: Khatib Baghdadi, hlm. 472; Anshari, hlm. 109; Muhakik Hilli, hlm. 187; Thabathabai, jld. 10, hlm. 351.
  21. Silahkan lihat: Khui, hlm. 398.
  22. Silahkan lihat: ibid, hlm. 399.
  23. Silahkan lihat: Ma’rifat, jld. 2, hlm. 312-346; Dzahabi, 1409, jld. 1, hlm. 201-245.
  24. Zarkasyi, jld. 2, hlm. 156.
  25. Silahkan lihat: Ma’rifat, jld. 2, hlm. 33.
  26. Ibid, jld. 2, hlm. 35-56; Dzahabi, 1409, jld. 1, hlm. 149-165.
  27. Bukhari Ja’fi, jld. 5, hlm. 208, jld. 5, hlm. 208; Thabari, jld. 7, hlm. 30.
  28. Dzahabi, 1405, hlm. 19.
  29. Silahkan lihat: Dzahabi, 1405, hlm. 119-197; Abu Syuhbah, hlm. 260, 265, 271; Ma’rifat, jld. 2, hlm. 79-311, Untuk meneliti lebih lanjut tentang pembahasan ini silahkan lihat Rabi’, 1422.

Referensi

  • Alquran
  • Ali bin Muhammad Amadi, al-Ahkam fi Ushul al-Ahkām, Beirut, 1406 H.
  • Ibnu Abi Khatam, Kitab al-Jarh wa al-Ta’dil, Haidar Abad Dakan, 1371-1373/1952-1953. Cet. Ofset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Atsir, Asad al-Ghābah fi Ma’rifah al-Shahābah, cet. Adil Ahmad Rifa’i, Beirut, 1417/1996.
  • Ibnu Babuwaih, “Kitāb al-Khishāh”, cet. Ali Akbar Ghifari, Qum, 1362 S.
  • Ibnu Syu’bah, Tuhaf al-Uqūl an Ali al-Rāsul, cet. Ali Akbar Ghifari, Qum, 1363 S.
  • Ibnu Asyur, (Muhammad Thahir bin Muhammad), Tafsīr al-Tahrīr wa al-Tanwīr, Tunisia, 1984.
  • Ibnu Abdul Barr, al-Isti’āb fi Ma’rifah al-Ashāb, cet. Ali Muhammad Bijawi, Beirut, 1992/1412.
  • Ibnu Qayim Jauziyah, I’lām al-Muqi’in an Rabbil Alamin, Qahirah, Dar al-Hadits, tanpa tahun.
  • Ibnu Munir, al-Intishāf, Zamakhsyari.
  • Muhammad Abu Syuhbah, al-Isrāiliyyat wa al-Maudhu’at fi Kitāb al-Tafsir, Beirut, 1413/1992.
  • Murtadha bin Muhammad Amin Anshari, Farāid al-Ushūl, cet. Abdullah Nurani, Qum, 1365 S.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari Ja’fi, Sahīh al-Bukhāri, Istanbul, 1981/1401.
  • Muhammad bin Isa Tirmidzi, al-Jāmī’ al-Kabīr, cet, Basyar ‘Awad Ma’ruf, Beirut, 1998.
  • Muhammad Ali bin Ali Tahanawi, Kitāb Kasyaf Ishtilāhāt al-Funun, Cet. Muhammad Wajiyyah dkk, Kalkatah, 1862, cet. Ofset Tehran, 1967.
  • Ubaidillah bin Abdullah Haskani, Syawāhid al-Tanzīl li Qawāid al-Tafdzhil, cet. Muhammad Baqir Mahmudi, Tehran, 1411/1990.
  • Muhammad Taqi Hakim, al-Ushūl al-Ammah lil Fiqh al-Muqārin, qum, 1997/1418.
  • Ahmad bin Ali Khatib Baghdadi, al-Kifāyah fi Ilm al-Riwāyah, cet. Ahmad Umar Hasyim, Beirut, 1406/1986.
  • Abul Qasim Khui, al-Bayān fi Tafsīr al-Qur’ān, Beirut, 1408/1987.
  • Muhammad Husain Dzahabi, al-Israiliyāt fi Tafsīr wa al-Hadīst, Damisq, 1405/1985.
  • Ibid, al-Tafsir wa al-Mufasirun, Qahirah, 1409/1989.
  • Amal Muhammad Abdurahman Rabi’, al-Israiliyat fi Tafsir al-Thabari, Dirasah fi Lughat wa al-Mashadir al-Ibriyah, Qahirah, 1422/2001.
  • Muhammad Bahadir Zarkasyi, al-Burhān fi Ulum Alquran, cet. Yusuf Abdurahman Mar’asyi, Jamal Hamdi Dzahabi, Ibrahim Abdullah Kurdi, 1410/1990.
  • Ibrahim bin Musa Syatibi, al-Muwfiqt fi Ushul al-Syari’ah, Beirut, 1411/1991.
  • Nurullah bin Syarifuddin Syustari, Ahqāq al-Haq wa Azhaq al-Bathil, Ta’liqat: Syahabuddin Mar’asyi Najafi, cet. Mahmud Mar’asyi, Qum, jld. 3, 1378, jld. 5, tanpa tahun.
  • Muhammad Ali Syukani, Irsyād al-Fuhul ila Tahkik al-Haq min Ilmi al-Ushūl, Qahirah, 1347, cet. Ofset Beirut, tanpat tahun.
  • Muhammad Husain Ali Saghir, Dirāsah Quraniyah: al-Mabadi al-Amah li Tafsir al-Quran al-Karim, Qum, 1413 H.
  • Muhammad Husain Thabathabai, al-Mīzān fi Tafsīr al-Qur’ān, 1390-1394/1971-1974.
  • Muhammad bin Jarir Thabari, Jāmī’ al-Bayān fi Tafsīr al-Qur’ān, Bulaq, 1322-1330/1911-1994, cet. Ofset Beirut, 1400-1403/1980-1983.
  • Muhammad bin Hasan Thusi, “al-Tibyān fi Tafsīr al-Qur’ān, cet. Ahmad Habib Qushair Amili, Beirut, tanpa tahun.
  • Abdul Khaliq Abdul Ghani, Hujiyah al-Sanah, tanpa tempta, Dar al-Sa;dawi, tanpa tahun.
  • Muhammad Umar Fahr Razi, al-Tafsir al-Kabīr, Qahirah, tanpa tahun.
  • Khalil bin Ahmad Farahidi, Kitāb al-Ain, cet. Mahdi Mahzumi dan Ibrahim Samarai, Qum, 1409-1410 H.
  • Muhammad Jamaluddin Qasimi, Qawāid al-Tahdits min Funun Mushtalah al-Hadits, cet. Muhammad Bahjah Bithar, Beirut, 1407/1987, cet. Ofset 1414/1993.
  • Kulaini, Majlisi, Ja’far bin Hasan Muhakik Hilli, Ma’ārij al-Ushūl, cet. Muhammad Husain Radhawi, Qum, 1403 H.
  • Murtadha Zubaidi, Muhammad bin Muhammad, Tāj al-Arus min Jawāhir al-Qāmus, Dar al-Fikr, Beirut, 1414 H.
  • Syahabuddin Mar’asyi Najafi, Mulhaqāt Ahqāq al-Haq, Dat Nuruddin bin Syarifuddin Syustari, ibid, jld. 14, 1398, jld. 20, 1408 H.
  • Yusuf bin Abdurahman Mizzi, Tuhfah al-Asyrāf bi Ma’ruf al-Athrāf, cet. Abdul Samad Syarifuddin wa Zuhair Syabisy, Beirut, 1403/1983.
  • Muhammad Hadi Ma’rifat, al-Tafsir wa al-Mufasirūn fi Tsaubah al-Qusyaib, Masyhad, 1418-1419 H.