Konsep:Kesabaran Ayub
Kesabaran Ayub merujuk pada kesabaran Hazrat Ayub (as) dalam menghadapi musibah dan Ujian Ilahi yang[1] telah diisyaratkan dalam Al-Qur'an.[2] Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa Ayub memiliki kekayaan yang melimpah dan selalu bersikap syukur kepada Allah. Setan berusaha menunjukkan bahwa rasa syukur Ayub dikarenakan Nikmat, bukan karena ujian. Oleh karena itu, ia membuat Ayub jatuh miskin dan sakit, namun Ayub selama tujuh[3] atau delapan belas tahun[4] sama sekali tidak pernah melakukan kekufuran dan senantiasa bersyukur kepada Allah[5] hingga akhirnya ia memohon pertolongan kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya[6] serta mengakhiri penderitaannya dan mengembalikan kekayaannya.[7] Anak-anaknya yang telah wafat akibat ujian Ilahi pun dihidupkan kembali atas izin Allah.[8]
Dalam Ziarah Nahiyah Muqaddasah, salam kepada Ayub disebutkan sebagai berikut: "Salam kepada Ayub yang telah Allah sembuhkan dari penyakitnya."[9] Dalam Hadis Lauh mengenai pengenalan Imam Mahdi (afj) disebutkan: "Semua orang melihat kesabaran Ayub pada dirinya."[10]
Dalam sebuah riwayat, Nabi (saw) menganggap Ayub sebagai orang yang paling sabar di antara manusia, dan pada hari Kiamat Allah akan menjadikan dia, Hazrat Maryam (sa), dan Hazrat Yusuf (as) sebagai hujah atas orang lain.[11] Dinukil dari Imam Shadiq (as) bahwa pada hari kiamat, ketika seseorang mengeluhkan beratnya musibah, Ayub akan diperlihatkan kepadanya agar ia melihat apakah penderitaannya lebih berat ataukah penderitaan Ayub, yang dengan kesabaran dan Iman tidak jatuh ke dalam fitnah.[12]
Menurut para peneliti, dalam Irfan, kesabaran Ayub dan ketabahannya mendapat perhatian besar.[13] Ibnu Arabi mengkhususkan fash ke-19 dalam Fushush al-Hikam untuk Ayub.[14] Menurut perkataannya, Allah memperkenalkan Ayub sebagai "Awwab", yaitu hamba yang hanya memperhatikan Allah dan sama sekali tidak melihat pada sebab-sebab (asbab) serta hanya meminta kepada Allah, meskipun ia tahu bahwa sebab-sebab tersebut bersandar pada Ilmu Ilahi.[15]
Dalam budaya umum, kesabaran Ayub telah menjadi sebuah peribahasa.[16] Para penyair juga mengisyaratkan hal tersebut dalam karya-karya mereka.[17]
Catatan Kaki
- ↑ Musawi, Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1380 HS, jld. 10, hlm. 722.
- ↑ Surah al-Anbiya', ayat 83-85; Surah Shad, ayat 41-44.
- ↑ Syekh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, b. 7, h. 108.
- ↑ Nisaburi, Qashash al-Anbiya', 1359 HS, hlm. 257.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 12, hlm. 350-351.
- ↑ Surah al-Anbiya', ayat 84
- ↑ Makarem, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, jld. 19, hlm. 294; Thayyib, Athiyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 227.
- ↑ Thayyib, Athiyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 227; Mulla Sadra, Tafsir Mulla Sadra, 1366 HS, jld. 2, hlm. 169.
- ↑ Ibnu Masyhadi, Al-Mazar al-Kabir, 1378 HS, hlm. 485.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 527.
- ↑ Reysyahri, Hikam al-Nabi al-A'zham (saw), 1387 HS, jld. 2, hlm. 273.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 7, hlm. 285.
- ↑ Hujwiri, Kasyaf al-Mahjub, 1371 HS, jld. 1, hlm. 27 dan 45.
- ↑ Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1400 H, jld. 1, hlm. 170-175.
- ↑ Muhiyuddin, Fushush al-Hikam, 1356 HS, jld. 1, hlm. 173.
- ↑ Makarem, Bargozideh Tafsir Nemuneh, 1386 HS, jld. 3, hlm. 184.
- ↑ Diwan Khajoy-e Kermani, gazal 49; Diwan Wahsy-e Bafqi, gazal 142; Maulawi, Matsnawi Ma'nawi, buku kelima, bagian 127 dan 157.
Daftar Pustaka
- Ibnu Arabi, Muhiyuddin, Fushush al-Hikam, atas usaha Abul Ala Afifi, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1400 H.
- Ibnu Masyhadi, Abu Abdullah, Al-Mazar al-Kabir, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami al-Tabi'ah li-Jama'ah al-Modarresin, 1378 HS.
- Reysyahri, Mohammad, Hikam al-Nabi al-A'zham (saw), Qom, Dar al-Hadits, 1387 HS.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Khishal, Qom, Jama'ah Modarresin, 1362 HS.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain, Athiyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tehran, Penerbit Islam, 1378 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Ath-har, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Makarem Shirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1373 HS.
- Makarem Shirazi, Nashir, Bargozideh Tafsir Nemuneh, penyusun: Baba'i, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1386 HS.
- Mulla Sadra, Tafsir Mulla Sadra, Penerbit Bidar, Qom, cetakan kedua, 1366 HS.
- Nisaburi, Ibrahim, Qashash al-Anbiya', Tehran, Bengah-e Tarjomeh wa Nasyr-e Ketab, 1359 HS.
- Hujwiri, Ali, Kasyaf al-Mahjub, atas usaha Zhukovsky, Tehran, Amir Kabir, 1371 HS.