Lompat ke isi

Konsep:Khusran

Dari wikishia

Khusran (bahasa Arab: خسران) adalah istilah dalam Al-Qur'an dan hadis yang berarti pengurangan, kebinasaan, kerugian, dan kesesatan.[1] Menurut para peneliti Al-Qur'an, kata "khusran" beserta kata-kata yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 65 kali dalam 60 ayat Al-Qur'an dengan berbagai bentuk morfologinya.[2] Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, khusran berkaitan langsung dengan kekafiran dan kebinasaan. Semakin seseorang tenggelam dalam kekafiran, semakin besar pula tingkat kerugiannya[3] dan ia akan mengalami kebinasaan di akhirat.[4] Berbeda dengan kerugian duniawi, khusran ini bersifat abadi dan tidak dapat digantikan, sehingga Al-Qur'an menyebutnya sebagai "Al-Khusran al-Mubin" atau kebinasaan yang nyata.[5] Al-Qur'an menegaskan bahwa untuk selamat dari kerugian ini, dibutuhkan iman kepada Allah, amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran, dan kesabaran.[6]

Dalam Al-Qur'an, Allah menempatkan orang-orang kafir dalam kerugian yang terus bertambah karena mereka membangkang terhadap perintah-perintah Al-Qur'an dan tidak beriman kepadanya.[7] Dengan menolak untuk menerima kitab Allah, orang-orang ini tidak hanya menderita kerugian yang telah mereka alami sebelum turunnya Al-Qur'an, tetapi juga akan tertimpa azab Ilahi. Sebaliknya, bagi orang-orang mukmin, Al-Qur'an membawa rahmat dan penyembuhan, karena dengan mengamalkan ajaran-ajarannya mereka keluar dari kebodohan dan mendapatkan karunia Ilahi. Al-Qur'an juga menyebut mereka yang kehilangan iman karena berprasangka buruk terhadap Allah dan saat menghadapi kesulitan sebagai orang-orang yang berada dalam kerugian.[8] Sebagian mufasir meyakini bahwa selama manusia tidak berada di jalur bimbingan para nabi, ia akan tetap dalam kerugian, dan satu-satunya jalan untuk membebaskan diri darinya adalah melalui iman dan amal saleh, bahkan jika ia tidak mampu melakukan semua kebaikan.[9]

Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan bahwa siapa pun yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, ia berada dalam kerugian yang nyata.[10] Selain itu, menyibukkan diri dengan hal-hal yang menjauhkan manusia dari Allah juga dianggap sebagai penyebab kerugian.[11] Di antara hal-hal tersebut adalah tidak membayar zakat,[12] sombong, berbuat baik yang disertai dengan celaan (mengungkit-ungkit), menipu dalam menjual barang,[13] melalaikan salat,[14] dan memusuhi Ahlulbait as Nabi Muhammad saw.[15]

Catatan Kaki

  1. Farahidi, Kitab al-'Ain, 1409 H, entri kata "khasira"; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, entri kata "khasira".
  2. Abdul Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras, 1408 H, entri kata "khasira".
  3. Surah Fathir, ayat 39.
  4. Surah Al-Kahf, ayat 5.
  5. Surah Az-Zumar, ayat 15.
  6. Surah Al-'Ashr, ayat 3.
  7. Surah Al-Isra', ayat 82.
  8. Surah Al-Hajj, ayat 11.
  9. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 10, hlm. 590.
  10. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 142.
  11. Sebagai contoh, lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 45.
  12. Qusyairi Naisyaburi, Shahih Muslim, 1398 H, jld. 3, hlm. 7475.
  13. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 1954 M, jld. 2, hlm. 745.
  14. Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, 1403 H, jld. 1, hlm. 258.
  15. Syekh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 342.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Kairo: Terbitan Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, 1954 M.
  • Ibnu Manzhur, Jamaluddin. Lisan al-'Arab. Beirut: Dar Shadir, 1414 H.
  • Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Terbitan Abdul Wahhab Abdul Lathif, 1403 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran: Kitabchi, cetakan keenam, 1376 HS.
  • Abdul Baqi, Muhammad Fu'ad. Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karim. Beirut: Dar al-Jil, 1408 H.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom: Terbitan Mahdi Makhzumi dan Ibrahim Samara'i, 1409 H.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Qusyairi Naisyaburi, Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Riset: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.

Pranala Luar